30 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Meditasi Selamatkan Hidup Saya

Angga Wijaya by Angga Wijaya
May 14, 2024
in Esai
Telenovela

Angga Wijaya

KETIKA banyak pikiran, dalam bahasa kekinian: overthinking, saya melakukan meditasi. Itu jelas kurang baik, karena (hanya) pada keadaan tertentu baru bermeditasi. Baiknya, meditasi dilakukan secara rutin, setiap hari, bisa di waktu pagi dan sore, atau malam sebelum tidur. Tidak perlu terlalu lama, cukup 30 menit. Bahkan, oleh psikiater senior yang juga seorang guru meditasi di Bali, Luh Ketut Suryani, disarankan meditasi  dilakukan tidak lebih dari 15 menit.

Terdapat banyak teknik meditasi. Saya menyukai meditasi dengan memperhatikan masuk dan keluarnya nafas. Kemudian mengulang-ulang “OM” selama beberapa menit. Lalu biasanya saya mendaraskan mantra Gayatri. “OM” diyakini sebagai pranava, sabda atau suara awal penciptaan semesta. Penelitian oleh NASA baru-baru ini membuktikan bahwa alam semesta selalu bergetar, mengeluarkan suara “OM”. Itu pula yang diketahui para resi ribuan tahun lalu. “OM” dipakai untuk mengawali sebuah mantra. Itu tentu bukanlah sebuah kebetulan.

Ajaran pertama meditasi datang dari ayah angkat saat saya berusia sekitar 6 tahun. Ketika sore saat kami duduk bersama di beranda rumah, beliau menyarankan saya untuk bersila dengan punggung tegak. “Jangan bungkuk,” kata beliau berulang kali. Saya mematuhinya. Setelah belasan tahun berlalu sewaktu saya intens mempelajari spiritualitas, saya baru sadar bahwa ayah angkat saya adalah guru pertama yang mengajari meditasi.

Saat ujian sekolah menjelang, misalnya, beliau tidak pernah bosan menyampaikan kepada saya untuk tenang dalam mengerjakan soal-soal ujian. Beliau menyuruh saya agar menarik lalu menghembuskan nafas secara perlahan sebelum ujian dimulai. Juga berdoa. Bukankah apa yang beliau sampaikan adalah ajaran mengenai meditasi? Beliau luar biasa, saya merasa amat bersyukur pernah diasuh olehnya. Budi-baik beliau selalu terkenang di hati.

Dalam kondisi tidak baik bahkan “kritis”, meditasi memberi saya ketenangan. Ada yang mengatakan, meditasi adalah antidot dari penyakit jiwa. Maksudnya, meditasi sangat membantu pemulihan gangguan mental seperti depresi, cemas berlebih, bipolar, skizofrenia, dan jenis gangguan mental lainnya yang kini banyak menghinggapi tidak hanya anak-anak muda namun juga para lansia. Isu kesehatan mental pun kini banyak diperbincangkan berbagai kalangan.

Meditasi, adalah pelengkap pengobatan. Bukan berarti sebagai pengganti obat-obatan medis. Bhagavan Shree Rajneesh atau juga dikenal dengan nama Osho (1931-1990), beliau adalah profesor ilmu filsafat yang kemudian mengabdikan diri menjadi guru spiritual, memandang obat dan meditasi sebagai praktik yang saling melengkapi untuk mencapai keutuhan. Seperti yang beliau katakan: “Medicine heals the body, meditation heals the soul”. Obat menyembuhkan tubuh, meditasi menyembuhkan jiwa.”

Osho membayangkan masa depan di mana rumah sakit mengintegrasikan meditasi bersama dengan pengobatan tradisional. Beliau percaya bahwa stres kronis dan pikiran yang terputus seringkali menjadi akar penyebab penyakit. Meditasi, dengan menenangkan pikiran dan meningkatkan kedamaian batin, berpotensi mencegah masalah ini.

Osho melihat meditasi sebagai cara untuk menumbuhkan gaya hidup sehat, sehingga mengurangi ketergantungan pada obat dalam jangka panjang. Beliau mengakui pentingnya obat untuk mengobati penyakit fisik. Namun, dia memperingatkan bahwa obat sering mengatasi gejala tanpa mengatasi faktor mental atau emosional yang mendasari yang mungkin berkontribusi pada penyakit tersebut.

Pendekatan Holistik

Osho meyakini, pengobatan dan meditasi dapat bekerja bersama. Rumah sakit akan menawarkan teknik meditasi bersama dengan metode pengobatan tradisional. Pendekatan holistik ini, dia percaya, akan mengarah pada proses penyembuhan yang lebih dalam. Penting untuk dicatat, beliau tidak menganjurkan untuk meninggalkan pengobatan sama sekali. Untuk kondisi tertentu, pengobatan sangat penting. Pandangannya berfokus pada integrasi meditasi dengan pengobatan untuk pendekatan yang lebih komprehensif terhadap kesehatan dan kesejahteraan.

Beliau mengembangkan berbagai teknik meditasi, beberapa di antaranya cukup dinamis dan katarsis, yang bertujuan untuk melepaskan stres dan hambatan emosional. Anda dapat menemukan informasi tentang teknik ini melalui situs web Osho International (https://www.osho.com/).

Di Indonesia, ajaran Osho banyak diadaptasi dan dipraktikkan di Anand Ashram yang didirikan oleh Anand Krishna, guru spiritual keturunan India kelahiran Solo, Jawa Tengah, pada 1956. Beliau sejak tahun 1990 mempopulerkan meditasi sebagai gaya hidup, termasuk sebagai pendekatan holistik dalam mengatasi berbagai penyakit kronis. Bahkan Anand Krishna sendiri pernah mengidap kanker darah atau leukemia yang kemudian sembuh juga dengan meditasi, selain pengobatan medis. Sejak itu beliau mengajak banyak orang untuk mulai meniti ke dalam diri, menekuni meditasi yang sejatinya bersifat universal tanpa sekat agama, ras, dan suku.

Saya pernah beberapa waktu aktif mengikuti program meditasi di Anand Krishna Centre, Kuta, Badung, Bali, dan merasakan bagaimana meditasi banyak membantu saya terutama soal kepercayaan diri, melakoni hidup dengan optimis,  manajemen stres, yang berguna tidak hanya di lingkungan kerja atau sekolah namun juga dalam kehidupan bermasyarakat. Setelah didera skizofrenia pada 2009, saya jarang sekali melakukan meditasi. Pemulihan hanya mengandalkan obat dari psikiater. Beberapa tahun setelah itu, saya baru kembali menekuni meditasi. Hasilnya, saya tidak lagi menyalahkan orang lain atas semua hal yang saya alami.

Sikap dan cara pandang tersebut membuat saya lebih ringan dan enteng menjalani hidup. Tidak ada lagi pertanyaan dan keluhan tentang apa yang terjadi di masa lalu termasuk mengapa orang tua kandung saya menitipkan saya pada paman dan bibi untuk diasuh dan dibesarkan. Itu poin yang membuat saya sejak kecil merasa “terbuang” dan disia-siakan. Setelah lima tahun masa pemulihan di mana saya kembali ke kampung halaman dan tinggal bersama orang tua kandung saya, rasanya itulah hikmah dari skizofrenia. Saya bisa mengenal ibu yang pernah mengandung saya, juga bapak yang rendah hati, penuh perhatian, yang terpukul ketika mengetahui anaknya mengalami gangguan mental. Beliau selalu memperhatikan dan menjaga saya kala itu. Itulah juga sebuah “meditasi” bagi saya. Ia, sekali lagi, menyelamatkan hidup saya. “Meditasi bukan apa yang kamu katakan, tetapi apa yang kamu lakukan,” kata Nanoq da Kansas yang juga guru sastra saya sewaktu remaja. Ia benar adanya. Pada akhirnya, apa yang kita lakukan sehari-hari, perlakuan kita kepada orang tua, saudara, kerabat, dan sahabat menunjukkan siapa kita sebenarnya; sejauh mana meditasi yang kita pelajari dari banyak “guru” dan juga tempat suci yang pernah kita ziarahi. Selamat bermeditasi. Salam damai dari saya, pembelajar meditasi. [T]

  • BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA
Mengenal BISAHelpline, Layanan Pencegahan Bunuh Diri di Bali
Menjadi Terbuka Itu Berbahaya | Catatan Akhir Tahun
Di Sanur, Belajar Bangkit dari Lansia Bali
Tags: meditasiSchizophrenia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ke Panti Asuhan Destawan di Sawan Bersama Pemuda Lintas Agama

Next Post

Kemauan Film “Galaksi” dari Sudut Pandang Keluarga, Sahabat, dan Pacar

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
0
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

Read moreDetails

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

Read moreDetails

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

by Chusmeru
October 28, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

Read moreDetails

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

by Angga Wijaya
October 27, 2026
0
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

Read moreDetails

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
0
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

Read moreDetails

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails
Next Post
Kemauan Film “Galaksi” dari Sudut Pandang Keluarga, Sahabat, dan Pacar

Kemauan Film “Galaksi” dari Sudut Pandang Keluarga, Sahabat, dan Pacar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam
Panggung

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia
Panggung

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan
Khas

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain
Liputan Khusus

Pemberdayaan Produk Lokal Setelah Desa Les Diganjar Penghargaan ADWI 2024

“MAKANYA, pengembangannya lebih kepada CBT sebenarnya—Community Based Tourism.” Nyoman Nadiana, yang akrab disapa Don Rare, mengucapkan kalimat itu ketika menjelaskan...

by Jaswanto
October 29, 2026
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen
Panggung

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara
Pameran

B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara

Bali-Global Innovative Design Map Exhibition (B-GIDME) 2026 resmi dibuka pada Senin, 26 Oktober 2026, di Neka Art Museum (NAM), Ubud,...

by Nyoman Budarsana
October 28, 2026
Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya
Panggung

Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

GUNAWAN Wicaksono membawakan tokoh Purusada dengan riasan tebal, didominasi garis merah dan hitam yang mempertegas wajahnya. Matanya melotot, suaranya menggelegar...

by tatkala
October 28, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

by Chusmeru
October 28, 2026
Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen
Tualang

Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen

MENDENGAR kata Ferrari atau Lamborghini, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada mobil mewah berharga selangit dengan fitur-fitur canggih. Namun, Ferrari...

by Kadek Sri Widiastuti
October 28, 2026
Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji
Liputan Khusus

Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji

“DI DESA PANJI, kami tidak menjual pemandangan, kami menjual cara hidup.” Kalimat itu ditulis Jro Mangku Made Ariawan, Perbekel Desa...

by Jaswanto
October 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co