12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Antena Keaktoran Dalam Membaca Biografi Diri Sendiri

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
March 15, 2022
in Esai
Antena Keaktoran Dalam Membaca Biografi Diri Sendiri

Semakin umur Teater Kalangan bertambah, semakin buyar pandangan saya terhadap teater. Pemahaman teater diguncang oleh banyaknya informasi, dan berbagai sudut pandang yang kami pelajari bersama. Ini terjadi karena kami semua bukan orang teater, yang benar-benar belajar “nyel” teater di bangku akademisi. Teater hanya ekstrakulikuler, hanya selingan di waktu sibuk mengejar nilai sekolah, ia tidak menjelma sebagai ketetapan ilmu untuk mendedah sesuatu. Karena itu pun kami tidak paham di kereta mana kami sedang berlaju, posisi kami di wilayah mana untuk menajamkan jaringan kerja.

Namun seiring berjalannya kami, pertemuan selalu terjadi antara satu orang ke orang lainnya, termasuk kawan-kawan teater “nyel”. Di sanalah kesempatan saya belajar, serta menjernihkan keburaman atas kerja teater. Tulisan ini mungkin tidak bisa merangkum banyak hal apa yang terjadi di tahun 2021. Jadi mohon maaf, jika tulisan ini terkesan tidak runut peristiwanya. Sama kayak teater itu, aaah, susah dimengerti.

Pada satu kesempatan lokakarya gerak bersama Ibed Surgana Yuga dari Kalanari Theatre Movement, beberapa tahun yang lalu. Saya mencatat satu kalimat “Nyalakan antena keaktoranmu terus”. Waktu itu saya belum dapat mencerna dengan baik, apa yang Ibed maksudkan. Walaupun pada pembicaraan dan pertemuan selanjutnya sering kali kami membicarakan itu, tapi sifatnya dalam tataran gagasan, bagi saya kalimat itu belum menubuh sepenuhnya.

Cara pandang saya begini, aktor – penonton – panggung – pementasan, ini selalu berkaitan dan pementasan merupakan ruang presentasi akhir tanpa koma. Sudut pandang ini pelan-pelan ter-rekonstruksi ketika menonton banyak pementasan, membaca ulasan, serta memasuki kerja-kerja teater yang sedang bergerak di tempat lain. Dan tentu saja pergaulan saya di Teater Kalangan, setiap bertemu diisi dengan diskusi, menjejal pikiran, mengartikulasikan apa yang dipikirkan, sejurus kemudian mencari jalan dan mengulik dari mana pikiran itu berasal.

BACA JUGA:

March March March | Komitmen Mendokumentasikan Gagasan Tumbuh di Bidang Bahasa dan Seni
March March March | Komitmen Mendokumentasikan Gagasan Tumbuh di Bidang Bahasa dan Seni

Munculah istilah praktek artistik dalam setiap pertemuan kami. Istilah ini dibawa masuk oleh Wayan Sumahardika dari pertemuan-pertemuannya terkait dunia teater di virtual. Praktek Artistik mengacu pada konsentrasi seseorang pada isu, narasi yang ia gunakan dalam mengisi wacana kerja keseniannya. Dari konsentrasi ini akan mengarah pada hal lainnya pertemanan, jaringan, investor, bentuk pertunjukan, dramaturgi, hingga pemilihan penonton yang tepat.

Waduh, saya ini praktek artistiknya apa ya? Saya menimbang kerja-kerja yang sudah berlalu, 5 tahun terakhir. Saya suka melompat dari pentas satu dan ke lainnya, saya kadang suka menyelingkuhi garapan pentas dengan garapan bentuk seni lain. Saya juga kerap berada pada banyak isu, tapi tidak ada yang benar-benar saya pahami sampai ke akar.  Waaah ternyata saya dalam keadaan krisis, saya sedang menyelam dalam dunia teater tapi tidak tahu menyelamnya di daerah mana. GAWAT…

Dalam kemelut pertanyaan di atas, bulan April 2021 saya dihadapkan pada keadaan Ibu yang sakit asam lambung hingga merembet pada keadaan psikologinya. Sering panik, dan merasa dirinya selalu kesepian. Terhitung 5 bulan di pertengahan 2021 saya vakum berteater, dan berhenti secara terpaksa menjadi project leader pada kerja sama yang sudah berjalan. Keadaan ini diselamatkan oleh tidak adanya patronase di Teater Kalangan, kedudukan setiap anggotanya sejajar. Jadi kawan lain siap siaga, jika ada keadaan yang menimpa, seperti kasus saya. Anggota lain langsung mengambil alih semua, saya ulangi SEMUA – pekerjaan saya.

Sementara saya 5 bulan vakum itu, berjibaku untuk memulihkan keadaan Ibu. Terus terang saya merasa kesepian, kesendirian, (mohon maaf) selama pandemi saya masih tetap kerja-kerja kesenian tidak berhenti sama sekali, jenuh rasanya di rumah dengan tempo lambat. Ternyata ada dimensi lain yang mampu menghentikan kerja cepat saya, Keluarga. Bayangkan saja, saya tengah mencari teater dengan berlari cepat, belum juga ketemu!! Ada keadaan darurat yang lebih penting daripada teater.

BACA JUGA:

Tiga Cerpen Gunawan Maryanto | Tiga Pertunjukan Imajiner
Tiga Cerpen Gunawan Maryanto | Tiga Pertunjukan Imajiner

Kemudian dalam keburaman itu, ada 4 kata yang saya ingat, bak cahaya penerang yang menyelamatkan umat manusia. “Antena Keaktoran” dari Ibed dan “Praktek Artistik” yang sering kami diskusikan. Mungkin ini yang dikatakan Ibed, saya harus tetap peka melihat keadaan dengan “antena”, artinya bertaruh pada kesadaran, kepekaan membutuhkan keadaan sadar untuk menilai sesuatu dengan objektif. Sehingga satu peristiwa tidak terlewat begitu saja.

Saya mulai menyingkap arsip kerja saya di Teater Kalangan selama 5 tahun, ternyata ada  satu garis kecenderungan dalam karya – karya selama ini, terkait biografi seseorang. Mungkin ini sangat dipengaruhi oleh latar keilmuan Antropologi selama saya kuliah dulu. Saya sering turun lapangan untuk meneliti dengan metode kualitatif.

Ada tiga nomor pementasan yang tebal dengan catatan biografi, sebut saja Buah Tangan Dari Utara, luka masyarakat terdampak terhadap PLTU Celukan Bawang. Pentas Bebunyian tentang bunyi-bunyi yang hadir dari seseorang yang tumbuh di kota. Ini juga ada hubungannya dengan narasi keluarga saya dan Pentas Be.KAS – kolaborasi dengan sejumlah kawan seniman yang berangkat dari narasi-narasi bekas luka pada tubuh informan. Saya juga mewawancarai ibu terkait luka bakar di tubuhnya, yang sangat berpengaruh pada pengambilan keputusan terhadap anak-anaknya.

Saya beberapa kali bertemu teman di Kalangan, terutama Suma dan Agus yang sering saya gelontorkan tentang projek ini, tercetuslah dari Suma nama praktek artistik saya “Luka dan Keluarga”. Waaaaah menarik. Mulailah “Luka dan Keluarga” saya kerjakan dengan detail. Sekali lagi saya melakukan ini dalam kejenuhan di rumah, menjaga ibu. Jadi saya memakai objek sekaligus subjek adalah keluarga saya sendiri, terutama ibu terhadap penyakit asam lambungnya.

Karena sibuk membaca keluarga, mulai dari mengarsip daftar obat, arsip nota pembayaran, foto-foto ibu, merekam cerita-cerita dari ibu dan ayah, mengaitkannya dalam narasi-narasi lain, mencari group FB (facebook) terkait penyakit asam lambung, mengarsipkan obat-obat alternatif, hingga pengaruh psikologi ibu dari trauma-traumanya selama hidup. Saya seolah sedang meriset untuk pertunjukkan, walaupun saya belum tahu bentuk semacam apa yang akan terlintas.

Gayung bersambut setengah jalan praktek artistik Luka dan Keluarga saya kerjakan, ada beberapa kawan menawari untuk presentasi. Judulnya DATASAMBUNG, berangkat dari penyakit asam lambung Ibu. Tentu hal ini tidak hanya menyangkut penyakit itu sendiri, narasi ini berbagian dengan pandemi Covid – 19. Ini dampak kecilnya, walau keluarga inti saya tidak kena COVID tapi asam lambung ini sungguh memporakporandakan kemapanan keluarga dalam mengambil sikap, fundamental ideologi, serta finansial keluarga. Pementasan DATASAMBUNG saat itu bermain di Ubud Writer and Reader Festival dan di Festival Bali Jani 2021 dalam bentuk monolog interaktif.

Luka dan Keluarga tidak berhenti, karena saya menemukan banyak data-biografi keluarga termasuk data diri saya sendiri. Pementasan kedua berjudul DATAG-YA, navigasi mobil murah di keluarga menengah ke bawah, khususnya di Bali. DATAG-YA saya bawakan dalam bentuk teater tubuh di dalam mobil, dengan narasi alasan dan biografi dari ibu saya.

BACA JUGA:

Bersakit-Sakit Dahulu Bersepakat Dengan Tubuh Kemudian
Bersakit-Sakit Dahulu Bersepakat Dengan Tubuh Kemudian

Dan yang sedang saya kerjakan DATAR-UMAH, menyoal peran ayah dan ibu dalam membina rumah tangganya. Peran ini tidak hanya berkaitan dengan hal-hal domestik, tapi bisa menyangkut pada struktur sosial di mana keluarga saya tinggal. Tentu ini akan mengarah pada sistem patriarki, hirarki, kasta, serta taruhannya terhadap isu global yang sedang bekerja. Menarik bagi saya untuk mengupas diri, karena ini juga akan mempengaruhi ruang kerja saya di kesenian. Kata Joned Suryatmoko dalam satu diskusi penciptaan lakon, hal sepele yang biasanya kita jumpai, jika dikulik lebih masuk dan mendalam, hal sepele itu sebenarnya membicarakan hal lebih besar. Yang tentu memiliki irisan keterpengaruhan.

Dari berbagai macam ide itu, diskusi jadi penting di kelompok Teater Kalangan, untuk memperbanyak perspektif serta mematahkan asumsi saya yang mungkin saja menuju utopia semata. Kelompok hadir sebagai data penyeimbang dalam memberikan pandangannya, ada kawan-kawan yang bergerak dalam praktek artistiknya masing-masing. Sebut saja Wayan Sumahardika yang memberikan saya cara pandang ketinampilan, Dedek Surya memberi kacamata skenografi dalam ruang, rumah atau benda terhadap kemungkinanya untuk dipentaskan, Agus Wiratama menyumbangkan narasi keluarganya pada setiap perbincangan, dan yang lain  ada Jeko, Shadee, Devy Gita, Aguk, Manik, Iin Valentine juga ikut mendedah dengan caranya masing-masing.

Saya senang, karena kami sejajar dalam pemikiran dan usia yang tergolong muda. Kalau saya berdiskusi dengan kawan muda, saya takut tidak relevan bagi mereka dan kepentingannya belum sampai. Kalau kawan tua, nanti jatuhnya pada romantisme dan saya tentu menjadi pendengar yang baik, sehingga diskusi berjalan dalam satu arah.

Seiring dengan hal ini semua, saya sering kali menemukan diskusi dan kelas menarik yang dilaksanakan oleh kawan-kawan di luar pulau Bali. Satu persatu saya mencoba mengikutinya, ini juga sangat mempengaruhi regulasi informasi dan ilmu pengetahuan saya terhadap teater. Yang kemudian didiskusikan kembali di kelompok untuk memberi layer lain. Tidak hanya saya melakukan ini, setiap orang di Teater Kalangan wajib belajar di luar, satu sisi untuk mengembangkan diri, dan sisi lainnya untuk memajukan narasi kelompok.

Jadi… berada dalam kelompok yang anggotanya masih muda itu penting. Ade ajak mejogjag, ade ajak mekencalan, dan tentu saja untuk menajamkan pemikiran. Kalau pun salah, ya tak apa, namanya juga masih muda! [T]

BACA JUGA:

Kejutan Atas Ruang dan Pantulan | Karya KaRang oleh Srayamurtikanti
Kejutan Atas Ruang dan Pantulan | Karya KaRang oleh Srayamurtikanti

Tags: Seniseni pertunjukanTeaterTeater Kalangan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

HUT Kota Singaraja | Lomba Teater dan Fragmen Tari Tentang Rai Srimben Ibunda Bung Karno

Next Post

Benang Merah Wayang dan Realita | Antara Pesan dan Lelucon yang Dikehendaki

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Benang Merah Wayang dan Realita | Antara Pesan dan Lelucon yang Dikehendaki

Benang Merah Wayang dan Realita | Antara Pesan dan Lelucon yang Dikehendaki

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co