12 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dewa Soma Wijaya, Penjaga Budaya Lama

Hartanto by Hartanto
April 30, 2025
in Ulas Rupa
Dewa Soma Wijaya, Penjaga Budaya Lama

Dewa Somawijaya

SENI pertunjukan yang ditampilkan Dewa Soma Wijaya saat “Repertoar Kekecewaan” di Neka Art Museum Ubud pada 18 April 2025 memiliki elemen yang sangat menarik untuk dikaji. Pertunjukan yang menandai pembukaan pameran “Metastomata : Metamorphosis Manifesto Galang Kangin” ini tampaknya mengangkat tema yang intens, seperti kekecewaan dan perjuangan, dengan pendekatan yang dramatis dan simbolis. Repertoar ini, kolaborasi pematung Dewa Soma Wijaya, penyair Wayan Jengki Sunarta, dan perupa Made Gunawan yang mengiring musik dengan permainan serulingnya.

Pertunjukan diawali narasi singkat oleh Dewa Soma, demikian panggilan akrabnya – yang tampil tanpa baju dan menggenakan topeng. Selaku pematungnya, Dewa Soma menunjukkan eksplorasi emosi yang mendalam, mungkin terkait dengan perjuangan melawan arus ‘bansos’ atas nama modernisasi tanpa konsep pemikiran yang bijak. Begitulah tampaknya Dewa Soma melakukan perlawanan atas ‘opera dusta’ dan mempertahankan tradisi – dengan karya, dalam kesendirian yang sunyi. Seperti petikan puisi Wayan Jengki Sunarta ;  …//Sungguh terasa sunyi//Sendiri menciumi wangi tubuhmu, Batu Padas//Pahatan purba yang bangkitkan sayup sayup kenangan//…

Tak berapa lama, penyair Wayan Jengki Sunarta keluar dari pintu candi di area pementasan tersebut, ia berpakian hitam dan berkerudung kain poleng – sembari membaca puisi karyanya sendiri yang bertajuk ; “Situs Candi”. Ia membaca puisi sambil mengelilingi patung karya Dewa Soma yang tertata di panggung. Dewa soma selaku konseptor pementasan bertajuk ‘kekecewaan’ ini, sudah mempersiapkannya selama 3 bulan. Selain, menggelar repertoar – Dewa Soma juga mempamerkan 9 buah patung beralas kain putih di dalam ruang pameran. Karya ini juga  mengkritisi ‘carut-marut’nya realita,

Pasalnya, Dewa Soma sangatlah berduka dan ‘kecewa’ menghadapi sendiri ‘penghancuran’ artefak peradaban lama oleh para pengusung ‘pemikiradin developmentalis’, yang sangat dekat dengan kehidupannya. Di sisi lain,dia mempercayai bahwa artefak peninggalan masa lalu itu tidak hanya sebatas karya estetis, tapi juga memiliki kekuatan spiritual yang mengandung tuah (berkat) bagi masyarakat pengusungnya.

Dewa Soma Wijaya saat Repertoar “Kekecewaan” di Neka Art Museum, Ubud, 18 April 2025

Suasana haru hadir manakala pematungnya menghancurkan patung-patung berkepala celeng, di iringi pembacaan puisi dan irama seruling yang ‘mengiris hati’. Yang dihadirkan Dewa Soma, bukanlah sekadar hiburan visual. Karya ini adalah pernyataan emosional dan simbolik yang mencerminkan perjuangan dalam melestarikan budaya Bali di tengah era modernisasi (tanpa kendali). Dengan memadukan elemen tradisional dan penyampaian pesan yang kuat, seni pertunjukan ini berhasil menghidupkan dinamika antara tradisi, perjuangan, perubahan, dan pelestarian.

Penggunaan kapak sebagai alat dalam pertunjukan, misalnya – memuat makna yang kuat. Kapak dapat melambangkan kekuatan untuk menghancurkan, tetapi juga alat untuk menciptakan sesuatu yang baru. Dalam konteks seni pertunjukan ini, kapak bisa menjadi metafora bagi perjuangan Dewa Soma dalam meruntuhkan pengaruh modernisasi atas nama Bantuan Sosial untuk pemugaran tempat-tempat suci. Yang realitasnya justru menggerus ‘petilasan lama’ sekaligus menghapus kearifan tradisi,  spiritualitas masa lalu, dan teknologi masa lampau yang genial.

Repertoar Kekecewaan ini memberi gambaran tentang eksplorasi emosi yang mendalam dari Dewa Soma yang ‘berduka’ atas kesewenangan ‘kapitalis’,  pada peninggalan yang berharga. Selain itu, juga berduka atas musnahnya ‘jejak eksistensi’ indigenous di Bali. Kekecewaan yang diungkapkan bukanlah ungkapan pasif, tetapi sebuah dorongan untuk bertindak. Hal ini bisa dimaknai sebagai kritik terhadap pengabaian nilai-nilai tradisional Bali di tengah gempuran modernitas.

Dewa Soma Wijaya, bertopeng, saat Repertoar “Kekecewaan” di Neka Art Museum, Ubud, 18 April 2025

Karya ini juga mewakili apa yang dilakoni oleh Dewa Soma yang menggambarkan bagaimana perjuangannya melawan arus mayoritas. Sebab, menurut Dewa Soma, Karya ini berangkat dari keresahannya terhadap renovasi bangunan bersejarah yang dilakukan tanpa mempertimbangkan kesadaran sejarah dan budaya lokal, seperti yang sering terjadi pada banyak pura tua di Bali. Bantuan sosial, lantas menjadi ‘bencana’ bagi peninggalan produk teknologi ‘perundagian’ tua,

Ini, bagi Dewa soma, tentu  menjadi perjalanan yang sunyi dan penuh tantangan. Ia, acap sendiri menghadapi euforia bantuan sosial disekitarnya yang juga acap melupakan rasionalitas dan kewarasan . Rasionalitas berkaitan dengan kemampuan berpikir secara logis, sistematis, dan berbasis alasan. Ini adalah proses mental untuk membuat keputusan atau menyelesaikan masalah berdasarkan fakta dan argumen yang jelas. Sementara itu, kewarasan adalah kondisi mental seseorang yang sehat secara psikologis, mampu memahami realitas, dan berfungsi secara sosial tanpa menunjukkan tanda-tanda gangguan ‘pemikiran’ yang serius.

Dewa Soma Wijaya (tak berbaju) saat menghancurkan patung-patung dalam Repertoar “Kekecewaan” di Neka Art Museum, Ubud, 18 April 2025

Dalam pembukaan pameran “Metastomata: Metamorphosis Manifesto Galang Kangin,” ini, Dewa Soma berhasil menyampaikan pesan ‘kekecewaan’nya  melalui seni patung yang penuh makna. Itu, didukung oleh kolaborasi seni teaterikal dan musik yang memperkuat atmosfer kegelisahan dan harapan. Melalui Repertoar Kekecewaan, Dewa Somawijaya telah menciptakan karya seni pertunjukan yang tidak hanya indah secara visual tetapi juga penuh makna. Ia berhasil menyampaikan pesan tentang perjuangan, kekecewaan, dan harapan dalam mempertahankan budaya Bali. Dengan elemen-elemen visual yang kaya dan simbolisme yang mendalam, pertunjukan ini menjadi medium yang efektif untuk menggugah kesadaran masyarakat akan pentingnya merawat tradisi.

Pertunjukan ini, narasi tekstual ke narasi teaterikal – tidak hanya menjadi ekspresi seni, tetapi juga medium edukasi. Melalui simbolisme dan narasi, Dewa Soma Wijaya menyampaikan pesan penting tentang pelestarian budaya Bali. Ia juga telah membuktikan bahwa seni dapat menjadi suara bagi mereka yang berjuang menjaga warisan budaya.

Selain itu, juga mengingatkan masyarakat bahwa tradisi bukanlah sesuatu yang statis, melainkan warisan hidup yang memerlukan upaya terus-menerus untuk dirawat dan dihargai. Pertunjukan ini juga menjadi kritik sosial, menunjukkan bagaimana suara minoritas yang berupaya menjaga tradisi sering kali terpinggirkan oleh mayoritas yang mengutamakan perubahan dan modernisasi. Repertoar ini mengingatkan akan konsep teater Bertolt Brecht – penyair, penulis naskah drama dan sutradara kelahiran Jerman. Brecht mengembangkan konsep teater, yang bertujuan untuk mendidik penonton melalui narasi yang kritis dan reflektif. Menurut saya, repertoar ini berhasil menghadirkan refleksi mendalam tentang identitas budaya Bali di era globalisasi.

Menilik 9 buah patung berbahan serpihan paras karya Dewa Soma Wijaya yang di tata apik di ruang pameran, adalah refleksi yang sangat mendalam pematungnya. Karya bertajuk “Kekecewaan” ini tampaknya mewakili rasa ‘sakit’ dan keresahannya akan perubahan yang terjadi di Bali, khususnya terkait pergeseran budaya, nilai, dan taksu. Perubahan itu sebagai akibat dari bantuan ‘arus besar’ untuk merestorasi pura-pura berusia tua di Bali, tanpa perencanaan yang matang dalam mempertahankan produk peradaban masa silam.

Dewa Soma Wijaya di studio

Pilihan Dewa Soma untuk menggunakan artefak sebagai medium menumpahkan pemikiran kritisnya – sangatlah kuat karena membawa elemen keabadian yang mampu menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Artefak pada karya Dewa Soma “Kekecewaan”, dapat didekati dari perspektif antropologi dan sosiologi. Artefak, berfungsi sebagai simbol material yang merekam sejarah, spiritualitas, dan identitas budaya suatu komunitas. Dalam konteks Bali, artefak menyiratkan “taksu” atau jiwa yang memberikan kehidupan pada bentuk material, dan menjadi bukti fisik dari pergolakan budaya akibat globalisasi dan modernisasi. Menggunakan medium ini sebagai ekspresi seni – Dewa Soma ingin menunjukkan keinginan untuk melestarikan nilai-nilai yang mulai ter’erosi’ oleh pengaruh eksternal.


Seperti kita ketahui, Interaktivitas adalah bagian penting dari teori seni kontemporer, terutama dalam “relational aesthetics” yang menekankan hubungan antara karya seni, seniman, dan audiens sebagai elemen yang saling mempengaruhi. Bisa saja, karya “Kekecewaan” ini mengajak pengunjung berinteraksi agar memungkinkan mereka memahami, secara emosional, makna yang mendalam dari kekecewaan dan pergeseran nilai-nilai dalam budaya Bali. Ini juga memfasilitasi pembentukan dialog budaya di mana audiens terlibat dalam refleksi bersama.


Menurut subyektifitas saya, Dewa Soma dapat dimasukkan ke dalam analisis ‘Jungian’ tentang arketipe dalam seni. Dalam konteks ini, Dewa Soma mewakili ‘arketipe spiritual’ yang berfungsi sebagai ‘katalis’ untuk ‘introspeksi’. Elemen ini dapat dijelaskan melalui teori Jung yang berfokus pada ‘simbolisme kolektif’ dan proses ‘individuasi’, di mana seni menjadi media untuk menghubungkan kesadaran individual dengan nilai-nilai kolektif.

Carl Gustav Jung, seorang psikolog terkenal asal Swiss adalah salah satu perintis ‘Psikologi Analisis’. Ia, memperkenalkan konsep arketipe sebagai elemen dasar dari “ketidaksadaran kolektif” manusia. Dalam seni, arketipe Jungian sering digunakan untuk menggambarkan simbol universal yang mencerminkan pengalaman manusia yang mendalam dan universal. Patung-patung Dewa Soma yang dipresentasikan kepada audiens,  mencerminkan harapan akan ‘kesadaran budaya’, harapan ‘kesadaran sosial’, yang lebih luas. Ketidaksadaran kolektif tentang pentingnya ‘memelihara’ warisan kebudayaan tua inilah yang menimbulkan ‘kekecewaan’ Dewa Soma.

Dewa Soma Wijaya di studio

Artefak yang Dewa Soma tampilkan dalam karya ini juga dapat dilihat sebagai simbol dari tradisi dan nilai-nilai masa lalu yang mulai terkikis. Simbolisme dalam seni rupa memungkinkan penikmat untuk merenungkan makna yang lebih dalam dari elemen visual yang dihadirkan. Seni rupa tidak hanya tentang keindahan visual tetapi juga tentang nilai-nilai budaya dan spiritual yang terkandung di dalamnya. Penggunaan bahan serbuk paras yang dicetak memberikan tekstur dan bentuk yang menarik, dan menciptakan estetika yang mendukung pesan emosional dan reflektif dari karya ini.

Dalam perspektif estetika, menciptakan suasana sakral melalui elemen sastra, musik dan teater, jadi menarik. Ini, menghadirkan pengalaman multisensori yang dapat membuka jalan bagi pengunjung untuk berempati. Pengalaman ini berakar pada “ritualistic aesthetics,” yang menghubungkan seni dengan praktik-praktik performatif untuk menghadirkan makna yang transformatif. Pendekatan ini dapat menjadi landasan untuk lebih memahami simbolisme spiritual dalam konteks karya seni Dewa Soma.

Artefak yang Dewa Soma tampilkan dalam karya ini dapat dilihat sebagai simbol dari tradisi dan nilai-nilai masa lalu yang mulai terkikis. Simbolisme dalam seni rupa memungkinkan penikmat untuk merenungkan makna yang lebih dalam dari elemen visual yang dihadirkan. Seni rupa tidak hanya tentang keindahan visual tetapi juga tentang nilai-nilai budaya dan spiritual yang terkandung di dalamnya. Penggunaan bahan serbuk paras yang dicetak memberikan tekstur dan bentuk yang menarik, menciptakan estetika yang mendukung pesan emosional dan reflektif dari karya ini.

Dalam perspektif estetika, menciptakan suasana sakral melalui elemen ritual seperti suara gamelan dan percikan air suci , misalnya – mungkin jadi menarik. Ini, menghadirkan pengalaman multisensori yang dapat membuka jalan bagi pengunjung untuk berempati. Pengalaman ini berakar pada “ritualistic aesthetics,” yang menghubungkan seni dengan praktik-praktik performatif untuk menghadirkan makna yang transformatif. Pendekatan ini dapat menjadi landasan untuk lebih memahami simbolisme spiritual dalam konteks karya seni Dewa Soma.

Dewa Soma Wijaya di studio

Dewa Soma Wijaya adalah sosok pekerja keras dalam  mempertahankan eksistensi seni tradisi dan arsitektur kuno Bali – meski menghadapi tantangan zaman modern yang condong kapitalistik. Perjalanan dan prinsip hidupnya memancarkan komitmen yang tak tergoyahkan terhadap budaya dan spiritualitas Bali. Lulusan Sekolah Menengah Industri Kerajinan (SMIK) pada tahun 1992 dan melanjutkan studi di Program Studi Seni Rupa dan Desain (PSSRD) Universitas Udayana Denpasar hingga lulus tahun 1997 ini sempat  mengajar di PSSRD pada tahun 2000. Tapi profesi mengajar ini sepertinya bukan panggilan hidupnya. Tak lama kemudian dia berhenti sebagai dosen, dan memilih hidup sebagai seniman.

Dalam perjalanan karirnya, ia dikenal dengan dedikasinya yang mendalam pada seni. Ia, menjelaskan bahwa dunia kreatif yang digelutinya memiliki 2 sisi yang berbeda, berkarya atas dasar kepentingan mempertahankan kehidupan, dan total ‘ngayah’ yang ia dedikasikan pada agama dan masyarakat. Kendatipun demikianl, untuk karya kreatif yang ‘profan’ pun Dewa Soma tetap melakukan ritus dengan banten pemujaan sebelum memulai  berkarya. Ini menurutnya, menyelaraskan dirinya dengan kekuatan alam dari empat atau delapan arah mata angin. Salah satu karyanya yang monumental adalah sebuah patung dengan dimensi 50 x 1,5 meter, yang selesai tepat pada purnamaning Kedasa. Patung tersebut, ditempatkan di sebuah pura besar di Bali.

Proses berkarya Dewa Soma tersebut mencerminkan konsep spiritual dan dedikasinya pada karya seninya yang profan maupun yang sakral. Totalitas untuk “ngayah” (melayani) di pura-pura acap dilakukannya hampir seluruh kebupaten yang ada di Bali, diantaranya Pura Narmada di Pemogan. Dewa mengaku, menempatkan nilai tradisi di atas segalanya. Selain itu, Dewa Soma Wijaya tidak sekadar menciptakan karya, tetapi juga memiliki misi untuk melestarikan bangunan dan ukiran lama pada pura-pura/candi  di beberapa tempat di Indonesia, terutama yang ada di Bali.

Baginya, mempertahankan elemen-elemen ini adalah bentuk penghormatan kepada jejak peradaban nenek moyang Bali. Ia ingin bersuara melalui karya seni demi menyelamatkan dan mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga budaya lama Bali. Meskipun teknologi modern menawarkan kemudahan, Dewa Soma Wijaya tetap ingin mengadopsi teknologi purus-purus tradisional (tanpa semen) dalam menyusun bangunan. Baginya, metode ini adalah jantung dari keaslian arsitektur Bali. Ia acap menantang pendapat mayoritas yang memilih modernitas, meskipun sering kali ia merasa kalah suara. Namun, bagi Dewa, mempertahankan seni tradisi adalah kepuasan tersendiri, meskipun secara finansial ia mungkin mengalami kerugian.

Dewa Soma Wjaya di studio

Dewa Soma Wijaya mengaku, mendapat banyak inspirasi dari guru spiritualnya, yang memberinya sebuah patung Saraswati. Patung itu ditempatkan di tempat suci sebagai simbol penghormatan. Ia selalu menghaturkan banten, memohon ijin dan berkah pada Hyang Dewi Saraswati sebelum berkarya. Disisi lain, ia selalu berkomitmen pada filosofi Asta Kosala-Kosali untuk menjadi pedoman dalam menentukan hari baik untuk memulai karya. Semua ini menunjukkan bahwa ia tidak anti terhadap perubahan, tetapi selalu mengutamakan tradisi sebagai fondasi yang kokoh.

Dewa Soma Wijaya percaya bahwa seni adalah medium untuk bersuara. Ia tidak hanya memproduksi karya seni, tetapi juga memotivasi masyarakat melalui narasi yang kuat. Dengan dukungan tim kajian, ia berharap dapat lebih banyak berbicara tentang budaya dan tradisi Bali, meskipun dana sering menjadi kendala. Melalui karyanya, ia ingin terus menyuarakan pentingnya pelestarian Budaya, serta menginspirasi orang lain untuk tidak melupakan akar budaya mereka. Dalam perjalanan hidupnya, Dewa Soma Wijaya telah membuktikan bahwa seni tidak hanya soal keindahan, tetapi juga medium untuk menyelamatkan, mendidik, dan menghubungkan manusia dengan tradisi serta spiritualitasnya. Meskipun jalan yang ia tempuh sering kali sulit, dedikasinya bisa menjadi inspirasi bagi siapa saja yang ingin menjaga warisan budaya lama. [T]

Penulis: Hartanto
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA
Kosa Poetika Senirupa Anak Agung Gede Eka Putra Dela
Trimatra Galung Wiratmaja
Selilit: Perlawanan Simbolik Ketut Putrayasa
Memorial Made Supena
METASTOMATA: Metamorphosis Manifesto Galang Kangin  di Neka Art Museum, Ubud
Sekilas Pentas “Kekecewaan” Wayan Jengki Sunarta : Narasi Tekstual ke Narasi Teaterikal
Tags: Dewa SomawijayaKomunitas Galang KanginNeka Art MuseumPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Komunikasi, Cerminan Jati Diri

Next Post

Ritual  “Seba”:  Lebarannya Suku Baduy?

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

by Hartanto
August 11, 2026
0
Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

PADA tanggal 25 hingga 31 Agustus mendatang akan digelar pameran seni rupa yang bertajuk The Power of Colour. Pameran akan...

Read moreDetails

Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

by I Wayan Sujana Suklu
August 11, 2026
0
Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

---Catatan seorang seniman tentang ketidaktahuan, pengetahuan, dan keberanian menggambar kembali Noe mengambar karena belum mengenal aturan, saya menjadi naif karena...

Read moreDetails

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

by Angga Wijaya
August 7, 2026
0
Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

DI Bali, mitos tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia tidak hanya tinggal dalam lembar-lembar lontar atau cerita yang dituturkan...

Read moreDetails

“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

by Hartanto
August 7, 2026
0
“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

PADA 10 April hingga 30 Juni 2026 lalu digelar pameran 12 Perupa Perempuan Indonesia. Perhelatan ini diinisiasi Indonesian Women Artists...

Read moreDetails

Mantra Visual Made Wiradana

by Hartanto
August 2, 2026
0
Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

Read moreDetails

SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

by Gustra Adnyana
July 31, 2026
0
SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

Di tepian aliran sungai Petanu, sebuah ruang seni baru tumbuh di tengah lanskap hijau Ubud. Buki Gallery di Bumi Kinar...

Read moreDetails

Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew

by Angga Wijaya
July 30, 2026
0
Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew

ADA perubahan yang menarik dalam lanskap seni kriya Indonesia dalam dua dekade terakhir. Jika dahulu kriya lebih sering dipahami sebagai...

Read moreDetails

Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

by Hartanto
July 30, 2026
0
Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

EMPAT karya dari empat pelukis Bali kontemporer yang turut berpartisipasi dalam Jogja Annual Art ke-11, yakni I Made Ruta, Ida...

Read moreDetails

Tanah yang Mengingat ——Membaca “Pataka Majapahit III” Karya Dr. Noor Sudiyati

by Angga Wijaya
July 28, 2026
0
Tanah yang Mengingat ——Membaca “Pataka Majapahit III” Karya Dr. Noor Sudiyati

TIDAK semua peninggalan masa lalu hadir sebagai bangunan megah atau artefak yang tersimpan di museum. Ada warisan yang jauh lebih...

Read moreDetails

Orkestra Warna Kun Adnyana

by Hartanto
July 25, 2026
0
Orkestra Warna Kun Adnyana

YOGYA Annual Art ke-11 tahun 2026 dengan tema Direction (Arah) ini, menurut saya, dibuka dengan sebuah kesadaran yang tajam: bahwa...

Read moreDetails
Next Post
Ritual  “Seba”:  Lebarannya Suku Baduy?

Ritual  “Seba”:  Lebarannya Suku Baduy?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Premadewi Resort, Menemukan “Beauty of Ubud” dalam Kehangatan Alam dan Keramahtamahan Bali
Pariwisata

Premadewi Resort, Menemukan “Beauty of Ubud” dalam Kehangatan Alam dan Keramahtamahan Bali

EMBUSAN angin menggoyangkan dedaunan. Dari balik pepohonan besar, embun pagi masih menyisakan kesejukan. Suara gemericik sungai terdengar di antara hijaunya...

by Nyoman Budarsana
August 12, 2026
Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali
Bahasa

Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

Peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Tabanan—saat seorang terduga pencuri tewas diamuk massa dan meninggalkan duka mendalam bagi anaknya—kembali...

by I Made Sudiana
August 11, 2026
Merah Putih: Simbol Identitas dan Realitas
Esai

Perang versus Kemanusiaan: Sebuah Ironi

DALAM ajaran Hindu, abad ini termasuk zaman Kali Yuga, yakni zaman yang dipenuhi kegelapan, kemerosotan moral, dan konflik. Zaman kegelapan...

by Ni Made Ratminingsih
August 11, 2026
Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta
Ulas Rupa

Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

PADA tanggal 25 hingga 31 Agustus mendatang akan digelar pameran seni rupa yang bertajuk The Power of Colour. Pameran akan...

by Hartanto
August 11, 2026
Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu
Ulas Rupa

Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

---Catatan seorang seniman tentang ketidaktahuan, pengetahuan, dan keberanian menggambar kembali Noe mengambar karena belum mengenal aturan, saya menjadi naif karena...

by I Wayan Sujana Suklu
August 11, 2026
LaDju Hadirkan Jazz Fusion Eksperimental di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026
Panggung

LaDju Hadirkan Jazz Fusion Eksperimental di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

ALIRAN Sungai Wos turut mengiringi LaDju ketika memainkan musiknya di Subak Stage, Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF), Jumat, 7...

by Dede Putra Wiguna
August 11, 2026
Kemerdekaan yang Belum Selesai ——Refleksi Menyambut 81 Tahun Indonesia Merdeka
Esai

Kemerdekaan yang Belum Selesai ——Refleksi Menyambut 81 Tahun Indonesia Merdeka

"Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai...

by Agung Sudarsa
August 11, 2026
Telenovela
Esai

Manusia Bukan Unggahan Terakhirnya

SETIAP kali saya mengunggah tulisan yang agak muram di media sosial, ada saja saudara atau kerabat yang kemudian mengirim pesan...

by Angga Wijaya
August 11, 2026
‘Bajang Care Adine’, Debut Rejuna Koplo di Belantika Musik Bali
Pop

‘Bajang Care Adine’, Debut Rejuna Koplo di Belantika Musik Bali

Sube tawang, bajang care adine Mepayas seksi, ngalih bapak medasi Dini ditu setate ngaku perawan Nanging mare cobak, hey… jeg...

by Dede Putra Wiguna
August 11, 2026
Tari Pangider Bhuwana: Gerak Seni yang Menjelma Bahasa dan Menjadi Jembatan bagi Teman Tuli
Panggung

Tari Pangider Bhuwana: Gerak Seni yang Menjelma Bahasa dan Menjadi Jembatan bagi Teman Tuli

GERAKANNYA ritmis dan begitu indah. Ekspresinya hidup karena setiap gerakan ditarikan dengan penuh penjiwaan. Musik seolah menyatu dalam gerak, menghadirkan...

by Nyoman Budarsana
August 11, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Rumah Dikontrakkan Bernama Indonesia [Renungan Hari Veteran Nasional]

ADA pepatah yang mulai usang, "hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, baik jua di negeri sendiri". ...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 10, 2026
Ketika Jazz Terasa Begitu Dekat dan Menyihir—Malam Penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026
Panggung

Ketika Jazz Terasa Begitu Dekat dan Menyihir—Malam Penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

ORANG-orang masih berdiri di depan panggung ketika Salamander Big Band memainkan bagian-bagian terakhir musik jazz-nya pada Sabtu malam, 8 Agustus...

by Rusdy Ulu
August 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co