2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menyingkap Kekuatan Debus: Ritual Ketangguhan yang Mengungkap Keberanian, Pengakuan Sosial, dan Spiritualitas

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
November 27, 2024
in Opini
Menyingkap Kekuatan Debus: Ritual Ketangguhan yang Mengungkap Keberanian, Pengakuan Sosial, dan Spiritualitas

Ahmad Sihabudin dan Geofakta Razali

Artikel ini ditulis bersama:

  • Ahmad Sihabudin, Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten
  • Geofakta Razali, Pengamat Psikologi Komunikasi Universitas Paramadina, Jakarta

WAKTU pertama kali saya menyaksikan seni Debus, saya tidak tahu apa yang harus saya pikirkan. Suara gemuruh penonton, bara api yang menyala, dan seorang pria yang dengan tenang menusukkan pisau ke tubuhnya sendiri, saya terperangah.

Namun, di balik rasa takjub dan sedikit ngeri, ada sesuatu yang lebih besar yang saya rasakan: kekuatan yang tidak sekadar fisik, tetapi juga spiritual dan sosial. Saya ingat seorang pria tua di sebelah saya berkata, “Ini bukan sekadar keberanian, Nak. Ini adalah hubungan jiwa dengan yang Ilahi.” Kata-katanya membuat saya berpikir, apakah sebenarnya seni Debus ini?

Hari itu, saya pulang dengan banyak pertanyaan. Apa yang membuat seseorang berani menghadapi rasa sakit seperti itu? Apa yang mereka cari—pengakuan, kedamaian, atau sesuatu yang lebih besar? Ketika saya mencoba mencari jawabannya, saya menyadari bahwa seni Debus lebih dari sekadar aksi ekstrem. Ia adalah medium yang menjembatani manusia dengan keberanian, komunitas, dan spiritualitas mereka.

Seni Debus mungkin dikenal banyak orang sebagai pertunjukan ekstrem yang mempertontonkan daya tahan tubuh terhadap benda tajam atau panas, namun seni bela diri asal Banten ini sebenarnya lebih dari sekadar aksi fisik yang menantang maut. Di balik kemampuan luar biasa para pelaku Debus terletak kepercayaan spiritual, hubungan sosial, dan keinginan mendalam untuk mencapai pengakuan dalam komunitas.

Dalam artikel ini, kita akan membahas seni Debus dari berbagai sudut pandang: rekognisi sosial, psikologi komunikasi, dan unsur spiritualitas yang menyertainya. Seni Debus bukan hanya pertunjukan ekstrem, tetapi juga ekspresi keberanian, spiritualitas, dan pluralitas manusia.

 Di Banten, Debus tidak hanya menjadi bagian dari budaya lokal, tetapi juga sebuah ritual yang merepresentasikan hubungan mendalam antara individu, komunitas, dan keyakinan. Dalam setiap aksinya, Debus menampilkan kekuatan fisik yang disandingkan dengan elemen spiritual, yang sering dianggap sebagai bentuk sihir kehidupan.

Perspektif pluralitas terlihat jelas dalam seni ini. Para pelaku dan penonton datang dari latar belakang yang beragam, namun semua menyatu dalam apresiasi terhadap nilai keberanian dan makna kolektif yang diusung Debus. Ritual ini mencerminkan kemampuan manusia untuk melampaui batas fisik, bersandar pada keyakinan yang mendalam akan kekuatan transendental.

 Seni Debus juga menjadi medium komunikasi universal yang menyampaikan pesan keberanian dan keterhubungan tanpa memandang perbedaan. Aksi menusukkan pisau atau berjalan di atas bara api adalah bentuk simbolisme yang menunjukkan bahwa keberanian dan keyakinan adalah bahasa yang dapat dipahami oleh siapa saja.

Dengan kekuatan pluralitas dan spiritualitasnya, seni Debus mengajarkan bahwa keberanian tidak hanya lahir dari fisik, tetapi juga dari koneksi yang mendalam dengan komunitas dan keyakinan yang lebih besar. Debus mengingatkan kita bahwa keberanian sejati melibatkan seluruh jiwa, tubuh, dan keyakinan.

Menurut Axel Honneth, rekognisi sosial (social recognition) merupakan kebutuhan dasar yang membentuk identitas individu. Rekognisi ini dapat diperoleh melalui tiga aspek utama: cinta, hak, dan solidaritas, yang memungkinkan individu merasakan keberadaan mereka dihargai dan dihormati. Di Banten, seni Debus menjadi salah satu cara di mana para pelakunya menerima rekognisi dari masyarakat.

Para praktisi Debus sering kali dipandang sebagai sosok yang memiliki kedekatan khusus dengan leluhur dan alam gaib. Mereka tidak hanya mempertontonkan ketangguhan fisik, tetapi juga menunjukkan kedalaman spiritual yang mendasari kemampuan tersebut. Pengakuan ini memberikan tempat khusus bagi mereka dalam masyarakat, di mana mereka dianggap sebagai penjaga warisan leluhur. Dengan demikian, seni Debus memberikan ruang bagi pelakunya untuk mendapatkan pengakuan sosial yang memperkuat identitas dan peran mereka dalam komunitas.

Dari perspektif psikologi komunikasi, seni Debus dapat dilihat sebagai media ekspresi yang sarat makna. Setiap aksi dalam Debus dari menusuk tubuh dengan pisau hingga berjalan di atas bara api merupakan bentuk komunikasi nonverbal yang penuh simbolisme. Para pelaku tidak hanya menampilkan ketangguhan fisik, tetapi juga menyampaikan pesan keberanian, komitmen, dan keterhubungan spiritual kepada audiensnya.

Pada tingkatan kelompok, Debus juga berfungsi sebagai sarana komunikasi kolektif yang menyatukan anggota komunitas dalam sebuah ritual bersama. Performa ini memperkuat identitas budaya, dan pesan yang disampaikan tidak hanya ditujukan kepada para penonton, tetapi juga menjadi sebuah pernyataan kekuatan kolektif dan ketahanan komunal. Ini adalah bentuk komunikasi yang mengedepankan aksi sebagai pesan, di mana bahasa tubuh dan ketahanan fisik menjadi sarana utama untuk menyampaikan nilai-nilai keberanian, kesetiaan, dan spiritualitas kepada masyarakat luas.

Unsur spiritualitas dalam Debus tak kalah penting untuk dipahami. Banyak praktisi Debus yang meyakini bahwa kemampuan mereka kebal terhadap benda tajam dan panas merupakan hasil dari latihan mental dan koneksi spiritual yang mendalam. Sebelum melakukan aksi, mereka sering menjalani ritual khusus yang melibatkan doa, meditasi, atau bentuk puasa tertentu. Proses ini dipercaya memurnikan tubuh dan jiwa, mempersiapkan mereka untuk aksi yang mengandalkan ketenangan pikiran dan fokus mendalam.

Spiritualitas dalam Debus bukan hanya sebagai pelengkap, tetapi sebagai elemen yang memberikan kekuatan batin dan mental bagi para praktisinya. Keyakinan bahwa mereka dilindungi oleh kekuatan yang lebih besar membantu mereka melewati rasa takut dan ragu. Hal ini juga menunjukkan bahwa Debus adalah seni yang tidak sekadar fisik, tetapi juga melibatkan keseluruhan jiwa dan keyakinan. Bagi banyak pelakunya, Debus adalah jalan menuju ketenangan batin dan cara untuk menghormati serta berhubungan dengan leluhur.

Seni Debus bukan sekadar aksi ekstrem yang menantang nyali, tetapi juga ritual penuh makna yang menjembatani individu dengan komunitas dan spiritualitasnya. Di tengah keberanian yang diperlihatkan, Debus juga menjadi ajang pencarian pengakuan sosial dan pembentukan identitas yang dihargai dalam komunitas.

Melalui aksi yang terlihat “mustahil,” para pelakunya menunjukkan kekuatan tubuh yang dipadukan dengan kedalaman spiritual dan dukungan sosial, menciptakan ikatan antara individu dan masyarakat yang lebih dalam daripada sekadar pertunjukan.

Dalam perspektif psikologi komunikasi, Debus adalah bentuk komunikasi yang mengandalkan simbolisme dan bahasa tubuh sebagai pesan kuat bagi audiens. Ia adalah perwujudan nyata dari konsep rekognisi sosial, di mana pengakuan dan apresiasi dari masyarakat menjadi penting bagi pembentukan identitas individu. Bagi pelaku Debus, seni ini adalah jembatan menuju pengakuan, sekaligus sarana untuk menyelami spiritualitas dan makna hidup.

Dan jika Debus bisa mengajarkan kita satu hal, itu adalah keberanian untuk menghadapi apa yang kita takutkan. Jadi, apa “bara api” dalam hidu anda yang ingin anda taklukkan hari ini? [T]

Transformasi Ebeg Banyumasan: Menari di Jagat Digital
Jaranan di Tanah Borneo, “Kesurupan” dan Perpindahan Budaya
“Cane”, Karya Musik yang Mengeksplorasi “Patutan” atau “Modal System” pada Gamelan Saih Pitu
Tari Sanghyang Sengkrong dan Kepercayaan Masyarakat Adat Kepaon
“Membaca Sanghyang”: Tentang Ritual, Arsip, Posisi Perempuan, dan Pertanian
Tags: debusjawaseni tradisional
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cerita Pilkada dari Sebuah TPS di Kampung Bugis: Ibu yang Terburu dan Dua Hansip Tanpa Bintang  

Next Post

Pinih Sira Ragane?

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

Read moreDetails

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
July 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Kematian seseorang tidak hanya mengakhiri eksistensi biologis, tetapi sekaligus memicu konsekuensi hukum yang kompleks dalam sistem hukum perdata. Salah satu...

Read moreDetails

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

Read moreDetails

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

Read moreDetails

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

Read moreDetails

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

Read moreDetails

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
0
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

Read moreDetails

Sertifikat Ganda dan Pertanyaan yang Tak Kunjung Terjawab  —Dokumen Negara Bisa Dipalsukan, Menutup Celah Mafia Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DI tengah modernisasi layanan pertanahan dan penerapan sertifikat elektronik, kasus sertifikat palsu dan sertifikat ganda masih terus bermunculan. Fenomena ini...

Read moreDetails

Klausula ADR Pada PPJB Belum Lunas dan Akta Jual Beli PPAT

by I Made Pria Dharsana
June 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

APA yang paling dikhawatirkan oleh para pebisnis atau penanam modal di Indonesia selama era  reformasi bukan pada keamanan akan tetapi...

Read moreDetails
Next Post
Pinih Sira Ragane?

Pinih Sira Ragane?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co