3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sutan Duano Ada di Antara Kita | Dari Novel Kemarau Karya AA Navis

Rizkul Hamkani by Rizkul Hamkani
August 18, 2023
in Ulas Buku
Sutan Duano Ada di Antara Kita | Dari Novel Kemarau Karya AA Navis

WAKTU ITU matahari telah tenggelam ketika saya selesai membaca cerpen Datangnya dan Perginya, salah satu kisah dalam kumpulan cerpen Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis. Kisah seorang yang menemui ujian keimanan setelah bertobat dari kehidupannya yang bergelimang dosa. Ujian yang mengharuskannya memilih antara mempertahankan prinsipnya untuk menegakkan perintah Tuhan dan keberlangsungan kehidupan berumah tangga anaknya.

Dari Cerpen itulah perkenalan saya dengan novel Kemarau dimulai. Karya yang ditulis oleh penulis yang sama sebagai prekueldari karakter utama dalam cerpen tersebut. Tahulah saya bahwa nama dari karakter utama dalam cerpen sebelumnya bernama Sutan Duano.

Sutan Duano diceritakan dalam novel tersebut sebagai pendatang yang menetap di sebuah kampung, ia oleh penduduk kampung tersebut diberikan tempat untuk tinggal di sebuah surau. Warga kampung beranggapan bahwa ia akan diam di surau itu hanya untuk beribadah kepada Tuhan, karena begitulah warga memandang kegunaan surau selama ini. Namun, ternyata ia bekerja pula, bahkan bisa dibilang ia bekerja lebih tekun daripada penduduk kampung yang ada di sana. Hingga akhirnya ia menjadi salah satu orang terpandang di kampung tersebut dengan hasil kerja kerasnya sendiri.

Dalam novel Kemarau ini, penulis mengisahkan sebuah kampung yang sedang dilanda kemarau berkepanjangan, sehingga membuat sawah milik para penduduk kampung itu mengering karena tidak pernah diterpa hujan. Hanya satu lahan sawah yang tidak mengering waktu kemarau itu, sawah milik Sutan Duano. Ketika banyak dari penduduk kampung meminta pertolongan pada dukun, Ia bolak-balik mengambil air dari danau, seember demi seember. Hal yang sama terjadi ketika para penduduk berbondong-bondong salat berjamaah dan berdoa meminta pertolongan kepada Tuhan berupa hujan, Ia masih bolak-balik mengambil air di danau.

Pada akhirnya para penduduk kampung berputus asa dan beberapa dari mereka memilih untuk bermain domino sebagai pelampiasan, sawah milik Sutan Duano tidak ikut mengering dan padi yang ditanamnya tidak ikut layu layaknya padi-padi yang ditanam oleh penduduk desa. Perilaku Sutan Duano ini dilihat oleh para penduduk desa sebagai sebuah kegilaan, walaupun pada akhirnya kegilaan Sutan Duano ini membuat sawahnya tetap subur dibandingkan sawah kering milik para penduduk desa yang normal.

Sutan Duano melakukan hal ‘gila’ itu karena memegang teguh pendiriannya, bahwa Tuhan tidak akan menolong manusia yang hanya memohon saja, tetapi tidak dibarengi dengan usaha sama sekali. “Hanya dengan usaha dan bekerjalah saja orang akan dapat memperoleh hasil. tidak dengan mendoa, tidaklah dengan ratib, tidaklah dengan sembahyang kaul seperti mereka lakukan selama ini”.

Pendiriannya ini dipegang teguh olehnya, disebarluaskan, dan dijadikan patokan utama baginya dalam perilakunya sehari-hari. Walaupun banyak penduduk kampung menentangnya, menganggap itu tidak sesuai dengan kebiasaan mereka, dan bahkan menganggapnya gila. Prinsipnya tentang agama dalam masyarakat sama sekali berbeda dengan pemahaman agama dan kebiasaan yang dipegang oleh masyarakat kampung itu. Perbedaan ini tidak jarang membuat Sutan Duano terpinggirkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Sutan Duano sering memberitahukan kepada masyarakat bahwa pemahaman agama yang mereka pegang tidak benar karena malah menyusahkan hidup mereka dan memberitahukan kepahaman agama yang benar menurutnya. Bukan cuma diberitahukan, Ia sendiri pun mengaplikasikan konsep beragama yang benar menurutnya. Namun, sayangnya konsep agama yang diajarkan dan dipraktikkan oleh Sutan Duano tidak sesuai dengan kebiasaan beragama masyarakat yang sudah lama dilakukan di kampung itu, sehingga tidak ada yang mengikuti ajarannya. Walaupun masyarakat di sana tetap menghormati pribadi Sutan Duano.

Pendirian Sutan Duano ini bukan cuma terlihat ketika dia mencoba mengairi sawahnya dengan cara yang tidak biasa, namun terlihat pada ajaran dan kebiasan-kebiasannya yang lain. Misalnya saja, Ia tidak suka ikut serta dalam perayaan hajatan yang menghabiskan uang banyak dan malah mengundang orang-orang kaya. Baginya uang yang dihabiskan untuk perayaan itu lebih baik diberikan untuk memberi makan orang-orang miskin.

Selain itu, ia menganjurkan agar zakat lebih baik dibagikan bagi orang-orang miskin di kampung, bukan untuk para pemuka agama dan keluarga terdekat. Banyak lagi ajaran dari Sutan Duano yang tidak sesuai dengan kebiasaan orang-orang kampung, walaupun mereka mengakui bahwa ajaran dari Sutan Duano lebih bermanfaat dari kebiasaan yang mereka lakukan.

Sutan Duano juga tidak mau tawar menawar terhadap pendiriannya. Contohnya, ketika ia mengangkat air dari danau yang tidak lain gunanya supaya warga kampung tahu prinsip yang Ia lakukan adalah hal yang benar. Terlihat bahwa karakter Sutan Duano tidak mentolerir perilaku warga yang tidak sesuai dengan prinsipnya. Sering kali ia diundang oleh warga untuk ikut serta dalam hajatan. Namun, ia tidak mau mengikuti hal tersebut karena tidak sesuai dengan prinsip yang ia percayai tanpa menerima perbedaan pendapat.

Pertentangan prinsip antara Sutan Duano dengan warga kampung ini saya tangkap sebagai pertentangan antara pikiran baru yang masuk dalam sebuah masyarakat dengan pikiran tradisional yang coba dipertahankan oleh masyarakat. Sutan Duano adalah representasi dari pikiran baru yang melihat tidak adanya masa depan dari pikiran lama yang coba dipertahankan oleh masyarakat. Sedangkan masyarakat kampung tetap berpegang teguh terhadap kebiasaan lama yang telah diturunkan dari nenek moyang mereka.

Namun, sayangnya Sutan Duano sebagai representasi pikiran baru ini tidak mau menerima adanya pandangan berbeda dari yang ia akui benar, sehingga tidak jarang menganggap apa yang dilakukan oleh masyarakat kampung sebagai hal yang salah tanpa melihat dari perspektif yang berbeda.

Kisah Sutan Duano mengingatkan saya pada kehidupan tempat saya kuliah. Tempat yang dikatakan sebagai kota santri, tempat untuk menuntut ilmu agama. Banyak orang berbondong-bondong dari berbagai penjuru untuk datang mencari ilmu dan keberkahan dari tempat ini. Kecintaan orang-orang pada tempat ini kadang membuat saya sendiri bingung, apakah kecintaannya kepada ilmu yang dibawa atau orang yang membawa ilmu. Hal ini mengingatkan saya pada perangai wanita-wanita kampung tempat Sutan Duano tinggal.

Selain itu, di tempat ini mulai muncul nilai-nilai baru yang dapat dikatakan berbeda dengan yang biasa dilakukan oleh masyarakat di sini. Beberapa anak muda yang kuliah mengenal hal baru yang bernama filsafat. Perkenalannya dengan filsafat ini membuat mereka banyak memiliki pikiran yang bertentangan dengan pendapat yang biasa digunakan. Contohnya saja tentang pemaknaan “Adab di atas ilmu”.

Perbedaan pendapat ini sayangnya tidak dimaknai sebagai luasnya pemahaman tentang Islam, namun dianggap sebagai sebuah penyimpangan. Di satu sisi, para pemuda ini tetap pada prinsipnya, tanpa mau menerima adanya pemaknaan lain selain pendapat mereka.

Kita hari ini sebenarnya hidup di antara pertentangan antara Sutan Duano dengan warga kampung. Sering kali kita teguh kepada kebiasaan lama yang coba dipertahankan walaupun terlihat tidak memiliki manfaat bagi kita sendiri. Namun, dengan alasan mempertahankan kebiasaan leluhur, kita kadang memarkirkan pikiran sehingga tidak mau mengevaluasi kebiasaan tersebut.

Di satu sisi kebiasaan baru yang coba dimasukkan oleh beberapa orang dalam kehidupan masyarakat sebenarnya tidak menutup kemungkinan untuk sama-sama didiskusikan, namun sayangnya pikiran baru ini tidak mentolerir kebiasaan yang tidak sesuai dengan gagasan yang mereka bangun. Sesuatu hal yang fatal ketika masuk dalam masyarakat yang sudah mapan dengan adat dan kebiasaannya. [T]

Membaca Kembali “Surabaya” Karya A Idrus
Branding Baru Novel Berlatar Tragedi Erupsi Gunung Agung 1963 Karya I Gusti Ngurah Pindha
Usaha Menemukan dan Mengabadikan Desa Muslim Pegayaman Bali | Ulasan Buku Ensiklopedia Desa Muslim Pegayaman Bali
Pembelajaran Moral dari Buku “Kisah Seekor Camar dan Kucing yang Mengajarinya Terbang” Karya Luis Sepulveda
Tags: AA NavisnovelsastraSastra Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Manusia Mentah Menurut Hindu Bali

Next Post

Puisi-Puisi Abed Ilyas | Mata, Air

Rizkul Hamkani

Rizkul Hamkani

Lahir di Lombok Timur 7 Februari 2001. Kuliah pada program studi Hukum Ekonomi Syariah Fakultas Syariah Institut Agama Islam Hamzanwadi Pancor, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Aktif bergiat di Komunitas Kelas Reading Buya Syafii.

Related Posts

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-Puisi Abed Ilyas | Mata, Air

Puisi-Puisi Abed Ilyas | Mata, Air

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co