13 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cangkit Den Bukit, Sebuah Sinekdoke Zadam

Nurjaya PM by Nurjaya PM
March 26, 2023
in Ulas Buku
Cangkit Den Bukit, Sebuah Sinekdoke Zadam

Buku puisi Cangkit den Bukit karya Komang Sujana

Judul: Cangkit Den Bukit – Pupulan Puisi
Penulis: Komang Sujana
Penerbit: Mahima Institute Indonesia
Cetakan Pertama: Februari, 20923
ISBN : 978-623-5435-04-6
Tebal: iv + 70 halaman

PUISI MERUPAKAN REFLEKSI HATI. Begitu pula dengan antologi puisi berjudul Cangkit Den Bukit karya Komang Sujana. Buku ini merefleksikan sejumlah hal berkenaan dengan personal, komunal, serta institusional penulis. Dalam hal ini, ada sejumlah fenomena yang bisa dicermati serta dimaknai sebagai bentuk apresiasi terbitnya buku ini.

Untuk memaknai buku Cangkit Den Bukit perlu dilandasi dengan pemikiran posmo agar mendapatkan pemaknaan melebihi batas positifistik. Sejumlah paradigma, seperti mimetis, heuristik, dan hermeneutik tentunya diperlukan untuk menelisik karya ini. Perlu digunakan sejumlah teori, salah satunya teori semiotika untuk membahas lebih jauh serta dekonstruksi untuk mendapatkan makna dari sudut pandang berbeda. Dalam hal ini, pembahasan akan dilakukan dari dua aspek, yaitu (1) bentuk material dan (2) makna parsial sebagai berikut.

Bentuk Material

Membicarakan bentuk tidak bisa dilepaskan dari material pembangunnya. Dalam hal ini, buku Cangkit Den Bukit dibangun dari sejumlah unsur yang berasal dari teks puisi serta unsur dari konteks puisi tersebut.

Pertama, unsur yang berasal dari teks puisi menunjukkan penggunaan bahasa Bali yang lumbrah dan beberapa menggunakan bahasa yang arkais. Seperti penggunakan kata ‘umung’ yang berarti ramai pada puisi “17 Agustus Mangkin” termasuk bahasa yang arkais. Selanjutnya, penulis banyak menggunakan diksi dengan gaya bahasa pararelisme, seperti pada puisi “Peteng” kata ‘wantah’ yang berarti ‘hanya’ diulang berkali-kali pada setiap alenia. Aliterasi dan Asonansi juga dipraktikan dalam sejumlah puisi, salah satunya pada puisi “Politik” dengan aliterasi konsonan [K] yang diulang-ulang kemudian pada puisi “Nundung Pandung” dengan asonansi vokal [U] yang diulang-ulang.

Sebagian besar puisi menunjukkan fenomena sinekdoke dengan menghadirkan sebagian objek atau subjek sebagai perwakilan utuh dari puisi tersebut, diantaranya: (1) dalam puisi “Lovina” dihadirkan sejumlah simbol laut serta icon khas Pantai Lovina yaitu lumba-lumba, (2) dalam puisi “Ibu” penulis menghadirkan sosok Oka Rusmini sebagai panutan dengan ciri khas emansipasi wanitanya ‘ngigelang emansipasi’, (3) dalam puisi “Kober Merah Putih lan Barak” penulis menghadirkan protes terhadap perlakuan Bendera Merah Putih atas bendera lain.

Tipografi tiap-tiap tulisan menunjukkan keseragaman, normatif, serta teratur. Pada tiap akhir puisi ditambahkan tempat atau tanggal pembuatan puisi mencerminkan adanya kesinambungan rantai-rantai ingatan penulis terhadap karyanya.

Kedua, unsur yang berasal dari konteks puisi ini berkaitan dengan si penulis. Penulis merupakan seorang guru bahasa daerah (Bahasa Bali) sehingga tulisannya banyak berlantar dunia pendidikan, seperti puisi “Malajah Jumah” yang berisi tentang belajar daring masa pandemi, “Kesaman” yang berisi tentang liburan semesteran, dan “Suksma Guru” yang berisi ucapan Hardiknas.

Selanjutnya penulis memiliki keahlian bernyanyi tradisional (Tetembangan), hal ini mempengaruhi sejumlah puisi yang bernafaskan ‘tembang’, diantaranya puisi “Gitanjali” yang berisi tentang nyanyian untuk memohon kedamaian, puisi “Gitanjali (2)” berisi cuplikan pupuh-pupuh yang lumbrah di Bali.

Penulis banyak menulis pada masa pandemi Covid-19 seputar tahun 2020 hingga 2022, oleh sebab itu sejumlah puisi juga menunjukkan kondisi saat pandemi, diantaranya puisi “Covid Siangolas” yang berisikan tentang kesedihan saat pandemi melanda, puisi “Malajah Jumah” yang berisi tentang kondisi pendidikan saat pandemi, dan puisi “PPKM” yang isinya tentang himbauan saat pandemi. Penulis terlihat terburu-buru membuat puisi, dengan interval waktu tahun 2022 penulis banyak menyelesaikan puisi-puisi (rata-rata dua sampai tiga puisi perbulan).

Dari kedua material tersebut, Cangkit Den Bukit dapat menunjukkan bentuknya sebagai sinekdoke dari penulis serta kegundahan penulis pada kondisi yang ia alami saat menulis puisi-puisi tersebut. Kesan indah banyak disajikan berkaitan dengan lango yang sering dinikmati penulis lewat kemahirannya bernyanyi tradisional.

Makna Parsial

Memaknai puisi hendaknya memperhatikan sekuen-sekuen puisi secara utuh serta susunan-susunan puisi terhadap buku tersebut. Misalkan dalam sejumlah sekuen terdapat kata-kata keceriaan tentu puisi ini mengandung unsur kebahagiaan, begitu sebaliknya. Dalam Cangkit Den Bukit sekuen-sekuen tersebut dapat dimaknai dalam pemaknaan denotatif, konotatif, maupun ideologis sebagai berikut.

Pertama, makna denotatif dari Cangkit Den Bukit dapat dilihat dari arti harfiahnya. ‘Cangkit’ berarti tipuan dengan kata-kata yang ambiguitas dan ‘Den Bukit’ berarti ada di sebelah utara bukit atau sebutan Kabupaten Buleleng. ‘Cangkit Den Bukit’ secara denotatif dapat dimaknai sebagai “Tipuan dengan kata-kata ambiguitas ala Den Bukit”.

Kedua, makna konotatif dari Cangkit Den Bukit dapat diamati dari makna ‘Cangkit’ yang bertujuan untuk bergaul dengan bercandaan dan ‘Den Bukit’ yang berarti Buleleng. ‘Cangkit Den Bukit’ secara konotatif dapat dimaknai sebagai “Cara bergaul ala Buleleng yang mengedepankan bercandaan”.

Dalam hal ini, pemaknaan atas Cangkit Den Bukit tidak bisa dilepaskan dari keutuhan karya tersebut. Mulai dari sampul yang menyajikan pemandangan laut dengan pura di sebelahnya dapat dimaknai sebagai bentuk kecintaan penulis terhadap hal-hal yang indah, keinginan penulis yang luas seperti lautan untuk menerbitkan buku ini, doa-doa penulis yang disimbolkan lewat pura dengan meru bertumpang 11.

Selanjutnya, puisi yang disusun berdasarkan bulan jadi yang berurutan kemudian puisi pertama yang dibuat (berangka tahun 2012) ditaruh paling belakang sekaligus menjadi judul buku Cangkit Den Bukit dapat dimaknai sebagai tonggak awal penulis dalam menciptakan tulisan.

Muatan-muatan yang ringan, lugas, dan kontekstual dalam tiap-tiap puisi dapat dimaknai sebagai bentuk penjelmaan penulis yang bersahaja di dalam tulisannya. Selain itu, buku ini terlalu banyak menawarkan keindahan sehingga tidak mencerminkan Buleleng sebagai kota yang ‘lugas’ dengan perkataan yang ‘keras’ namun hatinya yang tegas tanpa bahasa muslihat atau Macangkitan, penulis menghadirkan antitesis dirinya.

Ketiga, makna ideologis dari Cangkit Den Bukit berkenaan dengan sejumlah pengetahuan yang cobak dimasukan, disajikan, dielaborasi ke dalam sejumlah karya. Pengetahuan-pengetahuan tentang sejumlah tempat di Kabupaten Buleleng, sejumlah suasana religius kepercayaan masyarakat, serta keyakinan penulis terhadap tulisannya.

Tulisan-tulisan tersebut ada yang saing berkaitkan, mengaitkan diri, bahkan bertentangan satu sama lain sebagai ideologi penulis yang menginginkan karyanya lahir. Selain hal tersebut di atas, perlu kiranya penulis membungkus sebagian kecil puisinya agar menimbulkan rasa penasaran bagi pembaca untuk membuka sekuen demi sekuan yang disajikan; ibaratnya kita diberikan kado yang sudah terbuka, maka ada hal yang kurang ketika kita memaknai hadiah tersebut. Penulis vulgar dalam membahasakan puisi — ia teringat nyanyian tradisional Bali yang jarang menggunakan kias.

Akhirnya buku ini terbit sebagai individu yang mandiri dan siap untuk menantang kerasnya dunia. Selamat Bli Mang Zadam! [T]

Pertanyaan-pertanyaan Tak Berjawab tentang Bali dalam Sajak-sajak GM Sukawidana
Linieritas Peristiwa Teks dan Pengalaman Individu | Membaca Persoalan Klasik dalam Cerpen “Pura Subak” Karya DN Sarjana
Ngurah Parsua dan Karyanya: Prosa yang Reflektif, Puisi yang Jernih
Tags: Bukubuku puisiPuisipuisi bali anyarsastrasastra bali modern
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Di Jakarta, Teruslah Membaca

Next Post

Intoleransi Saat Nyepi, Mengapa Terjadi ?

Nurjaya PM

Nurjaya PM

Guru SMPN 14 Denpasar

Related Posts

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

by I Nyoman Darma Putra
July 9, 2026
0
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

Read moreDetails
Next Post
Intoleransi Saat Nyepi, Mengapa Terjadi ?

Intoleransi Saat Nyepi, Mengapa Terjadi ?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co