24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Konformitas Orang Baduy dalam Penampilan

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
January 8, 2025
in Esai
Kelecung ”Eco Village” Tabanan: Menjawab Keresahan Gempuran Investor

Ahmad Sihabudin

MELANJUTKAN filosofi perilaku konformitas orang Baduy, konformitas dalam bentuk penampilan akan terlihat pada pakaian dan tampilan keseharian orang Baduy, serta permukiman atau rumah orang Baduy.

Pakaian

Hasil pengamatan, pakaian warga Baduy Luar terdiri dari tiga bagian: (1) ikat kepala, (2) baju, dan (3) kain sarung atau calana komprang, sejenis celana pendek berukuran sebatas lutut. Warna khas pakaian warga Baduy Luar adalah hitam dan biru tua bermotif batik atau bergaris putih. Kain pakaian yang digunakan biasanya datang dari luar Baduy, seperti dari pasar Rangkasbitung, Tanah Abang Jakarta atau daerah lain yang kemudian dijahit dan ditenun sendiri.

Pakaian disebut jamang komprang atau mirip dengan baju orang tangtu (Baduy Dalam) hanya saja berkancing dan biasa memakai dua lapis, bagian dalam berwarna putih alami, sedangkan bagian luar berwarna hitam atau biru tua. Calana komprang yang dikenakan laki-laki Baduy Luar juga berwarna hitam atau biru tua.

Adapun pakaian perempuan Baduy Luar adalah kebaya berwarna biru dan kain dengan warna yang sama. Bahan pakaiannya juga diperoleh dari luar daerah. Namun, pakaian pada orang panamping baik lelaki maupun perempuan, hampir serupa dengan pakaian yang digunakan oleh masyarakat pedesaan di Banten umumnya.

Mengenai pakaian orang Baduy khususnya orang Baduy Dalam (Orang Tangtu) menurut Mulyanto, Prihartanti, Moordiningsih (2006:12), dan hasil pengamatan dan wawancara sebagai tambahan informasi, pakaian  Baduy Dalam berwarna putih dan hitam. Bahannya dibuat sendiri dari serat daun pelah yang ditenunkan oleh warga panamping. Lelaki tangtu menutupi tubuhnya dengan tiga bagian, yaitu: (1) ikat kepala berwarna putih (kecoklatan) yang sering disebut ikeut, telekung atau romal terbuat dari kain berbentuk segitiga, (2) baju berwarna putih, dan (3) sejenis kain sarung dengan panjang sekitar 30-40 cm, berwarna biru tua.

Baju yang dikenakan berlengan panjang, seperti kaos, tanpa kerah dan kancing. Sejenis kain sarung yang berfungsi sebagai penutup tubuh bagian bawah disebut aros, biasa dikenakan dengan cara dililitkan di pinggang kemudian diikat memakai tali dari kain, mirip ikat pinggang dengan ukuran sampai lutut. Lelaki Baduy Dalam (tangtu) tidak mengenakan celana dalam.

Adapun pakaian perempuan tangtu terdiri dari (1) kemben ”sejenis selendang” yang digunakan untuk menutup tubuh bagian atas atau baju kaos, dan (2) lunas atau kain untuk menutupi tubuh bagian bawah. Seringkali di kalangan orang tua, hanya menggunakan kain lunas saja. Perempuan tangtu juga tidak mengenakan pakaian dalam.

Rumah warga Baduy yang seragam menghadap ke Utara dan ke Selatan | Foto Dok.Penulis

Pada umumnya cara berpakaian orang Baduy, baik Baduy Luar maupun Baduy Dalam, adalah sama seragam Baduy Luar menggunakan corak warna hitam dan biru tua bermotif batik atau bergaris putih. Baduy Dalam berwarna putih dan hitam. Meskipun ada orang Baduy Luar ada yang sudah menggunakan pakaian seperti bukan orang Baduy tapi jumlahnya sangat sedikit.

Keseragaman orang Baduy dalam berpakaian ini dilakukan karena:

  • Merupakan ajaran dari leluhur harus seragam.
  • Ciri khas kelompok, kalau tidak seragam nanti tertukar antara orang Baduy dengan orang non Baduy dan intinya jangan sampai menyerupai penampilan orang luar.
  • Warna hitam-putih sebagai lambang dari waktu malam dan siang. Artinya manusia itu jangan terlalu banyak pikiran, sebab alam saja hanya ada dua pilihan: malam atau siang; ada senang, ada susah; ada gelap ada terang, dan itu abadi.
  • Baik orang tangtu maupun panamping tidak beralas kaki, hal ini dilakukan karena:  Pertama, ketentuan mutlak leluhur jadi harus seragam. Kedua, kalau pakai alas kaki, nanti menghilangkan ciri khas Baduy. Ketiga, kondisi geografis dapat membuat alas kaki cepat putus, dan karena hutan, pakai alas kaki juga percuma karena kaki akan tetap kotor. Keempat, merasakan alam karena menggambarkan keseimbangan dan kelestarian alam.

Makna hidup orang Baduy yang sederhana namun memiliki kualitas penghayatan yang dalam, kemudian menjadi satu panduan perilaku komunal.  Pada saat bersamaan mengarah pada kesetaraan dan saling menghargai antara sesama. Adanya dorongan untuk mempertahankan identitas kelompok menjadi kekuatan munculnya perilaku konformitas.   

 Rumah dan Pemukiman Orang Baduy

Rumah merupakan tempat mereka berteduh, melakukan aktivitas keluarga, mendidik anak, dan untuk melakukan pertemuan. Berdasarkan pengamatan, rumah orang Baduy nampak seragam. Semua terdiri dari kayu, bambu, kiray “daun rumbia”, ijuk pohon aren, rotan dan batu yang diperoleh dari alam sekitar. (Sihabudin, 2009; Mulyanto, et.al. 2006).

Pakaian warga Baduy Dalam | Foto Dok.Asep Kurnia

Hasil pengamatan rumah-rumah masyarakat Baduy berbentuk panggung, oleh karenanya terdapat kolong antara lantai rumah dan tanah dengan ketinggian antara 50-70 cm. Rumah orang Baduy besarnya sekitar 7X5 meter pada umumnya terdiri dari tiga bagian, yaitu sosoro dan tepas ’bagian luar’, imah dan musung ’bagian tengah’, serta parak ’bagian dapur’. Semuanya disekat dengan bilik. Ciri khasnya rumah orang Baduy:

(1) selalu menghadap utara-selatan,

 (2) tidak menggunakan tembok, kaca,

(3) tidak ada jendela. Untuk sirkulasi udara dan penerang ruangan, hanya terdapat lubang kecil pada bilik dinding rumahnya,

(4) tidak memiliki pagar pembatas halaman rumah,

(5) di tangtu atau Baduy Dalam, lahan yang digunakan membangun rumah tidak diratakan terlebih dahulu sehingga konstruksinya disesuaikan dengan struktur tanah, dan

(6) di panamping atau Baduy Luar, tanah yang digunakan untuk membangun rumah, diratakan terlebih dahulu.(Mulyanto, 2006:12).

  Pemakaian paku dilarang dan tanah tidak boleh diratakan, karena Baduy berprinsip melestarikan alam, maka segalanya harus mengikuti kehendak alam, semua bentuk rumah seragam karena agar tidak ada perbedaan antara si kaya dan si miskin, jadi semuanya sama. Adapun teknis pembuatan rumah dikerjakan secara gotong royong.

Menurut Mulyanto (2006:15), orang Baduy menganggap hidup harus dijalani dengan sederhana, semampunya, dan sewajarnya. Pertama, hidup adalah untuk mencari kebahagian, bukan untuk mengejar materi. Kedua, tercukupi kebutuhan fisik; makan cukup, pakaian ada, dan bisa berbakti kepada orang tua. Ketiga, untuk mencari bahagia maka harus jujur, benar, dan pintar. Pintar saja tapi tidak benar, hal itu tidak indah.

Oleh karenanya jangan ada syirik, licik, jangan memfitnah, jangan berbohong, jangan selingkuh. Percuma hidup kalau hanya jadi tukang menipu dan menindas orang lain. Saling harga menghargai di antara keluarga inti, sesama anggota kelompok Komunitas Baduy Luar, dan kepala kampung. Terjadi di lingkungan KAT (Komunitas Adat Terpencil) Baduy Luar. Saling menghargai adalah salah satu norma nilai budaya yang berpengaruh terhadap perilaku masyarakat Baduy.

Pakaian warga Baduy Luar | Foto Dok.Asep Kurnia

Menurut Mulyanto, et.al (2006:15), Sihabudin (2009:75) konsep kebersamaan, dan hubungan antar sesama manusia bagi orang Baduy penting untuk menjujung tinggi harkat dan martabat. Rumah, pakaian dan pakaian sehari-hari menunjukan kesamaan. Tidak ada perbedaan antara “penguasa” dan “rakyat biasa” dan tidak ada perbedaan pula antara yang “kaya” dan yang “miskin”.

Tidak ada perselisihan dan permusuhan. Sebagaimana nilai kebersamaan di bawah ini: teu meunang pajauh-jauh leungkah pahareup-hareup ceurik pagaet-gaet lumpat (tidak boleh berjauh-jauh langkah berhadapan nangis berdekatan lari) undur nahan tembong pundung datang nahan tembong tarang (pergi jangan perlihatkan kekecewaan, datang jangan perlihatkan kesombongan.

  • Tulisan ini masih berlanjut ke bagian berikutnya, tentang Konformitas dalam Bentuk Pandangan.

Sumber Bacaan:

Adimihardja, Kusnaka. 2007. Dinamika Budaya Lokal. Bandung. CV. Indra Prahasta dan Pusat Kajian LBPB.

________.2000. Orang Baduy di Banten Selatan: Manusia Air Pemelihara Sungai, Jakarta. Jurnal Antropologi Indonesia, Th. XXIV, No. 61, Januari-April 2000, FISIP Universitas Indonesia.

Djoewisno, MS., 1987. Potret Kehidupan Masyarkat Baduy. Jakarta: Khas Studio.

Garna, Judistira, K. 1993a.  Masyarakat Baduy di Banten., dalam Koentjaraningrat (ed) Masyarakat Terasing di Indonesia. Jakarta: Depsos RI, Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial, dan Gramedia.

Iskandar, Johan. 1992. Ekologi Perladangan di Indonesia. Studi Kasus Dari Daerah Baduy Banten Selatan, Jawa Barat. Jakarta: Penerbit Djambatan.

Mulyanto , Nanik Prihartanti, dan Moordiningsih. 2006. “Perilaku Konformitas Masyarakat Baduy”. http: //eprints.ums.ac.id/650/1/1 PERILAKU KONFORMITAS Baduy.doc. download 19 Januari 2009.

Sihabudin, Ahmad. 2009. Persepsi KAT Baduy Luar Terhadap Kebutuhan Keluarga di Kabupaten Lebak Banten. Disertasi. Sekolah Pascasarjana IPB. Bogor.

  • BACA esai-esai tentang BADUY
  • BACA artikel lain dari penulis AHMAD SIHABUDIN
Filosofi Perilaku Konformitas Orang Baduy
Kalender Adat dan ”Kolenjer” — [Bagian 1]: Panduan Kehidupan Etnis Baduy
”Ngeceng”, Tradisi Lisan Humor Betawi — [Bagian 1]: Bentuk dan Struktur
Riwayat “Menak” Banten dan Asal-Usul Banten Versi Orang Baduy
Tags: bantenJawa Baratmasyarakat adatSuku Baduy
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bali Menapak 2025, Kehilangan TMD, Kehilangan TEMAN

Next Post

Kampusku Sarang Hantu [2]: Suara Misterius di Ruang Dosen

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Kampusku Sarang Hantu [2]: Suara Misterius di Ruang Dosen

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co