2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Unggah-Ungguh Van Java

Hartanto by Hartanto
December 27, 2024
in Bahasa
Unggah-Ungguh Van Java

Keraton Jogya | Foto ilustrasi | Dok. Keraton Jogya

Sopan pada Kata,  Santun pada Kalimat  (Umbu Landu Paranggi)

KATA-KATA almarhum penyair Umbu Landu Paranggi ini, suatu saat dia lontarkan sembari gurau di sebuah losmen yang ada di depan  gedung Radio Republik Indonesia (RRI), Jl. Hayam Wuruk Denpasar.

Bagi saya, kalimat ini mempunyai arti yang mendalam. Ketika itu, beliau tengah  mengomentari puisi teman saya—meski Umbu mengungkapkannya sembari tertawa lepas, tapi saya menyimpannya dalam-dalam di hati saya.

Ini, tak sekadar candaan semata. Ada makna yang mesti dicerna. Intinya, tentang etika berbahasa. Tentu, maksud umbu bukan sebatas pada penulisan karya sastra semata – melainkan lebih dari itu, yakni termasuk bersopan santun dalam koridor intelektualitas di kehidupan sosial sehari-hari.

Manakala mengenang kalimat Pak Umbu itu, tiba-tiba saya teringat pada guru bahasa daerah (Jawa) saya  di SMP Stella Maris (Bintang Laut) Surakarta, Bapak Koendjono. Mata pelajaran ini sangat saya sukai, sebab saya bisa belajar ‘etika berbahasa’ . Pasalnya, saya tidak hanya belajar ‘strata dan etika berbahasa’, seperti : Ngoko, Kromo Madyo, Kromo Inggil dan sebagainya. Tapi juga banyak pelajaran ‘Budi Pekerti’ yang saya petik dari etika berbahasa.

Hal yang menarik bagi saya ketika mengikuti pelajaran Bahasa Daerah, adalah karena bahasa Jawa juga memperlihatkan ragam formal dan informal dalam fonologi, morfologi, sintaksis, dan leksikon. Ragam ini tercermin dalam tingkat tutur bahasa yang menunjukkan perbedaan kesopanan penutur pada siapa ia berbicara.

Maksudnya, etika yang ditekankan dalam cara komunikasi masyarakat Jawa tercermin dalam prinsip unggah-ungguh (aturan bertatakrama) yang dijunjung tinggi sehari-hari. Menurut saya, pelajaran etik berbahasa ini, (selama ini) masih diberlakukan di keluarga ‘menak’ (keluarga bangsawan). Jadi kita bisa menilai ‘kualitas etika’ seseorang dari cara bertuturnya.

Saya merasakannya di dalam keluarga ibu angkat saya – almarhumah KRAY Margaretha Sadiana Lisdina, yang masih keturunan Sri Susuhunan Pakubuwana X.  Tentu, dengan mengesampingkan prasangka ‘feodalisme’.

Namun, hal itu masih bisa didiskusikan, bisa jadi dikarenakan generasi muda (khususnya perkotaan), mungkin sudah  kurang mendapat pemahaman tentang etika berbahasa (dan bertutur kata).

Apakah pendidikan demokrasi, bertentangan dengan tatakrama berbahasa? Ini pun bisa menjadi diskusi yang menarik. Menurut pemahaman saya, di Bali tetap terjaga etika berbahasa ‘sor singgih’. Setidaknya, kondisi sosio-budaya Bali mendukung untuk terjaganya etika berbahasa tersebut.

Sepemahaman saya — bagi masyarakat Jawa dan Bali,  bahasa daerah tidak hanya sebagai sarana komunikasi lisan dan tertulis, melainkan juga sebagai alat untuk melakukan tindakan berbicara, menunjukkanperistiwa tindak tutur, serta sarana ber-etika dalam kehidupan social-masyarakat, atau acap disebut ; unggah-ungguh.

Dalam unggah ungguh bahasa Jawa versi lama, krama dibagi dalam 3 jenis yakni mudha krama, kramantara, dan wredha krama. Sementara versi baru hanya dibagi dua yakni krama lugu dan krama alus. Dalam bahasa Bali, saya kurang paham detilnya. Yang sedikit saya pahami hanya ‘etika berbahasa’, sor-singgih.

Tangkapan saya, unggah-ungguh mengacu pada tata karma dalam kehidupan. Sebab, unggah-ungguh dibagi menjadi cara berbahasa dan bersikap. Unggah-ungguh menjadi landasan pembentukan karakter saat berhadapan /berkomunikasi dengan orang lain. Ini, bisa kita sebut juga sebagai etika berkomunikasi. Menurut saya, etika berbahasa, tata karma, dan unggah-ungguh menarik untuk dipahami

Etika berbahasa, tata krama, dan unggah-ungguh adalah tiga konsep yang berkaitan dengan perilaku dan komunikasi, tetapi mereka memiliki fokus dan penerapan yang berbeda.  Etika berbahasa merujuk pada prinsip-prinsip moral dan nilai-nilai yang mengatur penggunaan bahasa dalam komunikasi. Ini mencakup bagaimana seseorang menggunakan bahasa dengan cara yang baik, sopan, dan tidak menyakiti perasaan orang lain.

Sedangkan tata krama adalah seperangkat aturan sosial yang mengatur perilaku seseorang dalam interaksi sehari-hari. Ini mencakup norma-norma kesopanan dan kesantunan dalam berbagai konteks sosial. Mengenai Unggah-ungguh, adalah konsep yang lebih spesifik dalam budaya Jawa yang merujuk pada tata cara atau adab dalam berinteraksi dengan orang lain. Ini mencakup kesopanan, rasa hormat, dan etika yang diterapkan dalam berbagai situasi sosial.

Begitulah sekilas penelisikan saya tentang bahasa daerah, khususnya bahasa Jawa. Saya tak hendak mengkaji lebih dalam, sebab bukan kapasitas saya – biarlah ahli bahasa yang melakukan penelitian mendalam. Saya hanya tertarik pada ‘etika berbahasa’, tata karma, dan unggah-ungguh. Semua bahasa daerah. Khususnya bahasa daerah Jawa dan Bali.

Saya kembali tertarik unggah-ungguh, manakala muncul problema antara Keraton Jogyakarta dengan PT KAI  (PT KERETA API INDONESIA). Sebagaimana diberitakan di sejumlah media, pihak PT KAI diduga mengklaim tanah milik Keraton atau Sultan Ground (SG). Selanjutnya, pihak Keraton melayangkan gugatan sejak Oktober 2024. Menurut Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Condrokirono, sang putri kedua Sri Sultan Hamengkubuwono X –  pihak Keraton melakukan gugatan, demi ketertiban administrasi. GKR Condrokirono, selaku Penghageng Kawedanan Hageng Panitrapura, semacam Sekretariat Negara-nya Keraton Yogyakarta.

Gugatan ini, menurut Sri Sultan Hamengkubuwono X — bertujuan untuk menertibkan catatan kepemilikan tanah, bukan untuk mencari keuntungan finansial. Maka, tambah Sultan – pihak Keraton selain menuntut pengembalian 5 bidang tanahnya, juga menggugat Rp.1000,- di pengadilan. Lebih lanjut, Sultan Hamengku Buwono X menyatakan bahwa gugatan itu hanya untuk bentuk formalitas hukum. “Tanah ini sebenarnya milik Keraton Yogyakarta, tetapi dicatat sebagai milik PT KAI,” ungkap Ngarso Dalem.

Saya sungguh tertarik atas gugatan Rp.1000,- (seribu rupiah) itu. Pihak Keraton hanya menggugat  ‘seribu’ rupiah.  Ini, dalam bahasa daerah bisa disebut sebagai ‘Nyuwun Sewu’ yang punya arti berbeda dengan arti riilnya ‘minta (uang) seribu’. Ini semacam senepo. Senepo yakni semacam teks yang sering digunakan untuk hal-hal yang berkait dengan ajaran moral, filosofi, terkadang sindiran halus. Selain itu, acap digunakan bahasa yang halus, tajam tapi tak menyakitkan, dan kiasan dengan makna yang lebih.

Senepo dan satire memang agak mirip, namun keduanya merupakan dua bentuk ekspresi artistik yang berbeda . Keduanya bisa digunakan untuk menyampaikan kritik sosial, meskipun cara dan gaya penyampaiannya berbeda. Baik senepo maupun satire sama-sama menggunakan kiasan dan metafora untuk menyampaikan pesan, meskipun dengan nada dan tujuan yang berbeda. Perbedaannya, senepo lebih halus, reflektif, dan filosofis dalam penyampaiannya, sedangkan satire lebih tajam, langsung, dan sering kali lucu atau mengejek. Selain itu, satire acap bertujuan untuk mengekspos dan mengkritik kelemahan atau kebodohan dalam masyarakat secara langsung.

Kembali ke Senepo pihak Keraton tentang “Nyuwun sewu”, ini adalah ungkapan dalam bahasa Jawa yang secara harfiah berarti “meminta seribu,” tetapi dalam konteks sehari-hari, ini merupakan metafora yang  digunakan untuk meminta maaf atau permisi dengan sopan.  Jadi, ‘Nyuwun Sewu’ bisa digunakan untuk minta maaf karena suatu kekilafan, tapi bisa juga diartikan minta permisi. Contohnya, manakala kita melewati orang tua yang sedang duduk, ada baiknya kita berucap ‘Nyuwun Sewu’ Pak atau Bu.

Begitulah tafsir saya tentang ‘brilian’nya pihak Keraton Jogya melontarkan ‘senepo’ pada gugatannya di pengadilan sekaligus mengkritik tanpa menyakiti pada pihak digugat. Bagi saya, ini menarik sebagai pembelajaran tentang unggah-ungguh . Selain itu, sudah lama juga saya melupakan ‘sanepo’. Jadi, andai ada kata, tindakan, atau kalimat yang kurang tepat pada tulisan ini, perkenan hamba ‘Nyuwun Sewu’ pada Ngarso Dalem. Perkenankan juga hamba tetap mengingat kalimat maha guru kami ; Sopan pada Kata, Santun pada Kalimat. [T]

BACA artikel lain dari penulis HARTANTO

Pinih Sira Ragane?
“Kata Kolok”: Fenomena Linguistik yang Unik
Surealisme Tari Bali
Tags: Bahasabahasa jawajawasor singgihunggah ungguhYogyakarta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Haulu dan Kisah Pilu Para Perajin Perahu Kayu dari Pulau Poteran

Next Post

Refleksi Perjalanan: Antara Ujung Kulon dan Baluran

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

by I Made Sudiana
September 4, 2026
0
Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

Read moreDetails

Gol versus Gul

by I Made Sudiana
September 3, 2026
0
Gol versus Gul

KITA teriak “gol” manakala tim sepak bola yang kita dukung memasukkan bola ke gawang lawan. Ketika bola mengenai tiang gawang,...

Read moreDetails

Perkara Anarkis dan Anarkistis

by I Made Sudiana
August 30, 2026
0
Perkara Anarkis dan Anarkistis

Pernahkah Anda berpikir bahwa kata anarkis dan anarkistis itu sama saja? Walaupun kedua kata anarkis dan anarkistis sudah banyak ditulis,...

Read moreDetails

Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

by I Made Sudiana
August 18, 2026
0
Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

PERNAHKAH Anda berhenti sejenak di depan papan nama sebuah lembaga pendidikan atau kursus dan memperhatikan semboyan mereka: "Membaca, Menulis, dan...

Read moreDetails

Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

by I Made Sudiana
August 15, 2026
0
Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

 “Kenapa nama anakmu keindia-indiaan banget? Agak aneh rasanya.” Pertanyaan dan pernyataan itu terlontar dari seorang teman yang penasaran saat mendengar...

Read moreDetails

Sekali Lagi tentang Dirgahayu

by I Made Sudiana
August 13, 2026
0
Sekali Lagi tentang Dirgahayu

SETIAP menjelang bulan Agustus, ruang publik kita dipenuhi oleh baliho, spanduk, dan ucapan digital dengan berbagai variasi kalimat selamat hari...

Read moreDetails

Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

by I Made Sudiana
August 11, 2026
0
Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

Peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Tabanan—saat seorang terduga pencuri tewas diamuk massa dan meninggalkan duka mendalam bagi anaknya—kembali...

Read moreDetails

Timbulan Sampah dan Timbunan Sampah dalam Istilah Lingkungan

by I Made Sudiana
August 9, 2026
0
Timbulan Sampah dan Timbunan Sampah dalam Istilah Lingkungan

PERNAHKAH Anda membaca berita lingkungan dan merasa bingung dengan dua istilah yang mirip: timbulan sampah dan timbunan sampah? Sekilas keduanya tampak sama, tetapi...

Read moreDetails

Merawat Harapan Optimistis Lewat Kalimat Adjektival

by I Made Sudiana
June 29, 2026
0
Merawat Harapan Optimistis Lewat Kalimat Adjektival

SETELAH melewati rentetan perawatan medis yang panjang dan melelahkan, pernahkah Anda berbisik pada diri sendiri, "Apakah tubuh ini akan kembali...

Read moreDetails

Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket

by I Made Sudiana
June 25, 2026
0
Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket

BAGI orang awam di bidang kargo seperti saya, kata kargo selalu memantik imajinasi tentang gudang yang pengap, deru mesin, aroma...

Read moreDetails
Next Post
Refleksi Perjalanan: Antara Ujung Kulon dan Baluran

Refleksi Perjalanan: Antara Ujung Kulon dan Baluran

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co