3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kerauhan Zaman Now dan Kesehatan Jiwa

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
August 28, 2020
in Esai
Ketidakpastian Pandemi: Dukungan Psikososial Vs Teori Konspirasi

Ilustrasi tatkala.co | Nana Partha

Sejak dulu kita ketahui bahwa kerauhan menjadi sebuah tradisi, bagian dari ritual keagamaan dalam masyarakat Hindu Bali. Hal ini menarik minat para wisatawan bahkan ilmuwan dari luar negeri untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada saat kerauhan dalam bingkai ritual keagamaan di Bali.

Akhir-akhir ini di Bali banyak sekali fenomena kerauhan yang makin unik, tidak biasa dan beragam yang diekspos di media sosial. Ada yang menganggap hal ini sebuah kemajuan, tapi tidak sedikit juga yang menganggap ini justru hal yang meboya, atau keluar dari esensi sebuah ritual. Kerauhan zaman now ini tak jarang menimbulkan gesekan sosial di masyarakat. Saya tidak akan mengulasnya dari sudut agama karena tidak mempunyai latar belakang akan hal itu. Saya ingin menyoroti apakah ada kaitan antara kesehatan mental dengan fenomena kerauhan zaman now.

Sebenarnya, fenomena kerauhan sebagai bagian dari ritual dan tradisi budaya Bali sudah menarik perhatian ilmuwan kesehatan mental di luar negeri, bahkan pada tahun 1972 sudah ada artikel jurnal ilmiah yakni American Journal of Psychiatry yang menyinggung tentang kerauhan. Kerauhan atau ketedunan adalah bagaimana seseorang dimasuki oleh kekuatan dewa, Bhatara atau roh tergantung dari apa yang dimunculkan saat kerauhan.

Saat kerauhan terjadi kesadaran seseorang berubah, bahkan ada yang disebut sebagai nadi yang mana perubahan kesadaran masih bisa terkontrol. Ada pandangan terowongan atau tunnel vision dan ia cukup bisa mengendalikan diri. Pada keadaan ini seseorang mempunyai kekuatan melebihi dari keadaan sadar dimana mempunyai kekuatan yang lebih kuat, persepsi sensasi di panca indranya meningkat sehingga menjadi kebal, tak merasakan panas oleh api maupun terlukai oleh senjata.

Pada proses ini sebagai bagian dari ritual tentu saja ia memiliki manfaat bagi umat di mana mereka bisa melihat sifat Maha Besar Tuhan yakni tidak terbakar oleh api, tidak terlukai oleh senjata dan sebagainya. Dan diharapkan bisa meningkatkan kepercayaan dan keimanan umat terhadap kebesaran Tuhan. Kerauhan seperti ini jelas bukanlah sebuah gangguan kesehatan mental karena hanya terjadi sewaktu-waktu, hanya saat itu saja. Setelah selesai kerahuan pada sebuah ritual orang tersebut mampu untuk kembali bekerja, berkumpul kembali dengan keluarga dan tidak terjadi penurunan kualitas hidup.

Kerauhan sebagai bagian dari ritual ini hanya dialami di waktu-waktu tertentu dan tempat tertentu, misalnya saat ritual dan ada pada orang tertentu dalam hal ini mempunyai keadaan bisa, patut lan dadi. Hal ini tentu memancing keingintahuan banyak ilmuwan tentang apa yang terjadi saat kerauhan. Di sebuah jurnal ilmiah terdapat laporan penelitian yang dilakukan oleh Kawai N dan Honda M, peneliti asal Jepang di Bali yang menggunakan alat pendeteksi gelombang otak untuk membandingkan dan menemukan perbedaan antara orang yang kerauhan dan yang tidak.

Ternyata pada orang yang mengalami kerauhan memang terjadi perubahan gelombang otak bahkan setelah selesai kerauhan pun, beberapa menit kemudian, gelombang alfa dan theta-nya masih cukup tinggi. Jadi memang ada sesuatu yang terjadi di dalam otaknya, dan itu sementara saja an setelah itu tidak ada perubahan dalam kualitas hidupnya, tidak ada hendaya atau disabilitas sesudahnya. Belakangan ini, kata-kata kerauhan banyak sekali muncul di media massa untuk hal-hal yang tidak terkait dengan ritual keagamaan. Kalau kita lihat di kliping koran ada seorang pemuda “kerauhan” meminta sepeda motor Mio. Ada juga yang saat “kerauhan” menusuk kakeknya dan meminta rumah segera diselesaikan.

Menurut saya penggunaan kata-kata kerauhan ini tidak pada tempatnya dan membuat kerauhan menjadi sesuatu yang remeh. Kita tentu tahu, hal-hal di atas bukanlah bagian dari kerauhan karena tidak terkait dengan ritual tertentu dan tidak terjadi pada orang yang bisa, patut lan dadi. Patut dipertanyakan, apakah hal-hal ini sebagai kerauhan “tipe kedua” yaitu pura-pura kerauhan. Saya tidak akan banyak membahas hal ini dan segera beranjak pada kerauhan “tipe ketiga” yaitu keadaan dimana seseorang merasa yakin dirinya kerauhan padahal tidak. Pada keadaan ini ada latar belakang isu atau masalah kesehatan mental yang terjadi pada seseorang, misalnya ketidakmampuan mengekspresikan luapan emosi atau perasaan maupun permasalahan yang dialami.

Juga tentang riwayat kekerasan yang mungkin saja bisa terjadi tetapi sulit diungkapkan seseorang entah karena kondisi yang tidak memungkinkan atau situasi yang membelenggu dirinya. Ada beberapa gangguan mental yang berhubungan dan mirip seperti kerauhan yaitu gangguan konversi. Pada gangguan ini terjadi penurunan persepsi sensorik atau panca indera. Jadi sangat sulit dibedakan dengan kerauhan yang merupakan bagian dari ritual. Tetapi sebenarnya ada dasar masalah, ada latar belakang psikologis yang terganggu. Ada juga beberapa gejala yang mirip dengan hal ini, misalnya pada orang yang mengalami gangguan bipolar. Ketika berada pada tahaop manic dia merasa luar biasa, energinya berlebihan, banyak pikiran yang datang dan ramai di dalam otaknya tetapi tidak ada yang bisa dilakukan.

_____

BACA ESAI KESEHATAN JIWA LAINNYA:

  • Benci, Benar-benar Cinta
  • Mengelola Kemarahan di Masa Pandemi Nyaris Resesi
  • Berhenti Membicarakan Pandemi
  • Pendidikan Anak Terbaik di Masa Pandemi
  • Kecanduan di Masa Pandemi
  • TikTok Syndrome di Masa Pandemi
  • Orang Dengan Gangguan Jiwa, Siapa Bilang Kebal Corona?
  • Ingin Hilang Ingatan
  • Pandemi dan Gangguan Kecemasan Gelombang Kedua
  • Revolusi Tidur
  • Memaafkan 6000
  • Memaknai Kata “Terserah” Dari Kacamata Kesehatan Jiwa
  • Sakit Maag Lama dan Sulit Tidur, Bisa Jadi Psikosomatis
  • Pandemi, Belajar Mendengar dari Sang Kresna
  • Ketidakpastian Pandemi: Dukungan Psikososial Vs Teori Konspirasi

____

Beberapa bisa saja muncul gejala seperti kerauhan. Ada juga yang sifatnya gangguan mental berat di mana ada perubahan isi pikir yang salah dan aneh, bisa jadi soal keagamaan, bisa jadi soal kebesaran atau rasa curiga tetapi berlangsung secara kontinyu. Pada kondisi seperti ini orang bisa mengalami gejala seperti kerauhan, tapi hingga berjam-jam dan berhari-hari tanpa bisa kembali lagi. Hati-hati, pada kondisi ini tentu membutuhkan penanganan atau terapi. Semua hal ini perlu dicermati untuk kemudian bisa mendapatkan penanganan. Saya menulis artikel ini bukan untuk menunjuk-nunjuk atau menghakimi seseorang; “Oh ini kerauhan, oh ini bukan kerauhan“  dan sebagainya. Tulisan ini adalah refleksi pada diri kita. Ketika kita belum bisa, patut, dan dadi dan mempunyai problem dalam kehidupan yang tidak mampu kita selesaikan, maka hal-hal ini secara bawah sadar bisa muncul sebagai sebuah fenomena seperti kerauhan.

Padahal ternyata itu merupakan bagian dari masalah psikologis kita. Kalau itu yang terjadi, maka sebaiknya segeralah mengenali diri, memahami diri. Apabila hal ini terjadi pada orang-orang terdekat kita, dukung mereka untuk mendapatkan pemeriksaan atau konsultasi sehingga kualitas hidup kita nantinya kembali baik. Ketika kita sudah merasa jernih kembali dan punya kualitas   hidup yang baik, keinginan untuk ngayah muncul dalam diri kita dan makin teguh. Tanpa proses kerauhan pun kita nantinya bisa berlatih, bisa meneguhkan diri melewati proses rmenjadi bagian pengayah ritual di Bali.

Dari ini semua saya ingin fenomena-fenomena kerauhan zaman now bisa dijernihkan dengan baik, sehingga tidak jatuh pada proses yang orang Bali bilang meboya, hanya untuk menarik perhatian atau mendapatkan follower yang banyak di media sosial dan sebagainya. Apalagi di masa pandemi seperti sekarang ini latar belakang psikologis banyak orang secara umum menurun, karena berbagai masalah apakah itu masalah ekonomi, kesehatan, dan sebagainya. Penting sekali untuk berlatih terus untuk menghadapi masalah kita dengan baik secara sadar sehingga tidak perlu semua hal kita selesaikan di bawah sadar. Mudah-mudahan kita semua berada dalam dalam keadaan mantap jiwa dan raga.

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

[Kabar Minikino]: S-Express 2020 Indonesia dengan Deskripsi Audio Beri Akses Bagi Tuna Netra

Next Post

Pada Malam-malam Pandemi, Anak-anak Mewarnai Langit

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ

Psikiater di Klinik Utama Sudirman Medical Center (SMC) Denpasar, Founder Rumah Berdaya, Pegiat kesehatan jiwa di Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) simpul Bali dan Komunitas Teman Baik

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Pada Malam-malam Pandemi, Anak-anak Mewarnai Langit

Pada Malam-malam Pandemi, Anak-anak Mewarnai Langit

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co