3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rekonsiliasi Pasca Perebutan Kekuasaan: Mengintip Pesan Kakawin Ramayana

Putu Eka Guna Yasa by Putu Eka Guna Yasa
February 20, 2024
in Esai
Pawisik Durga, Galungan, dan Cinta Kasih

Putu Eka Guna Yasa

TAK ada kekuasaan yang gratis, terlebih di tengah-tengah masyarakat bermental komersil seperti saat ini. Setiap orang yang ingin mendapat kekuasaan mesti melakukan berbagai pengorbanan baik material maupun mental sebagai tumbal atas keinginan mengatur masyarakat. Modal wacana pengabdian dengan jargon sutindih, subakti, dan sujati saja sudah pasti tak akan membuat satu banjar menyatakan kebulatan tekad. Uang harus mengalir ke liang-liang kecil di saku calon pemilih.

Meski uang telah melayang, jaminan akan dipilih belum pula bisa dipastikan. Sebab, yang mendekati pemilih bukan hanya pemain tunggal. Di arena itu, banyak calon penguasa yang juga berkompetisi dengan iming-iming salaksa janji. Mental calon penguasa yang kelas teri dan hiu akan terlihat dalam menghadapi tipe masyarakat yang solid atau hanya basa-basi saat calon penguasa berorasi.

Yang memprihatinkan, entah berapa orang di negeri ini terkena serangan jantung kala “serangan fajar” tak membuahkan hasil. Meski tahu berbagai resiko tersebut, para politikus seperti laron yang mudah tertarik dengan cahaya, walaupun tubuhnya akan terbakar oleh nyala api sumber cahaya itu sendiri. Itulah konsekuensi percaturan di bidak perebutan kekuasaan. Tidak akan ada musuh yang abadi, atau sahabat yang langgeng. Semua berputar dinamis seirama dengan kepentingan masing-masing.

Kepentingan membela kebenaran seperti yang dinarasikan Kakawin Ramayana misalnya menjadi muasal yang menyebabkan Wibhisana rela memutus hubungan geneologis dengan saudaranya sendiri yaitu Rawana. Wibhisana lebih memilih Rama karena ia adalah representasi kebenaran di dunia. Sementara itu, dengan kepentingan negara, seorang Kumbakarna tetap membela kakaknya. Meski ia tahu pembelaannya akan berakhir pada kematian. Berbeda pilihan hidup, berbeda pula arah ayunan langkah dengan berbagai resikonya sebagai hadiah.

Pilihan hidup menyebabkan Wibhisana meninggalkan kerajaan Alengka. Di negerinya sendiri, berbagai caci maki, hujatan, dan cap sebagai seorang penghianat sudah pasti mengirisnya lebih perih tinimbang berbagai senjata. Itu baru tantangan pertama. Tantangan berikutnya adalah meyakinkan Rama bahwa ia akan berkoalisi hanya dengan satu tujuan yaitu menegakkan pilar kebenaran di dunia.

Lantas apa yang menyebabkan Rama harus mempercayai Wibhisana? Rekam jejak [track record]! Itupun tidak keluar dari mulut Wibhisana, tetapi testimoni Hanoman yang pernah diselamatkannya ketika hampir dibunuh oleh Rawana. Di titik inilah ungkapan eda ngaden awak bisa, depang anake ngadanin mesti diletakkan. Kekuatan testimoni dari orang lain lebih kuat dibandingkan keterangan sendiri. Sebab, pikiran manusia punya kekuatan meninggikan pemiliknya, sekaligus kelemahan menilai diri sendiri apa adanya.

Berbekal keterangan Hanoman, seorang Wibhisana mendapatkan kepercayaan yang akan ia pertaruhkan sampai hembusan nafas terakhirnya. Hal itu dibuktikan dari berbagai perang yang dilewatinya bersama Rama. Tanpa Wibhisana, Rama bersama seluruh pasukan kera pasti kalah, baik dalam perang melawan amukan Rawana dan terutama ketika Indrajit memasang ajian Adresia Tantra [ilmu tak terlihat] seraya melepaskan panah wimohana [panah pembuat bingung]. Kekalahan Indrajit dan Rawana menjadi penanda tegaknya kebenaran di dunia.

Pasca kemenangan berhasil diraih, rekonsiliasi untuk memulihkan keadaan di Alengka Pura sangat diperlukan. Bangunan-bangunan fisik yang hancur akibat perang mesti segera diperbaiki. Anak-anak raksasa yang kehilangan orang tuanya karena kalah berperang harus mendapatkan penanganan. Demikian pula tatanan sosial yang terbelah karena masyarakat harus mengikuti pemimpinnya harus segera disatukan. Di pusaran masalah itulah masyarakat Alengka memerlukan figur pemimpin.

Lalu apa kriteria Rama menetapkan raja baru Alengka yang dapat melakukan rekonsiliasi itu dengan cantik? Barangkali ada tiga hal yang bisa dijadikan landasan untuk memilih pemimpin yang tepat yaitu guna, gina, dan yasa. Kata guna berarti kompetensi internal dalam diri. Dari guna atau kompetensi diri itu lahirlah gina yang bermakna keterampilan. Dengan keterampilan itu maka banyak yasa dengan makna jasa yang dapat dipersembahkan kepada masyarakat. Bertitik tolak dari ketiga kriteria itu maka Wibhisana ditetapkan menjadi raja yang baru di Alengka.

Dari aspek guna ‘kompetensi diri’ seorang Wibhisana telah dibuktikan dengan lulus melakukan brata menyerupai patung selama seribu tahun sehingga ia mendapatkan anugerah kebijaksaan dari Brahma. Berbekal guna tersebut, ia dengan gina ‘terampil’ memberikan berbagai kunci rahasia untuk mengalahkan Rawana bersama pasukan elitnya. Berpegang pada gina itulah Wibhisana berjasa pada kemenangan Rama atas Rawana.

Jelaslah Wibhisana menjadi pilihan Rama untuk mengisi kekosongan kerajaan Alengka Pura. Akan tetapi sebelum itu, Rama memberikan dasar-dasar kepemimpinan kepada Wibhisana yang dikenal dengan sebutan Asta Brata. Astra brata adalah proses membadankan laku para dewata dalam sarira seorang pemimpin mulai dari kesejahteraan yang diusahakan Indra, kesabaran Dewa Surya, keadilan Yama, kecepatan Bayu, kesederhanaan Hyang Kuwera, dan kekuatan Baruna dalam mengikat semua penjahat.

Menyimak rekonsiliasi politik di negeri ini yang begitu tertatih-tatih dan sarat perebutan jabatan, penting rasanya membaca ulang Kakawin Ramayana yang mencerminkan alam pikiran Nusantara di masa lampau. Tiga dasar yaitu guna, gina, dan yasa bisa menjadi landasan untuk menentukan figur-figur menteri jajaran kabinet yang akan memutar roda pemerintahan di masa depan. Berpegang pada delapan perilaku yang meneladani sikap dewata itu, pemimpin menempatkan dirinya di tengah sehingga lengkaplah isi sembilan penjuru mata angin. Pemimpin yang berada di tengah-tengah ibarat payung yang dapat meneduhi semua penjuru dengan sama rata dari terik matahari yang membakar maupun hujan badai yang menghanyutkan.

Tanpa menjalankan peran itu, seorang pemimpin tak layak dianggap sebagai catraning rat ‘payungnya dunia’!  [T]


  • Klik untuk BACA artikel lain dari penulis PUTU EKA GUNA YASA
Hoax dalam Momentum Transisi Kekuasaan:  Refleksi Sastra untuk Membaca Realita
Konsekuensi Gratifikasi Jelang Perebutan Kekuasaan: Renungan dari Bharata Yuddha
Kata-Kata untuk Pemegang Tahta
Menebak Karakteristik dari Penampilan Fisik: Catatan dari Lontar Pawetuan Jadma
Hari Lahir dan Pantangan Makanannya dalam Lontar Pawetuan Jadma Ala Ayu

   

Tags: kekuasaanPolitikRamayanasastrasastra bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cerita Tentang Pak Mad, Nelayan Ikan Hias dari Desa Pemuteran, Buleleng, Bali

Next Post

Kecil, Mungil, dan Betapa Berharga Jembatan Bedeg Itu di Desa Les

Putu Eka Guna Yasa

Putu Eka Guna Yasa

Pembaca lontar, dosen FIB Unud, aktivitis BASAbali Wiki

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Kecil, Mungil, dan Betapa Berharga Jembatan Bedeg Itu di Desa Les

Kecil, Mungil, dan Betapa Berharga Jembatan Bedeg Itu di Desa Les

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co