13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cerita Tentang Pak Mad, Nelayan Ikan Hias dari Desa Pemuteran, Buleleng, Bali

Yudi Setiawan by Yudi Setiawan
February 20, 2024
in Khas
Cerita Tentang Pak Mad, Nelayan Ikan Hias dari Desa Pemuteran, Buleleng, Bali

Pak Mad dan ikan hias hasil tangkapannya | Foto: Yudi Setiawan

MESKIPUN Marlin, ayah Nemo, selalu memperingatkan Nemo tentang betapa bahayanya lautan lepas, namun ia tetap mempunyai keinginan untuk melawan perintah ayahnya itu. Meskipun siripnya tumbuh besar sebelah, ia nekat menjelajahi lautan lepas. Namun, naas, ketika sedang bermain di atas terumbu karang, ia terperangkap jaring nelayan.

Setelah anaknya tertangkap jaring nelayan di Great Barrier Reef dan dibawa ke Sydney, Marlin—seekor ikan clownfish pemalu, bersama temannya, Dory, bertekad menempuh perjalanan panjang penuh bahaya untuk menemukan anaknya kembali.

Tapi tulisan ini bukan tentang film animasi keluarga berjudul Finding Nemo yang dirilis oleh Pixar Animation Studios pada 30 Mei tahun 2003, itu. Ini cerita tentang lelaki paruh baya, Pak Mad, yang setiap hari harus menyelam mencari ikan-ikan hias demi memenuhi kebutuhan keluarganya.  

Membayangkan Pak Mad di bawah laut, kita bisa membayangkan ia seperti Marlin dalam film Finding Nemo. Juga bias dibayangkan betapa pemandangan di bawah laut begitu indah dengan ikan hias warna-warni yang juga indah.

Tapi, sekali lagi, ini bukan tentang Marlin atau Nemo. Ini tentang Pak Mad.

Di bawah terik matahari yang begitu menyengat, di tepi pantai Banjar Brongbong, Desa Celukanbawang, Gerokgak, Buleleng, Bali, Pak Mad sedang bersandar pada batang pohon kelapa. Badannya basah kuyup. Di depannya, tergeletak begitu saja kotak gabus berisi jaring dan kacamata selam. Sedangkan, tangannya memegang satu kantong plastik berisi ikan-ikan kecil dengan berbagai warna.

”Saya habis nyelam, mencari ikan hias,” katanya, saat ditemui disela-sela waktu istirahatnya, Senin, 19 Februari 2024, siang.

Meskipun, napasnya masih terengah-engah. Terlihat senyum simpul yang keluar dari bibirnya. Itu menandakan, semacam ada kebahagiaan tersendiri yang sedang ia rasakan pada siang hari itu. Tangannya masih tetap memegang kantong plastik berisi ikan-ikan kecil itu. Sesekali, kantong plastik ia angkat dan memutarnya dengan pelan.

Pak Mad dan ikan hias hasil tangkapannya | Foto: Yudi Setiawan

Pak Mad. Begitulah ia memperkanalkan diri. Nama lengkapnya Muhammad. Lelaki bertubuh gempal itu merupakan satu dari sekian banyak masyarakat Desa Pemuteran, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, Bali, yang menggantungkan hidupnya dari hasil laut.

“Kerja seperti ini sudah cukup lama, mungkin kalau tidak salah, dari tahun 2010,” katanya

Sebagai seorang nelayan ikan hias dengan peralatan yang sangat sederhana—hanya kacamata selam dan jaring, tentu tanpa tabung oksigen—setiap hari ia harus menyelam mencari ikan hias di sepanjang pantai utara Bali. Meskipun, ia juga sadar betapa bahaya menyelam tanpa alat bantu selam yang memadai.

“Ya, mau bagaimana lagi, pakai tabung oksigen modalnya sangat besar. Jadinya ya harus tetap berhati-hati” ucapnya.

Benar, menjadi seorang nelayan ikan hias berbeda dengan nelayan ikan konsumsi. Penghasilan yang mereka dapatkan juga berbeda. Minimnya keterbatasan pasar dan harga jual ikan hias yang murah, menyebabkan Pak Mad bertahan sebagai nelayan ikan hias dengan peralatan sederhana. Meskipun dengan resiko yang tak sebanding dengan penghasilannya.

Pekerjaan penyelam ikan hias tidaklah mudah. Mereka harus menghadapi berbagai tantangan, mulai dari arus laut yang kuat, hingga kondisi cuaca yang tidak menentu. Selain itu, mereka juga harus berhati-hati agar tidak merusak lingkungan laut saat mencari ikan hias. Inilah mengapa etika dan keberlanjutan sangat penting dalam profesi ini.

Namun, meski dengan peralatan yang sedehana itu, ia mengaku mampu menahan napasnya hingga hampir dua menit di dalam air. Ya, hal itu bisa saja benar adanya, mengingat Pak Mad menggeluti pekerjaan sebagai nelayan ikan hias sudah hampir 14 tahun. Tentu paru-parunya sudah terbiasa untuk menahan napas di dalam air laut.

Ikan-ikan itu ia jual kepada pengepul yang ada di desanya. Harganya pun bervariasi. Dari 5000 rupiah sampai puluhan ribu rupiah, tergantung jenis ikan yang ia dapatkan. Sehingga, bisa dipastikan, pendapatan yang diperoleh Pak Mad sebagai nelayan ikan hias tidak menentu.

“Paling banyak saya setor ikan itu dibayar dengan harga 250 ribu, kadang juga pernah cuma dibayar 50 ribu karena ikannya sedikit. Tergantung tempat dan cuacanya” katanya.

Ikan hias hasil tangkapan Pak Mad | Foto: Yudi Setiawan

Sembari bercerita, ia mulai memisahkan ikan-ikan yang ia dapatkan itu berdasarkan jenisnya. Jenis-jenis yang ia peroleh pada hari itu lumayan beragam. Seperti, Clownfish atau yang biasa disebut dengan ikan badut, ikan Wrasse, Damsel fish, Doctor fish, Blue tang, Yellow tang, Butterfly fish, Lion Fish, dan ikan-ikan terumbu karang lainnya.

Namun, selain menyelam mencari ikan hias, ia juga mencari gurita dengan alat bantu tangkap yang ia buat sendiri. Gurita-gurita yang ia peroleh itu tidak untuk dijual, melainkan untuk konsumsi sendiri.

“Kadang kalau pas nyelam ketemu gurita, ya ditangkap. Hitung-hitung bisa dijadikan untuk lauk makan,” katanya.

Pilihan menjadi seorang nelayan ikan hias pada dasarnya bukanlah keinginan dalam hatinya, melainkan karena keadaan yang memaksanya menjadi seorang nelayan ikan hias. Ia mengaku, karena tidak mempunyai keahlian di bidang pariwisata, terpaksa ia menjadi nelayan ikan hias.

“Di Pemuteran kan banyak itu bule-bule liburan, tapi karena saya tidak bisa bahasa mereka, jadinya saya memilih menjadi nelayan saja,” akunya sembari tertawa.

Ya, meskipun Desa Pemuteran sekarang dikenal sebagai tempat daerah pariwisata yang bisa dibilang mampu bersaing dengan daerah-daerah lainnya, namun, terdapat tantangan yang cukup signifikan dalam hal manajemen sumber daya manusia. Keterbatasan pendidikan formal dan pelatihan khusus dalam industri pariwisata dapat menjadi hambatan dalam meningkatkan kualitas layanan dan pengalaman wisataswan.

Apa yang terjadi kepada Pak Mad dan mungkin nama-nama lainnya yang berfrofesi tidak sesuai dengan tempat mereka berasal, adalah tantangan tersendiri bagi para pengembang pariwisata di daerah-daerah tersebut.

Barangkali, diperlukan pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia, serta kolaborasi antara pemerintah, industri, dan lembaga pendidikan, untuk menjawab tantangan-tantangan tersebut guna meningkatkan daya saing mereka di pasar pariwisata.

Ikan hias hasil tangkapan Pak Mad | Foto: Yudi Setiawan

Berbicara tentang ikan hias, memang, sejak pandemi corona beberapa tahun yang lalu, memelihara ikan hias menjadi tren baru di Indonesia. Beberapa artis tanah air beberapa kali mengunggah hewan-hewan peliharaanya itu pada kanal youtube-nya. Seperti, Raffi Ahmad yang mengoleksi ikan jenis cupang dengan harga puluhan juta rupiah itu. Dan, konten Megatank dengan jenis-jenis ikan air laut milik Irfan Hakim.

Tentu, memelihara ikan hias memberikan banyak manfaat, utamanya untuk kesejahteraan mental. Ikan-ikan cantik dengan berbagai macam warna itu dipercaya mampu menjernihkan pikiran dan ampuh meredam stress. [T]

Reporter: Yudi Setiawan
Penulis: Yudi Setiawan
Editor: Adnyana Ole

Chris Brown, Tukang Kebun Laut Pemuteran
Di Balik Kemajuan Pariwisata Pemuteran Ada Nama Ketut Sutrawan Selamet
Di Tangan Made Gelgel, Garam Disulap Menjadi Berbagai Bentuk dan Varian Rasa
Tags: bali utarabulelengDesa Pemuterannelayannelayan ikan hias
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pasar Intaran, Pasar Minggu, Pasar Ekonomi Kreatif di Bali Utara

Next Post

Rekonsiliasi Pasca Perebutan Kekuasaan: Mengintip Pesan Kakawin Ramayana

Yudi Setiawan

Yudi Setiawan

Penulis tinggal di Singaraja

Related Posts

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
0
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

Read moreDetails

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
0
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

Read moreDetails

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer,...

Read moreDetails

Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

PAGI itu, suasana Pantai Cemara, Sanur, mulai dipenuhi antusiasme. Meski sinar matahari sudah terasa menyengat, puluhan orang tetap bersemangat mengikuti...

Read moreDetails

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

by Rohmah Nia Chandra Sari
July 9, 2026
0
Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

RANGKAIAN ajang bergengsi Pekan Seni Mahasiswa FISIP (PEKSIMASIF) 2026 yang berlangsung selama tiga hari, sejak 28 hingga 30 April 2026,...

Read moreDetails

Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

by Chandra Manikan
July 9, 2026
0
Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

SAMPAI HARI INI, pupuh itu mengendap lebih lama di pikiranku. Buku “Bali, Pandemi, Refleksi: Dinamika Politik Kebijakan dan Kritisme Komunitas”,...

Read moreDetails

Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 8, 2026
0
Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

“SETIAP penyair kalau ia menyuarakan lukanya, ia sebenarnya menyuarakan luka manusia.” Kalimat itu meluncur dari Yahya Umar, Sabtu, 4 Juli...

Read moreDetails

Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 7, 2026
0
Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

AROMA kopi yang baru diseduh bercampur dengan wangi siobak dan tipat santok menyambut setiap langkah pengunjung di belakang panggung utama...

Read moreDetails

Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

by Agung Sudarsa
July 7, 2026
0
Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

MINGGU, 21 Juni 2026, di Griya Yangloni milik Dokter Ida Bagus Kesnawa, MM, di Banjar Buruan, Gianyar, sebuah pengalaman sederhana...

Read moreDetails

Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
0
Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

BAGAI pasukan di medan perang, petugas kebersihan dalam ajang Singaraja Literary Festival (SLF) 2026 tak membiarkan sepotong sampah pun tertinggal....

Read moreDetails
Next Post
Pawisik Durga, Galungan, dan Cinta Kasih

Rekonsiliasi Pasca Perebutan Kekuasaan: Mengintip Pesan Kakawin Ramayana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co