13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pinih Sira Ragane?

Komang Berata by Komang Berata
November 27, 2024
in Bahasa
Pinih Sira Ragane?

TIDAK semua benar-benar seperti payuk maan tutup atau slepa maan tekep ketika kosakata bahasa Indonesia dialihbahasakan ke bahasa Bali. Sebaliknya pun demikian. Gabungan kata jenis kelamin, misalnya. Ketika seorang ibu baru saja melahirkan, kerabat yang turut bersuka cita, akan tetapi belum sempat berkunjung, tidak sedikit yang menanyakan, “Akuda baat anake cenik? Akuda lantang ukudan anake cenik? Sesar apa normal lekadne? Apaan (jani) anake cenik?”

Pertanyaan apaan anake cenik, napian anake cenik, napian anake alit, napian okane sebagai pengganti pertanyaan apa jenis kelamin anak kalian. Jika kemudian untuk keperluan administrasi diri, ada blanko isian tercantum jenis kelamin, rumit juga membahasabalikannya. Membahasabalikan jenis kelamin itu soroh prana, terasa senglad (baca: sènglad). Jika pada blanko isian dicantumkan luh muani atau lanang istri, belum lazim dilakukan.

Blanko isian yang mencantumkan anak ke (berapa) juga serupa dengan jenis kelamin. “Pinih nyen cai? Pinih sira ragane?” adalah pertanyaan untuk mengetahui seseorang itu anak pertama, anak kedua, anak ketiga, dan seterusnya. Jawaban yang diberikan itu “tyang pinih Wayan” dan seterusnya sudah menunjukkan “saya anak pertama (tyang pinih Wayan), saya anak kedua (tyang pinih Made), saya anak ketiga (tyang pinih Komang), atau saya anak keempat (tyang pinih Ketut)”.

Untuk anak kelima dan seterusnya, jawaban yang diberikan itu “saya anak kelima (tyang Wayan balik atau Wayan panagel), saya anak keenam (tyang Made balik atau Made panagel), anak ketujuh (tyang Komang balik atau Komang panagel), atau saya anak kedelapan (tyang Ketut balik atau Ketut panagel). Untuk anak kesembilan dan seterusnya, Wayan dan seterusnya itu mendapatkan tambahan balik pindoan atau panagel pindoan, balik pingteluan atau panagel pingteluan, dan seterusnya.

Jika kemudian seorang ibu yang baru melahirkan ditanya, “Pinih nyen makaukin anake cenik?”, penanya tidak membutuhkan jawaban anak ke berapa itu. Ini lebih kepada pilihan nama yang tersedia. Anak pertama, kelima, kesembilan, dan seterusnya kelipatan empat plus satu tersedia pilihan nama Wayan, Gede, Luh, dan Putu. Anak kedua, keenam, kesepuluh, dan seterusnya kelipatan empat plus dua  tersedia pilihan nama Made, Nengah, dan Kadek.

Anak ketiga, ketujuh, kesebelas, dan seterusnya kelipatan empat plus tiga tersedia pilihan nama Komang, Nyoman, dan Cenik. Anak keempat, kedelapan, keduabelas, dan seterusnya kelipatan empat tersedia pilihan nama hanya Ketut. Di beberapa tempat anak pertama itu Eka, anak kedua Rai atau Ari, dan anak ketiga Alit, tanpa mencantumkan Wayan, Made, Nyoman, dan seterusnya.

Pada kalangan tertentu nama Wayan dan seterusnya itu tidak sepenuhanya digunakan. Ada yang sama sekali tidak menggunakannya, ada yang menggunakannya sebagian.Pada kalangan tertentu ini, anak pertama dan kelipatan empat berikutnya digunakan Agung, Anak kedua dan kelipatan empat berikutnya digunakan Ngurah, Anak ketiga dan kelipatan empat berikutnya digunakan Alit atau Anom.

Dengan alasan tertentu, nama urut kelahiran anak tidak sepenuhnya digunakan. Di Batannyuh Kelod, Karangasem ada yang menggunakan Gede (laki-laki, anak pertama), Made (laki-laki, anak kedua), dan Gede (laki-laki, anak ketiga). Ada juga yang menggunakan Wayan (perempuan, anak pertama), Made (laki-laki, anak kedua), Gede (laki-laki, anak ketiga), dan Gede (laki-laki, anak keempat).

Beberapa keluarga di Basangalas, Abang, Karangasem, tidak menyematkan Komang atau Nyoman untuk anak ketiganya. Sebagai penggantinya adalah Cenik. Dua pemilik nama yang saya kenal adalah Meme Cenik Kutung dan Meme Cenik Nori. Mereka anak ketiga. Kini Cenik itu tidak masih digunakan untuk pengganti Komang atau Nyoman. Kecenderungannya dilewatkan begitu saja atau tidak dilewatkan akan tetapi tidak digunakan. Seperti anak-anak pasangan Bapa Gede Widia dan Meme Made Wati, anak pertama Wayan, anak kedua Made, dan anak ketiga Ketut. Pasangan Bapa Wayan Maris dan Meme Nengah Landep, nama anak pertama tidak saya kenal (karena sudah meninggal dunia), anak kedua Made, anak ketiga Made, dan anak keempat Ketut.

Sementara di Sekargunung Kaler, Bukit, Karangasem ada dua keluarga yang tidak menggunakan Komang untuk anak ketiganya. Anak-anak pasangan I Gede Oka dan Ni Luh Oka itu Wayan (laki-laki, anak pertama), Made (laki-laki, anak kedua), Ketut (laki-laki, anak ketiga), Ketut (laki-laki, anak keempat), dan Gede (laki-laki, anak kelima). Pada mulanya Ketut anak ketiga dinamai Komang. Sakit yang berkepanjangan pada anak itu menginspirasi kedua orang tuanya menamai Ketut. Anak kedua dari pasangan I Gede Oka dan Ni Luh Oka itu, Made Putra, mempunyai tiga anak. Nama yang diberikan untuk ketiga anaknya itu Wayan (laki-laki, anak pertama), Kadek (perempuan, anak kedua), dan Ketut (laki-laki, anak ketiga).

Di Geria Kauh, Duda Utara, Selat, Karangasem ada keluarga yang memberikan nama anak-anaknya itu Wayan (laki-laki, anak pertama), Nyoman (perempuan, anak kedua), dan Nyoman (perempuan, anak ketiga). Sama alasan yang disampaikan oleh pasangan Bapa Ledet dan Meme Ledet seperti pasangan I Gede Oka dan Ni Luh Oka ini, Nyoman anak kedua tidak dinamai Made, Nengah, atau Kadek.

Sangat kebetulan nama urut anak dengan kasus tertentu seperti di Batannyuh Kaler, Basangalas, dan Geriana Kauh itu tidak ada nama balik atau panagel. Sangat kebetulan juga nama urut anak dengan kasus tertentu yang di Sekargunung Kaler itu nama balik atau panagel ada pada Gede yang memang pas untuk itu. Justru nama urut anak yang bukan balik atau panagel yang perlu penjelasan lebih ketika ada yang menanyakan. “Tyang kaukina Gede, nanging tyang pinih Nyoman” untuk yang di Batannyuh Kaler. “Tyang kaukina Ketut, nanging tyang pinih Nyoman” untuk yang di Sekargunung Kaler dan Basangalas. “Tyang kaukina Nyoman, nanging tyang pinih Made” untuk yang di Geriana Kauh. “Tyang kaukina Made, nanging pinih Nyoman” untuk yang di Basangalas.

Selain nama urut, di Geriana Kauh itu saya mendapati nama pasangan suami istri itu sama. Tahun 1980-an sama mulai berinteraksi ke Geriana Kauh, saya mendapati masih ada nama pasangan suami istri itu seperti Kaki dan Dadong Rauh, Kaki dan Dadong Rame, Kaki dan Dadong Ngantia, juga Bapa dan Meme Ledet. Menurut mereka, itu adalah nama hadiah perkawinan. Setiap pasangan suami istri yang baru melangsungkan perkawinan, tetua desa memberikan hadiah berupa nama perkawinan (adan/pungkusan nganten). Entah dengan pertimbangan apa, adan/pungkusan nganten tidak lagi saya dengar keberadaannya. Dua anak laki-laki Kaki dan Dadong Rauh, tetap menggunakan nama mereka masing-masing setelah melangsungkan perkawinan. Bapa Komang Turun tetap Bapa Komang Turun dan Bapa Nengah Merta tetap Bapa Nengah Merta. [T]

  • BACA artikel lain dari penulis KOMANG BERATA
“Ketika Memberi”, Bagaimana Memadankannya ke Bahasa Bali?
Sesuatu yang Setengah
Transfer Lisan Bahasa Tutur
Dialek dan Idiolek Bahasa Bali Saya
Tags: BahasaBahasa Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menyingkap Kekuatan Debus: Ritual Ketangguhan yang Mengungkap Keberanian, Pengakuan Sosial, dan Spiritualitas

Next Post

Dari Surga ke “No List Fodor”: “Overtourism” Bali dan Tantangan Diplomasi Indonesia

Komang Berata

Komang Berata

Pemerhati Bahasa Bali, tinggal di Karangasem

Related Posts

Merawat Harapan Optimistis Lewat Kalimat Adjektival

by I Made Sudiana
June 29, 2026
0
Merawat Harapan Optimistis Lewat Kalimat Adjektival

SETELAH melewati rentetan perawatan medis yang panjang dan melelahkan, pernahkah Anda berbisik pada diri sendiri, "Apakah tubuh ini akan kembali...

Read moreDetails

Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket

by I Made Sudiana
June 25, 2026
0
Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket

BAGI orang awam di bidang kargo seperti saya, kata kargo selalu memantik imajinasi tentang gudang yang pengap, deru mesin, aroma...

Read moreDetails

Duri Akar dan “Sungga”

by Komang Berata
June 24, 2026
0
Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

Read moreDetails

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

by I Made Sudiana
June 23, 2026
0
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

Read moreDetails

Logika Angka Kuno di Pesta Kesenian Bali

by I Made Sudiana
June 18, 2026
0
Logika Angka Kuno di Pesta Kesenian Bali

PESTA Kesenian Bali (PKB) tahun 2026 ini telah memasuki tahun ke-48. Atmosfernya sudah tampak lewat berbagai atribut luar ruang yang...

Read moreDetails

Ketika Prasasti Keluar dari Kamus Arkeologi

by I Made Sudiana
June 13, 2026
0
Ketika Prasasti Keluar dari Kamus Arkeologi

SEJAK kapan sebuah kata harus tunduk pada makna yang kaku? Padahal, di tengah masyarakat, makna kata itu justru tumbuh dan...

Read moreDetails

Orang yang Hadir Kok Diminta Absen?

by Ni Wayan Suwini
June 12, 2026
0
Orang yang Hadir Kok Diminta Absen?

DALAM kehidupan sehari-hari, kata "absen" sangat akrab digunakan oleh masyarakat. Di sekolah, guru sering mengatakan, "Ayo, sebelum belajar kita absen...

Read moreDetails

Sihir Tiga Kode Huruf

by I Made Sudiana
June 8, 2026
0
Sihir Tiga Kode Huruf

PERNAHKAH Anda menyadari bahwa hidup kita hari ini perlahan-lahan dikendalikan oleh mantra tiga kode huruf? Dunia modern adalah rimba aksara...

Read moreDetails

Cukup Telulas?

by Komang Berata
June 4, 2026
0
Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

Read moreDetails

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

by I Made Sudiana
June 3, 2026
0
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

Read moreDetails
Next Post
Membedah Keunggulan Komparatif: Kunci Sukses Pariwisata Global di Era Modern

Dari Surga ke “No List Fodor”: “Overtourism” Bali dan Tantangan Diplomasi Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co