25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

World Water Forum dan Riwayat Air Bali Kini

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
May 18, 2024
in Opini
World Water Forum dan Riwayat Air Bali Kini

Pertunjukan Cak Air “GanggaRam” / Foto: Dok. I Nyoman Mariyana, 2023. Foto hanya ilustrasi

INDONESIA didapuk sebagai tuan rumah ajang internasional dan Bali ditunjuk sebagai lokasi pelaksanaan kegiatan. Perhelatan World Water Forum ke-10 menambah deretan forum internasional yang pernah terselenggara di Bali. Akankah forum internasional ini akan memberi dampak nyata bagi masyarakat Bali, atau justru masyarakat Bali hanya akan menjadi penonton di rumah sendiri?

Forum internasional yang digelar oleh World Water Council (WWC) tersebut menjadi sebuah ajang yang membahas isu-isu air, khususnya merumuskan kebijakan tata kelola air dan sanitasi dunia. Konon, forum ini hadir dalam rangka mencari solusi atas meningkatnya kebutuhan air global, namun di satu sisi akses terhadap air yang berkualitas dan berkelanjutan justru semakin sulit.

Manuskrip Kuno Bali Melihat Air

Bali sungguh beruntung karena dianugerahkan begitu banyak teks-teks kuno yang membicarakan soal pemuliaan air. Artinya sejak masa kerajaan, air telah mendapat perhatian khusus oleh seluruh komponen di Bali. Salah satu warisan leluhur yang sampai hari ini masih diakui keberadaannya adalah subak.

Subak sebagai salah satu warisan dunia yang diakui oleh UNESCO adalah salah satu bukti bahwa Bali memiliki sistem pengelolaan air yang mutakhir dan masih relevan sampai hari ini. Selain subak, salah satu manuskrip banyak dibahas di dalam buku ini adalah teks Kuttara Kanda Dewa Purana Bangsul.

Dalam teks ini terdapat satu konsep tata kelola ekosistem, yakni sad krti yang diartikan sebagai enam tindakan memuliakan alam semesta. Konsep sad krti terdiri dari giri krti, wana krti, sagara krti, ranu krti, swi krti, dan jagat krti. Mengingat salah satu fokus Indonesia di ajang ini adalah pemeliharaan dan pengelolaan air danau, maka konsep ranu krti menjadi salah satu konsep yang relevan diaplikasikan dan diusulkan.

Menjaga kelestarian danau adalah poin penting dalam konsep ranu krti, mengingat hal tersebut adalahupaya menjaga kehidupan seluruh mahluk hidup. Danau dipercaya sebagai penyebab keteduhan hujan, mengalirkan air dalam jangka panjang, serta membawa amerta bagi segala jenis tumbuh-tumbuhan yang ditanam. Jika diibaratkan dengan anatomi tubuh manusia, danau adalah jantung yang bertugas memompa darah ke seluruh bagian tubuh agar seluruh organ dapat bekerja sesuai dengan fungsinya.

Catur Danu: Ibu Bali

Bali sendiri memiliki 4 (empat) danau yang menjadi kawasan resapan air dan sekaligus menjadi sumber kehidupan bagi sebagian besar Pulau Bali. Empat danau tersebut sering juga disebut sebagai Catur Danu. Empat danau tersebut meliputi, Danau Batur, Danau Buyan, Danau Bratan, dan Danau Tamblingan.

Dalam teks Kuttara Kanda Dewa Purana Bangsul, Catur Danu adalah konsep untuk memuliakan keberadaan danau. Dalam teks tersebut dikisahkan bahwa Bhatara Guru menggelar yoga, dari yoga tersebut muncullah gundukan tanah yang semakin tinggi dan kemudian menjadi sebuah gunung. Setelah itu, Bhatara Girinata dan Bhatari Giriputri kembali melakukan yoga untuk menciptakan Catur Danu di Pulau Bali.

Oleh Bhatara Girinata dan Bhatari Giriputri ditugaskanlah empat dewi yang merupakan Sanak Bhatari Giriputri. Empat dewi tersebut, yakni Bhatari Uma berstana di Danau Batur, Bhatari Gangga berstana di Danau Buyan, Bhatari Laksmi berstana di Danau Bratan, dan Bhatari Gori berstana di Danau Tamblingan.

Melalui Konsep Catur Danu yang merupakan kahyangan bagi Catur Dewi menunjukkan bahwa keempat danau di Bali ditempatkan selayaknya seorang ibu yang memberi kehidupan bagi anak-anaknya—dalam hal ini adalah mahluk hidup di kawasan hilir. 

Konektivitas Hulu-Teben

Hubungan antara masyarakat di kawasan hulu (baca: pemelihara dan penjaga kawasan danau) dengan masyarakat di kawasan hilir (baca: penerima manfaat) menjadi penting untuk dirawat. Dalam tulisan ini akan diurai secara ringkas hubungan antara masyarakat hulu-teben di kawasan Danau Tamblingan.

Masyarakat Catur Desa Adat Tamblingan (Munduk, Goblek, Gesing, dan Umajero) adalah pangempon yang bertugas untuk menjaga dan memelihara wilayah sumber air di kawasan Danau Tamblingan, tidak terkecuali Alas Merta Jati. Bagi masyarakat setempat, air adalah media untuk menyucikan segala hal yang kotor. Oleh karena itu, proses pensakralan selalu dilaksanakan.

Prosesi Mapag Bhatara Penghulu adalah prosesi penyucian dengan melaksanakan melasti ke Pura Labuan Aji. Prosesi ini adalah bagian dari rangkaian panjang Alilitan Karya. Dua tujuan utama dari prosesi ini, membersihkan alam dan manusia dari hal-hal buruk, serta berbagi kesejahteraan. Masyarakat Catur Desa Adat Tamblingan berjalan sejauh 21 km selama proses melasti tersebut.

Sepanjang perjalanan ini prosesi umpan balik terjadi. Seluruh masyarakat yang dilalui dalam prosesi Mapag Bhatara Penghulu ke Pura Labuan Aji, menghaturkan sembah bakti dan menyuguhkan makanan dan minuman kepada pengiring Ida Bhatara Penghulu. Menariknya lagi, setelah tiga hari Ida Bhatara Penghulu di Segara Pura Labuan Aji untuk melarung kekotoran, pada tengah malam Ida Bhatara Penghulu kembali dengan mengambil rute berbeda. Hal ini diyakini dapat menyebarluaskan kesejahteraan yang dibawa dari aliran Danau Tamblingan.

Konsep yang telah diuraikan sebelumnya, seharusnya dapat diterapkan di dalam birokrasi pemerintahan, khususnya di Bali. Kawasan hilir seperti, Denpasar, Badung Gianyar, Klungkung, dan Karangasem dapat memberi insentif terhadap kawasan hulu dalam rangka menjaga, memelihara, dan melaksanakan ritus-ritus pemuliaan air yang tidak sedikit membutuhkan biaya.

Riwayat Air Bali Kini

Kosmologi dan ritus dalam berbagai manuskrip yang diwariskan tidak akan bertahan lama apabila tidak ada aksi nyata sebagai penunjang. Nyatanya, tata kelola air yang buruk justru mendatangkan berbagai bencana alam di Bali. Layaknya rutinitas, banjir dan tanah longsor selalu datang tatkala di musim penghujam. Tidak jarang, di beberapa daerah justru mengalami kekeringan di kala musim kemarau.

Desa Ban, Kecamatan Kubu, Karangasem adalah tempat yang 180 derajat berbeda dengan hingar bingar di Bali wilayah selatan. Keberlimpahan air tidak dirasakan oleh warga di desa ini. Kesulitan mengakses air kerap kali dialami oleh warga Desa Ban. Dalam sebuah cerita yang diakses di salah satu media jurnalisme warga di Bali, di sebuah sekolah di Desa Ban hanya memiliki satu pipa penyaluran air, itu pun menetesnya tidak jauh.

Sekitar tahun 2017, saya bersama teman-teman FPMHD-Unud dan KMHD Stikom Bali melaksanakan pengabdian masyarakat di Desa Ban. Bersama dengan program Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD), kami membangun jejaring saluran air menggunakan pipa-pipa yang kami bawa dari Denpasar. Tentu apa yang kami lakukan belum menyelesaikan persoalan masyarakat di sana, perlu keseriusan pemerintah setempat untuk menanggulangi masalah tersebut.

Bicara soal air, saya teringat dengan tulisan I Ngurah Suryawan berjudul “Subak Nyebak yang Antah Berantah”. Hingga kini subak selalu dibanggakan oleh masyarakat Bali dan dunia, tapi siapa yang peduli bahwa petani kini semakin sulit untuk mempertahankan sawahnya?

Laporan Mongabay dalam I Ngurah Suryawan menjelaskan bahwa para petani subak di Jatiluwih tidak lagi bisa bertahan hanya dengan bermodalkan sawah di kawasan terasering. Nyatanya, kini petani telah berusaha untuk mengais remah-remah pariwisata dari datangnya wisatawan untuk menikmati pemandangan dari sawah-sawah yang mereka rawat. Bahkan, para petani harus membuat pintu dan jeruji besi agar pematang sawah tidak dirusak oleh wisatawan.

Bicara air adalah bicara soal kepiluan sekaligus ironi bagi Bali. Romantisasi terhadap suksesnya Bali mengelola air semakin terwujud dengan diunggahnya pelbagai sumber air melimpah di Bali. Lantas bagaimana nasib warga Desa Ban misalnya yang sampai detik ini masih kesulitan mengakses air bersih dan berkualitas?

Kembali ke pertanyaan awal. Seberapa besar kebermanfaatan World Water Forum ke-10 bagi masyarakat Bali, setidaknya bagi warga Desa Ban? Atau mungkinkah masyarakat Bali hanya akan menjadi penonton di rumah sendiri? Semoga saja tidak. [T]

Baca artikel lain dari penulis  TEDDY CHRISPRIMANATA PUTRA

“Asuh Kayuan”, Program Mengasuh Mata Air di Desa Pedawa
Yang Tersisa dari Karya Agung Danu Kerthi di Danau Batur (2): Bersatunya Air Suci dari Tiga Pulau di Danau Batur
Mesaba di Subak Aya Pemanis, Penebel, Tabanan: Dari Upacara Air ke Kuning Padi
Tags: airkrisis air di BaliWorld Water Forum
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kadek Merta, Tentang Jukut Rambanan, Cinta, dan Gerobak Silver di Jalan A Yani Singaraja

Next Post

Wayan Sudiarta dan Kopi Rempah Jiro di Sela Dingin Jatiluwuh

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post
Wayan Sudiarta dan Kopi Rempah Jiro di Sela Dingin Jatiluwuh

Wayan Sudiarta dan Kopi Rempah Jiro di Sela Dingin Jatiluwuh

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co