2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jaranan di Tanah Borneo, “Kesurupan” dan Perpindahan Budaya

Krisna Aji by Krisna Aji
June 1, 2023
in Khas
Jaranan di Tanah Borneo, “Kesurupan” dan Perpindahan Budaya

Jaranan di Desa Linggang Purwodadi di Kutai Barat, Kalimantan Timur | Foto: Krisna Aji

PERJALANAN SERING KALI memberi hadiah kepada diri berupa fenomena baru yang muncul akibat interpretasi pengamat saat bertemu realita di depannya. Fenomena ini jelas sekali sangat ditentukan oleh latar belakang dari pengamat yang meliputi pengalaman subjektif sejak kecil hingga detik ini.

Begitu juga saya saat menemukan fenomena baru ketika melakukan perjalanan ke Borneo. Saya berada di Borneo, tanpa persiapan sama sekali–lupa membawa kamera mirrorless, dan dokumentasi hanya ditangkap menggunakan ponsel sehingga banyak momen yang terlewat karena keterbatasan alat rekam.

Oleh karena itu, paradoks bisa jadi akan lebih banyak terlihat pada tulisan dari pada jukstaposisi di beberapa foto yang juga ditautkan pada artikel ini

Perjalanan kali ini membawa diri ke Desa Linggang Purwodadi di Kutai Barat, Kalimantan Timur. Di desa itu saya menonton tarian Jaranan. Jaranan adalah produk kebudayaan dari Tanah Jawa, berupa tarian kuda lumping yang diiringi musik gamelan.

Jaranan sering kali mempertontonkan sebuah fase kesurupan dari penarinya dan kadang membuat beberapa orang yang bukan penari–bahkan penonton atau penjaja makanan di sekitar area tersebut–untuk ikut kesurupan. Berguling-guling, makan kembang mawar dan melati, mengunyah kaca, atau membuka kelapa utuh dengan gigi adalah hal yang lazim terjadi pada kesurupan Jaranan.

Sebagai individu yang hampir selalu menggunakan kaca mata psikiatri dalam melihat manusia dan perilakunya, fenomena ini cukup berkesan bagi saya. Bukan sekedar nostalgia masa kecil akan tontonan rakyat di tempat lahir dan tumbuh besar dulu–Jogjakarta, tetapi, ini lebih dari itu.

Jaranan ini terjadi di Tanah Borneo, ribuan kilometer dari tanah Jawa dengan aspek budaya yang sama sekali berbeda dari tempat asal Jaranan itu sendiri. Fenomena ini menjadi menarik karena psikiatri tidak boleh mengatakan bahwa “kesurupan” pada sebuah acara budaya sebagai gangguan jiwa karena kondisi tersebut berkaitan dengan kesadaran kolektif.

Kesadaran kolektif pada sebuah budaya tidak bisa dikatakan sebagai gangguan jiwa walaupun hal tersebut belum dapat ditelaah oleh sains sampai final. Misalkan saja, masyarakat Bali yang percaya terhadap “leak” atau masyarakat Jawa yang percaya terhadap santet tidak bisa dikatakan sebagai sebuah gangguan.

–

Jaranan di Desa Linggang Purwodadi di Kutai Barat, Kalimantan Timur | Foto: Krisna Aji

Kembali lagi, kepercayaan tersebut perlu sesuai dengan latar belakang budaya. Jika tidak sesuai, ya, bisa jadi adalah gangguan dan bisa dikonsultasikan ke psikiater. Misalkan, saat ada orang Bali mengatakan bahwa ia sering berbicara dengan keluarga terdekatnya yang baru saja meninggal dan ia yakin bahwa semua orang Bali pasti mengalami kondisi serupa, mungkin saja, ada indikasi gangguan jiwa karena tidak sesuai dengan latar belakang budaya Bali.

Garis batas gangguan jiwa dalam parameter budaya memang sangat sulit untuk ditelaah karena sifatnya yang subtil dan abu-abu. Karena sifat yang subtil tersebut, ilmu psikiatri lebih sering diterapkan pada ranah klinis terhadap pengobatan atas gangguan jiwa yang pada awalnya disinyalir sebagai sebuah bagian dari budaya; menemukan dan mengobati pasien yang sudah terlanjur terganggu aktivitas kesehariannya akibat suara atau waham yang awalnya beririsan dengan budaya dan tidak dapat terselesaikan dengan pengobatan tradisional.

Tetapi, jika keseharian tidak terganggu, psikiatri akan diam dan mengamati.

Lalu, bagaimana dengan Jaranan di Tanah Borneo? Jaranan adalah produk budaya Tanah Jawa dan dibawa oleh suku Jawa ke Kalimantan (dan mungkin juga ke daerah lainnya) pada saat program transmigrasi di era Orde Baru. Pada saat itu, terjadi bedol desa dari daerah-daerah padat penduduk seperti Bali dan Jawa ke area yang masih sepi.

Perpindahan penduduk yang nyaris serentak pada perjalanannya membentuk sebuah komunitas dengan ciri yang seragam di lahan yang baru bahkan ada yang sampai membentuk kampung yang bernama sesuai dengan ciri dari komunitas tersebut seperti Kampung Jawa, Kampung Bali, dan sebagainya.

–

Jaranan di Desa Linggang Purwodadi di Kutai Barat, Kalimantan Timur | Foto: Krisna Aji

Perpindahan penduduk yang besar dan nyaris serentak itu pun tidak hanya “memindahkan” fisik manusia saja, tetapi juga latar belakang budaya dari komunitas asal. Penduduk yang berpindah–awalnya hanya berada pada satu garis generasi–lambat laun beranak-cucu di tempat transmigrasi dan membentuk komunitas yang lebih besar. Pertumbuhan komunitas itu juga diikuti oleh lestarinya budaya asal di tempat baru, salah satunya tradisi Jaranan.

Tradisi Jaranan hampir selalu melibatkan prosesi kesurupan dalam pagelarannya. Dalam hal ini, kesurupan terjadi karena adanya makhluk astral yang merasuki penari Jaranan. Kepercayaan terhadap bentuk dan jenis makhluk astral akan berbeda antara satu area geografis dengan area geografis lainnya. Berdasarkan premis tersebut, maka bisa dipahami jika kesurupan akan dengan mudah terjadi saat Jaranan digelar di daerah asal dari Jaranan itu sendiri–karena masih memiliki kepercayaan terhadap makhluk astral yang sesuai dengan konteks dari Jaranan.

Lalu, bagaimana dengan Jaranan yang diadakan di daerah lain yang memiliki local wisdom berupa animisme dan dinamisme yang berbeda dengan tempat asal Jaranan? Bisakah kesurupan terjadi jika ada “ketidaksesuaian” antara ritual jaranan dengan kepercayaan akan makhluk astral setempat yang berbeda? Di mana letak irisan psikiatri dan budaya pada kondisi ini? Lalu, sejauh apa psikiatri boleh bergerak secara klinis untuk menanggapi ini?

–

Jaranan di Desa Linggang Purwodadi di Kutai Barat, Kalimantan Timur | Foto: Krisna Aji

Pada akhirnya, yang tersisa hanyalah pertanyaan tak berujung akibat berbagai paradoks yang hadir secara organik. Pertanyaan yang selalu menyisakan kegelisahan di dalam diri dalam menikmati fenomenologi yang dihadiahkan oleh semesta dan pengamat yang menanggapinya.

Tapi, paradoks yang menyisakan kegelisahanlah yang awalnya membuat pengamat tertarik untuk mengamati dan menikmati.

Jika dipikirkan lebih jauh lagi, adanya paradoks yang berimbang memang perlu hadir di setiap munculnya pengetahuan baru. Paradoks yang berimbang adalah penanda bahwa pembelajaran masih berada di jalur yang benar. Jika yang hadir adalah kecenderungan “semakin paham”, seseorang dapat terjebak dalam dogma dan delusi.

Sebaliknya, jika yang muncul adalah kecenderungan “semakin tidak paham”, seseorang bisa terjebak pada kecemasan yang membahayakan. Dengan memandang secara berimbang, kesempatan untuk menikmati kekinian juga akan muncul dengan optimal.

Oleh karena itu, mari nikmati saja paradoks ini: Hokya! Hokya! [T]

  • BACA artikel lain dari penulis KRISNA AJI
Gempita Fragmen Tari Bawi Srenggi Dadia Pudeh, Begini Awal Mula Ogoh-Ogoh di Tajun
Komunikasi dan Revitalisasi Kesenian Tradisional
Kerauhan Zaman Now dan Kesehatan Jiwa
Tags: BorneojarananjawaKalimantankerauhankesenian jawaseni jaranan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pembelajaran Moral dari Buku “Kisah Seekor Camar dan Kucing yang Mengajarinya Terbang” Karya Luis Sepulveda

Next Post

Tubuh, Kecantikan, dan Tentang Menyusui

Krisna Aji

Krisna Aji

Psikiater dan penulis lepas

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Tubuh, Kecantikan, dan Tentang Menyusui

Tubuh, Kecantikan, dan Tentang Menyusui

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co