25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

In the Forest One Thing Can Look Like Another (2023): Yang Tampak dan yang Tak Tampak

Jaswanto by Jaswanto
January 30, 2024
in Ulas Film
In the Forest One Thing Can Look Like Another (2023): Yang Tampak dan yang Tak Tampak

Foto: Asian Film Archive

APA yang akan Anda katakan saat ditanya mengenai film India? Nyanyian, tarian, cengeng, romantis, penuh drama, pemandangan yang eksotis? Barangkali ini sedikit jawaban yang menggambarkan sinema nehi-nehi itu. Meski mungkin ada jawaban yang, bisa jadi, lebih panjang daripada itu. Tidak percaya? Silakan tanya kepada Mahfud Ikhwan.

“Seperti film porno, film India disukai sekaligus tidak diakui, dikonsumsi tapi dianggap terlalu kotor untuk dibincangkan, ditonton sendirian kemudian dihinakan di depan banyak orang.” Ini kata Mahfud Ikhwan.  

Mengenai seluk-belum film India, mungkin tak ada orang Indonesia yang bisa sedalam, setahu, dan seserius seperti sastrawan asal Lamongan yang dekat dengan Warto Kemplung itu.

Bukan hanya menonton, atau mengakuinya secara terang-terangan di depan publik bahwa itu film yang disukainya, tapi ia juga menuliskannya, bahkan menerbitkannya menjadi dua jilid buku (serius) berjudul “Aku & Film India Melawan Dunia”.

(Saya menyukai film India. Tapi tentu derajat saya jauh lebih rendah daripada Mahfud Ikhwan.)

Baru-baru ini saya menonton film India yang lain, yang sama sekali jauh dari sedikit jawaban di paragraf pertama. Tak ada romantisme, tak ada tangis haru-biru, tak ada tarian, tak ada nyanyian, tak ada Shah Rukh Khan. Bukan saja karena itu, tapi juga sebab ini bukan film komersial. Ini film dokumenter pendek yang kebetulan dibikin oleh sutradara India dan tentang India—yang lain—pula.

Judulnya In the Forest One Thing Can Look Like Another—judul yang panjang untuk film berdurasi pendek. Film ini disutradarai Priyanka Chhabra, seorang sutradara perempuan yang menyukai tema tentang ingatan, lanskap, dan hubungan antara manusia dan tempat. Ia menyebut praktiknya sebagai sebuah arkeologi keheningan dengan menggali situs-situs yang dicirikan dengan trauma fisik maupun emosional.

Film In the Forest… terhimpun dalam program Monographs 2023 Asian Film Archive (AFA) bersama enam film pendek lainnya, yaitu Apat (2023), The Landscape of Sanatoriums (2023), Letter to T: in nuclearity we are connected (2023), mmm (2023), Precious. Rare. For Sale (2023), dan Swimming, Dancing (2023).

Saya menonton film In the Forest di Rumah Belajar Komunitas Mahima dalam sebuah acara nonton dan diskusi film yang diselenggarakan komunitas mikro sinema Singaraja Menonton yang bekerjasama dengan Minikino, Jumat (26/1/2023) malam.

Film ini berpusat pada kota yang terletak di negara bagian Himachal Pradesh, India: Manali. Saat menonton, saya seolah diajak Priyanka untuk membaca sebuah esai atau catatan perjalanan yang ditulisnya di buku catatan miliknya. Ya, film ini barangkali bisa disebut sebagai “video atau film esai”, anggap saja begitu, sebab narator memang seperti membacakan esai panjang tentang dirinya, sinema India, dan wajah Manali di layar kaca dan di dunia nyata.

(Saya sebut sebagai video esai karena memang, sebagaimana penjelasan singkat pihak Asian Film Archive (AFA), bahwa Monograf adalah serangkaian esai video dan teks tentang sinema Asia yang diproduksi pada masa merebaknya COVID-19. Edisi kedua Monographs terdiri dari 13 karya yang diproduksi—tujuh esai video dan enam esai tertulis—melalui konsultasi dengan pembuat film/editor Daniel Hui dan peneliti/kurator Matthew Barrington.)

Menampakkan yang Tak Tampak

In the Forest… merupakan video esai yang kritis terhadap industri film India yang selalu berusaha menampilkan keindahan alamnya tapi nyaris tak pernah menayangkan realitas di baliknya. Nama-nama tempat seperti  Ladakh, Manali, Rajasthan, Kalkuta, Shimla, New Delhi, Kashmir, Bombay, dan lain sebagainya, menjadi objek “eksploitasi”—jika bisa dikatakan demikian—industri film Bollywood.

Lihatlah adegan terakhir 3 Idiots (2009), atau lokasi di mana aktor manis dan pandai menangis Shah Rukh Khan menyimpan aktris cantik Anushka Sharma dalam Jab Tak Hai Jaan (2012), misalnya. Dalam dua film yang disebutkan, mata Anda dimanjakan dengan pemandangan indah Danau Pangong yang terletak di Ladakh.

Atau dalam Jab We Met (2007), yang menangkap keindahan Jalan Rohtang, Himachal Pradesh, dengan cara tertentu, mengabadikan bentangan seluloid yang diselimuti salju. Kabarnya film ini telah menginspirasi banyak orang untuk melakukan perjalanan dengan ransel mereka, dan belajar menikmati perjalanan dengan cara terbaik, seperti Aditya Kashyap (Shahid Kapoor)—pengusaha muda patah hati—yang naik bus terbaik, pergi ke Stasiun Kereta Chatrapati Shivaji, naik kereta, dan bertemu dengan Geet Kaur Dhillon (Kareena Kapoor), lalu jatuh cinta.

Bertahun-tahun setelah film Rishi Kapoor Heena (1991) yang membawa Manali ke kanvas sinematik, Yeh Jawaani Hai Deewani (2013)—yang dibintangi Ranbir Kapoor—mengarahkan kota itu menjadi salah satu tujuan plesiran paling favorit.

Sejak Kashmir terus bergejolak, sebagaimana disampaikan Priyanka dalam In the Forest…, industri film Bollywood mulai melirik banyak tempat di belahan India lain, termasuk Manali. Priyanka tinggal di sana, di kota terpencil di pegunungan Himalaya itu. Dan atas konstruksi pengalaman pribadi tinggal di daerah itu lah, Priyanka memotret Manali yang lain—yang tak tampak dalam sinema Bollywood.

Secara historis, Manali merupakan destinasi populer yang kerap menjadi objek syuting lagu-lagu atau film Bollywood. Lanskap glasial Manali telah lama menjadi tempat bayangan perdesaan yang indah, yang sarat dengan kiasan petualangan, erotisme, dan romantisme.

Lain dengan film panjang komersiil yang menampilkan Manali dari sisi keindahannya saja, In the Forest… mencoba menginterogasi lapisan tipis dari praktik-praktik naratif tersebut; mencoba membangun tablo tentang pegunungan di dataran tinggi sebagai objek statis dan latar belakang fantasi perkotaan yang mengandaikan aspirasi kebahagiaan, sementara realitas yang genting tentang kehidupan di ekosistem yang sangat sensitif ini menggerakkan sebuah petualangan yang jauh dari angan-angan.

Manali, dalam beberapa film Bollywood, ditampilkan sebagai tempat yang nyaris sempurna. Hutan, lembah, padang rumput hijau dengan latar belakang gunung Himalaya, gletser, adalah gambaran imajinasi surga yang begitu nyata.

Manali dianggap sebagai tempat yang sempurna untuk menggambarkan kisah-kisah yang membahagiakan—sebagaimana ending film India. Namun, dan ini yang hendak disampaikan Priyanka dalam In the Forest…, nyaris tak ada film Bollywood yang menggambarkan Manali sebagaimana kenyataannya.

Pada kenyataannya, berdasarkan beberapa penelitian yang disebutkan dalam film In the Forest… terungkap bahwa Manali berada di wilayah yang memiliki potensi gempa seismik pada skala yang berbahaya. Selain itu, pembangunan dan eksploitasi berlebihan juga menyebabkan jalur menuju Manali sering mengalami banjir dan tanah longsor.

Pada 2023 di sekitar Manali, misalnya, lebih dari 700 jalan diblokir karena banjir dan tanah longsor. Wilayah ini sering menyaksikan dan merasakan tanah longsor dan banjir bandang yang merusak jalan dan bangunan. Beberapa distrik mengalami curah hujan sebulan penuh dalam satu hari. Di Manali, jalan-jalan tersapu banjir, membuat wisatawan dan beberapa kendaraan mereka terdampar.

Tetapi, orang macam apa yang mau menampilkan tragedi ekologis semacam itu di gemerlap industri layar sinema? Bukankah menampilkan yang baik-baik, indah-indah, merupakan salah satu tulang punggung kapital?

Rasanya akan sulit menemukan film Bollywood yang menampilkan situs warisan dunia Taj Mahal yang sudah pudar dan berlumut atau kondisi sungai penuh sampah yang mengapitnya. Atau jujur mengatakan bahwa cuaca di Danau Pangong, Ladakh, sebetulnya sangatlah ekstrem.   

Sebagai sebuah bentuk keprihatinan, film In the Forest One Thing Can Look Like Another setidaknya memberi sudut pandang baru, atau membuka mata kita atas sesuatu di balik yang indah-indah, bahwa realitas di balik layar bisa jauh terlihat lebih buruk dari gambaran idealnya.

Film ini barangkali juga mengajukan seruan untuk meningkatkan kesadaran ekologis orang-orang India, khususnya Manali, dan kita semua, manusia, makhluk yang harus bertanggungjawab atas hal-hal semacam itu.[T]

Made (2022): Film Konvensional yang Mengabaikan Nalar-Logika
Ma Gueule : Arabphobia dan Trauma Kolektif Jangka Panjang
Menyangsikan Dutar & Papaya Sebagai Sinematik Eksperimental Nonkonvensional: Bukti Kita Butuh Pembacaan Ulang
Acung Memilih Bersuara (2023): Diskriminasi Etnis Tionghoa dan Skenario di Balik ‘65
Tags: filmfilm asiafilm dokumenterfilm pendekindiaMinikinoSingaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Music Celebration 2024” | Harmonious Echoes: Musik, Lingkungan, dan Kolaborasi Komunitas

Next Post

d’Bukit Kreatif Space: Ruang Belajar Anak-Anak Bukit Yangudi

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
0
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

Read moreDetails

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
0
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

Read moreDetails

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
0
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

Read moreDetails

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
0
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

Read moreDetails

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
0
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

Read moreDetails

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails
Next Post
d’Bukit Kreatif Space: Ruang Belajar Anak-Anak Bukit Yangudi

d'Bukit Kreatif Space: Ruang Belajar Anak-Anak Bukit Yangudi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co