12 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampusku Sarang Hantu [11]: Dosen Tak Kasat Mata

Chusmeru by Chusmeru
April 17, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

CERITA maupun kabar tentang kampus di kaki Gunung Slamet, Purwokerto, Jawa Tengah, yang angker dan menyeramkan bukan rahasia lagi. Semua dosen, pegawai, dan mahasiswa pernah mendengarnya. Hampir semua ruangan di kampus menyimpan misteri.

Begitu pula yang didengar Mita Setiani. Dosen cantik ini kerap mendengar suasana kampus yang menimbulkan bulu kuduk berdiri. Awalnya ia tak mempercayai itu. Meski saat kecil di daerah asalnya Tasikmalaya juga sering mendengar cerita tentang hantu yang bergentayangan di kampung.

Sampai saat ini Mita Setiani belum pernah mengalami kejadian aneh saat berada di kampus. Mungkin karena dia tidak punya bakat untuk melihat hantu. Konon, hanya orang-orang tertentu saja yang memiliki kepekaan untuk dapat melihat mahluk tak kasat mata.

Suasana seram memang ia rasakan ketika melewati sungai kecil di dalam kampus, saat gerimis sore hari dan ia harus mengajar di ruangan yang bersebelahan dengan pohon besar. Kadang ia juga merasakan aura yang kurang enak ketika berjalan di halaman belakang kampus. Namun sekali pun ia tak pernah berjumpa dengan makhluk halus di kampus.

Sudah pasti ia tidak ingin mengalami hal-hal magis yang pernah dirasakan oleh dosen-dosen seperti Pak Kusmedi, Aldo Nugroho, Wisnawan Wijaya, Ibu Dewi Pangesti, Elisabeth Nunce, Asifa Furoda, maupun Ayik Rosita. Mereka semua pernah menjumpai hal-hal yang misterius dan menyeramkan di kampus.

Apalagi Mita Setiani untuk semester ini banyak mengampu mata kuliah, mulai dari semester pertama hingga semester tujuh. Jadwalnya sangat padat. Mulai dari jadwal mengajar pagi sampai malam. Ruangan kuliahnya pun berganti-ganti. Karenanya ia berharap tidak menjumpai hal aneh di kampus, sehingga ia bisa fokus mengajar.

Pagi ini Mita mengajar mata kuliah Komunikasi Digital di ruang 7. Dua hal membuat Mita semangat mengajar. Pertama, mata kuliah ini sangat kekinian. Banyak isu menarik yang dapat dikaitkan dengan Komunikasi Digital. Kedua, ruang 7 merupakan kelas yang sangat nyaman untuk kuliah. Disain ruangan sangat artistik, fasilitas lengkap, seperti meja kursi baru, AC, dan smart TV.

Di mata mahasiswa, Mita dikenal sebagai dosen yang ramah, gaya bicaranya menarik; apalagi diwarnai dengan logat Sunda. Mita selalu mengajarkan kepada mahasiswa untuk selalu optimis dalam melakukan sesuatu. Apalagi di era digital ini, banyak tantangan yang akan dihadapi dalam kehidupan. Bagi mahasiswa, Mita Setiani adalah motivator yang tak henti memompa semangat untuk meraih cita-cita.

                                           ***

Pertemuan pagi ini membahas tentang efek digitalisasi pada generasi Alpha dan Beta nantinya. Saat tengah asyik menayangkan materi kuliah, tiba-tiba telepon genggam Mita berdering. Mita minta izin kepada mahasiswa untuk keluar ruangan menerima telepon. Dalam kontrak kuliah di awal pertemuan Mita memang mengizinkan siapa pun untuk menerima telepon, tetapi harus di luar kelas.

Dilihatnya nomor telepon di layar ponsel Mita. Tidak ada nama dalam daftar kontak telepon Mita. Awalnya Mita malas untuk menerima telepon itu. Biasanya itu telepon dari bank atau sales yang menawarkan produknya. Tapi kali ini Mita mencoba terima telepon itu.

“Hallo… halloo.. hallo..”. 

Berkali-kali Mita mengucapkan kata hallo, namun tak ada suara yang menyahut. Hanya terdengar seperti desir angin yang lewat. Mita kembali mengucapkan hallo. Siapa tahu ada gangguan jaringan telepon. Namun tetap saja tidak ada jawaban. Mita pun menghentikan panggilan masuk itu.

Sementara itu, di dalam kelas terjadi keanehan yang menegangkan. Tayangan slide materi kuliah di layar monitor tiba-tiba bergerak dan berubah sendiri. Bukan pokok bahasan tentang komunikasi digital yang muncul di monitor, tetapi gambar perempuan cantik berwajah none Belanda. Kulitnya putih, rambutnya pirang.

Semua mahasiswa terkejut. Begitu pun dengan Mita yang kembali ke dalam kelas. Dilihatnya slide materi kuliah berubah sendiri. Siapakah yang menggerakkan tayangan materi kuliah dari laptopnya? Apakah ada makhluk tak kasat mata yang memainkan laptop? Namun ketika Mita melihat monitor laptopnya, gambar perempuan itu tidak muncul. Yang ada materi kuliah. Pikiran Mita jadi mengarah pada obrolan dosen-dosen tentang hantu di kampus.

Mita dan mahasiswa bukan hanya terkejut. Mereka juga dicengkeram ketakutan. Gambar none Belanda yang ada di layar monitor mendadak bergerak. Perempuan pirang itu tersenyum dan melambaikan tangan kepada peserta kuliah. Namun sorot matanya tampak sayu, tidak seperi layaknya manusia biasa. Mita merinding. Bahkan ada mahasiswi yang berteriak histeris karena ketakutan.

Mita segera mencabut kabel layar monitor. Ia juga mematikan laptopnya. Gambar perempuan bule Belanda itu hilang dari pandangan. Namun suasana perkuliahan masih menegangkan. Mita mencoba menenangkan mahasiswa. Padahal dirinya sendiri diliputi ketakutan luar biasa. Baru pertama kali Mita mengalami hal misterius dalam perkuliahan.

Ternyata betul kata banyak orang. Kampus tempatnya mengajar memang angker. Bagaimana mungkin ada dosen tak kasat mata yang mengubah dan menggerakkan slide materi kuliah. Apalagi yang muncul bukan pokok bahasan materi kuliah, tetapi perempuan dengan dandanan bule Belanda di masa lalu.

Kuliah pun dilanjutkan kembali. Baru sepuluh menit kuliah berjalan, telepon genggam Mita kembali berdering. Kali ini dengan nomer yang berbeda, tetapi masih dengan kode+62. Artinya itu telepon dari wilayah Indonesia. Mita enggan untuk mengangkat; tetapi kembali berdering. Siapa tahu nomer dari rekan kerjanya di Jakarta yang belum disimpan. Ia pun segera mengangkatnya.

Mita terkaget bukan kepalang. Terdengar suara perempuan tertawa. Nada tawanya aneh. Tak pernah Mita mendengar suara tawa itu. Tidak ada teman maupun saudara Mita yang tertawa seperti itu. “Apakah itu suara perempuan Belanda yang tadi muncul di slide materi kuliah?” pikirnya. Ia pun mematikan telepon genggamnya.

Belum habis kekagetannya, terdengar suara riuh di kelas. Slide di monitor kembali berubah dari materi kuliah yang sedang ditayangkan. Kali ini bukan sosok perempuan yang muncul, tetapi gambar kerkhof atau kuburan Belanda di masa lalu. Mahasiswa dicekam ketakutan. Tak ingin suasana kuliah diteror hantu Belanda, Mita segera mematikan kembali laptopnya dan mengakhiri perkuliahan.

                                  ***

Peristiwa di ruang 7 bukan hanya terjadi sekali. Saat Mita mengajar mata kuliah lain, teror serupa kembali terjadi. Kuliah Dasar-Dasar Kehumasan baru berjalan 30 menit. Mita baru menayangkan beberapa slide materi kuliah. Telepon genggam Mita berdering. Ia ragu antara mematikan atau mengangkat telepon itu. Dengan perasaan berdebar, ia angkat telepon itu di luar kelas.

Bukan suara desiran angin, bukan pula suara perempuan. Sekarang yang terdengar suara anak-anak yang sedang bermain. Dari logat bicara yang Mita dengar, sepertinya bukan logat bahasa Indonesia maupun bahasa daerah di Indonesia. Mita menduga itu suara anak-anak dengan logat bahasa Belanda. Tidak mau dilanda kengerian, Mita mematikan telepon itu.

Suara gaduh terjadi di kelas. Mita segera masuk. Seperti pada kuliah sebelumnya, slide di monitor berubah sendiri. Power point tentang materi kehumasan berubah seolah ada dosen yang menggesernya. Kali ini tampak gambar anak-anak bule sedang bermain. Yang membuat mengerikan, gambar itu bergerak seperti film. Anak-anak berambut pirang sedang bermain-main di kuburan Belanda.

Mita tak habis pikir, mengapa ia selalu menjadi incaran makhluk halus dari Belanda itu. Ia tanyakan kepada dosen lain, apakah pernah mengalami kejadian aneh di ruang 7. Semua mengatakan tidak pernah. Semua dosen bilang ruang 7 tempat yang sejuk untuk kuliah. Tetapi mengapa Mita berkali-kali mengalami kejadian menyeramkan?

Mita mencoba menghubungi tantenya di Tasikmalaya. Tante Mita dikenal sebagai paraji atau dukun yang membantu proses persalinan secara adat di Sunda. Biasanya paraji diwariskan secara turun-temurun dan memiliki kemampuan supranatural. Mita menceritakan apa yang ia alami di kampus setiap kali mengajar di ruang 7. Padahal dosen-dosen lain tak pernah mendapat gangguan di ruang itu. Mendengar cerita Mita, tantenya tertawa.

“Ya pantas saja kamu diganggu. Itu hantu-hantu orang Belanda zaman dahulu ketika masa penjajahan,” kata tantenya.

“Tapi kenapa mereka muncul di ruang 7?” tanya Mita.

“Dulu ruang 7 itu adalah bekas kuburan orang Belanda,” jawab tantenya membuat Mita merinding.

“Kenapa hanya saya yang diganggu?” tanya Mita lagi. Tantenya lagi-lagi tertawa.     

“Apa kamu nggak ingat? Kakek buyut Mita kan ada yang menikah dengan none Belanda,” terang tantenya.  

Mita tertegun. Ia baru sadar bahwa kakek buyutnya ada yang beristri orang Belanda. Jadi ia masih ada garis keturunan Belanda. Tetapi apa hanya karena itu ia diganggu dalam perkuliahan?

“Bagaimana caranya agar saya tidak diganggu terus saat kuliah,” tanya Mita penasaran.

“Coba saja, setiap kuliah kamu bawa coklat. Taruh coklat itu di sudut ruang kuliah. Itu bukan sesaji. Bukan juga untuk mengusir roh halus orang Belanda itu. Coklat itu sebagai tanda kasih sayang kamu kepada mereka, sehingga mereka tidak mengganggumu,” jawab tantenya.

Mita terdiam sejenak. Ia tak ingin menyanggah apa yang dikatakan tantenya. Tidak juga ingin bertanya lagi. Meski Mita tak habis pikir, apa hubungan antara coklat dengan roh halus orang Belanda. Baginya yang penting adalah kuliah dengan tenang.

Mita menurut apa yang dikatakan tantenya. Saat kuliah berikutnya Mita membawa dua potong coklat yang ia beli di minimarket. Ditaruhnya coklat itu di sudut ruang kuliah. Benar kata tantenya. Sepanjang perkuliahan tidak ada dering di telepon genggamnya. Juga tidak ada gangguan pada slide materi kuliah di monitor.

Suasana perkuliahan berjalan dengan lancar dan tenang. Tak ada lagi ketakutan mahasiswa selama kuliah. Mita juga merasa lega. Meskipun setiap kuliah ia harus membawa coklat. Harapannya, semester depan dia tidak mengajar di ruang 7 lagi. [T]

  • Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Kampusku Sarang Hantu [10]: Cemburu pada Khodam Perempuan
Kampusku Sarang Hantu [9]: Mahasiswi yang Duduk di Pojok Kantin
Kampusku Sarang Hantu [8]: Mobil Bergoyang Tengah Malam
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam
Kampusku Sarang Hantu [2]: Suara Misterius di Ruang Dosen
Kampusku Sarang Hantu [3]: Kuntilanak Beterbangan di Proyek Bangunan
Kampusku Sarang Hantu [4]: Mahasiswa Kesurupan di Ruang Kuliah
Kampusku Sarang Hantu [5]: Tangisan dari Gudang Tua
Kampusku Sarang Hantu [6]: Akik Keramat Dosen
Kampusku Sarang Hantu [7]: Suara Printer dan Keran Air Mengucur
Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantucerita misterifiksihoror
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tukin Bathin: Mengurai Sengkarut Permasalahan Tukin Dosen

Next Post

METASTOMATA: Metamorphosis Manifesto Galang Kangin  di Neka Art Museum, Ubud

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Suara dari Dalam Lemari

by Chusmeru
September 17, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

BEKERJA sebagai arsitek muda freelance, Dara Ayunita terbiasa tidur larut malam. Itu tak menjadi masalah, meskipun ia masih tinggal di...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails
Next Post
METASTOMATA: Metamorphosis Manifesto Galang Kangin  di Neka Art Museum, Ubud

METASTOMATA: Metamorphosis Manifesto Galang Kangin  di Neka Art Museum, Ubud

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga
Esai

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co