2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Unggah-Ungguh Van Java

Hartanto by Hartanto
December 27, 2024
in Bahasa
Unggah-Ungguh Van Java

Keraton Jogya | Foto ilustrasi | Dok. Keraton Jogya

Sopan pada Kata,  Santun pada Kalimat  (Umbu Landu Paranggi)

KATA-KATA almarhum penyair Umbu Landu Paranggi ini, suatu saat dia lontarkan sembari gurau di sebuah losmen yang ada di depan  gedung Radio Republik Indonesia (RRI), Jl. Hayam Wuruk Denpasar.

Bagi saya, kalimat ini mempunyai arti yang mendalam. Ketika itu, beliau tengah  mengomentari puisi teman saya—meski Umbu mengungkapkannya sembari tertawa lepas, tapi saya menyimpannya dalam-dalam di hati saya.

Ini, tak sekadar candaan semata. Ada makna yang mesti dicerna. Intinya, tentang etika berbahasa. Tentu, maksud umbu bukan sebatas pada penulisan karya sastra semata – melainkan lebih dari itu, yakni termasuk bersopan santun dalam koridor intelektualitas di kehidupan sosial sehari-hari.

Manakala mengenang kalimat Pak Umbu itu, tiba-tiba saya teringat pada guru bahasa daerah (Jawa) saya  di SMP Stella Maris (Bintang Laut) Surakarta, Bapak Koendjono. Mata pelajaran ini sangat saya sukai, sebab saya bisa belajar ‘etika berbahasa’ . Pasalnya, saya tidak hanya belajar ‘strata dan etika berbahasa’, seperti : Ngoko, Kromo Madyo, Kromo Inggil dan sebagainya. Tapi juga banyak pelajaran ‘Budi Pekerti’ yang saya petik dari etika berbahasa.

Hal yang menarik bagi saya ketika mengikuti pelajaran Bahasa Daerah, adalah karena bahasa Jawa juga memperlihatkan ragam formal dan informal dalam fonologi, morfologi, sintaksis, dan leksikon. Ragam ini tercermin dalam tingkat tutur bahasa yang menunjukkan perbedaan kesopanan penutur pada siapa ia berbicara.

Maksudnya, etika yang ditekankan dalam cara komunikasi masyarakat Jawa tercermin dalam prinsip unggah-ungguh (aturan bertatakrama) yang dijunjung tinggi sehari-hari. Menurut saya, pelajaran etik berbahasa ini, (selama ini) masih diberlakukan di keluarga ‘menak’ (keluarga bangsawan). Jadi kita bisa menilai ‘kualitas etika’ seseorang dari cara bertuturnya.

Saya merasakannya di dalam keluarga ibu angkat saya – almarhumah KRAY Margaretha Sadiana Lisdina, yang masih keturunan Sri Susuhunan Pakubuwana X.  Tentu, dengan mengesampingkan prasangka ‘feodalisme’.

Namun, hal itu masih bisa didiskusikan, bisa jadi dikarenakan generasi muda (khususnya perkotaan), mungkin sudah  kurang mendapat pemahaman tentang etika berbahasa (dan bertutur kata).

Apakah pendidikan demokrasi, bertentangan dengan tatakrama berbahasa? Ini pun bisa menjadi diskusi yang menarik. Menurut pemahaman saya, di Bali tetap terjaga etika berbahasa ‘sor singgih’. Setidaknya, kondisi sosio-budaya Bali mendukung untuk terjaganya etika berbahasa tersebut.

Sepemahaman saya — bagi masyarakat Jawa dan Bali,  bahasa daerah tidak hanya sebagai sarana komunikasi lisan dan tertulis, melainkan juga sebagai alat untuk melakukan tindakan berbicara, menunjukkanperistiwa tindak tutur, serta sarana ber-etika dalam kehidupan social-masyarakat, atau acap disebut ; unggah-ungguh.

Dalam unggah ungguh bahasa Jawa versi lama, krama dibagi dalam 3 jenis yakni mudha krama, kramantara, dan wredha krama. Sementara versi baru hanya dibagi dua yakni krama lugu dan krama alus. Dalam bahasa Bali, saya kurang paham detilnya. Yang sedikit saya pahami hanya ‘etika berbahasa’, sor-singgih.

Tangkapan saya, unggah-ungguh mengacu pada tata karma dalam kehidupan. Sebab, unggah-ungguh dibagi menjadi cara berbahasa dan bersikap. Unggah-ungguh menjadi landasan pembentukan karakter saat berhadapan /berkomunikasi dengan orang lain. Ini, bisa kita sebut juga sebagai etika berkomunikasi. Menurut saya, etika berbahasa, tata karma, dan unggah-ungguh menarik untuk dipahami

Etika berbahasa, tata krama, dan unggah-ungguh adalah tiga konsep yang berkaitan dengan perilaku dan komunikasi, tetapi mereka memiliki fokus dan penerapan yang berbeda.  Etika berbahasa merujuk pada prinsip-prinsip moral dan nilai-nilai yang mengatur penggunaan bahasa dalam komunikasi. Ini mencakup bagaimana seseorang menggunakan bahasa dengan cara yang baik, sopan, dan tidak menyakiti perasaan orang lain.

Sedangkan tata krama adalah seperangkat aturan sosial yang mengatur perilaku seseorang dalam interaksi sehari-hari. Ini mencakup norma-norma kesopanan dan kesantunan dalam berbagai konteks sosial. Mengenai Unggah-ungguh, adalah konsep yang lebih spesifik dalam budaya Jawa yang merujuk pada tata cara atau adab dalam berinteraksi dengan orang lain. Ini mencakup kesopanan, rasa hormat, dan etika yang diterapkan dalam berbagai situasi sosial.

Begitulah sekilas penelisikan saya tentang bahasa daerah, khususnya bahasa Jawa. Saya tak hendak mengkaji lebih dalam, sebab bukan kapasitas saya – biarlah ahli bahasa yang melakukan penelitian mendalam. Saya hanya tertarik pada ‘etika berbahasa’, tata karma, dan unggah-ungguh. Semua bahasa daerah. Khususnya bahasa daerah Jawa dan Bali.

Saya kembali tertarik unggah-ungguh, manakala muncul problema antara Keraton Jogyakarta dengan PT KAI  (PT KERETA API INDONESIA). Sebagaimana diberitakan di sejumlah media, pihak PT KAI diduga mengklaim tanah milik Keraton atau Sultan Ground (SG). Selanjutnya, pihak Keraton melayangkan gugatan sejak Oktober 2024. Menurut Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Condrokirono, sang putri kedua Sri Sultan Hamengkubuwono X –  pihak Keraton melakukan gugatan, demi ketertiban administrasi. GKR Condrokirono, selaku Penghageng Kawedanan Hageng Panitrapura, semacam Sekretariat Negara-nya Keraton Yogyakarta.

Gugatan ini, menurut Sri Sultan Hamengkubuwono X — bertujuan untuk menertibkan catatan kepemilikan tanah, bukan untuk mencari keuntungan finansial. Maka, tambah Sultan – pihak Keraton selain menuntut pengembalian 5 bidang tanahnya, juga menggugat Rp.1000,- di pengadilan. Lebih lanjut, Sultan Hamengku Buwono X menyatakan bahwa gugatan itu hanya untuk bentuk formalitas hukum. “Tanah ini sebenarnya milik Keraton Yogyakarta, tetapi dicatat sebagai milik PT KAI,” ungkap Ngarso Dalem.

Saya sungguh tertarik atas gugatan Rp.1000,- (seribu rupiah) itu. Pihak Keraton hanya menggugat  ‘seribu’ rupiah.  Ini, dalam bahasa daerah bisa disebut sebagai ‘Nyuwun Sewu’ yang punya arti berbeda dengan arti riilnya ‘minta (uang) seribu’. Ini semacam senepo. Senepo yakni semacam teks yang sering digunakan untuk hal-hal yang berkait dengan ajaran moral, filosofi, terkadang sindiran halus. Selain itu, acap digunakan bahasa yang halus, tajam tapi tak menyakitkan, dan kiasan dengan makna yang lebih.

Senepo dan satire memang agak mirip, namun keduanya merupakan dua bentuk ekspresi artistik yang berbeda . Keduanya bisa digunakan untuk menyampaikan kritik sosial, meskipun cara dan gaya penyampaiannya berbeda. Baik senepo maupun satire sama-sama menggunakan kiasan dan metafora untuk menyampaikan pesan, meskipun dengan nada dan tujuan yang berbeda. Perbedaannya, senepo lebih halus, reflektif, dan filosofis dalam penyampaiannya, sedangkan satire lebih tajam, langsung, dan sering kali lucu atau mengejek. Selain itu, satire acap bertujuan untuk mengekspos dan mengkritik kelemahan atau kebodohan dalam masyarakat secara langsung.

Kembali ke Senepo pihak Keraton tentang “Nyuwun sewu”, ini adalah ungkapan dalam bahasa Jawa yang secara harfiah berarti “meminta seribu,” tetapi dalam konteks sehari-hari, ini merupakan metafora yang  digunakan untuk meminta maaf atau permisi dengan sopan.  Jadi, ‘Nyuwun Sewu’ bisa digunakan untuk minta maaf karena suatu kekilafan, tapi bisa juga diartikan minta permisi. Contohnya, manakala kita melewati orang tua yang sedang duduk, ada baiknya kita berucap ‘Nyuwun Sewu’ Pak atau Bu.

Begitulah tafsir saya tentang ‘brilian’nya pihak Keraton Jogya melontarkan ‘senepo’ pada gugatannya di pengadilan sekaligus mengkritik tanpa menyakiti pada pihak digugat. Bagi saya, ini menarik sebagai pembelajaran tentang unggah-ungguh . Selain itu, sudah lama juga saya melupakan ‘sanepo’. Jadi, andai ada kata, tindakan, atau kalimat yang kurang tepat pada tulisan ini, perkenan hamba ‘Nyuwun Sewu’ pada Ngarso Dalem. Perkenankan juga hamba tetap mengingat kalimat maha guru kami ; Sopan pada Kata, Santun pada Kalimat. [T]

BACA artikel lain dari penulis HARTANTO

Pinih Sira Ragane?
“Kata Kolok”: Fenomena Linguistik yang Unik
Surealisme Tari Bali
Tags: Bahasabahasa jawajawasor singgihunggah ungguhYogyakarta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Haulu dan Kisah Pilu Para Perajin Perahu Kayu dari Pulau Poteran

Next Post

Refleksi Perjalanan: Antara Ujung Kulon dan Baluran

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Merawat Harapan Optimistis Lewat Kalimat Adjektival

by I Made Sudiana
June 29, 2026
0
Merawat Harapan Optimistis Lewat Kalimat Adjektival

SETELAH melewati rentetan perawatan medis yang panjang dan melelahkan, pernahkah Anda berbisik pada diri sendiri, "Apakah tubuh ini akan kembali...

Read moreDetails

Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket

by I Made Sudiana
June 25, 2026
0
Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket

BAGI orang awam di bidang kargo seperti saya, kata kargo selalu memantik imajinasi tentang gudang yang pengap, deru mesin, aroma...

Read moreDetails

Duri Akar dan “Sungga”

by Komang Berata
June 24, 2026
0
Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

Read moreDetails

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

by I Made Sudiana
June 23, 2026
0
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

Read moreDetails

Logika Angka Kuno di Pesta Kesenian Bali

by I Made Sudiana
June 18, 2026
0
Logika Angka Kuno di Pesta Kesenian Bali

PESTA Kesenian Bali (PKB) tahun 2026 ini telah memasuki tahun ke-48. Atmosfernya sudah tampak lewat berbagai atribut luar ruang yang...

Read moreDetails

Ketika Prasasti Keluar dari Kamus Arkeologi

by I Made Sudiana
June 13, 2026
0
Ketika Prasasti Keluar dari Kamus Arkeologi

SEJAK kapan sebuah kata harus tunduk pada makna yang kaku? Padahal, di tengah masyarakat, makna kata itu justru tumbuh dan...

Read moreDetails

Orang yang Hadir Kok Diminta Absen?

by Ni Wayan Suwini
June 12, 2026
0
Orang yang Hadir Kok Diminta Absen?

DALAM kehidupan sehari-hari, kata "absen" sangat akrab digunakan oleh masyarakat. Di sekolah, guru sering mengatakan, "Ayo, sebelum belajar kita absen...

Read moreDetails

Sihir Tiga Kode Huruf

by I Made Sudiana
June 8, 2026
0
Sihir Tiga Kode Huruf

PERNAHKAH Anda menyadari bahwa hidup kita hari ini perlahan-lahan dikendalikan oleh mantra tiga kode huruf? Dunia modern adalah rimba aksara...

Read moreDetails

Cukup Telulas?

by Komang Berata
June 4, 2026
0
Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

Read moreDetails

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

by I Made Sudiana
June 3, 2026
0
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

Read moreDetails
Next Post
Refleksi Perjalanan: Antara Ujung Kulon dan Baluran

Refleksi Perjalanan: Antara Ujung Kulon dan Baluran

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co