2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Renjana: Gemuruh Hati Seorang April Artison

IBW Widiasa Keniten by IBW Widiasa Keniten
September 9, 2023
in Ulas Buku
Renjana: Gemuruh Hati Seorang April Artison

Sampul buku Renjana Karya April Artison

NI PUTU APRIANI dengan nama pena April Artison dikenal sebagai seorang monolog melahirkan sebuah kumpulan puisi berjudul Renjana yang diterbitkan oeh Pustaka Ekspresi, April 2023.

Secara tersirat, dalam puisi-puisi Artison mengungkapkan gemuruh hatinya tentang dirinya, tentang kehidupan sesama, tentang cinta pada seorang ibu, tentang Museum Gunarsa, tentang alam, tentang pencarian dirinya pada hakikat yang sejati, tentang jalan kematian, ada juga kritik pada kehidupan dalam puisi-puisinya. Kegelisahan kreatif terungkap dalam puisi-puisi April Artison.

Ada 65 puisi dalam kumpulan Renjana ini. Puisi-puisi April Artison kaya dengan metafora-metafora yang memperkuat puisinya hingga enak dirasakan dan memberikan ruang penghayatan yang lebih beragam.

Pertanyaan awal pada diri penulis, mengapa April Artison membuka kumpulan puisinya dengan Getir dan mengakhirinya dengan puisi Sebuah Nama. Apakah hidup mesti meninggalkan sebuah nama?

Apakah memang hidup ini dirasakan oleh April teramat getir? Dan mengakhirinya dengan sebuah nama? Atau April mengalami kegetiran atau melihat kegetiran dalam kehidupan?

Jika dicermati bait pertama dalam puisi Getir, tampaknya kegetiran jiwa dan hati April sudah teramat mendalam:

kususuri getir yang kekal dalam ingatan
marapalkan syair pilu
menutup bait silam
yang mengendap di sudut hati…

Perhatikan pilihan kata (diksi) yang digunakan April Artison: getir yang kekal, syair pilu, mengendap sudut hati, mengungkapkan kegetiran dalam hati seorang April Artison. Apakah Artison menyerah pada kegetiran?

Tentu saja tidak. Jawaban itu ada pada puisi kedua, Ketika Melihatmu dengan Mata Terpejam. April menemukan sebuah sinar yang menyinari hatinya. Ada tersirat  kebahagiaan dalam pusi ini:

di taman surga
puisi adalah desahan menghanyutkan
suara alam menjelma kidung rindu
yang menenggelamkan
jauh ke dasar jiwa tak terbatas
sampai kaulupa segala…

Laut Pemberi Kebebasan Sejati

Bagaimana pandangan April tentang laut? Mari kita nikmati puisi Segara Beach (hlm. 5). Laut bagi April adalah tawa  bahagia. Laut adalah kebebasan abadi. Laut adalah kemahakuasaan. Kita nikmati bait pertama, April merasakan kebahagiaan bersama laut karena ada saling sapa, berbagi cerita menyemai rindu, menyisir jejak.

Laut baginya adalah tempat berbagi berbagai rasa. Ini juga melukiskan betapa cintanya April pada laut: laut adalah tawa bahagia/di tengah gemuruh ombak saling menyapa/bertukar kabar dan berbagi cerita/menyisir jejak yang datang silih berganti…

Laut yang maha luas bagi April adalah kebebasan abadi. Kebebasan abadi ini boleh dikatakan harapan setiap yang hidup di semesta. Kebebasan abadi mendekatkan hati, jiwa dan pikiran pada pemilik ruh: laut adalah kebebasan abadi/selaksa jingga bukanlah langka/untuk jiwa mendampa rupawan semesta/apalagi dahaga mengenang masa lalu/di sana biru tak bertepi…

Di dalam perjalan ruh, ada segara tan patepi yang bisa dimaknai tidak ada batas, tidak ada sekat atau belenggu kehidupan sudah bisa dientaskan.

Laut dijaga Dewa Baruna, patutlah dijaga dan dirawat hingga bisa mengobati kegelapan hati. Laut memberikan obat bagi kehidupan: laut adalah kemahakuasaan/ketika Sang Baruna menjaga dengan setia/sesiapa bertelut ada-Nya/ia adalah tamba menyembuhkan/sungguh, laut dan senja/belenggu paling memabukkan…

Hadirnya larik terakhir menjadikan puisi ini kuat dan menarik /sungguh, laut dan senja/belenggu paling memabukkan/  dalam larik ini ada gambaran kehidupan menuju dan akan berakhir di laut.

Laut patut dirawat karena tubuh ini juga laut yang penuh dengan debur ombak dan gelumbang yang tidak bisa diterka datangnya. Laut juga menubuhkan rindu—baca puisi Batas Rindu (hlm. 7): Senja menggugurkan rindu pada gigil malam/tapi laut senantiasa menumbuhkan rindu… dalam puisi Rindu ini ada larik yang menarik. /aku mencarimu dari sepi ke sepi/…// ada kegelisahan seorang April untuk mencari yang Mahasepi.

Perempuan Perkasa-Perempuan Pengubah Nasib

April memuliakan perempuan dalam beberapa puisinya. Misalnya puisi Kepada Perempuan yang menggambarkan betapa mulianya seorang perempuan. Akan tetapi, puisi ini terasa kurang kuat. Terutama pada awal-awal larik pada setiap bait.

April menuliskan seperti ini:

wahai perempuan perkasa
wahai perempuan tangguh
wahai perempuan hebat
wahai perempuan kuat

Kata perkasa, tangguh, hebat maupun kuat bisa dihilangkan. Daya imaji pembaca akan lebih masuk. Padahal, dalam larik-larik di bawahnya sudah kuat dan membuka ruang imaji bagi pembaca.

Coba bandingkan jika diubah sedikit seperti ini:

wahai perempuan tetirah
pertiwi itu engkau
tak mengeluh seperti pilar
setia walau badai menerjang

Bait kedua misalnya seperti ini:

wahai perempuan
yang menjelma dari rimbunan sajak
mengaliri resah segala
bermuara di jantung harapan
takdir tajam menusuk waktu
meski mimpi-mimpi terserak di pelupuk mata
tapi kesetian itu purusha berdiri tegak
sang pradana menurut pada titah

Bait ketiga misalnya disulih sedikit:

wahai perempuan
pada mendung matamu
semburat keteduhan hati
ego tak keluar dari sarangnya
meski kata-kata menghujam jantung hati
kau bersewaka di jalan dharma/sebagai pradana sejati

Bait keempat coba seperti ini:

wahai perempuan
di batas waktu
yang diperas tangis
peluh di tubuh rebah di panggung gelisah
yang dititahkan
tanpa perlu segan
tanpa perlu enggan
bila waktu letih
tentu terbayarkan

Puisi Perempuan dan Seekor Anjing Kesayangannya (hlm.77) mengungkapkan kesertiaan seekor anjing kepada tuannya. Dua wujud yang berbeda, tetapi memiliki kesetiaan dalam tugasnya masing-masing.

Anjing setia pada tuannya. Tuannya sayang kepada anjing peliharaannya. Jalinan kasih sayang tidak dibatasi oleh wujud fisik dan kesetiaan lebih utama daripada wujud luarnya….dua wujud kita berbeda/aku menjadi kawan setia/berjalan memeluk hangat/ cahaya matahari….

Seorang perempuan yang sudah menjadi seorang ibu diungkapkan secara apik oleh Arpil Artison pada puisi Kelahiran (hlm.95). Ada pengulangan-pengulangan metafora sepotong siang di setiap awal baitnya. Bisa ditafsirkan bahwa peristiwa kelahiran si jabang bayi itu pada siang hari.

Jabang bayi lahir lebih cepat tujuh bulan dibandingkan dengan biasanya sembilan bulan: sepotong siang menghapus segala penantian/tujuh bulan saja cukup/ia ingin melihat dunia lebih cepat/ menuntaskan segala karma  yang tersedat…

Ada beragam nama yang ingin disematkan, tetapi di balik itu ada kegundahan si ibu bayi yang merasakan kepiluan telah dipikulnya: segala pilu dunia telah dipikulnya/kurasakan api pertama/menyala pada kedua matanya…

Puisi perempuan yang sudah menjadi ibu diungkapkan dalam puisi Ibu Malaikat (hlm. 43) yang mengungkapkan pertemuan si aku lirik dengan seorang perempuan dengan sebutan Ibu Malaikat.

Puisi ini enak dibaca karena ada semacam dialog yang bisa dipentaskan atau dimonologkan hingga bisa dinikmati secara dramatik. Ada renungan diberikan oleh April Artison pada bait terakhir: menghadapi dunia yang penuh ilusi/cukup hanya dengan senyum/maka kau akan tahu cara melepaskan/menemui kebahagiaan murni…

Sajak untuk Ibu (hlm.50) mengungkapkan kekaguman pada seorang perempuan yang bernama ibu: Bu kau menanam benih tabah dan sabar/aku ingin memetiknya untuk kujadikan teladan/kaulah surga tempat segala kemuliaan/kaulah perempuan yang kupanggil IBU…

April memberikan penekanan pada kata IBU dengan menggunakan huruf kapital pada kata itu, bisa dimaknai ibu itu besar dan mulia. Jika puisi ini dipadatkan akan menjadi lebih kuat. Misalnya: Bu, kautanam benih ketabahan dan kesabaran/aku ingin memetiknya/kaulah surga segala kemuliaan/kaulah perempuan yang kupanggil IBU

Jika dibandingkan dengan puisi Medusa (hlm.67), puisi Medusa lebih berjiwa, beruh dibandingkan dengan puisi Kepada Perempuan. Puisi Medusa mengungkapkan seorang perempuan yang bisa mengubah jalan hidup seseorang.

Sajak ini terinspirasi dari kisah Yunani tentang perempuan cantik yang berambut ular. Setiap yang menatapnya berubah menjadi batu. April mengubahnya menjadi cukup kuat untuk mengisahkan bahwa seorang perempuan itu mestinya memiliki kekuatan yang bisa mengubah jalan hidup sesorang.

Larik terakhir menjadi menarik: mengubah pendeta menjadi pendosa berwajah iblis… tergambar kekuatan perempuan (Medusa) yang bisa mengubah orang suci menjadi berlumuran dosa dengan wajah yang menyeramkan.

April Artison dalam Renjana ini mengungkapkan gelora hatinya tentang kehidupan. Kehidupan itu membentangkan beragam problematika yang disikapinya secara puitis. Setiap perasaan yang membara di hati Artison diwujudkannya dalam larik-larik puisi.

Puisi-puisi Artison perlu dinikmati agar bisa merasakan bertapa kehidupan itu memberi ruang untuk merenungi kehidupan itu sendiri. Puisi Artison memperkaya ruang dialog di hati dan merasakan kehidupan dengan cara puisi.

Kumpulan puisi Renjana sebagai pencarian baru bagi seorang April Artison yang sebelumnya berkreativitas dalam monolog. Semoga anak kreatif ini melahirkan karya-karya kreatif lainnya.[T]

Rendezvous: Puisi-puisi yang Melawan Keberserakan Kata-kata
Cangkit Den Bukit, Sebuah Sinekdoke Zadam
Menyayangi Diri, Menyayangi Bali | Ulasan Buku Kumpulan Puisi “Ngiring Sayang-Manyayangin” Karya I Made Suarsa
Romantisme Puisi-puisi Wayan Jengki Sunarta dalam Buku Jumantara
Galungan dan Representasi Budaya Bali Dalam Kumpulan Puisi “Menanam Puisi di Emperan Matamu” Karya Wayan Esa Bhaskara
Tags: PuisisastraUlasan Buku
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Arief Gunawan: Shorinji Kempo Adalah Rumah Kedua Saya

Next Post

Kelir Wayang dan Sihir Atmosfer Dalang

IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten

Ida Bagus Wayan Widiasa Keniten lahir di Geria Gelumpang, Karangasem. 20 Januari 1967. Buku-buku yang sudah ditulisnya berupa karya sastra maupun kajian sastra. Pemenang Pertama Guru Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2013 dan Penerima Tanda Kehormatan Satyalancana Pendidikan Tahun 2013 dari Presiden, Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu, 27 November 2013 di Istora Senayan Jakarta. Tahun 2014 ikut Program Kunjungan (Benchmarking) ke Jerman, selanjutnya ke Paris (Prancis), Belgia, dan Amsterdam (Belanda). 2014 menerima penghargaan Widya Kusuma dari Gubernur Bali. Tahun 2015 memeroleh Widya Pataka atas bukunya Jro Lalung Ngutah.

Related Posts

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails
Next Post
Kepopuleran Pengundang Leak Dalam Wayang Calonarang

Kelir Wayang dan Sihir Atmosfer Dalang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co