12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perang Malam | Cerpen Supartika

I Putu Supartika by I Putu Supartika
March 12, 2022
in Cerpen
Perang Malam | Cerpen Supartika

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dari karya Satia Guna

Pan Darma terbangun tengah malam setelah bermimpi buruk dengan keringat membasahi sekujur tubuhnya. Di sampingnya, istrinya masih tertidur pulas dengan dengus napas yang teratur. Cahaya lampu dari luar masuk ke dalam kamar menembus kisi-kisi jendela. Ia duduk, berpikir sambil mengatur napas sebelum pelan-pelan menggoyangkan tubuh istrinya. Istrinya menggeliat.

“Esok malam, Bli akan pergi berperang Luh,” kata Pan Darma saat istrinya mulai terjaga.

“Berperang? Dengan siapa Bli?” tanya sang istri yang berusaha untuk lebih menyadarkan dirinya.

“Ni Reneng.” Ia menghela napas sebelum melanjutkan. “Ni Reneng menantang Bli lewat mimpi. Dia menunggu Bli esok malam, saat bulan purnama keempat bulat penuh di atas kuburan desa.”

“Ada masalah apa Bli dengan Ni Reneng? Bukankah selama ini Bli tak pernah berurusan dengan Ni Reneng?”

Pan Darma tak langsung menjawab. Ia menyampingkan selimut dari tubuhnya dan menuju ke arah saklar lampu. Dihidupkannya lampu kamarnya dan ia menuangkan air dari ceret yang ada di atas meja. Diminumnya air itu dua teguk. Beberapa detik ia terdiam dengan tatapan lurus.

“Gara-gara Bli menyembuhkan Ni Rimpeg.”

“Lalu apa masalahnya? Bukankah sebagai seorang balian memang itu tugas Bli?” kata sang istri sambil mengubah posisi duduknya menghadap ke suaminya.

“Sebenarnya yang membuat Ni Rimpeg sakit adalah Ni Reneng sendiri. Bli tidak tahu persis apa masalahnya. Seperti katamu, Bli hanya menjalankan kewajiban menyembuhkan mereka yang sakit. Tapi Ni Reneng tak terima dan menantang Bli adu kesaktian.”

“Tak usah diladeni Bli.”

“Ini demi martabat, Luh. Bli harus datang dan melawannya.”

“Coba dipikirkan matang-matang, jangan gegabah.”

“Jika Bli tak meladeni, sama dengan menjatuhkan reputasi Bli selama ini sebagai balian yang terpandang di desa ini. Dan balian lain pasti akan mencemooh Bli, menganggap Bli sebagai pengecut. Apalagi yang menantang adalah seorang perempuan!”

“Tapi Bli…”

“Ya, Bli tahu kesaktian Ni Reneng setingkat lebih tinggi dari kesaktian Bli. Itu tak jadi masalah, Bli siap dengan segala risikonya.”

Pan Darma tetap kukuh dengan pendiriannya, istrinya tak bisa menghalangi niat suaminya untuk menerima tantangan itu dan memilih untuk pasrah.

Sebenarnya bukan kali ini saja Pan Darma pergi berperang di atas kuburan desa melawan musuh-musuhnya ketika tengah malam. Ia bahkan hampir selalu meladeni tantangan dari musuhnya, apalagi kesaktiannya sudah sangat tersohor bahkan hingga ke luar desa, dan banyak yang datang kepadanya untuk berobat.

Warga yang berumah di dekat kuburan dan tak sengaja melihat ke langit saat pertarungan itu terjadi hanya akan melihat dua bola api menyala-nyala bertarung di angkasa saling menyerang satu sama lain. Beberapa saat kemudian satu bola api akan terlempar yang menjadi pertanda sudah ada pemenang dari pertarungan itu. Dan tentu saja, keesokan paginya akan ada kabar seseorang yang mati mendadak dengan tubuh membiru tanpa pernah memiliki riwayat sakit.

Meskipun kesaktian Pan Darma tersohor hingga ke luar desa, namun ia bukan yang paling sakti di desanya, karena masih ada Ni Reneng. Dan Ni Reneng memang memiliki dendam masa lalu kepada Pan Darma walaupun mereka sebelumnya tak pernah saling menantang dan memilih untuk menekuni jalurnya masing-masing. Hingga ketika Pan Darma berhasil menyembuhkan Ni Rimpeg, Ni Reneng memiliki alasan kuat untuk menghidupkan dendamnya dan sekaligus balas dendam. Dan Ni Reneng pun mengirim tantangan lewat mimpi kepada Pan Darma.

*

Sejak pagi istri Pan Darma terlihat tak bergairah. Sambal yang digorengnya hampir gosong, begitupun pancinya nyaris bolong karena air yang dipanaskannya habis akibat lupa mematikan kompor saat air sudah mendidih. Ia memikirkan hari esok, apakah suaminya masih bisa bangun pagi seperti biasa, atau akan digotong kerabat beramai-ramai menuju kuburan. Wajah Ni Reneng yang baru ia lihat beberapa waktu lalu di jalan desa juga terus membayangi pikirannya.

Sementara itu, sejak langit di timur berwarna kemerahan, Pan Darma sudah duduk di depan merajan dengan menggunakan kemben putih dan ikat kepala putih tanpa menggunakan baju. Di depannya ada sebuah wadah yang di atasnya berisi canang dan dupa yang menyala. Hari ini ia menjalani prosesi penyucian diri dan pemurnian jiwa sebelum malam nanti jiwanya melesat ke atas kuburan desa dan berhadap-hadapan dengan jiwa Ni Reneng.

Siangnya, istri Pan Darma duduk di teras rumah sambil memotong janur untuk membuatkan suaminya sesajen. Nasib suaminya esok masih terus saja menari-nari dalam pikirannya. Ia berharap hari ini akan lebih panjang dari kemarin, dan jika bisa ia berharap tak ada malam. Membayangkan malam, seperti membayangkan kematian suaminya.

Saat tengah membuat sesajen, terbesit dalam pikirannya untuk menghubungi anak lelaki satu-satunya yang kini tengah bersekolah di kota. Ia ingin anaknya juga tahu jika malam nanti adalah malam penentuan hidup dan mati sang ayah. Setidaknya dengan mengabarkannya kepada sang anak, beban pikiran itu tak ditanggungnya sendiri. Tak berselang lama, ia kembali berubah pikiran dan tak mau anaknya tahu tentang kegelisahannya hari ini. “Biarlah, apapun yang terjadi esok, biar esok saja dia tahu semuanya, jangan hari ini,” batinnya.

Selesai membuat sesajen, ia mengambil lampu batok kelapa yang selama ini digunakan Pan Darma ketika berperang malam-malam. Kemudian ia membuka penutup batok kelapa yang juga menjadi tempat sumbu lampu. Dilepasnya sumbu itu dan ia memasang ulang. Selain membenarkan letak sumbu, ia juga menuangkan bahan bakar berupa minyak kelapa ke dalam batok kelapa itu.

Sambil membawa lampu batok kelapa, ia menuju ke kamar suci, dan di kamar suci Pan Darma sedang tepekur dan ruangan itu dipenuhi oleh asap dupa dan menyan. Sesajen yang sudah disiapkan kemudian dibawanya ke dalam kamar suci dan disusun di atas dipan tempat pembaringan suaminya melepas jiwa ketika berperang.

Sebelum keluar dari kamar suci, ditatapnya Pan Darma yang tengah suntuk bermeditasi. Ia melihat rambut suaminya yang sudah mulai beruban, otot-otot lengannya yang kekar yang biasanya digunakan untuk mengayunkan cangkul di tegalan ketika sedang tidak ada pasien yang datang berobat. Tak terasa, matanya lembab dan air mengalir membasahi pipinya. 

*

Hari mulai gelap. Suara kodok terdengar seperti seseorang yang tengah tertawa mengelilingi rumah Pan Darma. Tak ada orang yang lewat di dekat rumahnya, karena rumahnya memang terletak agak jauh di pedalaman dan terpisah jauh dengan rumah yang lainnya. Beberapa suara burung aneh juga terdengar di atas rumahnya.

Pan Darma sudah mengakhiri meditasinya dan kini tengah duduk di atas dipan di kamar suci. Matanya tertuju ke nyala dupa yang berada di depannya. Sementara di bawah, istrinya duduk di atas selembar tikar dengan gelisah. Raut mukanya pucat dan ada ketakutan yang menyergap ke dalam tubuhnya.

“Bli…”

Suaminya tak menyahut, dan pandangan matanya tak berpaling dari nyala dupa itu.

“Saya belum mengabarkan semua ini kepada anak kita. Dan apapun yang terjadi esok hari, biarkan dia tahu esok saja.”

“Ya,” kata Pan Darma pendek setelah menghela napas dan matanya berkedip beberapa kali.

Hening. Di luar, suara kodok itu masih terus terdengar dan semakin ramai saling bersahutan dengan bunyi burung hantu maupun jangkrik. Mata istri Pan Darma mengikuti gerakan asap dupa yang berkelok-kelok ke atas dan menyebar saat menyentuh plafon rumah yang berwarna agak kehitaman karena sering terkena asap.

Malam semakin larut, dan di luar sesekali terdengar embusan angin yang halus dan menjatuhkan beberapa helai dedaunan yang menimpa atap rumahnya yang terbuat dari seng.

Waktunya pun segera tiba. Pan Darma membaringkan tubuhnya di atas dipan di dekat sesajen yang disusun istrinya siang tadi. Dengan tangan yang sedikit gemetar dan detak jantung yang tak teratur, istrinya menyalakan lampu batok kelapa yang diletakkan di antara sesajen. Setelah lampu batok kelapa menyala, ia mematikan lampu listrik di kamar suci.

“Bli akan berangkat sekarang?”

“Bli masih menunggu wangsit. Doakan agar Bli bisa mengalahkan Ni Reneng.”

Istrinya mengangguk.

“Jika nyala lampu itu bergoyang-goyang artinya Bli tengah bertarung dengan Ni Reneng. Apabila bergoyang lebih keras lagi bahkan nyaris mati, itu artinya Bli nyaris kalah. Dan jika lampu itu mati, Bli sudah tiada,” kata Pan Darma tegar.

Istrinya mengangguk, matanya memerah dan lembab, tangannya gemetar.

Setelah berkata demikian, Pan Darma mulai memejamkan mata dan sekejap kemudian jiwanya pun lepas dari raganya, keluar dari kamar suci dan melesat ke langit menuju ke arah tenggara, ke atas kuburan desa. Di langit bulan purnama keempat bulat penuh.

*

Nyala lampu mulai bergoyang-goyang. Sebagaimana kata Pan Darma, pertarungan sudah dimulai. Dengan wajah yang semakin pucat dan napas tak karuan, istrinya terus mengucapkan doa-doa keselamatan sambil melihat nyala lampu. Kadang nyala lampu itu bergoyang cukup keras yang membuat ia gelisah. Kadang nyala lampu itu sedikit tenang.

Tiba-tiba nyala lampu itu bergoyang sangat hebat. Ia kebingungan lalu berdiri dan mencoba menahan dengan tangannya agar lampu itu tidak mati. Bahkan ia memunggungi kisi-kisi jendela agar angin yang masuk tak menyentuh nyala lampu. Namun tetap saja nyala lampu itu bergoyang hebat dan bahkan nyaris padam. Dan tiba-tiba, setelah bergoyang hebat, nyalanya semakin mengecil. Istri Pan Darma pun tak tahu harus berbuat apa melihat kenyataan itu. Ia mulai menangis dan merasa malam ini adalah akhir segalanya. Ia mulai membayangkan, paginya kerabatnya akan mulai berdatangan ke rumahnya dan siangnya atau sorenya beramai-ramai menggotong suaminya ke kuburan.

Saat nyaris mati, tiba-tiba nyala lampu kembali menerang. Sedikit demi sedikit semakin terang dan tenang. Dan pada titik tertentu, nyalanya benar-benar terang, bersih dan tenang. Dan saat itu, istri Pan Darma menjadi lega. Ia tak gelisah lagi dan berpikir jika suaminya adalah pemenang dari perang ini. Paginya tentu saja akan terdengar kabar jika Ni Renenglah yang mati secara mendadak. Dirinya pun berencana untuk datang melayat ke sana. Kini ia menunggu jiwa suaminya kembali ke dalam tubuhnya dan suaminya yang terbaring di atas dipan akan terbangun lagi.

*

Nyala lampu masih terang dan tenang. Pagi sudah menjelang dan suara ayam akan segera terdengar. Namun jiwa Pan Darma tak kunjung kembali ke dalam raganya. Istrinya sudah lama menunggu dan kini perasaan tenang dan senangnya perlahan-lahan berubah menjadi perasaan jengkel. Dan perasaan jengkel itu kemudian berubah menjadi rasa amarah yang tak tertahankan. Ingatan masa lalu kembali berkecamuk di dalam kepalanya. Ia ingat penuturan seorang kerabat jauh Pan Darma, jika dulu Ni Reneng sempat menjadi kekasih Pan Darma, namun tak direstui oleh orang tua Pan Darma.

Dengan rasa amarah yang tak bisa dikendalikan, ia meniup lampu batok kelapa itu. Padam. [T]

Maret 2022

Keterangan:

  • bli: panggilan untuk kakak laki-laki, abang, kakanda dalam bahasa Bali
  • balian: dukun
  • merajan: pura keluarga
  • canang: sesajen yang terbuat dari janus yang dibentuk dan di atasnya diisi bunga

_____

KLIK UNTUK BACA CERPEN LAIN

Sepuluh Tahun Setelah Si Kerudung Merah Membunuh Seekor Serigala | Cerpen Surya Gemilang
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hal-hal Sepele yang Sesungguhnya Hal-hal Penting dalam Berbisnis

Next Post

Kejutan Atas Ruang dan Pantulan | Karya KaRang oleh Srayamurtikanti

I Putu Supartika

I Putu Supartika

Pengamat cewek teman dan peternak sapi ulung yang tidak bisa menyabit rumput. Belakangan nyambi menulis cerpen

Related Posts

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails
Next Post
Kejutan Atas Ruang dan Pantulan | Karya KaRang oleh Srayamurtikanti

Kejutan Atas Ruang dan Pantulan | Karya KaRang oleh Srayamurtikanti

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co