4 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Meditasi Selamatkan Hidup Saya

Angga Wijaya by Angga Wijaya
May 14, 2024
in Esai
Telenovela

Angga Wijaya

KETIKA banyak pikiran, dalam bahasa kekinian: overthinking, saya melakukan meditasi. Itu jelas kurang baik, karena (hanya) pada keadaan tertentu baru bermeditasi. Baiknya, meditasi dilakukan secara rutin, setiap hari, bisa di waktu pagi dan sore, atau malam sebelum tidur. Tidak perlu terlalu lama, cukup 30 menit. Bahkan, oleh psikiater senior yang juga seorang guru meditasi di Bali, Luh Ketut Suryani, disarankan meditasi  dilakukan tidak lebih dari 15 menit.

Terdapat banyak teknik meditasi. Saya menyukai meditasi dengan memperhatikan masuk dan keluarnya nafas. Kemudian mengulang-ulang “OM” selama beberapa menit. Lalu biasanya saya mendaraskan mantra Gayatri. “OM” diyakini sebagai pranava, sabda atau suara awal penciptaan semesta. Penelitian oleh NASA baru-baru ini membuktikan bahwa alam semesta selalu bergetar, mengeluarkan suara “OM”. Itu pula yang diketahui para resi ribuan tahun lalu. “OM” dipakai untuk mengawali sebuah mantra. Itu tentu bukanlah sebuah kebetulan.

Ajaran pertama meditasi datang dari ayah angkat saat saya berusia sekitar 6 tahun. Ketika sore saat kami duduk bersama di beranda rumah, beliau menyarankan saya untuk bersila dengan punggung tegak. “Jangan bungkuk,” kata beliau berulang kali. Saya mematuhinya. Setelah belasan tahun berlalu sewaktu saya intens mempelajari spiritualitas, saya baru sadar bahwa ayah angkat saya adalah guru pertama yang mengajari meditasi.

Saat ujian sekolah menjelang, misalnya, beliau tidak pernah bosan menyampaikan kepada saya untuk tenang dalam mengerjakan soal-soal ujian. Beliau menyuruh saya agar menarik lalu menghembuskan nafas secara perlahan sebelum ujian dimulai. Juga berdoa. Bukankah apa yang beliau sampaikan adalah ajaran mengenai meditasi? Beliau luar biasa, saya merasa amat bersyukur pernah diasuh olehnya. Budi-baik beliau selalu terkenang di hati.

Dalam kondisi tidak baik bahkan “kritis”, meditasi memberi saya ketenangan. Ada yang mengatakan, meditasi adalah antidot dari penyakit jiwa. Maksudnya, meditasi sangat membantu pemulihan gangguan mental seperti depresi, cemas berlebih, bipolar, skizofrenia, dan jenis gangguan mental lainnya yang kini banyak menghinggapi tidak hanya anak-anak muda namun juga para lansia. Isu kesehatan mental pun kini banyak diperbincangkan berbagai kalangan.

Meditasi, adalah pelengkap pengobatan. Bukan berarti sebagai pengganti obat-obatan medis. Bhagavan Shree Rajneesh atau juga dikenal dengan nama Osho (1931-1990), beliau adalah profesor ilmu filsafat yang kemudian mengabdikan diri menjadi guru spiritual, memandang obat dan meditasi sebagai praktik yang saling melengkapi untuk mencapai keutuhan. Seperti yang beliau katakan: “Medicine heals the body, meditation heals the soul”. Obat menyembuhkan tubuh, meditasi menyembuhkan jiwa.”

Osho membayangkan masa depan di mana rumah sakit mengintegrasikan meditasi bersama dengan pengobatan tradisional. Beliau percaya bahwa stres kronis dan pikiran yang terputus seringkali menjadi akar penyebab penyakit. Meditasi, dengan menenangkan pikiran dan meningkatkan kedamaian batin, berpotensi mencegah masalah ini.

Osho melihat meditasi sebagai cara untuk menumbuhkan gaya hidup sehat, sehingga mengurangi ketergantungan pada obat dalam jangka panjang. Beliau mengakui pentingnya obat untuk mengobati penyakit fisik. Namun, dia memperingatkan bahwa obat sering mengatasi gejala tanpa mengatasi faktor mental atau emosional yang mendasari yang mungkin berkontribusi pada penyakit tersebut.

Pendekatan Holistik

Osho meyakini, pengobatan dan meditasi dapat bekerja bersama. Rumah sakit akan menawarkan teknik meditasi bersama dengan metode pengobatan tradisional. Pendekatan holistik ini, dia percaya, akan mengarah pada proses penyembuhan yang lebih dalam. Penting untuk dicatat, beliau tidak menganjurkan untuk meninggalkan pengobatan sama sekali. Untuk kondisi tertentu, pengobatan sangat penting. Pandangannya berfokus pada integrasi meditasi dengan pengobatan untuk pendekatan yang lebih komprehensif terhadap kesehatan dan kesejahteraan.

Beliau mengembangkan berbagai teknik meditasi, beberapa di antaranya cukup dinamis dan katarsis, yang bertujuan untuk melepaskan stres dan hambatan emosional. Anda dapat menemukan informasi tentang teknik ini melalui situs web Osho International (https://www.osho.com/).

Di Indonesia, ajaran Osho banyak diadaptasi dan dipraktikkan di Anand Ashram yang didirikan oleh Anand Krishna, guru spiritual keturunan India kelahiran Solo, Jawa Tengah, pada 1956. Beliau sejak tahun 1990 mempopulerkan meditasi sebagai gaya hidup, termasuk sebagai pendekatan holistik dalam mengatasi berbagai penyakit kronis. Bahkan Anand Krishna sendiri pernah mengidap kanker darah atau leukemia yang kemudian sembuh juga dengan meditasi, selain pengobatan medis. Sejak itu beliau mengajak banyak orang untuk mulai meniti ke dalam diri, menekuni meditasi yang sejatinya bersifat universal tanpa sekat agama, ras, dan suku.

Saya pernah beberapa waktu aktif mengikuti program meditasi di Anand Krishna Centre, Kuta, Badung, Bali, dan merasakan bagaimana meditasi banyak membantu saya terutama soal kepercayaan diri, melakoni hidup dengan optimis,  manajemen stres, yang berguna tidak hanya di lingkungan kerja atau sekolah namun juga dalam kehidupan bermasyarakat. Setelah didera skizofrenia pada 2009, saya jarang sekali melakukan meditasi. Pemulihan hanya mengandalkan obat dari psikiater. Beberapa tahun setelah itu, saya baru kembali menekuni meditasi. Hasilnya, saya tidak lagi menyalahkan orang lain atas semua hal yang saya alami.

Sikap dan cara pandang tersebut membuat saya lebih ringan dan enteng menjalani hidup. Tidak ada lagi pertanyaan dan keluhan tentang apa yang terjadi di masa lalu termasuk mengapa orang tua kandung saya menitipkan saya pada paman dan bibi untuk diasuh dan dibesarkan. Itu poin yang membuat saya sejak kecil merasa “terbuang” dan disia-siakan. Setelah lima tahun masa pemulihan di mana saya kembali ke kampung halaman dan tinggal bersama orang tua kandung saya, rasanya itulah hikmah dari skizofrenia. Saya bisa mengenal ibu yang pernah mengandung saya, juga bapak yang rendah hati, penuh perhatian, yang terpukul ketika mengetahui anaknya mengalami gangguan mental. Beliau selalu memperhatikan dan menjaga saya kala itu. Itulah juga sebuah “meditasi” bagi saya. Ia, sekali lagi, menyelamatkan hidup saya. “Meditasi bukan apa yang kamu katakan, tetapi apa yang kamu lakukan,” kata Nanoq da Kansas yang juga guru sastra saya sewaktu remaja. Ia benar adanya. Pada akhirnya, apa yang kita lakukan sehari-hari, perlakuan kita kepada orang tua, saudara, kerabat, dan sahabat menunjukkan siapa kita sebenarnya; sejauh mana meditasi yang kita pelajari dari banyak “guru” dan juga tempat suci yang pernah kita ziarahi. Selamat bermeditasi. Salam damai dari saya, pembelajar meditasi. [T]

  • BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA
Mengenal BISAHelpline, Layanan Pencegahan Bunuh Diri di Bali
Menjadi Terbuka Itu Berbahaya | Catatan Akhir Tahun
Di Sanur, Belajar Bangkit dari Lansia Bali
Tags: meditasiSchizophrenia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ke Panti Asuhan Destawan di Sawan Bersama Pemuda Lintas Agama

Next Post

Kemauan Film “Galaksi” dari Sudut Pandang Keluarga, Sahabat, dan Pacar

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails
Next Post
Kemauan Film “Galaksi” dari Sudut Pandang Keluarga, Sahabat, dan Pacar

Kemauan Film “Galaksi” dari Sudut Pandang Keluarga, Sahabat, dan Pacar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co