21 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengkaji Puisi Picasso : Tekstualisasi Karya Rupa Pablo Picasso

Hartanto by Hartanto
May 18, 2025
in Kritik Sastra
Mengkaji Puisi Picasso : Tekstualisasi Karya Rupa Pablo Picasso

Pablo Picasso

SELAMA ini, kita mengenal Pablo Picasso sebagai pelukis dan pematung. Sepertinya, tidak banyak yang tahu kalau dia juga menulis puisi.  Meskipun karyanya dalam bidang sastra ini tidak sepopuler seni visualnya, namun tetap menarik untuk dikaji.

Picasso mulai menulis puisi sekitar tahun 1935 dan melanjutkan hingga akhir hidupnya. Puisinya mencerminkan gaya surealis dan seringkali memiliki elemen-elemen yang tidak konvensional, seperti kurangnya tanda baca, permainan kata, serta pencampuran antara citra visual dan emosional.

Salah satu aspek menarik dari puisi Picasso adalah bahwa dia membawa elemen dari seni visualnya ke dalam tulisan, menciptakan teks yang sering kali sulit dipahami. Karya puisinya, penuh dengan simbolisme dan metafora. Meskipun tidak ada kumpulan puisi Picasso yang terkenal secara luas, beberapa di antaranya telah diterbitkan dalam buku berjudul “Pablo Picasso: Collected Writings” yang diterbitkan secara ‘posthumous’ (diterbitkan setelah kematian seseorang: penghargaan anumerta.)

Puisi-puisi Pablo Picasso mungkin tidak seterkenal karya rupanya, tetapi mereka menawarkan wawasan menarik tentang pemikirannya yang ‘multidimensional’ dan tidak biasa. Picasso mulai menulis puisi ketika ia sedang mengalami fase kehidupan yang penuh gejolak.

Pablo Picasso, 25 Oktober 1881 – 8 April 1973

Pada waktu itu, 1935, ia menghadapi masalah pribadi, seperti perpisahannya dengan istri pertamanya, Olga Khokhlova, serta krisis identitas dalam karyanya sebagai seniman. Inilah yang mendorongnya untuk beralih ke medium lain sebagai bentuk ekspresi diri, yaitu menulis.

Seperti halnya dalam lukisannya yang dipengaruhi oleh kubisme dan surealisme, puisi-puisi Picasso seringkali tidak mengikuti aturan linear atau struktur yang jelas. Puisinya berisi fragmen-fragmen pikiran, ide, dan citra yang seringkali aneh atau tidak masuk akal jika dilihat secara harfiah. Gaya ini serupa dengan gerakan surealis dalam sastra, yang lebih mengutamakan eksplorasi alam bawah sadar dan mimpi.

Picasso tidak hanya menulis dalam satu bahasa, ia sering mencampur berbagai bahasa seperti Spanyol, Prancis, dan kadang-kadang bahasa lain. Dia juga sering bermain dengan bentuk-bentuk kata, menciptakan frasa-frasa yang tidak biasa. Puisinya seringkali bersifat fraktal, penuh dengan pengulangan yang tidak mengikuti aturan tata bahasa yang baku. Ada banyak frasa yang tampaknya hanya berfungsi sebagai eksperimen linguistik, bukan sekadar sebagai medium komunikasi.

Banyak yang mengatakan bahwa puisi Picasso bersifat sangat “visual”, dalam artian ia menggambarkan gambar-gambar mental melalui kata-kata, sebagaimana ia menggambarkan bentuk dalam seni lukisnya. Misalnya, puisi-puisinya penuh dengan detail yang konkret, seperti warna, bentuk, dan tekstur, yang mengingatkan pada gaya kubisme dan caranya memecah objek menjadi fragmen-fragmen di atas kanvas.

Picasso sering menyebut bahwa ia menulis seperti orang menggigit kuku – sebagai kebiasaan, reaksi spontan terhadap emosi yang dirasakannya. Ia tidak menulis untuk mengikuti gaya puitis yang formal atau menghasilkan karya sastra yang sempurna. Puisinya sering tampak sebagai catatan singkat atau percikan ide yang tiba-tiba muncul di benaknya. Teksnya juga kadang penuh dengan catatan-catatan yang bersifat pribadi atau bahkan sepele.

Selain itu, Picasso acap menggunakan tanda baca dengan sangat tidak konsisten. Hal ini membuat pembaca merasa seperti “tersesat” dalam teks yang mencerminkan perasaan Picasso tentang ketidakteraturan dan fluiditas dunia serta pikirannya sendiri.

Coba simak petikan puisinya, terjemahan Dewi Rinjani ini ;

“Saya menulis seperti orang lain menggigit kuku mereka.

Karena gugup, bosan, bingung, gembira, sedih, gembira, atau lelah.

Saya menulis seperti orang lain melangkah maju mundur.

Pikiran saya, sebaris semut, tak pernah diam,

tetapi mengembara dalam penjelajahannya terhadap segala hal.”

Karya puisi Picasso bersifat eksperimental, dengan seringkali mengekspresikan pikiran dan emosi yang tidak langsung. Bisa kita simak juga karya yang lainnya,  Berikut salah satu contoh puisi dari Picasso yang mencerminkan gaya surealisnya:

“Bau tempat tidur

bau malam

bau matahari

bau pergelangan tangan pembantu

bau waktu yang berlalu di bawah celah pintu…”

Di sini, kita bisa melihat bagaimana Picasso mencoba menangkap bukan hanya benda atau objek fisik, tetapi juga aspek tak kasat mata, seperti waktu dan perasaan, melalui deskripsi aroma. Puisi ini hampir seperti catatan tentang momen-momen inderawi, cara yang sangat pribadi bagi Picasso untuk mengekspresikan dunianya.

Pablo Picasso dan istrinya, Francoise Gilot 1952

Seperti kita ketahui, tahun 1930-an adalah masa ketika gerakan surealisme dan eksperimentalitas dalam seni berkembang pesat di Eropa. Penulis seperti André Breton dan pelukis Salvador Dalí adalah beberapa tokoh terkenal dari gerakan ini, yang juga berusaha menggali alam bawah sadar, mimpi, dan realitas yang tidak masuk akal. Picasso, meskipun lebih dikenal karena seni visualnya, tampaknya sangat dipengaruhi oleh trend ini dalam puisi-puisinya.

Meskipun tidak sepopuler karya visualnya, puisi-puisi Pablo Picasso telah menarik perhatian beberapa kritikus sastra. Mereka tertarik dengan pendekatan unik Picasso terhadap bahasa dan bentuk. Reaksi para kritikus terhadap puisi Picasso bervariasi, mulai dari kekaguman terhadap eksperimen bahasanya hingga kebingungan atas sifat puisinya yang sulit diakses (Istilah penyair Umbu Landu : ‘puisi gelap’). Berikut adalah beberapa pandangan kritikus sastra tentang karya puisinya:

Banyak kritikus mengakui bahwa puisi-puisi Picasso sangat eksperimental, mencerminkan sifat “avant-garde” yang sama dengan lukisan-lukisannya. Mereka menekankan bahwa Picasso tidak mengikuti norma-norma puitis tradisional, seperti ritme atau meter yang teratur. Dia menggunakan kata-kata seperti sapuan kuas, menciptakan gambar mental dan atmosfer yang bersifat fraktal dan tidak logis. Beberapa kritikus membandingkan teknik puisinya dengan gerakan surealis dan dadaisme, yang sama-sama mendekonstruksi konvensi linguistik.

Beberapa kritikus menganggap puisi Picasso sebagai perpanjangan dari seni visualnya, di mana ia terus bermain dengan bentuk, warna, dan ruang, tetapi dalam medium kata-kata. Saya menyebutnya kosa bentuk, kosa warna, kosa garis, kosa ruang – dalam memahami perbendaharaan teknik senirupa. Menurut mereka, meskipun Picasso adalah seorang pelukis dan pematung yang terlatih secara visual, dia mencoba mengubah persepsi pembaca melalui bahasa seperti halnya dia mengubah persepsi penikmat melalui gambar kubistik

Penulis dan kritikus sastra Pierre Daix, misalnya, mengomentari bahwa puisi Picasso mencerminkan kebebasan berpikir yang sama yang diterapkan dalam karya-karya visualnya. Ini, sebuah upaya untuk melepaskan diri dari batasan logika atau narasi linier. Daix melihat puisi-puisi Picasso sebagai “coretan-coretan pikiran” yang mirip dengan bagaimana Picasso bekerja di atas kanvas: spontan dan eksperimental.

Sementara itu, kritikus John Richardson dalam biografinya tentang Picasso, menulis bahwa puisi Picasso sulit untuk dipahami dalam konteks sastra tradisional, tetapi bila dilihat sebagai ekspresi artistik yang lebih luas, maka akan ditemui refleksi dari pikirannya yang selalu terobsesi dengan bentuk dan komposisi.

Coretan puisi Picasso

Di sisi lain, ada juga kritikus yang merasa bahwa puisi Picasso terlalu eksperimental dan sulit diakses. Kritik ini terutama berasal dari mereka yang mencari kejelasan dan struktur dalam puisi. Mereka menyoroti bahwa meskipun eksperimentasi linguistik Picasso menarik, hal itu kadang membuat puisinya sulit untuk dibaca secara menyeluruh atau dinikmati sebagai karya sastra mandiri.

Salah satu kritik datang dari Geoffrey Grigson, seorang penyair dan kritikus sastra, yang mengatakan bahwa puisi Picasso tampak seperti latihan spontan yang tidak pernah benar-benar disusun atau diperhalus. Bagi Grigson, karya-karya ini tampak seperti “buku catatan pribadi” daripada karya sastra yang lengkap dan koheren. Beberapa kritikus lain setuju dengan pandangan ini, menilai bahwa puisi Picasso lebih merupakan produk dari percobaan pribadi daripada upaya serius untuk menciptakan sastra yang bertahan lama.

Saya pribadi kurang setuju dengan Grigson. Menurut saya, karya Picasso membuka jalur baru untuk memahami hubungan antara bahasa dan gambar. Saya melihat  bagaimana seniman seperti Picasso menggunakan puisi untuk menjelajahi apa yang tidak dapat audiens capai dengan gambar, yaitu permainan linguistik, suara, dan arti kata-kata.Saya menghargai keberanian Picasso untuk mengeksplorasi bahasa dan bentuk baru, meskipun hasil akhirnya mungkin tidak selalu berhasil menurut standar puitis konvensional. Saya menyebut upaya Picasso ini sebagai tekstualisasi karya rupa.

Pablo Picasso dan Olga Khokhlova

Namun, bagi sebagian besar pembaca umum, puisi Picasso sering kali dinilai terlalu eksperimental atau tidak mudah dimengerti. Beberapa kritikus bahkan berpendapat bahwa puisi-puisinya mungkin tidak akan dihargai sebanyak ini jika bukan karena nama besar Picasso sebagai seniman visual, sebuah kritik yang menunjukkan bahwa reputasi Picasso sebagai pelukis bisa jadi membayangi karyanya di bidang sastra.

Memang harus kita akui bahwa karyanya sangat eksperimental dan tidak mengikuti konvensi sastra tradisional. Namun, saya  melihatnya sebagai perpanjangan alami dari karya visualnya yang penuh dengan kebebasan dan eksperimentasi. Masih menurut saya, puisi-puisi Picasso tetap menjadi bagian penting dari upayanya yang lebih luas dalam mengeksplorasi berbagai bentuk seni, dan menawarkan perspektif tambahan tentang pemikirannya sebagai seorang seniman yang selalu medobrak batas-batas kreativitas. Picasso, setidaknya mengajari kita semua tentang bagaimana meretas ‘dinding beku’ kreatifitas. Baiknya, saya petik puisi Picasso yang berjudul “A Lonely Road Is That I Walked”. …// Aku berjalan di jalan sepi, satu-satunya yang pernah kukenal// Aku tidak tahu ke mana arahnya, tetapi aku terus berjalan dan terus berjalan//….(Hartanto)

  • Puisi-puisi Pablo Picasso, dikutip dari https://www.poemhunter.com/pablo-picasso/ – Di terjemahkan oleh : Dewi Rinjani.
  • Sejumlah referensi dan foto-foto diambil dari sejumlah sumber

Penulis: Hartanto
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA
‘Narasi Naïve Visual’ Ni Komang Atmi Kristia Dewi
‘Prosa Liris Visual’ Made Gunawan
‘Puisi Visual’ I Nyoman Diwarupa
Satire Visual Wayan Setem
‘Semiotika Senirupa’ Ardika
‘Tangis Alam’ Agus Murdika
Orkestra Warna Wayan Naya
Dewa Soma Wijaya, Penjaga Budaya Lama
Kosa Poetika Senirupa Anak Agung Gede Eka Putra Dela
Tags: Pablo PicassoPuisiSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Study Tour”, Bukan Remah-Remah dalam Pariwisata

Next Post

Film Cina dan Drama Cina, Mana yang Paling Seru?

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Apa Keunggulan Novel ‘Lampah Sang Pragina’ Hingga Raih Hadiah Sastra Rancage 2026?

by I Nyoman Darma Putra
February 2, 2026
0
Apa Keunggulan Novel ‘Lampah Sang Pragina’ Hingga Raih Hadiah Sastra Rancage 2026?

NOVEL Lampah Sang Pragina (Perjalanan Sang Penari) karya Ketut Sugiartha ditetapkan menerima Hadiah Sastra Rancage 2026 untuk sastra Bali. Menurut...

Read moreDetails

Puitika Ruang Sitor Situmorang

by Isnan Waluyo
November 9, 2025
0
Puitika Ruang Sitor Situmorang

RUANG menjadi titik keberangkatan sekaligus penanda akhir perjalanan panjang kepenyairan Sitor Situmorang (1994-2014). Puisi berjudul “Pasar Senen” bukan hanya puisi...

Read moreDetails

Kelam Jiwa Georg Trakl – Puisi, Trauma, Skizofrenia

by Angga Wijaya
September 13, 2025
0
Kelam Jiwa Georg Trakl – Puisi, Trauma, Skizofrenia

MEMBACA sajak-sajak Georg Trakl seperti memasuki lorong jiwa yang tak berujung. Lahir pada 3 Februari 1887 di Salzburg, Austria, Trakl...

Read moreDetails

“Tarian Bumi” dan Kuasa Teori Sastra

by I Wayan Artika
July 21, 2025
0
“Tarian Bumi” dan Kuasa Teori Sastra

NOVEL Tarian Bumi telah memasuki usia tiga dekade. Awalnya terbit di Magelang di Indonesia Tera. Lalu dan selanjutnya terbit di...

Read moreDetails

Kalau “Geguritan” bisa Dijadikan Novel, Bukankah Novel bisa Diadaptasi jadi “Geguritan”?

by I Nyoman Darma Putra
July 19, 2025
0
Kalau “Geguritan” bisa Dijadikan Novel, Bukankah Novel bisa Diadaptasi jadi “Geguritan”?

Jika geguritan atau kidung Bali bisa digubah menjadi novel, mengapa tidak menggubah novel menjadi geguritan atau kidung? Ide itu tiba-tiba...

Read moreDetails

“Kraspoekoel”, Alam Gaib dan Labuwangi

by Wicaksono Adi
July 18, 2025
0
“Kraspoekoel”, Alam Gaib dan Labuwangi

Kawan yang baik, Beberapa waktu yang lalu engkau bertanya, ”Selain Max Havelaar karya Multatuli, adakah karya sastra zaman kolonial lainnya...

Read moreDetails

Mengenang Joko Pinurbo [2-Tamat]: Sore Hari Bersama Sang Penyair

by Wicaksono Adi
May 4, 2025
0
Mengenang Joko Pinurbo [2-Tamat]: Sore Hari Bersama Sang Penyair

PADA suatu sore yang muram saya berbincang sambil minum teh dengan Joko Pinurbo di teras rumahnya. Entah bagaimana tiba-tiba dia...

Read moreDetails

Mengenang Joko Pinurbo [1]: Menemukan Sajak di Sebuah Rumah, di Ujung Sebuah Gang

by Wicaksono Adi
May 4, 2025
0
Mengenang Joko Pinurbo [1]: Menemukan Sajak di Sebuah Rumah, di Ujung Sebuah Gang

SYAHDAN dua puluh satu tahun silam, pada tahun 2004, Dewan Kesenian Jakarta membuat acara bertajuk “Cakrawala Sastra Indonesia”. Selain pentas...

Read moreDetails

Benarkah Puisi “Pagar Bambu dan Pasar yang Bergejolak” Membawa Pembaca “Sampai ke Seberang”?

by Fani Yudistira
April 23, 2025
0
Benarkah Puisi “Pagar Bambu dan Pasar yang Bergejolak” Membawa Pembaca “Sampai ke Seberang”?

PADA pukul 21.47, Rabu 16 April 2025, pengumuman juara LCP (Lomba Cipta Puisi) Piala Kebangsaan bertema Pagar Laut diumumkan. Dalam...

Read moreDetails

Proyek Membaca “Ronggeng Dukuh Paruk”

by I Wayan Artika
March 4, 2025
0
Proyek Membaca “Ronggeng Dukuh Paruk”

MEMBACA karya sastra merupakan pengalaman yang sangat mengesankan karena seseorang akan masuk ke dalam dunia karya tersebut.  Dunia karya sastra...

Read moreDetails
Next Post
Film Cina dan Drama Cina, Mana yang Paling Seru?

Film Cina dan Drama Cina, Mana yang Paling Seru?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Dipaning Jayaswara’: Cahaya Baru Jegeg Bagus Tabanan 2026
Gaya

‘Dipaning Jayaswara’: Cahaya Baru Jegeg Bagus Tabanan 2026

SEMAKIN malam, semakin meriah juga suasana di Gedung Kesenian I Ketut Marya, pada Jumat, 8 Mei 2016. Tepuk tangan riuh...

by Julio Saputra
May 20, 2026
Bang Dance Matangkan Struktur dan Posisi Artistik dalam Inkubasi Tahap III “Sejak Padi Mengakar”
Panggung

Bang Dance Matangkan Struktur dan Posisi Artistik dalam Inkubasi Tahap III “Sejak Padi Mengakar”

"Memasuki tahap akhir inkubasi, Bang Dance merumuskan struktur dramaturgi, strategi afektif, dan posisi artistik karya sebagai praktik koreografi kontemporer berbasis...

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?
Khas

Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

PANTAI Kedonganan di kawasan Kuta, Badung, Bali, perlahan hidup kembali. Menjelang sore, deretan meja di tepi pantai mulai terisi. Aroma...

by Ni Luh Gde Sari Dewi Astuti
May 20, 2026
‘Moral Panic’ di Ruang Tafsir: Membaca Polemik Film ‘Pesta Babi’ di Era Digital
Esai

‘Moral Panic’ di Ruang Tafsir: Membaca Polemik Film ‘Pesta Babi’ di Era Digital

ERA digital ini, kemarahan hampir selalu bergerak lebih cepat daripada proses memahami, seperti sebuah judul yang diadili sebelum karya itu...

by Lailatus Sholihah
May 20, 2026
Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana
Ulas Musik

Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

Citta-Vrittis dan Fenomena 'Sending' Dalam Psikologi Kognitif dan Filosofi Hindu, gejolak pikiran yang tak menentu disebut sebagai Citta-Vrittis. Fenomena sending...

by Ida Ayu Made Dwi Antari
May 20, 2026
Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’
Ulas Buku

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel...

by Inno Koten
May 20, 2026
BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius
Tualang

BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

Roses are red Violets are blue 106,20 KM? WTF is wrong with you? SEBUAH papan merah bertuliskan kata-kata di atas...

by Julio Saputra
May 20, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Mozaik 20 Mei: Banyak Seremoni, Miskin Kebangkitan

SETIAP tanggal 20 Mei bangsa Indonesia seolah menyetel ulang kompas tentang nasionalisme. Dari mana nasionalisme dimulai, dan kini hendak dibawa...

by Chusmeru
May 20, 2026
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026
Persona

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
Menulis: Perspektif Pengalaman Pribadi
Esai

Sudut Pandang, Cinta, dan Manusia yang Terlalu Cepat Menghakimi

DUNIA modern melahirkan manusia-manusia yang semakin pandai berbicara, tetapi perlahan kehilangan kemampuan memahami. Hari ini, orang terlalu cepat membuat kesimpulan...

by Emi Suy
May 19, 2026
Ungkapan ‘Sakit Hati dan Patah Hati’ Nadiem Memantik Simpati Publik
Bahasa

Ungkapan ‘Sakit Hati dan Patah Hati’ Nadiem Memantik Simpati Publik

Pernahkah Anda mendengar seseorang kecewa dan mengeluh bahwa ia sedang patah hati kepada sebuah negara? Saya sendiri kerap mendengar orang...

by I Made Sudiana
May 19, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

Setelah Tari Pembuka, Apa yang Tersisa dari Diplomasi Budaya Indonesia?

JUMAT malam, 8 Mei 2026, di Mactan Expo, Cebu, Filipina, dalam jamuan santap malam KTT ke-48 ASEAN, budaya tampil lagi...

by Early NHS
May 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co