24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sikap Raja dan Masyarakat Terhadap Air dalam Peradaban Bali Kuno

Kadek Edi Palguna by Kadek Edi Palguna
May 21, 2024
in Esai
Sikap Raja dan Masyarakat Terhadap Air dalam Peradaban Bali Kuno

Danau Tamblingan | Foto: Edi Palguna

BALI bisa dibilang sangat rutin untuk menjadi tuan rumah dalam helatan forum internasional, pada pertengahan bulan ini dari tanggal 18-25 Mei 2024 kembali dipercaya menjadi tempat penyelenggaraan WWF (World Water Forum) ke-10. Perhelatan WWF ini cukup penting, baik dalam usaha perlindungan air dan masa depan pijakan setiap umat manusia. Pembicaraan tentang air dilakukan langsung oleh para kepala negara anggota dan para tokoh dunia, salah satunya ada Elon Musk sebagai pemilik Space X.

Terpilihnya Bali tentunya telah melewati berbagai syarat untuk kegiatan ini. Salah satunya adalah adanya ekosistem subak sebagai pengelola air tradisional Bali dalam kegiatan irigasi pertanian. Subak dalam konteks persawahan secara teknis sama dengan teknik pertanian di daerah lainnya yang pada prinsipnya sebagai ketahanan pangan masyarakat.

Nah, mungkin ini salah satu keunikannya, dalam konteks budaya warga subak yakni petani tidak hanya berpacu dengan peningkatan hasil, namun selalu melakukan penyelarasan dengan alam dan sang pencipta, dalam bentuk pemuliaan yang diwujudkan dalam berbagai ritual dan prilaku warga yang berlandaskan konsep Tri Hita Karana.

Pemulian yang dilakukan seakan sawah, air dan padi ibarat dewa yang sangat dihormati, terlihat dari awal proses Bertani masyarakat subak melaksanakan berbagai ritual, mulai dari mapag toya (menyambut air), nuasen dan mubuin (bajak sawah), biukukung (saat padi mulai berbuah), mantik padi (upacara memanen padi), dan mendak nini (padi setelah panen).

Alasan berikutnya ialah tidak terlepas dari banyaknya aktivitas keagamaan dan kebudayaan Bali yang tak terlepas dari penggunaan air, misalnya melukat, melasti dan penggunaan tirta dalam kegiatan upacara. Dalam kegiatan budaya masyarakat Bali telah menunjukkan dalam berbagai bentuk seperti berkembangnya mitos-mitos tentang sumber air, dan pembangunan tempat-tempat suci disekitar sumber air.

Budaya tersebut tidak terlepas dari proses pemuliaan air dan keberlangsungannya sampai pada masa berikutnya. Dan pertanyaannya sejak kapan pemuliaan air di Bali dilakukan?, mari kita telusuri dalam beberapa bukti catatan kuno dan tinggalan arkeologi lainnya.     

Catatan kuno di Bali terdiri dari beberapa jenis, seperti lontar dan prasasti. Sampai saat ini catatan kuno yang tertua adalah berupa prasasti, yang terbuat dari logam dan batu sehingga bisa bertahan hingga ribuan tahun dengan jumlah yang cukup banyak. Prasasti tersebut mencantumkan banyak nama raja pada masa Bali Kuno dari abad ke-9 hingga ke 14 Masehi secara keberlanjutan dari Raja Sri Kesari Warmadewa yang pertama hingga yang ke-23 Raja Sri Astasura Ratnabhumibanten.

Prasasti pada masa Bali Kuno menggunakan Bahasa Bali Kuno dan Jawa Kuno, yang ditulis dengan huruf Bali Kuno dan Jawa Kuno. Prasasti-prasasti tersebut sudah dialih aksarakan oleh Epigraf yang bernama Goris pada Tahun 1954, yang kemudian dikutip oleh para peneliti selanjutnya termasuk dalam tulisan ini.

Isi dalam prasasti sebagian besar merupakan titah dan ketentuan-ketentuan yang dikeluarkan raja, untuk mengatur daerah-daerahnya yang mengalami kesulitan atau permasalahan pada rakyatnya, baik dibidang ekonomi, religi, dan sosial budaya. Salah satu permasalahan yang tidak luput dari perhatian raja masa Bali Kuno adalah terkait aktivitas masyarakat dalam kaitannya dengan air.

Pemuliaan air yang dilakukan oleh masyarakat Bali Kuno tampaknya dilakukan dengan pola sistem atau sesuai dengan siklus air, mulai dari perlindungan pohon-pohon di hutan bagian hulu hingga di daerah aliran sungai.

Menurut Epigraf I Gde Semadi Astra pada tahun 2010 dalam artikelnya menyebutkan, raja pada masa Bali Kuno telah mengeluarkan aturan dalam prasastinya seperti pada Buwahan D (1103 Saka) yang menyebutkan ada beberapa pohon yang dilarang untuk ditebang seperti kemiri, bodhi dan beringin. Selanjutnya dalam prasasti Buwahan B (947 Saka), menyebutkan larangan untuk mebuka lahan baru, atau alih fungsi hutan.

Memang secara langsung tidak menyertakan alasan-alasan larangan tersebut oleh raja, namun dari keputusan yang dimuat dalam prasasti menunjukan bahwa raja dan masyarakat saat itu sadar betul dengan kelestarian lingkungan. Jika dilihat dari bentuk larangan seperti penebangan pohon dan pembukaan lahan hutan, itu adalah bagian dari ekosistem air, karena beberapa pohon seperti beringin merupakan dari penghasil air dan demikian pula keberadaan hutan yang luas juga mendukung jumlahnya debit air yang akan dihasilkan.

Pada daerah aliran sungai (DAS) air kemudian dimanfaatkan secara praktis, baik untuk keperluan rumah tangga maupun untuk irigasi pertanian. Bagi masyarakat Bali Kuno air yang mengalir di DAS tidak hanya semata untuk kepentingan secara praktis, namun mereka menganggap sebagai daerah yang sakral dan suci. Hal tersebut dapat diketahui dengan banyaknya situs-situs kuno tempat suci yang dibangun dibibir sungai seperti di DAS Pakerisan dan Petanu yang berada didaerah Gianyar.

Situs kuno yang berada di DAS Pakerisan misalnya dari hulu terdapat situs Stupa Pegulingan dan petirtaan Tirta Empul di Desa Manukaya yang tercatat dalam prasasti direnovasi pada tahun 960 Masehi. Kearah selatan dipinggiran sungai berikutnya terdapat situs petirtaan Pura Mengening yang memiliki debit air yang tinggi seperti tirta empul dan sampai saat ini kedua situs tersebut masih disakralkan dan dijadikan tempat untuk melukat.

Gambar: Komplek Petirtaan Pura Tirta Empul Desa Manukaya Tampaksiring dalam dokumentasi kuno (Sumber: id.pinterest.com)

Masih didaerah Tampaksiring Gianyar, di DAS Pakerisan terdapat juga situs Candi gunung Kawi yakni sebuah candi yang dipahatkan pada dinding tebing DAS yang dilengkapi dengan ceruk-ceruk pertapaan kuno. Candi Gunung Kawi merupakan tempat pendharmaan keluarga Raja Udayana beserta anak-anak beliau Marakata dan Anak Wungsu yang melanjutkan pemerintahannya.

Adanya ceruk-ceruk pertapaan menandakan bahwa sungai bagi masyarakat Bali Kuno tidak hanya untuk kebutuhan hidup secara biologis, namun juga penting untuk kegiatan spiritualitas seperti bertapa karena memberikan suasana sejuk dengan irama aliran sungai yang menenangkan.

Pemanfaatan daerah aliran sungai dengan karakter yang sama dengan keberadaan situs-situs kuno berlanjut hingga pada bagian hilir di daerah pesisir pantai. Saking banyaknya tidak cukup untuk disebutkan dalam tulisan ini, tidak mungkin bisa disampaikan dalam satu tulisan esai, sebaiknya pembaca telusuri lebih dalam pada buku-buku sejarah lainnya.

Kutipan-kutipan data sejarah tersebut yang dituliskan dalam esai ini sifatnya untuk memperkuat bahwa masyarakat Bali kuno sudah sadar betul terhadap keberadaan air. Kepedulian pada air tidak hanya dalam bentuk forum-forum semata, namun pada prinsipnya telah dilakukan dengan aksi terhadap ekosistem air yang dimulai dengan menerapkan aturan yang dikeluarkan raja dan dalam bentuk pemujaan dalam wujud situs-situs yang bersifat sakral dan suci. [T]

Jelajah Sungai dalam Sastra dan Sarira
Hutang Budi kepada Petani: Kesaksian Sastra Kawi dan Bali
“Nglebur Basa Gegawan”: Strategi Adaptasi Diri Seorang Ida Padanda Made Sidemen
World Water Forum dan Riwayat Air Bali Kini
Tags: airbali kunosastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Alusi dan Ihwal yang Belum Selesai dalam “Bolang dari Baon”

Next Post

Honor Tulisan dan Kreativitas Penulis

Kadek Edi Palguna

Kadek Edi Palguna

I Kadek Edi Palguna, kelahiran Tampaksiring, Gianyar, Bali. Lulusan Arkeologi Udayana dan Kajian Budaya Udayana, sekarang aktif sebagai Dosen Ilmu Budaya di Kampus STAHN Mpu Kuturan Singaraja. Aktif sebagai anggota dalam organisasi PAEI (Perkumpulan Ahli Epigrafi Indonesia Komda Bali).

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Telenovela

Honor Tulisan dan Kreativitas Penulis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co