14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

PKM ISI Denpasar : Pembinaan Gending Bopong Gaya Kayumas di Sanggar Tabuh Kembang Waru Denpasar

Ni Putu Hartini by Ni Putu Hartini
September 22, 2023
in Esai
PKM ISI Denpasar : Pembinaan Gending Bopong Gaya Kayumas di Sanggar Tabuh Kembang Waru Denpasar

Proses pelatihan gending Bopong di Sanggar Tabuh Kembang Waru Sumber: Ni Putu Hartini, 2023

GENDER WAYANG pada tahun 1920-an digunakan untuk mengiringi pertunjukan wayang kulit Bali namun sebelumnya hanya diiringi oleh seperangkat selonding, suling dan kemanak. Pernyataan tersebut tercantum dalam kakawin Wretta-Sancaya karya Mpu Tanakung dan Kakawin Bharatayudha karya Mpu Sedah pada jaman pemerintahan Jayabaya di Jawa Timur pada abad XI

Petangkilan merupakan salah satu adegan dalam pertunjukan wayang kulit Bali dengan beberapa motif gending untuk mengiringi tokoh-tokoh wayang yang akan mengadakan sidang/musyawarah (pauman). Gending ini dimainkan setelah gending pemungkah serta hanya dimainkan sekali tiap pentas.

Gending petangkilan dalam wayang kulit Bali ada tiga macam yaitu Gending Alas Arum untuk karakter halus; Rundah untuk karakter sedang (mata dedeling), dan Bopong untuk karakter raksasa (keras)[3] .

Pada umumnya ketiga gending gaya Kayumas Denpasar ini pasti disajikan dalam sebuah pertunjukan Wayang Kulit Bali. Namun belakangan ini salah satu dari Gending Petangkilan yaitu Gending Bopong sudah jarang disajikan lagi. Menurut I Ketut Raditha, beliau adalah ketua Sanggar Tabuh Kembang Waru sekaligus seniman menekankan bahwa memang benar keberadaan gending ini mulai jarang dijamah generasi muda karena memiliki struktur yang panjang berbeda dengan gending petangkilan lainnya sehingga kesulitan dalam penguasaan gending ini.

Oleh sebab itu, beliau merasa diperlukan sumber daya atau pembina untuk dapat melakukan pembinaan terhadap Gending Bopong tersebut. Melihat fenomena tersebut, peneliti merasa penting untuk dapat melakukan pembinaan atau pelatihan terhadap penguasaan Gending Bopong tersebut.

Gending Bopong peneliti pelajari dari master Gender Wayang dari Kayumas Denpasar yaitu Bapak I Wayan Konolan (almarhum) dan Bapak I Wayan Suweca yang mana beliau pensiunan dosen dan juga salah satu seniman karawitan yang mumpuni di bidang gamelan Gender Wayang. Gending Bopong ini terdiri dari tiga paletan atau bagian dengan adanya pengulangan sebanyak dua kali setiap bagian, dapat dikatakan pula apabila gending ini merupakan gending petangkilan yang memiliki pola paling panjang. Menukik mengenai kekhawatiran keberadaan Gending Bopong di Denpasar akan terancam hilang karena saat ini yang menguasai hanya Bapak I Wayan Suweca saja dan beliau sudah sepuh.

I Wayan Suweca menyatakan bahwa generasi muda di daerah Denpasar sebagian besar merasa kesulitan untuk mempelajari Gending Bopong ini karena memiliki struktur yang panjang, rumit serta memerlukan konsentrasi untuk bisa menguasainya. Hal tersebut menyebabkan gending ini semakin lama semakin jarang diminati dan disajikan generasi muda sehingga cenderung enggan untuk bisa mempelajari, melestarikan dan menggali gending ini. 

Beranjak dari fenomena tersebut di atas, peneliti melaksanakan pengabdian kepada masyarakat dengan melakukan pembinaan Gending Bopong gaya Kayumas Denpasar. Peneliti melaksanakan pembinaan di sekitar Denpasar terlebih dahulu untuk mempermudah dan mempelancar proses pelatihan dan penguasaan gending ini sehingga untuk kedepannya dapat diwariskan dari generasi selanjutnya.

Prioritas utama dalam penyelamatan aset warisan tak benda ini, tidak hanya fokus pembinaan mengenai penguasaan teknik keahlian menabuh dan penguasaan materi gending secara praktis namun juga membangun kecintaan, kesadaran akan rasa memiliki warisan kesenian dan budaya Bali.

Tahap selanjutnya melakukan koordinasi dengan pihak Sanggar Tabuh Kembang Waru sebagai tempat kegiatan pengabdian dan pembinaan ini akan dilaksanakan yang berlokasi di Jalan Wr. Supratman, Banjar Abian Kapas Kaja, Desa Sumerta, Kecamatan Denpasar Timur. Pimpinan sanggar yakni I Ketut Raditha menyambut dengan antusias dan senang hati untuk bersedia serta bertanggung jawab terhadap proses pembinaan Gending Bopong ini.

Kegiatan Program Pengabdian Masyarakat (PKM) ini terdiri dari beberapa langkah kegiatan, yakni: pengenalan gending Bopong, pembacaan notasi, permainan musikalitas, pelatihan gending Bopong dengan demonstrasi teknik dasar memainkan gending Bopong.

Proses pelatihan Sanggar Tabuh Kembang Waru Denpasar

Proses pelatihan dan pembinaan gending Bopong  di Sanggar Tabuh Kembang Waru telah berlangsung selama 15 kali pertemuan dari tanggal 29 April 2023 sampai dengan tanggal 30 Agustus 2023 yang diikuti oleh 12 orang peserta didik yakni terdiri dari 8 anak laki-laki dan 4 anak perempuan.

Gambar 1. Nuasen Kegiatan Pembinaan Gending Bopong pada Sanggar Tabuh Kembang Waru | Foto: Ni Putu Hartini, 2023

Gambar 2. Proses pelatihan gending Bopong di Sanggar Tabuh Kembang Waru | Foto: Ni Putu Hartini, 2023

Proses pelatihan dan penguasaan gending Bopong ini dilakukan melalui langkah-langkah. Adapun langkah-langkah yang telah dilakukan adalah sebagai berikut:

  1. Membuat kesepakatan jadwal kegiatan dalam satu minggu sebanyak dua kali pertemuan yaitu hari Sabtu dan Minggu. Namun penentuan harinya dapat diatur secara  fleksibel sehingga bisa berubah sewaktu-waktu, yang dipentingkan pertemuan tetap tercapai dua kali dalam satu minggu. Dilanjutkan berkordinasi untuk mencari hari baik untuk mengawali kegiatan pengabdian ini.
  2. Pembagian dua kelompok penabuh juru gender. Kedua kelompok ini dibentuk berdasarkan tingkat kemampuan teknik ketrampilan menabuh gender dan juga waktu yang bisa mereka sediakan dalam mengikuti proses pembelajaran. Peserta didik yang memiliki tingkat ketrampilan teknik sudah mencapai tingkat sangat bagus (virtuosic) dimasukan dalam kelompok satu dan jadwal latihannya bisa random dan tidak berurutan asalkan tercapai empat kali pertemuan setiap satu minggu. Sedangkan kelompok dua adalah yang memiliki tingkat kemampuan teknik cukup bagus dan jadwal latihan ditetapkan pada sore hari.
  3. Memberikan penjelasan secara teori dan kemudian mempraktekkan teknik gegedig dan tetekep (teknik pukulan dan tutupan) sesuai dengan phrase dan pattern yang terdapat dalam gending gender Bopong. Seperti pattern gegedig dalam paletan (bagian) dan penyalit (transisi menuju pergantian kalimat lagu (paletan) dan perpindahan oktaf).
  4. Menyusun pembagian struktur gending gender Bopong dari palet pertama sampai dengan palet ketiga. Setiap paletan dan penyalit gending (transisi) dibuat rekaman audio visual berupa gedig polos dan sangsih-nya. Setiap paletan dan transisi gending dipecah lagi menjadi phrase-phrase dan pattern gegedig baik itu gedig polos dan gedig sangsih sehingga lebih mudah dalam proses pembelajaran. Rekaman video diunggah di google drive atau WA group gender wayang sehingga dengan mudah diakses oleh penabuh gender.
  5. Penguasaan secara teori dan praktek mengenai cara membaca notasi dan teknik permainan dalam gending Bopong oleh semua peserta didik dari Sanggar Tabuh Kembang Waru. Dilanjutkan dengan pengenalan dinamika, tempo serta harmoni yang terdapat dalam gending Bopong tersebut. Penguasaan disertai penjiwaan ini dilakukan berulang-ulang selama proses pembinaan tersebut berlangsung.
  6. Diadakan uji coba dari pelatihan gending Bopong ini. Uji coba ini diadakan sebagai bentuk pertanggungjawaban peneliti kepada masyarakat atas pencapaian pelatihan yang telah dilakukan. Dalam uji coba ini disajikan konser gending gender Bopong secara utuh. Tim pengabdian mengundang ketua LP2MPP ISI Denpasar beserta staf, Korpus Pengabdian Kepada Masyarakat ISI Denpasar, pengurus Sanggar Tabuh Kembang Waru, Kaprodi Prodi Seni Karawitan ISI Denpasar beserta dosen Karawitan yang kompetensi kepakarannya di bidang gender wayang, mahasiswa Prodi Karawitan, seniman serta masyarakat yang mencintai gamelan gender wayang.

Gambar 3. Diseminasi Pengabdian Pembinaan Gending Bopong | Foto : Ni Putu Hartini, 2023

Gambar 4. Dokumentasi bersama undangan dan pengurus Sanggar Tabuh Kembang Waru | Foto : Ni Putu Hartini, 2023

Hasil pembinaan

Proses pelatihan dan pembinaan gending Bopong di Sanggar Tabuh Kembang Waru sebanyak 15 kali pertemuan telah berlangsung dari tanggal 29 April 2023 sampai dengan tanggal 30 Agustus 2023 yang diikuti oleh 12 orang peserta didik yakni terdiri dari 8 anak laki-laki dan 4 anak perempuan.

Seluruh peserta didik mampu menguasai dengan baik materi pokok dalam kegiatan pengabdian ini. Secara bentuk dan struktur, gending bopong memiliki melodi yang panjang sehingga dalam proses penuangan gending ini dibagi menjadi beberapa bagian. Target capaian dalam proses pelatihan ini yakni setiap kali pertemuan berhasil dituangkan satu bagian gending dan setiap bagian akan dibagi lagi sehingga dapat dengan mudah untuk dipahami dan dikuasai oleh peserta didik. Penuangan materi gending Bopong ini dari bagian I, II dan III dapat dikuasai dengan baik dan dalam keadaan yang nyaman dan menyenangkan.

Pewarisan gending-gending gender wayang khususnya gaya Kayumas Denpasar ini harus mendapat perhatian dari para seniman karawitan khususnya pecinta gender wayang. Pembuatan dokumentasi audio visual segera harus dilakukan untuk menyelamatkan semua gending yang masih diingat. Melalui dokumen ini kedepannya dapat dipakai sebagai sumber pengetahuan dan sumber materi pembelajaran. [T]

  • BACA artikel lain tentang GENDER WAYANG BALI
Upaya & Kiat Pembinaan Gending Gender Wayang Banaspati Gaya Tenganan Pegringsingan
Gending Gender Tulang Lindung | Mimesis Struktur Rangka Tulang Belut ke Dalam Gerak Ubitan dan Melodi
Mengenal Lebih Jauh Tokoh Jro Mangku Dalang I Made Persib
Tags: denpasarDesa KayumasGendergender wayangISI Denpasarwayang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Faisal Oddang: “Saya pikir saya tidak muda.”

Next Post

Apakah Aku Normal?

Ni Putu Hartini

Ni Putu Hartini

Staf pengajar di Prodi Seni Karawitan, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Apakah Aku Normal?

Apakah Aku Normal?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co