4 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Apakah Aku Normal?

Stebby Julionatan by Stebby Julionatan
September 23, 2023
in Ulas Buku
Apakah Aku Normal?

Sampul Aristotle and Dante: Discover the Secrets of the

  • Judul Buku : Aristotle and Dante: Discover the Secrets of the Universe
  • Jenis : Novel
  • Penulis : Benjamin Alire Saenz
  • Penerjemah : Wawan Kurniawan
  • Penerbit : Shira Media
  • Cetakan : Pertama, 2022
  • Tebal : xii + 384 halaman
  • ISBN : 978-602-7760-67-7
  • Peresensi : Stebby Julionatan

Mungkin aku masih gerimis yang kecil
Kan jelang kujadi petir petir yang hebat
Dan bila waktunya tiba mungkin aku lebih berani
Bukan dalam diam saja sepenuhnya aku

ITULAH LIRIK Dalam Diam, salah satu lagu yang dinyanyikan oleh Sal Priadi saat menutup Pesta Literasi Indonesia di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Minggu (3/9) malam lalu.

Sebelum menyanyikannya, Sal bercerita kepada parapengunjung yang memadati ruang Teater Wahyu Sihombing, jika lagu tersebut ia tulis untuk seseorang yang pernah seperti dirinya.

Dalam Diam ia tulis untuk seseorang yang sedang merasa jatuh cinta tapi tak sanggup—menyampaikan perasaan cintanya tersebut kepada orang yang  ia sukai. Begitulah kira-kira katanya.

Saat lagu tersebut mengalun, apa yang disampaikan Sal melalui musiknya, bagi saya seolah adalah perasaan yang tengah dirasakan Ari (Aristotle Mendoza), seorang remaja Mexico-Amerika berusia 15 tahun, tokoh utama dalam novel karangan Benjamin Alire Saenz ini.

Di usianya yang masih remaja, Ari gamang akan perasaan kepada karib sebayanya, Dante Quintana. Ia mencintai Dante, namun karena ia adalah anak laki-laki keturunan Mexico dan tinggal di Austin, Texas pada 1987, maka ia merasa bahwa perasaan yang ia miliki kepada sahabatnya itu—yang kebetulan sama-sama lelaki, salah dan memalukan. Butuh 384 halaman, dua musim panas, dua kecelakaan yang parah agar Ari bisa berterus terang mengakui perasaannya kepada Dante.

Jika kita bercermin dalam konteks lokal, apa yang dirasakan Ari mungkin sama dengan apa yang dirasakan (katakanlah) Slamet, seorang kawan saya, remaja 15 tahun asal Probolinggo, Jawa Timur. Saat Slamet yang masih duduk di bangku SMA tersebut memiliki perasaan spesial kepada Agus, sahabat dan seniornya yang berprofesi sebagai polisi, ia merasa malu dan harus mati-matian mengubur perasaannya itu. Hal ini sungguh tidak patut, dalam bayangan Slamet.

Perasaan bersalah seperti itu adalah perasaan yang tidak bisa dihindari ketika Slamet hidup dalam masyarakat yang heteronormatif, yang terbiasa menormalisasi doktrin-doktrin agama, dan begitu jauh dari keterpaparan ilmu-ilmu gender. Lebih lanjut, Slamet sangat mungkin membenci dirinya sendiri dan orang lain yang seperti dirinya, serta mengalami depresi sebagaimana yang dialami Ari.

Di sisi lain, bagi saya novel ini menjadi semacam jawaban, ketika dalam suatu perbincangan, kawan saya—kebetulan memang laki-laki cis yang merasa heteroseksual, bertanya: “Mengapa cowok “normal”, dia menikah, tiba-tiba bisa menjadi gay?” Sebenarnya saya dapat saja dengan mudah menjawabnya kembali dengan sebuah pertanyaan: “Apakah cowok yang menikah bisa selalu dipastikan “normal”?”

Tetapi, dengan memintanya membaca karya Saenz ini, Aristotle dan Dante seolah bisa menjadi sepasang mata kunci yang dapat membuka pemahaman kawan saya tersebut untuk bersikap hati-hati dengan pertanyaan dan pernyataannya. Apalagi pernyataan mengenai normalitas manusia.

Ya, sebelum kita mengalami ragam pengalaman seksualitas, sebaiknya kita sedikit menunda pembenaran bahwa kita benar-benar cis-heteroseksual. Sebab bisa jadi, jangan-jangan karena performatifitas, hanya sekadar kesepakatan komunal mengenai hal-hal wajar dan tidak wajar untuk dilakukan sebagaimana yang saya sebut di atas. Atau, karena kosarasa tersebut jauh dari lingkup semesta yang biasa kita hidupi, kita jadi meniadakan dan mematikan perasaan tersebut.

Bagi saya, sungguh sangat disayangkan jika novel pertama Aristotle and Dante Dive into the Waters of the World (2021) yang meraih banyak penghargaan ini, di antaranya: Stonewall Book Award, Printz Honor Book dan finalis Amelia Elizabeth Walden Award, baru bisa dibaca pembaca Indonesia setelah 10 tahun berselang. Penyesalan tersebut saya rasakan karena dua hal. Pertama, karena isunya sebagaimana yang telah saya bahas di atas. Dan kedua, karena teknik penulisannya yang juga nyeleneh (baca: queer).

Mengapa? Sebab dalam banyak kursus penulisan prosa yang ada di Indonesia, saya merasa seperti ada larangan jamak memulai prosa dengan dialog atau banyak-banyak menggunakan dialog pada karya yang tengah kita tulis. Apalagi, jika dialog tersebut berpotensi membingungkan pembaca.

Nyatanya, hal tersebut bagi saya justru bisa menjadi kekuatan novel ini meski (tak menutup kemungkinan) saya juga lihat banyak pembaca Indonesia yang menilainya sebagai kekurangan novel ini. Bahkan, dalam platform komunitas pembaca ada yang terang-terangan mengatakan bahwa novel ini tidak memiliki plot cerita yang jelas karena kebingungannya membaca atau menentukan suara siapa yang saat itu tengah dibaca dialognya.

Aristotle and Dante adalah novel yang penuh percakapan spontan di tengah-tengah liburan musim panas. Ari dan Dante membahas berbagai topik secara unik dan acak. Begitu cair. Hal inilah yang saya rasa membuat pembaca yang tidak terbiasa membaca prosa yang memuat percakapan-percakapan acak merasa kebingungan mengenai plot.

Ari dan Dante berbicara ngalor-ngidul mengenai hobi, kebiasaan yang mereka lakukan dan yang tidak boleh mereka lakukan di rumah. Tentang ayah mereka dan tentang seberapa penting makna kejantanan bagi masyarakat keturunan Mexico-Amerika seperti mereka. Juga tentang minat Dante pada puisi dan melukis, serta betapa emosionalnya Dante pada isu-isu terkait lingkungan.

Percakapan acak semacam di atas, bagi saya adalah hal lumrah dan umum. Menyajikan realitas obrolan keseharian. Malah, lebih istimewanya lagi, dalam obrolan tersebut, Saenz sepertinya memang secara sengaja menempatkan pembaca ke dalam perspektif Ari, remaja yang tengah dilanda krisis identitas, yang ngeselin.

Ya, meskipun tidak semua remaja mengalami stres akibat tumbukan isu identitas sebagaimana yang dialami Ari, POV yang dipilih Saenz tersebut adalah hal yang terbaik. Sebab, sebagai “aku”, Ari selalu menjelaskan segala hal yang baik tentang Dante, namun tidak tentang dirinya sendiri. Ia mengubur dirinya (baca: hasratnya) rapat-rapat ke dalam peti. Betapa relate dan khasnya hal tersebut dengan kenyataan.

Tahun ini, novel yang edisi bahasa Indonesianya diterjemahkan oleh Wawan Kurniawan tersebut, telah dialihwahanakan oleh sutradara kelahiran Florida Aitch Alberto, menjadi film. Film berjudul sama dengan novel tersebut mendapatkan apresiasi yang baik di Toronto Film Festival dan rilis bagi publik pada 9 September 2023 lalu. Ya, semoga saja kita tak perlu menunggu 10 tahun lagi untuk melihat visualisasi Ari dan Dante dalam film![T]

Jakarta, 8 September 2023

Renjana: Gemuruh Hati Seorang April Artison
Mlancaran ke Sasak: Sastra Pariwisata Bernuansa Cinta
Sutan Duano Ada di Antara Kita | Dari Novel Kemarau Karya AA Navis
Rendezvous: Puisi-puisi yang Melawan Keberserakan Kata-kata
Tags: Bukunovelsastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

PKM ISI Denpasar : Pembinaan Gending Bopong Gaya Kayumas di Sanggar Tabuh Kembang Waru Denpasar

Next Post

AIR (2023): Dian Suryantini dan Debutnya Sebagai Sutradara

Stebby Julionatan

Stebby Julionatan

Tinggal di Probolinggo, Jawa Timur dan saat ini tengah melanjutkan pendidikannya di Kajian Gender – Universitas Indonesia.

Related Posts

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026
0
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

Read moreDetails

Membaca Racauan Arman Dhani

by Wayan Esa Bhaskara
May 30, 2026
0
Membaca Racauan Arman Dhani

Judul               : 30 Tahun dan Gagal Penulis            : Arman Dhani Tahun terbit    : Februari 2026 Penerbit          : EA Books...

Read moreDetails

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

by Inno Koten
May 20, 2026
0
Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel...

Read moreDetails

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
0
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

Read moreDetails

Makassar yang Sempat Terabaikan

by Moch. Ferdi Al Qadri
April 16, 2026
0
Makassar yang Sempat Terabaikan

Judul: Makasssar Nol Kilometer Penulis: Anwar J. Rahman, dkk. Penerbit: Tanahindie Press Tahun: 2014 Halaman: xviii + 255 MAKASSAR-NYA satu,...

Read moreDetails

Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

by Farhan M. Adyatma
March 27, 2026
0
Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

Judul: Terdepan, Terluar, Tertinggal: Antologi Puisi Obskur Indonesia 1945-2045 Penulis: Martin Suryajaya Penerbit: Anagram Tahun terbit: Agustus 2020 Jumlah halaman:...

Read moreDetails

‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

by Radha Dwi Pradnyani
March 25, 2026
0
‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

Judul: Menghirup Udara Segar Judul Asli: Coming Up For Air Penulis: George Orwell Penerjemah: Berliani M. Nugraha Tahun Terbit: 2021...

Read moreDetails

Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

by Inno Koten
March 22, 2026
0
Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

YANG orang ingat dari Pramoedya Ananta Toer (Pram) adalah ikhtiarnya untuk menyelamatkan martabat manusia. Ia menulis tentang mereka yang kalah,...

Read moreDetails

Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

by Sigit Susanto
March 17, 2026
0
Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

Judul: Im Herzen waren wir Indonesier Penulis: Gret Surbeck Penerbit: Limmat Verag, 2007 Tebal: 508 Bahasa : Jerman Christa Miranda, menemukan...

Read moreDetails

Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

by Dian Suryantini
March 13, 2026
0
Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

SASTRA sering kali menjadi cermin paling jujur bagi kehidupan sosial. Sastra tidak selalu menyampaikan fakta dalam bentuk angka, statistik, atau...

Read moreDetails
Next Post
AIR (2023): Dian Suryantini dan Debutnya Sebagai Sutradara

AIR (2023): Dian Suryantini dan Debutnya Sebagai Sutradara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co