3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Haulu dan Kisah Pilu Para Perajin Perahu Kayu dari Pulau Poteran

Jaswanto by Jaswanto
December 27, 2024
in Persona
Haulu dan Kisah Pilu Para Perajin Perahu Kayu dari Pulau Poteran

Haulu, perajin perahu kayu dari Pulau Poteran, Madura, saat istirahat mengerjakan kapal slerek di Pengambengan | Foto: tatkala.co/Jaswanto

SEPERTI Nuh, Haulu memotong balok-balok mahoni, membelah dan menjadikannya papan tebal yang banyak. Lalu menyusunnya satu per satu dengan ketekunan dan kesabaran yang terukur. Kemudian, sebentar saja, papan-papan itu membentuk dinding kapal yang kokoh. Ya, pria paruh baya dengan kretek yang tak kunjung padam itu sedang membuat sebuah kapal slerek yang legendaris.

Di pinggir Pantai Ketapang Muara, di wilayah Jembrana, Bali, di ujung setapak di tengah kebun terbengkalai yang penuh lamtoro dan katang-katang, ia dan dua rekannya sibuk menyusun dan melengkungkan papan, membuat pasak, menyerut, dan sesekali memotong kayu menggunakan gergaji mesin. Suara mesin pemotong itu kejar-kejaran dengan debur ombak Samudera Hindia yang ribut.

Pagi itu terik sekali. Dan nyaris tak ada angin berembus. Haulu kini memasah pelipis dinding kapal. Dan di sebelah timur tempatnya memasah, beberapa papan sedang dipanggang dan diberi batu pemberat untuk dilengkungkan. “Itu khusus untuk dinding,” terang Haulu, lamat-lamat, di tengah bising suara alat serut listrik.

Haulu sedang membuat kapal kayu untuk seorang tajir yang namanya beken di Pengambengan, Negara, Jembrana, Bali—kawasan yang mayoritas penduduknya menggantungkan hidup kepada lautan Samudra Hindia. Lemuru (Sardinella longiceps)—ikan bersirip kipas dalam genus Sardinella yang banyak ditemukan di timur Samudera Hindia dan di barat Samudera Pasifik itu—adalah emas bagi penduduk Pengambengan. Mereka “menambangnya” dari perut laut yang dalam sampai jauh ke Jimbaran dan sekitarnya.

“Kira-kira kami sudah mengerjakannya selama satu setengah bulan,” ujar Haulu, atau akrab dipanggil Ulu, dengan logat Madura-nya yang khas, sesaat setelah ia menyalakan sebatang kretek pabrikan. Mereknya cukup terkenal.

Dua bulan ke depan, kata Ulu lagi, kapal slerek pesanan Haji Ali—juragan kapal di Pengambengan—ini bakal rampung. Dengan dimensi panjang 22 meter, lebar 5 meter, dan tinggi 2 meter, perahu setengah jadi—yang dikerjakan satu setengah bulan sebelumnya—itu tinggal finishing di beberapa bagian.

Saduki sedang mengerjakan kapal slerek di Pengambengan | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Kali ini, Ulu dibantu dua karibnya, Ersan dan Saduki. Mereka bertiga seumuran, 50 tahunan atau lebih-kurang sedikit barangkali, dan berasal dari pulau yang sama, Talango. Hanya saja, Saduki lahir di desa yang berbeda dari Ulu dan Ersan. Saduki lahir di Sang; sedangkan Ulu dan Ersan tumbuh dan berkembang di Kombang. Namun, sekali lagi, kedua desa tersebut sama-sama terletak di Kecamatan Talango, Pulau Poteran, Sumenep, Jawa Timur.

Ulu, Saduki, dan Ersan, sama-sama belajar membuat perahu sejak kecil, turun-temurun. Sejak dulu, tanah di mana mereka lahir memang terkenal sebagai lumbung perajin perahu. Maka wajar jika tangan-tangan mereka begitu terampil dan cekatan. Mereka tidak mengenal gambar teknis atau sekadar sketsa sebagai panduan karena semua dibuat berdasarkan ingatan akan ajaran dari orang tua.

Papan kayu mahoni yang tebal, seperti ranting kecil di hadapan mereka. Enak saja mereka membuat lengkungan yang nyaris presisi. “Semua ada ukurannya, rumusnya, dan hitungannya sendiri. Hanya tukang yang tahu itu semua,” terang Saduki sambil membuat pasak—yang banyak.

Benar. Kapal slerek memang minim besi. Paku besi pun jumlahnya tidak lebih banyak daripada pasak kayu. Dan bukti tertulis tertua yang berhubungan dengan penggunaan pasak kayu/bambu dalam pembuatan perahu/kapal di Nusantara berasal dari sumber Portugis awal abad ke-16 Masehi. Dalam sumber itu disebutkan bahwa perahu-perahu niaga orang Melayu dan Jawa yang disebut Jung (berkapasitas lebih dari 500 ton) dibuat tanpa sepotong besipun di dalamnya. Untuk menyambung papan maupun gading-gading hanya digunakan pasak kayu. Cara pembuatan perahu dengan teknik tersebut masih tetap ditemukan di Nusantara, seperti yang terlihat pada perahu-perahu niaga dari Sulawesi dan Madura yang kapasitasnya lebih dari 250 ton.

Pulau Poteran—yang kecil mengambang di Selat Madura dan berbentuk seperti kepala ayam tanpa paruh itu—memang terkenal dengan perajin perahunya. “Khususnya dari Desa Kombang,” ucap Ersan, menegaskan.

Ersan dan Saduki sedang melengkungkan papan mahoni yang akan digunakan sebagai dinding slerek | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Para artigiano perahu-kapal Poteran memiliki garapan yang tak hanya indah dari segi bentuk, pula dipercaya memiliki semacam kemagisan. Perahu atau kapal yang lahir dari tangan mereka, dipercaya dapat membawa keberkahan tersendiri.

“Dari kakek saya mendapat doa khusus sebelum atau saat membuat kapal,” terang Ulu saat istirahat. Ia belajar membuat perahu-kapal dari sang kakek, saat belum lulus SD. Dan sang kakek mewariskan mantra-mantra turun-temurun supaya perahu atau kapal buatannya dapat berlayar sebagaimana mestinya dan membawa keberkahan kepada si pemilik. “Tapi doanya rahasia,” sambungnya sembari tertawa.

Selain di Kombang di Pulau Poteran, Pasongsongan dan sekitarnya juga dikenal sebagai salah satu tempat pembuatan perahu di kawasan pesisir utara Madura. Sedikit ke timur, di daerah Ambunten, juga terdapat lokasi pembuatan perahu tradisional. Titik lain yang dikenal sebagai tempat pembuatan perahu ada di Desa Slopeng, Kecamatan Dasuk, dan juga masih di wilayah Sumenep.

Dunia maritim telah berkibar di kawasan tersebut sejak lama, sebagaimana tergambar dalam bait lagu “Tanduk Majeng” ciptaan R Amirudin Tjitraprawira tahun 1940-an. “… Ngapote wak lajereh etangale/reng majeng lantona lah pade mole/…/Duh monajeling odikna oreng majengan/Aabental ombek sapok angen salanjenggah”, (“…Layar putihnya mulai kelihatan/nelayan tentu sudah pada pulang/…/duh kalau dilihat hidupnya pencari ikan/ berbantal ombak berselimutkan angin selamanya”).

Pasak yang digunakan dalam pembuatan kapal slerek | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Di Madura terdapat beragam perahu-kapal, dari yang ukurannya besar, hingga yang kecil berupa sampan. Sulaiman BA dalam bukunya Perahu Madura menyebutkan, setidaknya ada 36 jenis perahu di Madura, mulai dari jukung, sampan, hingga perahu. Jukung masih dibedakan lagi dalam beberapa varian, mulai jukung pajangan, gambringan, hingga tengkongan. Sementara sampan ada belasan jenis, di antaranya sampan patetedan, pote, pakesan, dan tambangan. Adapun beberapa perahu, di antaranya padduwang, janggolan, dan lete’ gole’an.

Dan slerek, kapal kayu yang sering digunakan nelayan Pengambengan dan Muncar di Banyuwangi. Di Sumenep, berbahan kayu kutat, camplung, dan mahoni, dilengkapi empat buah mesin, kapal nelayan dengan lambung yang besar itu dibanderol mendekati harga satu unit bus double decker baru, yakni nyaris Rp 1 setengah miliar. Harganya jauh di atas perahu biasa yang hanya puluhan hingga ratusan juta.

“Tapi kalau buat langsung di sini [Pengambengan], untuk tukangnya ini borongan. Kami borong antara 80-125 juta,” Ketut Sumajaya, pengurus kapal Bintang Grup milik Haji Ali Nuri, berkata.

Bintang Grup sering menggunakan jasa Ulu, dkk. Bukan saja karena orang Pengambengan sendiri nyaris tak ada yang bisa membuat kapal slerek (mungkin bisa membuat bentuknya, tapi belum tentu dapat berlayar), pula garapan orang seberang ini dinilai istimewa.

“Kami sering meminta Pak Ulu untuk membuat kapal,” terang Sumajaya sembari melemparkan senyum kepada Ulu yang masih sibuk menyerut dinding slerek menggunakan pasah elektrik. “Garapannya bagus,” sambung pria paruh baya berkacamata itu saat ditanya alasannya meminta Ulu, dkk, membuat kapal-kapal Bintang Grup.

Dengan menyeberangi Selat Madura ke Pelabuhan Kalianget, para seniman perahu-kapal ini mencapai wilayah yang menjorok di pinggiran pesisir Samudra Hindia, Bali bagian barat itu, setelah sebelumnya menempuh perjalanan nyaris 12 jam melewati jalur Pantura. “Mereka sengaja kami datangkan ke sini [Pengambengan], karena kalau membeli kapal langsung dari sana [Sumenep], ongkosnya lebih mahal,” ujar Sumajaya.

Tahun ini Bintang Grup membuat tiga slerek sekaligus. Satu sudah berlayar, satu lagi baru kelihatan bentuknya, dan satu lagi lantainya saja belum tampak, masih sekadar dasaran. Ketiga kapal tersebut dikerjakan pihak yang berbeda, meski semua artigianonya berasal dari Sumenep. Satu kapal yang sudah kelihatan bentuknya, dikerjakan kelompok Haulu. Ia, bersama Ersan dan Saduki, sudah malang-melintang membuat perahu-kapal, khususnya di Jawa Timur dan Bali.

Sebagai Nadi Kehidupan

Meski tampak besar uang yang mereka dapat dalam sekali borongan membuat sebuah slerek, tapi sebenarnya tidak demikian. Katakanlah 125 juta adalah nominal borongan yang diberikan pemilik kapal kepada tukang selama pengerjaan kapal kurang lebih tiga bulanan, setelah kepotong konsumsi, dll, menurut Ulu, mereka hanya mendapat uang 40 ribu per hari. “Kalah sama kuli bangunan,” Ulu berkata sambil tertawa. Padahal, sambungnya, pembuat kapal pekerjaannya lebih berat daripada itu. “Ini kayu berat semua,” lanjutnya.

Jika sedang sepi garapan perahu-kapal (pesanan perahu-kapal kayu sudah tidak banyak), di kampung, Ulu hanya bisa mengais rongsokan (sampah) di pinggir-pinggir pantai. Ia menjadi pemulung, atau kadang ikut tukang bangunan menjadi kuli proyek. Hidup di pulau kecil macam Poteran memang tidak mudah. Tanah yang kering, tandus, dan sempit membuat semuanya tampak sulit.

Dan apa yang dialami Ulu juga tak jauh berbeda dengan Saduki. Di Banyuwangi, tempat tinggalnya sekarang, kalau tidak ada pesanan membuat perahu-kapal, Saduki juga bekerja menjadi kuli bangunan. Barangkali Ersan terlihat lebih beruntung daripada kedua karibnya itu.

Pantai Ketapang Muara, Pengambengan, Jembrana, Bali, tempat pembuatan kapal slerek | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Di Situbondo, tempat Ersan sekarang tinggal, ia mempunyai perahu. Perahu itu cukup menghasilkan. “Meskipun saya tidak bisa melaut. Saya gampang mabuk,” katanya sembari terkekeh. Perahu Ersan dijalankan orang lain. Ia cukup menunggu pembagian hasilnya saja. Meski demikian, tak jarang hasilnya hanya bisa memenuhi hidup beberapa minggu saja.

Pada kisaran 1982, Ersan dan Saduki sudah bekerja di Bali. Saduki pernah menjadi nelayan di Jimbaran dan Pengambengan. Sedangkan Ersan, dari dulu memilih bekerja di darat—karena memang tidak bisa melaut. Sedangkan Ulu mulai bekerja di Bali sejak 2001. Saat itu ia mendapat pesanan perahu-kapal di Pengambengan. Merantau memang identik dengan Madura, selain Minang, tentu saja.

Tanah pertanian yang kurang subur, sumber makanan yang sedikit, kepadatan penduduk yang tinggi, dan ongkos berlayar yang murah, menjadi beberapa faktor kenapa orang Madura merantau. Dan itu sudah terjadi sejak lama sekali. Pada abad ke-15, orang Madura migrasi ke Melaka, sebuah kerajaan Islam yang berdiri tahun 1400-an dan kini masuk wilayah Malaysia. Pada abad tersebut, perahu-perahu Madura telah berlayar ke Melaka.

“Hidup di Madura itu susah,” Ulu mengeluh. “Mau bertani ndak punya tanah, Dik. Kalaupun punya tanah, itu tanah tandus. Musim hujan baru bisa ditanami jagung,” sambungnya, dengan suara yang lebih pelan.

Beberapa tahun belakangan, Ulu menderita kencing manis. Ia sering merasa lelah dan lemas, tidak seperti dulu. Oleh sebab itu, saat menggarap kapal slerek di Pengambengan, istrinya ikut serta, supaya dapat menjaga dan merawatnya. Sudah lama Ulu hanya makan nasi jagung. Tapi itu sudah biasa sejak kecil, katanya. Dan kalau boleh dikatakan, kecing manis ini begitu mengganggu hidupnya.

“Tapi saya tidak pernah mendapat bantuan [bansos] pemerintah,” terang Ulu. “Malah orang-orang yang punya toko, punya perahu, dapat,” lanjutnya. Ini pengakuan klasik khas Dunia Ketiga.

Bagi Haulu, Saduki, dan Ersan, perahu-kapal kayu adalah nadi kehidupan. Meskipun dalam perkembangannya, perahu-kapal kayu di Madura juga menghadapi tantangan. Salah satunya akibat bahan baku untuk membuat perahu semakin langka dan harganya mahal. Selain jati, galangan perahu Madura lumrah memakai kayu nyamplong (Calophyllum inophylum) atau ulin (Eusideroxylon zwageri). Sedangkan untuk dindingnya biasa menggunakan kayu mahoni (Swietenia mahagoni).

Ulin atau kayu besi yang ada di Kalimantan jumlahnya makin sedikit dan kini masuk apendik II dan dilindungi oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam. Artinya, tidak mudah untuk memanfaatkan kayu-kayu eksotis itu. Sementara mahoni statusnya hampir terancam punah. “Sulit nyari kayu. Nyampolong ini kami dapat dari Lombok, di Bali atau di Sumenep tidak ada,” terang Ulu.

Di Pulau Poteran maupun Pulau Madura jelas sudah tidak ada lagi hutan yang dapat menghasilkan kayu yang diperlukan. Oleh karena itu mereka harus mendapatkannya dari tempat lain yang cukup jauh jaraknya, misalnya dari Pulau Kangean yang pernah disebut sebagai salah satu pulau penghasil kayu jati yang baik kualitasnya. Kalaupun dapat, harga yang harus dibayar cukup tinggi. Tidak mengherankan bila kurangnya modal amat menghambat perolehan kayu itu, dan akibatnya banyak pesanan yang terpaksa tidak dilayani.

Kapal slerek setengah jadi buatan Haulu, Ersan, dan Saduki | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Menurut Guru Besar Departemen Teknik Perkapalan Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya Heri Supomo,  keluhan soal bahan baku memang sering dialami perajin perahu di Bangkalan dan daerah lainnya di Madura. Dan itu menyebabkan aktivitas pembuatan perahu dan kapal tradisional menurun. Ini tidak saja terjadi di Madura, tetapi juga daerah lain di Jawa Timur dan Indonesia.

“Mulai 2010, kita lihat perkembangan kapal tradisional, tidak hanya di Jawa Timur, tetapi juga daerah lain di Indonesia mulai menurun kegiatannya, terutama untuk kapal-kapal rakyat. Penyebabnya karena sumber daya, material kayu semakin sulit dan mahal,” kata Heri, sebagaimana dikutip di Kompas.

Menurut Heri, sejauh ini belum ada kebijakan dari pemerintah untuk mengangkat galangan kapal rakyat. Yang ada hanya bantuan perahu nelayan beberapa tahun silam. Bantuan itupun bersifat top down, tidak sesuai dengan kearifan lokal. Perahu bantuan terbuat dari fiberglas, bukan kayu. Jadi, perajin perahu-kapal kayu tak dapat manfaatnya.

Kelangkaan bahan baku dan persaingan perahu-kapal modern, membuat profesi Ulu, dkk, menjadi “terancam” punah. Dan itu mungkin akan lebih menyulitkan hidup mereka. Padahal, sekali lagi, itu merupakan urat nadi hidup mereka.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Mengintip Pembuatan Slerek Pengambengan, Kapal Kayu Warisan Maritim Nusantara
Kisah dari Geladak Perahu Nelayan Pengambengan di Bali Barat
Ikan Bakar Komel Pengambengan: Kelezatan di Balik Kesederhanaan
“Mejunjungan”, Tradisi Unik Guyup Bugis Melayu Pesisir Pengambengan yang Masih Tersisa
Tags: Desa Pengambenganjembranakapal nelayanMaduraslerek
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kalender Adat dan ”Kolenjer” — [Bagian 1]: Panduan Kehidupan Etnis Baduy

Next Post

Unggah-Ungguh Van Java

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails

Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
March 13, 2026
0
Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

DI dalam stan pameran Kasanga Festival 2026 di Lapangan Puputan Badung, Denpasar, deretan ogoh-ogoh mini berdiri rapi menunggu penilaian. Suasana...

Read moreDetails

Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

RASA senang dan bangga tampak dalam wajahnya. Ketika namanya disebut untuk menerima penghargaan Bali Kerthi Nugraha Mahottama, kakinya melangkah dengan...

Read moreDetails
Next Post
Unggah-Ungguh Van Java

Unggah-Ungguh Van Java

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co