4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Yang Menyublim di Sela Hujan”: Memandang Pendidikan dan Kehidupan di Tanah Papua

Muhammad Fathur Rozi by Muhammad Fathur Rozi
May 20, 2024
in Ulas Buku
“Yang Menyublim di Sela Hujan”: Memandang Pendidikan dan Kehidupan di Tanah Papua

Buku " Yang Menyublim di Sela Hujan

Judul : Yang Menyublim di Sela Hujan
Penulis : Fawaz Al-Batawy
Penyunting : Makhfud Ikhwan
Penerbit : EA BOOKS
Cetakan : Kedua, Juni 2018
ISBN : 978-602-1318-49-2
Halaman : 313

“SETIAP ORANG MENJADI GURU, SETIAP RUMAH MENJADI SEKOLAH” –Ki Hadjar Dewantara

Kalimat di atas dikutip dari Ki Hadjar Dewantara. Sengaja saya kutip dari perkataan bapak pendidikan kita, karena buku “Yang Menyublim di Sela Hujan” karya Fawaz Al-Batawy sangat erat kaitannya dengan pendidikan khususnya konsep yang digagas oleh Ki Hadjar Dewantara.

Buku “Yang Menyublim di Sela Hujan” merupakan buku catatan yang ditulis oleh Fawaz saat dia bertugas di Mumugu Batas Batu, Kabupaten Asmat. Dalam catatan tersebut terdapat cerita menarik terkait pengalaman belajar mengajar bersama anak-anak murid Sokola Asmat, berinteraksi dengan murid-murid dan warga, permasalahan keseharaian di tanah timur sana yang patut untuk kita pelajari dari sisi positifnya.

Penulis membagi tiga bab dalam buku tersebut. Pertama, kisah menuju lokasi Mumugu Batas Batu. Kedua, sebuah catatan geografis di tanah Papua. Ketiga, memuat pegalaman belajar-mengajar murid atau sebut saja anak suku Asmat.

Akhir-akhir ini masih menjadi berita hangat kalau berbicara tentang anak Papua, khUsusnya kasus sparatisme dan rasisme. Selama ini sebagian besar masyarakat Indonesia di luar Papua mengalami slippery slope, yakni kesalahan berpikir. Mereka selama ini memandang Papua primitif, miskin, dan tidak berpendidikan. Justru hal tersebut berbalik arah, karena mereka tidak pernah memandang realita sebenarnya di tanah orang timur tersebut. Hanya saja mendengarkan isu yang tidak didukung oleh bukti yang ada.

Dari buku “Yang Menyublim di Sela Hujan” banyak poin penting tentang pendidikan dan kehidupan anak Papua yang mestinya bisa kita tiru.

Bincang-bincang tentang pendidikan Sokola Asmat di Mumugu Batas Batu dalam buku tersebut ada banyak hal yang dapat direnungkan kembali, bagaimana sebuah stereotip yang tidak asing lagi di dunia pendidikan. Marilah mulai dari tentang bapak pendidikan kita selama ini.

Ki Hajar Dewantara adalah bapak pendidikan, entah dari sisi mana kenapa beliau dikatakan bapak pendidikan, unek-unek tersebut diadaptasi dari tulisan Anton Dwisunu Hanung Nugrahanto dalam buku “Sekolah Biasa Saja” yang penulisnya Toto Rahardjo. Pertanyaan tersebut begitu pantas untuk dipertanyakan kembali, dengan alasan karena konsep yang digagas Ki Hajar Dewantara prinsip Taman Siswa tidak pernah diterapkan dalam kurikulum pendidikan saat ini. Justru malah orang yang selama ini kita anggap pendidikannya tidak maju dan masyarakat primitif malah yang menerapkan konsep tersebut.

Tapi, walaupun demikian tidak semua seperti itu. Dengan kata lain, ada segelintir pendidikan yang dapat dikatakan menerapkan konsep Ki Hajar Deawantara, salah satunya seperti yang diterapakan Fawaz di Sokola Asmat.

Salah satu catatan Fawaz dalam bukunya tersebut, justru saya banyak menemui proses belajar anak-anak suku Asmat tidak menitikberatkan pada pendekatan perintah, sangsi, dan kurikulum bak model imperialisme. Karena, hal tersebut tidak sesuai dengan budaya masyarakat timur khususnya daerah Asmat di Papua. Mari perhatikan pendidikan saat ini di sudut kota sebagi pendidik layaknya seperti penjajah; membentak-bentak anak didiknya. Maka dari itu, konsep Ki Hajar Dewantara tersebut justru berjalan di Papua yakni kebebasan dalam belajar; menemukan sendiri karakteristiknya; kemerdekaan; dan tak lupa sebagai pendidik menerapkan humanisasi.

“Pendidikan Adalah Hak, Bukan Kewajiban” Itu adalahsalah satu sub judul dalam buku “Yang Menyublim di Sela Hujan”. Saya rasa sangat menarik, selama ini dalam pendidikan sangat dikenal dengan istilah “tanam pantat” karena di manapun sekolah didirikan menyediakan kuris, meja, dan sebagainya. Selain itu, aturannya siswa di belakang sedangkan guru pasti di depan.

Tapi, tidak dengan anak Papua khsusnya anak suku Asmat saat belajar bersama Fawaz. Mereka justru tidak betah dan tidak tenang duduk di kursi, melainkan mereka lebih suka duduk di hamparan tanah. Mereka dapat dikatakan belajar tanpa kursi, meja, dan bahkan ruang kelas. Sebenaranya itu yang menjadi bukti bahwa anak-anak Asmat di Papua tidak dapat ditaklukkan dengan label-label penghakiman kebiasaan setempat yang menganggap lebih buruk dan terbelakang.

Nah, sekarang dengan kejadian seperti demikian justru konsep “Taman Siswa” dijalankan di tanah Papua itu sendiri. Lantas sejenak berpikir ke mana mereka yang menganggap orang timur lebih terbelakang?

Jika pendidikan justru mengalir dalam tekanan setiap pertemuan belajar, maka jelas taman siswa sudah tidak lagi ada, bak sekolah rakyat yang tak tersentuh. Jika demikian, justru lebih cocok untuk mereka bapak pendidikanya adalah Herman Willem Deandels saja, dengan pertimbangan karena dia penguasa Nusantara pertama menciptakan sistem sekolah.

Dari buku “Yang Menyublim di Sela Hujan” banyak hal langka dan jarang kita temui selama ini. Hal inilah saya rasa menjadi keunggulan dari catatan yang ditulis oleh Fawaz. Dalam setiap tulisan yang diulas oleh Fawaz dalam buku tersebut asik untuk dibaca bagaimana kehidupan orang timur selama ini. Tapi, jika pembaca jeli dan berpikir kritis sebenarnya ada representasi yang dihadirkan dalam setiap catatan, semacam cerminan pendidikan di Sokola Asmat, dan menjadi kritik terhadap pendidikan yang monoton.

Pendidikan di Papua sangat kontekstual, berbeda dengan pendidikan yang ada di kota-kota maju pada umumnya yang kadang mengajarkan ilmu pergi. Setiap apa yang diajarkan Fawaz biasanya dia benar-benar mencontohkan secara langsung dari alam semisal berhitung dan sebagainya.

Setiap pelajaran yang diterima anak-anak Sokola Asmat pasti diterapakan dalam kehidupan mereka bersama keluarga. Satu yang unik dalam buku tersebut, yakni timbal balik antara anak-anak suku Asmat yang terkadang mengajarkan Fawaz beberapa ilmu berburu. Jika kita melihat realita saat ini mana ada guru yang meu belajar kepada siswa! Pada intinya dapat disimpulkan pendidikan Paulo Freire diprioritaskan oleh Fawaz di tanah Papua.

Hidup dalam Ketergantungan. “Yang Menyublim di Sela Hujan” membuka rekayasa sosial selama ini menjadi stereotip bahwasannya orang Papua miskin dan acap kali kelaparan melanda sungguh memuakkan. Mari kita perhatikan, di tanah timur tersebut terdapat hasil alam sangat melimpah yang memungkinkan jika dimakan tujuh tutunan tidak akan habis sepertihalnya sagu. Di sisi lain laut yang menyimpan macam-macam hasil laut.

Dari cerita yang diutarakan Fawaz dalam bukunya,  saya rasa ada program pemerintah yang kurang tepat. Pertama, semisal masuknya sumbangsih beberapa barang dari pemerintah contoh skala kecilnya sabun. Dulu sebelum ada sabun mereka menggunakan minyak babi untuk melumuri tubuhnya, tapi sekarang tidak karena diiming-imingi kotor dan sebagainya.

Justru program pemerintah bebalik ke arah negataif. Karena dengan mereka setiap kali membersihkan tubuhnya menggunakan sabun justru saat berburu di hutan tidak lagi seperti dulu, karena bau yang biasa dicium oleh binatang buruan adalah minyak babi justru tidak seperti sedia kala. Kedua, masuknya sumbangsih sepatu yang diupayakan agar memakai sepatu apa lagi saat sekolah.

Hal tersebut menjadi ketergantungan ketika sepatu sudah mulai rusak. Biasanya kulit kaki tebal dan tidak mudah luka justru mereka pasca memakai sepatu mengganggu ketahanan kaki mereka yang semakin lemah dan mudah terluka. Ketiga, label kaya dan miskin.

Sebelum masuknya orang dari tanah luar Papua tidak ada kaya dan miskin melainkan stereotip tersebut dibuat oleh orang-orang yang memiliki kepentingan tertentu. Dari beberapa contoh tadi, menjadikan masyarakat timur ketergantungan. Sehingga, mau tidak mau untuk memenuhi kebutuhannya mereka menjual SDA yang hanya ditukar dengan uang yang tidak seberapa.

***

Buku “Yang Menyublim di Sela Hujan” adalah membuka realita yang selama ini tidak banyak dikatahui orang, tentang kehidupan, tentang konsep pendidikan yang memang menerapkan pendidikan yang membebaskan; belajar tanpa batas waktu; tanpa ruang kelas; tanpa kursi dsb.

(Dalam tulisan ini hanya membahas beberapa bagian saja  dalam buku “Yang Menyublim di Sela Hujan” masih banyak ada tentang budaya orang timur yang belum diulas dalam tulisan ini.)

Lada dari Papa


Indonesia dari Pinggir: Memoar Perjalanan yang Mengagumkan
Apakah Aku Normal?
Tags: BukuPapuaPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kampanye dan Mengawal Tujuan Pembangunan Berkelanjutan [Sustainable Development Goals – SDGs] dengan Puisi

Next Post

Arsitektur Regeneratif dan Pembangunan Kapitalistik : Menuliskan Bali dan Arsitektur Desa Potato Seminyak

Muhammad Fathur Rozi

Muhammad Fathur Rozi

Alumni mahasiswa PBSI–Undiksha. Kini menjadi guru dan mahasiswa magister aktif di Universitas Nurul Jadid Paiton. Facebook: El-Fathur Rozi. Gmail: rozi8917@gmail.com

Related Posts

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

by I Nyoman Darma Putra
July 9, 2026
0
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

Read moreDetails

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
0
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

Read moreDetails

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

by Dede Putra Wiguna
July 1, 2026
0
Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Judul             : Korpus Uterus Penulis          : Sasti Gotama Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama Editor             : Ruth Priscilia Angelina Tebal buku  ...

Read moreDetails
Next Post
Arsitektur Regeneratif dan Pembangunan Kapitalistik : Menuliskan Bali dan Arsitektur Desa Potato Seminyak

Arsitektur Regeneratif dan Pembangunan Kapitalistik : Menuliskan Bali dan Arsitektur Desa Potato Seminyak

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co