23 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Fragmentari Bianglala Denbukit, Tentang Keberagaman dan Kebanggaan yang Dibalut Sejarah Kota Singaraja

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
March 27, 2024
in Ulas Pentas
Fragmentari Bianglala Denbukit, Tentang Keberagaman dan Kebanggaan yang Dibalut Sejarah Kota Singaraja

Frgamentari Bianglala Denbukit pada HUT Kota Singaraja | Foto: Dok. Disbud Buleleng

HUTAN lebat, sejuk dan lestari. Di tengah hutan itu, Ki Barak bergerak bersama pengikutnya, bergerak  menuju Denbukit. Ia bertemu Panji Landung dan menyampaikan semacam ramalan bahwa kelak Ki Barak akan menjadi raja di wilayah Denbukit.

Begitulah pementasan Fragmentari Bianglala Denbukit dibuka. Lalu cerita bergerak, pesan-pesan bergerak, dan kemeriahan pun menguar pada panggung terbuka di Lapangan Bhuana Patra Singaraja, Selasa malam, 26 Maret 2024.

Fragmentari yang digarap kru dari Bidang Kesenian Dinas Kebudayaan Buleleng itu adalah kesenian pembuka dari acara “Malam Semarak Buleleng Berbangga” serangkaian perayaan HUT ke-420 Kota Singaraja. Acara itu sendiri dibuka Pj. Bupati Buleleng Ketut Lihadnyana.

Di tengah panggung yang gemerlap dengan lampu warna-warni, dengan tata artistik penuh cahaya terang itu, fragmentari semacam Bianglala Denbukit ini sekilas tampak seperti pelengkap panggung semata. Lihat saja, panggung itu sepertinya didesain dengan prioritas utama pada pementasan musik, sehingga kesenian tradisional semacam Fragmentari Bianglala Denbukit seakan-akan berada pada ruang yang keliru.

Apalagi, layar di latar panggung menyala terang dengan gambar warna-warni bianglala, sepertinya membuat tubuh-tubuh penari dikulum oleh cahaya warna. Padahal, dalam kesenian tradisional, cahaya seharusnya memberi “roh” pada tubuh penari agar penari bisa memancarkan sinar taksunya di atas panggung.

Namun, tak apa. Penari-penari dalam fragmentari itu sepertinya punya kekuatan untuk menunjukkan taksunya. Mereka, para penari yang sebagian besar sudah matang itu, tetap tampak menonjol di antara properti panggung yang terlalu “megah”.    

Fragmentari itu dimulai dengan tarian hutan yang indah dengan iringan tabuh manis sekaligus energik. Lalu masuklah tokoh utama, pendiri Kerajaan Buleleng, Ki Barak — yang kemudian dikenal sebagai Anglurah Panji Sakti.

Ki Barak menunggangi Singa Ambara Raja dalam Fragmentari Bianglala Denbukit | Foto: Dok. Disbud Buleleng

Cerita kemudian bergerak. Tari-tarian yang ditata Dekgeh dan iringan tabuh yang ditata Ketut Pany Ryandhi itu lantas mengalir dari awal hingga akhir, mengantarkan cerita tentang keberagaman Buleleng yang memikat.

Fragmentari itu memang bercerita tentang keberagaman budaya Buleleng di masa kini dengan balutan kisah sejarah berdirinya Kota Singaraja dengan tokoh raja besar Ki Barak Panji Sakti. Ide garapan datang dari I Ketut Mulyadi, seorang seniman tari kebanggan Buleleng yang biasa dipanggil dengan nama Ucik.

Sementara dalang dipercayakan pada Wayan Sujana dan  Putu Suarsana. Selain kru dari Dinas Kebudayaan Buleleng, pemain fragmentari yang berjumlah 50 orang itu juga dibon dari STAHN Mpu Kuturan, Undiksha Singaraja dan penari dari Dekgeh Dance Art Community.

Adegan demi adegan dalam fragmentari itu mengalir dengan lancar, dengan pembabakan yang diatur dengan baik.

Ki Barak bertemu Panji Landung di tengah hutan di atas bukit. Ki Barak mendengar ucapan Panji Landung, bahwa kelak dia akan memerintah dan jadi penguasa di wilayah Denbukit. Untuk itulah, Ki Barak berkeinginan untuk mengetahui seperti apakah daerah yang akan menjadi daerah kekuasaannya kelak. Dengan bantuan Singa Ambara Raja, Ki Barak menyisir wilayah Denbukit mulai dari ujung barat sampai ujung timur.

Nah, pada babak-babak inilah masuk kemudian, seperti sekuel-sekuel dalam film, beberapa atraksi seni yang menunjukkan tentang betapa beragamnya seni-budaya Buleleng. Bukan hanya kesenian tradisional Bali, melainkan juga kesenian khas Muslim dan Tionghoa. Di situ muncul pesan bianglala, pelangi, warna-warni, yang meski disampaikan secara agak berlebihan oleh sang dalang, namun pesan itu setidaknya memberi renungan pada kita tentang apa-apa saja yang patut jadi kebanggaan warga di Bali Utara.  

Tampil sebagai sekuel garapan seni di tengah fargmen itu antara lain gebug ende, wayang wong tejakula, adrah pegayaman, barongsai, atraksi lumba lumba lovina, dan sapi grumbungan.

Meski cerita dalam garapan ini tergolong carangan, semacam modifikasi cerita lama yang digabungkan dengan kondisi kontekstual saat ini, namun cerita ini tidak kehilangan alur untuk sampai pada pesan penting yang ingin disampaikan. Hal-hal baru yang masuk dalam garapan cerita, semisal gebug ende dan adrah, memang terasa menyimpang dari logika sejarah, namun garapan ini sepertinya bukan bertumpu pada sosialisasi sejarah, melainkan fokus pada pesan.

Gebug ende, kita tahu, bukanlah atraksi seni asli dari Buleleng. Atraksi itu dibawa oleh orang-orang dari Desa Seraya, Karangasem, yang migrasi ke wilayah Gerokgak, Buleleng bagian barat. Peristiwa migrasi itu tentu saja peristiwa baru dan jauh dari setting sejarah perjalanan Ki Barak Panji Sakti dari Klungkung ke Buleleng atau Denbukit.

Adrah, misalnya, adalah kesenian khas Muslim dari Desa Pegayaman. Kata sejarah, warga Muslim itu dibawa oleh Panji Sakti dari Jawa pada saat Panji Sakti sudah menjadi raja. Jadi, logikanya seperti tak masuk akal jika Ki Barak sudah melihat kesenian adrah pada saat ia baru saja memasuki Denbukit.

Semarak keberagaman seni budaya yang ditampilkan dalam Fragmentari Bianglala Denbukit | Foto: Dok. Disbud Buleleng

Namun, sekali lagi, fragmentari Bianglala Denbukit ini sejak awal memang tidak bicara soal sejarah, meski sejarah itu sendiri sebenarnya juga masih bisa diperdebatkan. Fragmentari ini bicara soal pesan, dan pada saat itulah penggarap harus lihai melakukan melakukan modifikasi terhadap cerita-cerita yang sudah dikenal masyarakat sekaligus memasukkan unsur-unsur kekininian agar cerita menjadi segar. Dan fragmentari Bianglala Denbukit, bisa disebut sebagai fragmen yang secara utuh bicara soal keberagaman dan kebanggaan, dan bukan bicara soal romantisme sejarah.    

“Bianglala atau pelangi memiliki warna yang berbeda, di mana tiap warna memiliki karakteristik yang berbeda pula,” kata Mulyadi tentang ide garapannya.

Seperti halnya Denbukit atau Buleleng, kata Mulyadi, memiliki tradisi adat dan budaya yang berbeda di setiap bagian wilayahnya, yang dianalogikan sebagai warna warna dari bianglala. “Itulah inti dari fragmentari itu,” kata Mulyadi yang tamatan ISI Denpasar itu.

Pesan ini memang klise. Tapi seperti itu memang tugas kesenian. Ia menyampaikan pesan yang sama dengan cara yang beragam dan berbeda-beda. Kata-kata yang tepat sepertinya bukan “klise”, melainkan “konsisten”.

“Pesan yang ingin disampaikan dalam garapan ini adalah, kita sebagai warga Buleleng sudah sepatutnya mengetahui budaya lokal genius yang beragam dari berbagai etnis. Dan kita bisa hidup rukun berdampingan dengan etnis yang berbeda,” kata Mulyadi. [T]

“Membaca Sanghyang”: Tentang Ritual, Arsip, Posisi Perempuan, dan Pertanian
Tutur Candra Bherawa (2): Ketika Seniman dan Penikmatnya Terhubung Melalui Makna dan Falsafah
Tradisi Akar Dari Modernisasi Berkesenian | Catatan dari Atlas Beach Fest
Tags: bulelengfragmentariHUT Kota Singarajakesenian balisejarah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Suka-Duka-Lara-Pati, Mengenal 4 Serangkai Bekal Abadi

Next Post

Wajah Desa (Muslim) Pegayaman Saat Bulan Ramadan (1)

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

by Helvi Carnelis
April 14, 2026
0
Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

SAYA merasakan dengan kuat budaya rantau hari ini, sebuah beban tanggung jawab yang tidak ringan dalam kebudayaan Minangkabau. Pengalaman itu...

Read moreDetails

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

by Radha Dwi Pradnyani
March 30, 2026
0
Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

PEMAIN masuk arena secara bergiliran. Dengan gerakan berbeda-beda mereka berjalan tergesa, dinamis, kadang saling silang, kadang sejajar. Mereka bersuara meniru...

Read moreDetails

Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

by I Putu Ardiyasa
March 22, 2026
0
Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

MENYAKSIKAN perjalanan kultural di Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, selama empat tahun terakhir adalah pelajaran berharga tentang bagaimana estetika mampu...

Read moreDetails

Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

by I Gede Tilem Pastika
March 1, 2026
0
Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

MALAM itu, 28 Februari 2026, udara di Gedung Ksirarnawa Art Centre Denpasar terasa bergetar oleh ekspektasi yang tinggi. Sebagai sutradara...

Read moreDetails

Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

by Wahyu Mahaputra
February 28, 2026
0
Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

DERING telepon membangunkan saya dari tidur siang hari itu. Di seberang sambungan, suara Ariel Valeryan: sahabat dari Kuningan, Jawa Barat...

Read moreDetails

Pesan, Refleksi, dan Kritik Sosial dalam Drama Bali Modern di Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

DRAMA Bali modern atau teater berbahasa Bali yang dipentaskan oleh sejumlah kelompok teater dalam ajang Bulan Bahasa Bali 2026 menunjukkan...

Read moreDetails

Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

by Rusdy Ulu
February 25, 2026
0
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

EMPAT orang masing-masing membawa ember dan lap pel, lalu mengepel lantai panggung secara bersamaan. Mereka menarik lap pel dengan gerakan...

Read moreDetails

Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

by Kadek Sonia Piscayanti
February 16, 2026
0
Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

MUSIKAL Perahu Kertas di Ciputra Artpeneur Theater, Jakarta, hadir pada saat yang tepat, ketika banyak manusia bingung menemukan diri mereka,...

Read moreDetails

‘Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati’ di SMAN 1 Kuta Selatan —Dari Ide Tengah Malam hingga Panggung Bulan Bahasa Bali

by Angga Wijaya
February 16, 2026
0
‘Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati’ di SMAN 1 Kuta Selatan —Dari Ide Tengah Malam hingga Panggung Bulan Bahasa Bali

SAYA tidak duduk di kursi penonton ketika Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati dipentaskan dalam rangkaian Bulan Bahasa Bali...

Read moreDetails

Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

by Son Lomri
February 6, 2026
0
Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

ORANG-orang di Auditorium Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja itu diteror suara sirine yang keluar dari mulut tujuh aktor Teater Komunitas...

Read moreDetails
Next Post
Wajah Desa (Muslim) Pegayaman Saat Bulan Ramadan (1)

Wajah Desa (Muslim) Pegayaman Saat Bulan Ramadan (1)

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co