14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Society of the Snow (2023): Kisah Mengerikan dari Pegunungan Andes

Jaswanto by Jaswanto
February 27, 2024
in Ulas Film
Society of the Snow (2023): Kisah Mengerikan dari Pegunungan Andes

Tangkapan layar adegan film Society of the Snow

SEORANG jurnalis dan kritikus film, Roger Ebert, memulai kritik pendeknya terhadap film Alive (1993) garapan Frank Marshall dengan penyangsian “There are some stories you simply can’t tell. The story of the Andes survivors may be one of them.” Barangkali pria Amerika itu benar. Jatuhnya pesawat Angkatan Udara Uruguay Penerbangan 571 di pegunungan Andes pada tanggal 13 Oktober 1972 itu tetap memiliki sisi yang tak dapat diceritakan sepenuhnya oleh siapa pun, termasuk penyintas.

Tapi sebagai sebuah cerita yang spektakuler, kisah survival para penyintas kecelakaan pesawat 571 di lembah salju Andes yang mengerikan itu telah diceritakan dan diceritakan kembali dan diceritakan kembali dalam bentuk tulisan maupun audiovisual dengan tingkat keberhasilan yang berbeda-beda—meskipun apa yang dimaksud dengan “sukses” tergantung pada interpretasi. Alive yang dikritik Ebert adalah salah satunya.

Pada 2023, dua puluh tujuh tahun setelah Alive—film yang diangkat dari novel Alive: The Story of the Andes Survivors (1974) karya Piers Paul Read—tayang, seorang sutradara Spanyol Juan Antonio García Bayona mencoba menceritakannya kembali dengan judul “Society of the Snow”. Tapi dia tidak menjadikan buku Paul sebagai patokan, Bayona memilih mengadaptasinya dari buku Pablo Vierci tahun 2009.

Saya tidak menonton film garapan Marshall, tentu saja, tapi saya membaca ulasan-ulasannya di internet. Saya merasa perlu membacanya sebab hendak membandingkannya dengan film Bayona yang lahir di zaman di mana kemajuan teknologi dan sinematografi sudah makin canggih—di mana batas antara animasi dan live action makin tipis.

Setelah membaca beberapa ulasan film Alive, dan menuntaskan film Society of the Snow di Netflix, harus saya akui bahwa Bayona berhasil menghindari banyak kesalahan yang dibuat dalam versi sebelumnya (khususnya film Frank Marshall tahun 1993), meski mungkin kata-kata peringatan Ebert tetap benar. Ada sesuatu yang sulit dipahami dalam cerita ini, sesuatu yang luput dari ekspresi.

Saya mengatakan demikian bukan hendak memuji Bayona, sebab itu memang sudah keharusan. Sungguh sangat memalukan jika misalnya film yang belakangan lahir—di zaman teknologi CGI yang canggih pula—tidak bisa lebih bagus daripada film yang diproduksi tahun 1993. Maka wajar saja jika Society of the Snow menang dari segi apa pun dari Alive.

Society of the Snow, sebagaimana Alive, juga mengisahkan perjuangan para penyintas kecelakaan pesawat 571 di lembah Andes yang beku dalam bertahan hidup. Meski bukan film horor, kisah ini begitu mengerikan.

Pada menit-menit sebelum pesawat jatuh, kamera menyorot tajuk surat kabar yang memperingatkan pemirsa akan adanya kapal yang tenggelam di lepas pantai Montevideo. Para remaja putra—yang sebagian adalah pemain rugby amatiran—mendiskusikan betapa berbahayanya terbang melalui Andes karena daya isap yang ditimbulkan oleh angin hangat dari Argentina dan udara pegunungan yang dingin. Percakapan ini seolah adalah kutukan untuk diri sendiri. Pesawat itu benar-benar disedot oleh pegunungan es yang mengerikan. Badan pesawat terbelah menjadi dua.

Bulu saya meremang. Salju, puing-puing, dan angin berputar melalui badan pesawat yang terbuka. Deretan kursi runtuh seperti akordeon, menusuk beberapa penumpang. Soundtrack-nya adalah desiran logam yang berderak. Tapi setelah puing-puing berhenti, Bayona memotret momen pertama dalam jarak dekat yang membingungkan, saat para pemain berjuang untuk memahami apa yang baru saja terjadi dan berusaha mengetahui lokasi mereka berada.

Pesawat carteran itu membawa 40 penumbang dan 5 orang awak. Pada saat pesawat jatuh, hanya 32 orang yang selamat—terutama anggota tim rugby amatir Old Christians Club dan keluarga serta teman-teman mereka. Pilot dan awak pesawat tewas seketika. Nama-nama mereka yang tidak selamat tergores di layar lengkap dengan umur masing-masing.

Selanjutnya, sudah dapat ditebak, mereka yang selamat harus mengambil tindakan ekstrem untuk tetap hidup. Mereka berusaha bertahan hidup melalui perpaduan antara kecerdasan, daya tahan, keyakinan, dan—yang terkenal—keputusan untuk memakan mayat teman sendiri. Para penyintas yang kelaparan terpaksa melakukan kanibalisme—oh maaf, maksud saya anthropophagy.

(Roberto Canessa, seorang penyintas yang menjadi ahli jantung, anak terkemuka dan kandidat presiden Uruguay tahun 1994, mengatakan kepada National Geographic bahwa “anthropophagy” adalah kata yang lebih tepat untuk menggambarkan apa yang terjadi daripada “kanibalisme”—yang berarti membunuh orang untuk konsumsi.)

Setelah mereka terkubur di bawah longsoran salju, ketika es mulai mencair, dua anggota tim rugby, dengan sisa keyakinan dan tenaga, berangkat ke barat untuk mencoba mencapai Chili. Mereka tidak memiliki peralatan dan pengalaman mendaki. Tapi keduanya berhasil mencapai peradaban, dan mampu memandu helikopter penyelamat kembali ke pesawat yang jatuh.

Setelah 72 hari menderita, mereka akhirnya diselamatkan, namun hanya 16 orang yang selamat dari kondisi sangat berbahaya itu, suhu di bawah nol derajat, longsoran salju saat badai, keputusasaan, dan kelaparan. Enam belas penumpang diangkat dalam keadaan hidup. Kisah ini menjadi berita internasional. Aspek kanibalisme segera memberikan nada sensasional dan berpotensi seram pada laporan tersebut. Banyak dari mereka yang selamat merasa malu karena melanggar tabu.

Sedikit Masalah

Film Bayona tidak membuang banyak waktu untuk membangun karakter. Di awal saya langsung bertemu dengan sekelompok pemain rugby yang bersemangat saat berangkat ke Chile untuk bertanding. Banyak dari mereka tidak pernah meninggalkan rumah.

Film ini dinarasikan oleh Numa Turcatti (Enzo Vogrincic). Dan ini menurut saya agak aneh. Numa menjadi salah satu korban yang meninggal, tapi dia menjadi narator—bahkan saat adegan ia meninggal, Numa masih berbicara dan memberitahu saya bahwa dirinya telah meninggal. Oh, Society of the Snow ternyata dinarasikan oleh seorang hantu. Numa memberikan beberapa komentar, tapi dia bukan pemeran utama.

Bayona menghadirkan kembali kecelakaan itu secara mengerikan—dinding gunung di belakang jendela pesawat seperti raksasa jahat berkulit putih—sebagaimana adanya. Sinematografi Pedro Luque sangat menakjubkan dalam arti paling klasik. Pegunungan menjulang, hamparan salju putih tak berujung dengan orang-orang kecil berjuang melewati arus, nyaris tak terlihat dengan mata telanjang.

Luque mendekati lanskap tersebut dengan rasa hormat yang tinggi terhadap kualitasnya yang tidak menyenangkan: “Manusia tidak dapat bertahan hidup di sini. Tidak ada yang bisa bertahan di sini.”

Jika film Frank Marshall sangat bersandar pada aspek kuasi-religius dalam ceritanya, sebagaimana ditertuang dalam beberapa ulasan—dengan kanibalisme sebagai versi komuni (sebuah pembenaran penting bagi para penyintas yang sebagian besar beragama Katolik)—“Society of the Snow” tidak melakukan hal tersebut.

Pendekatan Bayona jauh lebih menarik, kata Ben Kenigsberg. Beberapa hari setelah tragedi mengerikan itu, seorang pemimpin memang muncul. Dia bertanggung jawab mengosongkan pesawat, mencari makanan di dalam koper, memberi semangat, memberitahu orang-orang untuk beriman. Seorang pemimpin seperti ini diperlukan dalam fase awal kekacauan.

“Tapi ‘memiliki iman’ tidak akan bertahan seiring berjalannya waktu dalam beberapa minggu. Dia pingsan dan dua anak laki-laki lainnya—Roberto (Matías Recalt) dan Nando (Agustín Pardella)—mengambil tugas berat untuk mencoba memperbaiki radio pesawat, dan ketika gagal, mereka berangkat ke pegunungan menuju Chili—mereka berharap,” tulis Ben di The New York Times.

Ben juga menulis, mirip dengan versi lain dari cerita ini, hari-hari diberi label di layar, dan mereka yang binasa diberi tulisan di batu nisan di layar. Senang rasanya melihat nama aslinya, tapi karena kita belum pernah benar-benar bertemu mereka, itu adalah bagian dari masalah mendasar yang diungkapkan oleh Roger Ebert pada tahun 1993. Ada sesuatu dalam tragedi ini yang tidak dapat ditafsirkan atau dijelaskan.

Film ini memang dapat dilihat dan didengar dengan baik, namun tampaknya kurang efektif dalam menangkap rasa lapar, kedinginan, dan durasinya—setidaknya jika durasinya diukur dalam hari dan minggu.

Meski gambaran kecelakaan, suasana lokasi, begitu mengagumkan; riasan dan penampakan luka yang meyakinkan; meskipun setidaknya ada satu tulang rusuk dengan sisa daging yang menempel—walaupun muncul dengan malu-malu; tetap saja ada sesuatu yang luput dipikirkan Bayona, yakni beberapa pemeran yang  tak memiliki kumis dan jenggot setelah terdampar selama 10 minggu. Apakah mereka sempat bercukur? Sepertinya adegan itu memang tidak tertuang dalam naskah skenario.

Tidak ada cerita yang menggambarkan keputusan para penyintas untuk memakan daging manusia sebagai tindakan yang terburu-buru atau ceroboh. Setelah pilihan dibuat, awalnya tiga pria melakukan pembantaian tanpa terlihat orang lain. Namun, ketika salju longsor menimpa kelompok tersebut, menewaskan beberapa dari mereka, tiba-tiba memakan daging tanpa nama dan wajah menjadi hal yang mustahil, kata Numa dalam sulih suara.

Bayona kemudian menunjukkan Roberto (Matías Recalt) memotong daging yang tampaknya tidak disebutkan namanya, tapi dengan bijaksana menyembunyikan apa pun yang dapat diidentifikasi tentang tubuh tersebut.

Materi film ini pada dasarnya mengerikan, mencekam, mengharukan, dan sebagian sulit ditolak, termasuk penampakan orang lain dengan kuda di seberang sungai untuk pertama kalinya yang dilihat oleh Nando Parrado (Agustín Pardella) dan Roberto setelah mereka berdua menghabiskan waktu berhari-hari mendaki jalan menuju peradaban.

Namun, Society of the Snow adalah film yang buruk untuk ditonton sebagaimana kebanyakan orang menikmatinya, termasuk saya—di Netflix, dalam kenyamanan rumah, barangkali juga dengan cemilan melimpah di dekatnya.

Kisah seperti ini menarik karena berbagai alasan. Bagi saya, daya tariknya adalah yang utama dan empati yang gugup: Akan jadi siapa saya jika diuji seperti ini? Apakah saya akan menjadi seorang yang selamat? Atau justru malah menjadi pihak yang tak berdaya disantap mereka?

Bagaimana rasanya meringkuk di dalam pesawat yang rusak selama 10 minggu dalam cuaca dingin sambil memakan daging manusia? Saya tidak bisa membayangkannya, tapi sejujurnya film ini sedikit-banyak dapat membantu saya.[T]

In the Forest One Thing Can Look Like Another (2023): Yang Tampak dan yang Tak Tampak
Ma Gueule : Arabphobia dan Trauma Kolektif Jangka Panjang
Menyangsikan Dutar & Papaya Sebagai Sinematik Eksperimental Nonkonvensional: Bukti Kita Butuh Pembacaan Ulang
Tags: filmUlasan Film
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

KUMARA YAJÑA:  Dharma Memelihara Fasilitas Publik Pascaperebutan Kekuasaan

Next Post

Semesta Buku “Nusa Membaca” Gramedia dan Hal-Hal yang Perlu Kamu Ketahui

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails

Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

by Dian Suryantini
January 13, 2026
0
Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

FILM pendek Anuja terasa seperti tamparan pelan tapi tepat sasaran. Film ini tidak berisik. Tapi berhasil membuat penontonnya terngiang. Saya...

Read moreDetails
Next Post
Semesta Buku “Nusa Membaca” Gramedia dan Hal-Hal yang Perlu Kamu Ketahui

Semesta Buku "Nusa Membaca" Gramedia dan Hal-Hal yang Perlu Kamu Ketahui

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co