14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Inilah Cerita Lengkap “Kisruh” Gong Kebyar Legendaris Mebarung di Panggung Hut Kota Singaraja

Jaswanto by Jaswanto
March 31, 2024
in Khas
Inilah Cerita Lengkap “Kisruh” Gong Kebyar Legendaris Mebarung di Panggung Hut Kota Singaraja

Sekaa Gong Legendaris Desa Jagaraga saat pentas di HUT Kota Singaraja | Foto: Hizkia

DI pelataran kantor PDAM Singaraja, di tengah panas dan gerah siang hari, tampak beberapa lansia bersama anak-anak muda duduk sambil mengobrol. Para lansia itu bukan pensiunan PDAM, apalagi hendak melunasi tagihan air. Bukan. Mereka merupakan bagian dari Sekaa Gong Legendaris Jaya Kusuma Desa Jagaraga, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng, yang akan mebarung di malam puncak HUT ke-420 Kota Singaraja, yang digelar di Lapangan Bhuana Patra Singaraja, Sabtu (30/3/2024) malam.

Jaya Kusuma juga akan tampil di panggung Pesta Kesenian Bali (PKB) tahun ini. Oleh karena itu, sebelum pentas di PKB, terlebih dahulu Pemerintah Buleleng meminta mereka untuk menunjukkan garapan tabuh dan tarinya di panggung hari jadi Singaraja. Maka, mereka dijadwalkan mebarung dengan Sekaa Gong Legendaris Eka Wakya Banjar Paketan, Desa Adat Buleleng, yang juga akan mewakili Buleleng di PKB tahun ini.

“Kami sudah di sini sejak pukul 12 siang,” ujar Nyoman Arya Suriawan, koordinator Sekaa Jaya Kusuma. Saat ditemui, Arya sedang mengarahkan seorang pemuda untuk melipat-lipat udeng yang akan dikenakan para penabuh. “Tadi siang sempat gladi, tapi sebentar, karena panggung dipakai cek sound band dari Ibu Kota,” sambung Arya. Ia sedikit kecewa mengenai hal tersebut. Menurutnya, kurang tepat menempatkan kesenian tradisional dengan modern dalam satu susunan acara—dan dalam satu panggung pula.

Sekaa Eka Wakya saat pentas di panggung HUT Kota Singaraja | Foto: Hizkia

Namun, terlepas dari itu, Arya mengatakan kegiatan ini cukup penting bagi Sekaa Jaya Kusuma. Ia menganggap panggung HUT Kota Singgaraja sebagai simulasi sebelum ke PKB nanti. “Supaya tidak kaget saat di PKB,” ujarnya sembari tertawa.

Pada acara mebarung kali ini, Sekaa Jaya Kusuma akan membawakan satu tabuh dan satu tari, yaitu Tabuh Baratayuda dan Tari Terunajaya. Arya mengatakan, tabuh dan tari tersebut dipilih karena itu merupakan kebanggaan masyarakat Jagaraga. Selain itu, ini merupakan bentuk penghargaan kepada penciptanya, sang maestro Gde Manik.

Sementara Sekaa Jaya Kusuma masih persiapan di kantor PDAM yang berdiri tepat di belakang panggung acara di Lapangan Bhuana Patra, sore menjelang pementasan, anggota Sekaa Eka Wakya sudah duduk di kursi yang telah disediakan panitia—tepatnya di luar pagar panggung utama. Dengan pakaian serba hitam, mereka duduk dengan tenang, termasuk I Made Astawa, Kelian Sekaa Gong Legandaris Eka Wakya.

Sekaa Jaya Kusuma saat pentas di panggung HUT Kota Singaraja | Foto: Hizkia

Sebagaimana telah disinggung di atas, tahun ini, Eka Wakya didaulat menjadi duta Gong Kebyar Legendaris Kabupaten Buleleng di ajang PKB. “Sejak dua bulan lalu kami sudah mempersiapkan semuanya,” kata Made Astawa. Ia mencoba mengeraskan suara di tengah riuh orang-orang yang berada di sekitarnya. “Kami akan membawakan satu tabuh dan satu tari, seperti Jagaraga,” kata Astawa lagi.

I Gede Arya Septiawan, yang bertugas mengkoordinir Sekaa Eka Wakya, duduk di depan Made Astawa. Ia mendengarkan penjelasan orang tua itu sebelum menambahkan jawabannya. “Benar memang. Untuk malam ini kami hanya akan membawakan dua materi, tapi untuk PKB kami menampilkan empat materi,” ujarnya menambahkan.

Arya Septiawan juga mengatakan bahwa persiapan mereka untuk PKB sudah sejak dua bulan yang lalu. Tapi serius persiapan terhitung baru seminggu belakangan. Hal tersebut dikarenakan banyaknya pementasan job yang mereka dapatkan. 

Penari Sekaa Eka Wakya sebelum pentas | Foto: Hizkia

“Di samping sebagai latihan, acara malam ini juga sebagai ajang untuk menunjukkan eksistensi Eka Wakya yang notabene sudah berdiri sejak tahun 1917. Malam ini kami membawa gamelan yang sudah ada sejak dulu. Dan dari dulu sampai sekarang, kami tidak pernah putus generasi,” ujar Septiawan.

Seperti Jaya Kusuma yang membawakan tabuh dan tari kebanggaannya, Eka Wakya pun demikian. Pada malam puncak HUT Kota Singaraja tahun ini, mereka akan menampilkan Tari Gelatik dan Tabuh Dwikora—dua materi yang juga akan dipentaskan di PKB mendatang. Tari Gelatik, tari ciptaan Nyoman Arcana itu, direkonstruksi bersama oleh Sekaa Eka Wakya.

Di depan panggung, kursi undangan sudah nyaris terisi penuh. Itu tempat para pejabat dan orang-orang penting di Buleleng. Sementara acara belum dimulai, masyarakat sudah menyerbu Lapangan Bhuana Patra. Sebentar saja, lapak-lapak penjaja makanan bak donat manis yang dikerubungi semut-semut lapar. Antrean mengular di setiap stand makanan dan minuman yang berjajar di sebelah timur lapangan.

Sesaat setelah Pejabat (PJ) Bupati Buleleng duduk di kursinya, masing-masing penabuh dari kedua sekaa diminta untuk menaiki panggung acara. Mereka duduk di belakang gamelan masing-masing. Sekaa Jaya Kusuma di sebelah barat menghadap ke timur. Dan sebaliknya, Eka Wakya duduk di panggung sebelah timur dan menghadap ke barat. Setelah pembawa acara mempersilakan, Jaya Kusuma membuka malam puncak HUT Kota Singaraja dengan tabuh Baratayudha.

Suara gamelan yang dipukul serentak, memecah keramaian. Orang-orang tertuju pada satu titik. Penabuh tua dan muda nyaris menyatu dengan gamelan yang dimainkan. Dengan durasi yang lumayan panjang, Baratayudha selesai dan mendapat tepuk tangan para penonton. Tak lama setelah itu, giliran Dwikora yang dimainkan Sekaa Eka Wakya. Dan seperti Jaya Kusuma, Eka Wakya juga mendapat tepuk tangan dan teriakan-teriakan dukungan dari para penonton. Ini benar-benar gong mebarung.

Salah satu penari yang tidak jadi pentas | Foto: Kardian

Sementara para penabuh unjuk kebolehan di atas panggung, para penari dari kedua sekaa masih duduk di belakang panggung. Tak hanya menampilkan penari muda, kedua belah pihak juga mengajak penari-penari tua. Di belakang panggung itu, kedua kelompok penari terlihat saling bercakap-cakap, berfoto, dan memastikan riasan mereka baik-baik saja, sambil menunggu giliran dan panggilan pembawa acara.

Seusai Tabuh Baratayudha dan Dwikora dimainkan, acara dilanjutkan dengan seremonial, formalitas, seperti menyanyikan lagu Indonesia Raya, laporan ketua panitia, sambutan PJ Bupati, pemotongan tumpeng, dan melantunkan lagu “Selamat Ulang Tahun”-nya Jamrud—yang sudah pasaran, dan diputar di mana-mana itu.

Malam itu, di atas panggung, para pejabat Buleleng benar-benar bersuka-cita merayakan hari jadi Singaraja. Mereka bernyanyi, mereka bertepuk tangan, mereka bergembira. Sedangkan di sisi panggung paling pinggir (di sisi kanan dan kiri panggung), seniman Gong Kebyar duduk bengong menyaksikannya—dan beberapa yang muda terlihat mengabadikannya dengan telpon genggam. Beberapa seniman tua duduk di kursi tanpa sandaran di pinggir panggung yang tinggi itu.

Namun, tak ada yang mengira, setelah beberapa acara seremonial yang menggembirakan itu, Sekaa Jaya Kusuma dan Eka Wakya, memutuskan untuk tidak melanjutkan pentas malam itu. Mereka kecewa, sebab jadwal yang berubah-ubah. Acara mebarung gagal diselesaikan. Kedua sekaa gong legendaris itu hanya sempat menampilkan tabuhnya saja, tapi tidak dengan tariannya. Gelatik dan Terunajaya tak jadi pentas di HUT Kota Singaraja.

“Kami dan Banjar Paketan sepakat untuk pulang karena jadwalnya terus dirubah-rubah. Kasihan yang tua-tua, duduk dari tadi siang. Kasihan juga para penarinya,” ujar I Made Andreas Dylon, seniman muda Sekaa Jaya Kusuma. Ia mengungkapkan kekecewaannya.

Malam puncak yang awalnya berjalan baik-baik saja, tiba-tiba berubah menjadi menegangkan. Kekecewaan seniman Gong Kebyar dari kedua sekaa tidak bisa ditawar. Mereka memutuskan untuk turun panggung dan membatalkan pementasan. Gong dan peralatan lainnya pun turut diangkut kembali ke tempat asal masing-masing.

Tampak para seniman hendak pulang | Foto: Kardian

Suasana tampak gaduh dan ricuh. Para seniman muda, dengan wajah geram, berbondong-bondong meninggalkan panggung kegiatan. Mereka mengumpat, menyumpah-serapah entah kepada siapa. Tetapi, seniman yang berumur tua, terlihat lebih pasrah dan menerima. Namun, tidak dengan para penari. Dengan pakaian dan riasan lengkap, beberapa penari menunjukkan emosinya. Meski yang lainnya memilih diam, tertunduk lesu. Pasrah.

Tak hanya Dylon, I Gede Arya Septiawan dari Sekaa Eka Wakya juga tak dapat menyembunyikan kekecewaannya. Ia sangat menyayangkan kejadian ini. Septiawan juga merasa kasihan dengan para penari yang sudah mempersiapkan diri dari pukul 12 siang untuk gladi dan berias. “Apalagi para penari legen yang sudah tua,” ujarnya.

Sebagaimana yang dikatakan Nyoman Arya dari Sekaa Jaya Kusuma di awal tulisan, Pembina Sekaa Gong Legendaris Eka Wakya, Kadek Pasca Wirsuta, juga menegaskan bahwa pertunjukan mebarung seharusnya diberikan ruang khusus, bukan digabungkan dengan pertunjukan modern. Sebagai bentuk penghargaan terhadap warisan budaya, panggung khusus untuk pertunjukan tradisional perlu dipertimbangkan agar tetap mempertahankan keindahan dan keutuhan seni tradisional Bali yang kaya dan mendalam.

Nyoman Arya tampak tertegun | Foto: Kardian

“Acaranya sudah bagus, tapi terus ada perubahan. Seharusnya kalau sudah tetap ya tetap. Saya bawa taksu ke sini agar tidak diremehkan. Untuk besok-besok supaya tidak seperti ini. Kami harap, untuk pertunjukkan tradisi diberikan ruang khusus, bukan digabung dengan band,”ujar Pasca Wrasuta tegas.

Sementara itu, Ketua Sekaa Gong Legendaris Desa Jagaraga, Nyoman Arya Suriawan tidak dapat berbuat banyak. Sejak siang dia sudah menahan emosinya. Tapi sebagai seorang pemimpin, malam itu ia terlihat memberikan pemahaman kepada anggotanya, khususnya beberapa anggota yang telah lanjut usia.

“Seharusnya diselesaikan dulu penampilan kami, setelah itu silakan sudah acara band dan fashion show. Kalau disela-sela seperti itu, ya bukan mebarung judulnya,” ujar Arya. Seniman tari dari Jagaraga ini juga mengkritisi tata letak panggung pertunjukan yang tidak representatif untuk mebarung.

Idealnya, kata Arya, dalam mebarung, sekaa gong seharusnya tampil dan terlihat oleh penonton. Akan tetapi, malam itu, posisi kedua gong legendaris tersebut justru tersembunyi di balik videotron yang dipasang di kanan-kiri panggung. “Mohon maaf, kami merasa kecewa, seolah-olah yang dipentingkan itu hanya musik modern saja,” kata Arya.

Pada malam itu juga, Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng, Nyoman Wisandika segera meminta maaf atas kekeliruan jadwal yang diberikan. “Kami mohon maaf. Jadikan ini pembelajaran dan evaluasi buat kami, agar ke depan tidak seperti ini lagi,” ujar Wisandika di hadapan para seniman, Sabtu (30/3/2024) malam.

Hari ini, Minggu, 31 Maret 2024, Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng mendatangi Sekaa Gong Legendaris Eka Wakya dan Sekaa Jaya Kusuma untuk melakukan Guru Piduka—bentuk permohonan maaf atas kejadian semalam.[T]

Reporter: Jaswanto
Penulis: Jaswanto
Editor: Made Adnyana Ole

Padepokan Seni Dwi Mekar Raih Juara Pertama Lomba Baleganjur HUT Kota Singaraja
“Empat Detik Sebelum Tidur”, Band Kreatif Kebanggaan Buleleng yang Diabaikan | Catatan HUT Kota Singaraja
Fragmentari Bianglala Denbukit, Tentang Keberagaman dan Kebanggaan yang Dibalut Sejarah Kota Singaraja
Tags: Banjar PaketanDesa Jagaragagong kebyarGong Legendarisgong mebarungHUT Kota SingarajaSekaa Gong Eka WakyaSekaa Gong Jaya Kusuma
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sekuntum Kamboja Bagi Dwiwindu Ilmu Pariwisata Indonesia

Next Post

Sesuatu yang Setengah

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

by Emi Suy
May 11, 2026
0
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

Read moreDetails

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

Read moreDetails

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

by Gading Ganesha
May 2, 2026
0
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

Read moreDetails

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026
0
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

Read moreDetails

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
0
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

Read moreDetails

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails
Next Post
Sesuatu yang Setengah

Sesuatu yang Setengah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co