14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sutan Duano Ada di Antara Kita | Dari Novel Kemarau Karya AA Navis

Rizkul Hamkani by Rizkul Hamkani
August 18, 2023
in Ulas Buku
Sutan Duano Ada di Antara Kita | Dari Novel Kemarau Karya AA Navis

WAKTU ITU matahari telah tenggelam ketika saya selesai membaca cerpen Datangnya dan Perginya, salah satu kisah dalam kumpulan cerpen Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis. Kisah seorang yang menemui ujian keimanan setelah bertobat dari kehidupannya yang bergelimang dosa. Ujian yang mengharuskannya memilih antara mempertahankan prinsipnya untuk menegakkan perintah Tuhan dan keberlangsungan kehidupan berumah tangga anaknya.

Dari Cerpen itulah perkenalan saya dengan novel Kemarau dimulai. Karya yang ditulis oleh penulis yang sama sebagai prekueldari karakter utama dalam cerpen tersebut. Tahulah saya bahwa nama dari karakter utama dalam cerpen sebelumnya bernama Sutan Duano.

Sutan Duano diceritakan dalam novel tersebut sebagai pendatang yang menetap di sebuah kampung, ia oleh penduduk kampung tersebut diberikan tempat untuk tinggal di sebuah surau. Warga kampung beranggapan bahwa ia akan diam di surau itu hanya untuk beribadah kepada Tuhan, karena begitulah warga memandang kegunaan surau selama ini. Namun, ternyata ia bekerja pula, bahkan bisa dibilang ia bekerja lebih tekun daripada penduduk kampung yang ada di sana. Hingga akhirnya ia menjadi salah satu orang terpandang di kampung tersebut dengan hasil kerja kerasnya sendiri.

Dalam novel Kemarau ini, penulis mengisahkan sebuah kampung yang sedang dilanda kemarau berkepanjangan, sehingga membuat sawah milik para penduduk kampung itu mengering karena tidak pernah diterpa hujan. Hanya satu lahan sawah yang tidak mengering waktu kemarau itu, sawah milik Sutan Duano. Ketika banyak dari penduduk kampung meminta pertolongan pada dukun, Ia bolak-balik mengambil air dari danau, seember demi seember. Hal yang sama terjadi ketika para penduduk berbondong-bondong salat berjamaah dan berdoa meminta pertolongan kepada Tuhan berupa hujan, Ia masih bolak-balik mengambil air di danau.

Pada akhirnya para penduduk kampung berputus asa dan beberapa dari mereka memilih untuk bermain domino sebagai pelampiasan, sawah milik Sutan Duano tidak ikut mengering dan padi yang ditanamnya tidak ikut layu layaknya padi-padi yang ditanam oleh penduduk desa. Perilaku Sutan Duano ini dilihat oleh para penduduk desa sebagai sebuah kegilaan, walaupun pada akhirnya kegilaan Sutan Duano ini membuat sawahnya tetap subur dibandingkan sawah kering milik para penduduk desa yang normal.

Sutan Duano melakukan hal ‘gila’ itu karena memegang teguh pendiriannya, bahwa Tuhan tidak akan menolong manusia yang hanya memohon saja, tetapi tidak dibarengi dengan usaha sama sekali. “Hanya dengan usaha dan bekerjalah saja orang akan dapat memperoleh hasil. tidak dengan mendoa, tidaklah dengan ratib, tidaklah dengan sembahyang kaul seperti mereka lakukan selama ini”.

Pendiriannya ini dipegang teguh olehnya, disebarluaskan, dan dijadikan patokan utama baginya dalam perilakunya sehari-hari. Walaupun banyak penduduk kampung menentangnya, menganggap itu tidak sesuai dengan kebiasaan mereka, dan bahkan menganggapnya gila. Prinsipnya tentang agama dalam masyarakat sama sekali berbeda dengan pemahaman agama dan kebiasaan yang dipegang oleh masyarakat kampung itu. Perbedaan ini tidak jarang membuat Sutan Duano terpinggirkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Sutan Duano sering memberitahukan kepada masyarakat bahwa pemahaman agama yang mereka pegang tidak benar karena malah menyusahkan hidup mereka dan memberitahukan kepahaman agama yang benar menurutnya. Bukan cuma diberitahukan, Ia sendiri pun mengaplikasikan konsep beragama yang benar menurutnya. Namun, sayangnya konsep agama yang diajarkan dan dipraktikkan oleh Sutan Duano tidak sesuai dengan kebiasaan beragama masyarakat yang sudah lama dilakukan di kampung itu, sehingga tidak ada yang mengikuti ajarannya. Walaupun masyarakat di sana tetap menghormati pribadi Sutan Duano.

Pendirian Sutan Duano ini bukan cuma terlihat ketika dia mencoba mengairi sawahnya dengan cara yang tidak biasa, namun terlihat pada ajaran dan kebiasan-kebiasannya yang lain. Misalnya saja, Ia tidak suka ikut serta dalam perayaan hajatan yang menghabiskan uang banyak dan malah mengundang orang-orang kaya. Baginya uang yang dihabiskan untuk perayaan itu lebih baik diberikan untuk memberi makan orang-orang miskin.

Selain itu, ia menganjurkan agar zakat lebih baik dibagikan bagi orang-orang miskin di kampung, bukan untuk para pemuka agama dan keluarga terdekat. Banyak lagi ajaran dari Sutan Duano yang tidak sesuai dengan kebiasaan orang-orang kampung, walaupun mereka mengakui bahwa ajaran dari Sutan Duano lebih bermanfaat dari kebiasaan yang mereka lakukan.

Sutan Duano juga tidak mau tawar menawar terhadap pendiriannya. Contohnya, ketika ia mengangkat air dari danau yang tidak lain gunanya supaya warga kampung tahu prinsip yang Ia lakukan adalah hal yang benar. Terlihat bahwa karakter Sutan Duano tidak mentolerir perilaku warga yang tidak sesuai dengan prinsipnya. Sering kali ia diundang oleh warga untuk ikut serta dalam hajatan. Namun, ia tidak mau mengikuti hal tersebut karena tidak sesuai dengan prinsip yang ia percayai tanpa menerima perbedaan pendapat.

Pertentangan prinsip antara Sutan Duano dengan warga kampung ini saya tangkap sebagai pertentangan antara pikiran baru yang masuk dalam sebuah masyarakat dengan pikiran tradisional yang coba dipertahankan oleh masyarakat. Sutan Duano adalah representasi dari pikiran baru yang melihat tidak adanya masa depan dari pikiran lama yang coba dipertahankan oleh masyarakat. Sedangkan masyarakat kampung tetap berpegang teguh terhadap kebiasaan lama yang telah diturunkan dari nenek moyang mereka.

Namun, sayangnya Sutan Duano sebagai representasi pikiran baru ini tidak mau menerima adanya pandangan berbeda dari yang ia akui benar, sehingga tidak jarang menganggap apa yang dilakukan oleh masyarakat kampung sebagai hal yang salah tanpa melihat dari perspektif yang berbeda.

Kisah Sutan Duano mengingatkan saya pada kehidupan tempat saya kuliah. Tempat yang dikatakan sebagai kota santri, tempat untuk menuntut ilmu agama. Banyak orang berbondong-bondong dari berbagai penjuru untuk datang mencari ilmu dan keberkahan dari tempat ini. Kecintaan orang-orang pada tempat ini kadang membuat saya sendiri bingung, apakah kecintaannya kepada ilmu yang dibawa atau orang yang membawa ilmu. Hal ini mengingatkan saya pada perangai wanita-wanita kampung tempat Sutan Duano tinggal.

Selain itu, di tempat ini mulai muncul nilai-nilai baru yang dapat dikatakan berbeda dengan yang biasa dilakukan oleh masyarakat di sini. Beberapa anak muda yang kuliah mengenal hal baru yang bernama filsafat. Perkenalannya dengan filsafat ini membuat mereka banyak memiliki pikiran yang bertentangan dengan pendapat yang biasa digunakan. Contohnya saja tentang pemaknaan “Adab di atas ilmu”.

Perbedaan pendapat ini sayangnya tidak dimaknai sebagai luasnya pemahaman tentang Islam, namun dianggap sebagai sebuah penyimpangan. Di satu sisi, para pemuda ini tetap pada prinsipnya, tanpa mau menerima adanya pemaknaan lain selain pendapat mereka.

Kita hari ini sebenarnya hidup di antara pertentangan antara Sutan Duano dengan warga kampung. Sering kali kita teguh kepada kebiasaan lama yang coba dipertahankan walaupun terlihat tidak memiliki manfaat bagi kita sendiri. Namun, dengan alasan mempertahankan kebiasaan leluhur, kita kadang memarkirkan pikiran sehingga tidak mau mengevaluasi kebiasaan tersebut.

Di satu sisi kebiasaan baru yang coba dimasukkan oleh beberapa orang dalam kehidupan masyarakat sebenarnya tidak menutup kemungkinan untuk sama-sama didiskusikan, namun sayangnya pikiran baru ini tidak mentolerir kebiasaan yang tidak sesuai dengan gagasan yang mereka bangun. Sesuatu hal yang fatal ketika masuk dalam masyarakat yang sudah mapan dengan adat dan kebiasaannya. [T]

Membaca Kembali “Surabaya” Karya A Idrus
Branding Baru Novel Berlatar Tragedi Erupsi Gunung Agung 1963 Karya I Gusti Ngurah Pindha
Usaha Menemukan dan Mengabadikan Desa Muslim Pegayaman Bali | Ulasan Buku Ensiklopedia Desa Muslim Pegayaman Bali
Pembelajaran Moral dari Buku “Kisah Seekor Camar dan Kucing yang Mengajarinya Terbang” Karya Luis Sepulveda
Tags: AA NavisnovelsastraSastra Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Manusia Mentah Menurut Hindu Bali

Next Post

Puisi-Puisi Abed Ilyas | Mata, Air

Rizkul Hamkani

Rizkul Hamkani

Lahir di Lombok Timur 7 Februari 2001. Kuliah pada program studi Hukum Ekonomi Syariah Fakultas Syariah Institut Agama Islam Hamzanwadi Pancor, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Aktif bergiat di Komunitas Kelas Reading Buya Syafii.

Related Posts

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

by I Nyoman Darma Putra
July 9, 2026
0
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

Read moreDetails

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
0
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

Read moreDetails

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

by Dede Putra Wiguna
July 1, 2026
0
Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Judul             : Korpus Uterus Penulis          : Sasti Gotama Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama Editor             : Ruth Priscilia Angelina Tebal buku  ...

Read moreDetails

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026
0
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

Read moreDetails

Membaca Racauan Arman Dhani

by Wayan Esa Bhaskara
May 30, 2026
0
Membaca Racauan Arman Dhani

Judul               : 30 Tahun dan Gagal Penulis            : Arman Dhani Tahun terbit    : Februari 2026 Penerbit          : EA Books...

Read moreDetails

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

by Inno Koten
May 20, 2026
0
Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel...

Read moreDetails

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
0
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

Read moreDetails

Makassar yang Sempat Terabaikan

by Moch. Ferdi Al Qadri
April 16, 2026
0
Makassar yang Sempat Terabaikan

Judul: Makasssar Nol Kilometer Penulis: Anwar J. Rahman, dkk. Penerbit: Tanahindie Press Tahun: 2014 Halaman: xviii + 255 MAKASSAR-NYA satu,...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-Puisi Abed Ilyas | Mata, Air

Puisi-Puisi Abed Ilyas | Mata, Air

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co