24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dewa Soma Wijaya, Penjaga Budaya Lama

Hartanto by Hartanto
April 30, 2025
in Ulas Rupa
Dewa Soma Wijaya, Penjaga Budaya Lama

Dewa Somawijaya

SENI pertunjukan yang ditampilkan Dewa Soma Wijaya saat “Repertoar Kekecewaan” di Neka Art Museum Ubud pada 18 April 2025 memiliki elemen yang sangat menarik untuk dikaji. Pertunjukan yang menandai pembukaan pameran “Metastomata : Metamorphosis Manifesto Galang Kangin” ini tampaknya mengangkat tema yang intens, seperti kekecewaan dan perjuangan, dengan pendekatan yang dramatis dan simbolis. Repertoar ini, kolaborasi pematung Dewa Soma Wijaya, penyair Wayan Jengki Sunarta, dan perupa Made Gunawan yang mengiring musik dengan permainan serulingnya.

Pertunjukan diawali narasi singkat oleh Dewa Soma, demikian panggilan akrabnya – yang tampil tanpa baju dan menggenakan topeng. Selaku pematungnya, Dewa Soma menunjukkan eksplorasi emosi yang mendalam, mungkin terkait dengan perjuangan melawan arus ‘bansos’ atas nama modernisasi tanpa konsep pemikiran yang bijak. Begitulah tampaknya Dewa Soma melakukan perlawanan atas ‘opera dusta’ dan mempertahankan tradisi – dengan karya, dalam kesendirian yang sunyi. Seperti petikan puisi Wayan Jengki Sunarta ;  …//Sungguh terasa sunyi//Sendiri menciumi wangi tubuhmu, Batu Padas//Pahatan purba yang bangkitkan sayup sayup kenangan//…

Tak berapa lama, penyair Wayan Jengki Sunarta keluar dari pintu candi di area pementasan tersebut, ia berpakian hitam dan berkerudung kain poleng – sembari membaca puisi karyanya sendiri yang bertajuk ; “Situs Candi”. Ia membaca puisi sambil mengelilingi patung karya Dewa Soma yang tertata di panggung. Dewa soma selaku konseptor pementasan bertajuk ‘kekecewaan’ ini, sudah mempersiapkannya selama 3 bulan. Selain, menggelar repertoar – Dewa Soma juga mempamerkan 9 buah patung beralas kain putih di dalam ruang pameran. Karya ini juga  mengkritisi ‘carut-marut’nya realita,

Pasalnya, Dewa Soma sangatlah berduka dan ‘kecewa’ menghadapi sendiri ‘penghancuran’ artefak peradaban lama oleh para pengusung ‘pemikiradin developmentalis’, yang sangat dekat dengan kehidupannya. Di sisi lain,dia mempercayai bahwa artefak peninggalan masa lalu itu tidak hanya sebatas karya estetis, tapi juga memiliki kekuatan spiritual yang mengandung tuah (berkat) bagi masyarakat pengusungnya.

Dewa Soma Wijaya saat Repertoar “Kekecewaan” di Neka Art Museum, Ubud, 18 April 2025

Suasana haru hadir manakala pematungnya menghancurkan patung-patung berkepala celeng, di iringi pembacaan puisi dan irama seruling yang ‘mengiris hati’. Yang dihadirkan Dewa Soma, bukanlah sekadar hiburan visual. Karya ini adalah pernyataan emosional dan simbolik yang mencerminkan perjuangan dalam melestarikan budaya Bali di tengah era modernisasi (tanpa kendali). Dengan memadukan elemen tradisional dan penyampaian pesan yang kuat, seni pertunjukan ini berhasil menghidupkan dinamika antara tradisi, perjuangan, perubahan, dan pelestarian.

Penggunaan kapak sebagai alat dalam pertunjukan, misalnya – memuat makna yang kuat. Kapak dapat melambangkan kekuatan untuk menghancurkan, tetapi juga alat untuk menciptakan sesuatu yang baru. Dalam konteks seni pertunjukan ini, kapak bisa menjadi metafora bagi perjuangan Dewa Soma dalam meruntuhkan pengaruh modernisasi atas nama Bantuan Sosial untuk pemugaran tempat-tempat suci. Yang realitasnya justru menggerus ‘petilasan lama’ sekaligus menghapus kearifan tradisi,  spiritualitas masa lalu, dan teknologi masa lampau yang genial.

Repertoar Kekecewaan ini memberi gambaran tentang eksplorasi emosi yang mendalam dari Dewa Soma yang ‘berduka’ atas kesewenangan ‘kapitalis’,  pada peninggalan yang berharga. Selain itu, juga berduka atas musnahnya ‘jejak eksistensi’ indigenous di Bali. Kekecewaan yang diungkapkan bukanlah ungkapan pasif, tetapi sebuah dorongan untuk bertindak. Hal ini bisa dimaknai sebagai kritik terhadap pengabaian nilai-nilai tradisional Bali di tengah gempuran modernitas.

Dewa Soma Wijaya, bertopeng, saat Repertoar “Kekecewaan” di Neka Art Museum, Ubud, 18 April 2025

Karya ini juga mewakili apa yang dilakoni oleh Dewa Soma yang menggambarkan bagaimana perjuangannya melawan arus mayoritas. Sebab, menurut Dewa Soma, Karya ini berangkat dari keresahannya terhadap renovasi bangunan bersejarah yang dilakukan tanpa mempertimbangkan kesadaran sejarah dan budaya lokal, seperti yang sering terjadi pada banyak pura tua di Bali. Bantuan sosial, lantas menjadi ‘bencana’ bagi peninggalan produk teknologi ‘perundagian’ tua,

Ini, bagi Dewa soma, tentu  menjadi perjalanan yang sunyi dan penuh tantangan. Ia, acap sendiri menghadapi euforia bantuan sosial disekitarnya yang juga acap melupakan rasionalitas dan kewarasan . Rasionalitas berkaitan dengan kemampuan berpikir secara logis, sistematis, dan berbasis alasan. Ini adalah proses mental untuk membuat keputusan atau menyelesaikan masalah berdasarkan fakta dan argumen yang jelas. Sementara itu, kewarasan adalah kondisi mental seseorang yang sehat secara psikologis, mampu memahami realitas, dan berfungsi secara sosial tanpa menunjukkan tanda-tanda gangguan ‘pemikiran’ yang serius.

Dewa Soma Wijaya (tak berbaju) saat menghancurkan patung-patung dalam Repertoar “Kekecewaan” di Neka Art Museum, Ubud, 18 April 2025

Dalam pembukaan pameran “Metastomata: Metamorphosis Manifesto Galang Kangin,” ini, Dewa Soma berhasil menyampaikan pesan ‘kekecewaan’nya  melalui seni patung yang penuh makna. Itu, didukung oleh kolaborasi seni teaterikal dan musik yang memperkuat atmosfer kegelisahan dan harapan. Melalui Repertoar Kekecewaan, Dewa Somawijaya telah menciptakan karya seni pertunjukan yang tidak hanya indah secara visual tetapi juga penuh makna. Ia berhasil menyampaikan pesan tentang perjuangan, kekecewaan, dan harapan dalam mempertahankan budaya Bali. Dengan elemen-elemen visual yang kaya dan simbolisme yang mendalam, pertunjukan ini menjadi medium yang efektif untuk menggugah kesadaran masyarakat akan pentingnya merawat tradisi.

Pertunjukan ini, narasi tekstual ke narasi teaterikal – tidak hanya menjadi ekspresi seni, tetapi juga medium edukasi. Melalui simbolisme dan narasi, Dewa Soma Wijaya menyampaikan pesan penting tentang pelestarian budaya Bali. Ia juga telah membuktikan bahwa seni dapat menjadi suara bagi mereka yang berjuang menjaga warisan budaya.

Selain itu, juga mengingatkan masyarakat bahwa tradisi bukanlah sesuatu yang statis, melainkan warisan hidup yang memerlukan upaya terus-menerus untuk dirawat dan dihargai. Pertunjukan ini juga menjadi kritik sosial, menunjukkan bagaimana suara minoritas yang berupaya menjaga tradisi sering kali terpinggirkan oleh mayoritas yang mengutamakan perubahan dan modernisasi. Repertoar ini mengingatkan akan konsep teater Bertolt Brecht – penyair, penulis naskah drama dan sutradara kelahiran Jerman. Brecht mengembangkan konsep teater, yang bertujuan untuk mendidik penonton melalui narasi yang kritis dan reflektif. Menurut saya, repertoar ini berhasil menghadirkan refleksi mendalam tentang identitas budaya Bali di era globalisasi.

Menilik 9 buah patung berbahan serpihan paras karya Dewa Soma Wijaya yang di tata apik di ruang pameran, adalah refleksi yang sangat mendalam pematungnya. Karya bertajuk “Kekecewaan” ini tampaknya mewakili rasa ‘sakit’ dan keresahannya akan perubahan yang terjadi di Bali, khususnya terkait pergeseran budaya, nilai, dan taksu. Perubahan itu sebagai akibat dari bantuan ‘arus besar’ untuk merestorasi pura-pura berusia tua di Bali, tanpa perencanaan yang matang dalam mempertahankan produk peradaban masa silam.

Dewa Soma Wijaya di studio

Pilihan Dewa Soma untuk menggunakan artefak sebagai medium menumpahkan pemikiran kritisnya – sangatlah kuat karena membawa elemen keabadian yang mampu menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Artefak pada karya Dewa Soma “Kekecewaan”, dapat didekati dari perspektif antropologi dan sosiologi. Artefak, berfungsi sebagai simbol material yang merekam sejarah, spiritualitas, dan identitas budaya suatu komunitas. Dalam konteks Bali, artefak menyiratkan “taksu” atau jiwa yang memberikan kehidupan pada bentuk material, dan menjadi bukti fisik dari pergolakan budaya akibat globalisasi dan modernisasi. Menggunakan medium ini sebagai ekspresi seni – Dewa Soma ingin menunjukkan keinginan untuk melestarikan nilai-nilai yang mulai ter’erosi’ oleh pengaruh eksternal.


Seperti kita ketahui, Interaktivitas adalah bagian penting dari teori seni kontemporer, terutama dalam “relational aesthetics” yang menekankan hubungan antara karya seni, seniman, dan audiens sebagai elemen yang saling mempengaruhi. Bisa saja, karya “Kekecewaan” ini mengajak pengunjung berinteraksi agar memungkinkan mereka memahami, secara emosional, makna yang mendalam dari kekecewaan dan pergeseran nilai-nilai dalam budaya Bali. Ini juga memfasilitasi pembentukan dialog budaya di mana audiens terlibat dalam refleksi bersama.


Menurut subyektifitas saya, Dewa Soma dapat dimasukkan ke dalam analisis ‘Jungian’ tentang arketipe dalam seni. Dalam konteks ini, Dewa Soma mewakili ‘arketipe spiritual’ yang berfungsi sebagai ‘katalis’ untuk ‘introspeksi’. Elemen ini dapat dijelaskan melalui teori Jung yang berfokus pada ‘simbolisme kolektif’ dan proses ‘individuasi’, di mana seni menjadi media untuk menghubungkan kesadaran individual dengan nilai-nilai kolektif.

Carl Gustav Jung, seorang psikolog terkenal asal Swiss adalah salah satu perintis ‘Psikologi Analisis’. Ia, memperkenalkan konsep arketipe sebagai elemen dasar dari “ketidaksadaran kolektif” manusia. Dalam seni, arketipe Jungian sering digunakan untuk menggambarkan simbol universal yang mencerminkan pengalaman manusia yang mendalam dan universal. Patung-patung Dewa Soma yang dipresentasikan kepada audiens,  mencerminkan harapan akan ‘kesadaran budaya’, harapan ‘kesadaran sosial’, yang lebih luas. Ketidaksadaran kolektif tentang pentingnya ‘memelihara’ warisan kebudayaan tua inilah yang menimbulkan ‘kekecewaan’ Dewa Soma.

Dewa Soma Wijaya di studio

Artefak yang Dewa Soma tampilkan dalam karya ini juga dapat dilihat sebagai simbol dari tradisi dan nilai-nilai masa lalu yang mulai terkikis. Simbolisme dalam seni rupa memungkinkan penikmat untuk merenungkan makna yang lebih dalam dari elemen visual yang dihadirkan. Seni rupa tidak hanya tentang keindahan visual tetapi juga tentang nilai-nilai budaya dan spiritual yang terkandung di dalamnya. Penggunaan bahan serbuk paras yang dicetak memberikan tekstur dan bentuk yang menarik, dan menciptakan estetika yang mendukung pesan emosional dan reflektif dari karya ini.

Dalam perspektif estetika, menciptakan suasana sakral melalui elemen sastra, musik dan teater, jadi menarik. Ini, menghadirkan pengalaman multisensori yang dapat membuka jalan bagi pengunjung untuk berempati. Pengalaman ini berakar pada “ritualistic aesthetics,” yang menghubungkan seni dengan praktik-praktik performatif untuk menghadirkan makna yang transformatif. Pendekatan ini dapat menjadi landasan untuk lebih memahami simbolisme spiritual dalam konteks karya seni Dewa Soma.

Artefak yang Dewa Soma tampilkan dalam karya ini dapat dilihat sebagai simbol dari tradisi dan nilai-nilai masa lalu yang mulai terkikis. Simbolisme dalam seni rupa memungkinkan penikmat untuk merenungkan makna yang lebih dalam dari elemen visual yang dihadirkan. Seni rupa tidak hanya tentang keindahan visual tetapi juga tentang nilai-nilai budaya dan spiritual yang terkandung di dalamnya. Penggunaan bahan serbuk paras yang dicetak memberikan tekstur dan bentuk yang menarik, menciptakan estetika yang mendukung pesan emosional dan reflektif dari karya ini.

Dalam perspektif estetika, menciptakan suasana sakral melalui elemen ritual seperti suara gamelan dan percikan air suci , misalnya – mungkin jadi menarik. Ini, menghadirkan pengalaman multisensori yang dapat membuka jalan bagi pengunjung untuk berempati. Pengalaman ini berakar pada “ritualistic aesthetics,” yang menghubungkan seni dengan praktik-praktik performatif untuk menghadirkan makna yang transformatif. Pendekatan ini dapat menjadi landasan untuk lebih memahami simbolisme spiritual dalam konteks karya seni Dewa Soma.

Dewa Soma Wijaya di studio

Dewa Soma Wijaya adalah sosok pekerja keras dalam  mempertahankan eksistensi seni tradisi dan arsitektur kuno Bali – meski menghadapi tantangan zaman modern yang condong kapitalistik. Perjalanan dan prinsip hidupnya memancarkan komitmen yang tak tergoyahkan terhadap budaya dan spiritualitas Bali. Lulusan Sekolah Menengah Industri Kerajinan (SMIK) pada tahun 1992 dan melanjutkan studi di Program Studi Seni Rupa dan Desain (PSSRD) Universitas Udayana Denpasar hingga lulus tahun 1997 ini sempat  mengajar di PSSRD pada tahun 2000. Tapi profesi mengajar ini sepertinya bukan panggilan hidupnya. Tak lama kemudian dia berhenti sebagai dosen, dan memilih hidup sebagai seniman.

Dalam perjalanan karirnya, ia dikenal dengan dedikasinya yang mendalam pada seni. Ia, menjelaskan bahwa dunia kreatif yang digelutinya memiliki 2 sisi yang berbeda, berkarya atas dasar kepentingan mempertahankan kehidupan, dan total ‘ngayah’ yang ia dedikasikan pada agama dan masyarakat. Kendatipun demikianl, untuk karya kreatif yang ‘profan’ pun Dewa Soma tetap melakukan ritus dengan banten pemujaan sebelum memulai  berkarya. Ini menurutnya, menyelaraskan dirinya dengan kekuatan alam dari empat atau delapan arah mata angin. Salah satu karyanya yang monumental adalah sebuah patung dengan dimensi 50 x 1,5 meter, yang selesai tepat pada purnamaning Kedasa. Patung tersebut, ditempatkan di sebuah pura besar di Bali.

Proses berkarya Dewa Soma tersebut mencerminkan konsep spiritual dan dedikasinya pada karya seninya yang profan maupun yang sakral. Totalitas untuk “ngayah” (melayani) di pura-pura acap dilakukannya hampir seluruh kebupaten yang ada di Bali, diantaranya Pura Narmada di Pemogan. Dewa mengaku, menempatkan nilai tradisi di atas segalanya. Selain itu, Dewa Soma Wijaya tidak sekadar menciptakan karya, tetapi juga memiliki misi untuk melestarikan bangunan dan ukiran lama pada pura-pura/candi  di beberapa tempat di Indonesia, terutama yang ada di Bali.

Baginya, mempertahankan elemen-elemen ini adalah bentuk penghormatan kepada jejak peradaban nenek moyang Bali. Ia ingin bersuara melalui karya seni demi menyelamatkan dan mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga budaya lama Bali. Meskipun teknologi modern menawarkan kemudahan, Dewa Soma Wijaya tetap ingin mengadopsi teknologi purus-purus tradisional (tanpa semen) dalam menyusun bangunan. Baginya, metode ini adalah jantung dari keaslian arsitektur Bali. Ia acap menantang pendapat mayoritas yang memilih modernitas, meskipun sering kali ia merasa kalah suara. Namun, bagi Dewa, mempertahankan seni tradisi adalah kepuasan tersendiri, meskipun secara finansial ia mungkin mengalami kerugian.

Dewa Soma Wjaya di studio

Dewa Soma Wijaya mengaku, mendapat banyak inspirasi dari guru spiritualnya, yang memberinya sebuah patung Saraswati. Patung itu ditempatkan di tempat suci sebagai simbol penghormatan. Ia selalu menghaturkan banten, memohon ijin dan berkah pada Hyang Dewi Saraswati sebelum berkarya. Disisi lain, ia selalu berkomitmen pada filosofi Asta Kosala-Kosali untuk menjadi pedoman dalam menentukan hari baik untuk memulai karya. Semua ini menunjukkan bahwa ia tidak anti terhadap perubahan, tetapi selalu mengutamakan tradisi sebagai fondasi yang kokoh.

Dewa Soma Wijaya percaya bahwa seni adalah medium untuk bersuara. Ia tidak hanya memproduksi karya seni, tetapi juga memotivasi masyarakat melalui narasi yang kuat. Dengan dukungan tim kajian, ia berharap dapat lebih banyak berbicara tentang budaya dan tradisi Bali, meskipun dana sering menjadi kendala. Melalui karyanya, ia ingin terus menyuarakan pentingnya pelestarian Budaya, serta menginspirasi orang lain untuk tidak melupakan akar budaya mereka. Dalam perjalanan hidupnya, Dewa Soma Wijaya telah membuktikan bahwa seni tidak hanya soal keindahan, tetapi juga medium untuk menyelamatkan, mendidik, dan menghubungkan manusia dengan tradisi serta spiritualitasnya. Meskipun jalan yang ia tempuh sering kali sulit, dedikasinya bisa menjadi inspirasi bagi siapa saja yang ingin menjaga warisan budaya lama. [T]

Penulis: Hartanto
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA
Kosa Poetika Senirupa Anak Agung Gede Eka Putra Dela
Trimatra Galung Wiratmaja
Selilit: Perlawanan Simbolik Ketut Putrayasa
Memorial Made Supena
METASTOMATA: Metamorphosis Manifesto Galang Kangin  di Neka Art Museum, Ubud
Sekilas Pentas “Kekecewaan” Wayan Jengki Sunarta : Narasi Tekstual ke Narasi Teaterikal
Tags: Dewa SomawijayaKomunitas Galang KanginNeka Art MuseumPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Komunikasi, Cerminan Jati Diri

Next Post

Ritual  “Seba”:  Lebarannya Suku Baduy?

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

by Emi Suy
October 19, 2026
0
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

Read moreDetails

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
0
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

Read moreDetails

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

by Made Chandra
October 10, 2026
0
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

Read moreDetails

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails
Next Post
Ritual  “Seba”:  Lebarannya Suku Baduy?

Ritual  “Seba”:  Lebarannya Suku Baduy?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co