22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menyingkap Kekuatan Debus: Ritual Ketangguhan yang Mengungkap Keberanian, Pengakuan Sosial, dan Spiritualitas

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
November 27, 2024
in Opini
Menyingkap Kekuatan Debus: Ritual Ketangguhan yang Mengungkap Keberanian, Pengakuan Sosial, dan Spiritualitas

Ahmad Sihabudin dan Geofakta Razali

Artikel ini ditulis bersama:

  • Ahmad Sihabudin, Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten
  • Geofakta Razali, Pengamat Psikologi Komunikasi Universitas Paramadina, Jakarta

WAKTU pertama kali saya menyaksikan seni Debus, saya tidak tahu apa yang harus saya pikirkan. Suara gemuruh penonton, bara api yang menyala, dan seorang pria yang dengan tenang menusukkan pisau ke tubuhnya sendiri, saya terperangah.

Namun, di balik rasa takjub dan sedikit ngeri, ada sesuatu yang lebih besar yang saya rasakan: kekuatan yang tidak sekadar fisik, tetapi juga spiritual dan sosial. Saya ingat seorang pria tua di sebelah saya berkata, “Ini bukan sekadar keberanian, Nak. Ini adalah hubungan jiwa dengan yang Ilahi.” Kata-katanya membuat saya berpikir, apakah sebenarnya seni Debus ini?

Hari itu, saya pulang dengan banyak pertanyaan. Apa yang membuat seseorang berani menghadapi rasa sakit seperti itu? Apa yang mereka cari—pengakuan, kedamaian, atau sesuatu yang lebih besar? Ketika saya mencoba mencari jawabannya, saya menyadari bahwa seni Debus lebih dari sekadar aksi ekstrem. Ia adalah medium yang menjembatani manusia dengan keberanian, komunitas, dan spiritualitas mereka.

Seni Debus mungkin dikenal banyak orang sebagai pertunjukan ekstrem yang mempertontonkan daya tahan tubuh terhadap benda tajam atau panas, namun seni bela diri asal Banten ini sebenarnya lebih dari sekadar aksi fisik yang menantang maut. Di balik kemampuan luar biasa para pelaku Debus terletak kepercayaan spiritual, hubungan sosial, dan keinginan mendalam untuk mencapai pengakuan dalam komunitas.

Dalam artikel ini, kita akan membahas seni Debus dari berbagai sudut pandang: rekognisi sosial, psikologi komunikasi, dan unsur spiritualitas yang menyertainya. Seni Debus bukan hanya pertunjukan ekstrem, tetapi juga ekspresi keberanian, spiritualitas, dan pluralitas manusia.

 Di Banten, Debus tidak hanya menjadi bagian dari budaya lokal, tetapi juga sebuah ritual yang merepresentasikan hubungan mendalam antara individu, komunitas, dan keyakinan. Dalam setiap aksinya, Debus menampilkan kekuatan fisik yang disandingkan dengan elemen spiritual, yang sering dianggap sebagai bentuk sihir kehidupan.

Perspektif pluralitas terlihat jelas dalam seni ini. Para pelaku dan penonton datang dari latar belakang yang beragam, namun semua menyatu dalam apresiasi terhadap nilai keberanian dan makna kolektif yang diusung Debus. Ritual ini mencerminkan kemampuan manusia untuk melampaui batas fisik, bersandar pada keyakinan yang mendalam akan kekuatan transendental.

 Seni Debus juga menjadi medium komunikasi universal yang menyampaikan pesan keberanian dan keterhubungan tanpa memandang perbedaan. Aksi menusukkan pisau atau berjalan di atas bara api adalah bentuk simbolisme yang menunjukkan bahwa keberanian dan keyakinan adalah bahasa yang dapat dipahami oleh siapa saja.

Dengan kekuatan pluralitas dan spiritualitasnya, seni Debus mengajarkan bahwa keberanian tidak hanya lahir dari fisik, tetapi juga dari koneksi yang mendalam dengan komunitas dan keyakinan yang lebih besar. Debus mengingatkan kita bahwa keberanian sejati melibatkan seluruh jiwa, tubuh, dan keyakinan.

Menurut Axel Honneth, rekognisi sosial (social recognition) merupakan kebutuhan dasar yang membentuk identitas individu. Rekognisi ini dapat diperoleh melalui tiga aspek utama: cinta, hak, dan solidaritas, yang memungkinkan individu merasakan keberadaan mereka dihargai dan dihormati. Di Banten, seni Debus menjadi salah satu cara di mana para pelakunya menerima rekognisi dari masyarakat.

Para praktisi Debus sering kali dipandang sebagai sosok yang memiliki kedekatan khusus dengan leluhur dan alam gaib. Mereka tidak hanya mempertontonkan ketangguhan fisik, tetapi juga menunjukkan kedalaman spiritual yang mendasari kemampuan tersebut. Pengakuan ini memberikan tempat khusus bagi mereka dalam masyarakat, di mana mereka dianggap sebagai penjaga warisan leluhur. Dengan demikian, seni Debus memberikan ruang bagi pelakunya untuk mendapatkan pengakuan sosial yang memperkuat identitas dan peran mereka dalam komunitas.

Dari perspektif psikologi komunikasi, seni Debus dapat dilihat sebagai media ekspresi yang sarat makna. Setiap aksi dalam Debus dari menusuk tubuh dengan pisau hingga berjalan di atas bara api merupakan bentuk komunikasi nonverbal yang penuh simbolisme. Para pelaku tidak hanya menampilkan ketangguhan fisik, tetapi juga menyampaikan pesan keberanian, komitmen, dan keterhubungan spiritual kepada audiensnya.

Pada tingkatan kelompok, Debus juga berfungsi sebagai sarana komunikasi kolektif yang menyatukan anggota komunitas dalam sebuah ritual bersama. Performa ini memperkuat identitas budaya, dan pesan yang disampaikan tidak hanya ditujukan kepada para penonton, tetapi juga menjadi sebuah pernyataan kekuatan kolektif dan ketahanan komunal. Ini adalah bentuk komunikasi yang mengedepankan aksi sebagai pesan, di mana bahasa tubuh dan ketahanan fisik menjadi sarana utama untuk menyampaikan nilai-nilai keberanian, kesetiaan, dan spiritualitas kepada masyarakat luas.

Unsur spiritualitas dalam Debus tak kalah penting untuk dipahami. Banyak praktisi Debus yang meyakini bahwa kemampuan mereka kebal terhadap benda tajam dan panas merupakan hasil dari latihan mental dan koneksi spiritual yang mendalam. Sebelum melakukan aksi, mereka sering menjalani ritual khusus yang melibatkan doa, meditasi, atau bentuk puasa tertentu. Proses ini dipercaya memurnikan tubuh dan jiwa, mempersiapkan mereka untuk aksi yang mengandalkan ketenangan pikiran dan fokus mendalam.

Spiritualitas dalam Debus bukan hanya sebagai pelengkap, tetapi sebagai elemen yang memberikan kekuatan batin dan mental bagi para praktisinya. Keyakinan bahwa mereka dilindungi oleh kekuatan yang lebih besar membantu mereka melewati rasa takut dan ragu. Hal ini juga menunjukkan bahwa Debus adalah seni yang tidak sekadar fisik, tetapi juga melibatkan keseluruhan jiwa dan keyakinan. Bagi banyak pelakunya, Debus adalah jalan menuju ketenangan batin dan cara untuk menghormati serta berhubungan dengan leluhur.

Seni Debus bukan sekadar aksi ekstrem yang menantang nyali, tetapi juga ritual penuh makna yang menjembatani individu dengan komunitas dan spiritualitasnya. Di tengah keberanian yang diperlihatkan, Debus juga menjadi ajang pencarian pengakuan sosial dan pembentukan identitas yang dihargai dalam komunitas.

Melalui aksi yang terlihat “mustahil,” para pelakunya menunjukkan kekuatan tubuh yang dipadukan dengan kedalaman spiritual dan dukungan sosial, menciptakan ikatan antara individu dan masyarakat yang lebih dalam daripada sekadar pertunjukan.

Dalam perspektif psikologi komunikasi, Debus adalah bentuk komunikasi yang mengandalkan simbolisme dan bahasa tubuh sebagai pesan kuat bagi audiens. Ia adalah perwujudan nyata dari konsep rekognisi sosial, di mana pengakuan dan apresiasi dari masyarakat menjadi penting bagi pembentukan identitas individu. Bagi pelaku Debus, seni ini adalah jembatan menuju pengakuan, sekaligus sarana untuk menyelami spiritualitas dan makna hidup.

Dan jika Debus bisa mengajarkan kita satu hal, itu adalah keberanian untuk menghadapi apa yang kita takutkan. Jadi, apa “bara api” dalam hidu anda yang ingin anda taklukkan hari ini? [T]

Transformasi Ebeg Banyumasan: Menari di Jagat Digital
Jaranan di Tanah Borneo, “Kesurupan” dan Perpindahan Budaya
“Cane”, Karya Musik yang Mengeksplorasi “Patutan” atau “Modal System” pada Gamelan Saih Pitu
Tari Sanghyang Sengkrong dan Kepercayaan Masyarakat Adat Kepaon
“Membaca Sanghyang”: Tentang Ritual, Arsip, Posisi Perempuan, dan Pertanian
Tags: debusjawaseni tradisional
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cerita Pilkada dari Sebuah TPS di Kampung Bugis: Ibu yang Terburu dan Dua Hansip Tanpa Bintang  

Next Post

Pinih Sira Ragane?

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post
Pinih Sira Ragane?

Pinih Sira Ragane?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co