12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tutur Candra Bherawa (2): Ketika Seniman dan Penikmatnya Terhubung Melalui Makna dan Falsafah

I Gusti Made Darma Putra by I Gusti Made Darma Putra
August 19, 2023
in Ulas Pentas
Tutur Candra Bherawa (2): Ketika Seniman dan Penikmatnya Terhubung Melalui Makna dan Falsafah

TUTUR CANDRA BHERAWA karya I Gusti Putu Sudarta

KARYA teater pakeliran Tutur Candra Bhaerawa merupakan karya yang bisa dikatakan sederhana namun berbobot. Penulis memberikan perumpamaan seperti bangunan tradisional Bali yang nampak dari luar sederhana namun jika diperhatiakan detail dan ornamentasinya sangatlah rumit, indah dan menarik.

Secara visual karya ini seperti nampak biasa-biasa saja karena musisinya hanya menggunakan busana yang sederhana seperti busana Bali klasik pada umumnya dan para pemain teater serta penari menggunakan kostum dengan warna yang tidak mencolok mengkombinasi warna gelap. Namun yang menjadi perhatian penulis yaitu pendalaman filosofinya.

Karya seni ini menurut penulis merupakan proses eksplorasi mendalam dan intropeksi pribadi yang bertujuan untuk memahami tujuan dan makna kehidupan yang lebih dalam. Melibatkan pencarian makna dalam pengalaman hidup, penemuan nilai-nilai yang lebih tinggi dan hubungan yang lebih erat dengan dimensi spiritual dalam diri pengkarya. Penulis rasa pendalaman spiritual tidak hanya tentang menjalankan ritual, namun lebih kepada tentang mengeksplorasi koneksi dengan dimensi lain dalam alam semesta, orang lain dan diri sendiri.

Karya ini ialah perjalanan pribadi nan unik bagi setiap individu pemuja ketakterbatasan seperti penulis sendiri yang sekiraya menghasilkan pertumbuhan emosional dan intelektual serta rasa kedamaian dan pemenuhan yang mendalam.

Melalui pengkarya, penulis mendapatkan informasi mengenai struktur alur yang dibagi menjadi tiga bagian yang masing-masing bagiannya memiliki keistimewaan dan kenikmatan tersendiri dan penulis mencoba untuk menguraikannya.

MANGGALA CARANA

Manggala Carana adalah pembuka pagelaran menyuguhkan kidung Manggala Puja yang dilantunkan untuk pemujaan Sanghyang Shiwa Budha. Kayonan Pamungkah dimana dalang melantunkan tembang cecantungan dalam patutan gender wayang sebagai doa memohon ijin serta anugerah Sanghyang Taksu.

Kidung pemujaan ini terdiri dari dua bagian yaitu  Vadyan berupa Chorus Mantram kidung Qawali yang diiringi dengan suling gambuh dan rebana, Nretya Puja merupakan tari persembahan yang hadir dengan kidung dalam laras selendro yang dilantunkan dengan iringan suling gambuh dan kemanak.

ANGGA

1. Monolog

Adegan monolog berbahasa Bali ini bercerita tentang perdebatan dan pertentangan jalan memuja Tuhan. Menurut pengkarya, dari jaman kuno perdebatan ini tiada akhir sampai hari ini. Monolog diiringi dengan komposisi gending bonang penembung.

Bonang penembung digarap menjadi satu kesatuan dengan teks dialog sehingga komposisi musik seperti berdialog dengan actor monolog, tidak sekedar menjadi musik ilustrasi. Irama dan dinamika dialog direspon oleh kalimat lagu dan dinamika musik yang digarap sesuai dengan mood dan esensi dialog.

2. Pesantian siki

Dalam adegan pesantian tampil tiga orang tokoh. Membahas tentang perjalanan Bima yang diutus oleh Yudistira menyelidiki di mana kiranya ada yang mejalankan agama yang berbeda. Bima akhirnya sampai di Kerajaan Dewantara dan merasa kagum dengan keindahan negeri ini.

Sawah dan tegalannya luas dan rata, sungai besar dengan aliran air yang jernih tiada putus sepanjang musim, suasana damai dan tentram. Satu orang menembangkan bait kekawin yang dipetik dari kekawin Candra Bhairawa dengan lantunan tembang atau wirama anyar.

3. Kidung Wanwa

Menggambarkan keadaan desa-desa di Dewantara. Sawah dan tegalan yang luas dan hijau subur. Sungai besar airnya bening mengalir tiada putus sepanjang musim. Petani mengerjakan sawah dengan riang. Diawali dengan kawitan gender lalu tembang mengalir dibarengi alunan suling berdialog dengan tembang membangun harmoni.

Melodi gender wayang mengalir dengan ritme pelan membangun pupuh saling menyahut dengan bonang barung selendro. Pada bagian pengecet gending gender membangun melodi dan dielaborasi kotekan bonang barung dan pattern kendang sabet dan kendang ciblon. Kelompok penari putri menarikan suasana desa ini dengan komposisi yang sederhana dan acting polos natural.

4. Rengganisan

Tiga orang tokoh membahas tentang agama yang dianut oleh Candra Bhairawa. Tentang aji pegat dan Bajradara. Diceritakan juga Bima ketemu dengan Candra Bhairawa dan berdebat tentang yoga, upacara, dan wangsa. Bima melaporkan pertemuannya dengan Candra Bhairawa di Dewantara kehadapan Yudistira.

Kresna marah dan tidak setuju dengan ajaran agama yang dianut Candra Bhairawa dan memutuskan untuk mengirim pasukan menyerang kerajaan Dewantara. Terjadi perang antara Astina dan Dewantara. Catur pandawa menyerah dihadapan Candra Bhairawa bahkan Kresna dalam rupa Ilahi Wisnu tidak mampu mengalahkan Candra Bhairawa. Dalam pembahasan ini dilantunkan bait kekawin Candra Bhairawa dalam wirama anyar.

5. Siat (adegan perang)

Penggambaran adegan perang ini dengan menampilkan kelompok penari putra dengan property daun taep sebagai senjata.

Tarian perang ini diiringi dengan bonang penembung laras pelog membangun melodi dan pattern kotekan dalam tempo cepat dan ritmis. Dilanjutkan dengan bentuk komposisi ritmis kendang sabet dan kendang ciblon, pattern pukulan rebana atau terbang, kajar trentengan, perkusi, gong beri ageng, gong ageng, dan cengceng.

WASANA

Pada bagian akhir ini merupakan konklusi dari segala perdebatan dan konflik yang terjadi dimana dalam spiritual esensi Shiwa dan Budha adalah satu sehingga tidak ada lagi identitas yang menjadi penyekat perbedaan dan perdebatan. Pertemuan ini diekspresikan oleh dua penari yang melantunkan kidung Shiwa Budha dengan gerak-gerak tari mengalir meditative

Keluar tokoh dengan membawa wayang Acintya bertangan delapan dengan masing-masing memegang simbol agama. Bernarasi tentang perbedaan jalan menuju Hyang Maha Ada sesungguhnya tidak dipertentangkan, karena itu hanyalah kulit belaka. Intinya dalam kesadaran spiritual semuanya sama menuju Hyang Maha Suci. Jalan Karma, Bakti, dan Yoga tidak terpisahkan. Menjalani yang satu, yang lainnya pasti menyertai. Tidak ada yoga tanpa karma dan bakti, dan tidak ada karma tanpa bakti dan yoga. Karma sanyasa dan yoga sanyasa dua sisi dalam kesatuan.

,

Dari karya ini penulis dapat simpulkan bahwa sebuah karya seni tidak harus mencerminkan kemewahan dan keprabuan visual. Yang diperlukan ialah pendalaman falsafi yang mendalam. Seni yang mendasarkan karya pada makna dan pemikiran serta pesan yang dalam akan lebih berharga karena bobot yang terdapat didalamnya.

Filosofi seni memungkinkan kita untuk merenungkan makna dari kehidupan, menampaikan pesan yang mendalam serta meresapi keindahan dalam kedalaman bathin. Maka karya seni yang mendasarkan dirinya pada filosofi dan falsafi adalah bentuk karya seni yang tetap relevan dan menginspirasi walaupun tidak selalu mengkilap dalam kekayaan visual.

Dalam banyaknya karya seni yang terus berkembang, penghargaan terhadap pendalaman filosofi merupakan pengingat penting bahwa seni tidak hanya tentang tampilan luar namun tentang pengalaman emosional dan intelektual yang mendalam. Ketika seniman dan penikmatnya dengan bersama-sama merenungkan serta memahami makna, filosofi dan pesan dibalik sebuah karya tersebut, mereka sangat dapat terhubung dengan cara yang lebih bermakna, menciptakan pengalaman yang memperkaya jiwa dan meningkatkan pemahaman akan kompleksitas kehidupan. itu yang dirasakan penulis menikmati sajian TUTUR CANDRA BHERAWA karya I Gusti Putu Sudarta. []T]

BACA JUGA:

Tutur Candra Bherawa [1]: Tutur yang Mengumandang Dalam Suasana Kemerdekaan
Tags: Seniseni pertunjukanteater pakeliran
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Rumah Gadang Sebagai Gelanggang: Upita Agustine dalam Delapan Latar

Next Post

Menghapus Citra “Judes, Kumuh dan Lelet” Rumah Sakit Pemerintah

I Gusti Made Darma Putra

I Gusti Made Darma Putra

Seniman pedalangan, kreator wayang Bali

Related Posts

Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

by Asmaran Dani
September 4, 2026
0
Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

Catatan pendek, sebagai pengantar diskusi menonton ulang dokumentasi pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot melalui Youtube, Sabtu 05 Septemper 2026 di...

Read moreDetails

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

by Yanik Parta
August 24, 2026
0
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

Read moreDetails

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
0
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

Read moreDetails

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails
Next Post
Kisah-kisah Unik Pendidikan Dokter | Merayakan HUT ke-4 FK Undiksha

Menghapus Citra “Judes, Kumuh dan Lelet” Rumah Sakit Pemerintah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co