23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampusku Sarang Hantu [2]: Suara Misterius di Ruang Dosen

Chusmeru by Chusmeru
January 13, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

RINTIK gerimis belum juga reda. Pelataran kampus masih tampak basah. Ruangan dosen sudah mulai sepi. Satu per satu dosen kembali ke rumah seiring dengan datangnya senja. Namun tidak demikian dengan Elisabeth Nunce. Pekerjaan yang masih numpuk membuatnya masih bertahan di ruang kerjanya.

Berulang kali suami dan anak-anaknya menelpon. Mereka menanyakan kenapa Nunce belum juga pulang ke rumah. Mereka khawatir terjadi sesuatu pada Nunce. Ketika diberitahu alasannya, mereka pun maklum, dengan harapan Nunce tidak pulang terlalu malam; mengingat mendung di langit semakin tebal.

Ruang kerja Nunce tidak terlalu besar. Ada tumpukan buku literatur di atas meja. File kabinet berisi surat-surat penting. Nunce tidak begitu tertarik untuk menata ruang kerjanya. Baginya yang penting bersih, sejuk, dan nyaman untuk bekerja.

Sebetulnya Nunce bisa saja menyelesaikan pekerjaannya di rumah. Namun ia tak yakin bisa melakukannya. Saat di rumah alih-alih mau mengerjakan tugas, ia justru disibukkan dengan pekerjaan domestiknya. Anak-anaknya pasti akan mengganggunya dengan berbagai permintaan yang memaksanya harus turun tangan. Sedangkan suaminya lebih asyik bermain game di ponselnya saat di rumah.

Menyelesaikan pekerjaan di kantor hingga menjelang malam sebetulnya bukan hal baru bagi Nunce. Kadang ia juga memberikan waktu sore hari kepada mahasiswanya untuk bimbingan skripsi maupun tesisnya. Alasannya sama. Membimbing mahasiswa di rumah banyak gangguan oleh anak-anaknya yang ribut bermain, berlarian di dalam rumah.

Seperti sore ini, mahasiswa bimbingan skripsi baru saja keluar dari ruang kerjanya. Mata Nunce sudah mulai terasa mengantuk diterpa dinginnya AC di ruang dosen. Nunce memutuskan membuat segelas kopi untuk mengusir kantuknya. Agak sedikit malas ia harus ke dapur sendirian. Banyak cerita dari para dosen bahwa pantry atau dapur di ruang jurusan ada hantunya. Sejenak ia hendak membatalkan membuat kopi, namun rasa capai di tubuh sepertinya harus diredakan dengan segelas kopi.

***

Kopi itu masih panas. Nunce tak segera meminumnya. Dibiarkannya beberapa saat hingga panasnya berkurang. Kebiasaan minum kopi sudah Nunce lakukan sejak ia masih kuliah dulu. Kopi dan musik sering menjadi teman belajarnya.

Nunce kembali melanjutkan pekerjaannya. Tugas mata kuliah Komunikasi Pembangunan yang dibuat mahasiswanya tinggal beberapa yang belum ia baca. Perlahan Nunce menyeruput kopi yang dibuatnya. Kopi itu merupakan oleh-oleh dari Aceh yang dibawa Mita Setiani, rekan kerjanya.

Baru saja satu teguk Nunce mencicipi kopinya, terdengar suara derap langkah di selasar ruang dosen. Nunce mengira pasti Mita Setiani yang melintas. Suara langkah orang itu semakin keras dan mendekati ruang kerjanya. Kini suara itu seperti langkah kaki yang terseret-seret di lantai. Tentu menyeramkan mendengar suara seperti itu di ruangan sepi senja hari.

“Bu Mita ya…?” tanya Nunce ke arah suara itu. Tidak ada yang menyahut. Ia penasaran, dan mencoba menengok keluar ruangan. Tak ada tanda-tanda orang melintas.

Nunce kembali masuk ruangan. Baru saja hendak duduk kembali, terdengar suara orang membuka pintu ruang sebelah. Itu adalah ruangan Sri Hastuti, rekan kerjanya yang sudah senior. Nunce agak heran, tidak seperti biasanya Sri Hastuti ke kampus senja hari.

“Ibu Sri.., tumben ke kampus…?” kata Nunce ke ruangan sebelah. Tidak ada jawaban apa pun. Namun dari dalam ruangan Sri Hastuti terdengar seperti orang sedang membuka-buka buku.

Merasa penasaran, Nunce menghampiri ruang Sri Hastuti. Ia buka pintu ruangannya. Tidak tampak seorang pun di ruangan itu. Buku-buku di atas meja Sri Hastuti juga masih tersusun rapi. Bulu kuduk Nunce mulai merinding. Jangan-jangan suara itu adalah hantu yang seperti diceritakan dosen-dosen.

Nunce tidak ambil pusing. Meski sedikit ketakutan, ia tetap kembali meneruskan pekerjaannya. Kopi di gelas sudah mulai dingin. Senja juga sudah tergantikan malam. Satu jam lagi pulang, begitu pikir Nunce saat melihat arlojinya sudah menunjukkan angka tujuh.

Tiba-tiba, braaakk…! Seperti barang yang terjatuh dari atas meja. Kali ini datang dari ruang Ketua Jurusan, Edward Santo Sonara. Tentu saja Nunce terkejut. Untuk apa Pak Edward malam-malam ke kampus? Apakah ada sesuatu yang ingin diambilnya? Ataukah mau kerja lembur malam? Belum selesai pertanyaan-pertanyaan Nunce itu, terdengar suara orang menguap di ruang Ketua Jurusan.

Nunce kembali membuka ruangannya, menengok ke ruangan Ketua Jurusan.

“Pak Edward..?” panggil Nunce ke ruangan Ketua Jurusan.

Sama seperti kejadian sebelumnya, tidak ada orang yang menjawab Nunce. Kali ini Nunce memberanikan diri membuka ruangan pak Edward yang tidak terkunci.

Betapa kaget Nunce. Barang-barang di meja Pak Edward jatuh berserakan di lantai. Dengan jelas Nunce melihat buku, map, spidol, dan beberapa vandel berjatuhan seperti habis diacak-acak. Nunce segera menutup ruangan pak Edward. Kali ini bukan hanya bulu kuduknya yang berdiri, namun keringat dingin mulai menetes dari keningnya. Bergegas ia masuk ke ruangannya sendiri.

Nunce berharap kejadian di ruangan pak Edward adalah yang terakhir kali ia saksikan. Tetapi ternyata tidak. Kali ini ia dengar suara ketukan jemari tangan di atas meja. Nunce mencoba menerka dari mana suara itu berasal. Ruangan Isnaeni, Ketua Laboratorium Komunikasi.

Suara ketukan jari di atas meja Isnaeni makin cepat dan semakin keras, seperti mengikuti irama lagu. Isnaeni memang termasuk dosen yang suka mendengarkan musik ketika bekerja di ruangan. Namun Nunce tak yakin itu suara ketukan jari Isnaeni. Nunce tahu persis, Isnaeni termasuk dosen yang lebih personal. Andai pun ia mendengarkan lagu di laptopnya, itu hanya untuk didengar sendiri dengan volume yang lirih.

Detak jantung Nunce mulai meningkat debarnya. Mengapa ia harus mengalami suara-suara misterius, mulai dari derap langkah di selasar ruang dosen hingga ke beberapa ruangan dosen. Ia segera mengambil tisu untuk mengelap keringat dingin di dahinya. Nunce memutuskan untuk tidak menghampiri ruangan Isnaeni. Nyali keberaniannya mulai surut.

Perlahan ia habiskan minum kopinya. Tumpukan tugas di mejanya segera dibereskan. Ia memutuskan untuk pulang ke rumah saja. Kampus telah membuatnya tidak nyaman bekerja di malam hari. Ia berpikir, kalau pun dia teruskan pekerjaannya, tentu akan muncul suara-suara misterius yang lainnya.

Sambil berjingkat pelan, ia tutup pintu ruangan. Berjalan lambat meninggalan ruangan melewati selasar ruang dosen. Suara ketukan di meja ruangan Isnaeni belum juga berhenti, meski mulai terdengar pelan. Nunce tak ingin menoleh ke belakang,  ke selasar ruang dosen. Takut ia akan melihat sosok hantu yang sering jadi bahan perbincangan di kalangan dosen.

***

Hari ini Nunce berangkat ke kampus agak siang. Semalam ia sulit memejamkan mata. Kejadian di selasar ruang dosen membuatnya sulit tidur. Masih terngiang di telinga dan terbayang di benaknya suara-suara aneh di kampus tempat kerjanya.

Nunce semalam tidur larut malam. Setiba di rumah masih banyak pekerjaan domestik yang harus ia selesaikan. Setumpuk piring bekas makan anak-anaknya masih berantakan di tempat cuci. Sebetulnya ia merasa kesal kepada suaminya yang lebih memilih asyik dengan ponselnya ketimbang membantunya mencuci piring. Tapi Nunce dengan sisa tenaganya tetap mengerjakan, karena memang ia yang mengambil keputusan untuk tidak memiliki asisten rumah tangga.

Suasana di kampus belum begitu ramai. Baru beberapa dosen yang datang. Sementara Wahyono, pegawai tata usaha di jurusan sedang mengetik sesuatu di komputer. Nunce menghampiri Wahyono untuk menanyakan siapa saja dosen yang telah hadir.

“Pak Edward sudah datang, Mas?” tanya Nunce pada Wahyono.

“Belum, Bu, baru Pak Heri dan Pak Aldo,” jawab Wahyono.

“Antar saya ke ruangan pak Edward ya mas…,” pinta Nunce kepada Wahyono. Ia penasaran dengan kejadian kemarin malam.

Ditemani Wahyono, Nunce menuju ruangan pak Edward. Ia buka pintu ruangan Pak Edward. Tidak ada barang-barang di meja Pak Edward yang berantakan. Semua tertata dengan rapi. Padahal semalam Nunce menyaksikan dengan matanya sendiri kondisi ruangan Pak Edward yang porak-poranda.

Nunce tertegun. Ia tak habis pikir, siapa yang membuat ruangan Pak Edward berantakan. Ia juga masih penasaran, siapa yang melangkah di selasar ruang dosen. Semua serba misterius. Nunce tak ceritakan semua ini kepada Wahyono. Juga tidak kepada pak Heri dan dan Aldo. Ia simpan semua untuk dirinya sendiri. (Bersambung)

  • Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam
Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantucerita bersambungcerita misterifiksihorror
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Konformitas Orang Baduy dalam Penampilan

Next Post

Palebon Jero Gede Batur Alitan Dilaksanakan 24 Januari 2025

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Kemping yang Mencekam

by Chusmeru
October 15, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

LIBUR semester telah tiba. Mahasiswa dan anak sekolah dapat bersantai. Agung Santoso berencana memanfaatkan libur itu bersama keluarga. Ia ingin...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Suara dari Dalam Lemari

by Chusmeru
September 17, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

BEKERJA sebagai arsitek muda freelance, Dara Ayunita terbiasa tidur larut malam. Itu tak menjadi masalah, meskipun ia masih tinggal di...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails
Next Post
Palebon Jero Gede Batur Alitan Dilaksanakan 24 Januari 2025

Palebon Jero Gede Batur Alitan Dilaksanakan 24 Januari 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co