2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menyingkap Kekuatan Debus: Ritual Ketangguhan yang Mengungkap Keberanian, Pengakuan Sosial, dan Spiritualitas

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
November 27, 2024
in Opini
Menyingkap Kekuatan Debus: Ritual Ketangguhan yang Mengungkap Keberanian, Pengakuan Sosial, dan Spiritualitas

Ahmad Sihabudin dan Geofakta Razali

Artikel ini ditulis bersama:

  • Ahmad Sihabudin, Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten
  • Geofakta Razali, Pengamat Psikologi Komunikasi Universitas Paramadina, Jakarta

WAKTU pertama kali saya menyaksikan seni Debus, saya tidak tahu apa yang harus saya pikirkan. Suara gemuruh penonton, bara api yang menyala, dan seorang pria yang dengan tenang menusukkan pisau ke tubuhnya sendiri, saya terperangah.

Namun, di balik rasa takjub dan sedikit ngeri, ada sesuatu yang lebih besar yang saya rasakan: kekuatan yang tidak sekadar fisik, tetapi juga spiritual dan sosial. Saya ingat seorang pria tua di sebelah saya berkata, “Ini bukan sekadar keberanian, Nak. Ini adalah hubungan jiwa dengan yang Ilahi.” Kata-katanya membuat saya berpikir, apakah sebenarnya seni Debus ini?

Hari itu, saya pulang dengan banyak pertanyaan. Apa yang membuat seseorang berani menghadapi rasa sakit seperti itu? Apa yang mereka cari—pengakuan, kedamaian, atau sesuatu yang lebih besar? Ketika saya mencoba mencari jawabannya, saya menyadari bahwa seni Debus lebih dari sekadar aksi ekstrem. Ia adalah medium yang menjembatani manusia dengan keberanian, komunitas, dan spiritualitas mereka.

Seni Debus mungkin dikenal banyak orang sebagai pertunjukan ekstrem yang mempertontonkan daya tahan tubuh terhadap benda tajam atau panas, namun seni bela diri asal Banten ini sebenarnya lebih dari sekadar aksi fisik yang menantang maut. Di balik kemampuan luar biasa para pelaku Debus terletak kepercayaan spiritual, hubungan sosial, dan keinginan mendalam untuk mencapai pengakuan dalam komunitas.

Dalam artikel ini, kita akan membahas seni Debus dari berbagai sudut pandang: rekognisi sosial, psikologi komunikasi, dan unsur spiritualitas yang menyertainya. Seni Debus bukan hanya pertunjukan ekstrem, tetapi juga ekspresi keberanian, spiritualitas, dan pluralitas manusia.

 Di Banten, Debus tidak hanya menjadi bagian dari budaya lokal, tetapi juga sebuah ritual yang merepresentasikan hubungan mendalam antara individu, komunitas, dan keyakinan. Dalam setiap aksinya, Debus menampilkan kekuatan fisik yang disandingkan dengan elemen spiritual, yang sering dianggap sebagai bentuk sihir kehidupan.

Perspektif pluralitas terlihat jelas dalam seni ini. Para pelaku dan penonton datang dari latar belakang yang beragam, namun semua menyatu dalam apresiasi terhadap nilai keberanian dan makna kolektif yang diusung Debus. Ritual ini mencerminkan kemampuan manusia untuk melampaui batas fisik, bersandar pada keyakinan yang mendalam akan kekuatan transendental.

 Seni Debus juga menjadi medium komunikasi universal yang menyampaikan pesan keberanian dan keterhubungan tanpa memandang perbedaan. Aksi menusukkan pisau atau berjalan di atas bara api adalah bentuk simbolisme yang menunjukkan bahwa keberanian dan keyakinan adalah bahasa yang dapat dipahami oleh siapa saja.

Dengan kekuatan pluralitas dan spiritualitasnya, seni Debus mengajarkan bahwa keberanian tidak hanya lahir dari fisik, tetapi juga dari koneksi yang mendalam dengan komunitas dan keyakinan yang lebih besar. Debus mengingatkan kita bahwa keberanian sejati melibatkan seluruh jiwa, tubuh, dan keyakinan.

Menurut Axel Honneth, rekognisi sosial (social recognition) merupakan kebutuhan dasar yang membentuk identitas individu. Rekognisi ini dapat diperoleh melalui tiga aspek utama: cinta, hak, dan solidaritas, yang memungkinkan individu merasakan keberadaan mereka dihargai dan dihormati. Di Banten, seni Debus menjadi salah satu cara di mana para pelakunya menerima rekognisi dari masyarakat.

Para praktisi Debus sering kali dipandang sebagai sosok yang memiliki kedekatan khusus dengan leluhur dan alam gaib. Mereka tidak hanya mempertontonkan ketangguhan fisik, tetapi juga menunjukkan kedalaman spiritual yang mendasari kemampuan tersebut. Pengakuan ini memberikan tempat khusus bagi mereka dalam masyarakat, di mana mereka dianggap sebagai penjaga warisan leluhur. Dengan demikian, seni Debus memberikan ruang bagi pelakunya untuk mendapatkan pengakuan sosial yang memperkuat identitas dan peran mereka dalam komunitas.

Dari perspektif psikologi komunikasi, seni Debus dapat dilihat sebagai media ekspresi yang sarat makna. Setiap aksi dalam Debus dari menusuk tubuh dengan pisau hingga berjalan di atas bara api merupakan bentuk komunikasi nonverbal yang penuh simbolisme. Para pelaku tidak hanya menampilkan ketangguhan fisik, tetapi juga menyampaikan pesan keberanian, komitmen, dan keterhubungan spiritual kepada audiensnya.

Pada tingkatan kelompok, Debus juga berfungsi sebagai sarana komunikasi kolektif yang menyatukan anggota komunitas dalam sebuah ritual bersama. Performa ini memperkuat identitas budaya, dan pesan yang disampaikan tidak hanya ditujukan kepada para penonton, tetapi juga menjadi sebuah pernyataan kekuatan kolektif dan ketahanan komunal. Ini adalah bentuk komunikasi yang mengedepankan aksi sebagai pesan, di mana bahasa tubuh dan ketahanan fisik menjadi sarana utama untuk menyampaikan nilai-nilai keberanian, kesetiaan, dan spiritualitas kepada masyarakat luas.

Unsur spiritualitas dalam Debus tak kalah penting untuk dipahami. Banyak praktisi Debus yang meyakini bahwa kemampuan mereka kebal terhadap benda tajam dan panas merupakan hasil dari latihan mental dan koneksi spiritual yang mendalam. Sebelum melakukan aksi, mereka sering menjalani ritual khusus yang melibatkan doa, meditasi, atau bentuk puasa tertentu. Proses ini dipercaya memurnikan tubuh dan jiwa, mempersiapkan mereka untuk aksi yang mengandalkan ketenangan pikiran dan fokus mendalam.

Spiritualitas dalam Debus bukan hanya sebagai pelengkap, tetapi sebagai elemen yang memberikan kekuatan batin dan mental bagi para praktisinya. Keyakinan bahwa mereka dilindungi oleh kekuatan yang lebih besar membantu mereka melewati rasa takut dan ragu. Hal ini juga menunjukkan bahwa Debus adalah seni yang tidak sekadar fisik, tetapi juga melibatkan keseluruhan jiwa dan keyakinan. Bagi banyak pelakunya, Debus adalah jalan menuju ketenangan batin dan cara untuk menghormati serta berhubungan dengan leluhur.

Seni Debus bukan sekadar aksi ekstrem yang menantang nyali, tetapi juga ritual penuh makna yang menjembatani individu dengan komunitas dan spiritualitasnya. Di tengah keberanian yang diperlihatkan, Debus juga menjadi ajang pencarian pengakuan sosial dan pembentukan identitas yang dihargai dalam komunitas.

Melalui aksi yang terlihat “mustahil,” para pelakunya menunjukkan kekuatan tubuh yang dipadukan dengan kedalaman spiritual dan dukungan sosial, menciptakan ikatan antara individu dan masyarakat yang lebih dalam daripada sekadar pertunjukan.

Dalam perspektif psikologi komunikasi, Debus adalah bentuk komunikasi yang mengandalkan simbolisme dan bahasa tubuh sebagai pesan kuat bagi audiens. Ia adalah perwujudan nyata dari konsep rekognisi sosial, di mana pengakuan dan apresiasi dari masyarakat menjadi penting bagi pembentukan identitas individu. Bagi pelaku Debus, seni ini adalah jembatan menuju pengakuan, sekaligus sarana untuk menyelami spiritualitas dan makna hidup.

Dan jika Debus bisa mengajarkan kita satu hal, itu adalah keberanian untuk menghadapi apa yang kita takutkan. Jadi, apa “bara api” dalam hidu anda yang ingin anda taklukkan hari ini? [T]

Transformasi Ebeg Banyumasan: Menari di Jagat Digital
Jaranan di Tanah Borneo, “Kesurupan” dan Perpindahan Budaya
“Cane”, Karya Musik yang Mengeksplorasi “Patutan” atau “Modal System” pada Gamelan Saih Pitu
Tari Sanghyang Sengkrong dan Kepercayaan Masyarakat Adat Kepaon
“Membaca Sanghyang”: Tentang Ritual, Arsip, Posisi Perempuan, dan Pertanian
Tags: debusjawaseni tradisional
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cerita Pilkada dari Sebuah TPS di Kampung Bugis: Ibu yang Terburu dan Dua Hansip Tanpa Bintang  

Next Post

Pinih Sira Ragane?

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post
Pinih Sira Ragane?

Pinih Sira Ragane?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co