25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

METASTOMATA: Metamorphosis Manifesto Galang Kangin  di Neka Art Museum, Ubud

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
April 17, 2025
in Pameran
METASTOMATA: Metamorphosis Manifesto Galang Kangin  di Neka Art Museum, Ubud

Karya Galung Wiratmaja pada Pameran Seni Rupa Ulang Tahun ke-29 Komunitas Seni Galang Kangin di Neka Art Museum, Ubud - April 2025

SEBAGAI bagian dari peringatan ulang tahun ke-29 Komunitas Seni Galang Kangin (KSGK), sebuah pameran seni rupa bertajuk “Metastomata: Metamorphosis Manifesto Galang Kangin” diselenggarakan di Neka Art Museum, Ubud. Pameran ini merupakan hasil kolaborasi antara Neka Art Museum, KSGK, dan House of Arie Smit.

Acara berlangsung mulai tanggal 18 April hingga 18 Mei 2025, menampilkan total 36 karya seni, termasuk karya patung kayu almarhum Made Supena.

Selain alm. Made Supena, seniman lain yang turut memamerkan karya antara lain Made Galung Wiratmaja, Wayan Setem, Dewa Gede Soma Wijaya, Wayan Naya Swantha, Nyoman Diwarupa, Made Ardika, Made Sudana,  Made Gunawan , I Gede Jaya Putra, A.A. Eka Putra Dela,  Agus Murdika, Atmi Kristiadewi, I Ketut Putrayasa, dan I Gede Adi.

Tema “Metastomata” mengacu pada perjalanan kreatif atau nafas eksistensi kelompok KSGK yang telah berlangsung hampir tiga dekade.

Karya AA. Eka Putra

Menurut kurator Hartanto dari Bali Mangsi Foundation, istilah ini berpijak pada pemahaman atas kreativitas sebagai suatu ekosistem, dimana terdapat hubungan simbiotik antara makhluk-makluk kreatif dengan lingkungannya. Lingkungan kreatif berkesenian antara lain adalah konsumen (pasar), dunia akademis, pemerintah.

Metastomata merupakan ranah refleksi terhadap kesadaran yang menjadi esensi manifesto kelompok Galang KAngin. Terutama terkait sikap mereka pada ekosistem kreativitas seni yang menjadi salah satu sandaran utama inspirasi para seniman dalam KSGK.

Manifesto Galang Kangin dibuat dengan kesadaran bahwa “perubahan dimulai dari dalam pelaku.” Dalam sikap yang dianut Galang Kangin,  perubahan ekosistem kreatif berkesenian tidak hanya dilakukan dengan membangun kelompok penekan (pressure group) terhadap pihak di luar kesenian, tetapi terutama dengan meningkatkan kesadaran para seniman, serta kualitas berkarya.  Kebudyaan seni bergantung pada kemampuan seniman menghasilkan “oksigen kreatif” yang memberi kesegaran pada ekosistem kesadaran.

“Itulah sebabnya pameran ini mengambil metafora stomata,” ujar Hartanto. 

Karya Galung Wiratmaja

Stomata adalah lubang kecil pada daun yang menopang kehidupan tumbuhan melalui pertukaran gas dan pengaturan suhu. Melalui stomata, mengalir gas oksigen yang bermanfaat bagi makluk hidup lainnya. Stomata menampilkan simbol dari berbagai proses-proses kecil namun vital dalam kehidupan.

“Kebudayaan sering mengalami perubahan karena hal-hal yang dianggap kecil,”kata Hartanto, Begitulah, melampaui batas fisik; seniman berinteraksi secara transenden dengan berbagai realitas.

Metastomata adalah penggabungan pendekatan logis sekaligus imajinatif. Para perupa diajak mengeksplorasi proses-proses penting yang tampak sederhana namun menopang keberlanjutan planet kita. Seperti stomata pada daun yang kecil namun krusial bagi pohon besar sekalipun.

Konsep META juga mendorong eksplorasi ranah spiritualitas serta kesadaran akan keterhubungan tak kasat mata antar makhluk hidup. Audiens diajak membangun interpretasi filosofis tentang eksistensi manusia serta peran tanaman dalam pemahaman kita terhadap alam semesta.

Karya Wayan Setem

Karya Atmi

Menuju pameran ini, para perupa diajak mempersiapkan diri dengan kuesioner yang terkait dengan pemahaman akan manifesto Galang Kangin. Workshop juga diadakan oleh tim kurator, secara khusus didesain oleh co-kurator Benito Lopulalan. Ini untuk memperdalam pemahaman peserta pameran mengenai makna “meta”, baik secara pribadi maupun kolektif—menyeimbangkan logika dengan imajinasi liar demi mendukung penciptaan karya-karya inovatif bertema Metastomata.

***

Benito Lopulalaln, co-curator pada pameran itu, menyebutkan semua seniman menunjukkan karya-karya mereka yang berkaitan dengan pemehaman mereka tentang manifesto Galang Kangin.

Ketut Putrayasa, mislanya, dengan karya tiga dimensi “Selilit (2025)” seolah menyimpan perenungan tentang hal-hal yang kecil dan berpengaruh. Selilit menjadi metafora tentang Tabiat Seni. Selilit, sisa makanan yang menyelinap di sela gigi, mungkin tampak kecil dan sepele. Namun dia mengusik kenyamanan mapan. Halus namun nyata. Karya ini bagai Tao Te Ching yang menekankan kekuatan hal-hal kecil dan lembut yang mampu mengalahkan yang besar dan keras, seolah air yang lembut tapi terus menerus bisa mengikis batu karang yang keras.

Sketsa karya Ketut Putrayasa: Selilit

Karena seni, seperti Selilit, hidup dalam himpitan arus besar pragmatisme modern: di antara gempita tekanan kebutuhan pribadi, effesiensi praktis, tekanan sosial, dan berbagai hal yang mengekang kebebasan berekspresi. Namun seni harus tetap tumbuh, menolak kemapanan demi membuka kemungkinan-kemungkinan baru untuk dijelajahi.

Simbol tusuk gigi di atas piring melengkapi kode simbolik metafora seni di arus besar budaya dominan konsumerisme. Selilit dan piring meleleh menjadi gambaran visual bahwa seni adalah ungkapan tanpa akhir (tak kesudahan) yang terus-menerus mengusik kemapanan. Ia menjaga jarak dari segala bentuk rutinitas dalam dunia yang semakin cair dan berubah cepat.

Putrayasa seolah menggambarkan butterfly effects ala teory chaos Edward Lorenz yang menggambarkan kekuatan peranan hal-hal kecil –seperti selilit ini– dalam memicu perubahan. Lorenz menggambarkan bagaimana hal-hal kecil pada suatu sistem dinamis dapat menghasilkan perubahan dan konsekuensi besar tak terduga. Itulah seni dalam karya ini .Seni; meski tampak sebagai elemen kecil atau minoritas dalam arus utama budaya pragmatisme, tetap memiliki potensi menggerakkan perubahan besar melalui pengaruh-pengaruh halus namun signifikan.

Seni menyimpan daya hidup subversif; ia adalah kesadaran kritis yang senantiasa berupaya membebaskan diri dari ancaman laten budaya dominan atau ideologi yang mengasingkan manusia dari kepekaan Nurani serta keindahan. Sebagaimana efek kupu-kupu Lorenz — seni memiliki pengaruh besar sebagai kekuatan penggerak perubahan sekaligus penjaga keaslian ekspresi manusia.

Sementara itu, sebuah karya dari Putu Adi Putra, menggambarkan dunia sebagai kumpulan letupan energi yang terus berevolusi. Dalam karyanya, ia hendak menyampaikan sebuah pesan mendalam bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini memiliki asal-usul — dan asal dari segala asal itu adalah energi. Energi inilah yang menjadi inti dari eksistensi, sumber utama yang melahirkan segala sesuatu baik yang tampak maupun tak tampak.

Energi bukan hanya sekadar kekuatan fisik atau fenomena alam semata; ia juga merupakan esensi kreatif di balik setiap bentuk kehidupan. Seni sendiri dapat dipandang sebagai manifestasi visual atau ekspresi nyata dari energi hidup tersebut. Melalui goresan kuas, dentingan nada, gerakan tari, hingga kata-kata dalam puisi—semua itu adalah wujud evolusi energi menjadi bentuk-bentuk baru yang mampu menyentuh jiwa manusia.

Dalam konteks ini, kehidupan adalah jembatan antara dimensi fisik dan metafisik. Ia menghubungkan kita dengan sumber energi primordial—yang terus berubah dan berkembang seiring waktu—menciptakan dialog antara pencipta dan penikmatnya.

Putu Adi Putra melalui karyanya mengajak kita untuk merenungkan bahwa setiap ciptaan adalah bagian kecil dari arus besar evolusi energi universal. Setiap kehendak, suara atau gerakan membawa getaran kehidupan itu sendiri; mereka adalah bukti nyata bahwa di balik segala rupa terdapat kekuatan dinamis tak terlihat namun sangat nyata.

Dengan demikian, memahami seni berarti juga memahami perjalanan panjang transformasi energi — bagaimana ia bermetamorfosis menjadi berbagai bentuk kehidupan dan pengalaman manusia. Seni menjadi saksi bisu sekaligus perantara bagi kita untuk merasakan denyut nadi alam semesta dalam tiap detiknya.

***

Menurut Direktur Neka Art Museum (NAM)  Dr. Pande Made K. Suteja, pameran ini berlangsung bertepatan dengan bulan kelahiran maestro seni rupa Arie Smit (15 April 1916 – 23 Maret 2016), tokoh yang memberi warna penting dalam perkembangan seni rupa di Bali. Melalui perannya dalam mendorong kreativitas anak-anak di Penestanan tanpa doktrin, ia memicu lahirnya gaya Young Artist—mazhab yang menekankan kebebasan ekspresi dan spontanitas.

“Sepertinya, spirit inilah yang menginspirasi Galang Kangin dalam membangun ruang seni yang merdeka,  mandiri, setara, dan jujur terhadap proses,” kata Dr. Pande Made K. Suteja.

Karya Diwarupa

Menurut kurator Hartanto, untuk melahirkan mazhab banyak hal yang mesti dikerjakan oleh KSGK – dan manifesto yang di deklarasikan tahun 2002, merupakan langkah awal GK yang tepat. Tentu kita semua berharap, ke depan – mazhab GK menjadi kenyataan.

7 tahun yang lalu, kata Ketua KSGK Galung Wiratmaja, tepatnya 25 Februari 2018, juga di Neka Art  Museum digelar perayaan atas 20 tahun GK.  Perayaan itu semestinya dirayakan tahun 2016, molor dua tahun karena hambatan teknis terasa sangat besar pada waktu itu. Perayaan 20 tahun GK itu dirayakan dengan sebuah pameran yang bertajuk Becoming  yang diselenggarakan atas kerjasama Neka Art Museum (NAM) dikuratori oleh  bapak Hardiman.  Pembukaan pameran ditandai juga dengan peluncuran sebuah buku dari GK dengan judul yang sama “Becoming, 20 Tahun Galang Kangin”.  

Tahun ini menandai fase penting bagi KSGK sebagai komunitas seni lintas generasi yang lahir dari semangat kolaboratif sembilan mahasiswa dua institusi seni Bali pada tahun 1996. Nama Galang Kangin, berarti “cahaya menjelang pagi”, merepresentasikan awal baru penuh harapan dan kebijaksanaan timur.

Karya Dewa Soma

Karya Made Gunawan

Dr. Pande Made K. Suteja menegaskan juga bahwa pameran kali ini bukan sekadar ajang memajang karya visual; melainkan ruang temu gagasan–bentuk visual–proses kreatif–dan pencapaian estetik secara harmonis serta partisipatif melalui lokakarya-lokakarya pendampingnya.

Kini, tambah Dr. Pande Made K. Suteja, dengan kedewasaan usia, Galang Kangin berada pada simpul penting. Masa Grahasta Asrama bukan hanya fase produktif, tetapi juga peluang untuk melahirkan generasi seniman baru yang menjunjung nilai kejujuran artistik, semangat kolaboratif, dan orientasi pada keberlanjutan.

Apabila fase ini dilewati tanpa kesadaran kreatif, maka yang tersisa hanyalah kontemplasi pasif di tahap hidup berikutnya yang lebih tinggi lepas dari duniawi, yakni Wanaprastha dan Biksuka. [T]

Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA
Perupa Rama Pamerkan 7 Karya “Harmony” di ARTspace ARTOTEL Sanur
Dodit Artawan: Merayakan Bali dalam Hiruk Pikuk Kemacetan
Post Tradisi : Upaya untuk Meletakkan Bali dalam Pembacaan Seni Rupa Indonesia
Tags: Komunitas Galang KanginNeka Art MuseumPameran Seni RupaSeni RupaSuteja Neka
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kampusku Sarang Hantu [11]: Dosen Tak Kasat Mata

Next Post

Dia Dipa, Dia Barista, Dia Tunarungu: Tetes Kopi Racikan Cerita Hidupnya

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali

by Nyoman Budarsana
October 18, 2026
0
BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali

Empat seniman dari Bali dan Korea Selatan menggelar pameran kolaboratif bertajuk BURU-JIWA-BUMI di Nata-Citta Art Space (N-CAS), Institut Seni Indonesia...

Read moreDetails

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

by tatkala
October 14, 2026
0
𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

Read moreDetails

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
0
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

Read moreDetails

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

by Nyoman Budarsana
October 8, 2026
0
Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

KETIKA mengunjungi pameran ini, jangan kaget jika menemukan warisan budaya seperti tenun, batik, dan berbagai perhiasan yang beradaptasi dengan zaman,...

Read moreDetails

10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

by Nyoman Budarsana
October 7, 2026
0
10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

SUDAH mengunjungi pameran Ten Ubud Local Artists di Sthala Ubud Bali? Jumlah karya yang disajikan tidak terlalu banyak memang, namun...

Read moreDetails

Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

Sore itu, suasana hotel sudah semakin gelap. Pameran bertajuk “Udhar Banda Karma: Unshackling the Karma of Tradition” belum juga dibuka....

Read moreDetails

“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

by tatkala
September 17, 2026
0
“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

JAKARTA | TATKALA.CO -- Lukisan berjudul The Wings of the Sanghyang Dance (2026) karya Putu Fajar Arcana, berhasil mengalahkan ribuan...

Read moreDetails

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
0
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

Read moreDetails

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
0
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

Read moreDetails

Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

by Satria Aditya
August 30, 2026
0
Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

SELAMA hampir tiga bulan, sejak awal Juni 2026, empat perupa muda asal Bali yaitu Made Ari, Made Arsana, Reka Biambara...

Read moreDetails
Next Post
Dia Dipa, Dia Barista, Dia Tunarungu: Tetes Kopi Racikan Cerita Hidupnya

Dia Dipa, Dia Barista, Dia Tunarungu: Tetes Kopi Racikan Cerita Hidupnya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co