14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kadek Merta, Tentang Jukut Rambanan, Cinta, dan Gerobak Silver di Jalan A Yani Singaraja

Pande Putu Jana Wijnyana by Pande Putu Jana Wijnyana
May 18, 2024
in Khas
Kadek Merta, Tentang Jukut Rambanan, Cinta, dan Gerobak Silver di Jalan A Yani Singaraja

Kadek Merta sedang menjajakan dagangannya | Foto: Pande

“DALAM sehari, hampir 24 jam saya bergulat dengan sayur!” Begitu kata Kadek Merta dengan ditemani gerobak stainless steel silver-nya yang khas.

Iya betul, Kadek Merta bergulat dengan sayur dari subuh hingga tengah malam. Entah hanya berapa jam yang Merta butuhkan untuk merasakan kasur dan bantal guling di rumahnya. Pria kelahiran Desa Banjar itu hidupnya sudah sejak tahun 1990 bergantung pada berjualan jukut alias sayur.

Ia menjual jukut rambanan, semacam sayuran campur dengan bumbu khas, sehari-hari berjualan keliling di Kota Singaraja, Bali, terutama di kawasan Jalan Ahmad Yani.   

“Saya menjual jukut rambanan. Dulu saat masih muda, saya berjualan jukut cantok di desa,” tutur Merta.

Kadek Merta sedang melayani pembeli | Foto: Pande

Keputusannya untuk menjual jukut rambanan ternyata ada sangkut-pautnya dengan kisah cinta Merta dan sang istri. Dulu istrinya memang berdagang jukut rambanan. Ia sendiri menjual jukut cantok. Setelah menikah, Merta memilih untuk menjual apa yang dijual istrinya, yakni jukut rambanan.  Memilih untuk menjual jukut rambanan, ia seakan membuktikan cintanya pada sang istri.

“Kebetulan dulu jukut rambanan memang banyak peminatnya,” tutur Merta. Ia begitu romantis mengingat momen paling manis dalam hidupnya.

Umurnya yang setengah abad tak menghentikan geraknya untuk mendorong gerobak yang penuh dengan barang dagangannya. Masih membayangkan dari subuh hingga ke tengah malam lagi, itu bukanlah waktu yang singkat. Ia masih terlihat sehat dan bugar. Tubuhnya masih tegap tak tergoyahkan jaman.

“Subuh beli bahan dulu, di sini dekat rumah di Pasar Anyar,” tuturnya sembari menunjukkan letak pasar itu.

Pukul 04.00 WITA, ketika  alarm berbunyi ia bangun dari mimpi. Siapa sangka, melawan dinginnya angin subuh. Ia harus bergegas menemani sang istri membeli segala keperluan berdagang mereka. Jaket setebal apapun yang dipakainya, masih kalah hangat dengan pelukan istrinya ketika berboncengan menuju Pasar Anyar.

Setelah istirahat sebentarm, sekira pukul 09.00 WITA, ia mulai bertempur dengan segala peralatan dapur di tangannya. Ia mulai mempersiapkan segala macam keperluan yang akan ia jajakan. Merta bertugas di bagian memasak sayur sementara istrinya sibuk mempersiapkan dagangan lainnya.

Tampilan jukut rambanan dengan baluran bumbu kuning | Foto: Pande

Cahaya matahari masih cukup terik, sengatan panasnya kian menukik masih terasa hangat merambat ke seluruh tubuh. Ia tetap bersiap dan bersemangat untuk kembali mendorong gerobak silver kesayangannya itu.

“Dulu saya pakai nampan bambu untuk berjualan. Kini pakai gerobak,” tutur Merta mencoba mengorek kembali ingatannya yang lampau.

Ternyata ada momen sedihnya ketika ia berjualan dengan menggunakan nampan. Bahkan momen sedih itu sampai terjadi tiga kali. Nampan yang tidak begitu kokoh menopang berbagai macam barang dagangannya, seringkali terjatuh, dan barang dagangannya berserakan di jalanan. Ia harus pulang lebih dulu karena musibah itu tidak ada yang tahu.

“Dulu kadang berjalan kaki, kadang memakai sepeda motor sambil membonceng istri, di situ sering jatuh dagangannya,” tambah Merta bercerita.

Dulu ada si hijau, sebuah gerobak kayu yang menemaninya berkeliling, sayangnya si hijau harus purnatugas tahun lalu. “Sudah terlalu tua, makanya perlu si silver menggantikan posisi itu!” kata Merta sembari memegang gerobak baru hasil kerja kerasnya selama ini.

***

Tin-tin-tin, riuh klakson kendaraan saling bersahutan, satu-persatu pengendara mulai memadati jalan di Kota Singaraja yang sering disebut sebagai kota pendidikan itu. Ada yang pulang dari tempat bekerja, ada yang pulang dari bangku sekolah, dan ada yang bergegas menjemput sang pujaan hati untuk sekadar menikmati sunset di pantai penimbangan.

Kadek Merta biasa dipanggil dengan nama Kadek Rambanan oleh pelanggannya. Tentu karena jukut rambanan seperti identik dengan lelaki itu.

Tepat pukul 15.00 WITA sudah dapat dipastikan ia mangkir dan menghentikan laju gerobaknya itu persis di depan Bank BTN di Jalan Ahmad Yani . Bak raja jalanan, setiap sudut Jalan A Yani Barat (depan Toko Hp Badilan) hingga depan Toko Warna Fuji, ia senantiasa dikenal orang.

“Sudah 30 tahun rasanya. Awal berdagang itu berkeliling di Jalan Kakaktua, sampai mencoba tantangan baru di A Yani,” katanya.

Ia tak memiliki niat sekalipun untuk membuka sebuah warung makan. Dengan keliling berjalan kaki baginya bisa lebih sehat untuk kesehatan tubuhnya, apalagi menggaet pembeli jadi lebih gampang.

Ketika pertama kali melihatnya, barangkali orang-orang akan bingung. Sebenarnya Kadek Merta sedang berjualan apa? Di gerobaknya tak ada tulisan yang berisi daftar menu atau nama dagangan yang dijual. Bisa dibilang sangat jauh berbeda dengan pedagang gerobak keliling lainnya yang selalu mencantumkan berbagai macam menu di dagangan mereka.

 “Gampang, ada nomor handphone catat saja tinggal dihubungi!” Begitu ucap Merta dengan tertawa khasnya menawarkan dengan cara yang lebih praktis.

Gerobaknya bisa dibilang hampir tidak dapat terdeteksi. Ramainya bak pasar malam, di sudut kiri hadir berbagai macam jenis kerupuk bergelayutan, sedangkan bagian depannya dipenuhi rentengan es serbuk yang bergelantungan. Semua tertata dengan rapi, hampir setiap celah ia isi dengan berbagai macam barang dagangannya, termasuk lumpia goreng dan jajanan khas bali buatan langsung dari istri tercinta.

“Ada jukut rambanan dan jukut plecing kables!” Begitu jawabnya ketika ditanya.

Apa sesungguhnya jukut ramabanan itu, dan apa bedanya dengan jukut plecing kables?

Sambil mengambil selembar kertas minyak di laci atas gerobaknya, Kadek Merta coba menjelaskan perlahan. Rambanan itu sayur dengan bumbu kuning yang khas, lebih banyak ditemukan di wilayah Bali Utara, namun semakin berganti tahun, semakin sedikit pula yang menjualnya.

Sekilas dilihat, isiannya seperti sayur pecel, ada kangkung, toge dan juga kacang panjang, tapi di rambanan, ada tambahan sedikit ketimun yang sepertinya sudah direbus terlebih dahulu.

“Jukut rambanan favorit para pembeli di sini,” seru Merta dengan senyumnya yang khas.

Rambanan menjadi salah satu sayur yang saya putuskan untuk dibeli. “Bumbu kuningnya dari basa genep (bumbu khas bali dengan bahan-bahan seperti lengkuas, kencur, jahe, cabai merah, bawang merah dan putih, kunyit, serai, ketumbar, kemiri, serta cabai rawit) tapi jahenya itu jangan terlalu banyak, nanti agak terlalu pahit,” kata Kadek Merta.

Potret gerobak si hijau yang dulu pernah dipakai Kadek Merta untuk berjualan | Foto: Dok

Bumbu kuning itu terlihat lebih kental. “Ada tambahan beras yang dihaluskan, dicampur dengan basa genep, kemudian direbus sampai agak mengental,” tutur Merta. Tambahan pedasnya bukan sembarangan sambal, langsung ditambahkan dengan sambal embe, salah satu sambal khas bali terbuat dari cabai, bawang putih dan merah, di goreng dengan minyak kelapa.

Oh iya, plecing kables, isian sayurnya masih sama dengan sayur rambanan, hanya saja yang membedakan di bumbunya. Kelapa yang telah diparut ditaruh di atas sayur kemudian disirami kuah bumbu plecing yang nampak merah menyala.

“Kalau bumbu kables berbeda lagi, lebih mirip bumbu plecing, ada cabai rawitnya, tomat, ditambah sedikit perasan jeruk limo penambah cita rasa,” jelas Merta membagikan ilmu memasaknya sembari memperagakan tangannya.

Keduanya menu itu dihargai Rp. 5,000 saja sebungkus. Harga itu tentu saja sangat terjangkau, apalagi dengan porsinya yang lumayan banyak.

Perpaduan campuran sayur dan bumbu kuning memang sangat ciamik. Rempah-rempah yang khas sangat memanjakan lidah ketikadisantap. Pantas saja orang-orang ketagihan dengan jukut rambanan ini. Pedasnya jangan ditanya, sambal embe memang tidak ada duanya lagi. Tiga sampai empat gelas air, acap kali diminum pelanggan untuk menghilangkan rasa terbakar di mulut. Nasi hangat sudah menjadi teman yang paling pas untuk menenangkannya.

“Sayur itu pahit, sayur itu jelek, padahal khasiatnya sangatlah banyak,” kata Merta menjelaskan kenyataan yang ada saat ini.

Dulu sayur masih menjadi primadona namun kenyataan saat ini jauh berbeda. Sangat jarang ditemui anak-anak jaman sekarang nasinya beratapkan lauk yang lebih umum berwarna hijau itu. Biasanya anak zaman sekarang nasinya lebih banyak beratapkan daging atau makanan-makanan modern yang datang dari luar.  

“Dulu jam 6 sore sudah di rumah, sekarang jauh berbeda, kadang sampai jam 12 malam pun masih tersisa sedikit,” tutur Merta.

Dulu, baru setengah jam berjualan, dagangannya sudah ludes dikerumuni pembeli. Namun kenyataan saat ini jauh berubah.

Sayur kini menjadi bahan makanan yang kian hari makin dilupakan. Serba praktis saja, sampai makanan pun harus berlabel siap saji.

 “Padahal sayur itu sumber serat terbaik untuk tubuh tapi mulai dilupakan,” ucap Merta dengan serius. [T]

Reporter: Pande Putu Jana Wijnyana
Penulis: Pande Putu Jana Wijnyana
Editor: Adnyana Ole

Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

Warung Suparmiasih, Menikmati Kopi Sambil Menyaksikan Sunset di Laut Utara Bali
Hari Buruh Sedunia: Kerja Keras Seorang Juru Parkir
Belajar dari Natalia, Perempuan yang Hobi Donor Darah
Tags: balibulelengjukut rambanankulinerkuliner khas baliSingaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tak Benjol Dihantam Pinjol

Next Post

World Water Forum dan Riwayat Air Bali Kini

Pande Putu Jana Wijnyana

Pande Putu Jana Wijnyana

Mahasiswa STAH Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
0
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

Read moreDetails

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
0
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

Read moreDetails

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
0
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

Read moreDetails

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
0
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

Read moreDetails

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer,...

Read moreDetails

Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

PAGI itu, suasana Pantai Cemara, Sanur, mulai dipenuhi antusiasme. Meski sinar matahari sudah terasa menyengat, puluhan orang tetap bersemangat mengikuti...

Read moreDetails

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

by Rohmah Nia Chandra Sari
July 9, 2026
0
Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

RANGKAIAN ajang bergengsi Pekan Seni Mahasiswa FISIP (PEKSIMASIF) 2026 yang berlangsung selama tiga hari, sejak 28 hingga 30 April 2026,...

Read moreDetails

Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

by Chandra Manikan
July 9, 2026
0
Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

SAMPAI HARI INI, pupuh itu mengendap lebih lama di pikiranku. Buku “Bali, Pandemi, Refleksi: Dinamika Politik Kebijakan dan Kritisme Komunitas”,...

Read moreDetails

Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 8, 2026
0
Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

“SETIAP penyair kalau ia menyuarakan lukanya, ia sebenarnya menyuarakan luka manusia.” Kalimat itu meluncur dari Yahya Umar, Sabtu, 4 Juli...

Read moreDetails

Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 7, 2026
0
Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

AROMA kopi yang baru diseduh bercampur dengan wangi siobak dan tipat santok menyambut setiap langkah pengunjung di belakang panggung utama...

Read moreDetails
Next Post
World Water Forum dan Riwayat Air Bali Kini

World Water Forum dan Riwayat Air Bali Kini

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co