4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

PKM ISI Denpasar : Pembinaan Gending Bopong Gaya Kayumas di Sanggar Tabuh Kembang Waru Denpasar

Ni Putu Hartini by Ni Putu Hartini
September 22, 2023
in Esai
PKM ISI Denpasar : Pembinaan Gending Bopong Gaya Kayumas di Sanggar Tabuh Kembang Waru Denpasar

Proses pelatihan gending Bopong di Sanggar Tabuh Kembang Waru Sumber: Ni Putu Hartini, 2023

GENDER WAYANG pada tahun 1920-an digunakan untuk mengiringi pertunjukan wayang kulit Bali namun sebelumnya hanya diiringi oleh seperangkat selonding, suling dan kemanak. Pernyataan tersebut tercantum dalam kakawin Wretta-Sancaya karya Mpu Tanakung dan Kakawin Bharatayudha karya Mpu Sedah pada jaman pemerintahan Jayabaya di Jawa Timur pada abad XI

Petangkilan merupakan salah satu adegan dalam pertunjukan wayang kulit Bali dengan beberapa motif gending untuk mengiringi tokoh-tokoh wayang yang akan mengadakan sidang/musyawarah (pauman). Gending ini dimainkan setelah gending pemungkah serta hanya dimainkan sekali tiap pentas.

Gending petangkilan dalam wayang kulit Bali ada tiga macam yaitu Gending Alas Arum untuk karakter halus; Rundah untuk karakter sedang (mata dedeling), dan Bopong untuk karakter raksasa (keras)[3] .

Pada umumnya ketiga gending gaya Kayumas Denpasar ini pasti disajikan dalam sebuah pertunjukan Wayang Kulit Bali. Namun belakangan ini salah satu dari Gending Petangkilan yaitu Gending Bopong sudah jarang disajikan lagi. Menurut I Ketut Raditha, beliau adalah ketua Sanggar Tabuh Kembang Waru sekaligus seniman menekankan bahwa memang benar keberadaan gending ini mulai jarang dijamah generasi muda karena memiliki struktur yang panjang berbeda dengan gending petangkilan lainnya sehingga kesulitan dalam penguasaan gending ini.

Oleh sebab itu, beliau merasa diperlukan sumber daya atau pembina untuk dapat melakukan pembinaan terhadap Gending Bopong tersebut. Melihat fenomena tersebut, peneliti merasa penting untuk dapat melakukan pembinaan atau pelatihan terhadap penguasaan Gending Bopong tersebut.

Gending Bopong peneliti pelajari dari master Gender Wayang dari Kayumas Denpasar yaitu Bapak I Wayan Konolan (almarhum) dan Bapak I Wayan Suweca yang mana beliau pensiunan dosen dan juga salah satu seniman karawitan yang mumpuni di bidang gamelan Gender Wayang. Gending Bopong ini terdiri dari tiga paletan atau bagian dengan adanya pengulangan sebanyak dua kali setiap bagian, dapat dikatakan pula apabila gending ini merupakan gending petangkilan yang memiliki pola paling panjang. Menukik mengenai kekhawatiran keberadaan Gending Bopong di Denpasar akan terancam hilang karena saat ini yang menguasai hanya Bapak I Wayan Suweca saja dan beliau sudah sepuh.

I Wayan Suweca menyatakan bahwa generasi muda di daerah Denpasar sebagian besar merasa kesulitan untuk mempelajari Gending Bopong ini karena memiliki struktur yang panjang, rumit serta memerlukan konsentrasi untuk bisa menguasainya. Hal tersebut menyebabkan gending ini semakin lama semakin jarang diminati dan disajikan generasi muda sehingga cenderung enggan untuk bisa mempelajari, melestarikan dan menggali gending ini. 

Beranjak dari fenomena tersebut di atas, peneliti melaksanakan pengabdian kepada masyarakat dengan melakukan pembinaan Gending Bopong gaya Kayumas Denpasar. Peneliti melaksanakan pembinaan di sekitar Denpasar terlebih dahulu untuk mempermudah dan mempelancar proses pelatihan dan penguasaan gending ini sehingga untuk kedepannya dapat diwariskan dari generasi selanjutnya.

Prioritas utama dalam penyelamatan aset warisan tak benda ini, tidak hanya fokus pembinaan mengenai penguasaan teknik keahlian menabuh dan penguasaan materi gending secara praktis namun juga membangun kecintaan, kesadaran akan rasa memiliki warisan kesenian dan budaya Bali.

Tahap selanjutnya melakukan koordinasi dengan pihak Sanggar Tabuh Kembang Waru sebagai tempat kegiatan pengabdian dan pembinaan ini akan dilaksanakan yang berlokasi di Jalan Wr. Supratman, Banjar Abian Kapas Kaja, Desa Sumerta, Kecamatan Denpasar Timur. Pimpinan sanggar yakni I Ketut Raditha menyambut dengan antusias dan senang hati untuk bersedia serta bertanggung jawab terhadap proses pembinaan Gending Bopong ini.

Kegiatan Program Pengabdian Masyarakat (PKM) ini terdiri dari beberapa langkah kegiatan, yakni: pengenalan gending Bopong, pembacaan notasi, permainan musikalitas, pelatihan gending Bopong dengan demonstrasi teknik dasar memainkan gending Bopong.

Proses pelatihan Sanggar Tabuh Kembang Waru Denpasar

Proses pelatihan dan pembinaan gending Bopong  di Sanggar Tabuh Kembang Waru telah berlangsung selama 15 kali pertemuan dari tanggal 29 April 2023 sampai dengan tanggal 30 Agustus 2023 yang diikuti oleh 12 orang peserta didik yakni terdiri dari 8 anak laki-laki dan 4 anak perempuan.

Gambar 1. Nuasen Kegiatan Pembinaan Gending Bopong pada Sanggar Tabuh Kembang Waru | Foto: Ni Putu Hartini, 2023

Gambar 2. Proses pelatihan gending Bopong di Sanggar Tabuh Kembang Waru | Foto: Ni Putu Hartini, 2023

Proses pelatihan dan penguasaan gending Bopong ini dilakukan melalui langkah-langkah. Adapun langkah-langkah yang telah dilakukan adalah sebagai berikut:

  1. Membuat kesepakatan jadwal kegiatan dalam satu minggu sebanyak dua kali pertemuan yaitu hari Sabtu dan Minggu. Namun penentuan harinya dapat diatur secara  fleksibel sehingga bisa berubah sewaktu-waktu, yang dipentingkan pertemuan tetap tercapai dua kali dalam satu minggu. Dilanjutkan berkordinasi untuk mencari hari baik untuk mengawali kegiatan pengabdian ini.
  2. Pembagian dua kelompok penabuh juru gender. Kedua kelompok ini dibentuk berdasarkan tingkat kemampuan teknik ketrampilan menabuh gender dan juga waktu yang bisa mereka sediakan dalam mengikuti proses pembelajaran. Peserta didik yang memiliki tingkat ketrampilan teknik sudah mencapai tingkat sangat bagus (virtuosic) dimasukan dalam kelompok satu dan jadwal latihannya bisa random dan tidak berurutan asalkan tercapai empat kali pertemuan setiap satu minggu. Sedangkan kelompok dua adalah yang memiliki tingkat kemampuan teknik cukup bagus dan jadwal latihan ditetapkan pada sore hari.
  3. Memberikan penjelasan secara teori dan kemudian mempraktekkan teknik gegedig dan tetekep (teknik pukulan dan tutupan) sesuai dengan phrase dan pattern yang terdapat dalam gending gender Bopong. Seperti pattern gegedig dalam paletan (bagian) dan penyalit (transisi menuju pergantian kalimat lagu (paletan) dan perpindahan oktaf).
  4. Menyusun pembagian struktur gending gender Bopong dari palet pertama sampai dengan palet ketiga. Setiap paletan dan penyalit gending (transisi) dibuat rekaman audio visual berupa gedig polos dan sangsih-nya. Setiap paletan dan transisi gending dipecah lagi menjadi phrase-phrase dan pattern gegedig baik itu gedig polos dan gedig sangsih sehingga lebih mudah dalam proses pembelajaran. Rekaman video diunggah di google drive atau WA group gender wayang sehingga dengan mudah diakses oleh penabuh gender.
  5. Penguasaan secara teori dan praktek mengenai cara membaca notasi dan teknik permainan dalam gending Bopong oleh semua peserta didik dari Sanggar Tabuh Kembang Waru. Dilanjutkan dengan pengenalan dinamika, tempo serta harmoni yang terdapat dalam gending Bopong tersebut. Penguasaan disertai penjiwaan ini dilakukan berulang-ulang selama proses pembinaan tersebut berlangsung.
  6. Diadakan uji coba dari pelatihan gending Bopong ini. Uji coba ini diadakan sebagai bentuk pertanggungjawaban peneliti kepada masyarakat atas pencapaian pelatihan yang telah dilakukan. Dalam uji coba ini disajikan konser gending gender Bopong secara utuh. Tim pengabdian mengundang ketua LP2MPP ISI Denpasar beserta staf, Korpus Pengabdian Kepada Masyarakat ISI Denpasar, pengurus Sanggar Tabuh Kembang Waru, Kaprodi Prodi Seni Karawitan ISI Denpasar beserta dosen Karawitan yang kompetensi kepakarannya di bidang gender wayang, mahasiswa Prodi Karawitan, seniman serta masyarakat yang mencintai gamelan gender wayang.

Gambar 3. Diseminasi Pengabdian Pembinaan Gending Bopong | Foto : Ni Putu Hartini, 2023

Gambar 4. Dokumentasi bersama undangan dan pengurus Sanggar Tabuh Kembang Waru | Foto : Ni Putu Hartini, 2023

Hasil pembinaan

Proses pelatihan dan pembinaan gending Bopong di Sanggar Tabuh Kembang Waru sebanyak 15 kali pertemuan telah berlangsung dari tanggal 29 April 2023 sampai dengan tanggal 30 Agustus 2023 yang diikuti oleh 12 orang peserta didik yakni terdiri dari 8 anak laki-laki dan 4 anak perempuan.

Seluruh peserta didik mampu menguasai dengan baik materi pokok dalam kegiatan pengabdian ini. Secara bentuk dan struktur, gending bopong memiliki melodi yang panjang sehingga dalam proses penuangan gending ini dibagi menjadi beberapa bagian. Target capaian dalam proses pelatihan ini yakni setiap kali pertemuan berhasil dituangkan satu bagian gending dan setiap bagian akan dibagi lagi sehingga dapat dengan mudah untuk dipahami dan dikuasai oleh peserta didik. Penuangan materi gending Bopong ini dari bagian I, II dan III dapat dikuasai dengan baik dan dalam keadaan yang nyaman dan menyenangkan.

Pewarisan gending-gending gender wayang khususnya gaya Kayumas Denpasar ini harus mendapat perhatian dari para seniman karawitan khususnya pecinta gender wayang. Pembuatan dokumentasi audio visual segera harus dilakukan untuk menyelamatkan semua gending yang masih diingat. Melalui dokumen ini kedepannya dapat dipakai sebagai sumber pengetahuan dan sumber materi pembelajaran. [T]

  • BACA artikel lain tentang GENDER WAYANG BALI
Upaya & Kiat Pembinaan Gending Gender Wayang Banaspati Gaya Tenganan Pegringsingan
Gending Gender Tulang Lindung | Mimesis Struktur Rangka Tulang Belut ke Dalam Gerak Ubitan dan Melodi
Mengenal Lebih Jauh Tokoh Jro Mangku Dalang I Made Persib
Tags: denpasarDesa KayumasGendergender wayangISI Denpasarwayang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Faisal Oddang: “Saya pikir saya tidak muda.”

Next Post

Apakah Aku Normal?

Ni Putu Hartini

Ni Putu Hartini

Staf pengajar di Prodi Seni Karawitan, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Apakah Aku Normal?

Apakah Aku Normal?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co