14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kadek Merta, Tentang Jukut Rambanan, Cinta, dan Gerobak Silver di Jalan A Yani Singaraja

Pande Putu Jana Wijnyana by Pande Putu Jana Wijnyana
May 18, 2024
in Khas
Kadek Merta, Tentang Jukut Rambanan, Cinta, dan Gerobak Silver di Jalan A Yani Singaraja

Kadek Merta sedang menjajakan dagangannya | Foto: Pande

“DALAM sehari, hampir 24 jam saya bergulat dengan sayur!” Begitu kata Kadek Merta dengan ditemani gerobak stainless steel silver-nya yang khas.

Iya betul, Kadek Merta bergulat dengan sayur dari subuh hingga tengah malam. Entah hanya berapa jam yang Merta butuhkan untuk merasakan kasur dan bantal guling di rumahnya. Pria kelahiran Desa Banjar itu hidupnya sudah sejak tahun 1990 bergantung pada berjualan jukut alias sayur.

Ia menjual jukut rambanan, semacam sayuran campur dengan bumbu khas, sehari-hari berjualan keliling di Kota Singaraja, Bali, terutama di kawasan Jalan Ahmad Yani.   

“Saya menjual jukut rambanan. Dulu saat masih muda, saya berjualan jukut cantok di desa,” tutur Merta.

Kadek Merta sedang melayani pembeli | Foto: Pande

Keputusannya untuk menjual jukut rambanan ternyata ada sangkut-pautnya dengan kisah cinta Merta dan sang istri. Dulu istrinya memang berdagang jukut rambanan. Ia sendiri menjual jukut cantok. Setelah menikah, Merta memilih untuk menjual apa yang dijual istrinya, yakni jukut rambanan.  Memilih untuk menjual jukut rambanan, ia seakan membuktikan cintanya pada sang istri.

“Kebetulan dulu jukut rambanan memang banyak peminatnya,” tutur Merta. Ia begitu romantis mengingat momen paling manis dalam hidupnya.

Umurnya yang setengah abad tak menghentikan geraknya untuk mendorong gerobak yang penuh dengan barang dagangannya. Masih membayangkan dari subuh hingga ke tengah malam lagi, itu bukanlah waktu yang singkat. Ia masih terlihat sehat dan bugar. Tubuhnya masih tegap tak tergoyahkan jaman.

“Subuh beli bahan dulu, di sini dekat rumah di Pasar Anyar,” tuturnya sembari menunjukkan letak pasar itu.

Pukul 04.00 WITA, ketika  alarm berbunyi ia bangun dari mimpi. Siapa sangka, melawan dinginnya angin subuh. Ia harus bergegas menemani sang istri membeli segala keperluan berdagang mereka. Jaket setebal apapun yang dipakainya, masih kalah hangat dengan pelukan istrinya ketika berboncengan menuju Pasar Anyar.

Setelah istirahat sebentarm, sekira pukul 09.00 WITA, ia mulai bertempur dengan segala peralatan dapur di tangannya. Ia mulai mempersiapkan segala macam keperluan yang akan ia jajakan. Merta bertugas di bagian memasak sayur sementara istrinya sibuk mempersiapkan dagangan lainnya.

Tampilan jukut rambanan dengan baluran bumbu kuning | Foto: Pande

Cahaya matahari masih cukup terik, sengatan panasnya kian menukik masih terasa hangat merambat ke seluruh tubuh. Ia tetap bersiap dan bersemangat untuk kembali mendorong gerobak silver kesayangannya itu.

“Dulu saya pakai nampan bambu untuk berjualan. Kini pakai gerobak,” tutur Merta mencoba mengorek kembali ingatannya yang lampau.

Ternyata ada momen sedihnya ketika ia berjualan dengan menggunakan nampan. Bahkan momen sedih itu sampai terjadi tiga kali. Nampan yang tidak begitu kokoh menopang berbagai macam barang dagangannya, seringkali terjatuh, dan barang dagangannya berserakan di jalanan. Ia harus pulang lebih dulu karena musibah itu tidak ada yang tahu.

“Dulu kadang berjalan kaki, kadang memakai sepeda motor sambil membonceng istri, di situ sering jatuh dagangannya,” tambah Merta bercerita.

Dulu ada si hijau, sebuah gerobak kayu yang menemaninya berkeliling, sayangnya si hijau harus purnatugas tahun lalu. “Sudah terlalu tua, makanya perlu si silver menggantikan posisi itu!” kata Merta sembari memegang gerobak baru hasil kerja kerasnya selama ini.

***

Tin-tin-tin, riuh klakson kendaraan saling bersahutan, satu-persatu pengendara mulai memadati jalan di Kota Singaraja yang sering disebut sebagai kota pendidikan itu. Ada yang pulang dari tempat bekerja, ada yang pulang dari bangku sekolah, dan ada yang bergegas menjemput sang pujaan hati untuk sekadar menikmati sunset di pantai penimbangan.

Kadek Merta biasa dipanggil dengan nama Kadek Rambanan oleh pelanggannya. Tentu karena jukut rambanan seperti identik dengan lelaki itu.

Tepat pukul 15.00 WITA sudah dapat dipastikan ia mangkir dan menghentikan laju gerobaknya itu persis di depan Bank BTN di Jalan Ahmad Yani . Bak raja jalanan, setiap sudut Jalan A Yani Barat (depan Toko Hp Badilan) hingga depan Toko Warna Fuji, ia senantiasa dikenal orang.

“Sudah 30 tahun rasanya. Awal berdagang itu berkeliling di Jalan Kakaktua, sampai mencoba tantangan baru di A Yani,” katanya.

Ia tak memiliki niat sekalipun untuk membuka sebuah warung makan. Dengan keliling berjalan kaki baginya bisa lebih sehat untuk kesehatan tubuhnya, apalagi menggaet pembeli jadi lebih gampang.

Ketika pertama kali melihatnya, barangkali orang-orang akan bingung. Sebenarnya Kadek Merta sedang berjualan apa? Di gerobaknya tak ada tulisan yang berisi daftar menu atau nama dagangan yang dijual. Bisa dibilang sangat jauh berbeda dengan pedagang gerobak keliling lainnya yang selalu mencantumkan berbagai macam menu di dagangan mereka.

 “Gampang, ada nomor handphone catat saja tinggal dihubungi!” Begitu ucap Merta dengan tertawa khasnya menawarkan dengan cara yang lebih praktis.

Gerobaknya bisa dibilang hampir tidak dapat terdeteksi. Ramainya bak pasar malam, di sudut kiri hadir berbagai macam jenis kerupuk bergelayutan, sedangkan bagian depannya dipenuhi rentengan es serbuk yang bergelantungan. Semua tertata dengan rapi, hampir setiap celah ia isi dengan berbagai macam barang dagangannya, termasuk lumpia goreng dan jajanan khas bali buatan langsung dari istri tercinta.

“Ada jukut rambanan dan jukut plecing kables!” Begitu jawabnya ketika ditanya.

Apa sesungguhnya jukut ramabanan itu, dan apa bedanya dengan jukut plecing kables?

Sambil mengambil selembar kertas minyak di laci atas gerobaknya, Kadek Merta coba menjelaskan perlahan. Rambanan itu sayur dengan bumbu kuning yang khas, lebih banyak ditemukan di wilayah Bali Utara, namun semakin berganti tahun, semakin sedikit pula yang menjualnya.

Sekilas dilihat, isiannya seperti sayur pecel, ada kangkung, toge dan juga kacang panjang, tapi di rambanan, ada tambahan sedikit ketimun yang sepertinya sudah direbus terlebih dahulu.

“Jukut rambanan favorit para pembeli di sini,” seru Merta dengan senyumnya yang khas.

Rambanan menjadi salah satu sayur yang saya putuskan untuk dibeli. “Bumbu kuningnya dari basa genep (bumbu khas bali dengan bahan-bahan seperti lengkuas, kencur, jahe, cabai merah, bawang merah dan putih, kunyit, serai, ketumbar, kemiri, serta cabai rawit) tapi jahenya itu jangan terlalu banyak, nanti agak terlalu pahit,” kata Kadek Merta.

Potret gerobak si hijau yang dulu pernah dipakai Kadek Merta untuk berjualan | Foto: Dok

Bumbu kuning itu terlihat lebih kental. “Ada tambahan beras yang dihaluskan, dicampur dengan basa genep, kemudian direbus sampai agak mengental,” tutur Merta. Tambahan pedasnya bukan sembarangan sambal, langsung ditambahkan dengan sambal embe, salah satu sambal khas bali terbuat dari cabai, bawang putih dan merah, di goreng dengan minyak kelapa.

Oh iya, plecing kables, isian sayurnya masih sama dengan sayur rambanan, hanya saja yang membedakan di bumbunya. Kelapa yang telah diparut ditaruh di atas sayur kemudian disirami kuah bumbu plecing yang nampak merah menyala.

“Kalau bumbu kables berbeda lagi, lebih mirip bumbu plecing, ada cabai rawitnya, tomat, ditambah sedikit perasan jeruk limo penambah cita rasa,” jelas Merta membagikan ilmu memasaknya sembari memperagakan tangannya.

Keduanya menu itu dihargai Rp. 5,000 saja sebungkus. Harga itu tentu saja sangat terjangkau, apalagi dengan porsinya yang lumayan banyak.

Perpaduan campuran sayur dan bumbu kuning memang sangat ciamik. Rempah-rempah yang khas sangat memanjakan lidah ketikadisantap. Pantas saja orang-orang ketagihan dengan jukut rambanan ini. Pedasnya jangan ditanya, sambal embe memang tidak ada duanya lagi. Tiga sampai empat gelas air, acap kali diminum pelanggan untuk menghilangkan rasa terbakar di mulut. Nasi hangat sudah menjadi teman yang paling pas untuk menenangkannya.

“Sayur itu pahit, sayur itu jelek, padahal khasiatnya sangatlah banyak,” kata Merta menjelaskan kenyataan yang ada saat ini.

Dulu sayur masih menjadi primadona namun kenyataan saat ini jauh berbeda. Sangat jarang ditemui anak-anak jaman sekarang nasinya beratapkan lauk yang lebih umum berwarna hijau itu. Biasanya anak zaman sekarang nasinya lebih banyak beratapkan daging atau makanan-makanan modern yang datang dari luar.  

“Dulu jam 6 sore sudah di rumah, sekarang jauh berbeda, kadang sampai jam 12 malam pun masih tersisa sedikit,” tutur Merta.

Dulu, baru setengah jam berjualan, dagangannya sudah ludes dikerumuni pembeli. Namun kenyataan saat ini jauh berubah.

Sayur kini menjadi bahan makanan yang kian hari makin dilupakan. Serba praktis saja, sampai makanan pun harus berlabel siap saji.

 “Padahal sayur itu sumber serat terbaik untuk tubuh tapi mulai dilupakan,” ucap Merta dengan serius. [T]

Reporter: Pande Putu Jana Wijnyana
Penulis: Pande Putu Jana Wijnyana
Editor: Adnyana Ole

Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

Warung Suparmiasih, Menikmati Kopi Sambil Menyaksikan Sunset di Laut Utara Bali
Hari Buruh Sedunia: Kerja Keras Seorang Juru Parkir
Belajar dari Natalia, Perempuan yang Hobi Donor Darah
Tags: balibulelengjukut rambanankulinerkuliner khas baliSingaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tak Benjol Dihantam Pinjol

Next Post

World Water Forum dan Riwayat Air Bali Kini

Pande Putu Jana Wijnyana

Pande Putu Jana Wijnyana

Mahasiswa STAH Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

by Emi Suy
May 11, 2026
0
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

Read moreDetails

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

Read moreDetails

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

by Gading Ganesha
May 2, 2026
0
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

Read moreDetails

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026
0
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

Read moreDetails

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
0
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

Read moreDetails

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails
Next Post
World Water Forum dan Riwayat Air Bali Kini

World Water Forum dan Riwayat Air Bali Kini

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co