4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampusku Sarang Hantu [3]: Kuntilanak Beterbangan di Proyek Bangunan

Chusmeru by Chusmeru
January 16, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

TIDAK mudah mendapatkan pekerjaan yang bisa mencukupi kebutuhan rumah tangga di saat ini. Banyak lowongan pekerjaan ditawarkan, namun yang mendaftar lebih banyak daripada jumlah lowongan pekerjaan itu.

Apalagi bagi Bejo Suradi yang hanya lulusan sekolah menengah pertama (SMP). Sebagian besar lowongan pekerjaan ditujukan bagi lulusan sarjana maupun diploma perguruan tinggi. Paling rendah lulusan sekolah menengah atas (SMA). Nyaris tak pernah ada instansi pemerintah maupun swasta yang membuka lowongan pekerjaan untuk lulusan SMP.

Ayah Bejo hanya buruh tani milik seorang perangkat di desanya. Ibunya juga hanya penjual sayur keliling di desa. Bejo tak mampu melanjutkan sekolah ke SMA. Selain masalah biaya sekolah, Bejo juga merasa sudah bosan harus belajar terus di sekolah. Apalagi SMA di kota letaknya sangat jauh dari desanya.

Bejo memilih untuk mewarisi pekerjaan ayahnya, menjadi buruh. Namun ia memilih untuk menjadi buruh bangunan. Awalnya memang Bejo tak paham soal seluk-beluk bangunan. Ia banyak belajar dari pamannya yang kebetulan menjadi mandor bangunan dari satu proyek ke proyek lainnya.

Menjadi buruh bangunan tentu saja bukan cita-cita Bejo. Keadaanlah yang mengantarkannya menggeluti pekerjaan yang tidak memerlukan ijazah ini. Meskipun bekerja sebagai buruh bangunan, Bejo menyukainya. Apalagi ia masih bujangan. Upah yang ia terima cukup jika hanya untuk makan dan jajan sehari-hari. Termasuk untuk membeli sebungkus rokok murahan di warung.

Kota demi kota sudah Bejo kunjungi untuk menjadi buruh bangunan. Ia pulang ke rumahnya di Cirebon sebulan sekali. Hari-harinya lebih banyak dihabiskan di kota tempat ia bekerja. Sedangkan untuk tidur, Bejo hanya menggelar tikar di lantai bangunan yang sedang ia kerjakan. Awalnya memang tidak nyaman. Namun kelamaan Bejo menjadi terbiasa, dan tidur dengan nyenyak.

***

Paman Bejo mendapat borongan pembangunan proyek kampus di kota Purwokerto. Bejo kembali diajak untuk menjadi buruh bangunan. Ia tidak sendirian. Teman-teman buruh yang lain berasal dari Brebes, Tegal, dan Purwokerto. Karenanya Bejo merasa senang bekerja dengan teman dari berbagai daerah. Mereka biasanya saling bercerita saat istirahat siang atau menjelang tidur malam.

Paman Bejo pernah menasehatinya agar bekerja dengan serius. Jangan meninggalkan sembahyang, dan selalu berdoa sebelum bekerja dan sebelum tidur malam. Menurut pamannya, lokasi proyek bangunan di kampus kali ini termasuk angker. Bangunan bekas gedung perpustakaan itu akan dijadikan pusat perkuliahan lima lantai. Banyak makhluk halus yang sering berkeliaran di sekitaran kampus.

Benar saja, saat Bejo hendak terlelap, tiba-tiba dia dikejutkan dengan sekelebat bayangan putih di atas beton proyek bangunan. Bejo berusaha mengamati dengan seksama. Bukan hanya sekali bayangan itu melintas tepat di atas tempatnya tidur. Bayangan itu seperti sengaja mondar-mandir.

“Apa yang terbang di atas ?“ pikirnya.

Awalnya ia menduga itu adalah bayangan tiang pancang bangungan yang memantul terkena sorot lampu mobil yang lewat di jalan sebelah kampus. Namun bayangan itu berkali-kali melintas di atas.

Bejo bangun berdiri. Sementara Pardi dan Yono rekan kerjanya sudah tertidur pulas. Ia tak ingin mengganggu mereka yang kecapaian bekerja seharian. Selain itu Bejo juga hanya ingin memastikan apa sosok yang beterbangan itu. Belum lagi terjawab rasa penasaran Bejo, terdengar suara perempuan yang melengking keras.

“Hiii…hiii…hiii…” Bejo dengan jelas mendengar suara itu. “Hahh… kuntilanak!” teriaknya.

Bejo segera membangunkan Pardi dan Yono.

“Bangun… bangun.. ada Kuntilanak terbang..!”, kata Bejo sambil menggoyang-goyang tubuh temannya. Pardi dan Yono terkejut. Di tengah kesadarannya yang belum penuh, mereka melompat berdiri berbarengan.

“Mana kuntilanak?!” tanya Pardi.

“Itu di atas atap bangunan,” jawab Bejo sambil menunjuk ke arah atas.

Pardi dan Yono melihat ke atas. Kuntilanak itu masih terbang kesana-kemari sambil tertawa cekikikan. Mereka tak habis pikir, dari mana Kuntilanak itu datang? Mengapa di kampus yang akan didirikan bangunan megah ini ada kuntilanaknya?

Bejo berdiri sambil membuka telapak tangannya. Ia komat-kamit membaca ayat kursi yang ia percayai dapat mengusir hantu. Sementara Pardi yang dikenal pemberani justru mengacungkan kepalan tangannya ke atas.

“Hai…, Kuntilanak, sundel bolong… pergi kamu..!” katanya menantang.

Kuntilanak itu bukannya pergi, malah tertawa keras ke arah mereka. Pardi merasa dongkol. Sementara Yono merasa ketakutan. Ia berdiri di belakang Bejo yang masih berdoa. Seumur hidup baru kali ini Yono melihat langsung kuntilanak. Biasanya ia hanya menyaksikan hantu perempuan itu di film-film horor.

Cukup lama kuntilanak itu beterbangan di atas proyek bangunan. Hal itu membuat Bejo dan teman-temannya kelelahan mengusirnya, selain juga ketakutan di malam hari. Apalagi wajah kuntilanak itu tampak rusak, hancur, dan sangat menyeramkan.

Setelah berkali-kali Bejo melafalkan doa, kuntilanak itu pergi sambil tertawa nyaring. Suasana malam dan sedikit gelap lantaran minimnya penerangan membuat buruh bangunan itu gemetaran. Rasa kantuk yang begitu kuat mengantarkan mereka untuk kembali tidur dengan perasaan tak tenang.

***

Kuntilanak terbang di area proyek bangunan bukan hanya terjadi sekali atau dua kali saja. Hampir setiap hari kuntilanak itu datang, terutama ketika mereka sedang bersiap diri untuk tidur malam. Bukan hanya terbang dan tertawa cekikikan. Kuntilanak itu kadang juga menjatuhkan material bangunan yang ada di lokasi proyek.

Malam Jumat menjadi hari di mana kuntilanak itu seringkali muncul. Seperti malam ini, Kuntilanak itu datang dengan diawali dengan bau busuk di area proyek bangunan. Begitu menyengat seperti bau bangkai.

Bejo, Pardi, dan Yono sudah tertidur pulas ketika tiba-tiba mereka mencium bau busuk di atas proyek bangunan. Kuntilanak itu menggantung dengan kepala menghadap ke bawah seperti kelelawar. Matanya seperti menyala, menatap ketiga buruh bangunan itu. Saat mereka bangun, kuntilanak itu tertawa keras sambil menampakkan lidahnya yang merah.

Tidak terlihat dengan jelas apakah kuntilanak itu berlubang di punggungnya. Sebab, menurut cerita banyak orang, kuntilanak punggungnya berlubang. Mereka tidak mempermasalahkan itu. Bagi mereka yang penting makhluk yang biasa disebut sundel bolong itu bisa segera pergi dari proyek bangunan.

Seperti biasa, Pardi bangun dan mencoba mengusir kuntilanak itu. Namun bukannya kabur, kuntilanak itu kembali terbang dari satu tiang beton bangunan ke tiang beton lainnya. Sambil sesekali ia meraih besi cor di atas bangunan untuk dijatuhkan.

Pardi semakin berang. Ia mengambil potongan bambu yang ada di proyek bangunan. Kata orang, kuntilanak takut pada potongan bambu, karena tak mau punggungnya tertancap bambu. Pardi tak peduli benar atau tidak omongan orang. Kali ini ia ingin mengujinya sendiri.

“Hai.. kuntilanak jelek… pergi kamu.. kalau nggak mau aku tusuk pakai bambu ini..!” teriak Pardi sambil mengacung-acungkan bambu dengan gerakan menusuk.

Benar saja. Kuntilanak itu segera pergi keluar area proyek bangunan. Namun sebelum kabur, hantu perempuan itu masih sempat tertawa panjang. Seolah sengaja mengejek mereka. Pardi pun melemparkan bambu yang dipegangnya ke arah Kuntilanak. Sekejap kuntilanak pun lenyap.

***

Bejo mengadu kepada pamannya yang mandor proyek bangunan di kampus. Ia bercerita tentang hantu kuntilanak yang beterbatangan di atas bangunan. Bejo berharap pamannya dapat mengatasi, karena menganggu tidurnya. Selain itu, teman-teman Bejo juga merasa tidak nyaman bekerja jika setiap malam diganggu hantu perempuan itu.

Paman Bejo hanya tersenyum mendengar cerita itu. Katanya hal itu biasa terjadi pada proyek yang berasal dari bekas bangunan tua. Hantu yang bergentayangan di proyek bangunan adalah para penghuni di bangunan yang lama; atau bisa juga lokasi bangunan itu memang awalnya tempat angker.

Esoknya, paman Bejo membawa Mbah Karto, “orang pintar”  atau paranormal ke proyek bangunan di kampus. Mbah Karto di kampungnya dikenal sebagai dukun yang mampu mengusir roh halus atau hantu. Biasanya dilakukan melalui ritual layaknya seorang dukun.

Sebelum melakukan ritual, Mbah Karto mengamati seluruh area proyek bangunan. Kemudian ia mengeluarkan bungkusan dari dalam tas kresek. Isinya bunga atau kembang tiga rupa yang terdiri dari mawar, kenanga, dan cempaka. Sejurus kemudian ia membakar kemenyan.

“Saya akan pindahkan dia ke tempat lain. Bukan mengusirnya,” kata Mbah Karto sebelum membacakan mantra. Ia lantas secara khusyuk membaca mantra dalam bahasa Jawa. Sesaat kemudian terdengar suara perempuan tertawa keras dari atas bangunan. Persis seperti yang Bejo dengar pada malam itu. Kuntilanak berambut panjang yang terbang kian-kemari di proyek bangunan.

“Ayo ikut aku ke hutan Limpakuwus,“ kata Mbah Karto pada kuntilanak itu. Tidak terdengar jawaban apa pun. Namun suara tertawa itu sekejap berhenti. Mbah Karto menyampaikan kepada Bejo dan pamannya akan membawa kuntilanak itu pindah rumah ke bebukitan Limpakuwus, Baturraden, di sebelah utara kampus.

Bejo percaya saja kepada Mbah Karto. Apalagi dukun itu memang memiliki pengalaman yang banyak tentang perhantuan. Dan itu terbukti. Malam-malam berikutnya, Bejo dan kawan-kawannya tidak lagi melihat dan mendengar suara kuntilanak itu. Kalau pun ia terbangun tengah malam; itu karena ia digigit nyamuk yang beterbangan di seputar proyek bangunan.

  • Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam
Kampusku Sarang Hantu [2]: Suara Misterius di Ruang Dosen
Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantucerita bersambungcerita misterifiksi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Fenomena Pelari “Kalcer” : FOMO atau Kebutuhan?

Next Post

Cosu Toori III : Dunia Cosplay, Ruang Fantasi dan Kreatifitas Para Wibu di Bali Utara

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Suara dari Dalam Lemari

by Chusmeru
September 17, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

BEKERJA sebagai arsitek muda freelance, Dara Ayunita terbiasa tidur larut malam. Itu tak menjadi masalah, meskipun ia masih tinggal di...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails
Next Post
Cosu Toori III : Dunia Cosplay, Ruang Fantasi dan Kreatifitas Para Wibu di Bali Utara

Cosu Toori III : Dunia Cosplay, Ruang Fantasi dan Kreatifitas Para Wibu di Bali Utara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co