20 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampusku Sarang Hantu [11]: Dosen Tak Kasat Mata

Chusmeru by Chusmeru
April 17, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

CERITA maupun kabar tentang kampus di kaki Gunung Slamet, Purwokerto, Jawa Tengah, yang angker dan menyeramkan bukan rahasia lagi. Semua dosen, pegawai, dan mahasiswa pernah mendengarnya. Hampir semua ruangan di kampus menyimpan misteri.

Begitu pula yang didengar Mita Setiani. Dosen cantik ini kerap mendengar suasana kampus yang menimbulkan bulu kuduk berdiri. Awalnya ia tak mempercayai itu. Meski saat kecil di daerah asalnya Tasikmalaya juga sering mendengar cerita tentang hantu yang bergentayangan di kampung.

Sampai saat ini Mita Setiani belum pernah mengalami kejadian aneh saat berada di kampus. Mungkin karena dia tidak punya bakat untuk melihat hantu. Konon, hanya orang-orang tertentu saja yang memiliki kepekaan untuk dapat melihat mahluk tak kasat mata.

Suasana seram memang ia rasakan ketika melewati sungai kecil di dalam kampus, saat gerimis sore hari dan ia harus mengajar di ruangan yang bersebelahan dengan pohon besar. Kadang ia juga merasakan aura yang kurang enak ketika berjalan di halaman belakang kampus. Namun sekali pun ia tak pernah berjumpa dengan makhluk halus di kampus.

Sudah pasti ia tidak ingin mengalami hal-hal magis yang pernah dirasakan oleh dosen-dosen seperti Pak Kusmedi, Aldo Nugroho, Wisnawan Wijaya, Ibu Dewi Pangesti, Elisabeth Nunce, Asifa Furoda, maupun Ayik Rosita. Mereka semua pernah menjumpai hal-hal yang misterius dan menyeramkan di kampus.

Apalagi Mita Setiani untuk semester ini banyak mengampu mata kuliah, mulai dari semester pertama hingga semester tujuh. Jadwalnya sangat padat. Mulai dari jadwal mengajar pagi sampai malam. Ruangan kuliahnya pun berganti-ganti. Karenanya ia berharap tidak menjumpai hal aneh di kampus, sehingga ia bisa fokus mengajar.

Pagi ini Mita mengajar mata kuliah Komunikasi Digital di ruang 7. Dua hal membuat Mita semangat mengajar. Pertama, mata kuliah ini sangat kekinian. Banyak isu menarik yang dapat dikaitkan dengan Komunikasi Digital. Kedua, ruang 7 merupakan kelas yang sangat nyaman untuk kuliah. Disain ruangan sangat artistik, fasilitas lengkap, seperti meja kursi baru, AC, dan smart TV.

Di mata mahasiswa, Mita dikenal sebagai dosen yang ramah, gaya bicaranya menarik; apalagi diwarnai dengan logat Sunda. Mita selalu mengajarkan kepada mahasiswa untuk selalu optimis dalam melakukan sesuatu. Apalagi di era digital ini, banyak tantangan yang akan dihadapi dalam kehidupan. Bagi mahasiswa, Mita Setiani adalah motivator yang tak henti memompa semangat untuk meraih cita-cita.

                                           ***

Pertemuan pagi ini membahas tentang efek digitalisasi pada generasi Alpha dan Beta nantinya. Saat tengah asyik menayangkan materi kuliah, tiba-tiba telepon genggam Mita berdering. Mita minta izin kepada mahasiswa untuk keluar ruangan menerima telepon. Dalam kontrak kuliah di awal pertemuan Mita memang mengizinkan siapa pun untuk menerima telepon, tetapi harus di luar kelas.

Dilihatnya nomor telepon di layar ponsel Mita. Tidak ada nama dalam daftar kontak telepon Mita. Awalnya Mita malas untuk menerima telepon itu. Biasanya itu telepon dari bank atau sales yang menawarkan produknya. Tapi kali ini Mita mencoba terima telepon itu.

“Hallo… halloo.. hallo..”. 

Berkali-kali Mita mengucapkan kata hallo, namun tak ada suara yang menyahut. Hanya terdengar seperti desir angin yang lewat. Mita kembali mengucapkan hallo. Siapa tahu ada gangguan jaringan telepon. Namun tetap saja tidak ada jawaban. Mita pun menghentikan panggilan masuk itu.

Sementara itu, di dalam kelas terjadi keanehan yang menegangkan. Tayangan slide materi kuliah di layar monitor tiba-tiba bergerak dan berubah sendiri. Bukan pokok bahasan tentang komunikasi digital yang muncul di monitor, tetapi gambar perempuan cantik berwajah none Belanda. Kulitnya putih, rambutnya pirang.

Semua mahasiswa terkejut. Begitu pun dengan Mita yang kembali ke dalam kelas. Dilihatnya slide materi kuliah berubah sendiri. Siapakah yang menggerakkan tayangan materi kuliah dari laptopnya? Apakah ada makhluk tak kasat mata yang memainkan laptop? Namun ketika Mita melihat monitor laptopnya, gambar perempuan itu tidak muncul. Yang ada materi kuliah. Pikiran Mita jadi mengarah pada obrolan dosen-dosen tentang hantu di kampus.

Mita dan mahasiswa bukan hanya terkejut. Mereka juga dicengkeram ketakutan. Gambar none Belanda yang ada di layar monitor mendadak bergerak. Perempuan pirang itu tersenyum dan melambaikan tangan kepada peserta kuliah. Namun sorot matanya tampak sayu, tidak seperi layaknya manusia biasa. Mita merinding. Bahkan ada mahasiswi yang berteriak histeris karena ketakutan.

Mita segera mencabut kabel layar monitor. Ia juga mematikan laptopnya. Gambar perempuan bule Belanda itu hilang dari pandangan. Namun suasana perkuliahan masih menegangkan. Mita mencoba menenangkan mahasiswa. Padahal dirinya sendiri diliputi ketakutan luar biasa. Baru pertama kali Mita mengalami hal misterius dalam perkuliahan.

Ternyata betul kata banyak orang. Kampus tempatnya mengajar memang angker. Bagaimana mungkin ada dosen tak kasat mata yang mengubah dan menggerakkan slide materi kuliah. Apalagi yang muncul bukan pokok bahasan materi kuliah, tetapi perempuan dengan dandanan bule Belanda di masa lalu.

Kuliah pun dilanjutkan kembali. Baru sepuluh menit kuliah berjalan, telepon genggam Mita kembali berdering. Kali ini dengan nomer yang berbeda, tetapi masih dengan kode+62. Artinya itu telepon dari wilayah Indonesia. Mita enggan untuk mengangkat; tetapi kembali berdering. Siapa tahu nomer dari rekan kerjanya di Jakarta yang belum disimpan. Ia pun segera mengangkatnya.

Mita terkaget bukan kepalang. Terdengar suara perempuan tertawa. Nada tawanya aneh. Tak pernah Mita mendengar suara tawa itu. Tidak ada teman maupun saudara Mita yang tertawa seperti itu. “Apakah itu suara perempuan Belanda yang tadi muncul di slide materi kuliah?” pikirnya. Ia pun mematikan telepon genggamnya.

Belum habis kekagetannya, terdengar suara riuh di kelas. Slide di monitor kembali berubah dari materi kuliah yang sedang ditayangkan. Kali ini bukan sosok perempuan yang muncul, tetapi gambar kerkhof atau kuburan Belanda di masa lalu. Mahasiswa dicekam ketakutan. Tak ingin suasana kuliah diteror hantu Belanda, Mita segera mematikan kembali laptopnya dan mengakhiri perkuliahan.

                                  ***

Peristiwa di ruang 7 bukan hanya terjadi sekali. Saat Mita mengajar mata kuliah lain, teror serupa kembali terjadi. Kuliah Dasar-Dasar Kehumasan baru berjalan 30 menit. Mita baru menayangkan beberapa slide materi kuliah. Telepon genggam Mita berdering. Ia ragu antara mematikan atau mengangkat telepon itu. Dengan perasaan berdebar, ia angkat telepon itu di luar kelas.

Bukan suara desiran angin, bukan pula suara perempuan. Sekarang yang terdengar suara anak-anak yang sedang bermain. Dari logat bicara yang Mita dengar, sepertinya bukan logat bahasa Indonesia maupun bahasa daerah di Indonesia. Mita menduga itu suara anak-anak dengan logat bahasa Belanda. Tidak mau dilanda kengerian, Mita mematikan telepon itu.

Suara gaduh terjadi di kelas. Mita segera masuk. Seperti pada kuliah sebelumnya, slide di monitor berubah sendiri. Power point tentang materi kehumasan berubah seolah ada dosen yang menggesernya. Kali ini tampak gambar anak-anak bule sedang bermain. Yang membuat mengerikan, gambar itu bergerak seperti film. Anak-anak berambut pirang sedang bermain-main di kuburan Belanda.

Mita tak habis pikir, mengapa ia selalu menjadi incaran makhluk halus dari Belanda itu. Ia tanyakan kepada dosen lain, apakah pernah mengalami kejadian aneh di ruang 7. Semua mengatakan tidak pernah. Semua dosen bilang ruang 7 tempat yang sejuk untuk kuliah. Tetapi mengapa Mita berkali-kali mengalami kejadian menyeramkan?

Mita mencoba menghubungi tantenya di Tasikmalaya. Tante Mita dikenal sebagai paraji atau dukun yang membantu proses persalinan secara adat di Sunda. Biasanya paraji diwariskan secara turun-temurun dan memiliki kemampuan supranatural. Mita menceritakan apa yang ia alami di kampus setiap kali mengajar di ruang 7. Padahal dosen-dosen lain tak pernah mendapat gangguan di ruang itu. Mendengar cerita Mita, tantenya tertawa.

“Ya pantas saja kamu diganggu. Itu hantu-hantu orang Belanda zaman dahulu ketika masa penjajahan,” kata tantenya.

“Tapi kenapa mereka muncul di ruang 7?” tanya Mita.

“Dulu ruang 7 itu adalah bekas kuburan orang Belanda,” jawab tantenya membuat Mita merinding.

“Kenapa hanya saya yang diganggu?” tanya Mita lagi. Tantenya lagi-lagi tertawa.     

“Apa kamu nggak ingat? Kakek buyut Mita kan ada yang menikah dengan none Belanda,” terang tantenya.  

Mita tertegun. Ia baru sadar bahwa kakek buyutnya ada yang beristri orang Belanda. Jadi ia masih ada garis keturunan Belanda. Tetapi apa hanya karena itu ia diganggu dalam perkuliahan?

“Bagaimana caranya agar saya tidak diganggu terus saat kuliah,” tanya Mita penasaran.

“Coba saja, setiap kuliah kamu bawa coklat. Taruh coklat itu di sudut ruang kuliah. Itu bukan sesaji. Bukan juga untuk mengusir roh halus orang Belanda itu. Coklat itu sebagai tanda kasih sayang kamu kepada mereka, sehingga mereka tidak mengganggumu,” jawab tantenya.

Mita terdiam sejenak. Ia tak ingin menyanggah apa yang dikatakan tantenya. Tidak juga ingin bertanya lagi. Meski Mita tak habis pikir, apa hubungan antara coklat dengan roh halus orang Belanda. Baginya yang penting adalah kuliah dengan tenang.

Mita menurut apa yang dikatakan tantenya. Saat kuliah berikutnya Mita membawa dua potong coklat yang ia beli di minimarket. Ditaruhnya coklat itu di sudut ruang kuliah. Benar kata tantenya. Sepanjang perkuliahan tidak ada dering di telepon genggamnya. Juga tidak ada gangguan pada slide materi kuliah di monitor.

Suasana perkuliahan berjalan dengan lancar dan tenang. Tak ada lagi ketakutan mahasiswa selama kuliah. Mita juga merasa lega. Meskipun setiap kuliah ia harus membawa coklat. Harapannya, semester depan dia tidak mengajar di ruang 7 lagi. [T]

  • Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Kampusku Sarang Hantu [10]: Cemburu pada Khodam Perempuan
Kampusku Sarang Hantu [9]: Mahasiswi yang Duduk di Pojok Kantin
Kampusku Sarang Hantu [8]: Mobil Bergoyang Tengah Malam
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam
Kampusku Sarang Hantu [2]: Suara Misterius di Ruang Dosen
Kampusku Sarang Hantu [3]: Kuntilanak Beterbangan di Proyek Bangunan
Kampusku Sarang Hantu [4]: Mahasiswa Kesurupan di Ruang Kuliah
Kampusku Sarang Hantu [5]: Tangisan dari Gudang Tua
Kampusku Sarang Hantu [6]: Akik Keramat Dosen
Kampusku Sarang Hantu [7]: Suara Printer dan Keran Air Mengucur
Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantucerita misterifiksihoror
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tukin Bathin: Mengurai Sengkarut Permasalahan Tukin Dosen

Next Post

METASTOMATA: Metamorphosis Manifesto Galang Kangin  di Neka Art Museum, Ubud

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Bermain dengan Jin Tengah Malam

by Chusmeru
May 7, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

MEMILIKI seorang anak yang sehat, cerdas, dan saleh tentu membahagiakan bagi Krisna Malika dan Riana Dewanti. Anak pertama mereka, Arkanda...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

by Kim Young Soo
May 3, 2026
0
Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

DI CANDI GEDONG SONGO Di lereng bukittercurah sinar matahari siang di khatulistiwapada ubun-ubun anemiaterdapat stupa batu yang terlupakanmenghapuskan bayangannya dengan...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
0
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

Read moreDetails

Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

by Wayan Esa Bhaskara
April 18, 2026
0
Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

Irama Nada Hujan aroma tanah selepas hujansisakan nafasnya yang gemetardingin pagikekecewaan yang bersandar yang tak pernah dicapai mataharitak berikan waktu...

Read moreDetails

Tanda Merah di Paha

by Chusmeru
April 16, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

TERLAHIR dengan paras yang cantik sangat disyukuri Paramita Laksmi. Tubuhnya yang ramping dengan rambut hitam lebat membuat penampilannya selalu memikat...

Read moreDetails
Next Post
METASTOMATA: Metamorphosis Manifesto Galang Kangin  di Neka Art Museum, Ubud

METASTOMATA: Metamorphosis Manifesto Galang Kangin  di Neka Art Museum, Ubud

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menulis: Perspektif Pengalaman Pribadi
Esai

Sudut Pandang, Cinta, dan Manusia yang Terlalu Cepat Menghakimi

DUNIA modern melahirkan manusia-manusia yang semakin pandai berbicara, tetapi perlahan kehilangan kemampuan memahami. Hari ini, orang terlalu cepat membuat kesimpulan...

by Emi Suy
May 19, 2026
Ungkapan ‘Sakit Hati dan Patah Hati’ Nadiem Memantik Simpati Publik
Bahasa

Ungkapan ‘Sakit Hati dan Patah Hati’ Nadiem Memantik Simpati Publik

Pernahkah Anda mendengar seseorang kecewa dan mengeluh bahwa ia sedang patah hati kepada sebuah negara? Saya sendiri kerap mendengar orang...

by I Made Sudiana
May 19, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

Setelah Tari Pembuka, Apa yang Tersisa dari Diplomasi Budaya Indonesia?

JUMAT malam, 8 Mei 2026, di Mactan Expo, Cebu, Filipina, dalam jamuan santap malam KTT ke-48 ASEAN, budaya tampil lagi...

by Early NHS
May 19, 2026
Ketika ‘Legong Kembang Ura’ Menyapa Guwang untuk Pertama Kalinya
Panggung

Ketika ‘Legong Kembang Ura’ Menyapa Guwang untuk Pertama Kalinya

“Ini tarian paling susah yang pernah dipelajari sejauh ini.” Kalimat itu meluncur pelan dari Ni Mas Ayu Rasitha setelah usai...

by Dede Putra Wiguna
May 19, 2026
Wisata Orang Bali: ‘From Healing To Eling’
Khas

Wisata Orang Bali: ‘From Healing To Eling’

DALAM salah satu bukunya, I Gde Aryantha Soethama menulis bahwa orang Bali tidak punya tradisi berwisata ala Barat. Berwisata dalam...

by I Nyoman Tingkat
May 19, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Emansipasi Wanita di Baduy  [Satu Sudut Pandang]

KESETARAAN gender telah lama dikumandangkan, namun secara pasti entah mulai abad keberapa muncul kesadaran kolektif tentang tuntutan kesetaraan gender oleh...

by Asep Kurnia
May 19, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Artikulasi atau Bisik-Bisik, Penting Mana?

SIDANG pembaca yang budiman, Hari Buruh kemarin, yang hampir kita lupakan, sebenarnya menyimpan satu momen kecil yang lebih menarik daripada...

by Petrus Imam Prawoto Jati
May 19, 2026
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada
Esai

Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

Kita telah rajin merekam panggung, tetapi belum cukup serius merekam proses penciptaannya. Menjelang Pesta Kesenian Bali 2026, denyut kesenian Bali...

by I Gusti Made Darma Putra
May 19, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Mengapa Agama Kita Mengabarkan Lebih Banyak Berita Buruk?

Sebuah paradoks tentunya. Agama, mestinya membawa hal-hal baik, bahkan meski jika itu sebuah ilusi seperti yang dikatakan oleh Karl Marx....

by Putu Arya Nugraha
May 19, 2026
Patinget Lepas Ida Betara Lingga, Dipuncaki Bedah Buku Karya Ida Pedanda Gede Made Gunung: 508 Pupuh Sampaikan Pesan Menjaga Bali
Budaya

Patinget Lepas Ida Betara Lingga, Dipuncaki Bedah Buku Karya Ida Pedanda Gede Made Gunung: 508 Pupuh Sampaikan Pesan Menjaga Bali

Ketika geguritan Dwijendra Stawa dan Astapaka Stawa ditembangkan, suasana sore itu berubah menjadi hening. Tanpa tersadari, orang-orang yang duduk sejak...

by Nyoman Budarsana
May 19, 2026
Dramatari Arja Klasik Giri Nata Kusuma Hidup Kembali, Menjadi Duta Kota Denpasar Tampil di PKB 2026
Panggung

Dramatari Arja Klasik Giri Nata Kusuma Hidup Kembali, Menjadi Duta Kota Denpasar Tampil di PKB 2026

WARGA Banjar Bukit Buwung¸ Desa Kesiman Petilan, Kecamatan Denpasar Timur memiliki semangat untuk membangkitkan kembali kesenian dramatari arja yang sudah...

by Nyoman Budarsana
May 19, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

‘Lock Accounts, Shaken Trust’: Perlunya Transparansi Komunikasi Perbankan

Freeze & Fret! Guys, tiba-tiba rekening kamu ada yang diblokir?? Nah, kebijakan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) terkait...

by Fitria Hani Aprina
May 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co