23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Renjana: Gemuruh Hati Seorang April Artison

IBW Widiasa Keniten by IBW Widiasa Keniten
September 9, 2023
in Ulas Buku
Renjana: Gemuruh Hati Seorang April Artison

Sampul buku Renjana Karya April Artison

NI PUTU APRIANI dengan nama pena April Artison dikenal sebagai seorang monolog melahirkan sebuah kumpulan puisi berjudul Renjana yang diterbitkan oeh Pustaka Ekspresi, April 2023.

Secara tersirat, dalam puisi-puisi Artison mengungkapkan gemuruh hatinya tentang dirinya, tentang kehidupan sesama, tentang cinta pada seorang ibu, tentang Museum Gunarsa, tentang alam, tentang pencarian dirinya pada hakikat yang sejati, tentang jalan kematian, ada juga kritik pada kehidupan dalam puisi-puisinya. Kegelisahan kreatif terungkap dalam puisi-puisi April Artison.

Ada 65 puisi dalam kumpulan Renjana ini. Puisi-puisi April Artison kaya dengan metafora-metafora yang memperkuat puisinya hingga enak dirasakan dan memberikan ruang penghayatan yang lebih beragam.

Pertanyaan awal pada diri penulis, mengapa April Artison membuka kumpulan puisinya dengan Getir dan mengakhirinya dengan puisi Sebuah Nama. Apakah hidup mesti meninggalkan sebuah nama?

Apakah memang hidup ini dirasakan oleh April teramat getir? Dan mengakhirinya dengan sebuah nama? Atau April mengalami kegetiran atau melihat kegetiran dalam kehidupan?

Jika dicermati bait pertama dalam puisi Getir, tampaknya kegetiran jiwa dan hati April sudah teramat mendalam:

kususuri getir yang kekal dalam ingatan
marapalkan syair pilu
menutup bait silam
yang mengendap di sudut hati…

Perhatikan pilihan kata (diksi) yang digunakan April Artison: getir yang kekal, syair pilu, mengendap sudut hati, mengungkapkan kegetiran dalam hati seorang April Artison. Apakah Artison menyerah pada kegetiran?

Tentu saja tidak. Jawaban itu ada pada puisi kedua, Ketika Melihatmu dengan Mata Terpejam. April menemukan sebuah sinar yang menyinari hatinya. Ada tersirat  kebahagiaan dalam pusi ini:

di taman surga
puisi adalah desahan menghanyutkan
suara alam menjelma kidung rindu
yang menenggelamkan
jauh ke dasar jiwa tak terbatas
sampai kaulupa segala…

Laut Pemberi Kebebasan Sejati

Bagaimana pandangan April tentang laut? Mari kita nikmati puisi Segara Beach (hlm. 5). Laut bagi April adalah tawa  bahagia. Laut adalah kebebasan abadi. Laut adalah kemahakuasaan. Kita nikmati bait pertama, April merasakan kebahagiaan bersama laut karena ada saling sapa, berbagi cerita menyemai rindu, menyisir jejak.

Laut baginya adalah tempat berbagi berbagai rasa. Ini juga melukiskan betapa cintanya April pada laut: laut adalah tawa bahagia/di tengah gemuruh ombak saling menyapa/bertukar kabar dan berbagi cerita/menyisir jejak yang datang silih berganti…

Laut yang maha luas bagi April adalah kebebasan abadi. Kebebasan abadi ini boleh dikatakan harapan setiap yang hidup di semesta. Kebebasan abadi mendekatkan hati, jiwa dan pikiran pada pemilik ruh: laut adalah kebebasan abadi/selaksa jingga bukanlah langka/untuk jiwa mendampa rupawan semesta/apalagi dahaga mengenang masa lalu/di sana biru tak bertepi…

Di dalam perjalan ruh, ada segara tan patepi yang bisa dimaknai tidak ada batas, tidak ada sekat atau belenggu kehidupan sudah bisa dientaskan.

Laut dijaga Dewa Baruna, patutlah dijaga dan dirawat hingga bisa mengobati kegelapan hati. Laut memberikan obat bagi kehidupan: laut adalah kemahakuasaan/ketika Sang Baruna menjaga dengan setia/sesiapa bertelut ada-Nya/ia adalah tamba menyembuhkan/sungguh, laut dan senja/belenggu paling memabukkan…

Hadirnya larik terakhir menjadikan puisi ini kuat dan menarik /sungguh, laut dan senja/belenggu paling memabukkan/  dalam larik ini ada gambaran kehidupan menuju dan akan berakhir di laut.

Laut patut dirawat karena tubuh ini juga laut yang penuh dengan debur ombak dan gelumbang yang tidak bisa diterka datangnya. Laut juga menubuhkan rindu—baca puisi Batas Rindu (hlm. 7): Senja menggugurkan rindu pada gigil malam/tapi laut senantiasa menumbuhkan rindu… dalam puisi Rindu ini ada larik yang menarik. /aku mencarimu dari sepi ke sepi/…// ada kegelisahan seorang April untuk mencari yang Mahasepi.

Perempuan Perkasa-Perempuan Pengubah Nasib

April memuliakan perempuan dalam beberapa puisinya. Misalnya puisi Kepada Perempuan yang menggambarkan betapa mulianya seorang perempuan. Akan tetapi, puisi ini terasa kurang kuat. Terutama pada awal-awal larik pada setiap bait.

April menuliskan seperti ini:

wahai perempuan perkasa
wahai perempuan tangguh
wahai perempuan hebat
wahai perempuan kuat

Kata perkasa, tangguh, hebat maupun kuat bisa dihilangkan. Daya imaji pembaca akan lebih masuk. Padahal, dalam larik-larik di bawahnya sudah kuat dan membuka ruang imaji bagi pembaca.

Coba bandingkan jika diubah sedikit seperti ini:

wahai perempuan tetirah
pertiwi itu engkau
tak mengeluh seperti pilar
setia walau badai menerjang

Bait kedua misalnya seperti ini:

wahai perempuan
yang menjelma dari rimbunan sajak
mengaliri resah segala
bermuara di jantung harapan
takdir tajam menusuk waktu
meski mimpi-mimpi terserak di pelupuk mata
tapi kesetian itu purusha berdiri tegak
sang pradana menurut pada titah

Bait ketiga misalnya disulih sedikit:

wahai perempuan
pada mendung matamu
semburat keteduhan hati
ego tak keluar dari sarangnya
meski kata-kata menghujam jantung hati
kau bersewaka di jalan dharma/sebagai pradana sejati

Bait keempat coba seperti ini:

wahai perempuan
di batas waktu
yang diperas tangis
peluh di tubuh rebah di panggung gelisah
yang dititahkan
tanpa perlu segan
tanpa perlu enggan
bila waktu letih
tentu terbayarkan

Puisi Perempuan dan Seekor Anjing Kesayangannya (hlm.77) mengungkapkan kesertiaan seekor anjing kepada tuannya. Dua wujud yang berbeda, tetapi memiliki kesetiaan dalam tugasnya masing-masing.

Anjing setia pada tuannya. Tuannya sayang kepada anjing peliharaannya. Jalinan kasih sayang tidak dibatasi oleh wujud fisik dan kesetiaan lebih utama daripada wujud luarnya….dua wujud kita berbeda/aku menjadi kawan setia/berjalan memeluk hangat/ cahaya matahari….

Seorang perempuan yang sudah menjadi seorang ibu diungkapkan secara apik oleh Arpil Artison pada puisi Kelahiran (hlm.95). Ada pengulangan-pengulangan metafora sepotong siang di setiap awal baitnya. Bisa ditafsirkan bahwa peristiwa kelahiran si jabang bayi itu pada siang hari.

Jabang bayi lahir lebih cepat tujuh bulan dibandingkan dengan biasanya sembilan bulan: sepotong siang menghapus segala penantian/tujuh bulan saja cukup/ia ingin melihat dunia lebih cepat/ menuntaskan segala karma  yang tersedat…

Ada beragam nama yang ingin disematkan, tetapi di balik itu ada kegundahan si ibu bayi yang merasakan kepiluan telah dipikulnya: segala pilu dunia telah dipikulnya/kurasakan api pertama/menyala pada kedua matanya…

Puisi perempuan yang sudah menjadi ibu diungkapkan dalam puisi Ibu Malaikat (hlm. 43) yang mengungkapkan pertemuan si aku lirik dengan seorang perempuan dengan sebutan Ibu Malaikat.

Puisi ini enak dibaca karena ada semacam dialog yang bisa dipentaskan atau dimonologkan hingga bisa dinikmati secara dramatik. Ada renungan diberikan oleh April Artison pada bait terakhir: menghadapi dunia yang penuh ilusi/cukup hanya dengan senyum/maka kau akan tahu cara melepaskan/menemui kebahagiaan murni…

Sajak untuk Ibu (hlm.50) mengungkapkan kekaguman pada seorang perempuan yang bernama ibu: Bu kau menanam benih tabah dan sabar/aku ingin memetiknya untuk kujadikan teladan/kaulah surga tempat segala kemuliaan/kaulah perempuan yang kupanggil IBU…

April memberikan penekanan pada kata IBU dengan menggunakan huruf kapital pada kata itu, bisa dimaknai ibu itu besar dan mulia. Jika puisi ini dipadatkan akan menjadi lebih kuat. Misalnya: Bu, kautanam benih ketabahan dan kesabaran/aku ingin memetiknya/kaulah surga segala kemuliaan/kaulah perempuan yang kupanggil IBU

Jika dibandingkan dengan puisi Medusa (hlm.67), puisi Medusa lebih berjiwa, beruh dibandingkan dengan puisi Kepada Perempuan. Puisi Medusa mengungkapkan seorang perempuan yang bisa mengubah jalan hidup seseorang.

Sajak ini terinspirasi dari kisah Yunani tentang perempuan cantik yang berambut ular. Setiap yang menatapnya berubah menjadi batu. April mengubahnya menjadi cukup kuat untuk mengisahkan bahwa seorang perempuan itu mestinya memiliki kekuatan yang bisa mengubah jalan hidup sesorang.

Larik terakhir menjadi menarik: mengubah pendeta menjadi pendosa berwajah iblis… tergambar kekuatan perempuan (Medusa) yang bisa mengubah orang suci menjadi berlumuran dosa dengan wajah yang menyeramkan.

April Artison dalam Renjana ini mengungkapkan gelora hatinya tentang kehidupan. Kehidupan itu membentangkan beragam problematika yang disikapinya secara puitis. Setiap perasaan yang membara di hati Artison diwujudkannya dalam larik-larik puisi.

Puisi-puisi Artison perlu dinikmati agar bisa merasakan bertapa kehidupan itu memberi ruang untuk merenungi kehidupan itu sendiri. Puisi Artison memperkaya ruang dialog di hati dan merasakan kehidupan dengan cara puisi.

Kumpulan puisi Renjana sebagai pencarian baru bagi seorang April Artison yang sebelumnya berkreativitas dalam monolog. Semoga anak kreatif ini melahirkan karya-karya kreatif lainnya.[T]

Rendezvous: Puisi-puisi yang Melawan Keberserakan Kata-kata
Cangkit Den Bukit, Sebuah Sinekdoke Zadam
Menyayangi Diri, Menyayangi Bali | Ulasan Buku Kumpulan Puisi “Ngiring Sayang-Manyayangin” Karya I Made Suarsa
Romantisme Puisi-puisi Wayan Jengki Sunarta dalam Buku Jumantara
Galungan dan Representasi Budaya Bali Dalam Kumpulan Puisi “Menanam Puisi di Emperan Matamu” Karya Wayan Esa Bhaskara
Tags: PuisisastraUlasan Buku
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Arief Gunawan: Shorinji Kempo Adalah Rumah Kedua Saya

Next Post

Kelir Wayang dan Sihir Atmosfer Dalang

IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten

Ida Bagus Wayan Widiasa Keniten lahir di Geria Gelumpang, Karangasem. 20 Januari 1967. Buku-buku yang sudah ditulisnya berupa karya sastra maupun kajian sastra. Pemenang Pertama Guru Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2013 dan Penerima Tanda Kehormatan Satyalancana Pendidikan Tahun 2013 dari Presiden, Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu, 27 November 2013 di Istora Senayan Jakarta. Tahun 2014 ikut Program Kunjungan (Benchmarking) ke Jerman, selanjutnya ke Paris (Prancis), Belgia, dan Amsterdam (Belanda). 2014 menerima penghargaan Widya Kusuma dari Gubernur Bali. Tahun 2015 memeroleh Widya Pataka atas bukunya Jro Lalung Ngutah.

Related Posts

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

by Hartanto
October 21, 2026
0
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

Read moreDetails

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
0
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

Read moreDetails

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

by Emi Suy
October 8, 2026
0
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

Read moreDetails

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails
Next Post
Kepopuleran Pengundang Leak Dalam Wayang Calonarang

Kelir Wayang dan Sihir Atmosfer Dalang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co