12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ngurah Parsua dan Karyanya: Prosa yang Reflektif, Puisi yang Jernih

Raudal Tanjung Banua by Raudal Tanjung Banua
December 25, 2022
in Kritik Sastra, Pilihan Editor
Ngurah Parsua dan Karyanya: Prosa yang Reflektif, Puisi yang Jernih

Buku sastra karya-karya Ngurah Parsua

NGURAH PARSUA merupakan salah seorang sastrawan produktif kelahiran Bondalem, Buleleng, 22 Desember 1946. Ia menulis hampir semua genre sastra: puisi, cerpen, novel dan esai. Ia mampu menjaga stamina hingga tua, sehingga bukan saja banyak karya yang dihasilkannya, juga rentang waktu penciptaan yang panjang.

Ngurah Parsua

Bagi Parsua, sastra sangat mengasyikkan. Meminjam ungkapan Subagio Sastrowardoyo, Parsua mengibaratkan bahwa sastra khususnya puisi, dapat menunda seseorang untuk bunuh diri. Lebih dari menunda bunuh diri “simbolik”, sastra memberi pelajaran, pertimbangan dan membuat kita ikhlas menjalani hidup. “Saya mengagumi Rabindranath Tagore,” tulisnya lebih lanjut (2014: vi).

Tagore kita tahu pernah berkunjung ke Bali. Nobelis India itu mengunjungi pusat-pusat ritual dan kebudayaan Bali, mulai Ubud, Puri Gianyar, Istana Tampaksiring, Gunung Kawi, Puri Karangasem, hingga desa Munduk yang terletak di tengah Pulau Dewata. Spirit Shantiniketan Tagore sebagai tempat yang damai dan pusat belajar, membuat Parsua terobsesi meneroka “kedamaian susastra”; sumber ilham yang tak habis ditimba.

Parsua memublikasikan karyanya sejak tahun 70-an di Bali Post, Karya Bhakti, Nusa Tenggara, Warta Bali, Merdeka, Berita Buana, Berita Yudha, Suara Karya, Sinar Harapan, Suara Pembaruan, Simponi, Eksprimen, Srikandi, Suara Pembangunan, Mutu, Arena, Bukit Barisan, Horison, Basis, Minggu Pagi, Prioritas, El Horas, Liberty, Selekta, Varia, Dewan Budaya dan Dewan Sastra (Malaysia).

Puisinya berjudul “Khabar” diterjemahkan oleh Kemala, penyair dan peneliti sastra asal Malaysia, dimuat Majalah Asia Week sebagai puisi pilihan (1983). Puisinya “Kepada Bali” diterjemahkan Vern Cork dalam The Morning After (2000). Sebuah cerpennya diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris, dalam buku Bali Behind te Seen: Recent Fiction from Bali (Australia). Puisinya “Perjalanan Terakhir” dibacakan di Universitas Kebangsaan Malaysia oleh penyair Dr. Noor SM (1983).

>>>

Ngurah Parsua aktif di Lembaga Seni Budaya Indonesia (Lesiba) yang pernah memberi atmosfir sendiri dalam kehidupan seni modern Bali. Ia juga rajin mengikuti sayembara sastra, memenangkannya atau masuk nominasi. Buku-bukunya terbit sejak tahun 70-an, dan berlanjut hingga sekarang.

Buku puisinya tercatat: Matahari (1970), Setelah Angin Senja Berembus (1973), Sajak-Sajak Dukana (1982), Pemburu (1987), Sajak-Sajak Langit  (1994), Duka Air Mata Bangsa (1999), Air Mengalir (2008), Manusia Perkasa (2007), 99 Puisiku (2008), Bunga Sunyi (2009), Potret Pohon Air Mata (2012), Nyanyian Cemara Langit (2014) dan Setelah Angin Senja Berhembuas (2015, kemasan baru dengan tambahan 4 kumpulan lainnya).

Buku cerpennya adalah Sekeras Baja (1984), Anak-anak (1987), Rumah Penghabisan (1995), Perempuan di Pelabuhan Sunyi (1995), Senja di Taman Kota (2003), Angin Malam (2008), Pohon Langit (2012) dan Cinta Mawar Shakuntala (2017). Ada pun novelnya: Permulaan Duka (1995), Petapa Bunga (2009) dan Sembilu dalam Taman (2014). Sedangkan buku eseinya adalah Catatan Kebudayaan dari Bali (1983), Hakekat Manusia dan Kehidupan (1999) dan Karya Sastra dan Prosesnya (2012).

Selain itu, karyanya terhimpun dalam antologi bersama seperti Antologi Sepuluh Penyair Indonesia-Malaysia (1983), Antologi Penyair ASEAN (1983), Tonggak (susunan Linus Suryadi Ag, 1987) dan Bahana di Margarana (2005).

 Ngurah Parsua menerima Penghargaan Listibiya Provinsi Bali (1974), Italart-BKKNI (1983), Penghargaan Mpu Tantular Balai Bahasa Denpasar (2010), Penghargaan Pemerintah Kota Denpasar (2011), Widya Pataka Perpustakaan Provinsi Bali (2012) dan Anugerah Bali Jani Nugraha (2021).

Karya Mutakhir: Sekilas Tinjauan

Ngurah Parsua terus berkarya ditandai terbitnya buku-buku mutakhirnya. Saya sempat menyunting sejumlah buku Parsua, terutama diterbitkan Framepublishing rentang waktu 2014-2019. Buku-buku tersebut adalah Nyanyian Cemara Langit (kumpulan puisi, 2014), Sembilu dalam Taman (novel, 2014), Setelah Angin Senja Berhembus (puisi, 2015), Cinta Mawar Shakuntala (cerpen, 2017), Kita dan Pendidikan Sastra (kumpulan esai, 2016) serta Rindu dan Cinta Sang Pemuja (puisi, 2019).

Saya menemukan pelbagai hal menarik dari karya mutakhir pengarang berlatar sarjana pertanian dan pernah menjadi kepala sekolah ini. Dalam buku Cinta Mawar Shakuntala, saya melihat Parsua konsisten dengan cerpen-cerpen reflektif. Ia ceritakan pergulatan tokoh-tokohnya dalam nilai kehidupan yang berubah. Meski beresiko terbentur atau kalah, tokohnya pantang menyerah. Tapi jika pun sang tokoh meraih kemenangan atas tatanan nilai yang diperjuangkan, kemenangan itu bukanlah berbentuk materi apalagi kemenangan besar, melainkan kemenangan spritual dalam capaian-capaian kecil. Dan itu merepresentasikan nilai universal kemanusiaan.

>>>

Nilai-nilai hidup disampaikan Parsua lewat narasi keindahan. Kalah dan menang, jaya atau bangkrut, hidup atau mati, merupakan takdir kehidupan. Namun bagaimana kalah dan menang dicapai, kejayaan ditegakkan dan kebangkrutan dihayati, hidup diisi dan kematian dipasrahkan, itulah yang penting benar. Tak heran, narasi Parsua selalu merengkuh alam sebagai latar, flora dan fauna sebagai umpama, gejolak laut dan langit Tanah Air yang menaungi batin tokoh-tokohnya.

Cerpennya tentang seekor burung yang mencari Tuhan dalam cerpen “Tuhan dan Keindahan”, misalnya, sangat reflektif dan filosofis:

Si burung cantik sempat tertawa kecil. ’’Jangan terlalu sentimental,’’ katanya sambil merajuk. ‘’Meskipun aku dilahirkan sebagai burung betina, aku tak pernah  sedih dan menyesali nasib atasnya,’’ katanya sambil kembali merajuk. ‘’Lihatlah, penderitaan hidup si miskin, orang bernasib malang, seorang pengemis, menderita di umur tua, selalu dirundung sakit. Orang malang selalu ditimpa sial. Atau bentuk penderitaan jenis lainnya, memang bertebaran di dunia. Tidak sepertimu, penderitaan tak membuatnya menyesal. Apalagi memprotes Tuhan!  Semua kelahiran di dunia, ada sebab dan akibatnya.’’

Keindahan bahasa cerpen Parsua terasa wajar, tak ada dramatisasi dalam apa yang sempat dikenal dalam isu sastra mutakhir sebagai “tamasya bahasa”. Meliuk-liuk indah, tapi abai akan isi. Pada Parsua, keindahan bukan saja lantaran ia juga seorang penyair, namun karena cerpen sarat renungan lazim memercikkan keindahan kalimat dan bahasa dengan sendirinya. Tak perlu lagi dibuat-buat. Parsua bahkan fasih mengartikulasikan materi kehidupan purbani, roh-roh halus, dunia tak kasat mata, pohon hayat kabajikan dan sejenisnya secara wajar dan apa adanya (bukan seadanya).

>>>

Itulah sebabnya cerpennya kadang mengambil judul-judul konseptual seperti “Pohon Sunyi” yang ia “rumuskan” sebagai: “sebuah bayang misterius. Letaknya di wilayah bayang khayal pikiran manusia. Sulit menemukan denahnya dengan pasti. Kadang mampu tertangkap utuh. Bayangnya seperti berada di pohon sunyi. Ruang misteri tempat berdialog dengan sunyi. Tempat manusia mencari  jati diri.”

Persfektif Novel

Novel Parsua, Sembilu dalam Taman (2014), merupakan trilogi novela: “Hidup di Dunia”, “Sembilu dalam Taman”, “Abu dan Debu”. Ketiganya disatukan dengan judul utama yang diambil dari satu bagian yang pernah terbit secara solo tahun 1986. Novel ini berkisah tentang perjalanan hidup I Gusti Made Lodra, pemuda bangsawan Bali, dalam memburu cinta sejati. Cintanya dengan Artini, yang ia amsal sebagai gadis masa depannya, kandas di tangan orang tuanya sendiri. Menariknya, kegagalan itu bukan lantaran campur tangan keluarga besar Lodra yang notabene dari lingkungan Puri Mengwi, namun penolakan dari ibu Artini yang merupakan keluarga biasa.

Ini tentu persfektif unik. Lazimnya, cerita dengan latar bangsawan, dalam soal pilihan hidup si anak, campur tangan pihak si darah birulah yang selalu dominan. Tapi ini tidak. Keluarga Artini, dari kalangan rakyat biasa, justru tegas menolak. Penolakan keras itu pun datang dari sang ibu, sosok perempuan yang dalam banyak kisah suaranya kerap tenggelam dalam dunia patriarkal. Dan penolakan itu pun bukan karena kecemasan psikologis tentang ketidaksetaraan, melainkan karena ketidaksenangan sang ibu melihat sikap Lodra yang seenaknya dan tak bertanggung jawab.  

Melalui cara ini, pengarang membangun persfektif baru dalam relasi sosial masyarakat Bali. Memang, ia tidak berpretensi membongkar hal-ihwal yang lebih besar, misalnya membenturkan persoalan adat dan kebebasan. Membongkar hegemoni kasta dan semacamnya. Namun cukup mengulik soal-soal kecil, lewat struktur cerita yang boleh dikata konvensional, Parsua memberi arti berbeda. 

Percintaan Lodra dengan perempuan kedua, Sylvei, kemudian memunculkan hal-hal simpatik dan situasi demokratis. Sylvei merupakan perempuan Prancis. Meskipun upacara perkawinan mereka dalam tata-cara puri, itu bukan simbol keterkungkungan adat. Itu pilihan Sylvei sendiri. Maka pasangan pengantin itu bebas berdiskusi, berdebat bahkan bertengkar, termasuk soal adat dan agama. Latar puri bukan sesuatu yang masif, namun terbuka untuk dikritik termasuk oleh “orang asing”.

>>>

Kerap kali dalam perdebatan-perdebatan itu Lodra tersudut oleh pertanyaan atau pernyataan Sylvei yang tajam, lalu ada jawaban yang ditemukan bersama. Di sini terlihat adanya demokratisasi puri dan demokratisasi sikap orang puri. Ini bertolak-belakang dengan kisah-kisah yang lazim tentang kekokohan tembok para bangsawan Bali sebagaimana ditemukan dalam karya-karya Oka Rusmini, misalnya. 

Upaya Parsua mencairkan relasi sosial orang Bali lewat interaksi yang padan dan hubungan wajar, membuat novel ini seolah terbebas dari pretensi “ideologis”. Namun, jika didalami, selain memuat persfektif “sungsang” tentang hubungan puri dengan masyarakat kebanyakan, novel ini bernilai ideologis dalam arti sebenarnya. Berlatar Bali tahun 70-an hingga menguatnya sentralisme Orde Baru, Parsua membentang panorama antropologis dan paradoks turistik yang meluas pada ranah sosial-politik lokal (Bali).

Kejernihan Puisi

Sementara itu, sebagai penyair yang malang-melintang dalam pengalaman penciptaan, bentuk bagi Parsua bukan hal esensial yang perlu dikejar atau diperjuangkan. Inilah yang teramati dari antologi puisi Rindu dan Cinta Sang Pemuja. Dalam kesederhaan bentuk, makin terasa keinginan untuk menyuguhkan hal-hal maknawi secara suntuk. Analogi paling sering dirujuk sehubungan dengan ini tidak lain filosofi Candi Borobudur: semakin ke puncak semakin tampak kepolosan—arupadhatu—melewati tingkatan-tingkatan yang ramai motif, relief, ukiran, tatahan—kamadathu, rupadathu.

Dalam khazanah puisi tradisional Nusantara, kesederhaan malahan bagian upaya untuk menyampaikan makna supaya bisa ditilik oleh masyarakat luas. “Gurindam 12” karya Raja Ali Haji misalnya, merujuk situasi sekitar bagi antaran isi yang bernilai moral dan spritual. “Barangsiapa tidak sembahyang/ ibarat rumah tidak bertiang,” itu salah satu contoh, dekat dan mengena. Syair Ronggowarsito dan Ida Pedanda Made Sidemen, juga demikian. Renungan dan terawang batin mereka sampaikan dengan jernih tapi dalam.

Dalam puisi modern Indonesia, kita menemukan kesederhanaan semacam itu misalnya pada puisi Rendra, Subagio Sastrowardoyo, D. Zawawi Imron maupun Sitor Situmorang. Ngurah Parsua pada hakikatnya adalah penyair yang ingin mencapai tingkatan tersebut. Puisinya terbentuk dari ungkapan, ujaran atau renungan yang tenang, tidak menggebu, namun setiap bagian menyimpan renungan. Coba simak puisi berikut:

Tulus; lapis paling hening
Dasar terdalam
Pengenang terpercaya
Bukan sekedar menangkap
Bayang-bayang tuhan
Tempat bertemunya rindu dan mengerti
Duka dan gembira; pimpin dan jagalah
Raksasa mana mengerti kalbu?
Telah dikunci kasih sayang itu
Dipagari bunga melati
Kalbu; ruang kemanusiaan abadi.

(“Kalbu”, hal. 22)

Gagasan Esai

Sementara itu, seolah padan dengan puisinya yang sederhana, esai-esai Parsua dalam buku Kita dan Pendidikan Sastra (2016), juga ditulis bersahaja. Cara menyampaikan gagasannya tidak ruwet, mudah dicerna. Berisi persoalan di seputar wacana sastra dan isu kebudayaan secara umum, jalan ke luar yang ditawarkan terasa dekat dengan pembaca.

Sebagai sastrawan, Parsua menyajikan sejumlah esai yang berhubungan langsung dengan proses kreatif penciptaan, baik proses kreatifnya sendiri, maupun proses kreatif sastrawan lain. Melalui perspektif “proses kreatif” ini, pembaca mengetahui lebih dekat “ruang dalam” seorang sastrawan. Bahwa sastrawan tak hanya bergulat dengan konvensi jagad estetik, juga mempertaruhkan persoalan etik: tanggung jawab moral, nilai rohani/spritualitas, sampai pada soal-soal sosial.

>>>

Sebaliknya, sebagai sastrawan yang aktif di pusaran isu-isu kebudayaan, Ngurah Parsua juga mengangkat “persoalan lapangan” ke dalam esainya. Salah satu yang menarik minatnya adalah dunia pengajaran atau pendidikan sastra yang masih dianggap “jauh panggang dari api”. Banyak pihak melihat penyebab lemahnya apresiasi sastra di sekolah karena faktor guru yang kurang menguasai bahan-ajar. Sebagian menganggap kurang akomodatifnya kurikulum atas pelajaran sastra dibanding mata pelajaran eksakta.

Parsua melihatnya secara komprehensif. Mulai dari pengertian dan posisi sastra di tengah masyarakat; apa hubungan sastra dengan “perut kenyang” dan bagaimana posisi sastra dalam masyarakat Bali? Lantas, dari pemaknaan ini lahirlah tinjauan-tinjauan kritis yang kadang di luar dugaan kita, termasuk soal pendidikan sastra di sekolah yang menurutnya berkorelasi dengan dunia pendidikan kita secara keseluruhan: melek aksara, tapi tuna acuan nilai.

Demikianlah kiranya perkenalan kita dengan sosok Ngurah Parsua dan sekelumit karya-karyanya, sosok yang berulang tahun bertepatan dengan Hari Ibu, 22 Desember. Selamat ulang tahun, Pak Parsua, sehat dan bahagia! [T]

Dari Jiwa Merdeka ke Jiwa Pemberani: Refleksi Pembelajaran Sastra di Era Merdeka Belajar
Dari “Kulit Kera Piduka”, Membaca Cerita Rempah dalam Karya Sastra Indonesia dan Teks Tradisional di Bali
Ulasan Nominasi Sastra Bali untuk Anugerah Sastra Rancage 2022
Tags: CerpenesaiNgurah ParsuanovelPuisiRaudal Tanjung Banuasastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Makantisastra, Menjaga Eksistensi Bahasa Bali di Tengah Terpaan Modernisasi

Next Post

Memberi Makna Pada Permainan Kotek-kotekan dalam Kehidupan Anak-anak – Sebuah Cocoklogi

Raudal Tanjung Banua

Raudal Tanjung Banua

Lahir di Sumatera Barat, pernah merantau ke Bali dan kini tinggal di Yogyakarta. Menulis cerpen dan puisi sembari mengelola Komunitas Rumah Lebah, Penerbit Akar Indonesia, dan Jurnal Cerpen Indonesia.

Related Posts

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

by Andre Syahreza
September 4, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

DIAGNOSIS tentang Sastra Perhatian bukan pernyataan bahwa seluruh ekosistem sastra Indonesia sudah menyerah pada logikanya. Pernyataan semacam itu terlalu mudah...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

by Andre Syahreza
September 2, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

by Andre Syahreza
August 30, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [7]: Rezim Algoritma dan Pembubaran Standar Sastra

by Andre Syahreza
August 26, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

Semua tekanan yang sudah diuraikan dalam bagian-bagian sebelumnya bisa dibaca sebagai masalah-masalah yang terpisah. Namun semuanya adalah gejala dari satu...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

Read moreDetails

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
0
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [2]: Pintu yang Terbuka, Pagar yang Runtuh

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA tahun 1999, Seno Gumira Ajidarma menerbitkan kumpulan essay Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara. Judulnya adalah pernyataan sekaligus pengakuan,...

Read moreDetails
Next Post
Memberi Makna Pada Permainan Kotek-kotekan dalam Kehidupan Anak-anak – Sebuah Cocoklogi

Memberi Makna Pada Permainan Kotek-kotekan dalam Kehidupan Anak-anak – Sebuah Cocoklogi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co