2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jelajah Sungai dalam Sastra dan Sarira

Putu Eka Guna Yasa by Putu Eka Guna Yasa
May 21, 2024
in Esai
Pawisik Durga, Galungan, dan Cinta Kasih

Putu Eka Guna Yasa

PEMBICARAAN mengenai air tak akan pernah usai. Sama seperti keberadaan air di dunia ini sebagai bagian dari unsur alam yang tak akan pernah habis. Meskipun demikian, belum ada yang menjamin kuantitas air akan sama di setiap daerah, pun tak ada yang dapat memastikan kualitas air akan sama di setiap zaman.

Yang pasti, air memiliki dwirupa. Dalam wujud tenang ‘shanta rupa’, air adalah kebutuhan pokok manusia untuk menghilangkan dahaga tubuh dan membasuh ruh dari segala kekotoran. Sementara air dalam wujud menakutkan ‘ugra rupa’ dapat meluluhlantahkan tatanan fisik maupun mengacaukan kehidupan sosial manusia.

Masih segar dalam ingatan, di penghujung tahun 2018 hanya dalam satu hari hujan, banyak wilayah di Bali yang banjir dan longsor di bilangan wilayah Gianyar memakan korban satu keluarga. Tidak hanya itu, gempa bumi di Sulawesi yang memicu Tsunami memakan ribuan korban. Termasuk pula erupsi Gunung Krakatau yang menyebabkan Tsunami di wilayah Selat Sunda meluluhlantahkan wilayah pesisir Selat Sunda.

Citra keganasan air dalam realitas di atas mengingatkan kita pada kisah Yadhu Parwa dalam kesusastraan Jawa Kuno. Dalam karya sastra itu, seluruh wangsa Yadhu tenggelam akibat kutukan Dewi Gandari atas kematian seluruh anaknya ketika perang Bharata Yuddha terjadi. Gandari, seorang ibu yang menyaksikan kepedihan atas kematian seratus putranya tidak merealisasikan sumpahnya secara langsung. Air lautlah yang mengeksekusi sumpah Gandari untuk membinasakan seluruh keturunan Krisna.

Dalam fragmen kisah ini, air seolah-olah tunduk dengan sumpah seorang ibu yang kehilangan belahan hatinya. Apa yang terjadi jika ibu para ikan kehilangan tempat hidup untuk anak-anaknya tatkala manusia membuang sampah sembarangan, termasuk mencemari air dengan berbagai bahan kimia? Jangan tanyakan kepada manusia! Sebab alasan pembenaran atas sikapnya bisa lebih banyak dari taburan bintang di malam kelam.

Apabila bertanya pada sastra, gagasan ideal manusia tentang airlah yang akan didapatkan. Ada sejumlah sastra yang membahas air dalam dalam konteks amerta seperti Adi Parwa, Dewa Ruci, dan Kutara Kanda Dewa Purana Bangsul. Berdasarkan beberapa pustaka tersebut, air sebagai amerta berpusat di laut dan gunung.

Tidak banyak karya sastra yang membahas tentang sungai sebagai penghubung antara mata air di pegunungan dengan laut. Padahal posisinya sebagai perantara menjadi sangat penting. Tanpa sungai, tujuan mata air untuk bersatu dengan samudra luas tak akan tercapai. Sama seperti manusia yang mengidealkan pembebasan akhir ‘moksa’ tanpa melalui proses pergulatan terhadap suka-duka kehidupan. Dari suka-duka kehidupan yang menjajah manusia sejak awal membuka mata sampai akhir tak bisa membuka mata itulah pembebasan final menjadi istimewa.    

Lalu apakah pandangan sastra tentang sungai? Dari sejumlah karya sastra yang sempat diperiksa, teks Tantu Panggelaran memberikan refleksi yang menarik tentang sungai. Dikisahkan keadaan Pulau Jawa dalam keadaan tidak stabil karena belum adanya manusia dan gunung sebagai tiang pancang pulau itu. Menyadari hal itu, Batara Brahma dan Wisnu diutus ke dunia untuk menciptakan manusia pertama.

Manusia tersebut lalu diajari langsung oleh para dewa berbagai keterampilan seperti Dewa Wisnu mengajarkan ilmu kepemimpinan, Sang Hyang Citrakara mengajarkan kesenian, Bhagawan Wiswakarma mengajarkan ilmu tata ruang dan arsitektur, dan yang lainnya. Meski manusia telah memiliki berbagai keterampilan untuk menghadapi hidup, keadaan pulau itu masih tetap tidak tenang. Maka dari yoga Shiwa, diketahui tidak ada jalan lain keculai mengutus para Dewa untuk memotong Gunung Mahameru untuk dipindahkan ke Jawa Dwipa sekaligus memutarnya untuk menghasilkan amerta.

Proses pemutaran Gunung Mahameru ternyata menyebabkan para dewa lelah dan haus. Pada saat yang bersamaan, ada air Kalakuta yang muncul dari Gunung Mahameru. Para Dewa yang tidak mengetahui bahwa air itu mengandung racun seketika mati setelah meneguk air Kalakuta. Mengetahui hal tersebut, Batara Parameswara meminum air itu sehingga leher beliau menjadi berwarna hitam.

Sejak saat itulah beliau juga bergelar Nilakanta. Walaupun lehernya berwarna hitam, Batara Parameswara dengan kesaktiannya berhasil mengubah tirta Kalakuta menjadi tatwa amreta siwamba (air kehidupan yang suci). Amreta itu menghidupkan kembali para dewata dan dengan susah payah gunung Mahameru berhasil dipindahkan.

Ketika pemindahan Gunung Mahameru dari jagat Jambu Dwipa, ada seorang brahmana bernama Dang Hyang Têkên Wuwung yang ikut pindah ke Pulau Jawa. Ketika ia beristirahat di sebuah hulu sungai di wilayah Sukayadnya, Batara Iswara memberikan teguran kepada sang Brahmana agar tidak meraup air di bagian hulu yang dapat mengotori aliran sungai di hilir.

Brahmana itu tidak menghiraukan teguran Batara Iswara, bahkan terus mengobok-obok hulu air dan membuang berak, serta sisa makanannya di hulu air sungai itu. Batara Iswara sangat murka mengetahui hal ini, maka aliran air yang telah kotor dengan berak dan sisa makanan itu diperintahkan agar membanjiri pertapaan Sang Teken Wuwung. Mengetahui kenyataan itu, Sang Teken Wuwung menghadap Iswara untuk memohon pengampunan, seraya meminta agar diwisuda lagi menjadi wiku. Sejak saat itulah sang Teken Wuwung bergelar Mpu Siddha Yogi.

Menyimak fragmen teks Tantu Panggelaran, tampak ada pesan penting untuk menjaga kebersihan dan kesucian sungai. Sungai sejatinya sama dengan nadi apabila dianalogikan ke dalam tubuh manusia. Melalui nadilah sari-sari makanan diedarkan ke seluruh tubuh, maka melalui sungai pula sari-sari kehidupan mengalir dan menghidupi kehidupan. Para penekun dunia tantris yang suntuk meneliti sarira untuk pembebasan jiwa bahkan menemukan “danau di pusat langit” tubuh.

Yang dimaksud dengan danau adalah cairan otak, sedangkan pusat langit adalah rongga kepala. Di ‘danau otak’ itu konon ada teratai putih tempat bersemayamnya Shiwa sebagai pusat kesadaran. Dari danau itu pula mengalir sungai-sungai ke tujuh lubang yaitu dua lubang mata, dua lubang hidung, dua lubang telinga dan lubang mulut.

Lebih lanjut sungai-sungai yang ada di dalam tubuh manusia dalam pustaka Jnyāna Siddhanta disebut dengan Sang Hyang Tirta. Kesucian sungai Narmada sama dengan pikiran (manah), bening sungai Sindu sama dengan budi (buddhi), jernih sungai Gangga sama dengan air pada pangkal tenggorokan, sungai Saraswati sama dengan air pada lidah, sungai Airawati sama dengan air pada hidung, sungai yang mengaliri air pada mata sama dengan Nadisresta, dan air sungai yang mengalir pada telinga sama dengan Siwapresta.

Dari uraian pustaka tersebut, setiap manusia sesungguhnya membawa tujuh sungai di dalam dirinya. Dengan menyadari sungai yang ada di dalam dan luar diri, menjaga kebersihan sungai sekaligus kesuciannya bagi masyarakat Bali yang diklaim sejumlah peneliti sebagai penganut Agama Tirta adalah mutlak dan suatu keharusan.

Oleh sebab itu, tidak ada lagi kesan bahwa masyarakat Bali hanya menyucikan sumber air yang terletak di gunung dan sumber air yang berada di laut. Sungai sebagai penghubung keduanya berdasarkan pembacaan terhadap teks Tantu Panggelaran juga sudah semestinya selalu dijaga kebersihan dan kesuciannya.

Berkaca dari warisan tekstual tersebut maka sudah sepatutnya sungai-sungai Bali saat ini direvitalisasi seperti langkah yang dilakukan pemerintah Kota Denpasar. Landasan kultural untuk menjaga, merawat, dan memberdayakan sungai untuk kesejahteraan sosial seperti tempat pembangunan kawasan wisata baru sudah sangat jelas.

Oleh sebab itu, revitalisasi sungai seperti Tukad Badung, Tukad Bindu, dan Tukad Lumintang menjadi terobosan yang semestinya menginspirasi revitalisasi tukad-tukad lainnya di Bali! Sambil merawat air dan mengharapkan ruwatan darinya, ada pertanyaan yang masih mengganjal, kenapa ikan tidak meninggalkan jejak ketika berenang? [T]

  • BACA artikel lain dari penulis PUTU EKA GUNA YASA
Hutang Budi kepada Petani: Kesaksian Sastra Kawi dan Bali
“Nglebur Basa Gegawan”: Strategi Adaptasi Diri Seorang Ida Padanda Made Sidemen
World Water Forum dan Riwayat Air Bali Kini
Tags: airPutu Eka Guna Yasasastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menimbang Dana Abadi Pariwisata

Next Post

Simposium Hiu dan Pari: Butuh Ide Segar Untuk Konservasi Spesies Terancam Punah

Putu Eka Guna Yasa

Putu Eka Guna Yasa

Pembaca lontar, dosen FIB Unud, aktivitis BASAbali Wiki

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Simposium Hiu dan Pari: Butuh Ide Segar Untuk Konservasi Spesies Terancam Punah

Simposium Hiu dan Pari: Butuh Ide Segar Untuk Konservasi Spesies Terancam Punah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co