25 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Haulu dan Kisah Pilu Para Perajin Perahu Kayu dari Pulau Poteran

Jaswanto by Jaswanto
December 27, 2024
in Persona
Haulu dan Kisah Pilu Para Perajin Perahu Kayu dari Pulau Poteran

Haulu, perajin perahu kayu dari Pulau Poteran, Madura, saat istirahat mengerjakan kapal slerek di Pengambengan | Foto: tatkala.co/Jaswanto

SEPERTI Nuh, Haulu memotong balok-balok mahoni, membelah dan menjadikannya papan tebal yang banyak. Lalu menyusunnya satu per satu dengan ketekunan dan kesabaran yang terukur. Kemudian, sebentar saja, papan-papan itu membentuk dinding kapal yang kokoh. Ya, pria paruh baya dengan kretek yang tak kunjung padam itu sedang membuat sebuah kapal slerek yang legendaris.

Di pinggir Pantai Ketapang Muara, di wilayah Jembrana, Bali, di ujung setapak di tengah kebun terbengkalai yang penuh lamtoro dan katang-katang, ia dan dua rekannya sibuk menyusun dan melengkungkan papan, membuat pasak, menyerut, dan sesekali memotong kayu menggunakan gergaji mesin. Suara mesin pemotong itu kejar-kejaran dengan debur ombak Samudera Hindia yang ribut.

Pagi itu terik sekali. Dan nyaris tak ada angin berembus. Haulu kini memasah pelipis dinding kapal. Dan di sebelah timur tempatnya memasah, beberapa papan sedang dipanggang dan diberi batu pemberat untuk dilengkungkan. “Itu khusus untuk dinding,” terang Haulu, lamat-lamat, di tengah bising suara alat serut listrik.

Haulu sedang membuat kapal kayu untuk seorang tajir yang namanya beken di Pengambengan, Negara, Jembrana, Bali—kawasan yang mayoritas penduduknya menggantungkan hidup kepada lautan Samudra Hindia. Lemuru (Sardinella longiceps)—ikan bersirip kipas dalam genus Sardinella yang banyak ditemukan di timur Samudera Hindia dan di barat Samudera Pasifik itu—adalah emas bagi penduduk Pengambengan. Mereka “menambangnya” dari perut laut yang dalam sampai jauh ke Jimbaran dan sekitarnya.

“Kira-kira kami sudah mengerjakannya selama satu setengah bulan,” ujar Haulu, atau akrab dipanggil Ulu, dengan logat Madura-nya yang khas, sesaat setelah ia menyalakan sebatang kretek pabrikan. Mereknya cukup terkenal.

Dua bulan ke depan, kata Ulu lagi, kapal slerek pesanan Haji Ali—juragan kapal di Pengambengan—ini bakal rampung. Dengan dimensi panjang 22 meter, lebar 5 meter, dan tinggi 2 meter, perahu setengah jadi—yang dikerjakan satu setengah bulan sebelumnya—itu tinggal finishing di beberapa bagian.

Saduki sedang mengerjakan kapal slerek di Pengambengan | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Kali ini, Ulu dibantu dua karibnya, Ersan dan Saduki. Mereka bertiga seumuran, 50 tahunan atau lebih-kurang sedikit barangkali, dan berasal dari pulau yang sama, Talango. Hanya saja, Saduki lahir di desa yang berbeda dari Ulu dan Ersan. Saduki lahir di Sang; sedangkan Ulu dan Ersan tumbuh dan berkembang di Kombang. Namun, sekali lagi, kedua desa tersebut sama-sama terletak di Kecamatan Talango, Pulau Poteran, Sumenep, Jawa Timur.

Ulu, Saduki, dan Ersan, sama-sama belajar membuat perahu sejak kecil, turun-temurun. Sejak dulu, tanah di mana mereka lahir memang terkenal sebagai lumbung perajin perahu. Maka wajar jika tangan-tangan mereka begitu terampil dan cekatan. Mereka tidak mengenal gambar teknis atau sekadar sketsa sebagai panduan karena semua dibuat berdasarkan ingatan akan ajaran dari orang tua.

Papan kayu mahoni yang tebal, seperti ranting kecil di hadapan mereka. Enak saja mereka membuat lengkungan yang nyaris presisi. “Semua ada ukurannya, rumusnya, dan hitungannya sendiri. Hanya tukang yang tahu itu semua,” terang Saduki sambil membuat pasak—yang banyak.

Benar. Kapal slerek memang minim besi. Paku besi pun jumlahnya tidak lebih banyak daripada pasak kayu. Dan bukti tertulis tertua yang berhubungan dengan penggunaan pasak kayu/bambu dalam pembuatan perahu/kapal di Nusantara berasal dari sumber Portugis awal abad ke-16 Masehi. Dalam sumber itu disebutkan bahwa perahu-perahu niaga orang Melayu dan Jawa yang disebut Jung (berkapasitas lebih dari 500 ton) dibuat tanpa sepotong besipun di dalamnya. Untuk menyambung papan maupun gading-gading hanya digunakan pasak kayu. Cara pembuatan perahu dengan teknik tersebut masih tetap ditemukan di Nusantara, seperti yang terlihat pada perahu-perahu niaga dari Sulawesi dan Madura yang kapasitasnya lebih dari 250 ton.

Pulau Poteran—yang kecil mengambang di Selat Madura dan berbentuk seperti kepala ayam tanpa paruh itu—memang terkenal dengan perajin perahunya. “Khususnya dari Desa Kombang,” ucap Ersan, menegaskan.

Ersan dan Saduki sedang melengkungkan papan mahoni yang akan digunakan sebagai dinding slerek | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Para artigiano perahu-kapal Poteran memiliki garapan yang tak hanya indah dari segi bentuk, pula dipercaya memiliki semacam kemagisan. Perahu atau kapal yang lahir dari tangan mereka, dipercaya dapat membawa keberkahan tersendiri.

“Dari kakek saya mendapat doa khusus sebelum atau saat membuat kapal,” terang Ulu saat istirahat. Ia belajar membuat perahu-kapal dari sang kakek, saat belum lulus SD. Dan sang kakek mewariskan mantra-mantra turun-temurun supaya perahu atau kapal buatannya dapat berlayar sebagaimana mestinya dan membawa keberkahan kepada si pemilik. “Tapi doanya rahasia,” sambungnya sembari tertawa.

Selain di Kombang di Pulau Poteran, Pasongsongan dan sekitarnya juga dikenal sebagai salah satu tempat pembuatan perahu di kawasan pesisir utara Madura. Sedikit ke timur, di daerah Ambunten, juga terdapat lokasi pembuatan perahu tradisional. Titik lain yang dikenal sebagai tempat pembuatan perahu ada di Desa Slopeng, Kecamatan Dasuk, dan juga masih di wilayah Sumenep.

Dunia maritim telah berkibar di kawasan tersebut sejak lama, sebagaimana tergambar dalam bait lagu “Tanduk Majeng” ciptaan R Amirudin Tjitraprawira tahun 1940-an. “… Ngapote wak lajereh etangale/reng majeng lantona lah pade mole/…/Duh monajeling odikna oreng majengan/Aabental ombek sapok angen salanjenggah”, (“…Layar putihnya mulai kelihatan/nelayan tentu sudah pada pulang/…/duh kalau dilihat hidupnya pencari ikan/ berbantal ombak berselimutkan angin selamanya”).

Pasak yang digunakan dalam pembuatan kapal slerek | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Di Madura terdapat beragam perahu-kapal, dari yang ukurannya besar, hingga yang kecil berupa sampan. Sulaiman BA dalam bukunya Perahu Madura menyebutkan, setidaknya ada 36 jenis perahu di Madura, mulai dari jukung, sampan, hingga perahu. Jukung masih dibedakan lagi dalam beberapa varian, mulai jukung pajangan, gambringan, hingga tengkongan. Sementara sampan ada belasan jenis, di antaranya sampan patetedan, pote, pakesan, dan tambangan. Adapun beberapa perahu, di antaranya padduwang, janggolan, dan lete’ gole’an.

Dan slerek, kapal kayu yang sering digunakan nelayan Pengambengan dan Muncar di Banyuwangi. Di Sumenep, berbahan kayu kutat, camplung, dan mahoni, dilengkapi empat buah mesin, kapal nelayan dengan lambung yang besar itu dibanderol mendekati harga satu unit bus double decker baru, yakni nyaris Rp 1 setengah miliar. Harganya jauh di atas perahu biasa yang hanya puluhan hingga ratusan juta.

“Tapi kalau buat langsung di sini [Pengambengan], untuk tukangnya ini borongan. Kami borong antara 80-125 juta,” Ketut Sumajaya, pengurus kapal Bintang Grup milik Haji Ali Nuri, berkata.

Bintang Grup sering menggunakan jasa Ulu, dkk. Bukan saja karena orang Pengambengan sendiri nyaris tak ada yang bisa membuat kapal slerek (mungkin bisa membuat bentuknya, tapi belum tentu dapat berlayar), pula garapan orang seberang ini dinilai istimewa.

“Kami sering meminta Pak Ulu untuk membuat kapal,” terang Sumajaya sembari melemparkan senyum kepada Ulu yang masih sibuk menyerut dinding slerek menggunakan pasah elektrik. “Garapannya bagus,” sambung pria paruh baya berkacamata itu saat ditanya alasannya meminta Ulu, dkk, membuat kapal-kapal Bintang Grup.

Dengan menyeberangi Selat Madura ke Pelabuhan Kalianget, para seniman perahu-kapal ini mencapai wilayah yang menjorok di pinggiran pesisir Samudra Hindia, Bali bagian barat itu, setelah sebelumnya menempuh perjalanan nyaris 12 jam melewati jalur Pantura. “Mereka sengaja kami datangkan ke sini [Pengambengan], karena kalau membeli kapal langsung dari sana [Sumenep], ongkosnya lebih mahal,” ujar Sumajaya.

Tahun ini Bintang Grup membuat tiga slerek sekaligus. Satu sudah berlayar, satu lagi baru kelihatan bentuknya, dan satu lagi lantainya saja belum tampak, masih sekadar dasaran. Ketiga kapal tersebut dikerjakan pihak yang berbeda, meski semua artigianonya berasal dari Sumenep. Satu kapal yang sudah kelihatan bentuknya, dikerjakan kelompok Haulu. Ia, bersama Ersan dan Saduki, sudah malang-melintang membuat perahu-kapal, khususnya di Jawa Timur dan Bali.

Sebagai Nadi Kehidupan

Meski tampak besar uang yang mereka dapat dalam sekali borongan membuat sebuah slerek, tapi sebenarnya tidak demikian. Katakanlah 125 juta adalah nominal borongan yang diberikan pemilik kapal kepada tukang selama pengerjaan kapal kurang lebih tiga bulanan, setelah kepotong konsumsi, dll, menurut Ulu, mereka hanya mendapat uang 40 ribu per hari. “Kalah sama kuli bangunan,” Ulu berkata sambil tertawa. Padahal, sambungnya, pembuat kapal pekerjaannya lebih berat daripada itu. “Ini kayu berat semua,” lanjutnya.

Jika sedang sepi garapan perahu-kapal (pesanan perahu-kapal kayu sudah tidak banyak), di kampung, Ulu hanya bisa mengais rongsokan (sampah) di pinggir-pinggir pantai. Ia menjadi pemulung, atau kadang ikut tukang bangunan menjadi kuli proyek. Hidup di pulau kecil macam Poteran memang tidak mudah. Tanah yang kering, tandus, dan sempit membuat semuanya tampak sulit.

Dan apa yang dialami Ulu juga tak jauh berbeda dengan Saduki. Di Banyuwangi, tempat tinggalnya sekarang, kalau tidak ada pesanan membuat perahu-kapal, Saduki juga bekerja menjadi kuli bangunan. Barangkali Ersan terlihat lebih beruntung daripada kedua karibnya itu.

Pantai Ketapang Muara, Pengambengan, Jembrana, Bali, tempat pembuatan kapal slerek | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Di Situbondo, tempat Ersan sekarang tinggal, ia mempunyai perahu. Perahu itu cukup menghasilkan. “Meskipun saya tidak bisa melaut. Saya gampang mabuk,” katanya sembari terkekeh. Perahu Ersan dijalankan orang lain. Ia cukup menunggu pembagian hasilnya saja. Meski demikian, tak jarang hasilnya hanya bisa memenuhi hidup beberapa minggu saja.

Pada kisaran 1982, Ersan dan Saduki sudah bekerja di Bali. Saduki pernah menjadi nelayan di Jimbaran dan Pengambengan. Sedangkan Ersan, dari dulu memilih bekerja di darat—karena memang tidak bisa melaut. Sedangkan Ulu mulai bekerja di Bali sejak 2001. Saat itu ia mendapat pesanan perahu-kapal di Pengambengan. Merantau memang identik dengan Madura, selain Minang, tentu saja.

Tanah pertanian yang kurang subur, sumber makanan yang sedikit, kepadatan penduduk yang tinggi, dan ongkos berlayar yang murah, menjadi beberapa faktor kenapa orang Madura merantau. Dan itu sudah terjadi sejak lama sekali. Pada abad ke-15, orang Madura migrasi ke Melaka, sebuah kerajaan Islam yang berdiri tahun 1400-an dan kini masuk wilayah Malaysia. Pada abad tersebut, perahu-perahu Madura telah berlayar ke Melaka.

“Hidup di Madura itu susah,” Ulu mengeluh. “Mau bertani ndak punya tanah, Dik. Kalaupun punya tanah, itu tanah tandus. Musim hujan baru bisa ditanami jagung,” sambungnya, dengan suara yang lebih pelan.

Beberapa tahun belakangan, Ulu menderita kencing manis. Ia sering merasa lelah dan lemas, tidak seperti dulu. Oleh sebab itu, saat menggarap kapal slerek di Pengambengan, istrinya ikut serta, supaya dapat menjaga dan merawatnya. Sudah lama Ulu hanya makan nasi jagung. Tapi itu sudah biasa sejak kecil, katanya. Dan kalau boleh dikatakan, kecing manis ini begitu mengganggu hidupnya.

“Tapi saya tidak pernah mendapat bantuan [bansos] pemerintah,” terang Ulu. “Malah orang-orang yang punya toko, punya perahu, dapat,” lanjutnya. Ini pengakuan klasik khas Dunia Ketiga.

Bagi Haulu, Saduki, dan Ersan, perahu-kapal kayu adalah nadi kehidupan. Meskipun dalam perkembangannya, perahu-kapal kayu di Madura juga menghadapi tantangan. Salah satunya akibat bahan baku untuk membuat perahu semakin langka dan harganya mahal. Selain jati, galangan perahu Madura lumrah memakai kayu nyamplong (Calophyllum inophylum) atau ulin (Eusideroxylon zwageri). Sedangkan untuk dindingnya biasa menggunakan kayu mahoni (Swietenia mahagoni).

Ulin atau kayu besi yang ada di Kalimantan jumlahnya makin sedikit dan kini masuk apendik II dan dilindungi oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam. Artinya, tidak mudah untuk memanfaatkan kayu-kayu eksotis itu. Sementara mahoni statusnya hampir terancam punah. “Sulit nyari kayu. Nyampolong ini kami dapat dari Lombok, di Bali atau di Sumenep tidak ada,” terang Ulu.

Di Pulau Poteran maupun Pulau Madura jelas sudah tidak ada lagi hutan yang dapat menghasilkan kayu yang diperlukan. Oleh karena itu mereka harus mendapatkannya dari tempat lain yang cukup jauh jaraknya, misalnya dari Pulau Kangean yang pernah disebut sebagai salah satu pulau penghasil kayu jati yang baik kualitasnya. Kalaupun dapat, harga yang harus dibayar cukup tinggi. Tidak mengherankan bila kurangnya modal amat menghambat perolehan kayu itu, dan akibatnya banyak pesanan yang terpaksa tidak dilayani.

Kapal slerek setengah jadi buatan Haulu, Ersan, dan Saduki | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Menurut Guru Besar Departemen Teknik Perkapalan Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya Heri Supomo,  keluhan soal bahan baku memang sering dialami perajin perahu di Bangkalan dan daerah lainnya di Madura. Dan itu menyebabkan aktivitas pembuatan perahu dan kapal tradisional menurun. Ini tidak saja terjadi di Madura, tetapi juga daerah lain di Jawa Timur dan Indonesia.

“Mulai 2010, kita lihat perkembangan kapal tradisional, tidak hanya di Jawa Timur, tetapi juga daerah lain di Indonesia mulai menurun kegiatannya, terutama untuk kapal-kapal rakyat. Penyebabnya karena sumber daya, material kayu semakin sulit dan mahal,” kata Heri, sebagaimana dikutip di Kompas.

Menurut Heri, sejauh ini belum ada kebijakan dari pemerintah untuk mengangkat galangan kapal rakyat. Yang ada hanya bantuan perahu nelayan beberapa tahun silam. Bantuan itupun bersifat top down, tidak sesuai dengan kearifan lokal. Perahu bantuan terbuat dari fiberglas, bukan kayu. Jadi, perajin perahu-kapal kayu tak dapat manfaatnya.

Kelangkaan bahan baku dan persaingan perahu-kapal modern, membuat profesi Ulu, dkk, menjadi “terancam” punah. Dan itu mungkin akan lebih menyulitkan hidup mereka. Padahal, sekali lagi, itu merupakan urat nadi hidup mereka.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Mengintip Pembuatan Slerek Pengambengan, Kapal Kayu Warisan Maritim Nusantara
Kisah dari Geladak Perahu Nelayan Pengambengan di Bali Barat
Ikan Bakar Komel Pengambengan: Kelezatan di Balik Kesederhanaan
“Mejunjungan”, Tradisi Unik Guyup Bugis Melayu Pesisir Pengambengan yang Masih Tersisa
Tags: Desa Pengambenganjembranakapal nelayanMaduraslerek
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kalender Adat dan ”Kolenjer” — [Bagian 1]: Panduan Kehidupan Etnis Baduy

Next Post

Unggah-Ungguh Van Java

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails
Next Post
Unggah-Ungguh Van Java

Unggah-Ungguh Van Java

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?
Esai

Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

KEMERIAHAN saya sebagai generasi milenial dalam berpakaian pada masa kanak kanak sangat jauh berbeda dengan gen alpha dan gen beta...

by Pande Susan
July 24, 2026
Lewat Digitalisasi dan “Green Tourism”, Mahasiswa Politeknik Negeri Bali Menghidupkan Potensi Desa Muncan, Karangasem
Pendidikan

Lewat Digitalisasi dan “Green Tourism”, Mahasiswa Politeknik Negeri Bali Menghidupkan Potensi Desa Muncan, Karangasem

BANYAK program pengabdian masyarakat berakhir sebagai seremoni. Datang, memberi pelatihan, lalu pulang. Namun, program Bina Desa yang digagas Badan Eksekutif...

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni
Pameran

Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni

DI tengah denting musik elektronik yang berpadu dengan aroma dupa dan canang, Gotawa berdiri di depan kanvas. Tangannya bergerak, menumpahkan...

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
Siap-siap ke Lovina Festival 2026
Panggung

Siap-siap ke Lovina Festival 2026

"Hari ini kesiapan sudah seratus persen," ucap Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra membuka jumpa pers di Spice Dive Beach Club,...

by Komang Puja Savitri
July 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Ketika Negara Kehilangan Hak untuk Dipercaya

BEBERAPA waktu terakhir, publik menyaksikan pemberitaan mengenai penyitaan barang bukti berupa emas dan uang tunai dalam jumlah yang sangat besar...

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 24, 2026
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital
Esai

Sejak Kapan Pemerintah Mengurus Orientasi Seksual Warganya?

Salah satu indikator paling nyata dari kemunduran tata kelola pemerintahan adalah ketika negara lebih disibukkan mengatur moralitas di ruang privat...

by Surfian Rahmat AP
July 24, 2026
Instalasi Panel Surya dan Sertifikasi Green Building: Panduan untuk Pemilik Gedung
Gaya

Instalasi Panel Surya dan Sertifikasi Green Building: Panduan untuk Pemilik Gedung

INSTALASI panel surya kini menjadi salah satu strategi yang semakin dipertimbangkan untuk mengendalikan biaya energi, sekaligus memenuhi target keberlanjutan. Saat...

by tatkala
July 24, 2026
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis
Khas

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.
Ulas Rupa

Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

BARANGKALI kita terlalu sering memandang alam sebagai sesuatu yang berada di luar diri. Gunung adalah bentang yang dikunjungi ketika musim...

by Angga Wijaya
July 24, 2026
Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali
Khas

Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali

“SATU yang tidak bisa dilakukan oleh AI adalah sentuhan nurani.” Kalimat itu diucapkan oleh I Made Adnyana di tengah diskusi...

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu
Ulas Rupa

Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu

Pameran Yogya Annual Art ke-11 yang mengambil tema Direction (Arah) digelar di Bale Banjar Sangkring, Nitiprayan No. 88, Ngestiharjo, Kasihan,...

by Hartanto
July 24, 2026
Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026
Panggung

Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

PERTIKAIAN dan peperangan kerap melahirkan penderitaan, kebencian, dendam, serta luka yang membekas dalam jiwa. Namun, di balik kehancuran itu selalu...

by Nyoman Budarsana
July 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co