24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cangkit Den Bukit, Sebuah Sinekdoke Zadam

Nurjaya PM by Nurjaya PM
March 26, 2023
in Ulas Buku
Cangkit Den Bukit, Sebuah Sinekdoke Zadam

Buku puisi Cangkit den Bukit karya Komang Sujana

Judul: Cangkit Den Bukit – Pupulan Puisi
Penulis: Komang Sujana
Penerbit: Mahima Institute Indonesia
Cetakan Pertama: Februari, 20923
ISBN : 978-623-5435-04-6
Tebal: iv + 70 halaman

PUISI MERUPAKAN REFLEKSI HATI. Begitu pula dengan antologi puisi berjudul Cangkit Den Bukit karya Komang Sujana. Buku ini merefleksikan sejumlah hal berkenaan dengan personal, komunal, serta institusional penulis. Dalam hal ini, ada sejumlah fenomena yang bisa dicermati serta dimaknai sebagai bentuk apresiasi terbitnya buku ini.

Untuk memaknai buku Cangkit Den Bukit perlu dilandasi dengan pemikiran posmo agar mendapatkan pemaknaan melebihi batas positifistik. Sejumlah paradigma, seperti mimetis, heuristik, dan hermeneutik tentunya diperlukan untuk menelisik karya ini. Perlu digunakan sejumlah teori, salah satunya teori semiotika untuk membahas lebih jauh serta dekonstruksi untuk mendapatkan makna dari sudut pandang berbeda. Dalam hal ini, pembahasan akan dilakukan dari dua aspek, yaitu (1) bentuk material dan (2) makna parsial sebagai berikut.

Bentuk Material

Membicarakan bentuk tidak bisa dilepaskan dari material pembangunnya. Dalam hal ini, buku Cangkit Den Bukit dibangun dari sejumlah unsur yang berasal dari teks puisi serta unsur dari konteks puisi tersebut.

Pertama, unsur yang berasal dari teks puisi menunjukkan penggunaan bahasa Bali yang lumbrah dan beberapa menggunakan bahasa yang arkais. Seperti penggunakan kata ‘umung’ yang berarti ramai pada puisi “17 Agustus Mangkin” termasuk bahasa yang arkais. Selanjutnya, penulis banyak menggunakan diksi dengan gaya bahasa pararelisme, seperti pada puisi “Peteng” kata ‘wantah’ yang berarti ‘hanya’ diulang berkali-kali pada setiap alenia. Aliterasi dan Asonansi juga dipraktikan dalam sejumlah puisi, salah satunya pada puisi “Politik” dengan aliterasi konsonan [K] yang diulang-ulang kemudian pada puisi “Nundung Pandung” dengan asonansi vokal [U] yang diulang-ulang.

Sebagian besar puisi menunjukkan fenomena sinekdoke dengan menghadirkan sebagian objek atau subjek sebagai perwakilan utuh dari puisi tersebut, diantaranya: (1) dalam puisi “Lovina” dihadirkan sejumlah simbol laut serta icon khas Pantai Lovina yaitu lumba-lumba, (2) dalam puisi “Ibu” penulis menghadirkan sosok Oka Rusmini sebagai panutan dengan ciri khas emansipasi wanitanya ‘ngigelang emansipasi’, (3) dalam puisi “Kober Merah Putih lan Barak” penulis menghadirkan protes terhadap perlakuan Bendera Merah Putih atas bendera lain.

Tipografi tiap-tiap tulisan menunjukkan keseragaman, normatif, serta teratur. Pada tiap akhir puisi ditambahkan tempat atau tanggal pembuatan puisi mencerminkan adanya kesinambungan rantai-rantai ingatan penulis terhadap karyanya.

Kedua, unsur yang berasal dari konteks puisi ini berkaitan dengan si penulis. Penulis merupakan seorang guru bahasa daerah (Bahasa Bali) sehingga tulisannya banyak berlantar dunia pendidikan, seperti puisi “Malajah Jumah” yang berisi tentang belajar daring masa pandemi, “Kesaman” yang berisi tentang liburan semesteran, dan “Suksma Guru” yang berisi ucapan Hardiknas.

Selanjutnya penulis memiliki keahlian bernyanyi tradisional (Tetembangan), hal ini mempengaruhi sejumlah puisi yang bernafaskan ‘tembang’, diantaranya puisi “Gitanjali” yang berisi tentang nyanyian untuk memohon kedamaian, puisi “Gitanjali (2)” berisi cuplikan pupuh-pupuh yang lumbrah di Bali.

Penulis banyak menulis pada masa pandemi Covid-19 seputar tahun 2020 hingga 2022, oleh sebab itu sejumlah puisi juga menunjukkan kondisi saat pandemi, diantaranya puisi “Covid Siangolas” yang berisikan tentang kesedihan saat pandemi melanda, puisi “Malajah Jumah” yang berisi tentang kondisi pendidikan saat pandemi, dan puisi “PPKM” yang isinya tentang himbauan saat pandemi. Penulis terlihat terburu-buru membuat puisi, dengan interval waktu tahun 2022 penulis banyak menyelesaikan puisi-puisi (rata-rata dua sampai tiga puisi perbulan).

Dari kedua material tersebut, Cangkit Den Bukit dapat menunjukkan bentuknya sebagai sinekdoke dari penulis serta kegundahan penulis pada kondisi yang ia alami saat menulis puisi-puisi tersebut. Kesan indah banyak disajikan berkaitan dengan lango yang sering dinikmati penulis lewat kemahirannya bernyanyi tradisional.

Makna Parsial

Memaknai puisi hendaknya memperhatikan sekuen-sekuen puisi secara utuh serta susunan-susunan puisi terhadap buku tersebut. Misalkan dalam sejumlah sekuen terdapat kata-kata keceriaan tentu puisi ini mengandung unsur kebahagiaan, begitu sebaliknya. Dalam Cangkit Den Bukit sekuen-sekuen tersebut dapat dimaknai dalam pemaknaan denotatif, konotatif, maupun ideologis sebagai berikut.

Pertama, makna denotatif dari Cangkit Den Bukit dapat dilihat dari arti harfiahnya. ‘Cangkit’ berarti tipuan dengan kata-kata yang ambiguitas dan ‘Den Bukit’ berarti ada di sebelah utara bukit atau sebutan Kabupaten Buleleng. ‘Cangkit Den Bukit’ secara denotatif dapat dimaknai sebagai “Tipuan dengan kata-kata ambiguitas ala Den Bukit”.

Kedua, makna konotatif dari Cangkit Den Bukit dapat diamati dari makna ‘Cangkit’ yang bertujuan untuk bergaul dengan bercandaan dan ‘Den Bukit’ yang berarti Buleleng. ‘Cangkit Den Bukit’ secara konotatif dapat dimaknai sebagai “Cara bergaul ala Buleleng yang mengedepankan bercandaan”.

Dalam hal ini, pemaknaan atas Cangkit Den Bukit tidak bisa dilepaskan dari keutuhan karya tersebut. Mulai dari sampul yang menyajikan pemandangan laut dengan pura di sebelahnya dapat dimaknai sebagai bentuk kecintaan penulis terhadap hal-hal yang indah, keinginan penulis yang luas seperti lautan untuk menerbitkan buku ini, doa-doa penulis yang disimbolkan lewat pura dengan meru bertumpang 11.

Selanjutnya, puisi yang disusun berdasarkan bulan jadi yang berurutan kemudian puisi pertama yang dibuat (berangka tahun 2012) ditaruh paling belakang sekaligus menjadi judul buku Cangkit Den Bukit dapat dimaknai sebagai tonggak awal penulis dalam menciptakan tulisan.

Muatan-muatan yang ringan, lugas, dan kontekstual dalam tiap-tiap puisi dapat dimaknai sebagai bentuk penjelmaan penulis yang bersahaja di dalam tulisannya. Selain itu, buku ini terlalu banyak menawarkan keindahan sehingga tidak mencerminkan Buleleng sebagai kota yang ‘lugas’ dengan perkataan yang ‘keras’ namun hatinya yang tegas tanpa bahasa muslihat atau Macangkitan, penulis menghadirkan antitesis dirinya.

Ketiga, makna ideologis dari Cangkit Den Bukit berkenaan dengan sejumlah pengetahuan yang cobak dimasukan, disajikan, dielaborasi ke dalam sejumlah karya. Pengetahuan-pengetahuan tentang sejumlah tempat di Kabupaten Buleleng, sejumlah suasana religius kepercayaan masyarakat, serta keyakinan penulis terhadap tulisannya.

Tulisan-tulisan tersebut ada yang saing berkaitkan, mengaitkan diri, bahkan bertentangan satu sama lain sebagai ideologi penulis yang menginginkan karyanya lahir. Selain hal tersebut di atas, perlu kiranya penulis membungkus sebagian kecil puisinya agar menimbulkan rasa penasaran bagi pembaca untuk membuka sekuen demi sekuan yang disajikan; ibaratnya kita diberikan kado yang sudah terbuka, maka ada hal yang kurang ketika kita memaknai hadiah tersebut. Penulis vulgar dalam membahasakan puisi — ia teringat nyanyian tradisional Bali yang jarang menggunakan kias.

Akhirnya buku ini terbit sebagai individu yang mandiri dan siap untuk menantang kerasnya dunia. Selamat Bli Mang Zadam! [T]

Pertanyaan-pertanyaan Tak Berjawab tentang Bali dalam Sajak-sajak GM Sukawidana
Linieritas Peristiwa Teks dan Pengalaman Individu | Membaca Persoalan Klasik dalam Cerpen “Pura Subak” Karya DN Sarjana
Ngurah Parsua dan Karyanya: Prosa yang Reflektif, Puisi yang Jernih
Tags: Bukubuku puisiPuisipuisi bali anyarsastrasastra bali modern
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Di Jakarta, Teruslah Membaca

Next Post

Intoleransi Saat Nyepi, Mengapa Terjadi ?

Nurjaya PM

Nurjaya PM

Guru SMPN 14 Denpasar

Related Posts

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

by Hartanto
October 21, 2026
0
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

Read moreDetails

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
0
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

Read moreDetails

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

by Emi Suy
October 8, 2026
0
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

Read moreDetails

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails
Next Post
Intoleransi Saat Nyepi, Mengapa Terjadi ?

Intoleransi Saat Nyepi, Mengapa Terjadi ?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co