12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menyingkap Kekuatan Debus: Ritual Ketangguhan yang Mengungkap Keberanian, Pengakuan Sosial, dan Spiritualitas

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
November 27, 2024
in Opini
Menyingkap Kekuatan Debus: Ritual Ketangguhan yang Mengungkap Keberanian, Pengakuan Sosial, dan Spiritualitas

Ahmad Sihabudin dan Geofakta Razali

Artikel ini ditulis bersama:

  • Ahmad Sihabudin, Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten
  • Geofakta Razali, Pengamat Psikologi Komunikasi Universitas Paramadina, Jakarta

WAKTU pertama kali saya menyaksikan seni Debus, saya tidak tahu apa yang harus saya pikirkan. Suara gemuruh penonton, bara api yang menyala, dan seorang pria yang dengan tenang menusukkan pisau ke tubuhnya sendiri, saya terperangah.

Namun, di balik rasa takjub dan sedikit ngeri, ada sesuatu yang lebih besar yang saya rasakan: kekuatan yang tidak sekadar fisik, tetapi juga spiritual dan sosial. Saya ingat seorang pria tua di sebelah saya berkata, “Ini bukan sekadar keberanian, Nak. Ini adalah hubungan jiwa dengan yang Ilahi.” Kata-katanya membuat saya berpikir, apakah sebenarnya seni Debus ini?

Hari itu, saya pulang dengan banyak pertanyaan. Apa yang membuat seseorang berani menghadapi rasa sakit seperti itu? Apa yang mereka cari—pengakuan, kedamaian, atau sesuatu yang lebih besar? Ketika saya mencoba mencari jawabannya, saya menyadari bahwa seni Debus lebih dari sekadar aksi ekstrem. Ia adalah medium yang menjembatani manusia dengan keberanian, komunitas, dan spiritualitas mereka.

Seni Debus mungkin dikenal banyak orang sebagai pertunjukan ekstrem yang mempertontonkan daya tahan tubuh terhadap benda tajam atau panas, namun seni bela diri asal Banten ini sebenarnya lebih dari sekadar aksi fisik yang menantang maut. Di balik kemampuan luar biasa para pelaku Debus terletak kepercayaan spiritual, hubungan sosial, dan keinginan mendalam untuk mencapai pengakuan dalam komunitas.

Dalam artikel ini, kita akan membahas seni Debus dari berbagai sudut pandang: rekognisi sosial, psikologi komunikasi, dan unsur spiritualitas yang menyertainya. Seni Debus bukan hanya pertunjukan ekstrem, tetapi juga ekspresi keberanian, spiritualitas, dan pluralitas manusia.

 Di Banten, Debus tidak hanya menjadi bagian dari budaya lokal, tetapi juga sebuah ritual yang merepresentasikan hubungan mendalam antara individu, komunitas, dan keyakinan. Dalam setiap aksinya, Debus menampilkan kekuatan fisik yang disandingkan dengan elemen spiritual, yang sering dianggap sebagai bentuk sihir kehidupan.

Perspektif pluralitas terlihat jelas dalam seni ini. Para pelaku dan penonton datang dari latar belakang yang beragam, namun semua menyatu dalam apresiasi terhadap nilai keberanian dan makna kolektif yang diusung Debus. Ritual ini mencerminkan kemampuan manusia untuk melampaui batas fisik, bersandar pada keyakinan yang mendalam akan kekuatan transendental.

 Seni Debus juga menjadi medium komunikasi universal yang menyampaikan pesan keberanian dan keterhubungan tanpa memandang perbedaan. Aksi menusukkan pisau atau berjalan di atas bara api adalah bentuk simbolisme yang menunjukkan bahwa keberanian dan keyakinan adalah bahasa yang dapat dipahami oleh siapa saja.

Dengan kekuatan pluralitas dan spiritualitasnya, seni Debus mengajarkan bahwa keberanian tidak hanya lahir dari fisik, tetapi juga dari koneksi yang mendalam dengan komunitas dan keyakinan yang lebih besar. Debus mengingatkan kita bahwa keberanian sejati melibatkan seluruh jiwa, tubuh, dan keyakinan.

Menurut Axel Honneth, rekognisi sosial (social recognition) merupakan kebutuhan dasar yang membentuk identitas individu. Rekognisi ini dapat diperoleh melalui tiga aspek utama: cinta, hak, dan solidaritas, yang memungkinkan individu merasakan keberadaan mereka dihargai dan dihormati. Di Banten, seni Debus menjadi salah satu cara di mana para pelakunya menerima rekognisi dari masyarakat.

Para praktisi Debus sering kali dipandang sebagai sosok yang memiliki kedekatan khusus dengan leluhur dan alam gaib. Mereka tidak hanya mempertontonkan ketangguhan fisik, tetapi juga menunjukkan kedalaman spiritual yang mendasari kemampuan tersebut. Pengakuan ini memberikan tempat khusus bagi mereka dalam masyarakat, di mana mereka dianggap sebagai penjaga warisan leluhur. Dengan demikian, seni Debus memberikan ruang bagi pelakunya untuk mendapatkan pengakuan sosial yang memperkuat identitas dan peran mereka dalam komunitas.

Dari perspektif psikologi komunikasi, seni Debus dapat dilihat sebagai media ekspresi yang sarat makna. Setiap aksi dalam Debus dari menusuk tubuh dengan pisau hingga berjalan di atas bara api merupakan bentuk komunikasi nonverbal yang penuh simbolisme. Para pelaku tidak hanya menampilkan ketangguhan fisik, tetapi juga menyampaikan pesan keberanian, komitmen, dan keterhubungan spiritual kepada audiensnya.

Pada tingkatan kelompok, Debus juga berfungsi sebagai sarana komunikasi kolektif yang menyatukan anggota komunitas dalam sebuah ritual bersama. Performa ini memperkuat identitas budaya, dan pesan yang disampaikan tidak hanya ditujukan kepada para penonton, tetapi juga menjadi sebuah pernyataan kekuatan kolektif dan ketahanan komunal. Ini adalah bentuk komunikasi yang mengedepankan aksi sebagai pesan, di mana bahasa tubuh dan ketahanan fisik menjadi sarana utama untuk menyampaikan nilai-nilai keberanian, kesetiaan, dan spiritualitas kepada masyarakat luas.

Unsur spiritualitas dalam Debus tak kalah penting untuk dipahami. Banyak praktisi Debus yang meyakini bahwa kemampuan mereka kebal terhadap benda tajam dan panas merupakan hasil dari latihan mental dan koneksi spiritual yang mendalam. Sebelum melakukan aksi, mereka sering menjalani ritual khusus yang melibatkan doa, meditasi, atau bentuk puasa tertentu. Proses ini dipercaya memurnikan tubuh dan jiwa, mempersiapkan mereka untuk aksi yang mengandalkan ketenangan pikiran dan fokus mendalam.

Spiritualitas dalam Debus bukan hanya sebagai pelengkap, tetapi sebagai elemen yang memberikan kekuatan batin dan mental bagi para praktisinya. Keyakinan bahwa mereka dilindungi oleh kekuatan yang lebih besar membantu mereka melewati rasa takut dan ragu. Hal ini juga menunjukkan bahwa Debus adalah seni yang tidak sekadar fisik, tetapi juga melibatkan keseluruhan jiwa dan keyakinan. Bagi banyak pelakunya, Debus adalah jalan menuju ketenangan batin dan cara untuk menghormati serta berhubungan dengan leluhur.

Seni Debus bukan sekadar aksi ekstrem yang menantang nyali, tetapi juga ritual penuh makna yang menjembatani individu dengan komunitas dan spiritualitasnya. Di tengah keberanian yang diperlihatkan, Debus juga menjadi ajang pencarian pengakuan sosial dan pembentukan identitas yang dihargai dalam komunitas.

Melalui aksi yang terlihat “mustahil,” para pelakunya menunjukkan kekuatan tubuh yang dipadukan dengan kedalaman spiritual dan dukungan sosial, menciptakan ikatan antara individu dan masyarakat yang lebih dalam daripada sekadar pertunjukan.

Dalam perspektif psikologi komunikasi, Debus adalah bentuk komunikasi yang mengandalkan simbolisme dan bahasa tubuh sebagai pesan kuat bagi audiens. Ia adalah perwujudan nyata dari konsep rekognisi sosial, di mana pengakuan dan apresiasi dari masyarakat menjadi penting bagi pembentukan identitas individu. Bagi pelaku Debus, seni ini adalah jembatan menuju pengakuan, sekaligus sarana untuk menyelami spiritualitas dan makna hidup.

Dan jika Debus bisa mengajarkan kita satu hal, itu adalah keberanian untuk menghadapi apa yang kita takutkan. Jadi, apa “bara api” dalam hidu anda yang ingin anda taklukkan hari ini? [T]

Transformasi Ebeg Banyumasan: Menari di Jagat Digital
Jaranan di Tanah Borneo, “Kesurupan” dan Perpindahan Budaya
“Cane”, Karya Musik yang Mengeksplorasi “Patutan” atau “Modal System” pada Gamelan Saih Pitu
Tari Sanghyang Sengkrong dan Kepercayaan Masyarakat Adat Kepaon
“Membaca Sanghyang”: Tentang Ritual, Arsip, Posisi Perempuan, dan Pertanian
Tags: debusjawaseni tradisional
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cerita Pilkada dari Sebuah TPS di Kampung Bugis: Ibu yang Terburu dan Dua Hansip Tanpa Bintang  

Next Post

Pinih Sira Ragane?

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
0
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

Read moreDetails

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
0
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

Read moreDetails

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails
Next Post
Pinih Sira Ragane?

Pinih Sira Ragane?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co