3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sikap Raja dan Masyarakat Terhadap Air dalam Peradaban Bali Kuno

Kadek Edi Palguna by Kadek Edi Palguna
May 21, 2024
in Esai
Sikap Raja dan Masyarakat Terhadap Air dalam Peradaban Bali Kuno

Danau Tamblingan | Foto: Edi Palguna

BALI bisa dibilang sangat rutin untuk menjadi tuan rumah dalam helatan forum internasional, pada pertengahan bulan ini dari tanggal 18-25 Mei 2024 kembali dipercaya menjadi tempat penyelenggaraan WWF (World Water Forum) ke-10. Perhelatan WWF ini cukup penting, baik dalam usaha perlindungan air dan masa depan pijakan setiap umat manusia. Pembicaraan tentang air dilakukan langsung oleh para kepala negara anggota dan para tokoh dunia, salah satunya ada Elon Musk sebagai pemilik Space X.

Terpilihnya Bali tentunya telah melewati berbagai syarat untuk kegiatan ini. Salah satunya adalah adanya ekosistem subak sebagai pengelola air tradisional Bali dalam kegiatan irigasi pertanian. Subak dalam konteks persawahan secara teknis sama dengan teknik pertanian di daerah lainnya yang pada prinsipnya sebagai ketahanan pangan masyarakat.

Nah, mungkin ini salah satu keunikannya, dalam konteks budaya warga subak yakni petani tidak hanya berpacu dengan peningkatan hasil, namun selalu melakukan penyelarasan dengan alam dan sang pencipta, dalam bentuk pemuliaan yang diwujudkan dalam berbagai ritual dan prilaku warga yang berlandaskan konsep Tri Hita Karana.

Pemulian yang dilakukan seakan sawah, air dan padi ibarat dewa yang sangat dihormati, terlihat dari awal proses Bertani masyarakat subak melaksanakan berbagai ritual, mulai dari mapag toya (menyambut air), nuasen dan mubuin (bajak sawah), biukukung (saat padi mulai berbuah), mantik padi (upacara memanen padi), dan mendak nini (padi setelah panen).

Alasan berikutnya ialah tidak terlepas dari banyaknya aktivitas keagamaan dan kebudayaan Bali yang tak terlepas dari penggunaan air, misalnya melukat, melasti dan penggunaan tirta dalam kegiatan upacara. Dalam kegiatan budaya masyarakat Bali telah menunjukkan dalam berbagai bentuk seperti berkembangnya mitos-mitos tentang sumber air, dan pembangunan tempat-tempat suci disekitar sumber air.

Budaya tersebut tidak terlepas dari proses pemuliaan air dan keberlangsungannya sampai pada masa berikutnya. Dan pertanyaannya sejak kapan pemuliaan air di Bali dilakukan?, mari kita telusuri dalam beberapa bukti catatan kuno dan tinggalan arkeologi lainnya.     

Catatan kuno di Bali terdiri dari beberapa jenis, seperti lontar dan prasasti. Sampai saat ini catatan kuno yang tertua adalah berupa prasasti, yang terbuat dari logam dan batu sehingga bisa bertahan hingga ribuan tahun dengan jumlah yang cukup banyak. Prasasti tersebut mencantumkan banyak nama raja pada masa Bali Kuno dari abad ke-9 hingga ke 14 Masehi secara keberlanjutan dari Raja Sri Kesari Warmadewa yang pertama hingga yang ke-23 Raja Sri Astasura Ratnabhumibanten.

Prasasti pada masa Bali Kuno menggunakan Bahasa Bali Kuno dan Jawa Kuno, yang ditulis dengan huruf Bali Kuno dan Jawa Kuno. Prasasti-prasasti tersebut sudah dialih aksarakan oleh Epigraf yang bernama Goris pada Tahun 1954, yang kemudian dikutip oleh para peneliti selanjutnya termasuk dalam tulisan ini.

Isi dalam prasasti sebagian besar merupakan titah dan ketentuan-ketentuan yang dikeluarkan raja, untuk mengatur daerah-daerahnya yang mengalami kesulitan atau permasalahan pada rakyatnya, baik dibidang ekonomi, religi, dan sosial budaya. Salah satu permasalahan yang tidak luput dari perhatian raja masa Bali Kuno adalah terkait aktivitas masyarakat dalam kaitannya dengan air.

Pemuliaan air yang dilakukan oleh masyarakat Bali Kuno tampaknya dilakukan dengan pola sistem atau sesuai dengan siklus air, mulai dari perlindungan pohon-pohon di hutan bagian hulu hingga di daerah aliran sungai.

Menurut Epigraf I Gde Semadi Astra pada tahun 2010 dalam artikelnya menyebutkan, raja pada masa Bali Kuno telah mengeluarkan aturan dalam prasastinya seperti pada Buwahan D (1103 Saka) yang menyebutkan ada beberapa pohon yang dilarang untuk ditebang seperti kemiri, bodhi dan beringin. Selanjutnya dalam prasasti Buwahan B (947 Saka), menyebutkan larangan untuk mebuka lahan baru, atau alih fungsi hutan.

Memang secara langsung tidak menyertakan alasan-alasan larangan tersebut oleh raja, namun dari keputusan yang dimuat dalam prasasti menunjukan bahwa raja dan masyarakat saat itu sadar betul dengan kelestarian lingkungan. Jika dilihat dari bentuk larangan seperti penebangan pohon dan pembukaan lahan hutan, itu adalah bagian dari ekosistem air, karena beberapa pohon seperti beringin merupakan dari penghasil air dan demikian pula keberadaan hutan yang luas juga mendukung jumlahnya debit air yang akan dihasilkan.

Pada daerah aliran sungai (DAS) air kemudian dimanfaatkan secara praktis, baik untuk keperluan rumah tangga maupun untuk irigasi pertanian. Bagi masyarakat Bali Kuno air yang mengalir di DAS tidak hanya semata untuk kepentingan secara praktis, namun mereka menganggap sebagai daerah yang sakral dan suci. Hal tersebut dapat diketahui dengan banyaknya situs-situs kuno tempat suci yang dibangun dibibir sungai seperti di DAS Pakerisan dan Petanu yang berada didaerah Gianyar.

Situs kuno yang berada di DAS Pakerisan misalnya dari hulu terdapat situs Stupa Pegulingan dan petirtaan Tirta Empul di Desa Manukaya yang tercatat dalam prasasti direnovasi pada tahun 960 Masehi. Kearah selatan dipinggiran sungai berikutnya terdapat situs petirtaan Pura Mengening yang memiliki debit air yang tinggi seperti tirta empul dan sampai saat ini kedua situs tersebut masih disakralkan dan dijadikan tempat untuk melukat.

Gambar: Komplek Petirtaan Pura Tirta Empul Desa Manukaya Tampaksiring dalam dokumentasi kuno (Sumber: id.pinterest.com)

Masih didaerah Tampaksiring Gianyar, di DAS Pakerisan terdapat juga situs Candi gunung Kawi yakni sebuah candi yang dipahatkan pada dinding tebing DAS yang dilengkapi dengan ceruk-ceruk pertapaan kuno. Candi Gunung Kawi merupakan tempat pendharmaan keluarga Raja Udayana beserta anak-anak beliau Marakata dan Anak Wungsu yang melanjutkan pemerintahannya.

Adanya ceruk-ceruk pertapaan menandakan bahwa sungai bagi masyarakat Bali Kuno tidak hanya untuk kebutuhan hidup secara biologis, namun juga penting untuk kegiatan spiritualitas seperti bertapa karena memberikan suasana sejuk dengan irama aliran sungai yang menenangkan.

Pemanfaatan daerah aliran sungai dengan karakter yang sama dengan keberadaan situs-situs kuno berlanjut hingga pada bagian hilir di daerah pesisir pantai. Saking banyaknya tidak cukup untuk disebutkan dalam tulisan ini, tidak mungkin bisa disampaikan dalam satu tulisan esai, sebaiknya pembaca telusuri lebih dalam pada buku-buku sejarah lainnya.

Kutipan-kutipan data sejarah tersebut yang dituliskan dalam esai ini sifatnya untuk memperkuat bahwa masyarakat Bali kuno sudah sadar betul terhadap keberadaan air. Kepedulian pada air tidak hanya dalam bentuk forum-forum semata, namun pada prinsipnya telah dilakukan dengan aksi terhadap ekosistem air yang dimulai dengan menerapkan aturan yang dikeluarkan raja dan dalam bentuk pemujaan dalam wujud situs-situs yang bersifat sakral dan suci. [T]

Jelajah Sungai dalam Sastra dan Sarira
Hutang Budi kepada Petani: Kesaksian Sastra Kawi dan Bali
“Nglebur Basa Gegawan”: Strategi Adaptasi Diri Seorang Ida Padanda Made Sidemen
World Water Forum dan Riwayat Air Bali Kini
Tags: airbali kunosastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Alusi dan Ihwal yang Belum Selesai dalam “Bolang dari Baon”

Next Post

Honor Tulisan dan Kreativitas Penulis

Kadek Edi Palguna

Kadek Edi Palguna

I Kadek Edi Palguna, kelahiran Tampaksiring, Gianyar, Bali. Lulusan Arkeologi Udayana dan Kajian Budaya Udayana, sekarang aktif sebagai Dosen Ilmu Budaya di Kampus STAHN Mpu Kuturan Singaraja. Aktif sebagai anggota dalam organisasi PAEI (Perkumpulan Ahli Epigrafi Indonesia Komda Bali).

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Telenovela

Honor Tulisan dan Kreativitas Penulis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co