2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Antena Keaktoran Dalam Membaca Biografi Diri Sendiri

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
March 15, 2022
in Esai
Antena Keaktoran Dalam Membaca Biografi Diri Sendiri

Semakin umur Teater Kalangan bertambah, semakin buyar pandangan saya terhadap teater. Pemahaman teater diguncang oleh banyaknya informasi, dan berbagai sudut pandang yang kami pelajari bersama. Ini terjadi karena kami semua bukan orang teater, yang benar-benar belajar “nyel” teater di bangku akademisi. Teater hanya ekstrakulikuler, hanya selingan di waktu sibuk mengejar nilai sekolah, ia tidak menjelma sebagai ketetapan ilmu untuk mendedah sesuatu. Karena itu pun kami tidak paham di kereta mana kami sedang berlaju, posisi kami di wilayah mana untuk menajamkan jaringan kerja.

Namun seiring berjalannya kami, pertemuan selalu terjadi antara satu orang ke orang lainnya, termasuk kawan-kawan teater “nyel”. Di sanalah kesempatan saya belajar, serta menjernihkan keburaman atas kerja teater. Tulisan ini mungkin tidak bisa merangkum banyak hal apa yang terjadi di tahun 2021. Jadi mohon maaf, jika tulisan ini terkesan tidak runut peristiwanya. Sama kayak teater itu, aaah, susah dimengerti.

Pada satu kesempatan lokakarya gerak bersama Ibed Surgana Yuga dari Kalanari Theatre Movement, beberapa tahun yang lalu. Saya mencatat satu kalimat “Nyalakan antena keaktoranmu terus”. Waktu itu saya belum dapat mencerna dengan baik, apa yang Ibed maksudkan. Walaupun pada pembicaraan dan pertemuan selanjutnya sering kali kami membicarakan itu, tapi sifatnya dalam tataran gagasan, bagi saya kalimat itu belum menubuh sepenuhnya.

Cara pandang saya begini, aktor – penonton – panggung – pementasan, ini selalu berkaitan dan pementasan merupakan ruang presentasi akhir tanpa koma. Sudut pandang ini pelan-pelan ter-rekonstruksi ketika menonton banyak pementasan, membaca ulasan, serta memasuki kerja-kerja teater yang sedang bergerak di tempat lain. Dan tentu saja pergaulan saya di Teater Kalangan, setiap bertemu diisi dengan diskusi, menjejal pikiran, mengartikulasikan apa yang dipikirkan, sejurus kemudian mencari jalan dan mengulik dari mana pikiran itu berasal.

BACA JUGA:

March March March | Komitmen Mendokumentasikan Gagasan Tumbuh di Bidang Bahasa dan Seni
March March March | Komitmen Mendokumentasikan Gagasan Tumbuh di Bidang Bahasa dan Seni

Munculah istilah praktek artistik dalam setiap pertemuan kami. Istilah ini dibawa masuk oleh Wayan Sumahardika dari pertemuan-pertemuannya terkait dunia teater di virtual. Praktek Artistik mengacu pada konsentrasi seseorang pada isu, narasi yang ia gunakan dalam mengisi wacana kerja keseniannya. Dari konsentrasi ini akan mengarah pada hal lainnya pertemanan, jaringan, investor, bentuk pertunjukan, dramaturgi, hingga pemilihan penonton yang tepat.

Waduh, saya ini praktek artistiknya apa ya? Saya menimbang kerja-kerja yang sudah berlalu, 5 tahun terakhir. Saya suka melompat dari pentas satu dan ke lainnya, saya kadang suka menyelingkuhi garapan pentas dengan garapan bentuk seni lain. Saya juga kerap berada pada banyak isu, tapi tidak ada yang benar-benar saya pahami sampai ke akar.  Waaah ternyata saya dalam keadaan krisis, saya sedang menyelam dalam dunia teater tapi tidak tahu menyelamnya di daerah mana. GAWAT…

Dalam kemelut pertanyaan di atas, bulan April 2021 saya dihadapkan pada keadaan Ibu yang sakit asam lambung hingga merembet pada keadaan psikologinya. Sering panik, dan merasa dirinya selalu kesepian. Terhitung 5 bulan di pertengahan 2021 saya vakum berteater, dan berhenti secara terpaksa menjadi project leader pada kerja sama yang sudah berjalan. Keadaan ini diselamatkan oleh tidak adanya patronase di Teater Kalangan, kedudukan setiap anggotanya sejajar. Jadi kawan lain siap siaga, jika ada keadaan yang menimpa, seperti kasus saya. Anggota lain langsung mengambil alih semua, saya ulangi SEMUA – pekerjaan saya.

Sementara saya 5 bulan vakum itu, berjibaku untuk memulihkan keadaan Ibu. Terus terang saya merasa kesepian, kesendirian, (mohon maaf) selama pandemi saya masih tetap kerja-kerja kesenian tidak berhenti sama sekali, jenuh rasanya di rumah dengan tempo lambat. Ternyata ada dimensi lain yang mampu menghentikan kerja cepat saya, Keluarga. Bayangkan saja, saya tengah mencari teater dengan berlari cepat, belum juga ketemu!! Ada keadaan darurat yang lebih penting daripada teater.

BACA JUGA:

Tiga Cerpen Gunawan Maryanto | Tiga Pertunjukan Imajiner
Tiga Cerpen Gunawan Maryanto | Tiga Pertunjukan Imajiner

Kemudian dalam keburaman itu, ada 4 kata yang saya ingat, bak cahaya penerang yang menyelamatkan umat manusia. “Antena Keaktoran” dari Ibed dan “Praktek Artistik” yang sering kami diskusikan. Mungkin ini yang dikatakan Ibed, saya harus tetap peka melihat keadaan dengan “antena”, artinya bertaruh pada kesadaran, kepekaan membutuhkan keadaan sadar untuk menilai sesuatu dengan objektif. Sehingga satu peristiwa tidak terlewat begitu saja.

Saya mulai menyingkap arsip kerja saya di Teater Kalangan selama 5 tahun, ternyata ada  satu garis kecenderungan dalam karya – karya selama ini, terkait biografi seseorang. Mungkin ini sangat dipengaruhi oleh latar keilmuan Antropologi selama saya kuliah dulu. Saya sering turun lapangan untuk meneliti dengan metode kualitatif.

Ada tiga nomor pementasan yang tebal dengan catatan biografi, sebut saja Buah Tangan Dari Utara, luka masyarakat terdampak terhadap PLTU Celukan Bawang. Pentas Bebunyian tentang bunyi-bunyi yang hadir dari seseorang yang tumbuh di kota. Ini juga ada hubungannya dengan narasi keluarga saya dan Pentas Be.KAS – kolaborasi dengan sejumlah kawan seniman yang berangkat dari narasi-narasi bekas luka pada tubuh informan. Saya juga mewawancarai ibu terkait luka bakar di tubuhnya, yang sangat berpengaruh pada pengambilan keputusan terhadap anak-anaknya.

Saya beberapa kali bertemu teman di Kalangan, terutama Suma dan Agus yang sering saya gelontorkan tentang projek ini, tercetuslah dari Suma nama praktek artistik saya “Luka dan Keluarga”. Waaaaah menarik. Mulailah “Luka dan Keluarga” saya kerjakan dengan detail. Sekali lagi saya melakukan ini dalam kejenuhan di rumah, menjaga ibu. Jadi saya memakai objek sekaligus subjek adalah keluarga saya sendiri, terutama ibu terhadap penyakit asam lambungnya.

Karena sibuk membaca keluarga, mulai dari mengarsip daftar obat, arsip nota pembayaran, foto-foto ibu, merekam cerita-cerita dari ibu dan ayah, mengaitkannya dalam narasi-narasi lain, mencari group FB (facebook) terkait penyakit asam lambung, mengarsipkan obat-obat alternatif, hingga pengaruh psikologi ibu dari trauma-traumanya selama hidup. Saya seolah sedang meriset untuk pertunjukkan, walaupun saya belum tahu bentuk semacam apa yang akan terlintas.

Gayung bersambut setengah jalan praktek artistik Luka dan Keluarga saya kerjakan, ada beberapa kawan menawari untuk presentasi. Judulnya DATASAMBUNG, berangkat dari penyakit asam lambung Ibu. Tentu hal ini tidak hanya menyangkut penyakit itu sendiri, narasi ini berbagian dengan pandemi Covid – 19. Ini dampak kecilnya, walau keluarga inti saya tidak kena COVID tapi asam lambung ini sungguh memporakporandakan kemapanan keluarga dalam mengambil sikap, fundamental ideologi, serta finansial keluarga. Pementasan DATASAMBUNG saat itu bermain di Ubud Writer and Reader Festival dan di Festival Bali Jani 2021 dalam bentuk monolog interaktif.

Luka dan Keluarga tidak berhenti, karena saya menemukan banyak data-biografi keluarga termasuk data diri saya sendiri. Pementasan kedua berjudul DATAG-YA, navigasi mobil murah di keluarga menengah ke bawah, khususnya di Bali. DATAG-YA saya bawakan dalam bentuk teater tubuh di dalam mobil, dengan narasi alasan dan biografi dari ibu saya.

BACA JUGA:

Bersakit-Sakit Dahulu Bersepakat Dengan Tubuh Kemudian
Bersakit-Sakit Dahulu Bersepakat Dengan Tubuh Kemudian

Dan yang sedang saya kerjakan DATAR-UMAH, menyoal peran ayah dan ibu dalam membina rumah tangganya. Peran ini tidak hanya berkaitan dengan hal-hal domestik, tapi bisa menyangkut pada struktur sosial di mana keluarga saya tinggal. Tentu ini akan mengarah pada sistem patriarki, hirarki, kasta, serta taruhannya terhadap isu global yang sedang bekerja. Menarik bagi saya untuk mengupas diri, karena ini juga akan mempengaruhi ruang kerja saya di kesenian. Kata Joned Suryatmoko dalam satu diskusi penciptaan lakon, hal sepele yang biasanya kita jumpai, jika dikulik lebih masuk dan mendalam, hal sepele itu sebenarnya membicarakan hal lebih besar. Yang tentu memiliki irisan keterpengaruhan.

Dari berbagai macam ide itu, diskusi jadi penting di kelompok Teater Kalangan, untuk memperbanyak perspektif serta mematahkan asumsi saya yang mungkin saja menuju utopia semata. Kelompok hadir sebagai data penyeimbang dalam memberikan pandangannya, ada kawan-kawan yang bergerak dalam praktek artistiknya masing-masing. Sebut saja Wayan Sumahardika yang memberikan saya cara pandang ketinampilan, Dedek Surya memberi kacamata skenografi dalam ruang, rumah atau benda terhadap kemungkinanya untuk dipentaskan, Agus Wiratama menyumbangkan narasi keluarganya pada setiap perbincangan, dan yang lain  ada Jeko, Shadee, Devy Gita, Aguk, Manik, Iin Valentine juga ikut mendedah dengan caranya masing-masing.

Saya senang, karena kami sejajar dalam pemikiran dan usia yang tergolong muda. Kalau saya berdiskusi dengan kawan muda, saya takut tidak relevan bagi mereka dan kepentingannya belum sampai. Kalau kawan tua, nanti jatuhnya pada romantisme dan saya tentu menjadi pendengar yang baik, sehingga diskusi berjalan dalam satu arah.

Seiring dengan hal ini semua, saya sering kali menemukan diskusi dan kelas menarik yang dilaksanakan oleh kawan-kawan di luar pulau Bali. Satu persatu saya mencoba mengikutinya, ini juga sangat mempengaruhi regulasi informasi dan ilmu pengetahuan saya terhadap teater. Yang kemudian didiskusikan kembali di kelompok untuk memberi layer lain. Tidak hanya saya melakukan ini, setiap orang di Teater Kalangan wajib belajar di luar, satu sisi untuk mengembangkan diri, dan sisi lainnya untuk memajukan narasi kelompok.

Jadi… berada dalam kelompok yang anggotanya masih muda itu penting. Ade ajak mejogjag, ade ajak mekencalan, dan tentu saja untuk menajamkan pemikiran. Kalau pun salah, ya tak apa, namanya juga masih muda! [T]

BACA JUGA:

Kejutan Atas Ruang dan Pantulan | Karya KaRang oleh Srayamurtikanti
Kejutan Atas Ruang dan Pantulan | Karya KaRang oleh Srayamurtikanti

Tags: Seniseni pertunjukanTeaterTeater Kalangan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

HUT Kota Singaraja | Lomba Teater dan Fragmen Tari Tentang Rai Srimben Ibunda Bung Karno

Next Post

Benang Merah Wayang dan Realita | Antara Pesan dan Lelucon yang Dikehendaki

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Benang Merah Wayang dan Realita | Antara Pesan dan Lelucon yang Dikehendaki

Benang Merah Wayang dan Realita | Antara Pesan dan Lelucon yang Dikehendaki

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co