26 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Chris Brown, Tukang Kebun Laut Pemuteran

Jaswanto by Jaswanto
February 8, 2024
in Khas
Chris Brown, Tukang Kebun Laut Pemuteran

Chris Brown | Foto: Dok. Jaswanto

“AKU ke sini bukan untuk bekerja, tapi untuk hidup,” kata Nyoman Chris Brown. Saya bisa bertemu Chris di kediamannya di Reef Seen Divers’ Resort Pemuteran, berkat Wan Ode, salah seorang pejuang pariwisata Desa Pemuteran. Pertemuan ini tidak direncanakan sama sekali. Meski saya percaya ini bukan suatu kebetulan. Toh, Tuhan tidak pernah bermain dadu, bukan.

Tentu saja saya tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Seperti biasa, saat bertemu orang baru, apalagi mereka yang berpengetahuan atau setidaknya memiliki riwayat pernah melakukan pengabdian, perjuangan, di bidang apa pun, beberapa informasi harus saya dapatkan—atau paling tidak mendapat sekadar cerita yang bisa saya jadikan inspirasi; dan akan kembali saya ceritakan kepada siapa pun yang sudi membaca dan mendengarnya.

Setelah berkenalan—Chris orang yang ramah—saatnya memberondongnya dengan banyak pertanyaan, pikir saya. Tanpa menunggu waktu lama, saya memintanya untuk bercerita, bagaimana ia, yang notabene orang asing, justru mempunyai kesadaran akan kerusakan terumbu karang dan kehidupan penyu yang ada di laut Pemuteran, desa di barat Buleleng, Bali.

Saya menginjakkan kaki di Pemuteran pada musim kemarau. Saat Bukit Kursi gundul, panas, dan gersang. Bukit yang namanya cukup tersohor di jagat pariwisata Bali Utara itu, saat musim panas, hanya menyisakan debu, batu, dan bangkai rumput liar. Di kakinya, orang-orang mengantre air minum. Meski kemarau, sumberan air itu tetap deras mengucur, seperti tak ada habisnya. Banyak orang Pemuteran mengandalkannya. Cukup membayar seketeng rupiah, sejerigen air dapat dibawa pulang.

Bukit Kursi bukan satu-satunya yang menjadi primadona. Ada bukit lain yang ditawarkan Pemuteran. Dua di antaranya adalah Bukit Beratan dan Bukit Ser. Dari atas bukit yang disebutkan, pelancong disuguhi hidangan matahari terbit sekaligus tenggelam. Juga jajaran bukit di selatan, dan laut di timur, barat, dan utara, seperti tak bertepi, mengepung tanah gundukan itu. Di bawah Bukit Ser, terhampar Pantai Romantis. Pada sore menjelang, senja seperti mimpi di sana. Indahnya bukan main.

“Jika aku ke sini hanya untuk mencari kekayaan, tentu saja aku tidak akan peduli dengan semua ini. Aku ke sini untuk hidup bersama orang-orangnya, adat-istiadatnya, kepercayaannya, dan tentu saja hidup bersama alamnya,” Chris Brown memulai bercerita.

Di tempat itu sedang tak ada tamu. Meja-kursi tampak melompong. Petugas itu tak henti-hentinya menggeser-geser gawainya di belakang mesin kasir yang dijaganya. Ia tampak begitu tak peduli atas kedatangan saya. Angin pantai berkesiur. Perahu-perahu yang tertambat bergoyang-goyang. Seorang pria paruh baya memunguti daun-daun yang berserakan. Di kolam penangkaran, seorang lainnya sibuk menyuapi penyu-penyu.

“Aku tidak mau menjadi seperti orang kebanyakan—orang asing maupun lokal, yang hanya mau mengambil, tanpa mau memberi. Prinsip seperti itu hanya menghasilkan kerusakan, eksploitasi. Kita mengambil sesuatu dari alam, kita juga harus memberi sesuatu kepada alam. Dengan begitu, dunia ini akan seimbang,” tutur bule Australia itu.

Chris, bersama I Gusti Agung Prana, berada di garda terdepan, menjadi pionir perlindungan terumbu karang dan penyu di Pemuteran. Hingga bertahun-tahun kemudian, dengan bantuan masyarakat, terumbu karang mulai terlihat lebih sehat. Ia melakukan pencegahan praktik penangkapan ikan yang merusak dan mengkhawatirkan.

Dulu, di Pemuteran, telur-telur penyu dikonsumsi. Pengetahuan bahwa penyu adalah hewan langka dan dilindungi terlalu gelap bagi mereka. Orang-orang belum memiliki kepedulian dan pengetahuan akan hal itu. Chris, dengan uangnya sendiri, mengambil telur-telur dari tangan warga Pemuteran. Ia menetaskannya. Ia melepas tukik-tukiknya.

Tahun 80-an, nelayan di Pemuteran menggasak ikan dengan pukat, potas, dan bom, yang menyebabkan ekosistem laut rusak parah. Tak hanya laut, tapi bukit-bukit juga tak seindah saat ini. Dulu, bukit-bukit itu gundul dan gersang, seperti tak ada kehidupan. Lingkungan yang kering membuat masyarakat Pemuteran putus asa.

“Dulu Pemuteran hanya diisi pemuda-pemuda kehilangan gairah dan kebingungan bagaimana mestinya mengisi petang, selain memancing ikan di samping perahu-perahu yang mulai menjamur, atau mabuk sampai teler di pinggir jalan sambil bernyati tak karuan,” ujar Chris sinis.

Tetapi, di tengah keputusasaan yang akut itu, Chris dan Agung Prana muncul sebagai hero. Mereka memberikan harapan baru kepada Pemuteran. Dan harapan baru itu bernama pariwisata.

Chris menamatkan pendidikan di Marist Brothers High School, Kogarah, pada 1974. Selama delapan tahun, dari 1981-1989, ia bekerja di IBM Australia—semacam perusahaan teknologi multinasional—sebagai customer service. Pada 1991, ia mendirikan usaha di Pemuteran.

Chris mendirikan usaha bernama Reef Seen Divers’ Resort. Selain dijadikan tempat penghidupan, sebagaimana telah disinggung d atas, Reef Seen juga merupakan proyek penangkaran penyu dan restorasi terumbu karang. Reef Seen Divers’ Resort terletak di Barat Laut Bali, di teluk Pemuteran yang indah, pintu gerbang menuju area penyelaman serta Cagar Alam Laut Pulau Menjangan. Reef Seen menggabungkan Reef Seen Aquatics dan Reef View Bungalow dengan nama yang sama. Mereka fokus pada dunia selama-menyelam.

Resor itu terletak tepat di pantai di tengah teluk, sekira 50 meter dari tepi perairan. Di perairan itu lah, para penyelam dari berbagai negara rela merogoh kocek demi bisa bernapas di dalam air dan melihat taman laut yang tak pernah terbayangkan.

Pemuteran menawarkan pantai yang tenang, sinar matahari sepanjang tahun, budaya yang menarik, dan kuda poni yang menggemaskan. Semua dapat ditemukan di sini, di desa pesisir ini. Tak ada pedagang kaki lima atau penjual di pinggir pantai yang terlihat.

Pada tahun 2011, Chris menggagas pembangunan taman di bawah laut dengan nama “Garden of God”. “Kami membuat taman dengan menanamkan keindahan dewa di sana,” katanya.

Garden of God, atau Taman Nawa Sanga, adalah idenya yang gila. Dia menanam sebanyak 41 patung Dewata Nawa Sanga yang ditata menyerupai sebuah taman di bawah air. Penanaman patung-patung dewa ini, selain untuk melestarikan terumbu karang, juga merupakan inovasi pariwisata terbaru di Pemuteran.

“Aku ingin berpartisipasi menjaga alam dan laut Buleleng. Patung dewa yang diturunkan ke laut dapat menjadi tumpuan berkembangnya biota laut, seperti terumbu karang dan ikan. Selain menjaga laut, aku ingin Pemuteran lebih ramai dikunjungi wisata, tapi tanpa merusak alam,” ujarnya.

Tentu saja, Pemuteran kini sudah ramai dikunjungi wisatawan. Ekonomi, status sosial, dan taraf hidup sudah meningkat di sini. “Itulah tujuanku, kesejahteraan warga Pemuteran dan kelestarian alamnya. Hanya ini yang bisa aku berikan kepada tanah yang telah memberiku kehidupan,” sambung Chris.

Sampai di sini, saya teringat Alain Compost, fotografer Prancis yang datang ke Indonesia pada 1975 untuk membuat dokumentasi mengenai orangutan di Bohorok, Sumatera Utara. Setelah bertahun-tahun berada di Indonesia, ia memutuskan untuk ikut aktif melestarikannya.

Saya menatap Chris dan mendengarkan ceritanya dengan sungguh-sungguh. Saya tak mau melewatkan sedikit pun kata yang keluar dari bibirnya. Tapi waktu melesat seperti anak panah, memaksa kami untuk berpisah. Dengan bahagia saya menjabat tangan Chris. Ia mengucapkan sampai berjumpa kembali; dan saya hanya membalasnya dengan senyuman yang sebenarnya lebih kepada kegetiran.

Saat perjalanan kembali ke penginapan Wan Ode, pikiran saya terus bekecamuk. Jika saja Chris—ia menyebut dirinya tukang kebun laut Pemuteran. “Jika di darat ada tukan kebun, kenapa di laut tidak?”—peduli terhadap Indonesia, mengapa kita tidak melakukan hal yang sama. Sangat janggal rasanya jika orang-orang yang memiliki kepedulian pada Indonesia adalah mereka yang justru tidak berakar pada budaya Indonesia. Kejanggalan ini saya rasakan sampai hari ini.[T]

Di Balik Kemajuan Pariwisata Pemuteran Ada Nama Ketut Sutrawan Selamet
Bukit Ser, Tempat Terbaik untuk Menenangkan Diri
Tags: bulelengDesa PemuteranPariwisatapariwisata baliPariwisata Berkelanjutansave penyuterumbu karang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Postmen dengan “Caturaksa” Tetap Setia di Jalur Rapcore

Next Post

Ajik Cok Krisna:  Berbisnis dan Menulis Berita Itu Sama, Tak Ada Hoaks

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Bagaimana Seharusnya Generasi Muda Menyikapi Inovasi Seni di Masa Kini?

by Dede Putra Wiguna
June 26, 2026
0
Bagaimana Seharusnya Generasi Muda Menyikapi Inovasi Seni di Masa Kini?

 “Karya sampah ini. Kok bisa muncul di PKB?" KALIMAT itu masih diingat betul oleh Agung Rahma Putra. Sekitar satu dekade...

Read moreDetails

Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
0
Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?

DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang...

Read moreDetails

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
0
Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

Read moreDetails

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
0
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

Read moreDetails

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
0
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

Read moreDetails

Mengagumi Mobil Mini

by Jaswanto
June 22, 2026
0
Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

Read moreDetails

Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

by Dede Putra Wiguna
June 21, 2026
0
Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

 “Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama,...

Read moreDetails

Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

by Dede Putra Wiguna
June 20, 2026
0
Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

SORE itu, Senin, 15 Juni 2026, suasana di Toko Kopi TUKU Renon tampak lebih ramai dari biasanya. Di antara antrean...

Read moreDetails

Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 6, 2026
0
Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

KABUPATEN Tabanan saat ini tengah memasuki fase penting dalam pembangunan daerah. Di bawah kepemimpinan Bupati Dr. I Komang Gede Sanjaya,...

Read moreDetails

Cerita Rakyat Sebagai Identitas

by I Wayan Artika
June 6, 2026
0
Cerita Rakyat Sebagai Identitas

Setelah direvitalisasi, kini sejumlah cerita rakyat Bali aga Desa Pedawa hidup kembali. I Jaum misalnya telah dijadikan cerita pertunjukan. Kini...

Read moreDetails
Next Post
Ajik Cok Krisna:  Berbisnis dan Menulis Berita Itu Sama, Tak Ada Hoaks

Ajik Cok Krisna:  Berbisnis dan Menulis Berita Itu Sama, Tak Ada Hoaks

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bangkitkan Legong Lasem Kelandis, Komunitas Ni Pollok Hidupkan Kembali Jejak Maestro di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Bangkitkan Legong Lasem Kelandis, Komunitas Ni Pollok Hidupkan Kembali Jejak Maestro di Pesta Kesenian Bali 2026

Rasa penasaran tampak jelas dari raut wajah ribuan penonton yang memadati Kalangan Angsoka, Taman Budaya Bali, Kamis 25 Juni 2026....

by Nyoman Budarsana
June 26, 2026
Tak Ada Kata Terlambat —Dari Ratnakara, Lubdhaka, Sri Ramakrishna hingga ‘The Turning Point Fritjof Capra’
Esai

Tak Ada Kata Terlambat —Dari Ratnakara, Lubdhaka, Sri Ramakrishna hingga ‘The Turning Point Fritjof Capra’

"Di mata Sang Guru, tidak ada dosa yang tidak dapat ditebus, tidak ada jiwa yang berada di luar pelukan kasih-Nya."...

by Agung Sudarsa
June 26, 2026
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro
Cerpen

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu
Puisi

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
Dari Ornamen ke Gagasan: Menata Ulang Masa Depan Seni Tradisional Bali
Kritik Seni

Dari Ornamen ke Gagasan: Menata Ulang Masa Depan Seni Tradisional Bali

“Tradisi tidak mati karena berubah; ia mati ketika berhenti dipikirkan.” PELESTARIAN seni tradisional di Bali tidak dapat berhenti pada estetika...

by Wayan Gde Yudane
June 26, 2026
Tanggung Jawab Moral Media Massa pada Pesta Kesenian Bali
Esai

Tanggung Jawab Moral Media Massa pada Pesta Kesenian Bali

PESTA Kesenian Bali (PKB) memerlukan media massa untuk publikasi dan dokumentasi, sedangkan media massa memerlukan PKB untuk menunjukkan tanggung jawab...

by I Nyoman Darma Putra
June 26, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Negeri Pesugihan

SIDANG pembaca yang budiman, coba anda buka Netflix atau platform streaming apa pun yang sedang populer. Tidak perlu menggulir lama-lama,...

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 26, 2026
Bagaimana Seharusnya Generasi Muda Menyikapi Inovasi Seni di Masa Kini?
Khas

Bagaimana Seharusnya Generasi Muda Menyikapi Inovasi Seni di Masa Kini?

 “Karya sampah ini. Kok bisa muncul di PKB?" KALIMAT itu masih diingat betul oleh Agung Rahma Putra. Sekitar satu dekade...

by Dede Putra Wiguna
June 26, 2026
Pengabdian Internasional Undiksha & Ubon Ratchathani University —Perkuat Kesadaran Antarbudaya Bali-Thailand
Pendidikan

Pengabdian Internasional Undiksha & Ubon Ratchathani University —Perkuat Kesadaran Antarbudaya Bali-Thailand

SINGARAJA – TATKALA.CO | Tim Pengabdi Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Undiksha sukses menggelar International Community Service-Based Workshop bertajuk “PROMOTING...

by tatkala
June 25, 2026
Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket
Bahasa

Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket

BAGI orang awam di bidang kargo seperti saya, kata kargo selalu memantik imajinasi tentang gudang yang pengap, deru mesin, aroma...

by I Made Sudiana
June 25, 2026
Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
Khas

Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?

DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang...

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal
Panggung

‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal

PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini...

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co