26 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Chris Brown, Tukang Kebun Laut Pemuteran

Jaswanto by Jaswanto
February 8, 2024
in Khas
Chris Brown, Tukang Kebun Laut Pemuteran

Chris Brown | Foto: Dok. Jaswanto

“AKU ke sini bukan untuk bekerja, tapi untuk hidup,” kata Nyoman Chris Brown. Saya bisa bertemu Chris di kediamannya di Reef Seen Divers’ Resort Pemuteran, berkat Wan Ode, salah seorang pejuang pariwisata Desa Pemuteran. Pertemuan ini tidak direncanakan sama sekali. Meski saya percaya ini bukan suatu kebetulan. Toh, Tuhan tidak pernah bermain dadu, bukan.

Tentu saja saya tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Seperti biasa, saat bertemu orang baru, apalagi mereka yang berpengetahuan atau setidaknya memiliki riwayat pernah melakukan pengabdian, perjuangan, di bidang apa pun, beberapa informasi harus saya dapatkan—atau paling tidak mendapat sekadar cerita yang bisa saya jadikan inspirasi; dan akan kembali saya ceritakan kepada siapa pun yang sudi membaca dan mendengarnya.

Setelah berkenalan—Chris orang yang ramah—saatnya memberondongnya dengan banyak pertanyaan, pikir saya. Tanpa menunggu waktu lama, saya memintanya untuk bercerita, bagaimana ia, yang notabene orang asing, justru mempunyai kesadaran akan kerusakan terumbu karang dan kehidupan penyu yang ada di laut Pemuteran, desa di barat Buleleng, Bali.

Saya menginjakkan kaki di Pemuteran pada musim kemarau. Saat Bukit Kursi gundul, panas, dan gersang. Bukit yang namanya cukup tersohor di jagat pariwisata Bali Utara itu, saat musim panas, hanya menyisakan debu, batu, dan bangkai rumput liar. Di kakinya, orang-orang mengantre air minum. Meski kemarau, sumberan air itu tetap deras mengucur, seperti tak ada habisnya. Banyak orang Pemuteran mengandalkannya. Cukup membayar seketeng rupiah, sejerigen air dapat dibawa pulang.

Bukit Kursi bukan satu-satunya yang menjadi primadona. Ada bukit lain yang ditawarkan Pemuteran. Dua di antaranya adalah Bukit Beratan dan Bukit Ser. Dari atas bukit yang disebutkan, pelancong disuguhi hidangan matahari terbit sekaligus tenggelam. Juga jajaran bukit di selatan, dan laut di timur, barat, dan utara, seperti tak bertepi, mengepung tanah gundukan itu. Di bawah Bukit Ser, terhampar Pantai Romantis. Pada sore menjelang, senja seperti mimpi di sana. Indahnya bukan main.

“Jika aku ke sini hanya untuk mencari kekayaan, tentu saja aku tidak akan peduli dengan semua ini. Aku ke sini untuk hidup bersama orang-orangnya, adat-istiadatnya, kepercayaannya, dan tentu saja hidup bersama alamnya,” Chris Brown memulai bercerita.

Di tempat itu sedang tak ada tamu. Meja-kursi tampak melompong. Petugas itu tak henti-hentinya menggeser-geser gawainya di belakang mesin kasir yang dijaganya. Ia tampak begitu tak peduli atas kedatangan saya. Angin pantai berkesiur. Perahu-perahu yang tertambat bergoyang-goyang. Seorang pria paruh baya memunguti daun-daun yang berserakan. Di kolam penangkaran, seorang lainnya sibuk menyuapi penyu-penyu.

“Aku tidak mau menjadi seperti orang kebanyakan—orang asing maupun lokal, yang hanya mau mengambil, tanpa mau memberi. Prinsip seperti itu hanya menghasilkan kerusakan, eksploitasi. Kita mengambil sesuatu dari alam, kita juga harus memberi sesuatu kepada alam. Dengan begitu, dunia ini akan seimbang,” tutur bule Australia itu.

Chris, bersama I Gusti Agung Prana, berada di garda terdepan, menjadi pionir perlindungan terumbu karang dan penyu di Pemuteran. Hingga bertahun-tahun kemudian, dengan bantuan masyarakat, terumbu karang mulai terlihat lebih sehat. Ia melakukan pencegahan praktik penangkapan ikan yang merusak dan mengkhawatirkan.

Dulu, di Pemuteran, telur-telur penyu dikonsumsi. Pengetahuan bahwa penyu adalah hewan langka dan dilindungi terlalu gelap bagi mereka. Orang-orang belum memiliki kepedulian dan pengetahuan akan hal itu. Chris, dengan uangnya sendiri, mengambil telur-telur dari tangan warga Pemuteran. Ia menetaskannya. Ia melepas tukik-tukiknya.

Tahun 80-an, nelayan di Pemuteran menggasak ikan dengan pukat, potas, dan bom, yang menyebabkan ekosistem laut rusak parah. Tak hanya laut, tapi bukit-bukit juga tak seindah saat ini. Dulu, bukit-bukit itu gundul dan gersang, seperti tak ada kehidupan. Lingkungan yang kering membuat masyarakat Pemuteran putus asa.

“Dulu Pemuteran hanya diisi pemuda-pemuda kehilangan gairah dan kebingungan bagaimana mestinya mengisi petang, selain memancing ikan di samping perahu-perahu yang mulai menjamur, atau mabuk sampai teler di pinggir jalan sambil bernyati tak karuan,” ujar Chris sinis.

Tetapi, di tengah keputusasaan yang akut itu, Chris dan Agung Prana muncul sebagai hero. Mereka memberikan harapan baru kepada Pemuteran. Dan harapan baru itu bernama pariwisata.

Chris menamatkan pendidikan di Marist Brothers High School, Kogarah, pada 1974. Selama delapan tahun, dari 1981-1989, ia bekerja di IBM Australia—semacam perusahaan teknologi multinasional—sebagai customer service. Pada 1991, ia mendirikan usaha di Pemuteran.

Chris mendirikan usaha bernama Reef Seen Divers’ Resort. Selain dijadikan tempat penghidupan, sebagaimana telah disinggung d atas, Reef Seen juga merupakan proyek penangkaran penyu dan restorasi terumbu karang. Reef Seen Divers’ Resort terletak di Barat Laut Bali, di teluk Pemuteran yang indah, pintu gerbang menuju area penyelaman serta Cagar Alam Laut Pulau Menjangan. Reef Seen menggabungkan Reef Seen Aquatics dan Reef View Bungalow dengan nama yang sama. Mereka fokus pada dunia selama-menyelam.

Resor itu terletak tepat di pantai di tengah teluk, sekira 50 meter dari tepi perairan. Di perairan itu lah, para penyelam dari berbagai negara rela merogoh kocek demi bisa bernapas di dalam air dan melihat taman laut yang tak pernah terbayangkan.

Pemuteran menawarkan pantai yang tenang, sinar matahari sepanjang tahun, budaya yang menarik, dan kuda poni yang menggemaskan. Semua dapat ditemukan di sini, di desa pesisir ini. Tak ada pedagang kaki lima atau penjual di pinggir pantai yang terlihat.

Pada tahun 2011, Chris menggagas pembangunan taman di bawah laut dengan nama “Garden of God”. “Kami membuat taman dengan menanamkan keindahan dewa di sana,” katanya.

Garden of God, atau Taman Nawa Sanga, adalah idenya yang gila. Dia menanam sebanyak 41 patung Dewata Nawa Sanga yang ditata menyerupai sebuah taman di bawah air. Penanaman patung-patung dewa ini, selain untuk melestarikan terumbu karang, juga merupakan inovasi pariwisata terbaru di Pemuteran.

“Aku ingin berpartisipasi menjaga alam dan laut Buleleng. Patung dewa yang diturunkan ke laut dapat menjadi tumpuan berkembangnya biota laut, seperti terumbu karang dan ikan. Selain menjaga laut, aku ingin Pemuteran lebih ramai dikunjungi wisata, tapi tanpa merusak alam,” ujarnya.

Tentu saja, Pemuteran kini sudah ramai dikunjungi wisatawan. Ekonomi, status sosial, dan taraf hidup sudah meningkat di sini. “Itulah tujuanku, kesejahteraan warga Pemuteran dan kelestarian alamnya. Hanya ini yang bisa aku berikan kepada tanah yang telah memberiku kehidupan,” sambung Chris.

Sampai di sini, saya teringat Alain Compost, fotografer Prancis yang datang ke Indonesia pada 1975 untuk membuat dokumentasi mengenai orangutan di Bohorok, Sumatera Utara. Setelah bertahun-tahun berada di Indonesia, ia memutuskan untuk ikut aktif melestarikannya.

Saya menatap Chris dan mendengarkan ceritanya dengan sungguh-sungguh. Saya tak mau melewatkan sedikit pun kata yang keluar dari bibirnya. Tapi waktu melesat seperti anak panah, memaksa kami untuk berpisah. Dengan bahagia saya menjabat tangan Chris. Ia mengucapkan sampai berjumpa kembali; dan saya hanya membalasnya dengan senyuman yang sebenarnya lebih kepada kegetiran.

Saat perjalanan kembali ke penginapan Wan Ode, pikiran saya terus bekecamuk. Jika saja Chris—ia menyebut dirinya tukang kebun laut Pemuteran. “Jika di darat ada tukan kebun, kenapa di laut tidak?”—peduli terhadap Indonesia, mengapa kita tidak melakukan hal yang sama. Sangat janggal rasanya jika orang-orang yang memiliki kepedulian pada Indonesia adalah mereka yang justru tidak berakar pada budaya Indonesia. Kejanggalan ini saya rasakan sampai hari ini.[T]

Di Balik Kemajuan Pariwisata Pemuteran Ada Nama Ketut Sutrawan Selamet
Bukit Ser, Tempat Terbaik untuk Menenangkan Diri
Tags: bulelengDesa PemuteranPariwisatapariwisata baliPariwisata Berkelanjutansave penyuterumbu karang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Postmen dengan “Caturaksa” Tetap Setia di Jalur Rapcore

Next Post

Ajik Cok Krisna:  Berbisnis dan Menulis Berita Itu Sama, Tak Ada Hoaks

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
0
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

Read moreDetails

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
0
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

Read moreDetails

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

by Jaswanto
August 7, 2026
0
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

Read moreDetails

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

by tatkala
August 6, 2026
0
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

Read moreDetails
Next Post
Ajik Cok Krisna:  Berbisnis dan Menulis Berita Itu Sama, Tak Ada Hoaks

Ajik Cok Krisna:  Berbisnis dan Menulis Berita Itu Sama, Tak Ada Hoaks

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [7]: Rezim Algoritma dan Pembubaran Standar Sastra

Semua tekanan yang sudah diuraikan dalam bagian-bagian sebelumnya bisa dibaca sebagai masalah-masalah yang terpisah. Namun semuanya adalah gejala dari satu...

by Andre Syahreza
August 26, 2026
Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede
Esai

Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede

RANGKAIAN Karya Pedudusan Agung, Ngusaba Desa, dan Ngusaba Nini yang berpusat di Pura Puseh Sibanggede sudah mencapai akhir melalui upacara...

by Dharma Yuda
August 26, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Kalau Rakyat Harus Naik Bus ke Jakarta Agar Didengar, Ada Apa dengan Telinga Kekuasaan?

ADA yang menarik dari perjalanan sejumlah warga Pati menuju Jakarta menjelang aksi 27 Agustus 2026.  Mereka tidak sedang piknik. Empat...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 26, 2026
Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya
Ulas Rupa

Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

DI penghujung bulan Agustus, tepatnya pada tanggal 25 hingga 31 agustus mendatang – akan digelar Pameran senirupa yang bertajuk “The...

by Hartanto
August 26, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
Ibu Memasak di Kota
Esai

Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

by Angga Wijaya
August 25, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

by Sugi Lanus
August 25, 2026
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?
Opini

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Panggung

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda
Budaya

Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda

UTSAWA Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 kembali digelar. Itu artinya, lantunan sloka, palawakya, kakawin, kidung, hingga gaguritan kembali...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]
Tualang

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan
Panggung

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co