4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rekonsiliasi Pasca Perebutan Kekuasaan: Mengintip Pesan Kakawin Ramayana

Putu Eka Guna Yasa by Putu Eka Guna Yasa
February 20, 2024
in Esai
Pawisik Durga, Galungan, dan Cinta Kasih

Putu Eka Guna Yasa

TAK ada kekuasaan yang gratis, terlebih di tengah-tengah masyarakat bermental komersil seperti saat ini. Setiap orang yang ingin mendapat kekuasaan mesti melakukan berbagai pengorbanan baik material maupun mental sebagai tumbal atas keinginan mengatur masyarakat. Modal wacana pengabdian dengan jargon sutindih, subakti, dan sujati saja sudah pasti tak akan membuat satu banjar menyatakan kebulatan tekad. Uang harus mengalir ke liang-liang kecil di saku calon pemilih.

Meski uang telah melayang, jaminan akan dipilih belum pula bisa dipastikan. Sebab, yang mendekati pemilih bukan hanya pemain tunggal. Di arena itu, banyak calon penguasa yang juga berkompetisi dengan iming-iming salaksa janji. Mental calon penguasa yang kelas teri dan hiu akan terlihat dalam menghadapi tipe masyarakat yang solid atau hanya basa-basi saat calon penguasa berorasi.

Yang memprihatinkan, entah berapa orang di negeri ini terkena serangan jantung kala “serangan fajar” tak membuahkan hasil. Meski tahu berbagai resiko tersebut, para politikus seperti laron yang mudah tertarik dengan cahaya, walaupun tubuhnya akan terbakar oleh nyala api sumber cahaya itu sendiri. Itulah konsekuensi percaturan di bidak perebutan kekuasaan. Tidak akan ada musuh yang abadi, atau sahabat yang langgeng. Semua berputar dinamis seirama dengan kepentingan masing-masing.

Kepentingan membela kebenaran seperti yang dinarasikan Kakawin Ramayana misalnya menjadi muasal yang menyebabkan Wibhisana rela memutus hubungan geneologis dengan saudaranya sendiri yaitu Rawana. Wibhisana lebih memilih Rama karena ia adalah representasi kebenaran di dunia. Sementara itu, dengan kepentingan negara, seorang Kumbakarna tetap membela kakaknya. Meski ia tahu pembelaannya akan berakhir pada kematian. Berbeda pilihan hidup, berbeda pula arah ayunan langkah dengan berbagai resikonya sebagai hadiah.

Pilihan hidup menyebabkan Wibhisana meninggalkan kerajaan Alengka. Di negerinya sendiri, berbagai caci maki, hujatan, dan cap sebagai seorang penghianat sudah pasti mengirisnya lebih perih tinimbang berbagai senjata. Itu baru tantangan pertama. Tantangan berikutnya adalah meyakinkan Rama bahwa ia akan berkoalisi hanya dengan satu tujuan yaitu menegakkan pilar kebenaran di dunia.

Lantas apa yang menyebabkan Rama harus mempercayai Wibhisana? Rekam jejak [track record]! Itupun tidak keluar dari mulut Wibhisana, tetapi testimoni Hanoman yang pernah diselamatkannya ketika hampir dibunuh oleh Rawana. Di titik inilah ungkapan eda ngaden awak bisa, depang anake ngadanin mesti diletakkan. Kekuatan testimoni dari orang lain lebih kuat dibandingkan keterangan sendiri. Sebab, pikiran manusia punya kekuatan meninggikan pemiliknya, sekaligus kelemahan menilai diri sendiri apa adanya.

Berbekal keterangan Hanoman, seorang Wibhisana mendapatkan kepercayaan yang akan ia pertaruhkan sampai hembusan nafas terakhirnya. Hal itu dibuktikan dari berbagai perang yang dilewatinya bersama Rama. Tanpa Wibhisana, Rama bersama seluruh pasukan kera pasti kalah, baik dalam perang melawan amukan Rawana dan terutama ketika Indrajit memasang ajian Adresia Tantra [ilmu tak terlihat] seraya melepaskan panah wimohana [panah pembuat bingung]. Kekalahan Indrajit dan Rawana menjadi penanda tegaknya kebenaran di dunia.

Pasca kemenangan berhasil diraih, rekonsiliasi untuk memulihkan keadaan di Alengka Pura sangat diperlukan. Bangunan-bangunan fisik yang hancur akibat perang mesti segera diperbaiki. Anak-anak raksasa yang kehilangan orang tuanya karena kalah berperang harus mendapatkan penanganan. Demikian pula tatanan sosial yang terbelah karena masyarakat harus mengikuti pemimpinnya harus segera disatukan. Di pusaran masalah itulah masyarakat Alengka memerlukan figur pemimpin.

Lalu apa kriteria Rama menetapkan raja baru Alengka yang dapat melakukan rekonsiliasi itu dengan cantik? Barangkali ada tiga hal yang bisa dijadikan landasan untuk memilih pemimpin yang tepat yaitu guna, gina, dan yasa. Kata guna berarti kompetensi internal dalam diri. Dari guna atau kompetensi diri itu lahirlah gina yang bermakna keterampilan. Dengan keterampilan itu maka banyak yasa dengan makna jasa yang dapat dipersembahkan kepada masyarakat. Bertitik tolak dari ketiga kriteria itu maka Wibhisana ditetapkan menjadi raja yang baru di Alengka.

Dari aspek guna ‘kompetensi diri’ seorang Wibhisana telah dibuktikan dengan lulus melakukan brata menyerupai patung selama seribu tahun sehingga ia mendapatkan anugerah kebijaksaan dari Brahma. Berbekal guna tersebut, ia dengan gina ‘terampil’ memberikan berbagai kunci rahasia untuk mengalahkan Rawana bersama pasukan elitnya. Berpegang pada gina itulah Wibhisana berjasa pada kemenangan Rama atas Rawana.

Jelaslah Wibhisana menjadi pilihan Rama untuk mengisi kekosongan kerajaan Alengka Pura. Akan tetapi sebelum itu, Rama memberikan dasar-dasar kepemimpinan kepada Wibhisana yang dikenal dengan sebutan Asta Brata. Astra brata adalah proses membadankan laku para dewata dalam sarira seorang pemimpin mulai dari kesejahteraan yang diusahakan Indra, kesabaran Dewa Surya, keadilan Yama, kecepatan Bayu, kesederhanaan Hyang Kuwera, dan kekuatan Baruna dalam mengikat semua penjahat.

Menyimak rekonsiliasi politik di negeri ini yang begitu tertatih-tatih dan sarat perebutan jabatan, penting rasanya membaca ulang Kakawin Ramayana yang mencerminkan alam pikiran Nusantara di masa lampau. Tiga dasar yaitu guna, gina, dan yasa bisa menjadi landasan untuk menentukan figur-figur menteri jajaran kabinet yang akan memutar roda pemerintahan di masa depan. Berpegang pada delapan perilaku yang meneladani sikap dewata itu, pemimpin menempatkan dirinya di tengah sehingga lengkaplah isi sembilan penjuru mata angin. Pemimpin yang berada di tengah-tengah ibarat payung yang dapat meneduhi semua penjuru dengan sama rata dari terik matahari yang membakar maupun hujan badai yang menghanyutkan.

Tanpa menjalankan peran itu, seorang pemimpin tak layak dianggap sebagai catraning rat ‘payungnya dunia’!  [T]


  • Klik untuk BACA artikel lain dari penulis PUTU EKA GUNA YASA
Hoax dalam Momentum Transisi Kekuasaan:  Refleksi Sastra untuk Membaca Realita
Konsekuensi Gratifikasi Jelang Perebutan Kekuasaan: Renungan dari Bharata Yuddha
Kata-Kata untuk Pemegang Tahta
Menebak Karakteristik dari Penampilan Fisik: Catatan dari Lontar Pawetuan Jadma
Hari Lahir dan Pantangan Makanannya dalam Lontar Pawetuan Jadma Ala Ayu

   

Tags: kekuasaanPolitikRamayanasastrasastra bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cerita Tentang Pak Mad, Nelayan Ikan Hias dari Desa Pemuteran, Buleleng, Bali

Next Post

Kecil, Mungil, dan Betapa Berharga Jembatan Bedeg Itu di Desa Les

Putu Eka Guna Yasa

Putu Eka Guna Yasa

Pembaca lontar, dosen FIB Unud, aktivitis BASAbali Wiki

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Kecil, Mungil, dan Betapa Berharga Jembatan Bedeg Itu di Desa Les

Kecil, Mungil, dan Betapa Berharga Jembatan Bedeg Itu di Desa Les

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co