23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sutan Duano Ada di Antara Kita | Dari Novel Kemarau Karya AA Navis

Rizkul Hamkani by Rizkul Hamkani
August 18, 2023
in Ulas Buku
Sutan Duano Ada di Antara Kita | Dari Novel Kemarau Karya AA Navis

WAKTU ITU matahari telah tenggelam ketika saya selesai membaca cerpen Datangnya dan Perginya, salah satu kisah dalam kumpulan cerpen Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis. Kisah seorang yang menemui ujian keimanan setelah bertobat dari kehidupannya yang bergelimang dosa. Ujian yang mengharuskannya memilih antara mempertahankan prinsipnya untuk menegakkan perintah Tuhan dan keberlangsungan kehidupan berumah tangga anaknya.

Dari Cerpen itulah perkenalan saya dengan novel Kemarau dimulai. Karya yang ditulis oleh penulis yang sama sebagai prekueldari karakter utama dalam cerpen tersebut. Tahulah saya bahwa nama dari karakter utama dalam cerpen sebelumnya bernama Sutan Duano.

Sutan Duano diceritakan dalam novel tersebut sebagai pendatang yang menetap di sebuah kampung, ia oleh penduduk kampung tersebut diberikan tempat untuk tinggal di sebuah surau. Warga kampung beranggapan bahwa ia akan diam di surau itu hanya untuk beribadah kepada Tuhan, karena begitulah warga memandang kegunaan surau selama ini. Namun, ternyata ia bekerja pula, bahkan bisa dibilang ia bekerja lebih tekun daripada penduduk kampung yang ada di sana. Hingga akhirnya ia menjadi salah satu orang terpandang di kampung tersebut dengan hasil kerja kerasnya sendiri.

Dalam novel Kemarau ini, penulis mengisahkan sebuah kampung yang sedang dilanda kemarau berkepanjangan, sehingga membuat sawah milik para penduduk kampung itu mengering karena tidak pernah diterpa hujan. Hanya satu lahan sawah yang tidak mengering waktu kemarau itu, sawah milik Sutan Duano. Ketika banyak dari penduduk kampung meminta pertolongan pada dukun, Ia bolak-balik mengambil air dari danau, seember demi seember. Hal yang sama terjadi ketika para penduduk berbondong-bondong salat berjamaah dan berdoa meminta pertolongan kepada Tuhan berupa hujan, Ia masih bolak-balik mengambil air di danau.

Pada akhirnya para penduduk kampung berputus asa dan beberapa dari mereka memilih untuk bermain domino sebagai pelampiasan, sawah milik Sutan Duano tidak ikut mengering dan padi yang ditanamnya tidak ikut layu layaknya padi-padi yang ditanam oleh penduduk desa. Perilaku Sutan Duano ini dilihat oleh para penduduk desa sebagai sebuah kegilaan, walaupun pada akhirnya kegilaan Sutan Duano ini membuat sawahnya tetap subur dibandingkan sawah kering milik para penduduk desa yang normal.

Sutan Duano melakukan hal ‘gila’ itu karena memegang teguh pendiriannya, bahwa Tuhan tidak akan menolong manusia yang hanya memohon saja, tetapi tidak dibarengi dengan usaha sama sekali. “Hanya dengan usaha dan bekerjalah saja orang akan dapat memperoleh hasil. tidak dengan mendoa, tidaklah dengan ratib, tidaklah dengan sembahyang kaul seperti mereka lakukan selama ini”.

Pendiriannya ini dipegang teguh olehnya, disebarluaskan, dan dijadikan patokan utama baginya dalam perilakunya sehari-hari. Walaupun banyak penduduk kampung menentangnya, menganggap itu tidak sesuai dengan kebiasaan mereka, dan bahkan menganggapnya gila. Prinsipnya tentang agama dalam masyarakat sama sekali berbeda dengan pemahaman agama dan kebiasaan yang dipegang oleh masyarakat kampung itu. Perbedaan ini tidak jarang membuat Sutan Duano terpinggirkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Sutan Duano sering memberitahukan kepada masyarakat bahwa pemahaman agama yang mereka pegang tidak benar karena malah menyusahkan hidup mereka dan memberitahukan kepahaman agama yang benar menurutnya. Bukan cuma diberitahukan, Ia sendiri pun mengaplikasikan konsep beragama yang benar menurutnya. Namun, sayangnya konsep agama yang diajarkan dan dipraktikkan oleh Sutan Duano tidak sesuai dengan kebiasaan beragama masyarakat yang sudah lama dilakukan di kampung itu, sehingga tidak ada yang mengikuti ajarannya. Walaupun masyarakat di sana tetap menghormati pribadi Sutan Duano.

Pendirian Sutan Duano ini bukan cuma terlihat ketika dia mencoba mengairi sawahnya dengan cara yang tidak biasa, namun terlihat pada ajaran dan kebiasan-kebiasannya yang lain. Misalnya saja, Ia tidak suka ikut serta dalam perayaan hajatan yang menghabiskan uang banyak dan malah mengundang orang-orang kaya. Baginya uang yang dihabiskan untuk perayaan itu lebih baik diberikan untuk memberi makan orang-orang miskin.

Selain itu, ia menganjurkan agar zakat lebih baik dibagikan bagi orang-orang miskin di kampung, bukan untuk para pemuka agama dan keluarga terdekat. Banyak lagi ajaran dari Sutan Duano yang tidak sesuai dengan kebiasaan orang-orang kampung, walaupun mereka mengakui bahwa ajaran dari Sutan Duano lebih bermanfaat dari kebiasaan yang mereka lakukan.

Sutan Duano juga tidak mau tawar menawar terhadap pendiriannya. Contohnya, ketika ia mengangkat air dari danau yang tidak lain gunanya supaya warga kampung tahu prinsip yang Ia lakukan adalah hal yang benar. Terlihat bahwa karakter Sutan Duano tidak mentolerir perilaku warga yang tidak sesuai dengan prinsipnya. Sering kali ia diundang oleh warga untuk ikut serta dalam hajatan. Namun, ia tidak mau mengikuti hal tersebut karena tidak sesuai dengan prinsip yang ia percayai tanpa menerima perbedaan pendapat.

Pertentangan prinsip antara Sutan Duano dengan warga kampung ini saya tangkap sebagai pertentangan antara pikiran baru yang masuk dalam sebuah masyarakat dengan pikiran tradisional yang coba dipertahankan oleh masyarakat. Sutan Duano adalah representasi dari pikiran baru yang melihat tidak adanya masa depan dari pikiran lama yang coba dipertahankan oleh masyarakat. Sedangkan masyarakat kampung tetap berpegang teguh terhadap kebiasaan lama yang telah diturunkan dari nenek moyang mereka.

Namun, sayangnya Sutan Duano sebagai representasi pikiran baru ini tidak mau menerima adanya pandangan berbeda dari yang ia akui benar, sehingga tidak jarang menganggap apa yang dilakukan oleh masyarakat kampung sebagai hal yang salah tanpa melihat dari perspektif yang berbeda.

Kisah Sutan Duano mengingatkan saya pada kehidupan tempat saya kuliah. Tempat yang dikatakan sebagai kota santri, tempat untuk menuntut ilmu agama. Banyak orang berbondong-bondong dari berbagai penjuru untuk datang mencari ilmu dan keberkahan dari tempat ini. Kecintaan orang-orang pada tempat ini kadang membuat saya sendiri bingung, apakah kecintaannya kepada ilmu yang dibawa atau orang yang membawa ilmu. Hal ini mengingatkan saya pada perangai wanita-wanita kampung tempat Sutan Duano tinggal.

Selain itu, di tempat ini mulai muncul nilai-nilai baru yang dapat dikatakan berbeda dengan yang biasa dilakukan oleh masyarakat di sini. Beberapa anak muda yang kuliah mengenal hal baru yang bernama filsafat. Perkenalannya dengan filsafat ini membuat mereka banyak memiliki pikiran yang bertentangan dengan pendapat yang biasa digunakan. Contohnya saja tentang pemaknaan “Adab di atas ilmu”.

Perbedaan pendapat ini sayangnya tidak dimaknai sebagai luasnya pemahaman tentang Islam, namun dianggap sebagai sebuah penyimpangan. Di satu sisi, para pemuda ini tetap pada prinsipnya, tanpa mau menerima adanya pemaknaan lain selain pendapat mereka.

Kita hari ini sebenarnya hidup di antara pertentangan antara Sutan Duano dengan warga kampung. Sering kali kita teguh kepada kebiasaan lama yang coba dipertahankan walaupun terlihat tidak memiliki manfaat bagi kita sendiri. Namun, dengan alasan mempertahankan kebiasaan leluhur, kita kadang memarkirkan pikiran sehingga tidak mau mengevaluasi kebiasaan tersebut.

Di satu sisi kebiasaan baru yang coba dimasukkan oleh beberapa orang dalam kehidupan masyarakat sebenarnya tidak menutup kemungkinan untuk sama-sama didiskusikan, namun sayangnya pikiran baru ini tidak mentolerir kebiasaan yang tidak sesuai dengan gagasan yang mereka bangun. Sesuatu hal yang fatal ketika masuk dalam masyarakat yang sudah mapan dengan adat dan kebiasaannya. [T]

Membaca Kembali “Surabaya” Karya A Idrus
Branding Baru Novel Berlatar Tragedi Erupsi Gunung Agung 1963 Karya I Gusti Ngurah Pindha
Usaha Menemukan dan Mengabadikan Desa Muslim Pegayaman Bali | Ulasan Buku Ensiklopedia Desa Muslim Pegayaman Bali
Pembelajaran Moral dari Buku “Kisah Seekor Camar dan Kucing yang Mengajarinya Terbang” Karya Luis Sepulveda
Tags: AA NavisnovelsastraSastra Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Manusia Mentah Menurut Hindu Bali

Next Post

Puisi-Puisi Abed Ilyas | Mata, Air

Rizkul Hamkani

Rizkul Hamkani

Lahir di Lombok Timur 7 Februari 2001. Kuliah pada program studi Hukum Ekonomi Syariah Fakultas Syariah Institut Agama Islam Hamzanwadi Pancor, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Aktif bergiat di Komunitas Kelas Reading Buya Syafii.

Related Posts

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

by Hartanto
October 21, 2026
0
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

Read moreDetails

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
0
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

Read moreDetails

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

by Emi Suy
October 8, 2026
0
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

Read moreDetails

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-Puisi Abed Ilyas | Mata, Air

Puisi-Puisi Abed Ilyas | Mata, Air

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co