23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

In the Forest One Thing Can Look Like Another (2023): Yang Tampak dan yang Tak Tampak

Jaswanto by Jaswanto
January 30, 2024
in Ulas Film
In the Forest One Thing Can Look Like Another (2023): Yang Tampak dan yang Tak Tampak

Foto: Asian Film Archive

APA yang akan Anda katakan saat ditanya mengenai film India? Nyanyian, tarian, cengeng, romantis, penuh drama, pemandangan yang eksotis? Barangkali ini sedikit jawaban yang menggambarkan sinema nehi-nehi itu. Meski mungkin ada jawaban yang, bisa jadi, lebih panjang daripada itu. Tidak percaya? Silakan tanya kepada Mahfud Ikhwan.

“Seperti film porno, film India disukai sekaligus tidak diakui, dikonsumsi tapi dianggap terlalu kotor untuk dibincangkan, ditonton sendirian kemudian dihinakan di depan banyak orang.” Ini kata Mahfud Ikhwan.  

Mengenai seluk-belum film India, mungkin tak ada orang Indonesia yang bisa sedalam, setahu, dan seserius seperti sastrawan asal Lamongan yang dekat dengan Warto Kemplung itu.

Bukan hanya menonton, atau mengakuinya secara terang-terangan di depan publik bahwa itu film yang disukainya, tapi ia juga menuliskannya, bahkan menerbitkannya menjadi dua jilid buku (serius) berjudul “Aku & Film India Melawan Dunia”.

(Saya menyukai film India. Tapi tentu derajat saya jauh lebih rendah daripada Mahfud Ikhwan.)

Baru-baru ini saya menonton film India yang lain, yang sama sekali jauh dari sedikit jawaban di paragraf pertama. Tak ada romantisme, tak ada tangis haru-biru, tak ada tarian, tak ada nyanyian, tak ada Shah Rukh Khan. Bukan saja karena itu, tapi juga sebab ini bukan film komersial. Ini film dokumenter pendek yang kebetulan dibikin oleh sutradara India dan tentang India—yang lain—pula.

Judulnya In the Forest One Thing Can Look Like Another—judul yang panjang untuk film berdurasi pendek. Film ini disutradarai Priyanka Chhabra, seorang sutradara perempuan yang menyukai tema tentang ingatan, lanskap, dan hubungan antara manusia dan tempat. Ia menyebut praktiknya sebagai sebuah arkeologi keheningan dengan menggali situs-situs yang dicirikan dengan trauma fisik maupun emosional.

Film In the Forest… terhimpun dalam program Monographs 2023 Asian Film Archive (AFA) bersama enam film pendek lainnya, yaitu Apat (2023), The Landscape of Sanatoriums (2023), Letter to T: in nuclearity we are connected (2023), mmm (2023), Precious. Rare. For Sale (2023), dan Swimming, Dancing (2023).

Saya menonton film In the Forest di Rumah Belajar Komunitas Mahima dalam sebuah acara nonton dan diskusi film yang diselenggarakan komunitas mikro sinema Singaraja Menonton yang bekerjasama dengan Minikino, Jumat (26/1/2023) malam.

Film ini berpusat pada kota yang terletak di negara bagian Himachal Pradesh, India: Manali. Saat menonton, saya seolah diajak Priyanka untuk membaca sebuah esai atau catatan perjalanan yang ditulisnya di buku catatan miliknya. Ya, film ini barangkali bisa disebut sebagai “video atau film esai”, anggap saja begitu, sebab narator memang seperti membacakan esai panjang tentang dirinya, sinema India, dan wajah Manali di layar kaca dan di dunia nyata.

(Saya sebut sebagai video esai karena memang, sebagaimana penjelasan singkat pihak Asian Film Archive (AFA), bahwa Monograf adalah serangkaian esai video dan teks tentang sinema Asia yang diproduksi pada masa merebaknya COVID-19. Edisi kedua Monographs terdiri dari 13 karya yang diproduksi—tujuh esai video dan enam esai tertulis—melalui konsultasi dengan pembuat film/editor Daniel Hui dan peneliti/kurator Matthew Barrington.)

Menampakkan yang Tak Tampak

In the Forest… merupakan video esai yang kritis terhadap industri film India yang selalu berusaha menampilkan keindahan alamnya tapi nyaris tak pernah menayangkan realitas di baliknya. Nama-nama tempat seperti  Ladakh, Manali, Rajasthan, Kalkuta, Shimla, New Delhi, Kashmir, Bombay, dan lain sebagainya, menjadi objek “eksploitasi”—jika bisa dikatakan demikian—industri film Bollywood.

Lihatlah adegan terakhir 3 Idiots (2009), atau lokasi di mana aktor manis dan pandai menangis Shah Rukh Khan menyimpan aktris cantik Anushka Sharma dalam Jab Tak Hai Jaan (2012), misalnya. Dalam dua film yang disebutkan, mata Anda dimanjakan dengan pemandangan indah Danau Pangong yang terletak di Ladakh.

Atau dalam Jab We Met (2007), yang menangkap keindahan Jalan Rohtang, Himachal Pradesh, dengan cara tertentu, mengabadikan bentangan seluloid yang diselimuti salju. Kabarnya film ini telah menginspirasi banyak orang untuk melakukan perjalanan dengan ransel mereka, dan belajar menikmati perjalanan dengan cara terbaik, seperti Aditya Kashyap (Shahid Kapoor)—pengusaha muda patah hati—yang naik bus terbaik, pergi ke Stasiun Kereta Chatrapati Shivaji, naik kereta, dan bertemu dengan Geet Kaur Dhillon (Kareena Kapoor), lalu jatuh cinta.

Bertahun-tahun setelah film Rishi Kapoor Heena (1991) yang membawa Manali ke kanvas sinematik, Yeh Jawaani Hai Deewani (2013)—yang dibintangi Ranbir Kapoor—mengarahkan kota itu menjadi salah satu tujuan plesiran paling favorit.

Sejak Kashmir terus bergejolak, sebagaimana disampaikan Priyanka dalam In the Forest…, industri film Bollywood mulai melirik banyak tempat di belahan India lain, termasuk Manali. Priyanka tinggal di sana, di kota terpencil di pegunungan Himalaya itu. Dan atas konstruksi pengalaman pribadi tinggal di daerah itu lah, Priyanka memotret Manali yang lain—yang tak tampak dalam sinema Bollywood.

Secara historis, Manali merupakan destinasi populer yang kerap menjadi objek syuting lagu-lagu atau film Bollywood. Lanskap glasial Manali telah lama menjadi tempat bayangan perdesaan yang indah, yang sarat dengan kiasan petualangan, erotisme, dan romantisme.

Lain dengan film panjang komersiil yang menampilkan Manali dari sisi keindahannya saja, In the Forest… mencoba menginterogasi lapisan tipis dari praktik-praktik naratif tersebut; mencoba membangun tablo tentang pegunungan di dataran tinggi sebagai objek statis dan latar belakang fantasi perkotaan yang mengandaikan aspirasi kebahagiaan, sementara realitas yang genting tentang kehidupan di ekosistem yang sangat sensitif ini menggerakkan sebuah petualangan yang jauh dari angan-angan.

Manali, dalam beberapa film Bollywood, ditampilkan sebagai tempat yang nyaris sempurna. Hutan, lembah, padang rumput hijau dengan latar belakang gunung Himalaya, gletser, adalah gambaran imajinasi surga yang begitu nyata.

Manali dianggap sebagai tempat yang sempurna untuk menggambarkan kisah-kisah yang membahagiakan—sebagaimana ending film India. Namun, dan ini yang hendak disampaikan Priyanka dalam In the Forest…, nyaris tak ada film Bollywood yang menggambarkan Manali sebagaimana kenyataannya.

Pada kenyataannya, berdasarkan beberapa penelitian yang disebutkan dalam film In the Forest… terungkap bahwa Manali berada di wilayah yang memiliki potensi gempa seismik pada skala yang berbahaya. Selain itu, pembangunan dan eksploitasi berlebihan juga menyebabkan jalur menuju Manali sering mengalami banjir dan tanah longsor.

Pada 2023 di sekitar Manali, misalnya, lebih dari 700 jalan diblokir karena banjir dan tanah longsor. Wilayah ini sering menyaksikan dan merasakan tanah longsor dan banjir bandang yang merusak jalan dan bangunan. Beberapa distrik mengalami curah hujan sebulan penuh dalam satu hari. Di Manali, jalan-jalan tersapu banjir, membuat wisatawan dan beberapa kendaraan mereka terdampar.

Tetapi, orang macam apa yang mau menampilkan tragedi ekologis semacam itu di gemerlap industri layar sinema? Bukankah menampilkan yang baik-baik, indah-indah, merupakan salah satu tulang punggung kapital?

Rasanya akan sulit menemukan film Bollywood yang menampilkan situs warisan dunia Taj Mahal yang sudah pudar dan berlumut atau kondisi sungai penuh sampah yang mengapitnya. Atau jujur mengatakan bahwa cuaca di Danau Pangong, Ladakh, sebetulnya sangatlah ekstrem.   

Sebagai sebuah bentuk keprihatinan, film In the Forest One Thing Can Look Like Another setidaknya memberi sudut pandang baru, atau membuka mata kita atas sesuatu di balik yang indah-indah, bahwa realitas di balik layar bisa jauh terlihat lebih buruk dari gambaran idealnya.

Film ini barangkali juga mengajukan seruan untuk meningkatkan kesadaran ekologis orang-orang India, khususnya Manali, dan kita semua, manusia, makhluk yang harus bertanggungjawab atas hal-hal semacam itu.[T]

Made (2022): Film Konvensional yang Mengabaikan Nalar-Logika
Ma Gueule : Arabphobia dan Trauma Kolektif Jangka Panjang
Menyangsikan Dutar & Papaya Sebagai Sinematik Eksperimental Nonkonvensional: Bukti Kita Butuh Pembacaan Ulang
Acung Memilih Bersuara (2023): Diskriminasi Etnis Tionghoa dan Skenario di Balik ‘65
Tags: filmfilm asiafilm dokumenterfilm pendekindiaMinikinoSingaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Music Celebration 2024” | Harmonious Echoes: Musik, Lingkungan, dan Kolaborasi Komunitas

Next Post

d’Bukit Kreatif Space: Ruang Belajar Anak-Anak Bukit Yangudi

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails
Next Post
d’Bukit Kreatif Space: Ruang Belajar Anak-Anak Bukit Yangudi

d'Bukit Kreatif Space: Ruang Belajar Anak-Anak Bukit Yangudi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co