14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Antena Keaktoran Dalam Membaca Biografi Diri Sendiri

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
March 15, 2022
in Esai
Antena Keaktoran Dalam Membaca Biografi Diri Sendiri

Semakin umur Teater Kalangan bertambah, semakin buyar pandangan saya terhadap teater. Pemahaman teater diguncang oleh banyaknya informasi, dan berbagai sudut pandang yang kami pelajari bersama. Ini terjadi karena kami semua bukan orang teater, yang benar-benar belajar “nyel” teater di bangku akademisi. Teater hanya ekstrakulikuler, hanya selingan di waktu sibuk mengejar nilai sekolah, ia tidak menjelma sebagai ketetapan ilmu untuk mendedah sesuatu. Karena itu pun kami tidak paham di kereta mana kami sedang berlaju, posisi kami di wilayah mana untuk menajamkan jaringan kerja.

Namun seiring berjalannya kami, pertemuan selalu terjadi antara satu orang ke orang lainnya, termasuk kawan-kawan teater “nyel”. Di sanalah kesempatan saya belajar, serta menjernihkan keburaman atas kerja teater. Tulisan ini mungkin tidak bisa merangkum banyak hal apa yang terjadi di tahun 2021. Jadi mohon maaf, jika tulisan ini terkesan tidak runut peristiwanya. Sama kayak teater itu, aaah, susah dimengerti.

Pada satu kesempatan lokakarya gerak bersama Ibed Surgana Yuga dari Kalanari Theatre Movement, beberapa tahun yang lalu. Saya mencatat satu kalimat “Nyalakan antena keaktoranmu terus”. Waktu itu saya belum dapat mencerna dengan baik, apa yang Ibed maksudkan. Walaupun pada pembicaraan dan pertemuan selanjutnya sering kali kami membicarakan itu, tapi sifatnya dalam tataran gagasan, bagi saya kalimat itu belum menubuh sepenuhnya.

Cara pandang saya begini, aktor – penonton – panggung – pementasan, ini selalu berkaitan dan pementasan merupakan ruang presentasi akhir tanpa koma. Sudut pandang ini pelan-pelan ter-rekonstruksi ketika menonton banyak pementasan, membaca ulasan, serta memasuki kerja-kerja teater yang sedang bergerak di tempat lain. Dan tentu saja pergaulan saya di Teater Kalangan, setiap bertemu diisi dengan diskusi, menjejal pikiran, mengartikulasikan apa yang dipikirkan, sejurus kemudian mencari jalan dan mengulik dari mana pikiran itu berasal.

BACA JUGA:

March March March | Komitmen Mendokumentasikan Gagasan Tumbuh di Bidang Bahasa dan Seni
March March March | Komitmen Mendokumentasikan Gagasan Tumbuh di Bidang Bahasa dan Seni

Munculah istilah praktek artistik dalam setiap pertemuan kami. Istilah ini dibawa masuk oleh Wayan Sumahardika dari pertemuan-pertemuannya terkait dunia teater di virtual. Praktek Artistik mengacu pada konsentrasi seseorang pada isu, narasi yang ia gunakan dalam mengisi wacana kerja keseniannya. Dari konsentrasi ini akan mengarah pada hal lainnya pertemanan, jaringan, investor, bentuk pertunjukan, dramaturgi, hingga pemilihan penonton yang tepat.

Waduh, saya ini praktek artistiknya apa ya? Saya menimbang kerja-kerja yang sudah berlalu, 5 tahun terakhir. Saya suka melompat dari pentas satu dan ke lainnya, saya kadang suka menyelingkuhi garapan pentas dengan garapan bentuk seni lain. Saya juga kerap berada pada banyak isu, tapi tidak ada yang benar-benar saya pahami sampai ke akar.  Waaah ternyata saya dalam keadaan krisis, saya sedang menyelam dalam dunia teater tapi tidak tahu menyelamnya di daerah mana. GAWAT…

Dalam kemelut pertanyaan di atas, bulan April 2021 saya dihadapkan pada keadaan Ibu yang sakit asam lambung hingga merembet pada keadaan psikologinya. Sering panik, dan merasa dirinya selalu kesepian. Terhitung 5 bulan di pertengahan 2021 saya vakum berteater, dan berhenti secara terpaksa menjadi project leader pada kerja sama yang sudah berjalan. Keadaan ini diselamatkan oleh tidak adanya patronase di Teater Kalangan, kedudukan setiap anggotanya sejajar. Jadi kawan lain siap siaga, jika ada keadaan yang menimpa, seperti kasus saya. Anggota lain langsung mengambil alih semua, saya ulangi SEMUA – pekerjaan saya.

Sementara saya 5 bulan vakum itu, berjibaku untuk memulihkan keadaan Ibu. Terus terang saya merasa kesepian, kesendirian, (mohon maaf) selama pandemi saya masih tetap kerja-kerja kesenian tidak berhenti sama sekali, jenuh rasanya di rumah dengan tempo lambat. Ternyata ada dimensi lain yang mampu menghentikan kerja cepat saya, Keluarga. Bayangkan saja, saya tengah mencari teater dengan berlari cepat, belum juga ketemu!! Ada keadaan darurat yang lebih penting daripada teater.

BACA JUGA:

Tiga Cerpen Gunawan Maryanto | Tiga Pertunjukan Imajiner
Tiga Cerpen Gunawan Maryanto | Tiga Pertunjukan Imajiner

Kemudian dalam keburaman itu, ada 4 kata yang saya ingat, bak cahaya penerang yang menyelamatkan umat manusia. “Antena Keaktoran” dari Ibed dan “Praktek Artistik” yang sering kami diskusikan. Mungkin ini yang dikatakan Ibed, saya harus tetap peka melihat keadaan dengan “antena”, artinya bertaruh pada kesadaran, kepekaan membutuhkan keadaan sadar untuk menilai sesuatu dengan objektif. Sehingga satu peristiwa tidak terlewat begitu saja.

Saya mulai menyingkap arsip kerja saya di Teater Kalangan selama 5 tahun, ternyata ada  satu garis kecenderungan dalam karya – karya selama ini, terkait biografi seseorang. Mungkin ini sangat dipengaruhi oleh latar keilmuan Antropologi selama saya kuliah dulu. Saya sering turun lapangan untuk meneliti dengan metode kualitatif.

Ada tiga nomor pementasan yang tebal dengan catatan biografi, sebut saja Buah Tangan Dari Utara, luka masyarakat terdampak terhadap PLTU Celukan Bawang. Pentas Bebunyian tentang bunyi-bunyi yang hadir dari seseorang yang tumbuh di kota. Ini juga ada hubungannya dengan narasi keluarga saya dan Pentas Be.KAS – kolaborasi dengan sejumlah kawan seniman yang berangkat dari narasi-narasi bekas luka pada tubuh informan. Saya juga mewawancarai ibu terkait luka bakar di tubuhnya, yang sangat berpengaruh pada pengambilan keputusan terhadap anak-anaknya.

Saya beberapa kali bertemu teman di Kalangan, terutama Suma dan Agus yang sering saya gelontorkan tentang projek ini, tercetuslah dari Suma nama praktek artistik saya “Luka dan Keluarga”. Waaaaah menarik. Mulailah “Luka dan Keluarga” saya kerjakan dengan detail. Sekali lagi saya melakukan ini dalam kejenuhan di rumah, menjaga ibu. Jadi saya memakai objek sekaligus subjek adalah keluarga saya sendiri, terutama ibu terhadap penyakit asam lambungnya.

Karena sibuk membaca keluarga, mulai dari mengarsip daftar obat, arsip nota pembayaran, foto-foto ibu, merekam cerita-cerita dari ibu dan ayah, mengaitkannya dalam narasi-narasi lain, mencari group FB (facebook) terkait penyakit asam lambung, mengarsipkan obat-obat alternatif, hingga pengaruh psikologi ibu dari trauma-traumanya selama hidup. Saya seolah sedang meriset untuk pertunjukkan, walaupun saya belum tahu bentuk semacam apa yang akan terlintas.

Gayung bersambut setengah jalan praktek artistik Luka dan Keluarga saya kerjakan, ada beberapa kawan menawari untuk presentasi. Judulnya DATASAMBUNG, berangkat dari penyakit asam lambung Ibu. Tentu hal ini tidak hanya menyangkut penyakit itu sendiri, narasi ini berbagian dengan pandemi Covid – 19. Ini dampak kecilnya, walau keluarga inti saya tidak kena COVID tapi asam lambung ini sungguh memporakporandakan kemapanan keluarga dalam mengambil sikap, fundamental ideologi, serta finansial keluarga. Pementasan DATASAMBUNG saat itu bermain di Ubud Writer and Reader Festival dan di Festival Bali Jani 2021 dalam bentuk monolog interaktif.

Luka dan Keluarga tidak berhenti, karena saya menemukan banyak data-biografi keluarga termasuk data diri saya sendiri. Pementasan kedua berjudul DATAG-YA, navigasi mobil murah di keluarga menengah ke bawah, khususnya di Bali. DATAG-YA saya bawakan dalam bentuk teater tubuh di dalam mobil, dengan narasi alasan dan biografi dari ibu saya.

BACA JUGA:

Bersakit-Sakit Dahulu Bersepakat Dengan Tubuh Kemudian
Bersakit-Sakit Dahulu Bersepakat Dengan Tubuh Kemudian

Dan yang sedang saya kerjakan DATAR-UMAH, menyoal peran ayah dan ibu dalam membina rumah tangganya. Peran ini tidak hanya berkaitan dengan hal-hal domestik, tapi bisa menyangkut pada struktur sosial di mana keluarga saya tinggal. Tentu ini akan mengarah pada sistem patriarki, hirarki, kasta, serta taruhannya terhadap isu global yang sedang bekerja. Menarik bagi saya untuk mengupas diri, karena ini juga akan mempengaruhi ruang kerja saya di kesenian. Kata Joned Suryatmoko dalam satu diskusi penciptaan lakon, hal sepele yang biasanya kita jumpai, jika dikulik lebih masuk dan mendalam, hal sepele itu sebenarnya membicarakan hal lebih besar. Yang tentu memiliki irisan keterpengaruhan.

Dari berbagai macam ide itu, diskusi jadi penting di kelompok Teater Kalangan, untuk memperbanyak perspektif serta mematahkan asumsi saya yang mungkin saja menuju utopia semata. Kelompok hadir sebagai data penyeimbang dalam memberikan pandangannya, ada kawan-kawan yang bergerak dalam praktek artistiknya masing-masing. Sebut saja Wayan Sumahardika yang memberikan saya cara pandang ketinampilan, Dedek Surya memberi kacamata skenografi dalam ruang, rumah atau benda terhadap kemungkinanya untuk dipentaskan, Agus Wiratama menyumbangkan narasi keluarganya pada setiap perbincangan, dan yang lain  ada Jeko, Shadee, Devy Gita, Aguk, Manik, Iin Valentine juga ikut mendedah dengan caranya masing-masing.

Saya senang, karena kami sejajar dalam pemikiran dan usia yang tergolong muda. Kalau saya berdiskusi dengan kawan muda, saya takut tidak relevan bagi mereka dan kepentingannya belum sampai. Kalau kawan tua, nanti jatuhnya pada romantisme dan saya tentu menjadi pendengar yang baik, sehingga diskusi berjalan dalam satu arah.

Seiring dengan hal ini semua, saya sering kali menemukan diskusi dan kelas menarik yang dilaksanakan oleh kawan-kawan di luar pulau Bali. Satu persatu saya mencoba mengikutinya, ini juga sangat mempengaruhi regulasi informasi dan ilmu pengetahuan saya terhadap teater. Yang kemudian didiskusikan kembali di kelompok untuk memberi layer lain. Tidak hanya saya melakukan ini, setiap orang di Teater Kalangan wajib belajar di luar, satu sisi untuk mengembangkan diri, dan sisi lainnya untuk memajukan narasi kelompok.

Jadi… berada dalam kelompok yang anggotanya masih muda itu penting. Ade ajak mejogjag, ade ajak mekencalan, dan tentu saja untuk menajamkan pemikiran. Kalau pun salah, ya tak apa, namanya juga masih muda! [T]

BACA JUGA:

Kejutan Atas Ruang dan Pantulan | Karya KaRang oleh Srayamurtikanti
Kejutan Atas Ruang dan Pantulan | Karya KaRang oleh Srayamurtikanti

Tags: Seniseni pertunjukanTeaterTeater Kalangan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

HUT Kota Singaraja | Lomba Teater dan Fragmen Tari Tentang Rai Srimben Ibunda Bung Karno

Next Post

Benang Merah Wayang dan Realita | Antara Pesan dan Lelucon yang Dikehendaki

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Benang Merah Wayang dan Realita | Antara Pesan dan Lelucon yang Dikehendaki

Benang Merah Wayang dan Realita | Antara Pesan dan Lelucon yang Dikehendaki

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co