3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Honor Tulisan dan Kreativitas Penulis

Angga Wijaya by Angga Wijaya
May 22, 2024
in Esai
Telenovela

Angga Wijaya

PEMUDA yang menemukan kegemaran baru menulis itu menanyakan pada saya melalui kotak pesan, perihal media massa apa saja di Bali yang menerima tulisan berupa esai, opini, puisi dan cerita pendek/cerpen. Saya menjawabnya berdasarkan pengalaman dan informasi yang saya miliki.  Lalu dia bertanya lagi: “apakah ada honornya?”

Pertanyaan yang membuat saya sedikit bersedih, karena: pertama, media yang memberi honor baik itu koran atau pun media daring kini makin sedikit. Entah itu kebijakan redaksi atau memang media tersebut secara finansial belum mampu memberikan honor bagi tulisan yang lolos seleksi dan dimuat.

Kedua, rasa sedih itu diam-diam muncul karena melihat gejala penulis pemula yang tampaknya lebih mementingkan hasil ketimbang proses. Honor bisa dibilang penting sebagai sebuah apresiasi, atau jika mau langsung: pengganti biaya pulsa internet atau untuk membeli buku sebagai bahan memperkaya wawasan penulis.

Jika misalkan memang tak ada honor, apakah lantas tidak jadi menulis?

Sejak lama saya menulis dan tak semua media yang memuat tulisan saya menyediakan honor. Bisa jadi karena itu pula saya memilih profesi wartawan untuk urusan “dapur”. Bagaimana pun ide di kepala mesti terwujud menjadi karya baik itu puisi atau esai, dua genre tulisan yang saya geluti. Di masa depan bisa juga saya menekuni cerpen dan novel. Kini, belum.

Sejatinya, apresiasi atau penghargaan atas kreativitas seorang penulis tidak hanya berhenti pada honor tulisan. Lebih dari itu, jejaring (networking). Karya atau tulisan yang tayang di media daring misalnya bisa menjadi rekam jejak kepengarangan penulis yang terus ada selama laman atau website media daring tetap aktif dan bisa ditelusuri melalui kotak pencarian Google.

Itu juga bisa dipakai saat penulis melamar pekerjaan sebagai copywriter atau content writer. Jika ingin tahu tentang penulis dengan mengetik namanya di Google, akan muncul tulisan-tulisan karyanya, selain berita dan media sosial miliknya, yang dapat dijadikan portofolio dalam proyek kepenulisan. Tulisan yang dimuat dan tersebar di media massa juga bisa diterbitkan menjadi buku, baik penerbitan secara mandiri oleh penulis atau ditawarkan pada penerbit komersial.

Bertanya soal honor tulisan, bagi saya, bisa membuat ‘kemungkinan’ lain yang akan diraih seorang penulis akan terhambat bahkan tertutup. Penulis di masa lalu, saya rasa lebih mengutamakan bagaimana mereka bisa terus berkarya, tidak selalu memikirkan honor. Yang penting berproses dulu, terus menulis tanpa henti –hasil akan datang dengan sendirinya.

Sekarang, ‘hasil’ itu wujudnya beragam; bisa materi, popularitas, mendapat komunitas baru, alih kreasi karya sastra, dan lain-lain. Sayang jika ide yang banyak tidak ditulis, hanya karena ‘tak ada honor’. Jika memang orientasi penulis adalah honor, bisa banyak menulis dan mengirimkannya pada media berhonor. Secara kuantitas memang akan banyak karya yang bisa dihasilkan; minggu ini dimuat di media A, minggu depan di media B, C, D, dst, dst. Tetapi, bagaimana dengan kualitas?

Gaya ‘kejar tayang’ atau ‘kejar target’ karena melulu mengejar honor dalam beberapa kasus membuat kualitas tulisan ‘segitu-gitu’ saja bahkan tak bagus/jelek. Mungkin saya keliru, karena sifatnya relatif. Namun, saya melihat, motivasi menulis juga menentukan kualitas karya.

Profesi Pengarang/Penulis

Novelis terkenal Nh. Dini (1936-2018) dalam buku Proses Kreatif: Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang (Jilid 2)—terbit pertama kali pada 1982 dan disunting oleh Pamusuk Eneste—menyebut, kerja kreasi selalu sukar dijalankan dengan kerja yang menghasilkan kebendaan, dengan kata lain: uang. Sebab itulah, karena alasan kesehatan dan beberapa persoalan lain (kala itu), Nh. Dini memutuskan untuk kembali ke Indonesia setelah sempat lama bermukim di Eropa, dan menjadi ‘pengarang penuh’. “Itu hanya dapat dicapai dengan penciptaan dan penulisan ‘komersial’, yaitu menerima pesanan yang sejalan dengan pure art saya,” tulis pengarang novel Pada Sebuah Kapal, Namaku Hiroko, Keberangkatan, dan La Barka itu.

Bagi Nh. Dini, selain ketenangan hati, seorang penulis membutuhkan “untuk tidak memikirkan” ini-itunya keperluan hidup sehari-hari. Untuk itu, kegigihan dan keuletan bagi seorang pengarang atau penulis merupakan elemen atau faktor penting dalam kehidupan. Suka mengarang tanpa disertai keuletan dan dorongan untuk selalu menghasilkan yang lebih baik dan yang lebih baik lagi, paling sedikit selalu bernilai sejajar, hanya akan tetap menjadi orang “yang suka mengarang”.

Menurutnya, sebutan pengarang mengandung segala risiko; seorang pengarang masih belum dapat hidup dari karangannya di Indonesia. Meskipun perhatian masyarakat dalam daya beli buku semakin membaik, seorang pengarang “biasa” belum bisa hidup santai dari hasil karangan-karangannya.

“Oleh karenanya, dia mempunyai kerja sampingan, umpamanya menjadi guru, wartawan atau jabatan lain, bahkan yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan dunia penulisan atau sastra,” begitu Nh. Dini menulis pada buku yang memuat proses kreatif dan pengalaman 11 sastrawan terkemuka Indonesia tersebut.

Apa yang dirasakan Nh. Dini pada masa itu, kini tentu telah sedikit berubah. Banyak pengarang atau penulis di Indonesia yang buku-bukunya laku keras (best seller), dicetak berulang kali, yang membuat mereka bisa hidup secara mapan. Sebut saja Ayu Utami, Dewi Lestari, Andrea Hirata, dan juga Tere Liye yang membuktikan bahwa pengarang dan penulis adalah profesi yang menjanjikan. Jejak mereka pun banyak diikuti oleh para penulis muda di Indonesia.

Hanya saja, proses jatuh-bangun terutama saat memulai karir menulis tetaplah perlu dirasakan dan dilakoni oleh para penulis pemula. Dari tulisan yang ‘ditolak’ atau belum lolos kurasi redaktur media, dianggap kurang bagus oleh kritikus sastra atau bahkan yang menjadi ‘korban’ plagiasi oleh penulis lain—semuanya mesti dilalui, untuk kemudian menjadi matang baik dari segi kualitas maupun konsistensi dalam berkarya. Tidak ujug-ujug bertanya apakah tulisan mendapat honor atau tidak; sementara pada kesempatan yang sama ada puluhan penulis lain rajin mengirimkan karya mereka ke media cetak maupun media daring, yang menjadikan dunia kepenulisan di Indonesia bertambah semarak dan “hidup” dewasa ini. [T]

  • BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA
Tak Benjol Dihantam Pinjol
Meditasi Selamatkan Hidup Saya
Mengenal BISAHelpline, Layanan Pencegahan Bunuh Diri di Bali
Menjadi Terbuka Itu Berbahaya | Catatan Akhir Tahun
Tags: penulis
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sikap Raja dan Masyarakat Terhadap Air dalam Peradaban Bali Kuno

Next Post

Pameran “Telu”: Melihat Ragam Ekspresi Budaya di Jalur Rempah Pulau Bali

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Pameran “Telu”: Melihat Ragam Ekspresi Budaya di Jalur Rempah Pulau Bali

Pameran “Telu”: Melihat Ragam Ekspresi Budaya di Jalur Rempah Pulau Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co