23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Transformasi Ebeg Banyumasan: Menari di Jagat Digital

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
July 25, 2024
in Esai
Transformasi Ebeg Banyumasan: Menari di Jagat Digital

Ebeg Banyumas di youtube | Foto: rekam gambar di youtube

EBEG Banyumasan adalah tarian tradisional dari Banyumas, Jawa Tengah, yang juga dikenal sebagai kuda lumping khas Banyumas. Berawal dari ritual keagamaan dan upacara adat, Ebeg melibatkan penari yang meniru gerakan para prajurit penunggang kuda yang gagah berani,  dengan menggunakan properti berupa kuda tiruan dari anyaman bambu.

Seiring waktu, Ebeg berkembang menjadi hiburan rakyat yang mencerminkan kehidupan masyarakat Banyumas, dengan elemen trance dan musik gamelan. Dari masa ke masa, Ebeg tetap hidup dalam masyarakat melalui pertunjukan langsung yang selalu mengundang kerumunan massa untuk menyaksikannya.

Ebeg Banyumasan menggabungkan beberapa elemen seni utama. Seni tari, di mana para penari menirukan gerakan para pajurit penunggang kuda, yang melambangkan sifat-sifat ksatria dan pemberani dengan gerakan yang indah. Dilengkapi dengan properti kuda dari anyaman bambu dan terliaht menrik karena dicat warna-warni . Para penari ini kemudian  sering kali masuk ke dalam keadaan trance, setelah melalui ritual khusus dari para dukun Ebeg, dan ini termasuk pertunjukkan yang paling ditunggu oleh  penonton.

 Diiringi musik gamelan yang dinamis, termasuk instrumen pokok seperti kendang, gong, dan saron, ditingkahi tembang-tembang Banyumasan yang khas dan kuat menciptakan suasana magis dan energik. Dari  segi kostum para penari Ebeg mengenakan kostum tradisional berwarna-warni dengan hiasan, menambah estetika visual pertunjukan. Keseluruhan elemen ini menciptakan pengalaman yang memukau bagi penonton.

Ebeg Banyumasan memiliki berbagai fungsi sosial dan budaya dalam masyarakat. Awalnya digunakan oleh Sunan Kalijaga untuk menyebarkan Islam di Jawa, Ebeg menyampaikan nilai-nilai agama dan moral. Tarian ini juga menjadi simbol dukungan terhadap tokoh perjuangan seperti Pangeran Diponegoro dan menjadi bentuk solidaritas.

Dalam konteks ritual, Ebeg sering disertai sesajian dan atraksi trance atau kesurupan, yang dipercaya membawa berkah. Sebagai seni pertunjukan massal, biasanya Ebeg digelar di lapangan desa untuk menghibur masyarakat. Selain itu, Ebeg adalah identitas budaya Banyumas yang menggunakan bahasa Ngapak, mendidik melalui pesan moral, dan menjadi suatu ekspresi seni serta kreativitas lokal. Dengan demikian, Ebeg Banyumasan, adalah salah satu bentuk kesenian tradisional dari Banyumas yang memiliki peran sosial dan budaya yang penting pada masyarakat setempat.

Ebeg di Era Digital

Globalisasi menghadirkan ancaman dan peluang bagi kesenian tradisional, dan  Ebeg Banyumasan tak luput pula dari hal ini. Di satu sisi, globalisasi bisa mengikis identitas budaya lokal,  karena masyarakat terpapar budaya asing yang lebih dominan. Hal ini dapat mengurangi minat generasi muda terhadap tradisi seperti Ebeg.

Namun, globalisasi juga membuka peluang baru. Teknologi digital dan  media sosial memungkinkan pertunjukan Ebeg diakses lebih luas, ke tingkat nasional bahkan  ke panggung internasional, yang akan memperkuat kesadaran dan apresiasi global terhadap seni ini. Diketahui sekitar awal 2010-an, komunitas seni mulai memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan dan melestarikan Ebeg Banyumasan (National Geographic Indonesia, 2021) .

Video pertunjukan Ebeg diunggah ke YouTube dan Facebook, menarik perhatian lebih luas. Media sosial seperti YouTube, Instagram, dan TikTok memungkinkan komunitas Ebeg berbagi video pertunjukan, tutorial tari, dan diskusi budaya, menarik minat generasi muda yang lebih akrab dengan teknologi. Banyak komunitas Ebeg yang aktif berbagi konten digital seperti video pertunjukan, tutorial tari, diskusi budaya, dan konten kreatif.

Melestarikan Ebeg Banyumasan tentu tidaklah mudah karena terdapat beberapa kendala. Pertama, generasi muda lebih tertarik pada budaya populer dan teknologi modern daripada tradisi lokal.

Kedua, pendanaan untuk melestarikan dan mengembangkan seni tradisional sering kali terbatas, baik dari pemerintah maupun swasta yang lebih banyak bersifat sponshorship. Ketiga, komersialisasi berlebihan bisa membuat Ebeg kehilangan esensinya saat dijadikan sekadar atraksi pariwisata.

 Keempat, kurangnya dokumentasi tentang literasi Ebeg membuat pengetahuan tentang Ebeg yang diwariskan secara lisan rentan hilang. Kelima, persaingan dengan hiburan modern membuat menarik penonton ke pertunjukan tradisional semakin sulit. Untuk mengatasi kendala ini, diperlukan strategi komprehensif seperti edukasi, dukungan finansial, dan pemanfaatan teknologi untuk dokumentasi dan promosi. Dengan cara ini, Ebeg Banyumasan bisa tetap hidup dan relevan di era modern.

Ebeg di Tangan Generasi Muda

Generasi muda memang memegang peran penting dalam melestarikan Ebeg Banyumasan di era digital. Mereka memanfaatkan media sosial seperti YouTube, Instagram, dan TikTok untuk mengunggah video pertunjukan, tutorial tari, dan konten kreatif lainnya. Ini membantu memperkenalkan Ebeg kepada audiens yang lebih luas dan menarik minat generasi muda lainnya.

Selain itu, mereka bisa membentuk komunitas online yang menjadi tempat berdiskusi, berbagi pengetahuan, dan hal ini tentu sangat penting untuk ebeg sebagai warisaan budya tak benda yang telah ditetapkan oleh Kementerian Pendidian dan Kebudayaan (iNews, 2021)

Diharapkan edukasi dan kampanye digital juga menjadi fokus mereka, dengan membuat konten edukatif yang menjelaskan sejarah dan makna Ebeg serta mengadakan webinar dan diskusi online. Sangat dimungkikan generasi muda juga terlibat dalam kolaborasi dengan seniman dari berbagai bidang seperti musik dan tari modern, yang membantu memperkaya dan memperbarui pertunjukan Ebeg. Kreativitas mereka lebih lanjut juga bisa ditunjukkan dalam inovasi pertunjukan, seperti menggunakan teknologi augmented reality (AR) atau laser misalnya, untuk memberikan pengalaman yang lebih interaktif dan menarik.

Dengan berbagai inisiatif ini, generasi muda tidak hanya melestarikan Ebeg tetapi juga memastikan bahwa kesenian tradisional ini tetap hidup dan relevan di era digital. Melalui kontribusi mereka, Ebeg Banyumasan bisa terus berkembang dan diapresiasi oleh berbagai kalangan, termasuk generasi yang lebih muda.

Kini dengan merambah jagat digital melalui inovasi dan adaptasi yang dilakukan, menunjukkan bahwa tradisi ini mampu bertransformasi, bertahan di tengah perubahan zaman, dan beradaptasi di era modern. Salam budaya. [T]

Jaranan di Tanah Borneo, “Kesurupan” dan Perpindahan Budaya
Permainan Tradisional dalam Parade Budaya HUT Kota Singaraja: Bagus, tapi Anu…
Pusparagam Kreativitas: Gemintang Adhiluhung, Semangat Unggul Seniman Kabupaten Badung di Pesta Kesenian Bali 2024

                                                 

Tags: banyumasebeg banyumasjarananseni jarananseni jawa tengah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jangan Lihat Sajak Angga Wijaya dari Sisi Dia Penyintas Skizofrenia! — Dari Peluncuran Buku “[Bukan] Anjing Malam”

Next Post

“Mumuland Up Close” di Rumah Tanjung Bungkak

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
“Mumuland Up Close” di Rumah Tanjung Bungkak

“Mumuland Up Close” di Rumah Tanjung Bungkak

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co