3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Di Balik Kemajuan Pariwisata Pemuteran Ada Nama Ketut Sutrawan Selamet

Jaswanto by Jaswanto
August 18, 2023
in Liputan Khusus
Di Balik Kemajuan Pariwisata Pemuteran Ada Nama Ketut Sutrawan Selamet

Ketut Sutrawan Selamet alias Wawan Ode

DI KALANGAN pegiat pariwisata, sosok yang satu ini memang cukup populer. Bukan saja karena posisinya sebagai Ketua Pokdarwis Desa Pemuteran, tapi juga karena kiprahnya sebagai pembicara nasional. Ya, mengenai hal tersebut, dirinya sudah pernah mengisi wokrshop atau diskusi tentang dunia pariwisata di mana-mana di seluruh Indonesia. Pikiran-pikirannya tentang pariwisata—khususnya marketing dan distribusi pariwisata—juga sedikit-banyak telah membantu pariwisata Desa Pemuteran menjadi seperti sekarang.

Terumbu karang di laut Desa Pemuteran | Foto: Ist

Sosok yang sedang kita bicarakan ini bernama I Ketut Sutrawan Selamet—atau yang akrab dipanggil Wawan Ode. Pria kelahiran 1 Juli 1981 ini lahir dan tumbuh di Desa Pemuteran, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng. Lahir di desa yang mulai mengembangkan pariwisata sejak 1989 itu, membuatnya tertarik untuk ikut terlibat di dalamnya. Pikiran itu merasukinya sejak ia lulus SMP.

Maka, pada 1997 berangkatlah Wawan Ode ke Badung dan melanjutkan pendidikan ke SMK Pariwisata Mengwitani sampai tahun 2000. Lulus SMK ia memilih kuliah D2 Akpar di Sekolah Tinggi Pariwisata Tri Atmajaya, Bali, dan lulus tahun 2002.

“Cita-cita saya waktu itu ingin bekerja di Amerika di kapal pesiar, biar bisa keliling dunia. Tapi, karena waktu itu saya lulus pas ada tragedi bom Bali I, jadi ya susah mau kerja di sana, soalnya kita dibanned,” ujarnya kepada tatkala.co, Sabtu (12/8/2023) sore, di Ode Resto & Guest House, Pemuteran.

Oleh sebab tidak bisa bekerja di luar negeri, Wawan Ode akhirnya memilih bekerja di desanya sendiri, tepatnya di Matahari Beach Resort & Spa sebagai waiter. Pekerjaan ini ia tekuni selama lima tahun. Pada 2008 sampai 2011, ia bekerja di Adi Assri Beach Resort & Spa sebagai general manager.

“Dan tahun 2012, saya bekerja di Amertha Bali Villas sebagai general manager. Nah, pemiliki Amertha Bali ini adalah I Gusti Agung Prana, sosok pionir pariwisata Desa Pemuteran. Dia yang membangun pariwisata di Pemuteran dari minus bukan dari zero,” terangnya.Menurut Wawan Ode, perkembangan pariwisata Desa Pemuteran tidak dapat dilepaskan dari peran I Gusti Agung Prana yang merupakan pelopor sekaligus pendiri Yayasan Karang Lestari yang aktif mengelola kawasan karang di pantai Pemuteran.

Pemandangan wisata laut dan bukit di Desa Pemuteran | Foto: Dok Jaswanto

Pada tahun 1989, Agung Prana bersama beberapa tokoh lainnya, merasa khawatir dengan kondisi yang ada di desanya dan ingin memperbaiki keadaan tersebut, agar nelayan tidak lagi mencari ikan dengan cara melakukan pengeboman.

Setelah kesadaran masyarakat Pemuteran muali terbangun, pada tahun 1992, I Gusti Agung Prana mendirikan hotel pertama di Desa Pemuteran, yakni Hotel Pondok Sari. Dengan serangkaian pengenalan dan edukasi, masyarakat yang tadinya nelayan dan gemar merusak terumbu karang, mulai mengerti dan beralih profesi bahkan mereka menjadi yang paling depan dalam kegiatan melindungi terumbu karang.

Perlahan tapi pasti, Desa Pemuteran berbenah diri menjadi desa wisata dengan memanfaatkan potensi alam yang menjadi kekayaannya. Terletak di pesisir pantai sekaligus dekat dengan bukit-bukit yang hijau membuatnya cocok untuk kawasan wisata bahari sekaligus wisata alam.

“Kesadaran saya untuk menjaga dan mengembangkan pariwisata Pemuteran lahir sejak saya bersama I Gusti Agung Prana. Saya sering diajak berdiskusi dan menghadari pertemuan-pertemuan penting perihal pariwisata. Jadi, peran saya sebenarnya hanya meneruskan perjuangan tokoh-tokoh terdahu saja,” jelasnya, rendah hati.

Sudut hutan di Bukit Ser, Desa Pemuteran | Foto: Jaswanto

Desa Wisata Pemuteran merupakan sebuah model desa wisata di Bali yang dikembangkan dengan menerapkan konsep keberlanjutan ekowisata yang berbasis pada lokalitas, selain itu juga merupakan destinasi wisata dengan minat khusus. Tidak hanya mendongkrak kesejahteraan rakyat melalui nilai ekonomis dari pariwisata, desa ini juga aktif menerapkan upaya pelestarian lingkungan laut yang merupakan kekayaan mereka.

Pemuteran menjadi salah satu desa yang dikembangkan oleh Kementerian Pariwisata melalui program Desa Wisata pada tahun 2009-2010. Dukungan dari program itu, menurut Wawan Ode, antara lain digunakan untuk membangun fasilitas diving serta wisata air di sekitar desa tersebut.

Membangun Pariwisata Pemuteran

Wawan Ode mengaku, kontribusinya kepada Desa Pemuteran dimulai sejak dirinya lulus kuliah. Ia mengawalinya dengan menjadi anggota Pecalang Desa Pemuteran sebelum terjun mengabdikan diri di bidang pariwisata.

Baru pada tahun 2013-2018 ia terpilih menjadi Ketua Ikatan Pelaku Pariwisata Pemuteran (IP3); menjadi Ketua Lembaga Pengelola Pariwisata Pemuteran (LP3) pada tahun 2016-2018; dan dipilih menjadi Ketua Pokdarwis Desa Pemuteran tahun 2018 sampai sekarang.

Menurut Wawan Ode, lingkungan Desa Pemuteran dulu sangat memprihatinkan. Diceritakan pada awal 1989 para nelayan menangkap ikan dengan bom dan potas. Hal tersebut mengakibatkan rusaknya ekosistem laut di Pemuteran. Tak hanya di laut, imbuhnya, tapi juga bukit-bukit yang gundul dan gersang.

“Masyarakat dulu terpaksa melakukan itu sebab memang tak ada pilihan profesi lain. Lingkungan yang kering membuat masyarakat Pemuteran putus asa,” kata pemilik Ode Resto & Guest House itu.

Di tengah orang-orang putus asa itulah, kata Ode, sosok I Gusti Agung Prana hadir untuk memberikan harapan baru kepada Pemuteran. Salah satu cara yang dilakukan Agung Prana dalam membangun kesadaran masyarakat adalah dengan mengajak para nelayan pergi ke destinasi wisata di Bali yang sudah maju sebagai pemantiknya. “Itu semua menggunakan uang pribadinya,” imbuhnya.

Sejak kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga dan melestarikan lingkungan, menurut dosen BPLP Nusa Dua itu, Desa Pemuteran mendapat pencapaian-pencapaian luar biasa seperti mempunyai living landscape Bali yang unik/otentik dan menjadi kawasan desa sebagai destinasi pilihan dunia. Nelayan mulai menangkap ikan dengan cara eco-friendly dan mulai merehabilitasi terumbu karang yang dilakukan dengan kesadaran bersama. Dengan begitu, tangkapan nelayan meningkat drastis.

Wawan Ode bersih-bersih sampah bersama Pokdarwis dan Sekaa Truna-Truni Pemuteran

Alam Pemuteran juga diakui sebagai salah satu dari 10 destinasi terbaik dunia. Atas dasar itu masyarakat memperoleh lapangan pekerjaan dan peluang usaha dengan swakelola sebagai sumber utama pemasukan masyarakat. Akhirnya, Pemuteran menjadi Desa Wisata berbasis masyarakat dengan menggunakan Role Model Social Entrepreneur. Dan sampai hari ini, kawasan Desa Wisata Pemuteran sudah menerima 38 penghargaan, baik Nasional maupun Internasional.

Sampai di sini, apa yang telah dibangun dan diperjuangkan Agung Prana dulu—dan dilanjutkan oleh generasi berikutnya termasuk Wawan Ode—tidak sia-sia. Pemuteran hari ini jauh berbeda dengan Pemuteran 40 tahun lalu. Bahkan, pada tahun 2016, United Nation World Tourism Organization (UNWTO/Organisasi Pariwisata Dunia PBB) memberikan predikat juara kedua kepada Desa Pemuteran untuk kategori “Innovation in Non Govermental Organizations” dengan program “Coral Reef Reborn Pemuteran, Bali”. Suatu kemajuan yang patut diapresiasi.

Kini, 1.500 kepala keluarga di desa tersebut juga merasakan peningkatan kesejahteraan secara ekonomi dari kegiatan wisata berbasis masyarakat yang berkembang di daerahnya.

Sementara itu, dalam membangun pariwisata Desa Pemuteran, Ode menjelaskan bahwa pihaknya menggunakan pendekatan budaya dan spiritual berdasarkan konsep Tri Hita Karana. Dari konsep inilah masyarakat Pemuteran bahu-membahu dalam menjadikan Pemuteran seperti hari ini.

“Tri Hita Karana itu kan perpaduan interaksi antara Tuhan, manusia, dan alam. Jadi, dalam pembangunan pariwisata, peran agama dan budaya juga sangat penting,” jelas Ode.

Atas dasar filosofi tersebut, dalam rangka menyelamatkan lingkungan di Desa Pemuteran masyarakat melakukan berbagai hal seperti menjaga lingkungan dengan melakukan pembersihan dan penghijauan; menjaga dan melestarikan penyu serta adopsi baby coral; menjaga keamanan dan kenyamanan wisatawan; menjaga destinasi yang sudah ada dan merencanakan atau membuat destinasi baru; dan terus melakukan promosi agar pariwisata Pemuteran semakin dikenal, sehingga mampu mendatangkan wisatawan.

“Khusus untuk menjaga ekosistem laut tetap lestari, Desa Pemuteran membentuk Pecalang Laut Pemuteran (traditional marine patrol). Dan pada 2015, kami mulai membuat even tahunan yang dinamakan Pemuteran Bay Fest. Ini juga asalah satu bentuk promosi kami,” ujarnya.

Bersih-bersih sampah bersama Pokdarwis dan Sekaa Truna-Truni Pemuteran

Pemuteran Bay Festival menaungi segala bentuk seni budaya dan pelestarian lingkungan seperti Pelestarian Terumbu Karang Berbasis Masyarakat dengan Tehnologi Biorock, Heritage Culture Gebug Ende , Beach Art Parade, Lomba-lomba Seni dan Budaya, Pameran Produksi Seni dan Kerajinan dalam rangka meningkatkan kualitas pariwisata berbasis masyarakat, berbudaya, berwawasan lingkungan.

Event Pemuteran Bay Festival juga masuk 100 kalender event di Indonesia atau CoE Indonesia. Pemuteran Bay Festival mempersembahkan selebrasi budaya dengan semangat komunitas dengan berlandaskan ecotourism.

Wawan Ode mengatakan, dalam membangun pariwisata, setidaknya ada empat pihak yang harus bekerja sama. Pertama, masyarakat; kedua, pemerintah; ketiga, penguasa sosial dan bisnis; dan keempat, ilmuan atau ahli. Keempat pihak tersebut jika bisa berkolaborasi dengan baik, maka kemajuan pariwisata tidak mustahil untuk diraih.

Dengan gerakan-gerakan yang telah dijelaskan di atas, kunjungan wisatawan ke Pemuteran mengalamai kenaikan setiap tahun. Pada tahun 2019, sebelum Covid-19, menurut data yang dihimpun oleh Pokdarwis Pemuteran, terdapat 13.532 wisatawan yang berkunjung ke Desa Pemuteran.

Wawan Ode bersih-bersih sampah bersama Pokdarwis dan Sekaa Truna-Truni Pemuteran

Dari data tersebut, wisatawan yang datang ke Pemuteran kebanyakan melakukan aktivitas seperti snorkeling & diving, temple tour, cooking class, hiking, yoga, purification, cycling, fishing, dance class, Balinese life’s experience, conservation, education, sampai menikmati sunset di Bukit Batu Kursi. Di Pemuteran memang banyak sekali tempat wisata yang bisa dikunjungi. Tempat tersebut terdiri dari bukit, pantai, air terjun, budidaya penyu, taman bawah laut, dan pura.

Peran Teknologi Digital

Wawan Ode bersama Pokdarwis selalu berusaha untuk terus mempromosikan tempat wisata yang ada di Desa Pemuteran. Salah satu hal yang dilakukan adalah dengan membuat paket-paket trip pariwisata di Pemuteran. Selama ini, paket trip dinilai efektif dalam mengembangkan pariwisara di Pemuteran.

Hasil dari inovasi paket aktivitas yang dibuat di antaranya: terisinya hotel dan homestay yang ada di Pemuteran; bertambahnya kunjungan tamu dosmetik dan wisatawan asing yang tinggal/berada di Bali; bergeraknya perekonomian Desa (tamu-tamu belanja di warung masyarakat lokal); digunakanya sampan untuk melakukan aktivitas (dolphin, snorkeling, diving, dll); dgunakanya transport lokal untuk antar jemput tamu; tamu menginap lebih lama di Desa Pemuteran; spending tamu lebih banyak; dan bergeraknya ekonomi kreatif (UMKM) masyarakat desa wisata Pemuteran.

Dari semua pencapaian tersebut, menurut Wawan Ode, selain atas komitemen masyarakat Pemuteran, juga dikarenakan adanya teknologi digital seperti media sosial atau platform-platform digital lainnya.

Pada saat Pandemi Covid-19 menjadi mimpi buruk bagi seluruh sektor industri—terutama pariwisata— perkembangan teknologi menjadi angin segar bagi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif untuk bisa bertahan dan berkembang di tengah bencana tersebut.

Kunci utama para pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif bertahan di tengah pandemi adalah memiliki kemampuan adaptasi, inovasi, dan kolaborasi yang baik. Ketiga kemampuan itu, menurut Wawan Ode, sebenarnya sudah mulai diterapkan di Pemuteran melalui digital tourism.

Digital tourism merupakan salah satu strategi yang efektif dalam mempromosikan berbagai destinasi dan potensi pariwisata melalui berbagai platform. Artinya, digital tourism tidak hanya sekadar mengenalkan, namun juga menyebar keindahan pariwisata secara luas untuk meningkatkan jumlah wisatawan berkunjung ke suatu tempat.

.

.

Kondisi laut Pemuteran dan konservasi terumbu karang | Foto: Ist

“Pada saat pendemi, Desa Pemuteran juga terdampak. Saya saja kembali menjadi petani,” ujarnya sambil tertawa. Wawan Ode menambahkan, beruntungnya, pada saat itu pihaknya tetap menyelenggarakan Pemuteran Bay Festival secara firtual. “Jadi, meski tidak tidak ada kunjungan seperti biasanya, yang penting pemasaran tetap jalan,” jelasnya.

Benar. Dalam hal distribusi, marketing, dan membangun citra pariwisata, peran media sosial menjadi sangat penting. Sejak adanya media sosial, proses distribusi pariwisata di Pemuteran menjadi lebih cepat dan evisien. Selain lebih mudah dalam menyebarkan informasi terkait potensi wisata, postingan-postingan positif dari wisatawan juga sangat berpengaruh dalam membangun citra di mata calon wisatawan.

“Tapi juga sebaliknya, postingan-postingan negatif juga berpengaruh. Misalnya, ada tamu yang memosting sampah di pantai, itu juga mempengaruhi citra,” jelas Ode.

Melalui akun media sosial pribadinya dan akun Pokdarwis Pemuteran, Wawan Ode tak pernah surut mempublikasikan, mendokumentasikan, dan menyebarkan potensi-potensi pariwisata Desa Pemuteran. “Selain menggunakan media sosial, setiap kali kami memiliki kesempatan untuk menghadiri undangan-undangan di kota maupun di luar kota, kami selalu mempromosikan Pemuteran,” imbuhnya.

Selain itu, Desa Pemuteran juga banyak mendapat tawaran dari perusahaan-perusahaan teknologi digital berupa pembuatan web dan aplikasi gratis. Hanya saja, menurut Wawan Ode, hal itu dinilai kurang efektif sebab pengguna harus menginstal terlebih dahulu. “Berbeda dengan media sosial yang fungsinya bukan hanya untuk mencari tahu informasi tempat wisata, kan?” ujarnya.

Terakhir, pada saat ditanya mengenai harapan terkait dengan pariwisata di Desa Pemuteran, Wawan Ode menjawab, “Saya ingin Desa Pemuteran menjadi desa mandiri. Selama ini, kami tidak berani menarik tiket kepada wisatawan karena takut dianggap pungli. Akhirnya, desa tidak dapat PAD. Nah, dalam hal ini, saya berharap pemerintah harus hadir untuk membuat payung hukumnya, supaya kami memiliki pegangan kuat dalam membangun Pemuteran ke depannya,” pungkasnya. [T]

  • Catatan: Artikel ini ditulis dan disiarkan atas kerjasama tatkala.co dan Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian dan Statistik (Kominfosanti) Kabupaten Buleleng.
  • BACA artikel LIPUTAN KHUSUS lainnya
Tags: balibulelengDesa PemuteranPariwisata
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membaca Kembali “Surabaya” Karya A Idrus

Next Post

Enam Seniman Kuta Dianugerahi Penghargaan Abdi Budaya Nugraha

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

by Jaswanto
June 29, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

"YANG kami bangun bukan sekadar ruang publik yang indah, tetapi juga ruang yang mampu mengingatkan masyarakat akan perjalanan panjang Kota...

Read moreDetails

Betapa Kompaknya Seniman Buleleng Membangun Karakter Buleleng Lewat Berbagai Karya Seni dan Kebudayaan

by Jaswanto
June 28, 2026
0
Betapa Kompaknya Seniman Buleleng Membangun Karakter Buleleng Lewat Berbagai Karya Seni dan Kebudayaan

TEPAT hari Sabtu, 13 Juni 2026, saat Renon sedang menyengat, ribuan orang memadati kawasan Monumen Perjuangan Rakyat Bali di Denpasar....

Read moreDetails

Hikayat Tuak

by Jaswanto
May 30, 2026
0
Hikayat Tuak

KAKEK tua itu memanjat pohon lontar—yang tinggi—sesantai menaiki anak tangga. Meski sudah berumur, tangannya masih kuat mencengkeram, sedang sedikit pun...

Read moreDetails

Ritual Menanam Beras Merah

by Jaswanto
May 28, 2026
0
Ritual Menanam Beras Merah

“RASANYA legit, gurih, dan lebih bertekstur,” ujar I Wayan Agus Saputra di suatu siang yang mendung di Kantor Desa Jatiluwih,...

Read moreDetails

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

by Jaswanto
May 15, 2026
0
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

Read moreDetails

Spirit Panji Sakti, Spirit Membangun Buleleng —Catatan dari Denyut Perayaan 422 Tahun Singaraja

by Jaswanto
April 14, 2026
0
Spirit Panji Sakti, Spirit Membangun Buleleng —Catatan dari Denyut Perayaan 422 Tahun Singaraja

PERAYAAN Hari Ulang Tahun (HUT) ke-422 Kota Singaraja tahun 2026 berlangsung sepanjang Maret dengan berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat luas....

Read moreDetails

Kisah Hari Raya Nyepi Umat Hindu di Surabaya

by Jaswanto
March 20, 2026
0
Kisah Hari Raya Nyepi Umat Hindu di Surabaya

“SAYA belum pernah merasakan Nyepi di Bali; tapi sering diberitahu orang-orang kalau Nyepi di Bali itu kebanyakan tidak diisi dengan...

Read moreDetails

Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [3]: Hikayat Tenun di Kawasan Tejakula dan Pewarna Alaminya

by Jaswanto
January 28, 2026
0
Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [3]: Hikayat Tenun di Kawasan Tejakula dan Pewarna Alaminya

HINGGA saat ini, di daerah Tejakula, sebut saja seperti Sembiran, Pacung, Julah, dan Bondalem, masih banyak perajin tenun. Tentu saja...

Read moreDetails

Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [2]: Hikayat Niaga Kapas di Bali Utara  

by Jaswanto
January 28, 2026
0
Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [2]: Hikayat Niaga Kapas di Bali Utara  

PADA tulisan sebelumnya, saya telah uraikan bukti-bukti kuat yang menyatakan bahwa Bali Utara—khususnya wilayah Tejakula dan sekitarnya—merupakan jalur dagang pada...

Read moreDetails

Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [1]: Hikayat Jalur Dagang Bali Utara

by Jaswanto
January 28, 2026
0
Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [1]: Hikayat Jalur Dagang Bali Utara

DALAM sejarah, Singaraja (Buleleng) di Bali Utara tercatat sebagai jalur perdagangan yang semarak dan hidup. Apalagi saat wilayah yang didirikan...

Read moreDetails
Next Post
Enam Seniman Kuta Dianugerahi Penghargaan Abdi Budaya Nugraha

Enam Seniman Kuta Dianugerahi Penghargaan Abdi Budaya Nugraha

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co