2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Komunikasi Tradisional: Masih Adakah Urgensi?

Chusmeru by Chusmeru
May 1, 2023
in Esai
Memaknai Perbedaan Komunikasi Antarbudaya:  Bukan Sekadar Wacana

PERKEMBANGAN ilmu komunikasi di dunia telah melahirkan banyak kajian tentang komunikasi. Jika di masa lalu hanya dikenal beberapa kajian komunikasi, seperti jurnalistik, kehumasan, komunikasi massa, komunikasi sosial, dan komunikasi internasional; kini kajian komunikasi begitu beragam

 Seiring dengan kemajuan di bidang teknologi komunikasi dan informasi, kajian komunikasi juga merambah pada media digital, komunikasi siber, maupun komunikasi strategis.

Di tengah banyaknya bidang kajian komunikasi, rupanya komunikasi tradisional kurang mendapat tempat sebagaimana kajian lainnya. Komunikasi tradisional dianggap kadaluwarsa dan tidak mampu menjawab tantangan zaman. Kajian komunikasi tradisional oleh karenanya dianggap sebagai bagian dari masa lalu yang tidak memiliki urgensi di era kekinian.

Rendahnya minat orang pada kajian komunikasi tradisional dapat dilihat dari sulitnya mendapatkan definisi komunikasi tradisional. Pengertian komunikasi tradisional masih dianggap sebatas sebagai alat berkomunikasi secara tradisional seperti kentongan maupun bedug.

Referensi maupun buku yang terkait dengan komunikasi tradisional juga sulit diperoleh. Mata kuliah komunikasi tradisional hanya diajarkan pada beberapa perguruan tinggi. Itu pun hanya ditawarkan sebagai mata kuliah pilihan, bukan wajib.

Pola Komunikasi

Komunikasi tradisional dapat diartikan sebagai komunikasi yang terjadi pada masyarakat tradisional dengan menggunakan media komunikasi tradisional. Komunikasi tradisional biasanya terjadi pada masyarakat atau etnis tertentu yang memilki beberapa karakteristik.

Pola komunikasi tradisional dapat dilihat pada masayarakat dengan karakteristik fanatik pada “ideologi” kelompok sendiri dibanding kelompok lain. Masyarakat seperti ini mempunyai kesadaran terhadap kesamaan adat, bahasa, dan norma budaya.

Tradisi Grebeg Maulud di lingkungan Keraton Yogya dan Solo, Ruwatan Rambut Gimbal pada masyarakat di Dataran Tinggi Dieng, serta Pengerupukan dan Melasti di Bali adalah bentuk fanatisme pada “ideologi” masyarakat. Tradisi-tradisi ini sampai saat ini masih tetap berlangsung, karena masyarakat masih memiliki kesadaran bersama tentang adat dan budayanya.

Bahasa daerah kerapkali dianggap sebagai indikator eksistensi komunikasi tradisional di suatu masyarakat. Sepanjang masyarakat masih fanatik menggunakan bahasa daerahnya, maka komunikasi tradisional masih bisa bertahan.

Kesenian sebagai salah satu bentuk komunikasi tradisional sangat tergantung pada penggunaan bahasa daerah masyarakatnya. Hampir semua kesenian tradisional menggunakan bahasa daerah. Oleh sebab itu, akan sangat tidak menarik jika pagelaran wayang kulit di Jawa dengan menggunakan bahasa Indonesia; atau Drama Gong  dan Bondres di Bali juga tidak mungkin akan menggunakan bahasa Sunda.

Pola komunikasi tradisional diwarnai dengan terbentuknya jaringan komunikasi dan interaksi yang khas. Opinion leader dan lembaga sosial dianggap sebagai sumber dan media komunikasi. Komunikasi tradisional acapkali tampak pada hal-hal yang sepele seperti pakaian, tarian, dan makanan.

Baju surjan, blangkon, dan gudeg masih tetap ada di Yogya, selama masyarakat Yogya masih saling berkomunikasi tradisional. Pakaian endek, udeng, lawar, dan ayam betutu masih tetap bertahan di Bali meski industri pariwisata menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Bali, karena komunikasi tradisional masih terjadi di Bali.

Sesungguhnya komunikasi tradisional merupakan identitas sosial suatu masyarakat yang mencerminkan realitas masa lalu, kekinian, dan masa depan. Ketika tradisi dalam masyarakat berubah, maka identitas sosial masyarakat juga berubah; yang selanjutnya akan mengubah komunikasi tradisionalnya

 Namun, saat aspirasi sosial masyarakat masih menghendaki agar identitas sosial dipertahankan, kelak komunikasi tradisional masih digunakan masayarakat.

Kesenian Lengger dan Kuda Lumping masih dapat bertahan selama masyarakat Jawa menganggap kesenian itu bagian dari tradisi dan identitas sosial mereka. Begitu pula kain Ulos dan tari Tor Tor pada masyarakat Batak di Sumatera Utara hingga kini masih dapat dijumpai, karena telah lekat menjadi identitas sosial sejak dulu hingga kini.

Urgensi

Apakah komunikasi tradisional mampu menjawab permasalah yang semakin kompleks dalam kehidupan saat ini? Pertanyaan ini akan menunjukkan sejauh mana urgensi komunikasi tradisional di tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta tantangan di bidang sosisl, politik, dan ekonomi.      

Teknologi komunikasi dan informasi yang berbasis internet dianggap memiliki andil dalam meminggirkan peran komunikasi tradisional yang berbasis kearifan lokal.

Komunikasi tradisional menjadi kalah pamor tatkala berhadapan dengan komunikasi digital.  Berbagai informasi dan hiburan begitu melimpah di media sosial. Semua dapat diperoleh dengan mudah, murah, dan cepat.

Meski demikian, komunikasi secara digital bukan hanya menyuguhkan kemudahan, namun juga memberi peluang hadirnya permasalahan. Tanpa harus duduk di kursi bioskop, orang dapat memilih dan menonton berbagai jenis film dari aplikasi.

Hanya bermodalkan kelucuan wajah dan suaranya, orang bisa viral dan dikenal jutaan rakyat Indonesia lewat media sosial. Di sisi lain, orang juga saling hujat di media sosial. Hanya karena perdebatan di dunia maya, orang dapat saling memusuhi, saling ancam, saling pukul; bahkan saling bunuh.

Media sosial menjadi sumber petaka ketika komunikasi yang terbangun jauh dari nilai moral dan kearfian. Pada saat seperti ini orang akan berpikir komunikasi tradisional yang sarat dengan pesan moral dan kearifan lokal itu penting.

Tradisi lisan yang dijalin antara orang tua dan anak berupa dongeng sebelum tidur juga tergantikan oleh tontonan di media sosial. Akibatnya, anak lebih paham tentang perkembangan cerita di berbagai belahan dunia, namun miskin informasi tentang tradisi di kampung sendiri.

Dalam bidang ekonomi, komunikasi tradisional masih memiliki urgensi. Pariwisata, misalnya, sebagai industri jasa yang memiliki nilai ekonomis tinggi, akan kehilangan daya tariknya jika tidak didukung oleh seni dan budaya tradisional.

Wisatawan mengunjungi suatu negara atau daerah bukan hanya untuk menikmati alam, tetapi juga menyaksikan dan belajar tentang seni budaya yang ada di masyarakat. Dan seni budaya itu masih dapat disaksikan, hanya jika komunikasi tradisional masih bertahan dalam kehidupan masyarakat.

Menghadapi gempuran budaya global yang membanjiri media digital diperlukan budaya tandingan yang akan membuat orang lebih bijak dalam bertindak sesuai kearifan lokalnya. Budaya tandingan dapat ditemukan dalam komunikasi tradisional; bisa dalam bentuk kesenian, kerajinan, dongeng, tembang, dan karya sastra lokal.

Gerakan mencintai segala yang bernuansa tradisional perlu dilakukan. Tanpa budaya tandingan itu, komunikasi tradisional hanya akan menjadi bagian dari masa lalu; di tengah masa kini dan masa depan yang serba digital.[T]

Memaknai Perbedaan Komunikasi Antarbudaya:  Bukan Sekadar Wacana
Berkomunikasi dalam Kebisuan: Haru Biru Media Baru
Dimensi Komunikasi Puasa dan Lebaran
Tags: esaiilmu komunikasikomunikasikomunikasi antarbudaya
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menstruasi: Normal vs Abnormal

Next Post

Singaraja, Sebuah “Kutukan”

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Libur Hari Jumat

Singaraja, Sebuah “Kutukan”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co