2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sekuntum Kamboja Bagi Dwiwindu Ilmu Pariwisata Indonesia

I Made Sarjana by I Made Sarjana
March 31, 2024
in Esai
Sekuntum Kamboja Bagi Dwiwindu Ilmu Pariwisata Indonesia

Pembukaan semiloka dwiwindu ilmu pariwisata yang digelar di Kampus Poltekpar Bali, pada Senin 25 Maret 2024.

Tulisan ini merupakan tulisan pertama dari laporan pandangan mata pelaksanaan semiloka dwiwindu ilmu pariwisata yang digelar di Kampus Poltekpar Bali, pada Senin 25 Maret 2024. Ada tiga pembicara yang hadir kala itu yakni Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt;  Prof. Azril Azahari, Ph.D dan Prof. Dr. Diena Mutiara Lemy, A.Par., M.M., CHE. Berikut, ulasannya ditulis I Made Sarjana.

***

SEMUA orang menjadi wisatawan, namun tidak semua orang paham pariwisata. Inilah menjadi alasan kenapa ilmu pariwisata belum diakui sepenuhnya sebagai ilmu mandiri. Pariwisata didefinisikan sebagai perjalanan sementara seseorang untuk keluar dari rumah atau meninggalkan pekerjaan rutinnya. Alibi yang muncul sangat beragam seperti mencari ilmu atau meningkatkan kapasitas diri (sekolah, kursus, atau studi banding), mendapatkan pengelaman baru, bertemu kerabat atau sahabat maupun sekedar jalan-jalan menghilangkan kejenuhan. Alasan spiritual pun kerap menjadi pertimbangan orang rehat sejenak dari tanggung jawab sehari-hari. Sebagai contoh, warga Hindu akan mengisi waktu liburan dengan tirta yatra atau bersembahyang ke beberapa pura.

“Namun demikian, banyak orang menjawab tidak tahu Ketika disodori pertanyaan apa itu pariwisata,” tutur Peneliti Pusat Unggulan Pariwisata (PUPAR) Universitas Udayana Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt kala membuka presentasinya pada Semiloka Dwiwindu Ilmu Pariwisata, Senin (25/3/2024) di Kampus Poltekpar Bali, Kampial Nusa Dua. Lebih jauh dia bertutur jangankan orang biasa yang berprofesi sebagai buruh serabutan, pedagang atau petani, para akademisi yang berkutat dengan konsep dan teori keilmuan acap kali menjawab tidak tahu pariwisata tetapi dia melakukan aktivitas pariwisata.

Kondisi itu digambarkan sebagai suasana paradoks, sama halnya dengan perdebatan status pariwisata itu ilmu mandiri atau bukan. Secara formal, pariwisata telah dideklarasikan sebagai ilmu mandiri sejak 31 Maret 2008, dan 31 Maret 2024 ini genap berusia 16 tahun atau dwiwindu. Prof. Darma Putra mengakui bahwa pariwisata baru muncul sebagai bidang studi baru tahun 1990-an. Banyak orang bepergian untuk menunjukkan dirinya sebagai pribadi berbeda dengan warga lainnya, paham ini sebagai wujud “aktualisasi diri” pada konsep Maslow. Belum diakuinya pariwisata sebagai ilmu mandiri, karena dianggap pariwisata belum memiliki kajian. Tudingan ini direspon dengan munculnya teori-teori pariwisata dalam berbagai istilah. tourology (Leiper, 1981), tourismology (Jovicic, 1988), atau turystologia (Chłopecki, 2005).

Lantas kenapa masih terkesan bukan sebagai ilmu mandiri? Prof. Darma Putra punya penjelasan Panjang. Pertama, orang belajar pariwisata sangat dominan pada pendidikan vokasi (skill) daripada kajian (science). Hasil akhirnya lebih berorientasi pada upah daripada karya ilmiah, atau imajinasinya soal komisi daripada publikasi. Kedua, pada etafe awal perkembangannya pariwisata diposisilan sebagai sub-disiplin dari ilmu konvensional seperti Antropologi, Ekonomi, dan Geografi. Hal ini dikarenakan penyebutan pariwisata, minus morfem –logi pada nama seperti dalam sosiologi dan antropologi.

“Bukankah, tak semua ilmu punya morfem –logi, seperti ilmu politik,sejarah, ekonomi?” tanya Prof. Darma Putra Retoris. Keempat, konsekuensi dari sub-disiplin adalah pariwisata sebagai disiplin tanpa teori sendiri. Argumentasi paling akhir pariwisata “dibully” bukan ilmu mandiri karena pariwisata lebih berasosiasi rekreasi daripada riset; on leave vs on duty; informative vs depth interview.

Dalam perspektif Prof. Darma Putra ada empat tahap  yang mesti dilalui pariwisata atau cabang ilmu lain menuju pengakuan sebagai disiplin. Tahap awal, ilmuwan mengenalkan objek dan fenomena baru sebagai materi untuk disiplin ilmu baru dengan bahasa yang mencukupi. Selanjutnya, ilmuwan membangun metode dan teori riset untuk disiplin baru. Tahap ketiga, ilmuwan menghasilkan banyak pengetahuan spesifik dari publikasi riset yang menunjukkan penggunaan metode yang dibangun. Pada puncaknya, ilmuwan menjaga dan meneruskan ilmu pengetahuan yang dihasilkan pada tahap pertama sampai tahap ketiga.

Lantas seberapa pantas, pariwisata mengantongi predikat sebagai ilmu mandiri? Untuk menjawab pertanyaan mendasar ini, Prof. Darma Putra punya segudang asumsi untuk meyakinkan khalayak bahwa pariwisata itu memang memenuhi syarat sebagai ilmu mandiri. Pariwisata  sudah dipelajari di lembaga pendidikan tingkat sarjana dan pascasarjana di dunia. Jadi pariwisata itu lebih dari vokasi. Bila akademisi atau penulis ingin mencari referensi, tentu eksistensi jurnal khusus pariwisata jawabannya. Sudah banyak jurnal bereputasi yang memperkuat pariwisata sebagai ilmu. Sebut saja, Annal of Tourism Research yang diterbitkan sejak 1973 dan Current Issues in Tourism yang terbit sejak 1998.

Asumsi lain yang juga menguatkan, jumlah mahasiswa prodi pariwisata rata-rata lebih tinggi daripada mahasiswa prodi lain, seperti antropologi, arkeologi, dan sejarah. “Ada fakta unik dan menarik itu, kendati bidang kajian pariwisata baru diakui sebagai ilmu pada tahun 2008 sekaligus membuka jalan pembentukkan fakultas pariwisata, namun pengangkatan professor pariwisata di Indonesia mulai 2001. Dan kini ada banyak professor pariwisata; professor ilmu pariwisata yang pertama adalah Prof. Ir. I Gde Pitana, M.Sc., Ph.D., ditetapkan pada 1 Oktober 2001. Sementara itu, Prodi Magister Pariwisata direstui pertama 2001, di Program Pascasarjana Unud,” papar Prof. Nyoman Darma Putra.

Asumsi lainnya pariwisata itu ilmu mandiri, Tahun 2010, Pascasarjana Unud membuka Prodi Doktor Pariwisata; pertama di Indonesia. Jika ditelusuri jumlah Prodi dan Fak Pariwisata di Indonesia bertambah terus, kini bagai jamur di musim hujan. Secara kelembagaan dan komunitas akademik yang mendukung ilmu pariwisata sebagai ilmu mandiri juga sudah hadir Hildiktipari dan Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI) yang mendukung pengembangan pariwisata dalam tiga ranah: Industri, Ilmu, dan Institusi Pendidikan Kepariwisataan. Disamping itu, jurnal pariwisata sebagai media deseminasi keilmuan hadir sebagai penguat pilar ilmu pariwisata.

Dalam perspektif Prof. Nyoman Darma Putra, ada sejumlah tantangan yang dihadapi dalam pengembangan pengembangan Ilmu Pariwisata. Pertama, kuatnya trend riset pariwisata yang positivistik, pemecahan masalah pembangunan pariwisata  yang menimbulkan sikap over-optimistic dan bias-positif. Kedua, dominannya paradigma pariwisata berkelanjutan, namun fakta kebalikannya terabaikan: ketika over tourism sudah nyata, strategi peningkatan angka kunjungan terus didorong sebagai indikator kemajuan.

Ketiga, kurangnya teori-teori baru dari kajian pariwisata mengingat selama ini, teori yang banyak dipakai adalah teori atau pendekatan lama seperti tourism area life cycle, host-guest, dan tipologi tourist. Keempat, ketika muncul teori atau pendekatan baru seperti Community Based Tourism (CBT), Creative Tourism, Alternative Tourism, aplikasinya tetap condong pada developmentalism bukan kritik atas pembangunan. Terakhir, kajiannya, pro-program pemerintah daripada kondisi nyata lapangan.

Menyimak fakta-fakta historis dan empiris dari ilmu pariwisata dan tantangannya di masa depan tersebut. Prof. Nyoman Darma Putra pun mempersembahkan sekuntum kamboja pada ulang tahun ilmu pariwisata yang ke-16 tanggal 31 Maret 2024. Ada enam helai dalam putik kamboja yang ditawarkan yakni diformulasikan sebagai abjad KAMBOJA.

Uraiannya, huruf K berarti ilmu pariwisata harus dibangun dalam kajian kritis, dan kolaboratif-multidisipliner. Huruf A dengan pendekatan adaptif, adoptif,  maupun “adeptif” alias dapat dijual. Sementara itu M ditekankan sebagai upaya menggali dan mengembangkan metode keilmuan pariwisata harus lebih inovatif, dan up to date. B-nya mengandung pengertian brief-policy oriented, diikuti O sebagai upaya tak kenal lelah mewujudkan orisinalitas karya.  Ada huruf J yang menunjukkan penguatan pariwisata sebagai ilmu mandiri membutuhkan jejaring stakeholders (pemangku kepentingan); serta huruf paling akhir yaitu A lagi diartikan sebagai para pemangku kepentingan pariwisata mesti aktif publikasi, dan aktif aplikasi.

Boleh jadi, sekuntum kamboja ini belum cukup disuntingkan ditelinga si gadis “ilmu Pariwisata” yang mulai menunjukkan pesonanya di usia 16 tahun. Jika ada yang punya hadiah berbeda dari sudut pandang lain tentu akan semakin indah. Intinya, dari balik semerbak bunga kamboja yang disodorkan Peneliti Pusat Unggulan Pariwisata Unud Prof. I Nyoman Darma Putra, dengan senang hati kita berujar “Dirgahayu Ilmu Pariwisata Indonesia”. [T]

Tags: ilmu pariwisataPariwisata
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kolaborasi Jepang-Pedawa, Usaha Memperkenalkan Seni-Budaya Lintas Negara

Next Post

Inilah Cerita Lengkap “Kisruh” Gong Kebyar Legendaris Mebarung di Panggung Hut Kota Singaraja

I Made Sarjana

I Made Sarjana

Dr. I Made Sarjana, SP., M.Sc., lahir di Desa Mengani, Bangli. Ketua Lab. Subak dan Agrowisata, Prodi Agribisnis FP Unud

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Inilah Cerita Lengkap “Kisruh” Gong Kebyar Legendaris Mebarung di Panggung Hut Kota Singaraja

Inilah Cerita Lengkap “Kisruh” Gong Kebyar Legendaris Mebarung di Panggung Hut Kota Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co