3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Fragmentari Bianglala Denbukit, Tentang Keberagaman dan Kebanggaan yang Dibalut Sejarah Kota Singaraja

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
March 27, 2024
in Ulas Pentas
Fragmentari Bianglala Denbukit, Tentang Keberagaman dan Kebanggaan yang Dibalut Sejarah Kota Singaraja

Frgamentari Bianglala Denbukit pada HUT Kota Singaraja | Foto: Dok. Disbud Buleleng

HUTAN lebat, sejuk dan lestari. Di tengah hutan itu, Ki Barak bergerak bersama pengikutnya, bergerak  menuju Denbukit. Ia bertemu Panji Landung dan menyampaikan semacam ramalan bahwa kelak Ki Barak akan menjadi raja di wilayah Denbukit.

Begitulah pementasan Fragmentari Bianglala Denbukit dibuka. Lalu cerita bergerak, pesan-pesan bergerak, dan kemeriahan pun menguar pada panggung terbuka di Lapangan Bhuana Patra Singaraja, Selasa malam, 26 Maret 2024.

Fragmentari yang digarap kru dari Bidang Kesenian Dinas Kebudayaan Buleleng itu adalah kesenian pembuka dari acara “Malam Semarak Buleleng Berbangga” serangkaian perayaan HUT ke-420 Kota Singaraja. Acara itu sendiri dibuka Pj. Bupati Buleleng Ketut Lihadnyana.

Di tengah panggung yang gemerlap dengan lampu warna-warni, dengan tata artistik penuh cahaya terang itu, fragmentari semacam Bianglala Denbukit ini sekilas tampak seperti pelengkap panggung semata. Lihat saja, panggung itu sepertinya didesain dengan prioritas utama pada pementasan musik, sehingga kesenian tradisional semacam Fragmentari Bianglala Denbukit seakan-akan berada pada ruang yang keliru.

Apalagi, layar di latar panggung menyala terang dengan gambar warna-warni bianglala, sepertinya membuat tubuh-tubuh penari dikulum oleh cahaya warna. Padahal, dalam kesenian tradisional, cahaya seharusnya memberi “roh” pada tubuh penari agar penari bisa memancarkan sinar taksunya di atas panggung.

Namun, tak apa. Penari-penari dalam fragmentari itu sepertinya punya kekuatan untuk menunjukkan taksunya. Mereka, para penari yang sebagian besar sudah matang itu, tetap tampak menonjol di antara properti panggung yang terlalu “megah”.    

Fragmentari itu dimulai dengan tarian hutan yang indah dengan iringan tabuh manis sekaligus energik. Lalu masuklah tokoh utama, pendiri Kerajaan Buleleng, Ki Barak — yang kemudian dikenal sebagai Anglurah Panji Sakti.

Ki Barak menunggangi Singa Ambara Raja dalam Fragmentari Bianglala Denbukit | Foto: Dok. Disbud Buleleng

Cerita kemudian bergerak. Tari-tarian yang ditata Dekgeh dan iringan tabuh yang ditata Ketut Pany Ryandhi itu lantas mengalir dari awal hingga akhir, mengantarkan cerita tentang keberagaman Buleleng yang memikat.

Fragmentari itu memang bercerita tentang keberagaman budaya Buleleng di masa kini dengan balutan kisah sejarah berdirinya Kota Singaraja dengan tokoh raja besar Ki Barak Panji Sakti. Ide garapan datang dari I Ketut Mulyadi, seorang seniman tari kebanggan Buleleng yang biasa dipanggil dengan nama Ucik.

Sementara dalang dipercayakan pada Wayan Sujana dan  Putu Suarsana. Selain kru dari Dinas Kebudayaan Buleleng, pemain fragmentari yang berjumlah 50 orang itu juga dibon dari STAHN Mpu Kuturan, Undiksha Singaraja dan penari dari Dekgeh Dance Art Community.

Adegan demi adegan dalam fragmentari itu mengalir dengan lancar, dengan pembabakan yang diatur dengan baik.

Ki Barak bertemu Panji Landung di tengah hutan di atas bukit. Ki Barak mendengar ucapan Panji Landung, bahwa kelak dia akan memerintah dan jadi penguasa di wilayah Denbukit. Untuk itulah, Ki Barak berkeinginan untuk mengetahui seperti apakah daerah yang akan menjadi daerah kekuasaannya kelak. Dengan bantuan Singa Ambara Raja, Ki Barak menyisir wilayah Denbukit mulai dari ujung barat sampai ujung timur.

Nah, pada babak-babak inilah masuk kemudian, seperti sekuel-sekuel dalam film, beberapa atraksi seni yang menunjukkan tentang betapa beragamnya seni-budaya Buleleng. Bukan hanya kesenian tradisional Bali, melainkan juga kesenian khas Muslim dan Tionghoa. Di situ muncul pesan bianglala, pelangi, warna-warni, yang meski disampaikan secara agak berlebihan oleh sang dalang, namun pesan itu setidaknya memberi renungan pada kita tentang apa-apa saja yang patut jadi kebanggaan warga di Bali Utara.  

Tampil sebagai sekuel garapan seni di tengah fargmen itu antara lain gebug ende, wayang wong tejakula, adrah pegayaman, barongsai, atraksi lumba lumba lovina, dan sapi grumbungan.

Meski cerita dalam garapan ini tergolong carangan, semacam modifikasi cerita lama yang digabungkan dengan kondisi kontekstual saat ini, namun cerita ini tidak kehilangan alur untuk sampai pada pesan penting yang ingin disampaikan. Hal-hal baru yang masuk dalam garapan cerita, semisal gebug ende dan adrah, memang terasa menyimpang dari logika sejarah, namun garapan ini sepertinya bukan bertumpu pada sosialisasi sejarah, melainkan fokus pada pesan.

Gebug ende, kita tahu, bukanlah atraksi seni asli dari Buleleng. Atraksi itu dibawa oleh orang-orang dari Desa Seraya, Karangasem, yang migrasi ke wilayah Gerokgak, Buleleng bagian barat. Peristiwa migrasi itu tentu saja peristiwa baru dan jauh dari setting sejarah perjalanan Ki Barak Panji Sakti dari Klungkung ke Buleleng atau Denbukit.

Adrah, misalnya, adalah kesenian khas Muslim dari Desa Pegayaman. Kata sejarah, warga Muslim itu dibawa oleh Panji Sakti dari Jawa pada saat Panji Sakti sudah menjadi raja. Jadi, logikanya seperti tak masuk akal jika Ki Barak sudah melihat kesenian adrah pada saat ia baru saja memasuki Denbukit.

Semarak keberagaman seni budaya yang ditampilkan dalam Fragmentari Bianglala Denbukit | Foto: Dok. Disbud Buleleng

Namun, sekali lagi, fragmentari Bianglala Denbukit ini sejak awal memang tidak bicara soal sejarah, meski sejarah itu sendiri sebenarnya juga masih bisa diperdebatkan. Fragmentari ini bicara soal pesan, dan pada saat itulah penggarap harus lihai melakukan melakukan modifikasi terhadap cerita-cerita yang sudah dikenal masyarakat sekaligus memasukkan unsur-unsur kekininian agar cerita menjadi segar. Dan fragmentari Bianglala Denbukit, bisa disebut sebagai fragmen yang secara utuh bicara soal keberagaman dan kebanggaan, dan bukan bicara soal romantisme sejarah.    

“Bianglala atau pelangi memiliki warna yang berbeda, di mana tiap warna memiliki karakteristik yang berbeda pula,” kata Mulyadi tentang ide garapannya.

Seperti halnya Denbukit atau Buleleng, kata Mulyadi, memiliki tradisi adat dan budaya yang berbeda di setiap bagian wilayahnya, yang dianalogikan sebagai warna warna dari bianglala. “Itulah inti dari fragmentari itu,” kata Mulyadi yang tamatan ISI Denpasar itu.

Pesan ini memang klise. Tapi seperti itu memang tugas kesenian. Ia menyampaikan pesan yang sama dengan cara yang beragam dan berbeda-beda. Kata-kata yang tepat sepertinya bukan “klise”, melainkan “konsisten”.

“Pesan yang ingin disampaikan dalam garapan ini adalah, kita sebagai warga Buleleng sudah sepatutnya mengetahui budaya lokal genius yang beragam dari berbagai etnis. Dan kita bisa hidup rukun berdampingan dengan etnis yang berbeda,” kata Mulyadi. [T]

“Membaca Sanghyang”: Tentang Ritual, Arsip, Posisi Perempuan, dan Pertanian
Tutur Candra Bherawa (2): Ketika Seniman dan Penikmatnya Terhubung Melalui Makna dan Falsafah
Tradisi Akar Dari Modernisasi Berkesenian | Catatan dari Atlas Beach Fest
Tags: bulelengfragmentariHUT Kota Singarajakesenian balisejarah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Suka-Duka-Lara-Pati, Mengenal 4 Serangkai Bekal Abadi

Next Post

Wajah Desa (Muslim) Pegayaman Saat Bulan Ramadan (1)

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

by Asmaran Dani
September 4, 2026
0
Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

Catatan pendek, sebagai pengantar diskusi menonton ulang dokumentasi pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot melalui Youtube, Sabtu 05 Septemper 2026 di...

Read moreDetails

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

by Yanik Parta
August 24, 2026
0
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

Read moreDetails

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
0
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

Read moreDetails

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails
Next Post
Wajah Desa (Muslim) Pegayaman Saat Bulan Ramadan (1)

Wajah Desa (Muslim) Pegayaman Saat Bulan Ramadan (1)

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co