2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membaca Kembali “Surabaya” Karya A Idrus

Irwansyah by Irwansyah
August 17, 2023
in Ulas Buku
Membaca Kembali “Surabaya” Karya A Idrus

Novel Surabaya karya Idrus

ABDULLAH IDRUS atau A. Idrus lahir di Padang, Sumatra Barat 21 September 1921, meninggal 18 Mei 1979. Ia adalah seorang sastrawan Indonesia. Pernah menempuh Pendidikan di HIS, MULO, AMS, dan Sekolah Menengah Tinggi (SMT). Ia menyelesaikan pendidikannya pada tahun 1943.

Idrus juga meraih gelar Master of Arts dari Universitas Monash, Australia pada tahun 1974. Ketika Idrus meninggal, Ia mendapatkan kandidat Ph.D di Universitas tersebut. Idrus juga pernah menjadi redaktur Balai Pustaka pada 1943-1949 dan kepala bagian pendidikan GIA pada 1950-1952.

Selain itu, Idrus pernah menjadi redaktur majalah Indonesia dan Kisah, kemudian Idrus mengabdikan dirinya di Universitas Monash pada 1965-1979.

Dalam bidang penulisan, Idrus menulis prosa, novel, drama, dan menerjemahkan beberapa karya sastra. Karena tekanan politik dan sikap permusuhan yang dilancarkan oleh Lembaga Kebudayaan Rakyat (LKR) terhadap penulis-penulis yang tidak sepaham dengan mereka, Idrus terpaksa meninggalkan tanah air dan pindah ke Malaysia. Ia tinggal di Malaysia dari 1960 sampai 1964.

Karya-karyanya ditulis dengan bahasa sehari-hari yang ringkas, sederhana, dan tanpa hiasan kata-kata. Persoalan yang sering menjadi tema utama karyanya adalah masalah-masalah sosial yang terjadi pada zamannya. Ia membongkar habis keadaan buruk dan kacau pada masa revolusi, sebagaimana yang Idrus tuliskan dalam prosanya yang berjudul “SURABAYA’’.

Dalam karyanya itu, Idrus berupaya untuk menonjolkan berbagai kelemahan manusia-manusia yang eksis di kota Pahlawan. Kemudian, Idrus membuat sebuah konsep penceritaan yang Ia pelajari dari sastrawan ekspresionis Belgia, yaitu Willem Elsschot. Gaya sastra Elsschot inilah yang mempengaruhi Idrus dalam karya sastranya yang memfokuskan diri dan narasinya pada ketepatan dalam bentuk seharusnya (sisinisme).

Kekhasan Idrus dalam gaya kepenulisan membuatnya memperoleh tempat yang terhormat dalam dunia sastra Indonesia (SI), yaitu sebagai Pelopor Angkatan ’45 di bidang prosa sebagaimana yang dikukuhkan H.B. Jassin dalam bukunya berjudul “Sastra Indonesia dan Perjuangan Bangsa” (1993).

Prosa Surabaya ini merupakan salah satu karya Idrus yang diterbitkan oleh Merdeka Press pada tahun 1947. Sebab substansinya, karya Idrus yang satu ini memiliki semangat revolusioner dengan cita-cita keadilan sosial. Jika kita baca dan menganalisis dari isi yang dituliskan Idrus dalam prosanya, kita dapat mengambil sebuah hipotesis tentang humanisme.

Bagaimana Idrus mampu membuat alat antipropaganda terhadap pemerintah republik, ialah dengan membangun narasi-narasi keadilan sosial untuk masyarakat ataupun pribumi Surabaya secara gamblang dan tepat. Sehingga salah satu yang dominan dalam karya Idrus adalah perjuangan untuk menegakkan keadilan dan ketegangan politik kolonial Belanda di Surabaya.

Abdullah Idrus menggambarkan keadaan masyarakat pribumi yang berjuang melawan penindasan dan eksploitasi sumber daya manusia (SDM) oleh bangsa kolonial. Ia juga  memberikan gambaran yang sangat kuat tentang kehidupan masyarakat Surabaya, dengan menyoroti ketidakadilan sosial dan kesenjangan antara si miskin dan si kaya.

Bagaimana kaum miskin memperjuangkan utilitas mereka untuk tidak menderita dan si kaya dengan sekonyong-konyongnya memperlakukan manusia tanpa moralitas yang murni sebagaimana seharusnya. Hal ini tidak semestinya dialami oleh setiap individu manusia di muka bumi.

Idrus mulai menulis Surabaya dari sebuah kronologi awal terjadinya tragedi-tragedi di Surabaya dengan bahasa yang sederhana tapi penuh makna. Ia mengungkapkan bahwa sekelompok orang Belanda mengibarkan bendera negaranya yang berwarna merah, putih, dan biru tanpa adanya persetujuan dari pemerintah Republik Indonesia di kota Surabaya.

Sehingga masyarakat Surabaya pada saat itu menimbulkan reaksi premanisme melihat hal tersebut dan menjadi kesal, jengkel, yang berujung sebagai kemarahan kolektif. Karena pendeknya akal dan hilangnya kejernihan pikiran, maka salah seorang pemuda Indonesia kemudian mendatangi hotel Yamato tempat mereka mengibarkan bendera tersebut.

Sesampainya di hotel Yamato, terjadilah sebuah perbincangan dengan pimpinan sekutu agar bendera yang mereka kibarkan diturunkan, agar tidak terjadi keributan panjang gara-gara pengibaran bendera yang dilakukan oleh kolonial tanpa adanya persetujuan dari pemerintah Indonesia.

Akan tetapi, pimpinan mereka menolak untuk menurunkan benderanya, sehingga hal yang tidak diinginkan terjadi, yaitu sikap premanisme salah seorang pemuda yang tiba-tiba loncat dari atas gedung hotel Yamato berhasil merobek warna biru dari bendera negara Belanda. Dari insiden inilah terjadinya baku hantam yang luar biasa antara sekutu dan pribumi Surabaya.

Dari cerita dan derita yang dialami masyarakat Surabaya pada saat itu, disampaikan Idrus dengan penuh keprihatinan dalam penggambaran yang mendalam, Ia memperlihatkan sarkasmenya tentang interaksi antarwarga, dinamika budaya, sosial, dan politik yang terjadi di kota Surabaya.

Idrus melukiskan perjuangan bangsa Indonesia, khususnya masyarakat Surabaya, mulai dari pertempuran yang terjadi sampai kehidupan masyarakat Surabaya yang mengalami krisis pangan dan papan. Para pejuang-pejuang Surabaya diceritakan oleh Idrus sebagai cowboy-cowboy yang punya ‘revolver’ (pistol) di pinggang, saling membunuh seperti teroris. Penggambaran seperti itu menimbulkan banyak reaksi dan tragedi yang pilu.

Dalam prosa Idrus, “Surabaya” selalu berusaha dan berupaya untuk mengemukakan revolusi dengan masalahnya yang berkarakter. Karena kekurangan pengetahuan serta pengertiannya terhadap revolusi kemerdekaan rakyat kala itu, maka secara  umum pandangan Idrus telah tergelincir ke dalam subjektivisme yang bukan kepalang.

Karenanya dari keseluruhan pembicaraan Idrus tentang Surabaya, Ia mencoba menerangkan dan mengungkapkan sesuatu yang jelek dan keji yang sifanya dehumanisasi secara gamblang. Dengan cara itu Idrus bermaksud supaya timbul dan terealisasikannya kebaikan dan sifat humanistik di tengah kehidupan bersosial di Indonesia, khususnya masyarakat Surabaya .

Akan tetapi hemat saya, secara tersirat Idrus menegaskan bahwa dirinya bukan hanya memiliki kelihaian dalam mengungkapkan kebaikan, tetapi Ia juga salah satu spesialis dalam mengungkapkan suatu kejelekan sebagaimana yang kita simak bersama di dalam prosannya.

Apa yang dimaksud Idrus dengan Surabaya bukanlah untuk menghina perjuangan bangsa Indonesia dan bukan pula Ia orang yang a-nasionalis. Tentu dengan prosa  Surabaya yang ditulis Idrus kita melek akan ketidakadilan sosial di negeri ini, dan berupaya untuk menegakkan rasa humanisme antar sesama.

Cerita Surabaya ini bukan merupakan suatu cerita dalam pengertian yang biasa. Tidak ada tokoh utama yang diikuti perjalanan hidupnya atau pengalamannya dari permulaan sampai akhir. Kalau mau dicaripun, tokoh utamanya adalah revolusi dan pengalaman orang-orang di dalamnya. Cerita ini merupakan suatu karikatur dari pertempuran Surabaya yang ditulis oleh Idrus.

Kebencian Idrus sangat jelas terlihat kepada dehumanisasi dan pembunuhan. Ini sebuah keadaan yang membuat Ia benci dan ngeri kepada segala apa yang bersangkutan dengan revolusi. Akan tetapi, dengan itu Idrus tidak berarti anti revolusi. Pendiriannya terhadap revolusi bisa dilihat dalam tulisannya Perempuan dan Kebangsaan (Majalah Indonesia, No.4, Mei 1949, BP).

Selain sikap nasionalisme yang meluap-luap, juga keberanian moralnya yang besar untuk menulis terang-terangan dengan segala kejujuran seperti yang diceritakan Idrus. Kita tidak persoalkan kebenarannya, akan tapi keberaniannya dalam hal ini mengemukakan visinya sendiri tentang revolusi dan kebangsaan. Hal ini adalah suatu ciri kemerdekaan ’45. [T]

Branding Baru Novel Berlatar Tragedi Erupsi Gunung Agung 1963 Karya I Gusti Ngurah Pindha
Usaha Menemukan dan Mengabadikan Desa Muslim Pegayaman Bali | Ulasan Buku Ensiklopedia Desa Muslim Pegayaman Bali
Pembelajaran Moral dari Buku “Kisah Seekor Camar dan Kucing yang Mengajarinya Terbang” Karya Luis Sepulveda
Tags: IdrusnovelrevolusisastraSurabaya
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perayaan Kemerdekaan yang Sederhana di Rumah Belajar Gebang, Desa Tembok-Buleleng

Next Post

Di Balik Kemajuan Pariwisata Pemuteran Ada Nama Ketut Sutrawan Selamet

Irwansyah

Irwansyah

Lahir di Sumbawa, Bangkong, 06 Februari 1999. Mahasiswa Hukum Ekonomi Syari’ah, Fakultas Syari’ah, Institut Agama Islam Hamzanwadi Pancor. Bergiat di Komunitas Reading Buya Syafi’i, Rakam, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.

Related Posts

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails
Next Post
Di Balik Kemajuan Pariwisata Pemuteran Ada Nama Ketut Sutrawan Selamet

Di Balik Kemajuan Pariwisata Pemuteran Ada Nama Ketut Sutrawan Selamet

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co