23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pinih Sira Ragane?

Komang Berata by Komang Berata
November 27, 2024
in Bahasa
Pinih Sira Ragane?

TIDAK semua benar-benar seperti payuk maan tutup atau slepa maan tekep ketika kosakata bahasa Indonesia dialihbahasakan ke bahasa Bali. Sebaliknya pun demikian. Gabungan kata jenis kelamin, misalnya. Ketika seorang ibu baru saja melahirkan, kerabat yang turut bersuka cita, akan tetapi belum sempat berkunjung, tidak sedikit yang menanyakan, “Akuda baat anake cenik? Akuda lantang ukudan anake cenik? Sesar apa normal lekadne? Apaan (jani) anake cenik?”

Pertanyaan apaan anake cenik, napian anake cenik, napian anake alit, napian okane sebagai pengganti pertanyaan apa jenis kelamin anak kalian. Jika kemudian untuk keperluan administrasi diri, ada blanko isian tercantum jenis kelamin, rumit juga membahasabalikannya. Membahasabalikan jenis kelamin itu soroh prana, terasa senglad (baca: sènglad). Jika pada blanko isian dicantumkan luh muani atau lanang istri, belum lazim dilakukan.

Blanko isian yang mencantumkan anak ke (berapa) juga serupa dengan jenis kelamin. “Pinih nyen cai? Pinih sira ragane?” adalah pertanyaan untuk mengetahui seseorang itu anak pertama, anak kedua, anak ketiga, dan seterusnya. Jawaban yang diberikan itu “tyang pinih Wayan” dan seterusnya sudah menunjukkan “saya anak pertama (tyang pinih Wayan), saya anak kedua (tyang pinih Made), saya anak ketiga (tyang pinih Komang), atau saya anak keempat (tyang pinih Ketut)”.

Untuk anak kelima dan seterusnya, jawaban yang diberikan itu “saya anak kelima (tyang Wayan balik atau Wayan panagel), saya anak keenam (tyang Made balik atau Made panagel), anak ketujuh (tyang Komang balik atau Komang panagel), atau saya anak kedelapan (tyang Ketut balik atau Ketut panagel). Untuk anak kesembilan dan seterusnya, Wayan dan seterusnya itu mendapatkan tambahan balik pindoan atau panagel pindoan, balik pingteluan atau panagel pingteluan, dan seterusnya.

Jika kemudian seorang ibu yang baru melahirkan ditanya, “Pinih nyen makaukin anake cenik?”, penanya tidak membutuhkan jawaban anak ke berapa itu. Ini lebih kepada pilihan nama yang tersedia. Anak pertama, kelima, kesembilan, dan seterusnya kelipatan empat plus satu tersedia pilihan nama Wayan, Gede, Luh, dan Putu. Anak kedua, keenam, kesepuluh, dan seterusnya kelipatan empat plus dua  tersedia pilihan nama Made, Nengah, dan Kadek.

Anak ketiga, ketujuh, kesebelas, dan seterusnya kelipatan empat plus tiga tersedia pilihan nama Komang, Nyoman, dan Cenik. Anak keempat, kedelapan, keduabelas, dan seterusnya kelipatan empat tersedia pilihan nama hanya Ketut. Di beberapa tempat anak pertama itu Eka, anak kedua Rai atau Ari, dan anak ketiga Alit, tanpa mencantumkan Wayan, Made, Nyoman, dan seterusnya.

Pada kalangan tertentu nama Wayan dan seterusnya itu tidak sepenuhanya digunakan. Ada yang sama sekali tidak menggunakannya, ada yang menggunakannya sebagian.Pada kalangan tertentu ini, anak pertama dan kelipatan empat berikutnya digunakan Agung, Anak kedua dan kelipatan empat berikutnya digunakan Ngurah, Anak ketiga dan kelipatan empat berikutnya digunakan Alit atau Anom.

Dengan alasan tertentu, nama urut kelahiran anak tidak sepenuhnya digunakan. Di Batannyuh Kelod, Karangasem ada yang menggunakan Gede (laki-laki, anak pertama), Made (laki-laki, anak kedua), dan Gede (laki-laki, anak ketiga). Ada juga yang menggunakan Wayan (perempuan, anak pertama), Made (laki-laki, anak kedua), Gede (laki-laki, anak ketiga), dan Gede (laki-laki, anak keempat).

Beberapa keluarga di Basangalas, Abang, Karangasem, tidak menyematkan Komang atau Nyoman untuk anak ketiganya. Sebagai penggantinya adalah Cenik. Dua pemilik nama yang saya kenal adalah Meme Cenik Kutung dan Meme Cenik Nori. Mereka anak ketiga. Kini Cenik itu tidak masih digunakan untuk pengganti Komang atau Nyoman. Kecenderungannya dilewatkan begitu saja atau tidak dilewatkan akan tetapi tidak digunakan. Seperti anak-anak pasangan Bapa Gede Widia dan Meme Made Wati, anak pertama Wayan, anak kedua Made, dan anak ketiga Ketut. Pasangan Bapa Wayan Maris dan Meme Nengah Landep, nama anak pertama tidak saya kenal (karena sudah meninggal dunia), anak kedua Made, anak ketiga Made, dan anak keempat Ketut.

Sementara di Sekargunung Kaler, Bukit, Karangasem ada dua keluarga yang tidak menggunakan Komang untuk anak ketiganya. Anak-anak pasangan I Gede Oka dan Ni Luh Oka itu Wayan (laki-laki, anak pertama), Made (laki-laki, anak kedua), Ketut (laki-laki, anak ketiga), Ketut (laki-laki, anak keempat), dan Gede (laki-laki, anak kelima). Pada mulanya Ketut anak ketiga dinamai Komang. Sakit yang berkepanjangan pada anak itu menginspirasi kedua orang tuanya menamai Ketut. Anak kedua dari pasangan I Gede Oka dan Ni Luh Oka itu, Made Putra, mempunyai tiga anak. Nama yang diberikan untuk ketiga anaknya itu Wayan (laki-laki, anak pertama), Kadek (perempuan, anak kedua), dan Ketut (laki-laki, anak ketiga).

Di Geria Kauh, Duda Utara, Selat, Karangasem ada keluarga yang memberikan nama anak-anaknya itu Wayan (laki-laki, anak pertama), Nyoman (perempuan, anak kedua), dan Nyoman (perempuan, anak ketiga). Sama alasan yang disampaikan oleh pasangan Bapa Ledet dan Meme Ledet seperti pasangan I Gede Oka dan Ni Luh Oka ini, Nyoman anak kedua tidak dinamai Made, Nengah, atau Kadek.

Sangat kebetulan nama urut anak dengan kasus tertentu seperti di Batannyuh Kaler, Basangalas, dan Geriana Kauh itu tidak ada nama balik atau panagel. Sangat kebetulan juga nama urut anak dengan kasus tertentu yang di Sekargunung Kaler itu nama balik atau panagel ada pada Gede yang memang pas untuk itu. Justru nama urut anak yang bukan balik atau panagel yang perlu penjelasan lebih ketika ada yang menanyakan. “Tyang kaukina Gede, nanging tyang pinih Nyoman” untuk yang di Batannyuh Kaler. “Tyang kaukina Ketut, nanging tyang pinih Nyoman” untuk yang di Sekargunung Kaler dan Basangalas. “Tyang kaukina Nyoman, nanging tyang pinih Made” untuk yang di Geriana Kauh. “Tyang kaukina Made, nanging pinih Nyoman” untuk yang di Basangalas.

Selain nama urut, di Geriana Kauh itu saya mendapati nama pasangan suami istri itu sama. Tahun 1980-an sama mulai berinteraksi ke Geriana Kauh, saya mendapati masih ada nama pasangan suami istri itu seperti Kaki dan Dadong Rauh, Kaki dan Dadong Rame, Kaki dan Dadong Ngantia, juga Bapa dan Meme Ledet. Menurut mereka, itu adalah nama hadiah perkawinan. Setiap pasangan suami istri yang baru melangsungkan perkawinan, tetua desa memberikan hadiah berupa nama perkawinan (adan/pungkusan nganten). Entah dengan pertimbangan apa, adan/pungkusan nganten tidak lagi saya dengar keberadaannya. Dua anak laki-laki Kaki dan Dadong Rauh, tetap menggunakan nama mereka masing-masing setelah melangsungkan perkawinan. Bapa Komang Turun tetap Bapa Komang Turun dan Bapa Nengah Merta tetap Bapa Nengah Merta. [T]

  • BACA artikel lain dari penulis KOMANG BERATA
“Ketika Memberi”, Bagaimana Memadankannya ke Bahasa Bali?
Sesuatu yang Setengah
Transfer Lisan Bahasa Tutur
Dialek dan Idiolek Bahasa Bali Saya
Tags: BahasaBahasa Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menyingkap Kekuatan Debus: Ritual Ketangguhan yang Mengungkap Keberanian, Pengakuan Sosial, dan Spiritualitas

Next Post

Dari Surga ke “No List Fodor”: “Overtourism” Bali dan Tantangan Diplomasi Indonesia

Komang Berata

Komang Berata

Pemerhati Bahasa Bali, tinggal di Karangasem

Related Posts

Logika Angka Kuno di Pesta Kesenian Bali

by I Made Sudiana
June 18, 2026
0
Logika Angka Kuno di Pesta Kesenian Bali

PESTA Kesenian Bali (PKB) tahun 2026 ini telah memasuki tahun ke-48. Atmosfernya sudah tampak lewat berbagai atribut luar ruang yang...

Read moreDetails

Ketika Prasasti Keluar dari Kamus Arkeologi

by I Made Sudiana
June 13, 2026
0
Ketika Prasasti Keluar dari Kamus Arkeologi

SEJAK kapan sebuah kata harus tunduk pada makna yang kaku? Padahal, di tengah masyarakat, makna kata itu justru tumbuh dan...

Read moreDetails

Orang yang Hadir Kok Diminta Absen?

by Ni Wayan Suwini
June 12, 2026
0
Orang yang Hadir Kok Diminta Absen?

DALAM kehidupan sehari-hari, kata "absen" sangat akrab digunakan oleh masyarakat. Di sekolah, guru sering mengatakan, "Ayo, sebelum belajar kita absen...

Read moreDetails

Sihir Tiga Kode Huruf

by I Made Sudiana
June 8, 2026
0
Sihir Tiga Kode Huruf

PERNAHKAH Anda menyadari bahwa hidup kita hari ini perlahan-lahan dikendalikan oleh mantra tiga kode huruf? Dunia modern adalah rimba aksara...

Read moreDetails

Cukup Telulas?

by Komang Berata
June 4, 2026
0
Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

Read moreDetails

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

by I Made Sudiana
June 3, 2026
0
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

Read moreDetails

Adiluhung: Makna Luhur yang Kian Kabur

by I Made Sudiana
May 26, 2026
0
Adiluhung: Makna Luhur yang Kian Kabur

DI warung kopi, seminar budaya, sampai brosur perumahan mewah, istilah adiluhung makin sering berseliweran. Istilah ini mirip stempel sakti. Apa...

Read moreDetails

Ungkapan ‘Sakit Hati dan Patah Hati’ Nadiem Memantik Simpati Publik

by I Made Sudiana
May 19, 2026
0
Ungkapan ‘Sakit Hati dan Patah Hati’ Nadiem Memantik Simpati Publik

Pernahkah Anda mendengar seseorang kecewa dan mengeluh bahwa ia sedang patah hati kepada sebuah negara? Saya sendiri kerap mendengar orang...

Read moreDetails

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

by I Made Sudiana
May 15, 2026
0
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

Read moreDetails

Bukan Hanya Salah Kaprah, “Sepakat 1.000%” Juga Cacat Logika

by I Made Sudiana
May 5, 2026
0
Bukan Hanya Salah Kaprah, “Sepakat 1.000%” Juga Cacat Logika

PERNAHKAH Anda mendengar orang mengatakansepakat seribu persen? Saya sendiri kerap mendengar pejabat, figur publik, atau teman sendiri berteriak sepakat seribu...

Read moreDetails
Next Post
Membedah Keunggulan Komparatif: Kunci Sukses Pariwisata Global di Era Modern

Dari Surga ke “No List Fodor”: “Overtourism” Bali dan Tantangan Diplomasi Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026
Lubang | Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

by Asmaran Dani
June 21, 2026
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi
Puisi

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

by Mahesa Putra
June 21, 2026
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045
Esai

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

by Dewa Rhadea
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co