8 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Meditasi Selamatkan Hidup Saya

Angga Wijaya by Angga Wijaya
May 14, 2024
in Esai
Telenovela

Angga Wijaya

KETIKA banyak pikiran, dalam bahasa kekinian: overthinking, saya melakukan meditasi. Itu jelas kurang baik, karena (hanya) pada keadaan tertentu baru bermeditasi. Baiknya, meditasi dilakukan secara rutin, setiap hari, bisa di waktu pagi dan sore, atau malam sebelum tidur. Tidak perlu terlalu lama, cukup 30 menit. Bahkan, oleh psikiater senior yang juga seorang guru meditasi di Bali, Luh Ketut Suryani, disarankan meditasi  dilakukan tidak lebih dari 15 menit.

Terdapat banyak teknik meditasi. Saya menyukai meditasi dengan memperhatikan masuk dan keluarnya nafas. Kemudian mengulang-ulang “OM” selama beberapa menit. Lalu biasanya saya mendaraskan mantra Gayatri. “OM” diyakini sebagai pranava, sabda atau suara awal penciptaan semesta. Penelitian oleh NASA baru-baru ini membuktikan bahwa alam semesta selalu bergetar, mengeluarkan suara “OM”. Itu pula yang diketahui para resi ribuan tahun lalu. “OM” dipakai untuk mengawali sebuah mantra. Itu tentu bukanlah sebuah kebetulan.

Ajaran pertama meditasi datang dari ayah angkat saat saya berusia sekitar 6 tahun. Ketika sore saat kami duduk bersama di beranda rumah, beliau menyarankan saya untuk bersila dengan punggung tegak. “Jangan bungkuk,” kata beliau berulang kali. Saya mematuhinya. Setelah belasan tahun berlalu sewaktu saya intens mempelajari spiritualitas, saya baru sadar bahwa ayah angkat saya adalah guru pertama yang mengajari meditasi.

Saat ujian sekolah menjelang, misalnya, beliau tidak pernah bosan menyampaikan kepada saya untuk tenang dalam mengerjakan soal-soal ujian. Beliau menyuruh saya agar menarik lalu menghembuskan nafas secara perlahan sebelum ujian dimulai. Juga berdoa. Bukankah apa yang beliau sampaikan adalah ajaran mengenai meditasi? Beliau luar biasa, saya merasa amat bersyukur pernah diasuh olehnya. Budi-baik beliau selalu terkenang di hati.

Dalam kondisi tidak baik bahkan “kritis”, meditasi memberi saya ketenangan. Ada yang mengatakan, meditasi adalah antidot dari penyakit jiwa. Maksudnya, meditasi sangat membantu pemulihan gangguan mental seperti depresi, cemas berlebih, bipolar, skizofrenia, dan jenis gangguan mental lainnya yang kini banyak menghinggapi tidak hanya anak-anak muda namun juga para lansia. Isu kesehatan mental pun kini banyak diperbincangkan berbagai kalangan.

Meditasi, adalah pelengkap pengobatan. Bukan berarti sebagai pengganti obat-obatan medis. Bhagavan Shree Rajneesh atau juga dikenal dengan nama Osho (1931-1990), beliau adalah profesor ilmu filsafat yang kemudian mengabdikan diri menjadi guru spiritual, memandang obat dan meditasi sebagai praktik yang saling melengkapi untuk mencapai keutuhan. Seperti yang beliau katakan: “Medicine heals the body, meditation heals the soul”. Obat menyembuhkan tubuh, meditasi menyembuhkan jiwa.”

Osho membayangkan masa depan di mana rumah sakit mengintegrasikan meditasi bersama dengan pengobatan tradisional. Beliau percaya bahwa stres kronis dan pikiran yang terputus seringkali menjadi akar penyebab penyakit. Meditasi, dengan menenangkan pikiran dan meningkatkan kedamaian batin, berpotensi mencegah masalah ini.

Osho melihat meditasi sebagai cara untuk menumbuhkan gaya hidup sehat, sehingga mengurangi ketergantungan pada obat dalam jangka panjang. Beliau mengakui pentingnya obat untuk mengobati penyakit fisik. Namun, dia memperingatkan bahwa obat sering mengatasi gejala tanpa mengatasi faktor mental atau emosional yang mendasari yang mungkin berkontribusi pada penyakit tersebut.

Pendekatan Holistik

Osho meyakini, pengobatan dan meditasi dapat bekerja bersama. Rumah sakit akan menawarkan teknik meditasi bersama dengan metode pengobatan tradisional. Pendekatan holistik ini, dia percaya, akan mengarah pada proses penyembuhan yang lebih dalam. Penting untuk dicatat, beliau tidak menganjurkan untuk meninggalkan pengobatan sama sekali. Untuk kondisi tertentu, pengobatan sangat penting. Pandangannya berfokus pada integrasi meditasi dengan pengobatan untuk pendekatan yang lebih komprehensif terhadap kesehatan dan kesejahteraan.

Beliau mengembangkan berbagai teknik meditasi, beberapa di antaranya cukup dinamis dan katarsis, yang bertujuan untuk melepaskan stres dan hambatan emosional. Anda dapat menemukan informasi tentang teknik ini melalui situs web Osho International (https://www.osho.com/).

Di Indonesia, ajaran Osho banyak diadaptasi dan dipraktikkan di Anand Ashram yang didirikan oleh Anand Krishna, guru spiritual keturunan India kelahiran Solo, Jawa Tengah, pada 1956. Beliau sejak tahun 1990 mempopulerkan meditasi sebagai gaya hidup, termasuk sebagai pendekatan holistik dalam mengatasi berbagai penyakit kronis. Bahkan Anand Krishna sendiri pernah mengidap kanker darah atau leukemia yang kemudian sembuh juga dengan meditasi, selain pengobatan medis. Sejak itu beliau mengajak banyak orang untuk mulai meniti ke dalam diri, menekuni meditasi yang sejatinya bersifat universal tanpa sekat agama, ras, dan suku.

Saya pernah beberapa waktu aktif mengikuti program meditasi di Anand Krishna Centre, Kuta, Badung, Bali, dan merasakan bagaimana meditasi banyak membantu saya terutama soal kepercayaan diri, melakoni hidup dengan optimis,  manajemen stres, yang berguna tidak hanya di lingkungan kerja atau sekolah namun juga dalam kehidupan bermasyarakat. Setelah didera skizofrenia pada 2009, saya jarang sekali melakukan meditasi. Pemulihan hanya mengandalkan obat dari psikiater. Beberapa tahun setelah itu, saya baru kembali menekuni meditasi. Hasilnya, saya tidak lagi menyalahkan orang lain atas semua hal yang saya alami.

Sikap dan cara pandang tersebut membuat saya lebih ringan dan enteng menjalani hidup. Tidak ada lagi pertanyaan dan keluhan tentang apa yang terjadi di masa lalu termasuk mengapa orang tua kandung saya menitipkan saya pada paman dan bibi untuk diasuh dan dibesarkan. Itu poin yang membuat saya sejak kecil merasa “terbuang” dan disia-siakan. Setelah lima tahun masa pemulihan di mana saya kembali ke kampung halaman dan tinggal bersama orang tua kandung saya, rasanya itulah hikmah dari skizofrenia. Saya bisa mengenal ibu yang pernah mengandung saya, juga bapak yang rendah hati, penuh perhatian, yang terpukul ketika mengetahui anaknya mengalami gangguan mental. Beliau selalu memperhatikan dan menjaga saya kala itu. Itulah juga sebuah “meditasi” bagi saya. Ia, sekali lagi, menyelamatkan hidup saya. “Meditasi bukan apa yang kamu katakan, tetapi apa yang kamu lakukan,” kata Nanoq da Kansas yang juga guru sastra saya sewaktu remaja. Ia benar adanya. Pada akhirnya, apa yang kita lakukan sehari-hari, perlakuan kita kepada orang tua, saudara, kerabat, dan sahabat menunjukkan siapa kita sebenarnya; sejauh mana meditasi yang kita pelajari dari banyak “guru” dan juga tempat suci yang pernah kita ziarahi. Selamat bermeditasi. Salam damai dari saya, pembelajar meditasi. [T]

  • BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA
Mengenal BISAHelpline, Layanan Pencegahan Bunuh Diri di Bali
Menjadi Terbuka Itu Berbahaya | Catatan Akhir Tahun
Di Sanur, Belajar Bangkit dari Lansia Bali
Tags: meditasiSchizophrenia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ke Panti Asuhan Destawan di Sawan Bersama Pemuda Lintas Agama

Next Post

Kemauan Film “Galaksi” dari Sudut Pandang Keluarga, Sahabat, dan Pacar

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

Read moreDetails

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
0
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

Read moreDetails

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
0
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

Read moreDetails

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

by Chusmeru
October 7, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

Read moreDetails

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails
Next Post
Kemauan Film “Galaksi” dari Sudut Pandang Keluarga, Sahabat, dan Pacar

Kemauan Film “Galaksi” dari Sudut Pandang Keluarga, Sahabat, dan Pacar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti
Ulas Buku

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

by Emi Suy
October 8, 2026
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal
Esai

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru
Pameran

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

KETIKA mengunjungi pameran ini, jangan kaget jika menemukan warisan budaya seperti tenun, batik, dan berbagai perhiasan yang beradaptasi dengan zaman,...

by Nyoman Budarsana
October 8, 2026
Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan
Kuliner

Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

BAGI orang Indonesia, keju bukan makanan yang hadir setiap hari di meja makan. Karena itu, ketika dua belas peserta berkumpul...

by Rusdy Ulu
October 8, 2026
Dari Rasa ke Kata: Cara Seru Belajar Bahasa Prancis
Pendidikan

Dari Rasa ke Kata: Cara Seru Belajar Bahasa Prancis

“J’aime atau je n’aime pas?” PERTANYAAN itu terdengar beberapa kali di LSPR Bali pada Senin, 28 September 2026. Saat itu,...

by Rusdy Ulu
October 8, 2026
Permata Bali — Kumpulan Cerita Pendek
Buku Tatkala

Permata Bali — Kumpulan Cerita Pendek

Judul: Permata Bali -- kumpulan cerita pendek Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putu Oka Sukanta ISBN: Masih dalam proses...

by Buku Tatkala
October 7, 2026
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa
Opini

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

by Chusmeru
October 7, 2026
10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud
Pameran

10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

SUDAH mengunjungi pameran Ten Ubud Local Artists di Sthala Ubud Bali? Jumlah karya yang disajikan tidak terlalu banyak memang, namun...

by Nyoman Budarsana
October 7, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co