23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kalender Adat dan ”Kolenjer” — [Bagian 1]: Panduan Kehidupan Etnis Baduy

Asep Kurnia by Asep Kurnia
December 27, 2024
in Esai
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

Asep Kurnia

SETIAP wilayah dan kelompok masyarakat pasti memiliki aturan yang dibakukan sebagai penuntun dan penata laksana pola kehidupan, panduan, dan rujukan berkehidupan yang sekaligus berfungsi sebagai pengatur hubungan dan perilaku sosialnya.

Keberadaan hukum atau aturan pastinya  tidak ditentukan oleh besar dan kecilnya suatu komunitas. Setiap kelompok masyarakat sudah pasti membutuhkan aturan untuk mengatur dan melaksanakan pola kehidupannya  dalam  rangka menjamin   keberlangsungan hidup kelompoknya.

Komunitas adat terpencil di Indonesia terus berjuang untuk mendapatkan perlindungan hukum berupa undang-undang keadatan. Itu semua bukti nyata bahwa kelompok masyarakat yang berada wilayah hukum NKRI memerlukan jaminan  kepastian hukum bagi keberlangsungan hidup kesukuannya.

Untuk menaunginya paling terendah atau paling  sederhananya bisa dibuatkan berupa Peraturan Daerah (Perda). Seperti Suku Baduy misalnya, yang sudah memiliki payung hukum dengan telah diterbitkannya  Perda No 32 Tahun 2001  tentang Perlindungan Atas Tanah Ulayat Masyarakat  Baduy, yang diperkuat oleh Surat Keputusan Bupati No 590/kp.233/huk/2002 tentang Penetapan Batas-batas Detail Hak Ulayat Masyarakat Baduy di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak  tanggal  16 Juli  2002.

Di dalam sebuah organisasi apakah itu pemerintahan, lembaga, atau organisasi yang namanya perusaahan, kita sering mengenal  yang namanya Kalender Kegiatan  atau Program Kerja tahunan, atau kalau di kampus ada Kalender Akademik. Biasanya berisi panduan, tuntunan dan sekaligus tuntutan tentang bagaimana ragam kegiatan di berbagai aspek kegiatan kehidupan yang akan dan harus dilakukan oleh anggota organisasinya atau  pejabat negara bersama  masyarakat.

Setiap bulan pasti akan diagendakan berbagai jadwal tentang apa yang pantas dilakukan sesuai dengan bidang garapannya dan target yang harus dicapai. Pada komunitas adat atau kelompok etnis yang keberadaannya telah  diakui negara, mereka memiliki seperangkat  tuntutan  hukum adat dan budaya  yang tentunya berbeda satu sama lainnya (adanya keragaman).

Keberadaan hukum adat di masing-masing komunitas itu tiada lain dan tiada bukan adalah untuk menjamin keberlangsungan hidup dan kehidupan kelompoknya agar tidak punah dihantam oleh arus perubahan zaman.

Kalender Adat

Baduy merupakan etnis yang keberadaannya tetap ajeg dan konsisten menjalankan atau melaksanakan segala amanat leluhurnya dan tegas menegakkan hukum adat. Ia tetap eksis penuh percaya diri, tidak serta-merta terpengaruh oleh proses pembombardiran pemoderenan yang begitu gencar menjelajah wilayah pedesaannya. Meskipun penduduk Baduy Luar yang berbatasan langsung dengan masyarakat luar Baduy beberapa warga sudah menggunakan alat komunikasi smartphone untuk menjalankan usahanya.

Mereka di tanah ulayatnya yang hanya berjarak sekitar 100-110 KM dari Kota Metropolitan Jakarta sebagai ibu kota Negara Indonesia sampai saat ini tetap damai, aman , nyaman, tertib dan harmonis menjalankan, dan melaksanakan pola kehidupan adatnya, tetapi tetap intens berinteraksi dengan dunia luar.

Tingkat keterpengaruhan atau perubahan pola kehidupan adat oleh budaya para pengunjung relatif kecil. Mereka begitu terampil menyeleksi atau mengadopsi pola hidup modern yang akan bedampak negatif pada model kehidupan adatnya. Mereka itu sepertinya kaku tetapi fleksibel, tertutup tapi terbuka, atau sebaliknya; terbuka tapi tetap tertutup. Mereka membuka interaksi dengan pihak dunia luar, tetapi mereka bisa membatasinya tanpa membuat pihak lain tersinggung.

Lalu muncul pertanyaan : mengapa Baduy begitu hebat dan kuat bertahan dengan identitas kesukuan yang tetap terjaga, padahal wilayahnya begitu rentan untuk dipengaruhi oleh modernisasi karena seluruh wilayahnya dikelilingi dan dibatasi oleh 6 wilayah kecamatan yang penduduknya sudah berbudaya modern?

Pertanyaan sederhana itu menjadi penting untuk saya sampaikan, alih-alih berbagi pengalaman sebagai individu yang tinggal di tapal batas Baduy, dan kerap kali mendampingi istri mengurus kesehatan warga Baduy, baik Baduy Dalam maupun Baduy Luar. Pada kesempatan lain saya juga ingin mengisahkan ”interaksi Baduy dengan kesehatan”.

Tentunya jawaban untuk pertanyaan di atas bisa dibedah dari berbagai sudut pandang keilmuan. Dari sekian fakta yang penulis gali, salah satu jawaban yang bisa penulis sampaikan adalah bahwa di etnis Baduy memiliki semacam konstitusi baku, dan sangat mengikat ke dalam dan ke pihak luar adat yang di dalamnya berisi tentang runtutan atau rincian dan tahapan lengkap pola kehidupan adat. Dan itu dijadikan panduan pokok dalam menuntun kehidupan masyarakat adat untuk kurun waktu satu tahun. Konstitusi itu bernama: “Kalender Adat – Penanggalan Adat dan Kolenjer”.

Kalender adat suku Baduy disebut Kolenjer yang sudah digunakan sejak dahulu kala. Kolenjer terbuat dari kayu atau bambu dalam bentuk lempengan. Biasanya ditandai dengan ukiran berbentuk garis dan titik. Namun sampai saat ini belum ada catatan yang pasti sejak kapan Kolenjer digunakan masyarakat Desa Kanekes, Baduy.

Nama Bulan di Kalender Adat Baduy

Baduy selalu menyimpan sesuatu yang misteri dan unik. Selain ratusan tahun selalu menutup diri dari interaksi dengan dunia luar, menghindari dan menjauhkan diri dari pengaruh pola-pola kehidupan modern, Baduy juga salah satu kesukuan yang menganut budaya lisan seperti yang mereka katakan, “di baduy mah ngan aya Lisan di nagara aya tulisan, di baduy mah aya Carek di nagara aya Coret, di baduy mah ngurus bathinna di nagara ngurusan lahirna..” (di Baduy cuma ada lisan/ucapan, di negara ada tulisan;  di Baduy cuma ada petunjuk, di negara ada aturan tertulis;  di Baduy ngurus bathinnya /doa,  di negara mengurus lahiriah/materi). 

Dampak nyata dari budaya lisan tersebut  tentunya jika kita atau pihak luar (researcher) ingin mengetahui tentang silsilah kesukuan mereka dan atau ingin menggali aspek  sosial budaya, agama/kepercayaan mereka, serta segala informasi dan kerahasiaan tentang siapa Baduy dengan segala proses sosial kehidupannya hanya bisa didapat atau digali melalui  ngobrol, observasi dan  wawancara dengan para pemuka adat dan masyarakat. Mereka kesehariannya terkadang  sulit ditemui, karena sibuk dengan tugas melaksanakan berbagai kegiatan adat (ritual) yang sudah tersusun di dalam kalender adat.

Informasi atau kesejarahan mereka tidak didokumentasikan seperti etnis lain yang sudah adaptif dengan budaya tulisan. Maka, jangan kaget sampai saat  di dunia ilmu pengetahuan kita sulit menemukan literatur tentang suku Baduy yang autentik dan originalitas, ilmiah, kredibel, berkualitas serta akademis. Contoh kecil, seperti melacak bagaimana menentukan perhitungan penanggalan kalender adat yang dijadikan panduan kehidupan sehari-hari mereka sangatlah sulit.

Seperti kita ketahui, dalam sistem penanggalan umum kita mengenal ada dua sistem yang dijadikan acuan yaitu sistem Masehi dan Hijriah . Kalender adat suku Baduy memiliki kesamaan, tetapi juga keunikan bila dibandingkan dengan kalender Masehi maupun  kalender tahun Hijriah (kalender Islam). Sama sama memiliki jumlah bulan sebanyak 12, tetapi beda nama dan beda memulai perhitungan awal tahunnya.

Muharram, Safar, Rabiul Awal, Rabiul Akhir, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawal, Dzulqa’dah, Dzulhijjah adalah nama bulan pada kalender Islam. Januari – Desember nama bulan pada kalender Masehi.

Susunan nama bulan di penanggalan adat  Baduy adalah : “Safar, Kalima,  Kanem,, Kapitu, Kadalapan, Kasalapan, Kasapuluh, Hapit Lemah, Hapit Kayu, Kasa, Karo dan  Katiga”. Dalam bulan-bulan tersebut diisi dan terisi secara lengkap serta tersusun oleh segala kegiatan adat untuk selama satu tahun.

 Seluruh kegiatan adat (ritual) yang tercantum di kalender adat tersebut sangat mengikat dan wajib dilakukan oleh masyarakatnya tanpa terkecuali. Kalender adat itu menjadipatokan dan acuan pokok-pokok kehidupan mereka. [T][Bersambung]

  • BACA esai-esai tentang BADUY
  • BACA esai-esai lain dari penulis ASEP KURNIA
Kembalinya Sistem Pemerintahan Adat Baduy
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Riwayat “Menak” Banten dan Asal-Usul Banten Versi Orang Baduy
Baduy, Penolakan Internet, dan Pariwisata
Tags: bantenJawa Baratkalendermasyarakat adatSuku Baduy
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Merawat Tradisi Bumbu Bali Lewat Parade Ngelawar di Denpasar Festival 2024

Next Post

Haulu dan Kisah Pilu Para Perajin Perahu Kayu dari Pulau Poteran

Asep Kurnia

Asep Kurnia

Pemerhati Baduy, tinggal di tapal batas Baduy

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Haulu dan Kisah Pilu Para Perajin Perahu Kayu dari Pulau Poteran

Haulu dan Kisah Pilu Para Perajin Perahu Kayu dari Pulau Poteran

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co