23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Honor Tulisan dan Kreativitas Penulis

Angga Wijaya by Angga Wijaya
May 22, 2024
in Esai
Telenovela

Angga Wijaya

PEMUDA yang menemukan kegemaran baru menulis itu menanyakan pada saya melalui kotak pesan, perihal media massa apa saja di Bali yang menerima tulisan berupa esai, opini, puisi dan cerita pendek/cerpen. Saya menjawabnya berdasarkan pengalaman dan informasi yang saya miliki.  Lalu dia bertanya lagi: “apakah ada honornya?”

Pertanyaan yang membuat saya sedikit bersedih, karena: pertama, media yang memberi honor baik itu koran atau pun media daring kini makin sedikit. Entah itu kebijakan redaksi atau memang media tersebut secara finansial belum mampu memberikan honor bagi tulisan yang lolos seleksi dan dimuat.

Kedua, rasa sedih itu diam-diam muncul karena melihat gejala penulis pemula yang tampaknya lebih mementingkan hasil ketimbang proses. Honor bisa dibilang penting sebagai sebuah apresiasi, atau jika mau langsung: pengganti biaya pulsa internet atau untuk membeli buku sebagai bahan memperkaya wawasan penulis.

Jika misalkan memang tak ada honor, apakah lantas tidak jadi menulis?

Sejak lama saya menulis dan tak semua media yang memuat tulisan saya menyediakan honor. Bisa jadi karena itu pula saya memilih profesi wartawan untuk urusan “dapur”. Bagaimana pun ide di kepala mesti terwujud menjadi karya baik itu puisi atau esai, dua genre tulisan yang saya geluti. Di masa depan bisa juga saya menekuni cerpen dan novel. Kini, belum.

Sejatinya, apresiasi atau penghargaan atas kreativitas seorang penulis tidak hanya berhenti pada honor tulisan. Lebih dari itu, jejaring (networking). Karya atau tulisan yang tayang di media daring misalnya bisa menjadi rekam jejak kepengarangan penulis yang terus ada selama laman atau website media daring tetap aktif dan bisa ditelusuri melalui kotak pencarian Google.

Itu juga bisa dipakai saat penulis melamar pekerjaan sebagai copywriter atau content writer. Jika ingin tahu tentang penulis dengan mengetik namanya di Google, akan muncul tulisan-tulisan karyanya, selain berita dan media sosial miliknya, yang dapat dijadikan portofolio dalam proyek kepenulisan. Tulisan yang dimuat dan tersebar di media massa juga bisa diterbitkan menjadi buku, baik penerbitan secara mandiri oleh penulis atau ditawarkan pada penerbit komersial.

Bertanya soal honor tulisan, bagi saya, bisa membuat ‘kemungkinan’ lain yang akan diraih seorang penulis akan terhambat bahkan tertutup. Penulis di masa lalu, saya rasa lebih mengutamakan bagaimana mereka bisa terus berkarya, tidak selalu memikirkan honor. Yang penting berproses dulu, terus menulis tanpa henti –hasil akan datang dengan sendirinya.

Sekarang, ‘hasil’ itu wujudnya beragam; bisa materi, popularitas, mendapat komunitas baru, alih kreasi karya sastra, dan lain-lain. Sayang jika ide yang banyak tidak ditulis, hanya karena ‘tak ada honor’. Jika memang orientasi penulis adalah honor, bisa banyak menulis dan mengirimkannya pada media berhonor. Secara kuantitas memang akan banyak karya yang bisa dihasilkan; minggu ini dimuat di media A, minggu depan di media B, C, D, dst, dst. Tetapi, bagaimana dengan kualitas?

Gaya ‘kejar tayang’ atau ‘kejar target’ karena melulu mengejar honor dalam beberapa kasus membuat kualitas tulisan ‘segitu-gitu’ saja bahkan tak bagus/jelek. Mungkin saya keliru, karena sifatnya relatif. Namun, saya melihat, motivasi menulis juga menentukan kualitas karya.

Profesi Pengarang/Penulis

Novelis terkenal Nh. Dini (1936-2018) dalam buku Proses Kreatif: Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang (Jilid 2)—terbit pertama kali pada 1982 dan disunting oleh Pamusuk Eneste—menyebut, kerja kreasi selalu sukar dijalankan dengan kerja yang menghasilkan kebendaan, dengan kata lain: uang. Sebab itulah, karena alasan kesehatan dan beberapa persoalan lain (kala itu), Nh. Dini memutuskan untuk kembali ke Indonesia setelah sempat lama bermukim di Eropa, dan menjadi ‘pengarang penuh’. “Itu hanya dapat dicapai dengan penciptaan dan penulisan ‘komersial’, yaitu menerima pesanan yang sejalan dengan pure art saya,” tulis pengarang novel Pada Sebuah Kapal, Namaku Hiroko, Keberangkatan, dan La Barka itu.

Bagi Nh. Dini, selain ketenangan hati, seorang penulis membutuhkan “untuk tidak memikirkan” ini-itunya keperluan hidup sehari-hari. Untuk itu, kegigihan dan keuletan bagi seorang pengarang atau penulis merupakan elemen atau faktor penting dalam kehidupan. Suka mengarang tanpa disertai keuletan dan dorongan untuk selalu menghasilkan yang lebih baik dan yang lebih baik lagi, paling sedikit selalu bernilai sejajar, hanya akan tetap menjadi orang “yang suka mengarang”.

Menurutnya, sebutan pengarang mengandung segala risiko; seorang pengarang masih belum dapat hidup dari karangannya di Indonesia. Meskipun perhatian masyarakat dalam daya beli buku semakin membaik, seorang pengarang “biasa” belum bisa hidup santai dari hasil karangan-karangannya.

“Oleh karenanya, dia mempunyai kerja sampingan, umpamanya menjadi guru, wartawan atau jabatan lain, bahkan yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan dunia penulisan atau sastra,” begitu Nh. Dini menulis pada buku yang memuat proses kreatif dan pengalaman 11 sastrawan terkemuka Indonesia tersebut.

Apa yang dirasakan Nh. Dini pada masa itu, kini tentu telah sedikit berubah. Banyak pengarang atau penulis di Indonesia yang buku-bukunya laku keras (best seller), dicetak berulang kali, yang membuat mereka bisa hidup secara mapan. Sebut saja Ayu Utami, Dewi Lestari, Andrea Hirata, dan juga Tere Liye yang membuktikan bahwa pengarang dan penulis adalah profesi yang menjanjikan. Jejak mereka pun banyak diikuti oleh para penulis muda di Indonesia.

Hanya saja, proses jatuh-bangun terutama saat memulai karir menulis tetaplah perlu dirasakan dan dilakoni oleh para penulis pemula. Dari tulisan yang ‘ditolak’ atau belum lolos kurasi redaktur media, dianggap kurang bagus oleh kritikus sastra atau bahkan yang menjadi ‘korban’ plagiasi oleh penulis lain—semuanya mesti dilalui, untuk kemudian menjadi matang baik dari segi kualitas maupun konsistensi dalam berkarya. Tidak ujug-ujug bertanya apakah tulisan mendapat honor atau tidak; sementara pada kesempatan yang sama ada puluhan penulis lain rajin mengirimkan karya mereka ke media cetak maupun media daring, yang menjadikan dunia kepenulisan di Indonesia bertambah semarak dan “hidup” dewasa ini. [T]

  • BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA
Tak Benjol Dihantam Pinjol
Meditasi Selamatkan Hidup Saya
Mengenal BISAHelpline, Layanan Pencegahan Bunuh Diri di Bali
Menjadi Terbuka Itu Berbahaya | Catatan Akhir Tahun
Tags: penulis
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sikap Raja dan Masyarakat Terhadap Air dalam Peradaban Bali Kuno

Next Post

Pameran “Telu”: Melihat Ragam Ekspresi Budaya di Jalur Rempah Pulau Bali

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Pameran “Telu”: Melihat Ragam Ekspresi Budaya di Jalur Rempah Pulau Bali

Pameran “Telu”: Melihat Ragam Ekspresi Budaya di Jalur Rempah Pulau Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co