22 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dewa Soma Wijaya, Penjaga Budaya Lama

Hartanto by Hartanto
April 30, 2025
in Ulas Rupa
Dewa Soma Wijaya, Penjaga Budaya Lama

Dewa Somawijaya

SENI pertunjukan yang ditampilkan Dewa Soma Wijaya saat “Repertoar Kekecewaan” di Neka Art Museum Ubud pada 18 April 2025 memiliki elemen yang sangat menarik untuk dikaji. Pertunjukan yang menandai pembukaan pameran “Metastomata : Metamorphosis Manifesto Galang Kangin” ini tampaknya mengangkat tema yang intens, seperti kekecewaan dan perjuangan, dengan pendekatan yang dramatis dan simbolis. Repertoar ini, kolaborasi pematung Dewa Soma Wijaya, penyair Wayan Jengki Sunarta, dan perupa Made Gunawan yang mengiring musik dengan permainan serulingnya.

Pertunjukan diawali narasi singkat oleh Dewa Soma, demikian panggilan akrabnya – yang tampil tanpa baju dan menggenakan topeng. Selaku pematungnya, Dewa Soma menunjukkan eksplorasi emosi yang mendalam, mungkin terkait dengan perjuangan melawan arus ‘bansos’ atas nama modernisasi tanpa konsep pemikiran yang bijak. Begitulah tampaknya Dewa Soma melakukan perlawanan atas ‘opera dusta’ dan mempertahankan tradisi – dengan karya, dalam kesendirian yang sunyi. Seperti petikan puisi Wayan Jengki Sunarta ;  …//Sungguh terasa sunyi//Sendiri menciumi wangi tubuhmu, Batu Padas//Pahatan purba yang bangkitkan sayup sayup kenangan//…

Tak berapa lama, penyair Wayan Jengki Sunarta keluar dari pintu candi di area pementasan tersebut, ia berpakian hitam dan berkerudung kain poleng – sembari membaca puisi karyanya sendiri yang bertajuk ; “Situs Candi”. Ia membaca puisi sambil mengelilingi patung karya Dewa Soma yang tertata di panggung. Dewa soma selaku konseptor pementasan bertajuk ‘kekecewaan’ ini, sudah mempersiapkannya selama 3 bulan. Selain, menggelar repertoar – Dewa Soma juga mempamerkan 9 buah patung beralas kain putih di dalam ruang pameran. Karya ini juga  mengkritisi ‘carut-marut’nya realita,

Pasalnya, Dewa Soma sangatlah berduka dan ‘kecewa’ menghadapi sendiri ‘penghancuran’ artefak peradaban lama oleh para pengusung ‘pemikiradin developmentalis’, yang sangat dekat dengan kehidupannya. Di sisi lain,dia mempercayai bahwa artefak peninggalan masa lalu itu tidak hanya sebatas karya estetis, tapi juga memiliki kekuatan spiritual yang mengandung tuah (berkat) bagi masyarakat pengusungnya.

Dewa Soma Wijaya saat Repertoar “Kekecewaan” di Neka Art Museum, Ubud, 18 April 2025

Suasana haru hadir manakala pematungnya menghancurkan patung-patung berkepala celeng, di iringi pembacaan puisi dan irama seruling yang ‘mengiris hati’. Yang dihadirkan Dewa Soma, bukanlah sekadar hiburan visual. Karya ini adalah pernyataan emosional dan simbolik yang mencerminkan perjuangan dalam melestarikan budaya Bali di tengah era modernisasi (tanpa kendali). Dengan memadukan elemen tradisional dan penyampaian pesan yang kuat, seni pertunjukan ini berhasil menghidupkan dinamika antara tradisi, perjuangan, perubahan, dan pelestarian.

Penggunaan kapak sebagai alat dalam pertunjukan, misalnya – memuat makna yang kuat. Kapak dapat melambangkan kekuatan untuk menghancurkan, tetapi juga alat untuk menciptakan sesuatu yang baru. Dalam konteks seni pertunjukan ini, kapak bisa menjadi metafora bagi perjuangan Dewa Soma dalam meruntuhkan pengaruh modernisasi atas nama Bantuan Sosial untuk pemugaran tempat-tempat suci. Yang realitasnya justru menggerus ‘petilasan lama’ sekaligus menghapus kearifan tradisi,  spiritualitas masa lalu, dan teknologi masa lampau yang genial.

Repertoar Kekecewaan ini memberi gambaran tentang eksplorasi emosi yang mendalam dari Dewa Soma yang ‘berduka’ atas kesewenangan ‘kapitalis’,  pada peninggalan yang berharga. Selain itu, juga berduka atas musnahnya ‘jejak eksistensi’ indigenous di Bali. Kekecewaan yang diungkapkan bukanlah ungkapan pasif, tetapi sebuah dorongan untuk bertindak. Hal ini bisa dimaknai sebagai kritik terhadap pengabaian nilai-nilai tradisional Bali di tengah gempuran modernitas.

Dewa Soma Wijaya, bertopeng, saat Repertoar “Kekecewaan” di Neka Art Museum, Ubud, 18 April 2025

Karya ini juga mewakili apa yang dilakoni oleh Dewa Soma yang menggambarkan bagaimana perjuangannya melawan arus mayoritas. Sebab, menurut Dewa Soma, Karya ini berangkat dari keresahannya terhadap renovasi bangunan bersejarah yang dilakukan tanpa mempertimbangkan kesadaran sejarah dan budaya lokal, seperti yang sering terjadi pada banyak pura tua di Bali. Bantuan sosial, lantas menjadi ‘bencana’ bagi peninggalan produk teknologi ‘perundagian’ tua,

Ini, bagi Dewa soma, tentu  menjadi perjalanan yang sunyi dan penuh tantangan. Ia, acap sendiri menghadapi euforia bantuan sosial disekitarnya yang juga acap melupakan rasionalitas dan kewarasan . Rasionalitas berkaitan dengan kemampuan berpikir secara logis, sistematis, dan berbasis alasan. Ini adalah proses mental untuk membuat keputusan atau menyelesaikan masalah berdasarkan fakta dan argumen yang jelas. Sementara itu, kewarasan adalah kondisi mental seseorang yang sehat secara psikologis, mampu memahami realitas, dan berfungsi secara sosial tanpa menunjukkan tanda-tanda gangguan ‘pemikiran’ yang serius.

Dewa Soma Wijaya (tak berbaju) saat menghancurkan patung-patung dalam Repertoar “Kekecewaan” di Neka Art Museum, Ubud, 18 April 2025

Dalam pembukaan pameran “Metastomata: Metamorphosis Manifesto Galang Kangin,” ini, Dewa Soma berhasil menyampaikan pesan ‘kekecewaan’nya  melalui seni patung yang penuh makna. Itu, didukung oleh kolaborasi seni teaterikal dan musik yang memperkuat atmosfer kegelisahan dan harapan. Melalui Repertoar Kekecewaan, Dewa Somawijaya telah menciptakan karya seni pertunjukan yang tidak hanya indah secara visual tetapi juga penuh makna. Ia berhasil menyampaikan pesan tentang perjuangan, kekecewaan, dan harapan dalam mempertahankan budaya Bali. Dengan elemen-elemen visual yang kaya dan simbolisme yang mendalam, pertunjukan ini menjadi medium yang efektif untuk menggugah kesadaran masyarakat akan pentingnya merawat tradisi.

Pertunjukan ini, narasi tekstual ke narasi teaterikal – tidak hanya menjadi ekspresi seni, tetapi juga medium edukasi. Melalui simbolisme dan narasi, Dewa Soma Wijaya menyampaikan pesan penting tentang pelestarian budaya Bali. Ia juga telah membuktikan bahwa seni dapat menjadi suara bagi mereka yang berjuang menjaga warisan budaya.

Selain itu, juga mengingatkan masyarakat bahwa tradisi bukanlah sesuatu yang statis, melainkan warisan hidup yang memerlukan upaya terus-menerus untuk dirawat dan dihargai. Pertunjukan ini juga menjadi kritik sosial, menunjukkan bagaimana suara minoritas yang berupaya menjaga tradisi sering kali terpinggirkan oleh mayoritas yang mengutamakan perubahan dan modernisasi. Repertoar ini mengingatkan akan konsep teater Bertolt Brecht – penyair, penulis naskah drama dan sutradara kelahiran Jerman. Brecht mengembangkan konsep teater, yang bertujuan untuk mendidik penonton melalui narasi yang kritis dan reflektif. Menurut saya, repertoar ini berhasil menghadirkan refleksi mendalam tentang identitas budaya Bali di era globalisasi.

Menilik 9 buah patung berbahan serpihan paras karya Dewa Soma Wijaya yang di tata apik di ruang pameran, adalah refleksi yang sangat mendalam pematungnya. Karya bertajuk “Kekecewaan” ini tampaknya mewakili rasa ‘sakit’ dan keresahannya akan perubahan yang terjadi di Bali, khususnya terkait pergeseran budaya, nilai, dan taksu. Perubahan itu sebagai akibat dari bantuan ‘arus besar’ untuk merestorasi pura-pura berusia tua di Bali, tanpa perencanaan yang matang dalam mempertahankan produk peradaban masa silam.

Dewa Soma Wijaya di studio

Pilihan Dewa Soma untuk menggunakan artefak sebagai medium menumpahkan pemikiran kritisnya – sangatlah kuat karena membawa elemen keabadian yang mampu menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Artefak pada karya Dewa Soma “Kekecewaan”, dapat didekati dari perspektif antropologi dan sosiologi. Artefak, berfungsi sebagai simbol material yang merekam sejarah, spiritualitas, dan identitas budaya suatu komunitas. Dalam konteks Bali, artefak menyiratkan “taksu” atau jiwa yang memberikan kehidupan pada bentuk material, dan menjadi bukti fisik dari pergolakan budaya akibat globalisasi dan modernisasi. Menggunakan medium ini sebagai ekspresi seni – Dewa Soma ingin menunjukkan keinginan untuk melestarikan nilai-nilai yang mulai ter’erosi’ oleh pengaruh eksternal.


Seperti kita ketahui, Interaktivitas adalah bagian penting dari teori seni kontemporer, terutama dalam “relational aesthetics” yang menekankan hubungan antara karya seni, seniman, dan audiens sebagai elemen yang saling mempengaruhi. Bisa saja, karya “Kekecewaan” ini mengajak pengunjung berinteraksi agar memungkinkan mereka memahami, secara emosional, makna yang mendalam dari kekecewaan dan pergeseran nilai-nilai dalam budaya Bali. Ini juga memfasilitasi pembentukan dialog budaya di mana audiens terlibat dalam refleksi bersama.


Menurut subyektifitas saya, Dewa Soma dapat dimasukkan ke dalam analisis ‘Jungian’ tentang arketipe dalam seni. Dalam konteks ini, Dewa Soma mewakili ‘arketipe spiritual’ yang berfungsi sebagai ‘katalis’ untuk ‘introspeksi’. Elemen ini dapat dijelaskan melalui teori Jung yang berfokus pada ‘simbolisme kolektif’ dan proses ‘individuasi’, di mana seni menjadi media untuk menghubungkan kesadaran individual dengan nilai-nilai kolektif.

Carl Gustav Jung, seorang psikolog terkenal asal Swiss adalah salah satu perintis ‘Psikologi Analisis’. Ia, memperkenalkan konsep arketipe sebagai elemen dasar dari “ketidaksadaran kolektif” manusia. Dalam seni, arketipe Jungian sering digunakan untuk menggambarkan simbol universal yang mencerminkan pengalaman manusia yang mendalam dan universal. Patung-patung Dewa Soma yang dipresentasikan kepada audiens,  mencerminkan harapan akan ‘kesadaran budaya’, harapan ‘kesadaran sosial’, yang lebih luas. Ketidaksadaran kolektif tentang pentingnya ‘memelihara’ warisan kebudayaan tua inilah yang menimbulkan ‘kekecewaan’ Dewa Soma.

Dewa Soma Wijaya di studio

Artefak yang Dewa Soma tampilkan dalam karya ini juga dapat dilihat sebagai simbol dari tradisi dan nilai-nilai masa lalu yang mulai terkikis. Simbolisme dalam seni rupa memungkinkan penikmat untuk merenungkan makna yang lebih dalam dari elemen visual yang dihadirkan. Seni rupa tidak hanya tentang keindahan visual tetapi juga tentang nilai-nilai budaya dan spiritual yang terkandung di dalamnya. Penggunaan bahan serbuk paras yang dicetak memberikan tekstur dan bentuk yang menarik, dan menciptakan estetika yang mendukung pesan emosional dan reflektif dari karya ini.

Dalam perspektif estetika, menciptakan suasana sakral melalui elemen sastra, musik dan teater, jadi menarik. Ini, menghadirkan pengalaman multisensori yang dapat membuka jalan bagi pengunjung untuk berempati. Pengalaman ini berakar pada “ritualistic aesthetics,” yang menghubungkan seni dengan praktik-praktik performatif untuk menghadirkan makna yang transformatif. Pendekatan ini dapat menjadi landasan untuk lebih memahami simbolisme spiritual dalam konteks karya seni Dewa Soma.

Artefak yang Dewa Soma tampilkan dalam karya ini dapat dilihat sebagai simbol dari tradisi dan nilai-nilai masa lalu yang mulai terkikis. Simbolisme dalam seni rupa memungkinkan penikmat untuk merenungkan makna yang lebih dalam dari elemen visual yang dihadirkan. Seni rupa tidak hanya tentang keindahan visual tetapi juga tentang nilai-nilai budaya dan spiritual yang terkandung di dalamnya. Penggunaan bahan serbuk paras yang dicetak memberikan tekstur dan bentuk yang menarik, menciptakan estetika yang mendukung pesan emosional dan reflektif dari karya ini.

Dalam perspektif estetika, menciptakan suasana sakral melalui elemen ritual seperti suara gamelan dan percikan air suci , misalnya – mungkin jadi menarik. Ini, menghadirkan pengalaman multisensori yang dapat membuka jalan bagi pengunjung untuk berempati. Pengalaman ini berakar pada “ritualistic aesthetics,” yang menghubungkan seni dengan praktik-praktik performatif untuk menghadirkan makna yang transformatif. Pendekatan ini dapat menjadi landasan untuk lebih memahami simbolisme spiritual dalam konteks karya seni Dewa Soma.

Dewa Soma Wijaya di studio

Dewa Soma Wijaya adalah sosok pekerja keras dalam  mempertahankan eksistensi seni tradisi dan arsitektur kuno Bali – meski menghadapi tantangan zaman modern yang condong kapitalistik. Perjalanan dan prinsip hidupnya memancarkan komitmen yang tak tergoyahkan terhadap budaya dan spiritualitas Bali. Lulusan Sekolah Menengah Industri Kerajinan (SMIK) pada tahun 1992 dan melanjutkan studi di Program Studi Seni Rupa dan Desain (PSSRD) Universitas Udayana Denpasar hingga lulus tahun 1997 ini sempat  mengajar di PSSRD pada tahun 2000. Tapi profesi mengajar ini sepertinya bukan panggilan hidupnya. Tak lama kemudian dia berhenti sebagai dosen, dan memilih hidup sebagai seniman.

Dalam perjalanan karirnya, ia dikenal dengan dedikasinya yang mendalam pada seni. Ia, menjelaskan bahwa dunia kreatif yang digelutinya memiliki 2 sisi yang berbeda, berkarya atas dasar kepentingan mempertahankan kehidupan, dan total ‘ngayah’ yang ia dedikasikan pada agama dan masyarakat. Kendatipun demikianl, untuk karya kreatif yang ‘profan’ pun Dewa Soma tetap melakukan ritus dengan banten pemujaan sebelum memulai  berkarya. Ini menurutnya, menyelaraskan dirinya dengan kekuatan alam dari empat atau delapan arah mata angin. Salah satu karyanya yang monumental adalah sebuah patung dengan dimensi 50 x 1,5 meter, yang selesai tepat pada purnamaning Kedasa. Patung tersebut, ditempatkan di sebuah pura besar di Bali.

Proses berkarya Dewa Soma tersebut mencerminkan konsep spiritual dan dedikasinya pada karya seninya yang profan maupun yang sakral. Totalitas untuk “ngayah” (melayani) di pura-pura acap dilakukannya hampir seluruh kebupaten yang ada di Bali, diantaranya Pura Narmada di Pemogan. Dewa mengaku, menempatkan nilai tradisi di atas segalanya. Selain itu, Dewa Soma Wijaya tidak sekadar menciptakan karya, tetapi juga memiliki misi untuk melestarikan bangunan dan ukiran lama pada pura-pura/candi  di beberapa tempat di Indonesia, terutama yang ada di Bali.

Baginya, mempertahankan elemen-elemen ini adalah bentuk penghormatan kepada jejak peradaban nenek moyang Bali. Ia ingin bersuara melalui karya seni demi menyelamatkan dan mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga budaya lama Bali. Meskipun teknologi modern menawarkan kemudahan, Dewa Soma Wijaya tetap ingin mengadopsi teknologi purus-purus tradisional (tanpa semen) dalam menyusun bangunan. Baginya, metode ini adalah jantung dari keaslian arsitektur Bali. Ia acap menantang pendapat mayoritas yang memilih modernitas, meskipun sering kali ia merasa kalah suara. Namun, bagi Dewa, mempertahankan seni tradisi adalah kepuasan tersendiri, meskipun secara finansial ia mungkin mengalami kerugian.

Dewa Soma Wjaya di studio

Dewa Soma Wijaya mengaku, mendapat banyak inspirasi dari guru spiritualnya, yang memberinya sebuah patung Saraswati. Patung itu ditempatkan di tempat suci sebagai simbol penghormatan. Ia selalu menghaturkan banten, memohon ijin dan berkah pada Hyang Dewi Saraswati sebelum berkarya. Disisi lain, ia selalu berkomitmen pada filosofi Asta Kosala-Kosali untuk menjadi pedoman dalam menentukan hari baik untuk memulai karya. Semua ini menunjukkan bahwa ia tidak anti terhadap perubahan, tetapi selalu mengutamakan tradisi sebagai fondasi yang kokoh.

Dewa Soma Wijaya percaya bahwa seni adalah medium untuk bersuara. Ia tidak hanya memproduksi karya seni, tetapi juga memotivasi masyarakat melalui narasi yang kuat. Dengan dukungan tim kajian, ia berharap dapat lebih banyak berbicara tentang budaya dan tradisi Bali, meskipun dana sering menjadi kendala. Melalui karyanya, ia ingin terus menyuarakan pentingnya pelestarian Budaya, serta menginspirasi orang lain untuk tidak melupakan akar budaya mereka. Dalam perjalanan hidupnya, Dewa Soma Wijaya telah membuktikan bahwa seni tidak hanya soal keindahan, tetapi juga medium untuk menyelamatkan, mendidik, dan menghubungkan manusia dengan tradisi serta spiritualitasnya. Meskipun jalan yang ia tempuh sering kali sulit, dedikasinya bisa menjadi inspirasi bagi siapa saja yang ingin menjaga warisan budaya lama. [T]

Penulis: Hartanto
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA
Kosa Poetika Senirupa Anak Agung Gede Eka Putra Dela
Trimatra Galung Wiratmaja
Selilit: Perlawanan Simbolik Ketut Putrayasa
Memorial Made Supena
METASTOMATA: Metamorphosis Manifesto Galang Kangin  di Neka Art Museum, Ubud
Sekilas Pentas “Kekecewaan” Wayan Jengki Sunarta : Narasi Tekstual ke Narasi Teaterikal
Tags: Dewa SomawijayaKomunitas Galang KanginNeka Art MuseumPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Komunikasi, Cerminan Jati Diri

Next Post

Ritual  “Seba”:  Lebarannya Suku Baduy?

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]

by Angga Wijaya
July 20, 2026
0
Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]

"Kita tidak mewarisi bumi dari leluhur. Kita meminjamnya dari anak cucu." Kalimat yang sering dikutip dalam berbagai diskusi lingkungan itu...

Read moreDetails

Membaca Alam yang Tersimpan dalam Serat —Menafsir “Barik” Karya Dr. Sn. Inty Nahari

by Angga Wijaya
July 19, 2026
0
Membaca Alam yang Tersimpan dalam Serat —Menafsir “Barik” Karya Dr. Sn. Inty Nahari

ADA kecenderungan menarik dalam perkembangan seni kriya beberapa tahun terakhir. Para perupa tidak lagi hanya berbicara tentang keterampilan mengolah bahan,...

Read moreDetails

Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

by Angga Wijaya
July 15, 2026
0
Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

TIDAK semua pengetahuan lahir dari buku. Jauh sebelum manusia mengenal aksara, alam telah lebih dahulu menjadi ruang belajar. Pohon mengajarkan...

Read moreDetails

Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

by Angga Wijaya
July 8, 2026
0
Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

DI Bale Daja Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud, aroma tanah bakar seperti masih tertinggal di antara puluhan karya...

Read moreDetails

BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 7, 2026
0
BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa

“Ring wwang haywa nirāśrayeka gawayen tekeng mahānaśraya” – Niti Sastra SENI rupa kontemporer tidak lagi menekankan pada aspek pemaknaan sebuah...

Read moreDetails

Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

by Mahesa Putra
July 6, 2026
0
Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

SEPERTI sajian pada menu makan bergizi, yang ditimbang, ditakar, hingga diukur kepada siapa porsi makan ini layak dihidangkan. Kepada tubuh...

Read moreDetails

Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

by Hartanto
July 4, 2026
0
Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni...

Read moreDetails

Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

by Mahesa Putra
June 30, 2026
0
Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana,...

Read moreDetails

‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

by Hartanto
June 29, 2026
0
‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu,...

Read moreDetails

Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

by Mahesa Putra
June 18, 2026
0
Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

SEJAK pagi langit mendung, angin membuat barisan pohon kelapa di halaman Roemah Tumbuh Kembang menari. Padahal sudah satu minggu ini...

Read moreDetails
Next Post
Ritual  “Seba”:  Lebarannya Suku Baduy?

Ritual  “Seba”:  Lebarannya Suku Baduy?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sastra Masuk Kurikulum: Guru Menjadi Kunci Penguatan Literasi di Sekolah
Khas

Sastra Masuk Kurikulum: Guru Menjadi Kunci Penguatan Literasi di Sekolah

PROGRAM Sastra Masuk Kurikulum menjadi salah satu isu penting yang mengemuka dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun...

by Nyoman Budarsana
July 21, 2026
“Di Bawah Pohon Sukun”, Teater Selem Putih Menghidupkan Kembali Pergulatan Lahirnya Pancasila
Panggung

“Di Bawah Pohon Sukun”, Teater Selem Putih Menghidupkan Kembali Pergulatan Lahirnya Pancasila

TEATER Selem Putih kembali menunjukkan kekuatan estetikanya dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026. Melalui pementasan Di Bawah...

by Nyoman Budarsana
July 21, 2026
Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Berikan Catatan Penting Mengenai Postur APBD serta Fenomena Pencatatan SiLPA
Pemerintahan

Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Berikan Catatan Penting Mengenai Postur APBD serta Fenomena Pencatatan SiLPA

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan penting mengenai postur APBD serta fenomena pencatatan...

by tatkala
July 20, 2026
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026
Ulas Pentas

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

by Satria Aditya
July 20, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

Siapa yang Berhak Menentukan Kebebasan Tubuh Perempuan? —-[Menanggapi Tulisan Surfian Rahmat AP]

SEJAK dulu, tubuh perempuan selalu menjadi objek analisis dan justifikasi orang lain. Kita sering mendengar komentar terhadap cara seorang perempuan...

by Early NHS
July 20, 2026
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja
Opini

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
Ketika Barang Bekas Menjelma Produk Bernilai Guna di Pameran Kreativitas Ignite Fest Kesbam 2026
Khas

Ketika Barang Bekas Menjelma Produk Bernilai Guna di Pameran Kreativitas Ignite Fest Kesbam 2026

KALA itu, pada hari keempat Ignite Fest, Kamis, 16 Juli 2026, kawasan di depan aula hingga halaman SMKS Kesehatan Bali...

by Dede Putra Wiguna
July 20, 2026
Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]
Ulas Rupa

Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]

"Kita tidak mewarisi bumi dari leluhur. Kita meminjamnya dari anak cucu." Kalimat yang sering dikutip dalam berbagai diskusi lingkungan itu...

by Angga Wijaya
July 20, 2026
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]
Ulas Musik

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Trauma KUD dan Hasrat Politik 2029 Lewat KDMP

POLEMIK seputar Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) hingga kini belum juga surut. Namun the show must go on. Program andalan...

by Chusmeru
July 20, 2026
Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026
Esai

Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

ISTILAH antek-antek Ronaldo bukan saya yang bikin. Saya mencurinya dari unggahan akun virdian_aurellio di media sosial. Waktu Argentina comeback melawan...

by Rusdy Ulu
July 20, 2026
Menelisik Napas Puisi di Bali, Ketika Kata-Kata Bertahan Melawan Zaman
Khas

Menelisik Napas Puisi di Bali, Ketika Kata-Kata Bertahan Melawan Zaman

DI Beranda Pustaka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII tahun 2026 yang dipenuhi percakapan hangat pada Sabtu (18/7), para penyair...

by Nyoman Budarsana
July 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co