17 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Komunikasi dan Revitalisasi Kesenian Tradisional

Chusmeru by Chusmeru
May 22, 2023
in Esai
Memaknai Perbedaan Komunikasi Antarbudaya:  Bukan Sekadar Wacana

INDONESIA PATUT berbangga memiliki Bali. Kesenian tradisional masih bertahan hidup di masyarakat hingga hari ini. Sementara di daerah lain, utamanya di Pulau Jawa, kesenian tradisional memiliki nasib yang kurang menguntungkan. Ada yang punah tergerus zaman. Ada pula yang terengah-engah dalam persaingan dengan budaya modern.

Dua hal turut mendukung kelestarian kesenian tradisional Bali.Pertama, kesenian tradisional Bali menjadi bagian tak terpisahkan dari adat dan agama masyarakat Bali. Hampir semua komunikasi ritual, adat, dan agama diwarnai dengan kesenian tradisional; baik berupa tarian, tembang maupun tetabuhan.

Kedua, industri pariwisata di Bali tumbuh pesat lantaran didukung oleh atraksi seni budaya yang khas. Wisatawan domestik dan mancanegara yang datang ke Bali bukan hanya ingin melihat pantai atau sawah, namun juga menyaksikan adat, budaya, dan kesenian tradisional. Tanpa adanya kesenian tradisional, Bali tidak akan menjadi destinasi wisata yang menarik.

Sementara daerah lain di Indonesia, yang juga memiliki destinasi wisata indah kurang diminati wisatawan karena tidak didukung oleh potensi seni budayanya. Kesenian tradisional di daerah seringkali ada dalam kondisi hidup enggan, mati pun tak mau. Padahal di masa lalu hampir setiap desa di Tanah Air memiliki kesenian tradisional.

Regenerasi

Gaya hidup modern dan komunikasi era baru kerap dianggap sebagai faktor yang membuat kesenian tradisional tidak dapat bertahan dan berkembang di daerah. Orang lebih asyik di depan gawai sambil menyaksikan berbagai totonan, ketimbang harus datang ke lokasi pertunjukan kesenian tradisional.

Hasil penelitian terhadap keberadaan kesenian tradisional Ebeg (Kuda Lumping) di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, menunjukkan adanya tiga hal serius (Chusmeru, 2011). Pertama, proses komunikasi dan pelestarian kesenian tradisional terkendala oleh regenerasi pelaku kesenian.

Generasi muda merasa enggan menjadi pelaku kesenian tradisional. Alasannya malu saat berinteraksi dan berkomunikasi dengan teman-teman jika menjadi pemain kesenian. Apalagi adanya stigma terhadap pemain kesenian yang dianggap kuno dan dekat dengan hal-hal klenik. Hal ini tentu saja menghambat proses komunikasi dan regenerasi dari pelaku kesenian tradisional yang telah berusia lanjut kepada yang muda.

Kedua, ditemukan problem organisasional pada kesenian tradisional di daerah. Banyak kelompok kesenian yang tidak memiliki struktur organisasi resmi. Hal ini akan berpengaruh terhadap proses pembinaan kesenian tradisional oleh pemerintah. Keterbatasan pengetahuan dan pendidikan para pelaku kesenian di daerah menyebabkan kesenian tidak terorganisasi dengan baik.

Ketiga, ada masalah finansial yang menghantui kesenian tradisional di daerah. Kelompok kesenian biasanya dikelola secara sosial dan nonprofit. Sementara berbagai peralatan dan perlengkapan kesenian memerlukan perawatan yang membutuhkan biaya.

Sumber penghasilan yang digunakan untuk operasional perawatan adalah honor pementasan. Padahal jadwal pentas kesenian tidak menentu, karena masyarakat kini lebih memilih menanggap hiburan musik organ tunggal ketimbang kesenian tradisional.

Faktor yang menjadi penghambat pelestarian dan regenerasi membuat kesenian tradisional semakin terpinggirkan. Oleh sebab itu diperlukan langkah-langkah penyelamatan agar kesenian tradisional kembali menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Revitalisasi

Setiap daerah memiliki jenis kesenian tradisional yang khas dengan permasalahan masing-masing. Langkah penyelamatan diperlukan agar masyarakat tidak kehilangan orientasi dan jatidirinya. Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan revitalisasi agar kesenian yang nyaris punah dapat kembali hidup, dan yang terpinggirkan dapat berperan kembali dalam komunikasi dan kehidupan sosial budaya masyarakat.  

Revitalisasi kesenian tradisional dapat dilakukan secara edukasional, institusional, dan relasional. Langkah edukasional ditempuh dengan menjadikan kesenian tradisional bagian dari kurikulum atau muatan lokal di sekolah, sejak tingkat pendidikan dasar sampai perguruan tinggi. Dengan demikian, kecintaan terhadap kesenian tradisional sudah terbangun sejak dini.

Secara institusional, kesenian tradisional dapat diselamatkan dengan pembuatan peraturan daerah (Perda) yang mengatur tentang pelestarian kesenian tradisional di daerah. Hal ini memerlukan komitmen legislatif dan eksekutif dalam upaya revitalisasi kesenian tradisional.

Secara kelembagaan, kesenian tradisional juga dapat dipertahankan melalui pembentukan kelompok-kelompok kesenian di daerah. Patut dicontoh apa yang terdapat di Bali, dimana setiap desa memiliki sekeha (kelompok) kesenian tradisional. Tak heran jika kesenian tradisional di Bali masih bertahan sampai kini.

Pemerintah di daerah berkepentingan untuk menyelenggarakan festival kesenian secara rutin. Dengan demikian kelompok-kelompok kesenian terpacu untuk berkreativitas. Festival kesenian juga menjadi bagian dari komunikasi sosial masyarakat dengan akar-akar budaya mereka. Lagi-lagi Bali patut dicontoh. Setiap tahun Bali menggelar Pesta Kesenian Bali (PKB) yang diikuti oleh kelompok kesenian di seluruh kabupaten di Bali.

Langkah relasional berupa kemitraan dengan pihak-pihak yang selama ini diuntungkan atau memiliki kepedulian terhadap kesenian tradisional. Sejauh ini industri pariwisata diuntungkan dengan kesenian yang ada di daerah. Maka sudah sewajarnya jika pemangku kepentingan di sektor pariwisata ikut melestarikan kesenian tradisional.

Revitalisasi kesenian tradisional bukan hanya memerlukan tenaga, tetapi juga membutuhkan biaya. Pihak pengelola objek dan daya tarik wisata, biro perjalanan, perhotelan, dan restoran dapat menyisihkan sebagaian keuntungan mereka untuk program pelestarian kesenian.

Bentuknya bisa berupa kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) dengan menjadikan kelompok kesenian di daerah sebagai “anak angkat”. Kepada kelompok kesenian diberikan bantuan finansial untuk melestarikan keseniannya. Bisa juga memberi kesempatan kepada kelompok kesenian untuk tampil dalam penyambutan wisatawan di tempat usaha mereka.

Revitalisasi kesenian tradisional sejatinya bukan sekadar menyelamatkan kesenian, namun juga menyelamatkan generasi. Revitalisasi diharapkan mampu menempatkan kesenian tradisional dalam tatanan kehidupan sosial yang lebih beradab. Komponis Stephen Sondheim menegaskan, kesenian  adalah sebuah upaya untuk mencapai tatanan dari kekacauan.[T]

Komunikasi Tradisional: Masih Adakah Urgensi?
Memaknai Perbedaan Komunikasi Antarbudaya:  Bukan Sekadar Wacana
Dimensi Komunikasi Puasa dan Lebaran
Tags: esaiilmu komunikasikomunikasikomunikasi antarbudayakomunikasi informasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menjadikan Program Informasi Desa Sepopulis Bedah Rumah, Infrastruktur Desa, atau Bansos Sembako | Catatan Tatkala May May May 2023

Next Post

Seandainya Persian Magnetism Menjadi Mata Kuliah di FKH

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

by Pande Susan
October 17, 2026
0
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

Read moreDetails

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

by Angga Wijaya
October 17, 2026
0
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

Read moreDetails

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

by I Wayan Artika
October 16, 2026
0
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

Read moreDetails

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
0
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

Read moreDetails

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
0
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

Read moreDetails

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

Read moreDetails

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

by Angga Wijaya
October 13, 2026
0
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

Read moreDetails

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

Read moreDetails

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
0
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

Read moreDetails

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

Read moreDetails
Next Post
Seandainya Persian Magnetism Menjadi Mata Kuliah di FKH

Seandainya Persian Magnetism Menjadi Mata Kuliah di FKH

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara
Persona

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar
Esai

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

by Pande Susan
October 17, 2026
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali
Esai

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

by Angga Wijaya
October 17, 2026
Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir
Buku Tatkala

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir

Judul: Panduan Lumut -- Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putri Wijaya ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM
Esai

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

by I Wayan Artika
October 16, 2026
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow
Esai

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan
Esai

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali
Bahasa

Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

SECARA pribadi, saya sebisa mungkin menghindari antrean BBM di Bali saat ini. Saya pernah berada di posisi itu dahulu, dan...

by I Made Sudiana
October 16, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
Hukum Tanah Air Bali
Buku Tatkala

Hukum Tanah Air Bali

Judul: Hukum Tanah Air Bali Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Made Pria Dharsana ISBN: Masih dalam proses Tebal:...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Kemping yang Mencekam

LIBUR semester telah tiba. Mahasiswa dan anak sekolah dapat bersantai. Agung Santoso berencana memanfaatkan libur itu bersama keluarga. Ia ingin...

by Chusmeru
October 15, 2026
𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈
Pameran

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

by tatkala
October 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co