15 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Yang Menyublim di Sela Hujan”: Memandang Pendidikan dan Kehidupan di Tanah Papua

Muhammad Fathur Rozi by Muhammad Fathur Rozi
May 20, 2024
in Ulas Buku
“Yang Menyublim di Sela Hujan”: Memandang Pendidikan dan Kehidupan di Tanah Papua

Buku " Yang Menyublim di Sela Hujan

Judul : Yang Menyublim di Sela Hujan
Penulis : Fawaz Al-Batawy
Penyunting : Makhfud Ikhwan
Penerbit : EA BOOKS
Cetakan : Kedua, Juni 2018
ISBN : 978-602-1318-49-2
Halaman : 313

“SETIAP ORANG MENJADI GURU, SETIAP RUMAH MENJADI SEKOLAH” –Ki Hadjar Dewantara

Kalimat di atas dikutip dari Ki Hadjar Dewantara. Sengaja saya kutip dari perkataan bapak pendidikan kita, karena buku “Yang Menyublim di Sela Hujan” karya Fawaz Al-Batawy sangat erat kaitannya dengan pendidikan khususnya konsep yang digagas oleh Ki Hadjar Dewantara.

Buku “Yang Menyublim di Sela Hujan” merupakan buku catatan yang ditulis oleh Fawaz saat dia bertugas di Mumugu Batas Batu, Kabupaten Asmat. Dalam catatan tersebut terdapat cerita menarik terkait pengalaman belajar mengajar bersama anak-anak murid Sokola Asmat, berinteraksi dengan murid-murid dan warga, permasalahan keseharaian di tanah timur sana yang patut untuk kita pelajari dari sisi positifnya.

Penulis membagi tiga bab dalam buku tersebut. Pertama, kisah menuju lokasi Mumugu Batas Batu. Kedua, sebuah catatan geografis di tanah Papua. Ketiga, memuat pegalaman belajar-mengajar murid atau sebut saja anak suku Asmat.

Akhir-akhir ini masih menjadi berita hangat kalau berbicara tentang anak Papua, khUsusnya kasus sparatisme dan rasisme. Selama ini sebagian besar masyarakat Indonesia di luar Papua mengalami slippery slope, yakni kesalahan berpikir. Mereka selama ini memandang Papua primitif, miskin, dan tidak berpendidikan. Justru hal tersebut berbalik arah, karena mereka tidak pernah memandang realita sebenarnya di tanah orang timur tersebut. Hanya saja mendengarkan isu yang tidak didukung oleh bukti yang ada.

Dari buku “Yang Menyublim di Sela Hujan” banyak poin penting tentang pendidikan dan kehidupan anak Papua yang mestinya bisa kita tiru.

Bincang-bincang tentang pendidikan Sokola Asmat di Mumugu Batas Batu dalam buku tersebut ada banyak hal yang dapat direnungkan kembali, bagaimana sebuah stereotip yang tidak asing lagi di dunia pendidikan. Marilah mulai dari tentang bapak pendidikan kita selama ini.

Ki Hajar Dewantara adalah bapak pendidikan, entah dari sisi mana kenapa beliau dikatakan bapak pendidikan, unek-unek tersebut diadaptasi dari tulisan Anton Dwisunu Hanung Nugrahanto dalam buku “Sekolah Biasa Saja” yang penulisnya Toto Rahardjo. Pertanyaan tersebut begitu pantas untuk dipertanyakan kembali, dengan alasan karena konsep yang digagas Ki Hajar Dewantara prinsip Taman Siswa tidak pernah diterapkan dalam kurikulum pendidikan saat ini. Justru malah orang yang selama ini kita anggap pendidikannya tidak maju dan masyarakat primitif malah yang menerapkan konsep tersebut.

Tapi, walaupun demikian tidak semua seperti itu. Dengan kata lain, ada segelintir pendidikan yang dapat dikatakan menerapkan konsep Ki Hajar Deawantara, salah satunya seperti yang diterapakan Fawaz di Sokola Asmat.

Salah satu catatan Fawaz dalam bukunya tersebut, justru saya banyak menemui proses belajar anak-anak suku Asmat tidak menitikberatkan pada pendekatan perintah, sangsi, dan kurikulum bak model imperialisme. Karena, hal tersebut tidak sesuai dengan budaya masyarakat timur khususnya daerah Asmat di Papua. Mari perhatikan pendidikan saat ini di sudut kota sebagi pendidik layaknya seperti penjajah; membentak-bentak anak didiknya. Maka dari itu, konsep Ki Hajar Dewantara tersebut justru berjalan di Papua yakni kebebasan dalam belajar; menemukan sendiri karakteristiknya; kemerdekaan; dan tak lupa sebagai pendidik menerapkan humanisasi.

“Pendidikan Adalah Hak, Bukan Kewajiban” Itu adalahsalah satu sub judul dalam buku “Yang Menyublim di Sela Hujan”. Saya rasa sangat menarik, selama ini dalam pendidikan sangat dikenal dengan istilah “tanam pantat” karena di manapun sekolah didirikan menyediakan kuris, meja, dan sebagainya. Selain itu, aturannya siswa di belakang sedangkan guru pasti di depan.

Tapi, tidak dengan anak Papua khsusnya anak suku Asmat saat belajar bersama Fawaz. Mereka justru tidak betah dan tidak tenang duduk di kursi, melainkan mereka lebih suka duduk di hamparan tanah. Mereka dapat dikatakan belajar tanpa kursi, meja, dan bahkan ruang kelas. Sebenaranya itu yang menjadi bukti bahwa anak-anak Asmat di Papua tidak dapat ditaklukkan dengan label-label penghakiman kebiasaan setempat yang menganggap lebih buruk dan terbelakang.

Nah, sekarang dengan kejadian seperti demikian justru konsep “Taman Siswa” dijalankan di tanah Papua itu sendiri. Lantas sejenak berpikir ke mana mereka yang menganggap orang timur lebih terbelakang?

Jika pendidikan justru mengalir dalam tekanan setiap pertemuan belajar, maka jelas taman siswa sudah tidak lagi ada, bak sekolah rakyat yang tak tersentuh. Jika demikian, justru lebih cocok untuk mereka bapak pendidikanya adalah Herman Willem Deandels saja, dengan pertimbangan karena dia penguasa Nusantara pertama menciptakan sistem sekolah.

Dari buku “Yang Menyublim di Sela Hujan” banyak hal langka dan jarang kita temui selama ini. Hal inilah saya rasa menjadi keunggulan dari catatan yang ditulis oleh Fawaz. Dalam setiap tulisan yang diulas oleh Fawaz dalam buku tersebut asik untuk dibaca bagaimana kehidupan orang timur selama ini. Tapi, jika pembaca jeli dan berpikir kritis sebenarnya ada representasi yang dihadirkan dalam setiap catatan, semacam cerminan pendidikan di Sokola Asmat, dan menjadi kritik terhadap pendidikan yang monoton.

Pendidikan di Papua sangat kontekstual, berbeda dengan pendidikan yang ada di kota-kota maju pada umumnya yang kadang mengajarkan ilmu pergi. Setiap apa yang diajarkan Fawaz biasanya dia benar-benar mencontohkan secara langsung dari alam semisal berhitung dan sebagainya.

Setiap pelajaran yang diterima anak-anak Sokola Asmat pasti diterapakan dalam kehidupan mereka bersama keluarga. Satu yang unik dalam buku tersebut, yakni timbal balik antara anak-anak suku Asmat yang terkadang mengajarkan Fawaz beberapa ilmu berburu. Jika kita melihat realita saat ini mana ada guru yang meu belajar kepada siswa! Pada intinya dapat disimpulkan pendidikan Paulo Freire diprioritaskan oleh Fawaz di tanah Papua.

Hidup dalam Ketergantungan. “Yang Menyublim di Sela Hujan” membuka rekayasa sosial selama ini menjadi stereotip bahwasannya orang Papua miskin dan acap kali kelaparan melanda sungguh memuakkan. Mari kita perhatikan, di tanah timur tersebut terdapat hasil alam sangat melimpah yang memungkinkan jika dimakan tujuh tutunan tidak akan habis sepertihalnya sagu. Di sisi lain laut yang menyimpan macam-macam hasil laut.

Dari cerita yang diutarakan Fawaz dalam bukunya,  saya rasa ada program pemerintah yang kurang tepat. Pertama, semisal masuknya sumbangsih beberapa barang dari pemerintah contoh skala kecilnya sabun. Dulu sebelum ada sabun mereka menggunakan minyak babi untuk melumuri tubuhnya, tapi sekarang tidak karena diiming-imingi kotor dan sebagainya.

Justru program pemerintah bebalik ke arah negataif. Karena dengan mereka setiap kali membersihkan tubuhnya menggunakan sabun justru saat berburu di hutan tidak lagi seperti dulu, karena bau yang biasa dicium oleh binatang buruan adalah minyak babi justru tidak seperti sedia kala. Kedua, masuknya sumbangsih sepatu yang diupayakan agar memakai sepatu apa lagi saat sekolah.

Hal tersebut menjadi ketergantungan ketika sepatu sudah mulai rusak. Biasanya kulit kaki tebal dan tidak mudah luka justru mereka pasca memakai sepatu mengganggu ketahanan kaki mereka yang semakin lemah dan mudah terluka. Ketiga, label kaya dan miskin.

Sebelum masuknya orang dari tanah luar Papua tidak ada kaya dan miskin melainkan stereotip tersebut dibuat oleh orang-orang yang memiliki kepentingan tertentu. Dari beberapa contoh tadi, menjadikan masyarakat timur ketergantungan. Sehingga, mau tidak mau untuk memenuhi kebutuhannya mereka menjual SDA yang hanya ditukar dengan uang yang tidak seberapa.

***

Buku “Yang Menyublim di Sela Hujan” adalah membuka realita yang selama ini tidak banyak dikatahui orang, tentang kehidupan, tentang konsep pendidikan yang memang menerapkan pendidikan yang membebaskan; belajar tanpa batas waktu; tanpa ruang kelas; tanpa kursi dsb.

(Dalam tulisan ini hanya membahas beberapa bagian saja  dalam buku “Yang Menyublim di Sela Hujan” masih banyak ada tentang budaya orang timur yang belum diulas dalam tulisan ini.)

Lada dari Papa


Indonesia dari Pinggir: Memoar Perjalanan yang Mengagumkan
Apakah Aku Normal?
Tags: BukuPapuaPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kampanye dan Mengawal Tujuan Pembangunan Berkelanjutan [Sustainable Development Goals – SDGs] dengan Puisi

Next Post

Arsitektur Regeneratif dan Pembangunan Kapitalistik : Menuliskan Bali dan Arsitektur Desa Potato Seminyak

Muhammad Fathur Rozi

Muhammad Fathur Rozi

Alumni mahasiswa PBSI–Undiksha. Kini menjadi guru dan mahasiswa magister aktif di Universitas Nurul Jadid Paiton. Facebook: El-Fathur Rozi. Gmail: rozi8917@gmail.com

Related Posts

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
0
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

Read moreDetails

Makassar yang Sempat Terabaikan

by Moch. Ferdi Al Qadri
April 16, 2026
0
Makassar yang Sempat Terabaikan

Judul: Makasssar Nol Kilometer Penulis: Anwar J. Rahman, dkk. Penerbit: Tanahindie Press Tahun: 2014 Halaman: xviii + 255 MAKASSAR-NYA satu,...

Read moreDetails

Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

by Farhan M. Adyatma
March 27, 2026
0
Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

Judul: Terdepan, Terluar, Tertinggal: Antologi Puisi Obskur Indonesia 1945-2045 Penulis: Martin Suryajaya Penerbit: Anagram Tahun terbit: Agustus 2020 Jumlah halaman:...

Read moreDetails

‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

by Radha Dwi Pradnyani
March 25, 2026
0
‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

Judul: Menghirup Udara Segar Judul Asli: Coming Up For Air Penulis: George Orwell Penerjemah: Berliani M. Nugraha Tahun Terbit: 2021...

Read moreDetails

Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

by Inno Koten
March 22, 2026
0
Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

YANG orang ingat dari Pramoedya Ananta Toer (Pram) adalah ikhtiarnya untuk menyelamatkan martabat manusia. Ia menulis tentang mereka yang kalah,...

Read moreDetails

Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

by Sigit Susanto
March 17, 2026
0
Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

Judul: Im Herzen waren wir Indonesier Penulis: Gret Surbeck Penerbit: Limmat Verag, 2007 Tebal: 508 Bahasa : Jerman Christa Miranda, menemukan...

Read moreDetails

Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

by Dian Suryantini
March 13, 2026
0
Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

SASTRA sering kali menjadi cermin paling jujur bagi kehidupan sosial. Sastra tidak selalu menyampaikan fakta dalam bentuk angka, statistik, atau...

Read moreDetails

Ingatan, Kehilangan, dan Perlawanan dalam ‘Laut Bercerita’

by Muhammad Khairu Rahman
March 8, 2026
0
Ingatan, Kehilangan, dan Perlawanan dalam ‘Laut Bercerita’

NOVEL Laut Bercerita karya Leila S. Chudori merupakan salah satu karya sastra Indonesia kontemporer yang menghadirkan luka sejarah sebagai ruang...

Read moreDetails

Sugianto Membongkar Bali

by Wayan Esa Bhaskara
March 8, 2026
0
Sugianto Membongkar Bali

Judul Buku    : Aib Penulis          : I Made Sugianto Penerbit        : Pustaka Ekspresi Cetakan         : Pertama, Januari 2026 Tebal              :...

Read moreDetails

Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

by Putu Lina Kamelia
February 28, 2026
0
Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

Judul Buku : Dokter Gila Penulis : dr. Putu Arya Nugraha Penerbit : Tatkala Tahun : 2025 RUMAH itu mungil...

Read moreDetails
Next Post
Arsitektur Regeneratif dan Pembangunan Kapitalistik : Menuliskan Bali dan Arsitektur Desa Potato Seminyak

Arsitektur Regeneratif dan Pembangunan Kapitalistik : Menuliskan Bali dan Arsitektur Desa Potato Seminyak

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co