4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

METASTOMATA: Metamorphosis Manifesto Galang Kangin  di Neka Art Museum, Ubud

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
April 17, 2025
in Pameran
METASTOMATA: Metamorphosis Manifesto Galang Kangin  di Neka Art Museum, Ubud

Karya Galung Wiratmaja pada Pameran Seni Rupa Ulang Tahun ke-29 Komunitas Seni Galang Kangin di Neka Art Museum, Ubud - April 2025

SEBAGAI bagian dari peringatan ulang tahun ke-29 Komunitas Seni Galang Kangin (KSGK), sebuah pameran seni rupa bertajuk “Metastomata: Metamorphosis Manifesto Galang Kangin” diselenggarakan di Neka Art Museum, Ubud. Pameran ini merupakan hasil kolaborasi antara Neka Art Museum, KSGK, dan House of Arie Smit.

Acara berlangsung mulai tanggal 18 April hingga 18 Mei 2025, menampilkan total 36 karya seni, termasuk karya patung kayu almarhum Made Supena.

Selain alm. Made Supena, seniman lain yang turut memamerkan karya antara lain Made Galung Wiratmaja, Wayan Setem, Dewa Gede Soma Wijaya, Wayan Naya Swantha, Nyoman Diwarupa, Made Ardika, Made Sudana,  Made Gunawan , I Gede Jaya Putra, A.A. Eka Putra Dela,  Agus Murdika, Atmi Kristiadewi, I Ketut Putrayasa, dan I Gede Adi.

Tema “Metastomata” mengacu pada perjalanan kreatif atau nafas eksistensi kelompok KSGK yang telah berlangsung hampir tiga dekade.

Karya AA. Eka Putra

Menurut kurator Hartanto dari Bali Mangsi Foundation, istilah ini berpijak pada pemahaman atas kreativitas sebagai suatu ekosistem, dimana terdapat hubungan simbiotik antara makhluk-makluk kreatif dengan lingkungannya. Lingkungan kreatif berkesenian antara lain adalah konsumen (pasar), dunia akademis, pemerintah.

Metastomata merupakan ranah refleksi terhadap kesadaran yang menjadi esensi manifesto kelompok Galang KAngin. Terutama terkait sikap mereka pada ekosistem kreativitas seni yang menjadi salah satu sandaran utama inspirasi para seniman dalam KSGK.

Manifesto Galang Kangin dibuat dengan kesadaran bahwa “perubahan dimulai dari dalam pelaku.” Dalam sikap yang dianut Galang Kangin,  perubahan ekosistem kreatif berkesenian tidak hanya dilakukan dengan membangun kelompok penekan (pressure group) terhadap pihak di luar kesenian, tetapi terutama dengan meningkatkan kesadaran para seniman, serta kualitas berkarya.  Kebudyaan seni bergantung pada kemampuan seniman menghasilkan “oksigen kreatif” yang memberi kesegaran pada ekosistem kesadaran.

“Itulah sebabnya pameran ini mengambil metafora stomata,” ujar Hartanto. 

Karya Galung Wiratmaja

Stomata adalah lubang kecil pada daun yang menopang kehidupan tumbuhan melalui pertukaran gas dan pengaturan suhu. Melalui stomata, mengalir gas oksigen yang bermanfaat bagi makluk hidup lainnya. Stomata menampilkan simbol dari berbagai proses-proses kecil namun vital dalam kehidupan.

“Kebudayaan sering mengalami perubahan karena hal-hal yang dianggap kecil,”kata Hartanto, Begitulah, melampaui batas fisik; seniman berinteraksi secara transenden dengan berbagai realitas.

Metastomata adalah penggabungan pendekatan logis sekaligus imajinatif. Para perupa diajak mengeksplorasi proses-proses penting yang tampak sederhana namun menopang keberlanjutan planet kita. Seperti stomata pada daun yang kecil namun krusial bagi pohon besar sekalipun.

Konsep META juga mendorong eksplorasi ranah spiritualitas serta kesadaran akan keterhubungan tak kasat mata antar makhluk hidup. Audiens diajak membangun interpretasi filosofis tentang eksistensi manusia serta peran tanaman dalam pemahaman kita terhadap alam semesta.

Karya Wayan Setem

Karya Atmi

Menuju pameran ini, para perupa diajak mempersiapkan diri dengan kuesioner yang terkait dengan pemahaman akan manifesto Galang Kangin. Workshop juga diadakan oleh tim kurator, secara khusus didesain oleh co-kurator Benito Lopulalan. Ini untuk memperdalam pemahaman peserta pameran mengenai makna “meta”, baik secara pribadi maupun kolektif—menyeimbangkan logika dengan imajinasi liar demi mendukung penciptaan karya-karya inovatif bertema Metastomata.

***

Benito Lopulalaln, co-curator pada pameran itu, menyebutkan semua seniman menunjukkan karya-karya mereka yang berkaitan dengan pemehaman mereka tentang manifesto Galang Kangin.

Ketut Putrayasa, mislanya, dengan karya tiga dimensi “Selilit (2025)” seolah menyimpan perenungan tentang hal-hal yang kecil dan berpengaruh. Selilit menjadi metafora tentang Tabiat Seni. Selilit, sisa makanan yang menyelinap di sela gigi, mungkin tampak kecil dan sepele. Namun dia mengusik kenyamanan mapan. Halus namun nyata. Karya ini bagai Tao Te Ching yang menekankan kekuatan hal-hal kecil dan lembut yang mampu mengalahkan yang besar dan keras, seolah air yang lembut tapi terus menerus bisa mengikis batu karang yang keras.

Sketsa karya Ketut Putrayasa: Selilit

Karena seni, seperti Selilit, hidup dalam himpitan arus besar pragmatisme modern: di antara gempita tekanan kebutuhan pribadi, effesiensi praktis, tekanan sosial, dan berbagai hal yang mengekang kebebasan berekspresi. Namun seni harus tetap tumbuh, menolak kemapanan demi membuka kemungkinan-kemungkinan baru untuk dijelajahi.

Simbol tusuk gigi di atas piring melengkapi kode simbolik metafora seni di arus besar budaya dominan konsumerisme. Selilit dan piring meleleh menjadi gambaran visual bahwa seni adalah ungkapan tanpa akhir (tak kesudahan) yang terus-menerus mengusik kemapanan. Ia menjaga jarak dari segala bentuk rutinitas dalam dunia yang semakin cair dan berubah cepat.

Putrayasa seolah menggambarkan butterfly effects ala teory chaos Edward Lorenz yang menggambarkan kekuatan peranan hal-hal kecil –seperti selilit ini– dalam memicu perubahan. Lorenz menggambarkan bagaimana hal-hal kecil pada suatu sistem dinamis dapat menghasilkan perubahan dan konsekuensi besar tak terduga. Itulah seni dalam karya ini .Seni; meski tampak sebagai elemen kecil atau minoritas dalam arus utama budaya pragmatisme, tetap memiliki potensi menggerakkan perubahan besar melalui pengaruh-pengaruh halus namun signifikan.

Seni menyimpan daya hidup subversif; ia adalah kesadaran kritis yang senantiasa berupaya membebaskan diri dari ancaman laten budaya dominan atau ideologi yang mengasingkan manusia dari kepekaan Nurani serta keindahan. Sebagaimana efek kupu-kupu Lorenz — seni memiliki pengaruh besar sebagai kekuatan penggerak perubahan sekaligus penjaga keaslian ekspresi manusia.

Sementara itu, sebuah karya dari Putu Adi Putra, menggambarkan dunia sebagai kumpulan letupan energi yang terus berevolusi. Dalam karyanya, ia hendak menyampaikan sebuah pesan mendalam bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini memiliki asal-usul — dan asal dari segala asal itu adalah energi. Energi inilah yang menjadi inti dari eksistensi, sumber utama yang melahirkan segala sesuatu baik yang tampak maupun tak tampak.

Energi bukan hanya sekadar kekuatan fisik atau fenomena alam semata; ia juga merupakan esensi kreatif di balik setiap bentuk kehidupan. Seni sendiri dapat dipandang sebagai manifestasi visual atau ekspresi nyata dari energi hidup tersebut. Melalui goresan kuas, dentingan nada, gerakan tari, hingga kata-kata dalam puisi—semua itu adalah wujud evolusi energi menjadi bentuk-bentuk baru yang mampu menyentuh jiwa manusia.

Dalam konteks ini, kehidupan adalah jembatan antara dimensi fisik dan metafisik. Ia menghubungkan kita dengan sumber energi primordial—yang terus berubah dan berkembang seiring waktu—menciptakan dialog antara pencipta dan penikmatnya.

Putu Adi Putra melalui karyanya mengajak kita untuk merenungkan bahwa setiap ciptaan adalah bagian kecil dari arus besar evolusi energi universal. Setiap kehendak, suara atau gerakan membawa getaran kehidupan itu sendiri; mereka adalah bukti nyata bahwa di balik segala rupa terdapat kekuatan dinamis tak terlihat namun sangat nyata.

Dengan demikian, memahami seni berarti juga memahami perjalanan panjang transformasi energi — bagaimana ia bermetamorfosis menjadi berbagai bentuk kehidupan dan pengalaman manusia. Seni menjadi saksi bisu sekaligus perantara bagi kita untuk merasakan denyut nadi alam semesta dalam tiap detiknya.

***

Menurut Direktur Neka Art Museum (NAM)  Dr. Pande Made K. Suteja, pameran ini berlangsung bertepatan dengan bulan kelahiran maestro seni rupa Arie Smit (15 April 1916 – 23 Maret 2016), tokoh yang memberi warna penting dalam perkembangan seni rupa di Bali. Melalui perannya dalam mendorong kreativitas anak-anak di Penestanan tanpa doktrin, ia memicu lahirnya gaya Young Artist—mazhab yang menekankan kebebasan ekspresi dan spontanitas.

“Sepertinya, spirit inilah yang menginspirasi Galang Kangin dalam membangun ruang seni yang merdeka,  mandiri, setara, dan jujur terhadap proses,” kata Dr. Pande Made K. Suteja.

Karya Diwarupa

Menurut kurator Hartanto, untuk melahirkan mazhab banyak hal yang mesti dikerjakan oleh KSGK – dan manifesto yang di deklarasikan tahun 2002, merupakan langkah awal GK yang tepat. Tentu kita semua berharap, ke depan – mazhab GK menjadi kenyataan.

7 tahun yang lalu, kata Ketua KSGK Galung Wiratmaja, tepatnya 25 Februari 2018, juga di Neka Art  Museum digelar perayaan atas 20 tahun GK.  Perayaan itu semestinya dirayakan tahun 2016, molor dua tahun karena hambatan teknis terasa sangat besar pada waktu itu. Perayaan 20 tahun GK itu dirayakan dengan sebuah pameran yang bertajuk Becoming  yang diselenggarakan atas kerjasama Neka Art Museum (NAM) dikuratori oleh  bapak Hardiman.  Pembukaan pameran ditandai juga dengan peluncuran sebuah buku dari GK dengan judul yang sama “Becoming, 20 Tahun Galang Kangin”.  

Tahun ini menandai fase penting bagi KSGK sebagai komunitas seni lintas generasi yang lahir dari semangat kolaboratif sembilan mahasiswa dua institusi seni Bali pada tahun 1996. Nama Galang Kangin, berarti “cahaya menjelang pagi”, merepresentasikan awal baru penuh harapan dan kebijaksanaan timur.

Karya Dewa Soma

Karya Made Gunawan

Dr. Pande Made K. Suteja menegaskan juga bahwa pameran kali ini bukan sekadar ajang memajang karya visual; melainkan ruang temu gagasan–bentuk visual–proses kreatif–dan pencapaian estetik secara harmonis serta partisipatif melalui lokakarya-lokakarya pendampingnya.

Kini, tambah Dr. Pande Made K. Suteja, dengan kedewasaan usia, Galang Kangin berada pada simpul penting. Masa Grahasta Asrama bukan hanya fase produktif, tetapi juga peluang untuk melahirkan generasi seniman baru yang menjunjung nilai kejujuran artistik, semangat kolaboratif, dan orientasi pada keberlanjutan.

Apabila fase ini dilewati tanpa kesadaran kreatif, maka yang tersisa hanyalah kontemplasi pasif di tahap hidup berikutnya yang lebih tinggi lepas dari duniawi, yakni Wanaprastha dan Biksuka. [T]

Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA
Perupa Rama Pamerkan 7 Karya “Harmony” di ARTspace ARTOTEL Sanur
Dodit Artawan: Merayakan Bali dalam Hiruk Pikuk Kemacetan
Post Tradisi : Upaya untuk Meletakkan Bali dalam Pembacaan Seni Rupa Indonesia
Tags: Komunitas Galang KanginNeka Art MuseumPameran Seni RupaSeni RupaSuteja Neka
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kampusku Sarang Hantu [11]: Dosen Tak Kasat Mata

Next Post

Dia Dipa, Dia Barista, Dia Tunarungu: Tetes Kopi Racikan Cerita Hidupnya

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

Sore itu, suasana hotel sudah semakin gelap. Pameran bertajuk “Udhar Banda Karma: Unshackling the Karma of Tradition” belum juga dibuka....

Read moreDetails

“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

by tatkala
September 17, 2026
0
“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

JAKARTA | TATKALA.CO -- Lukisan berjudul The Wings of the Sanghyang Dance (2026) karya Putu Fajar Arcana, berhasil mengalahkan ribuan...

Read moreDetails

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
0
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

Read moreDetails

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
0
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

Read moreDetails

Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

by Satria Aditya
August 30, 2026
0
Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

SELAMA hampir tiga bulan, sejak awal Juni 2026, empat perupa muda asal Bali yaitu Made Ari, Made Arsana, Reka Biambara...

Read moreDetails

Pameran “Impulse”, Tiga Denyut Abstraksi dari Sukawati

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Pameran “Impulse”, Tiga Denyut Abstraksi dari Sukawati

TIGA perupa asal Sukawati, I Made Mahendra Mangku, I Wayan Arnata, dan Made Galung Wiratmaja, mempertemukan karya mereka dalam pameran...

Read moreDetails

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

by Nyoman Budarsana
August 5, 2026
0
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

Read moreDetails

27 Pelukis Indonesia Pameran di Jerman ——Niluh Swati Buka Jalan “Go Internasional”

by Nyoman Budarsana
July 29, 2026
0
27 Pelukis Indonesia Pameran di Jerman ——Niluh Swati Buka Jalan “Go Internasional”

JAKARTA | TATKALA.CO -- Niluh Swati Indonesian Art Program (NSIAP) akan memamerkan karya 27 pelukis Indonesia dalam ajang ARTe Kunstmesse...

Read moreDetails

Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
0
Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni

DI tengah denting musik elektronik yang berpadu dengan aroma dupa dan canang, Gotawa berdiri di depan kanvas. Tangannya bergerak, menumpahkan...

Read moreDetails

Agung Pramana Hadirkan “After Exotic 1931” di ARTJOG 2026 —Menelisik Jejak Kolonial di Balik Eksotisme Bali

by Dede Putra Wiguna
July 19, 2026
0
Agung Pramana Hadirkan “After Exotic 1931” di ARTJOG 2026 —Menelisik Jejak Kolonial di Balik Eksotisme Bali

BALI selama bertahun-tahun dikenal dunia sebagai pulau yang eksotis. Namun, di balik citra itu, tersimpan sejarah panjang tentang bagaimana representasi...

Read moreDetails
Next Post
Dia Dipa, Dia Barista, Dia Tunarungu: Tetes Kopi Racikan Cerita Hidupnya

Dia Dipa, Dia Barista, Dia Tunarungu: Tetes Kopi Racikan Cerita Hidupnya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co