14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ngurah Parsua dan Karyanya: Prosa yang Reflektif, Puisi yang Jernih

Raudal Tanjung Banua by Raudal Tanjung Banua
December 25, 2022
in Kritik Sastra, Pilihan Editor
Ngurah Parsua dan Karyanya: Prosa yang Reflektif, Puisi yang Jernih

Buku sastra karya-karya Ngurah Parsua

NGURAH PARSUA merupakan salah seorang sastrawan produktif kelahiran Bondalem, Buleleng, 22 Desember 1946. Ia menulis hampir semua genre sastra: puisi, cerpen, novel dan esai. Ia mampu menjaga stamina hingga tua, sehingga bukan saja banyak karya yang dihasilkannya, juga rentang waktu penciptaan yang panjang.

Ngurah Parsua

Bagi Parsua, sastra sangat mengasyikkan. Meminjam ungkapan Subagio Sastrowardoyo, Parsua mengibaratkan bahwa sastra khususnya puisi, dapat menunda seseorang untuk bunuh diri. Lebih dari menunda bunuh diri “simbolik”, sastra memberi pelajaran, pertimbangan dan membuat kita ikhlas menjalani hidup. “Saya mengagumi Rabindranath Tagore,” tulisnya lebih lanjut (2014: vi).

Tagore kita tahu pernah berkunjung ke Bali. Nobelis India itu mengunjungi pusat-pusat ritual dan kebudayaan Bali, mulai Ubud, Puri Gianyar, Istana Tampaksiring, Gunung Kawi, Puri Karangasem, hingga desa Munduk yang terletak di tengah Pulau Dewata. Spirit Shantiniketan Tagore sebagai tempat yang damai dan pusat belajar, membuat Parsua terobsesi meneroka “kedamaian susastra”; sumber ilham yang tak habis ditimba.

Parsua memublikasikan karyanya sejak tahun 70-an di Bali Post, Karya Bhakti, Nusa Tenggara, Warta Bali, Merdeka, Berita Buana, Berita Yudha, Suara Karya, Sinar Harapan, Suara Pembaruan, Simponi, Eksprimen, Srikandi, Suara Pembangunan, Mutu, Arena, Bukit Barisan, Horison, Basis, Minggu Pagi, Prioritas, El Horas, Liberty, Selekta, Varia, Dewan Budaya dan Dewan Sastra (Malaysia).

Puisinya berjudul “Khabar” diterjemahkan oleh Kemala, penyair dan peneliti sastra asal Malaysia, dimuat Majalah Asia Week sebagai puisi pilihan (1983). Puisinya “Kepada Bali” diterjemahkan Vern Cork dalam The Morning After (2000). Sebuah cerpennya diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris, dalam buku Bali Behind te Seen: Recent Fiction from Bali (Australia). Puisinya “Perjalanan Terakhir” dibacakan di Universitas Kebangsaan Malaysia oleh penyair Dr. Noor SM (1983).

>>>

Ngurah Parsua aktif di Lembaga Seni Budaya Indonesia (Lesiba) yang pernah memberi atmosfir sendiri dalam kehidupan seni modern Bali. Ia juga rajin mengikuti sayembara sastra, memenangkannya atau masuk nominasi. Buku-bukunya terbit sejak tahun 70-an, dan berlanjut hingga sekarang.

Buku puisinya tercatat: Matahari (1970), Setelah Angin Senja Berembus (1973), Sajak-Sajak Dukana (1982), Pemburu (1987), Sajak-Sajak Langit  (1994), Duka Air Mata Bangsa (1999), Air Mengalir (2008), Manusia Perkasa (2007), 99 Puisiku (2008), Bunga Sunyi (2009), Potret Pohon Air Mata (2012), Nyanyian Cemara Langit (2014) dan Setelah Angin Senja Berhembuas (2015, kemasan baru dengan tambahan 4 kumpulan lainnya).

Buku cerpennya adalah Sekeras Baja (1984), Anak-anak (1987), Rumah Penghabisan (1995), Perempuan di Pelabuhan Sunyi (1995), Senja di Taman Kota (2003), Angin Malam (2008), Pohon Langit (2012) dan Cinta Mawar Shakuntala (2017). Ada pun novelnya: Permulaan Duka (1995), Petapa Bunga (2009) dan Sembilu dalam Taman (2014). Sedangkan buku eseinya adalah Catatan Kebudayaan dari Bali (1983), Hakekat Manusia dan Kehidupan (1999) dan Karya Sastra dan Prosesnya (2012).

Selain itu, karyanya terhimpun dalam antologi bersama seperti Antologi Sepuluh Penyair Indonesia-Malaysia (1983), Antologi Penyair ASEAN (1983), Tonggak (susunan Linus Suryadi Ag, 1987) dan Bahana di Margarana (2005).

 Ngurah Parsua menerima Penghargaan Listibiya Provinsi Bali (1974), Italart-BKKNI (1983), Penghargaan Mpu Tantular Balai Bahasa Denpasar (2010), Penghargaan Pemerintah Kota Denpasar (2011), Widya Pataka Perpustakaan Provinsi Bali (2012) dan Anugerah Bali Jani Nugraha (2021).

Karya Mutakhir: Sekilas Tinjauan

Ngurah Parsua terus berkarya ditandai terbitnya buku-buku mutakhirnya. Saya sempat menyunting sejumlah buku Parsua, terutama diterbitkan Framepublishing rentang waktu 2014-2019. Buku-buku tersebut adalah Nyanyian Cemara Langit (kumpulan puisi, 2014), Sembilu dalam Taman (novel, 2014), Setelah Angin Senja Berhembus (puisi, 2015), Cinta Mawar Shakuntala (cerpen, 2017), Kita dan Pendidikan Sastra (kumpulan esai, 2016) serta Rindu dan Cinta Sang Pemuja (puisi, 2019).

Saya menemukan pelbagai hal menarik dari karya mutakhir pengarang berlatar sarjana pertanian dan pernah menjadi kepala sekolah ini. Dalam buku Cinta Mawar Shakuntala, saya melihat Parsua konsisten dengan cerpen-cerpen reflektif. Ia ceritakan pergulatan tokoh-tokohnya dalam nilai kehidupan yang berubah. Meski beresiko terbentur atau kalah, tokohnya pantang menyerah. Tapi jika pun sang tokoh meraih kemenangan atas tatanan nilai yang diperjuangkan, kemenangan itu bukanlah berbentuk materi apalagi kemenangan besar, melainkan kemenangan spritual dalam capaian-capaian kecil. Dan itu merepresentasikan nilai universal kemanusiaan.

>>>

Nilai-nilai hidup disampaikan Parsua lewat narasi keindahan. Kalah dan menang, jaya atau bangkrut, hidup atau mati, merupakan takdir kehidupan. Namun bagaimana kalah dan menang dicapai, kejayaan ditegakkan dan kebangkrutan dihayati, hidup diisi dan kematian dipasrahkan, itulah yang penting benar. Tak heran, narasi Parsua selalu merengkuh alam sebagai latar, flora dan fauna sebagai umpama, gejolak laut dan langit Tanah Air yang menaungi batin tokoh-tokohnya.

Cerpennya tentang seekor burung yang mencari Tuhan dalam cerpen “Tuhan dan Keindahan”, misalnya, sangat reflektif dan filosofis:

Si burung cantik sempat tertawa kecil. ’’Jangan terlalu sentimental,’’ katanya sambil merajuk. ‘’Meskipun aku dilahirkan sebagai burung betina, aku tak pernah  sedih dan menyesali nasib atasnya,’’ katanya sambil kembali merajuk. ‘’Lihatlah, penderitaan hidup si miskin, orang bernasib malang, seorang pengemis, menderita di umur tua, selalu dirundung sakit. Orang malang selalu ditimpa sial. Atau bentuk penderitaan jenis lainnya, memang bertebaran di dunia. Tidak sepertimu, penderitaan tak membuatnya menyesal. Apalagi memprotes Tuhan!  Semua kelahiran di dunia, ada sebab dan akibatnya.’’

Keindahan bahasa cerpen Parsua terasa wajar, tak ada dramatisasi dalam apa yang sempat dikenal dalam isu sastra mutakhir sebagai “tamasya bahasa”. Meliuk-liuk indah, tapi abai akan isi. Pada Parsua, keindahan bukan saja lantaran ia juga seorang penyair, namun karena cerpen sarat renungan lazim memercikkan keindahan kalimat dan bahasa dengan sendirinya. Tak perlu lagi dibuat-buat. Parsua bahkan fasih mengartikulasikan materi kehidupan purbani, roh-roh halus, dunia tak kasat mata, pohon hayat kabajikan dan sejenisnya secara wajar dan apa adanya (bukan seadanya).

>>>

Itulah sebabnya cerpennya kadang mengambil judul-judul konseptual seperti “Pohon Sunyi” yang ia “rumuskan” sebagai: “sebuah bayang misterius. Letaknya di wilayah bayang khayal pikiran manusia. Sulit menemukan denahnya dengan pasti. Kadang mampu tertangkap utuh. Bayangnya seperti berada di pohon sunyi. Ruang misteri tempat berdialog dengan sunyi. Tempat manusia mencari  jati diri.”

Persfektif Novel

Novel Parsua, Sembilu dalam Taman (2014), merupakan trilogi novela: “Hidup di Dunia”, “Sembilu dalam Taman”, “Abu dan Debu”. Ketiganya disatukan dengan judul utama yang diambil dari satu bagian yang pernah terbit secara solo tahun 1986. Novel ini berkisah tentang perjalanan hidup I Gusti Made Lodra, pemuda bangsawan Bali, dalam memburu cinta sejati. Cintanya dengan Artini, yang ia amsal sebagai gadis masa depannya, kandas di tangan orang tuanya sendiri. Menariknya, kegagalan itu bukan lantaran campur tangan keluarga besar Lodra yang notabene dari lingkungan Puri Mengwi, namun penolakan dari ibu Artini yang merupakan keluarga biasa.

Ini tentu persfektif unik. Lazimnya, cerita dengan latar bangsawan, dalam soal pilihan hidup si anak, campur tangan pihak si darah birulah yang selalu dominan. Tapi ini tidak. Keluarga Artini, dari kalangan rakyat biasa, justru tegas menolak. Penolakan keras itu pun datang dari sang ibu, sosok perempuan yang dalam banyak kisah suaranya kerap tenggelam dalam dunia patriarkal. Dan penolakan itu pun bukan karena kecemasan psikologis tentang ketidaksetaraan, melainkan karena ketidaksenangan sang ibu melihat sikap Lodra yang seenaknya dan tak bertanggung jawab.  

Melalui cara ini, pengarang membangun persfektif baru dalam relasi sosial masyarakat Bali. Memang, ia tidak berpretensi membongkar hal-ihwal yang lebih besar, misalnya membenturkan persoalan adat dan kebebasan. Membongkar hegemoni kasta dan semacamnya. Namun cukup mengulik soal-soal kecil, lewat struktur cerita yang boleh dikata konvensional, Parsua memberi arti berbeda. 

Percintaan Lodra dengan perempuan kedua, Sylvei, kemudian memunculkan hal-hal simpatik dan situasi demokratis. Sylvei merupakan perempuan Prancis. Meskipun upacara perkawinan mereka dalam tata-cara puri, itu bukan simbol keterkungkungan adat. Itu pilihan Sylvei sendiri. Maka pasangan pengantin itu bebas berdiskusi, berdebat bahkan bertengkar, termasuk soal adat dan agama. Latar puri bukan sesuatu yang masif, namun terbuka untuk dikritik termasuk oleh “orang asing”.

>>>

Kerap kali dalam perdebatan-perdebatan itu Lodra tersudut oleh pertanyaan atau pernyataan Sylvei yang tajam, lalu ada jawaban yang ditemukan bersama. Di sini terlihat adanya demokratisasi puri dan demokratisasi sikap orang puri. Ini bertolak-belakang dengan kisah-kisah yang lazim tentang kekokohan tembok para bangsawan Bali sebagaimana ditemukan dalam karya-karya Oka Rusmini, misalnya. 

Upaya Parsua mencairkan relasi sosial orang Bali lewat interaksi yang padan dan hubungan wajar, membuat novel ini seolah terbebas dari pretensi “ideologis”. Namun, jika didalami, selain memuat persfektif “sungsang” tentang hubungan puri dengan masyarakat kebanyakan, novel ini bernilai ideologis dalam arti sebenarnya. Berlatar Bali tahun 70-an hingga menguatnya sentralisme Orde Baru, Parsua membentang panorama antropologis dan paradoks turistik yang meluas pada ranah sosial-politik lokal (Bali).

Kejernihan Puisi

Sementara itu, sebagai penyair yang malang-melintang dalam pengalaman penciptaan, bentuk bagi Parsua bukan hal esensial yang perlu dikejar atau diperjuangkan. Inilah yang teramati dari antologi puisi Rindu dan Cinta Sang Pemuja. Dalam kesederhaan bentuk, makin terasa keinginan untuk menyuguhkan hal-hal maknawi secara suntuk. Analogi paling sering dirujuk sehubungan dengan ini tidak lain filosofi Candi Borobudur: semakin ke puncak semakin tampak kepolosan—arupadhatu—melewati tingkatan-tingkatan yang ramai motif, relief, ukiran, tatahan—kamadathu, rupadathu.

Dalam khazanah puisi tradisional Nusantara, kesederhaan malahan bagian upaya untuk menyampaikan makna supaya bisa ditilik oleh masyarakat luas. “Gurindam 12” karya Raja Ali Haji misalnya, merujuk situasi sekitar bagi antaran isi yang bernilai moral dan spritual. “Barangsiapa tidak sembahyang/ ibarat rumah tidak bertiang,” itu salah satu contoh, dekat dan mengena. Syair Ronggowarsito dan Ida Pedanda Made Sidemen, juga demikian. Renungan dan terawang batin mereka sampaikan dengan jernih tapi dalam.

Dalam puisi modern Indonesia, kita menemukan kesederhanaan semacam itu misalnya pada puisi Rendra, Subagio Sastrowardoyo, D. Zawawi Imron maupun Sitor Situmorang. Ngurah Parsua pada hakikatnya adalah penyair yang ingin mencapai tingkatan tersebut. Puisinya terbentuk dari ungkapan, ujaran atau renungan yang tenang, tidak menggebu, namun setiap bagian menyimpan renungan. Coba simak puisi berikut:

Tulus; lapis paling hening
Dasar terdalam
Pengenang terpercaya
Bukan sekedar menangkap
Bayang-bayang tuhan
Tempat bertemunya rindu dan mengerti
Duka dan gembira; pimpin dan jagalah
Raksasa mana mengerti kalbu?
Telah dikunci kasih sayang itu
Dipagari bunga melati
Kalbu; ruang kemanusiaan abadi.

(“Kalbu”, hal. 22)

Gagasan Esai

Sementara itu, seolah padan dengan puisinya yang sederhana, esai-esai Parsua dalam buku Kita dan Pendidikan Sastra (2016), juga ditulis bersahaja. Cara menyampaikan gagasannya tidak ruwet, mudah dicerna. Berisi persoalan di seputar wacana sastra dan isu kebudayaan secara umum, jalan ke luar yang ditawarkan terasa dekat dengan pembaca.

Sebagai sastrawan, Parsua menyajikan sejumlah esai yang berhubungan langsung dengan proses kreatif penciptaan, baik proses kreatifnya sendiri, maupun proses kreatif sastrawan lain. Melalui perspektif “proses kreatif” ini, pembaca mengetahui lebih dekat “ruang dalam” seorang sastrawan. Bahwa sastrawan tak hanya bergulat dengan konvensi jagad estetik, juga mempertaruhkan persoalan etik: tanggung jawab moral, nilai rohani/spritualitas, sampai pada soal-soal sosial.

>>>

Sebaliknya, sebagai sastrawan yang aktif di pusaran isu-isu kebudayaan, Ngurah Parsua juga mengangkat “persoalan lapangan” ke dalam esainya. Salah satu yang menarik minatnya adalah dunia pengajaran atau pendidikan sastra yang masih dianggap “jauh panggang dari api”. Banyak pihak melihat penyebab lemahnya apresiasi sastra di sekolah karena faktor guru yang kurang menguasai bahan-ajar. Sebagian menganggap kurang akomodatifnya kurikulum atas pelajaran sastra dibanding mata pelajaran eksakta.

Parsua melihatnya secara komprehensif. Mulai dari pengertian dan posisi sastra di tengah masyarakat; apa hubungan sastra dengan “perut kenyang” dan bagaimana posisi sastra dalam masyarakat Bali? Lantas, dari pemaknaan ini lahirlah tinjauan-tinjauan kritis yang kadang di luar dugaan kita, termasuk soal pendidikan sastra di sekolah yang menurutnya berkorelasi dengan dunia pendidikan kita secara keseluruhan: melek aksara, tapi tuna acuan nilai.

Demikianlah kiranya perkenalan kita dengan sosok Ngurah Parsua dan sekelumit karya-karyanya, sosok yang berulang tahun bertepatan dengan Hari Ibu, 22 Desember. Selamat ulang tahun, Pak Parsua, sehat dan bahagia! [T]

Dari Jiwa Merdeka ke Jiwa Pemberani: Refleksi Pembelajaran Sastra di Era Merdeka Belajar
Dari “Kulit Kera Piduka”, Membaca Cerita Rempah dalam Karya Sastra Indonesia dan Teks Tradisional di Bali
Ulasan Nominasi Sastra Bali untuk Anugerah Sastra Rancage 2022
Tags: CerpenesaiNgurah ParsuanovelPuisiRaudal Tanjung Banuasastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Makantisastra, Menjaga Eksistensi Bahasa Bali di Tengah Terpaan Modernisasi

Next Post

Memberi Makna Pada Permainan Kotek-kotekan dalam Kehidupan Anak-anak – Sebuah Cocoklogi

Raudal Tanjung Banua

Raudal Tanjung Banua

Lahir di Sumatera Barat, pernah merantau ke Bali dan kini tinggal di Yogyakarta. Menulis cerpen dan puisi sembari mengelola Komunitas Rumah Lebah, Penerbit Akar Indonesia, dan Jurnal Cerpen Indonesia.

Related Posts

Apa Keunggulan Novel ‘Lampah Sang Pragina’ Hingga Raih Hadiah Sastra Rancage 2026?

by I Nyoman Darma Putra
February 2, 2026
0
Apa Keunggulan Novel ‘Lampah Sang Pragina’ Hingga Raih Hadiah Sastra Rancage 2026?

NOVEL Lampah Sang Pragina (Perjalanan Sang Penari) karya Ketut Sugiartha ditetapkan menerima Hadiah Sastra Rancage 2026 untuk sastra Bali. Menurut...

Read moreDetails

Puitika Ruang Sitor Situmorang

by Isnan Waluyo
November 9, 2025
0
Puitika Ruang Sitor Situmorang

RUANG menjadi titik keberangkatan sekaligus penanda akhir perjalanan panjang kepenyairan Sitor Situmorang (1994-2014). Puisi berjudul “Pasar Senen” bukan hanya puisi...

Read moreDetails

Kelam Jiwa Georg Trakl – Puisi, Trauma, Skizofrenia

by Angga Wijaya
September 13, 2025
0
Kelam Jiwa Georg Trakl – Puisi, Trauma, Skizofrenia

MEMBACA sajak-sajak Georg Trakl seperti memasuki lorong jiwa yang tak berujung. Lahir pada 3 Februari 1887 di Salzburg, Austria, Trakl...

Read moreDetails

“Tarian Bumi” dan Kuasa Teori Sastra

by I Wayan Artika
July 21, 2025
0
“Tarian Bumi” dan Kuasa Teori Sastra

NOVEL Tarian Bumi telah memasuki usia tiga dekade. Awalnya terbit di Magelang di Indonesia Tera. Lalu dan selanjutnya terbit di...

Read moreDetails

Kalau “Geguritan” bisa Dijadikan Novel, Bukankah Novel bisa Diadaptasi jadi “Geguritan”?

by I Nyoman Darma Putra
July 19, 2025
0
Kalau “Geguritan” bisa Dijadikan Novel, Bukankah Novel bisa Diadaptasi jadi “Geguritan”?

Jika geguritan atau kidung Bali bisa digubah menjadi novel, mengapa tidak menggubah novel menjadi geguritan atau kidung? Ide itu tiba-tiba...

Read moreDetails

“Kraspoekoel”, Alam Gaib dan Labuwangi

by Wicaksono Adi
July 18, 2025
0
“Kraspoekoel”, Alam Gaib dan Labuwangi

Kawan yang baik, Beberapa waktu yang lalu engkau bertanya, ”Selain Max Havelaar karya Multatuli, adakah karya sastra zaman kolonial lainnya...

Read moreDetails

Mengkaji Puisi Picasso : Tekstualisasi Karya Rupa Pablo Picasso

by Hartanto
May 18, 2025
0
Mengkaji Puisi Picasso : Tekstualisasi Karya Rupa Pablo Picasso

SELAMA ini, kita mengenal Pablo Picasso sebagai pelukis dan pematung. Sepertinya, tidak banyak yang tahu kalau dia juga menulis puisi....

Read moreDetails

Mengenang Joko Pinurbo [2-Tamat]: Sore Hari Bersama Sang Penyair

by Wicaksono Adi
May 4, 2025
0
Mengenang Joko Pinurbo [2-Tamat]: Sore Hari Bersama Sang Penyair

PADA suatu sore yang muram saya berbincang sambil minum teh dengan Joko Pinurbo di teras rumahnya. Entah bagaimana tiba-tiba dia...

Read moreDetails

Mengenang Joko Pinurbo [1]: Menemukan Sajak di Sebuah Rumah, di Ujung Sebuah Gang

by Wicaksono Adi
May 4, 2025
0
Mengenang Joko Pinurbo [1]: Menemukan Sajak di Sebuah Rumah, di Ujung Sebuah Gang

SYAHDAN dua puluh satu tahun silam, pada tahun 2004, Dewan Kesenian Jakarta membuat acara bertajuk “Cakrawala Sastra Indonesia”. Selain pentas...

Read moreDetails

Benarkah Puisi “Pagar Bambu dan Pasar yang Bergejolak” Membawa Pembaca “Sampai ke Seberang”?

by Fani Yudistira
April 23, 2025
0
Benarkah Puisi “Pagar Bambu dan Pasar yang Bergejolak” Membawa Pembaca “Sampai ke Seberang”?

PADA pukul 21.47, Rabu 16 April 2025, pengumuman juara LCP (Lomba Cipta Puisi) Piala Kebangsaan bertema Pagar Laut diumumkan. Dalam...

Read moreDetails
Next Post
Memberi Makna Pada Permainan Kotek-kotekan dalam Kehidupan Anak-anak – Sebuah Cocoklogi

Memberi Makna Pada Permainan Kotek-kotekan dalam Kehidupan Anak-anak – Sebuah Cocoklogi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co