13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mrs. Chatterjee vs Norway: Melodrama Seorang Ibu India dan Penipu-Penipu Norwegia

Jaswanto by Jaswanto
March 10, 2024
in Ulas Film
Mrs. Chatterjee vs Norway: Melodrama Seorang Ibu India dan Penipu-Penipu Norwegia

Rani Mukerji dalam 'Mrs. Chatterjee Vs Norwegia' | Foto: Zee Studios

Sutradara: Ashima Chibber; Penulis: Sameer Satija, Ashima Chibber, dan Rahul Handa; Pemeran: Rani Mukerji, Anirban Bhattacharya, Jim Sarbh.

SAYA menonton film ini setelah menyaksikan adegan mengerikan dari Pegunungan Andes dalam film Society of the Snow (2023) garapan sutradara Spanyol Juan Antonio García Bayona dan mengumpati film buruk, drama komedi, berjudul Dunki (2023) yang disutradarai Rajkumar Hirani. Ini film Rajkumar yang jelek—kalau bukan yang terjelek—jika dibandingkan dengan karyanya yang lain. Misalnya, 3 Idiots (2009). Maaf, Mr. Raj. Narasimu melorot di pertengahan.

Dan Shah Rukh Khan, saya tidak menemukan jiwa yang sesungguhnya dari aktor manis dan pandai menangis itu di film Dunki. Kisah cinta Hardy (Shah Rukh Khan) dan Manu (Taapsee Pannu) tidak banyak menciptakan keajaiban. Ini jelas berbeda dengan SRK yang, nyaris selalu, memiliki kisah cinta (bak dongeng) ajaib di beberapa film yang dibintanginya dulu, misalnya, Rab Ne Bana Di Jodi.

Tapi, terlepas dari itu, ini bagian memujinya, selain isu yang diangkat menambah pengetahuan saya, walaupun sedikit, tentang bagaimana London menjadi “Tanah Harapan” bagi orang India, meski bukan yang terbaik dari Hirani, Dunki sudah cukup untuk membuat saya tertawa dan sedikit bergolak—walaupun humor yang disajikan tidak sebanyak, sebaik, dan senatural Rancho atau Phunsukh Wangdu, dkk di 3 Idiots.

Saya menonton film ini juga setelah menandaskan empat season Yellowstone yang menampilkan sosok koboi tua keras kepala-kolot-konservatif John Dutton (Kevin Costner) yang kesepian di lembah Montana bersama kuda dan benteng-bantengnya di peternakan dan ketiga anaknya yang bingung mencari arti kebahagiaan. Juga dua film koboi lainnya, The Professionals dan Silverado.

Mrs. Chatterjee vs Norway (MCVSN) (2023), film yang saya maksud. Saya menonton film ini dengan rasa malas—hujan mengguyur Kota Singaraja nyaris 24 jam, dan itu membuat saya malas melakukan apa-apa kecuali menonton film.

Ini jenis film India dengan unsur Bollywood yang amat minimal: berdurasi dua jam, tanpa goyangan dan pemandangan pegunungan (meski masih ada beberapa lagu ratapan yang diselipkan), serta memakai rentang waktu cerita yang lebih mendekati waktu cerpen daripada roman (yang biasanya ditemukan dalam kebanyakan film India).

Film ini bercerita tentang Debika Chatterjee (Rani Mukerji), imigran India yang tinggal di Norwegia, yang memperjuangkan hak asuh atas kedua anaknya yang dirampas secara paksa oleh petugas layanan kesejahteraan Norwegia Velfred—karena Debika dinilai tidak becus menjadi seorang ibu.

Di sini, di film MCVSN ini, Rani tampak jauh lebih tua dan subur jika dibandingkan dengan ia yang saya lihat di Kuch Kuch Hota Hai (1998), Har Dil Jo Pyar Karega (2000), Chori Chori Chupke Chupke (2001), Veer-Zaara (2004), dan Kabhi Alvida Naa Kehna (2006), dan itu cukup mengejutkan saya. Ternyata waktu begitu cepat melumatnya.

Rani memerankan sosok ibu dari India, yang menurut kacamata orang Norwegia—bahkan suaminya sendiri, Aniruddha Chatterjee (Anirban Bhattacharya), yang ketinggalan zaman, kolot, dan konservatif terhadap kebiasaan India-nya. Di awal film Rani tidak terlalu baik dalam memerankan Debika. Dia begitu lemah dan kebingungan sebagai seorang ibu yang dirampah kedua anaknya.

Tapi di pertengahan, Rani menunjukkan kemarahan yang mengagumkan. Saat suaminya menamparnya, tanpa segan dia membalasnya. Dan betapa epiknya saat dirinya menuangkan susu dan mencampurnya dengan pisang, meremasnya, lalu memamahnya dengan tangan telanjang, tanpa sendok atau garpu sesuai standar moral orang Norwegia. Betapa adegan itu menunjukkan sosok ibu yang marah, bukan saja terhadap sikap suami dan mertuanya yang oportunis, tapi juga kepada Norwegia.

Film ini diadaptasi dari sebuah buku berjudul “The Journey of a Mother” oleh Sagarika Chakraborty, seorang imigran India yang anak-anaknya diambil oleh Layanan Kesejahteraan Anak Norwigia (Barnevernet) pada tahun 2011 silam atas dasar perlakuan yang tidak pantas. Perjalanan dua tahun penuh penderitaan yang dialami Sagarika—termasuk intervensi Kementerian Luar Negeri India yang dipublikasikan secara luas, serta pertarungan hukum dengan Pemerintah Norwegia dan keluarga suaminya—menjadi cerita utama dalam film ini.

Namun, dalam film ini, nama Sagarika telah diganti dengan Debika. Dan Barnevernet dirubah namanya menjadi Velfred. Lebih daripada kisah culas beberapa orang Norwegia dan sosok suami dan ipar yang patriarki juga oportunis, MCVSN menampilkan kisah yang penuh dengan perselisihan sosiokultur antara Timur (India) dan Barat (Norwegia)—diskriminasi sistem Dunia Pertama terhadap disfungsionalitas pola asuh orang tua di Asia Selatan.

Orang-orang Norwegia yang datar, atas nama kesejahteraan anak, telah menjadi monster menakutkan bagi ibu-ibu imigran dari Dunia Ketiga. (Jika Anda kedapatan menyuapi anak Anda menggunakan tangan—tanpa sendok atau garpu—dan menangis di depan buah hati Anda, siap-siap pihak Velfred akan menegur Anda dan menilai Anda sebagai sosok ibu yang tak bermoral dan dengan begitu tak pantas mengasuh darah daging Anda sendiri.)

Ini adalah Debika vs The Rest of the World, yang menolak untuk memberinya martabat sebagai manusia yang kompleks dan memiliki kekurangan. Anak-anak Debika—yang dalam film ini hanya sebatas sebagai catatan kaki, dan itu sangat disayangkan—dirampas tanpa ampun dari orang yang melahirkannya atas nama, sekali lagi, kesejahteraan si anak. Secara tidak langsung ini mencerminkan ironi di zaman ketika negara dan institusi berperang demi melindungi masa depan anak-anak mereka yang tidak bersalah.

Kita tahu, banyak film yang diangkat dari kisah nyata tak sekadar menayangkan estetika, tapi merupakan pernyataan agresi. Pergesekan antara pengasuhan anak cara Barat dan pandangan atas kacaunya orang India dalam memperlakukan keturunan adalah hal yang menarik. (Saya membayangkan bagaimana reaksi orang Norwegia saat melihat ibu-ibu di desa di Indonesia dalam melakukan hal tersebut.)

Debika dianggap sebagai ibu khas India yang gagal—yang tidur bersama anak, menyuapi anak langsung dari tangannya, gagal mengatasi timbulnya autisme, mengaplikasikan celak di mata anaknya, dan bersikap sombong. Dan MCVSN menempatkan sosok Debika sebagai cerminan manusia yang cinta terhadap Tanah Air, betapapun berisik dan keras kepala. Maka tak mengherankan jika Debika dan rekan-rekan nasionalisnya, bersikap defensif dan mencoba menjatuhkan penjahat Velfred—dua cameo berambut pirang yang datar—yang ditampilkan sebagai monster utama yang seperti terjebak dalam film yang salah.

Dua gadis Norwegia pirang yang berperan sebagai agen Velfred dengan seringai jahat, cekikikan, dan tatapan mata mereka, alih-alih berakting dalam melodrama modern, malah tampak sebagai tokoh antagonis perundung dalam drama remaja sekolah menengah yang malu-malu. Dan suami Debika, seorang pria yang awalnya tampak baik, seiring berjalannya film, berubah menjadi monster jahat berkumis dan berkacamata yang bersembunyi di depan sikap tulus dan terlalu sering mengulangi kata “kewarganegaraan”.

Sedangkan para hakim Norwegia ditampilkan sebagai orang Jerman atau Rusia yang kejam, tanpa kompromi. Mertua Debika, ya Tuhan, berperilaku seperti keturunan spiritual karakter Bindu-Bollywood tahun 1990-an. Dan hakim India, yang diperankan Barun Chanda, dibikin seperti Master Shifu yang menyampaikan sulih suara tentang keibuan, dan seorang pengacara wanita—pembela Debika—kecewa dengan argumennya yang flamboyan.

Rani Mukerji sendiri, saat ia berteriak dan berlari sambil menangis mengejar mobil agen Velfred yang menculik anaknya, mengingatkan saya pada sosok Paro yang berlari menuju gerbang rumahnya di saat-saat Devdas (2002) hendak mengakhiri ceritanya. Adegan ini jauh dari kata dramatik. Dan bahasa Bengali Rani seperti orang luar yang mencoba, dengan keras, berbahasa layaknya warga lokal—seperti logat Dian Sastro dalam serial Gadis Kretek yang wagu dan mengada-ada.

Melalui sosok Debika, MCVSN seolah memperkuat stereotip bahwa perjuangan seorang ibu rumah tangga berakar pada ketidakmampuan mereka untuk bertahan hidup dan melawan dunia. Jadi, bagi saya, Mrs. Chatterjee vs Norway hanya sebatas cemilan di kala hujan yang tak kunjung reda. [T]

Society of the Snow (2023): Kisah Mengerikan dari Pegunungan Andes
In the Forest One Thing Can Look Like Another (2023): Yang Tampak dan yang Tak Tampak
Kritik Film 3 Idiots Terhadap Sistem Perguruan Tinggi, Masih Relevan!
Tags: filmfilm IndiaMrs. Chatterjee vs NorwayRani MukerjiUlasan Film
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ternyata Tuhan Sangat Dekat

Next Post

Writing Academic Essay

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails
Next Post
Writing Academic Essay

Writing Academic Essay

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co