4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Apakah Aku Normal?

Stebby Julionatan by Stebby Julionatan
September 23, 2023
in Ulas Buku
Apakah Aku Normal?

Sampul Aristotle and Dante: Discover the Secrets of the

  • Judul Buku : Aristotle and Dante: Discover the Secrets of the Universe
  • Jenis : Novel
  • Penulis : Benjamin Alire Saenz
  • Penerjemah : Wawan Kurniawan
  • Penerbit : Shira Media
  • Cetakan : Pertama, 2022
  • Tebal : xii + 384 halaman
  • ISBN : 978-602-7760-67-7
  • Peresensi : Stebby Julionatan

Mungkin aku masih gerimis yang kecil
Kan jelang kujadi petir petir yang hebat
Dan bila waktunya tiba mungkin aku lebih berani
Bukan dalam diam saja sepenuhnya aku

ITULAH LIRIK Dalam Diam, salah satu lagu yang dinyanyikan oleh Sal Priadi saat menutup Pesta Literasi Indonesia di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Minggu (3/9) malam lalu.

Sebelum menyanyikannya, Sal bercerita kepada parapengunjung yang memadati ruang Teater Wahyu Sihombing, jika lagu tersebut ia tulis untuk seseorang yang pernah seperti dirinya.

Dalam Diam ia tulis untuk seseorang yang sedang merasa jatuh cinta tapi tak sanggup—menyampaikan perasaan cintanya tersebut kepada orang yang  ia sukai. Begitulah kira-kira katanya.

Saat lagu tersebut mengalun, apa yang disampaikan Sal melalui musiknya, bagi saya seolah adalah perasaan yang tengah dirasakan Ari (Aristotle Mendoza), seorang remaja Mexico-Amerika berusia 15 tahun, tokoh utama dalam novel karangan Benjamin Alire Saenz ini.

Di usianya yang masih remaja, Ari gamang akan perasaan kepada karib sebayanya, Dante Quintana. Ia mencintai Dante, namun karena ia adalah anak laki-laki keturunan Mexico dan tinggal di Austin, Texas pada 1987, maka ia merasa bahwa perasaan yang ia miliki kepada sahabatnya itu—yang kebetulan sama-sama lelaki, salah dan memalukan. Butuh 384 halaman, dua musim panas, dua kecelakaan yang parah agar Ari bisa berterus terang mengakui perasaannya kepada Dante.

Jika kita bercermin dalam konteks lokal, apa yang dirasakan Ari mungkin sama dengan apa yang dirasakan (katakanlah) Slamet, seorang kawan saya, remaja 15 tahun asal Probolinggo, Jawa Timur. Saat Slamet yang masih duduk di bangku SMA tersebut memiliki perasaan spesial kepada Agus, sahabat dan seniornya yang berprofesi sebagai polisi, ia merasa malu dan harus mati-matian mengubur perasaannya itu. Hal ini sungguh tidak patut, dalam bayangan Slamet.

Perasaan bersalah seperti itu adalah perasaan yang tidak bisa dihindari ketika Slamet hidup dalam masyarakat yang heteronormatif, yang terbiasa menormalisasi doktrin-doktrin agama, dan begitu jauh dari keterpaparan ilmu-ilmu gender. Lebih lanjut, Slamet sangat mungkin membenci dirinya sendiri dan orang lain yang seperti dirinya, serta mengalami depresi sebagaimana yang dialami Ari.

Di sisi lain, bagi saya novel ini menjadi semacam jawaban, ketika dalam suatu perbincangan, kawan saya—kebetulan memang laki-laki cis yang merasa heteroseksual, bertanya: “Mengapa cowok “normal”, dia menikah, tiba-tiba bisa menjadi gay?” Sebenarnya saya dapat saja dengan mudah menjawabnya kembali dengan sebuah pertanyaan: “Apakah cowok yang menikah bisa selalu dipastikan “normal”?”

Tetapi, dengan memintanya membaca karya Saenz ini, Aristotle dan Dante seolah bisa menjadi sepasang mata kunci yang dapat membuka pemahaman kawan saya tersebut untuk bersikap hati-hati dengan pertanyaan dan pernyataannya. Apalagi pernyataan mengenai normalitas manusia.

Ya, sebelum kita mengalami ragam pengalaman seksualitas, sebaiknya kita sedikit menunda pembenaran bahwa kita benar-benar cis-heteroseksual. Sebab bisa jadi, jangan-jangan karena performatifitas, hanya sekadar kesepakatan komunal mengenai hal-hal wajar dan tidak wajar untuk dilakukan sebagaimana yang saya sebut di atas. Atau, karena kosarasa tersebut jauh dari lingkup semesta yang biasa kita hidupi, kita jadi meniadakan dan mematikan perasaan tersebut.

Bagi saya, sungguh sangat disayangkan jika novel pertama Aristotle and Dante Dive into the Waters of the World (2021) yang meraih banyak penghargaan ini, di antaranya: Stonewall Book Award, Printz Honor Book dan finalis Amelia Elizabeth Walden Award, baru bisa dibaca pembaca Indonesia setelah 10 tahun berselang. Penyesalan tersebut saya rasakan karena dua hal. Pertama, karena isunya sebagaimana yang telah saya bahas di atas. Dan kedua, karena teknik penulisannya yang juga nyeleneh (baca: queer).

Mengapa? Sebab dalam banyak kursus penulisan prosa yang ada di Indonesia, saya merasa seperti ada larangan jamak memulai prosa dengan dialog atau banyak-banyak menggunakan dialog pada karya yang tengah kita tulis. Apalagi, jika dialog tersebut berpotensi membingungkan pembaca.

Nyatanya, hal tersebut bagi saya justru bisa menjadi kekuatan novel ini meski (tak menutup kemungkinan) saya juga lihat banyak pembaca Indonesia yang menilainya sebagai kekurangan novel ini. Bahkan, dalam platform komunitas pembaca ada yang terang-terangan mengatakan bahwa novel ini tidak memiliki plot cerita yang jelas karena kebingungannya membaca atau menentukan suara siapa yang saat itu tengah dibaca dialognya.

Aristotle and Dante adalah novel yang penuh percakapan spontan di tengah-tengah liburan musim panas. Ari dan Dante membahas berbagai topik secara unik dan acak. Begitu cair. Hal inilah yang saya rasa membuat pembaca yang tidak terbiasa membaca prosa yang memuat percakapan-percakapan acak merasa kebingungan mengenai plot.

Ari dan Dante berbicara ngalor-ngidul mengenai hobi, kebiasaan yang mereka lakukan dan yang tidak boleh mereka lakukan di rumah. Tentang ayah mereka dan tentang seberapa penting makna kejantanan bagi masyarakat keturunan Mexico-Amerika seperti mereka. Juga tentang minat Dante pada puisi dan melukis, serta betapa emosionalnya Dante pada isu-isu terkait lingkungan.

Percakapan acak semacam di atas, bagi saya adalah hal lumrah dan umum. Menyajikan realitas obrolan keseharian. Malah, lebih istimewanya lagi, dalam obrolan tersebut, Saenz sepertinya memang secara sengaja menempatkan pembaca ke dalam perspektif Ari, remaja yang tengah dilanda krisis identitas, yang ngeselin.

Ya, meskipun tidak semua remaja mengalami stres akibat tumbukan isu identitas sebagaimana yang dialami Ari, POV yang dipilih Saenz tersebut adalah hal yang terbaik. Sebab, sebagai “aku”, Ari selalu menjelaskan segala hal yang baik tentang Dante, namun tidak tentang dirinya sendiri. Ia mengubur dirinya (baca: hasratnya) rapat-rapat ke dalam peti. Betapa relate dan khasnya hal tersebut dengan kenyataan.

Tahun ini, novel yang edisi bahasa Indonesianya diterjemahkan oleh Wawan Kurniawan tersebut, telah dialihwahanakan oleh sutradara kelahiran Florida Aitch Alberto, menjadi film. Film berjudul sama dengan novel tersebut mendapatkan apresiasi yang baik di Toronto Film Festival dan rilis bagi publik pada 9 September 2023 lalu. Ya, semoga saja kita tak perlu menunggu 10 tahun lagi untuk melihat visualisasi Ari dan Dante dalam film![T]

Jakarta, 8 September 2023

Renjana: Gemuruh Hati Seorang April Artison
Mlancaran ke Sasak: Sastra Pariwisata Bernuansa Cinta
Sutan Duano Ada di Antara Kita | Dari Novel Kemarau Karya AA Navis
Rendezvous: Puisi-puisi yang Melawan Keberserakan Kata-kata
Tags: Bukunovelsastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

PKM ISI Denpasar : Pembinaan Gending Bopong Gaya Kayumas di Sanggar Tabuh Kembang Waru Denpasar

Next Post

AIR (2023): Dian Suryantini dan Debutnya Sebagai Sutradara

Stebby Julionatan

Stebby Julionatan

Tinggal di Probolinggo, Jawa Timur dan saat ini tengah melanjutkan pendidikannya di Kajian Gender – Universitas Indonesia.

Related Posts

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails
Next Post
AIR (2023): Dian Suryantini dan Debutnya Sebagai Sutradara

AIR (2023): Dian Suryantini dan Debutnya Sebagai Sutradara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co