2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Inilah Cerita Lengkap “Kisruh” Gong Kebyar Legendaris Mebarung di Panggung Hut Kota Singaraja

Jaswanto by Jaswanto
March 31, 2024
in Khas
Inilah Cerita Lengkap “Kisruh” Gong Kebyar Legendaris Mebarung di Panggung Hut Kota Singaraja

Sekaa Gong Legendaris Desa Jagaraga saat pentas di HUT Kota Singaraja | Foto: Hizkia

DI pelataran kantor PDAM Singaraja, di tengah panas dan gerah siang hari, tampak beberapa lansia bersama anak-anak muda duduk sambil mengobrol. Para lansia itu bukan pensiunan PDAM, apalagi hendak melunasi tagihan air. Bukan. Mereka merupakan bagian dari Sekaa Gong Legendaris Jaya Kusuma Desa Jagaraga, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng, yang akan mebarung di malam puncak HUT ke-420 Kota Singaraja, yang digelar di Lapangan Bhuana Patra Singaraja, Sabtu (30/3/2024) malam.

Jaya Kusuma juga akan tampil di panggung Pesta Kesenian Bali (PKB) tahun ini. Oleh karena itu, sebelum pentas di PKB, terlebih dahulu Pemerintah Buleleng meminta mereka untuk menunjukkan garapan tabuh dan tarinya di panggung hari jadi Singaraja. Maka, mereka dijadwalkan mebarung dengan Sekaa Gong Legendaris Eka Wakya Banjar Paketan, Desa Adat Buleleng, yang juga akan mewakili Buleleng di PKB tahun ini.

“Kami sudah di sini sejak pukul 12 siang,” ujar Nyoman Arya Suriawan, koordinator Sekaa Jaya Kusuma. Saat ditemui, Arya sedang mengarahkan seorang pemuda untuk melipat-lipat udeng yang akan dikenakan para penabuh. “Tadi siang sempat gladi, tapi sebentar, karena panggung dipakai cek sound band dari Ibu Kota,” sambung Arya. Ia sedikit kecewa mengenai hal tersebut. Menurutnya, kurang tepat menempatkan kesenian tradisional dengan modern dalam satu susunan acara—dan dalam satu panggung pula.

Sekaa Eka Wakya saat pentas di panggung HUT Kota Singaraja | Foto: Hizkia

Namun, terlepas dari itu, Arya mengatakan kegiatan ini cukup penting bagi Sekaa Jaya Kusuma. Ia menganggap panggung HUT Kota Singgaraja sebagai simulasi sebelum ke PKB nanti. “Supaya tidak kaget saat di PKB,” ujarnya sembari tertawa.

Pada acara mebarung kali ini, Sekaa Jaya Kusuma akan membawakan satu tabuh dan satu tari, yaitu Tabuh Baratayuda dan Tari Terunajaya. Arya mengatakan, tabuh dan tari tersebut dipilih karena itu merupakan kebanggaan masyarakat Jagaraga. Selain itu, ini merupakan bentuk penghargaan kepada penciptanya, sang maestro Gde Manik.

Sementara Sekaa Jaya Kusuma masih persiapan di kantor PDAM yang berdiri tepat di belakang panggung acara di Lapangan Bhuana Patra, sore menjelang pementasan, anggota Sekaa Eka Wakya sudah duduk di kursi yang telah disediakan panitia—tepatnya di luar pagar panggung utama. Dengan pakaian serba hitam, mereka duduk dengan tenang, termasuk I Made Astawa, Kelian Sekaa Gong Legandaris Eka Wakya.

Sekaa Jaya Kusuma saat pentas di panggung HUT Kota Singaraja | Foto: Hizkia

Sebagaimana telah disinggung di atas, tahun ini, Eka Wakya didaulat menjadi duta Gong Kebyar Legendaris Kabupaten Buleleng di ajang PKB. “Sejak dua bulan lalu kami sudah mempersiapkan semuanya,” kata Made Astawa. Ia mencoba mengeraskan suara di tengah riuh orang-orang yang berada di sekitarnya. “Kami akan membawakan satu tabuh dan satu tari, seperti Jagaraga,” kata Astawa lagi.

I Gede Arya Septiawan, yang bertugas mengkoordinir Sekaa Eka Wakya, duduk di depan Made Astawa. Ia mendengarkan penjelasan orang tua itu sebelum menambahkan jawabannya. “Benar memang. Untuk malam ini kami hanya akan membawakan dua materi, tapi untuk PKB kami menampilkan empat materi,” ujarnya menambahkan.

Arya Septiawan juga mengatakan bahwa persiapan mereka untuk PKB sudah sejak dua bulan yang lalu. Tapi serius persiapan terhitung baru seminggu belakangan. Hal tersebut dikarenakan banyaknya pementasan job yang mereka dapatkan. 

Penari Sekaa Eka Wakya sebelum pentas | Foto: Hizkia

“Di samping sebagai latihan, acara malam ini juga sebagai ajang untuk menunjukkan eksistensi Eka Wakya yang notabene sudah berdiri sejak tahun 1917. Malam ini kami membawa gamelan yang sudah ada sejak dulu. Dan dari dulu sampai sekarang, kami tidak pernah putus generasi,” ujar Septiawan.

Seperti Jaya Kusuma yang membawakan tabuh dan tari kebanggaannya, Eka Wakya pun demikian. Pada malam puncak HUT Kota Singaraja tahun ini, mereka akan menampilkan Tari Gelatik dan Tabuh Dwikora—dua materi yang juga akan dipentaskan di PKB mendatang. Tari Gelatik, tari ciptaan Nyoman Arcana itu, direkonstruksi bersama oleh Sekaa Eka Wakya.

Di depan panggung, kursi undangan sudah nyaris terisi penuh. Itu tempat para pejabat dan orang-orang penting di Buleleng. Sementara acara belum dimulai, masyarakat sudah menyerbu Lapangan Bhuana Patra. Sebentar saja, lapak-lapak penjaja makanan bak donat manis yang dikerubungi semut-semut lapar. Antrean mengular di setiap stand makanan dan minuman yang berjajar di sebelah timur lapangan.

Sesaat setelah Pejabat (PJ) Bupati Buleleng duduk di kursinya, masing-masing penabuh dari kedua sekaa diminta untuk menaiki panggung acara. Mereka duduk di belakang gamelan masing-masing. Sekaa Jaya Kusuma di sebelah barat menghadap ke timur. Dan sebaliknya, Eka Wakya duduk di panggung sebelah timur dan menghadap ke barat. Setelah pembawa acara mempersilakan, Jaya Kusuma membuka malam puncak HUT Kota Singaraja dengan tabuh Baratayudha.

Suara gamelan yang dipukul serentak, memecah keramaian. Orang-orang tertuju pada satu titik. Penabuh tua dan muda nyaris menyatu dengan gamelan yang dimainkan. Dengan durasi yang lumayan panjang, Baratayudha selesai dan mendapat tepuk tangan para penonton. Tak lama setelah itu, giliran Dwikora yang dimainkan Sekaa Eka Wakya. Dan seperti Jaya Kusuma, Eka Wakya juga mendapat tepuk tangan dan teriakan-teriakan dukungan dari para penonton. Ini benar-benar gong mebarung.

Salah satu penari yang tidak jadi pentas | Foto: Kardian

Sementara para penabuh unjuk kebolehan di atas panggung, para penari dari kedua sekaa masih duduk di belakang panggung. Tak hanya menampilkan penari muda, kedua belah pihak juga mengajak penari-penari tua. Di belakang panggung itu, kedua kelompok penari terlihat saling bercakap-cakap, berfoto, dan memastikan riasan mereka baik-baik saja, sambil menunggu giliran dan panggilan pembawa acara.

Seusai Tabuh Baratayudha dan Dwikora dimainkan, acara dilanjutkan dengan seremonial, formalitas, seperti menyanyikan lagu Indonesia Raya, laporan ketua panitia, sambutan PJ Bupati, pemotongan tumpeng, dan melantunkan lagu “Selamat Ulang Tahun”-nya Jamrud—yang sudah pasaran, dan diputar di mana-mana itu.

Malam itu, di atas panggung, para pejabat Buleleng benar-benar bersuka-cita merayakan hari jadi Singaraja. Mereka bernyanyi, mereka bertepuk tangan, mereka bergembira. Sedangkan di sisi panggung paling pinggir (di sisi kanan dan kiri panggung), seniman Gong Kebyar duduk bengong menyaksikannya—dan beberapa yang muda terlihat mengabadikannya dengan telpon genggam. Beberapa seniman tua duduk di kursi tanpa sandaran di pinggir panggung yang tinggi itu.

Namun, tak ada yang mengira, setelah beberapa acara seremonial yang menggembirakan itu, Sekaa Jaya Kusuma dan Eka Wakya, memutuskan untuk tidak melanjutkan pentas malam itu. Mereka kecewa, sebab jadwal yang berubah-ubah. Acara mebarung gagal diselesaikan. Kedua sekaa gong legendaris itu hanya sempat menampilkan tabuhnya saja, tapi tidak dengan tariannya. Gelatik dan Terunajaya tak jadi pentas di HUT Kota Singaraja.

“Kami dan Banjar Paketan sepakat untuk pulang karena jadwalnya terus dirubah-rubah. Kasihan yang tua-tua, duduk dari tadi siang. Kasihan juga para penarinya,” ujar I Made Andreas Dylon, seniman muda Sekaa Jaya Kusuma. Ia mengungkapkan kekecewaannya.

Malam puncak yang awalnya berjalan baik-baik saja, tiba-tiba berubah menjadi menegangkan. Kekecewaan seniman Gong Kebyar dari kedua sekaa tidak bisa ditawar. Mereka memutuskan untuk turun panggung dan membatalkan pementasan. Gong dan peralatan lainnya pun turut diangkut kembali ke tempat asal masing-masing.

Tampak para seniman hendak pulang | Foto: Kardian

Suasana tampak gaduh dan ricuh. Para seniman muda, dengan wajah geram, berbondong-bondong meninggalkan panggung kegiatan. Mereka mengumpat, menyumpah-serapah entah kepada siapa. Tetapi, seniman yang berumur tua, terlihat lebih pasrah dan menerima. Namun, tidak dengan para penari. Dengan pakaian dan riasan lengkap, beberapa penari menunjukkan emosinya. Meski yang lainnya memilih diam, tertunduk lesu. Pasrah.

Tak hanya Dylon, I Gede Arya Septiawan dari Sekaa Eka Wakya juga tak dapat menyembunyikan kekecewaannya. Ia sangat menyayangkan kejadian ini. Septiawan juga merasa kasihan dengan para penari yang sudah mempersiapkan diri dari pukul 12 siang untuk gladi dan berias. “Apalagi para penari legen yang sudah tua,” ujarnya.

Sebagaimana yang dikatakan Nyoman Arya dari Sekaa Jaya Kusuma di awal tulisan, Pembina Sekaa Gong Legendaris Eka Wakya, Kadek Pasca Wirsuta, juga menegaskan bahwa pertunjukan mebarung seharusnya diberikan ruang khusus, bukan digabungkan dengan pertunjukan modern. Sebagai bentuk penghargaan terhadap warisan budaya, panggung khusus untuk pertunjukan tradisional perlu dipertimbangkan agar tetap mempertahankan keindahan dan keutuhan seni tradisional Bali yang kaya dan mendalam.

Nyoman Arya tampak tertegun | Foto: Kardian

“Acaranya sudah bagus, tapi terus ada perubahan. Seharusnya kalau sudah tetap ya tetap. Saya bawa taksu ke sini agar tidak diremehkan. Untuk besok-besok supaya tidak seperti ini. Kami harap, untuk pertunjukkan tradisi diberikan ruang khusus, bukan digabung dengan band,”ujar Pasca Wrasuta tegas.

Sementara itu, Ketua Sekaa Gong Legendaris Desa Jagaraga, Nyoman Arya Suriawan tidak dapat berbuat banyak. Sejak siang dia sudah menahan emosinya. Tapi sebagai seorang pemimpin, malam itu ia terlihat memberikan pemahaman kepada anggotanya, khususnya beberapa anggota yang telah lanjut usia.

“Seharusnya diselesaikan dulu penampilan kami, setelah itu silakan sudah acara band dan fashion show. Kalau disela-sela seperti itu, ya bukan mebarung judulnya,” ujar Arya. Seniman tari dari Jagaraga ini juga mengkritisi tata letak panggung pertunjukan yang tidak representatif untuk mebarung.

Idealnya, kata Arya, dalam mebarung, sekaa gong seharusnya tampil dan terlihat oleh penonton. Akan tetapi, malam itu, posisi kedua gong legendaris tersebut justru tersembunyi di balik videotron yang dipasang di kanan-kiri panggung. “Mohon maaf, kami merasa kecewa, seolah-olah yang dipentingkan itu hanya musik modern saja,” kata Arya.

Pada malam itu juga, Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng, Nyoman Wisandika segera meminta maaf atas kekeliruan jadwal yang diberikan. “Kami mohon maaf. Jadikan ini pembelajaran dan evaluasi buat kami, agar ke depan tidak seperti ini lagi,” ujar Wisandika di hadapan para seniman, Sabtu (30/3/2024) malam.

Hari ini, Minggu, 31 Maret 2024, Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng mendatangi Sekaa Gong Legendaris Eka Wakya dan Sekaa Jaya Kusuma untuk melakukan Guru Piduka—bentuk permohonan maaf atas kejadian semalam.[T]

Reporter: Jaswanto
Penulis: Jaswanto
Editor: Made Adnyana Ole

Padepokan Seni Dwi Mekar Raih Juara Pertama Lomba Baleganjur HUT Kota Singaraja
“Empat Detik Sebelum Tidur”, Band Kreatif Kebanggaan Buleleng yang Diabaikan | Catatan HUT Kota Singaraja
Fragmentari Bianglala Denbukit, Tentang Keberagaman dan Kebanggaan yang Dibalut Sejarah Kota Singaraja
Tags: Banjar PaketanDesa Jagaragagong kebyarGong Legendarisgong mebarungHUT Kota SingarajaSekaa Gong Eka WakyaSekaa Gong Jaya Kusuma
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sekuntum Kamboja Bagi Dwiwindu Ilmu Pariwisata Indonesia

Next Post

Sesuatu yang Setengah

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Sesuatu yang Setengah

Sesuatu yang Setengah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co