2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kejutan Atas Ruang dan Pantulan | Karya KaRang oleh Srayamurtikanti

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
March 12, 2022
in Ulasan
Kejutan Atas Ruang dan Pantulan | Karya KaRang oleh Srayamurtikanti

Pementasan KaRang (Kata Ruang) garapan sanggar S’mara Murti {Foto: Hibat]

Dua orang perempuan memanggul gong, memasuki ruang pameran Studiodikubu, dalam langkah yang beraturan itu, satu orang memukul gong dalam hitungan jeda tertentu. Sejurus itu terdengar juga sayup bunyi gong dari kejauhan, seolah gong itu bersahutan.

Tidak berhenti sampai di situ, dua pasangan gong tersebut memasuki ruang-ruang pameran secara bergantian, bunyi berpantulan, memperkosa ruang, peristiwa kejutan bagi yang berada di ruang pameran. Gong-gong itu sedang mengajak para penonton agar menuju Main Hall Ruang Baur Seni : Fraksi Epos, untuk menonton pertunjukan utuhnya. Semacam tanda ajakan lewat bunyi.

Itulah sekiranya gambaran adegan pembuka pementasan KaRang (Kata Ruang) garapan sanggar S’mara Murti yang digarap oleh Srayamurtikanti tanggal 5 Maret 2022 di Main Hall Ruang Baur Seni : Fraksi Epos di Kuta Bali.

Pementasan KaRang (Kata Ruang) garapan sanggar S’mara Murti {Foto: Hibat]

Saya mengenal Sraya sebagai komposer perempuan yang namanya tengah diperbincangkan, jika ada satu event yang saya ikuti, pasti ada namanya. Tidak berlebihan saya mengatakan Sraya seniman yang produktif dalam kurun waktu 2 tahun terakhir. Menyoal KaRang, karya yang khusus ia kerjakan untuk Fraksi Epos, merupakan pembacaan atas respon ruang di Mall. Ruang menjadi kunci karya ini hidup, tapi juga sekaligus memberi efek kejutan bagi Sraya.

Usai ia pentas, saya sempat berbincang lumayan intens tentang karya ini. Bagi saya, Sraya tengah mencari kejutan tak terukur, ketidakdugaan atas pentasnya. Sebab sebelumnya ia tidak pernah meneliti atau mengobservasi ruang dengan alat yang ia gunakan, tentu pembacaan mata menjadi hal berbeda jika dibandingkan dengan pembacaan bunyi dari alat tertentu.

Yang saya tahu alat itu tidak sempat bergumul lama dengan ruang di sana, hanya satu hari saja.makanya saya katakan, alih-alih sedang mengkomposisi, sebenarnya karya ini sedang mencari kemungkinan yang dapat dikategorisasi kemudian. Bukan karya yang berhenti, tapi karya tumbuh yang dapat dikembangkan lebih lanjut atas temuan-temuan saat itu.

“Siapa yang sedang diperkosa? Kamu sebagai pelaku atau ruangnya?” tanya saya kepadanya

Pementasan KaRang (Kata Ruang) garapan sanggar S’mara Murti {Foto: Hibat]

Sebenarnya Sraya sedang diusik juga dengan pantulan bunyi yang ia taburkan di setiap ruang. Mungkin saja jika mengkomposisi sebulan sebelum pentas, bunyi dapat ditakar, bunyi dapat diperhitungkan lalu kemudian menjadi satu bentuk sajian estetika yang ia suka. Tapi kali itu bunyi dibiarkan begitu saja, lepas, berbaur, sehingga ada pantulan bunyi yang mungkin saja ia tidak suka, tapi harus ia dengar.

Di sana letak kejutannya, yang tidak hanya mengganggu penonton, tapi sekaligus juga mengganggu pendengaran keempat perempuan yang sedang tampil. Mengganggu ini, konteksnya baik yah. Setidaknya mengganggu pendengaran dari bunyi atau suara yang biasanya dipilih secara subjektif.

Selebihnya pementasan berlangsung di Main Hall, dengan menggunakan rangkaian tembang, pantulan daun gender, dentuman gong serta kemungkinan bunyi padat dari selonding. Bagi saya komposisi ini seperti kolaborasi bunyi yang mengandung pencampuran tanpa batas dengan tambahan fragmen gerak serta simbol, mengundang pertanyaan seperti “kok gitu?, kok bisa gitu?, kok dianukan gongnya”. Sejumlah penonton yang saya tanyakan mengatakan garapan ini memiliki keluasan interpretasi  tidak hanya dipandang dari segi keindahan, tapi juga interteks yang berkelindan di kepala penonton.

“Aduh Bli, sebenarnya saya bingung, tapi saya suka melihat dan mendengarnya” Ujar Rasmana salah satu kawan yang menonton.

Sebenarnya kalau boleh saya jujur-sejujurnya dari hati yang paling dalam, klee berlebihan sajan saya nok. Karya Kata Ruang ini menjadi kuat karena ada jelajah bunyi atas ruang di adegan pertama. Bila saja formula ini dipakai lebih dominan, tentu menjadi karya yang jauh lebih mengejutkan. Semisal gendernya ada di ruang A, Selondingnya di ruang B, gongnya ada di ruang C, dan seterusnya.

Penonton berada di tengah-tengah, di antara persimpangan bunyi, dan lalu lintas pemain yang selalu berpindah. Penonton tidak diberi visual bentuk alat, hanya bunyi yang berpantulan di ruang-ruang itu. Aiiiiiiiih, ah sukeh baan ngomong. Ini hanya opini saya sebagai penikmat ya teman-teman, kan memang  begitu posisi penonton selalu punya daya tawar, yang belum tentu saya bisa wujudkan. Malangnya saya.

Pementasan KaRang (Kata Ruang) garapan sanggar S’mara Murti {Foto: Hibat]

Tapi lebih jauh, ada adegan yang saya suka, ketika dua orang pemain, memakai gong di atas kepalanya. Kemudian mereka bernyanyi, bukan lirik, tapi semacam nada-nada gender. Suara mereka berpantulan di dalam gong, kami yang mendengar mendapat pantulan sekaligus suara asli. Seperti orang yang bergumam dalam ruang pengap dan tertutup. Efek terkukung, tersudut, terpojok dan suara yang seolah bungkam. Jika ditarik dalam isu perempuan hari ini, banyak lini kesenian yang dulunya tidak memberi porsi perempuan hadir, untuk memberi sudut pandangnya. Gambaran ini kemudian terpatahkan dengan karya Sraya.

“Saya ingin teman-teman perempuan saya bebas dengan keinginannya, tanpa bersekat apapun” ujar Sraya saat saya berbincang dengannya.

Era perempuan yang tersudut, bisa dikata sudah pudar. Melalui karya-karya seperti KaRang yang memberi narasi tawar terhadap perempuan, atas apa yang bisa lakukan secara mandiri. Akhir kata, selamat atas karyanya dan ditunggu karya selanjutnya.[T]

Tags: Seniseni rupa pertunjukan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perang Malam | Cerpen Supartika

Next Post

Etienne Decroux, Bapak Pantomim Modern Dunia

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Etienne Decroux, Bapak Pantomim Modern Dunia

Etienne Decroux, Bapak Pantomim Modern Dunia

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co