27 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Komunikasi dan Revitalisasi Kesenian Tradisional

Chusmeru by Chusmeru
May 22, 2023
in Esai
Memaknai Perbedaan Komunikasi Antarbudaya:  Bukan Sekadar Wacana

INDONESIA PATUT berbangga memiliki Bali. Kesenian tradisional masih bertahan hidup di masyarakat hingga hari ini. Sementara di daerah lain, utamanya di Pulau Jawa, kesenian tradisional memiliki nasib yang kurang menguntungkan. Ada yang punah tergerus zaman. Ada pula yang terengah-engah dalam persaingan dengan budaya modern.

Dua hal turut mendukung kelestarian kesenian tradisional Bali.Pertama, kesenian tradisional Bali menjadi bagian tak terpisahkan dari adat dan agama masyarakat Bali. Hampir semua komunikasi ritual, adat, dan agama diwarnai dengan kesenian tradisional; baik berupa tarian, tembang maupun tetabuhan.

Kedua, industri pariwisata di Bali tumbuh pesat lantaran didukung oleh atraksi seni budaya yang khas. Wisatawan domestik dan mancanegara yang datang ke Bali bukan hanya ingin melihat pantai atau sawah, namun juga menyaksikan adat, budaya, dan kesenian tradisional. Tanpa adanya kesenian tradisional, Bali tidak akan menjadi destinasi wisata yang menarik.

Sementara daerah lain di Indonesia, yang juga memiliki destinasi wisata indah kurang diminati wisatawan karena tidak didukung oleh potensi seni budayanya. Kesenian tradisional di daerah seringkali ada dalam kondisi hidup enggan, mati pun tak mau. Padahal di masa lalu hampir setiap desa di Tanah Air memiliki kesenian tradisional.

Regenerasi

Gaya hidup modern dan komunikasi era baru kerap dianggap sebagai faktor yang membuat kesenian tradisional tidak dapat bertahan dan berkembang di daerah. Orang lebih asyik di depan gawai sambil menyaksikan berbagai totonan, ketimbang harus datang ke lokasi pertunjukan kesenian tradisional.

Hasil penelitian terhadap keberadaan kesenian tradisional Ebeg (Kuda Lumping) di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, menunjukkan adanya tiga hal serius (Chusmeru, 2011). Pertama, proses komunikasi dan pelestarian kesenian tradisional terkendala oleh regenerasi pelaku kesenian.

Generasi muda merasa enggan menjadi pelaku kesenian tradisional. Alasannya malu saat berinteraksi dan berkomunikasi dengan teman-teman jika menjadi pemain kesenian. Apalagi adanya stigma terhadap pemain kesenian yang dianggap kuno dan dekat dengan hal-hal klenik. Hal ini tentu saja menghambat proses komunikasi dan regenerasi dari pelaku kesenian tradisional yang telah berusia lanjut kepada yang muda.

Kedua, ditemukan problem organisasional pada kesenian tradisional di daerah. Banyak kelompok kesenian yang tidak memiliki struktur organisasi resmi. Hal ini akan berpengaruh terhadap proses pembinaan kesenian tradisional oleh pemerintah. Keterbatasan pengetahuan dan pendidikan para pelaku kesenian di daerah menyebabkan kesenian tidak terorganisasi dengan baik.

Ketiga, ada masalah finansial yang menghantui kesenian tradisional di daerah. Kelompok kesenian biasanya dikelola secara sosial dan nonprofit. Sementara berbagai peralatan dan perlengkapan kesenian memerlukan perawatan yang membutuhkan biaya.

Sumber penghasilan yang digunakan untuk operasional perawatan adalah honor pementasan. Padahal jadwal pentas kesenian tidak menentu, karena masyarakat kini lebih memilih menanggap hiburan musik organ tunggal ketimbang kesenian tradisional.

Faktor yang menjadi penghambat pelestarian dan regenerasi membuat kesenian tradisional semakin terpinggirkan. Oleh sebab itu diperlukan langkah-langkah penyelamatan agar kesenian tradisional kembali menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Revitalisasi

Setiap daerah memiliki jenis kesenian tradisional yang khas dengan permasalahan masing-masing. Langkah penyelamatan diperlukan agar masyarakat tidak kehilangan orientasi dan jatidirinya. Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan revitalisasi agar kesenian yang nyaris punah dapat kembali hidup, dan yang terpinggirkan dapat berperan kembali dalam komunikasi dan kehidupan sosial budaya masyarakat.  

Revitalisasi kesenian tradisional dapat dilakukan secara edukasional, institusional, dan relasional. Langkah edukasional ditempuh dengan menjadikan kesenian tradisional bagian dari kurikulum atau muatan lokal di sekolah, sejak tingkat pendidikan dasar sampai perguruan tinggi. Dengan demikian, kecintaan terhadap kesenian tradisional sudah terbangun sejak dini.

Secara institusional, kesenian tradisional dapat diselamatkan dengan pembuatan peraturan daerah (Perda) yang mengatur tentang pelestarian kesenian tradisional di daerah. Hal ini memerlukan komitmen legislatif dan eksekutif dalam upaya revitalisasi kesenian tradisional.

Secara kelembagaan, kesenian tradisional juga dapat dipertahankan melalui pembentukan kelompok-kelompok kesenian di daerah. Patut dicontoh apa yang terdapat di Bali, dimana setiap desa memiliki sekeha (kelompok) kesenian tradisional. Tak heran jika kesenian tradisional di Bali masih bertahan sampai kini.

Pemerintah di daerah berkepentingan untuk menyelenggarakan festival kesenian secara rutin. Dengan demikian kelompok-kelompok kesenian terpacu untuk berkreativitas. Festival kesenian juga menjadi bagian dari komunikasi sosial masyarakat dengan akar-akar budaya mereka. Lagi-lagi Bali patut dicontoh. Setiap tahun Bali menggelar Pesta Kesenian Bali (PKB) yang diikuti oleh kelompok kesenian di seluruh kabupaten di Bali.

Langkah relasional berupa kemitraan dengan pihak-pihak yang selama ini diuntungkan atau memiliki kepedulian terhadap kesenian tradisional. Sejauh ini industri pariwisata diuntungkan dengan kesenian yang ada di daerah. Maka sudah sewajarnya jika pemangku kepentingan di sektor pariwisata ikut melestarikan kesenian tradisional.

Revitalisasi kesenian tradisional bukan hanya memerlukan tenaga, tetapi juga membutuhkan biaya. Pihak pengelola objek dan daya tarik wisata, biro perjalanan, perhotelan, dan restoran dapat menyisihkan sebagaian keuntungan mereka untuk program pelestarian kesenian.

Bentuknya bisa berupa kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) dengan menjadikan kelompok kesenian di daerah sebagai “anak angkat”. Kepada kelompok kesenian diberikan bantuan finansial untuk melestarikan keseniannya. Bisa juga memberi kesempatan kepada kelompok kesenian untuk tampil dalam penyambutan wisatawan di tempat usaha mereka.

Revitalisasi kesenian tradisional sejatinya bukan sekadar menyelamatkan kesenian, namun juga menyelamatkan generasi. Revitalisasi diharapkan mampu menempatkan kesenian tradisional dalam tatanan kehidupan sosial yang lebih beradab. Komponis Stephen Sondheim menegaskan, kesenian  adalah sebuah upaya untuk mencapai tatanan dari kekacauan.[T]

Komunikasi Tradisional: Masih Adakah Urgensi?
Memaknai Perbedaan Komunikasi Antarbudaya:  Bukan Sekadar Wacana
Dimensi Komunikasi Puasa dan Lebaran
Tags: esaiilmu komunikasikomunikasikomunikasi antarbudayakomunikasi informasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menjadikan Program Informasi Desa Sepopulis Bedah Rumah, Infrastruktur Desa, atau Bansos Sembako | Catatan Tatkala May May May 2023

Next Post

Seandainya Persian Magnetism Menjadi Mata Kuliah di FKH

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
0
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

Read moreDetails

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

Read moreDetails

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
0
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

Read moreDetails

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

by Angga Wijaya
September 22, 2026
0
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

Read moreDetails

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
0
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

Read moreDetails
Next Post
Seandainya Persian Magnetism Menjadi Mata Kuliah di FKH

Seandainya Persian Magnetism Menjadi Mata Kuliah di FKH

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi
Khas

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono
Ulas Rupa

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

by Jaswanto
September 26, 2026
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka
Ulas Musik

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran
Esai

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan
Esai

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12
Ulas Film

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998
Ulas Film

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar
Khas

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

by Jaswanto
September 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co