12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menghapus Citra “Judes, Kumuh dan Lelet” Rumah Sakit Pemerintah

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
August 20, 2023
in Esai
Kisah-kisah Unik Pendidikan Dokter | Merayakan HUT ke-4 FK Undiksha

“Rumah sakit (RS) itu seharusnya adalah hotel yang tamunya adalah orang yang mencari pengobatan (hospital).”

Karena hotel, maka segala halnya harus membuat orang senang dan bahagia. Mulai dari gedungnya yang bersih, petugasnya yang ramah dan hangat serta pelayanannya cepat. Jangan lupa hidangannya juga harus nikmat dan penuh cita rasa.

Namun faktanya, citra RS pemerintah yang judes, kumuh dan lelet berjubel antri lama bukan mudah untuk dihapuskan. Meskipun bisa saja itu sekadar stigma yang kadung begitu kuat melengket, namun harus diakui secara jujur dan berbesar hati, memang masih ada RS yang demikian.

Mungkin bukan hanya RS pemerintah saja, RS swasta pun masih ada yang seperti itu. Nah, apapun dalih kita, citra dan realita tersebut harus secepatnya dihapuskan. Agar nuansa dan citra RS bisa menjelma menjadi sebuah hotel atau resort sehingga para pasien melupakan penderitaannya karena serasa sedang berliburan. 

Sikap Judes

Boleh dibilang, ini merupakan isu paling klasik dan sangat kontradiktif dengan konsep hospitality. Akan menjadi tanda tanya besar, bagaimana mungkin orang yang punya kepribadian judes memilih profesi sebagai pelayan masyarakat? Kenapa tidak menjadi peneliti saja misalnya atau profesi lain yang tidak bersentuhan dengan banyak manusia seperti tukang bangunan, pelukis atau pertapa, hahaha.

Meskipun tetap saja bukan hal baik menjadi peneliti, tukang masak atau pekerja bangunan yang judes, namun setidaknya takkan memakan banyak korban manusia.

Judes sama beton atau terasi apalagi kepada virus dan bakteri yang diteliti kan tak apa-apa. Yang penting masakannya lezat atau bangunannya kokoh, judesnya gak masalah. Namun judes kepada sesama manusia apalagi orang sakit, ini dosanya berlipat pangkat dua.

Pasien yang telah mengalami kelemahan psikologis justru harus dibangun mentalnya agar kuat dan dapat membimbing raganya menjadi pulih lebih cepat. Sikap judes sesungguhnya tak cuma merugikan orang lain. Lebih buruk lagi, hal itu sudah pasti dapat merusak diri  si pelaku. Ini mirip dengan sikap marah, sinis dan sifat temperamental.

Petugas yang judes sebaiknya tidak dihukum, melainkan disarankan untuk liburan dan rekreasi. Misalnya liburan berjalan kaki ke Ubud atau rekreasi berenang ke Lombok, hahaha. Semua gerombolan negatif itu akan memacu adrenalin darah dan meningkatkan hormon stres.

Jika hal ini sering dan terus berlangsung maka kejudesan dapat menyatukan pelakunya dengan pasiennya ke dalam satu ruangan perawatan.

RS Kumuh

Lingkungan RS yang jorok, terutama fasilitas toilet dan kakus merupakan warisan yang mengerikan. Warisan turun temurun ini harus segera dilelang. Namun adakah yang mau membeli? Dijamin pasti tidak.

Maka satu-satunya pilihan untuk budaya kumuh ini adalah dimusnahkan. Apalagi di dalam lingkungan RS yang membawa misi penyembuhan orang sakit. Mana mungkin misinya sukses jika lingkungannya kumuh.

Kesalahan klasik kita adalah, cuma memberi perhatian dan mendandani dengan cantik front office saja. Karena inilah yang kelihatan dan menjadi pandangan pertama.

Namun hakikat sebuah gedung termasuk RS justru adalah ruang-ruang yang tak tampak seperti dapur maupun toilet. Jika ruang-ruang itu, yang tak tampak oleh orang-orang telah  tertata dengan bersih dan rapi, apalagi yang tampak di depan?

Oleh karena itu, harus ada strategi yang kuat dan melekat bagian kesehatan lingkungan (kesling) RS bersama seluruh civitas untuk memastikan toilet dan kakus selalu bersih, kering dan wangi.

Jika tidak demikian, maka keadaan ini dapat diibaratkan tubuh seorang gadis berparas ayu dengan rambut diwarnai, bulu mata eyelash extension, make up tebal dan lehernya dilingkari emas murni, namun tak dinyana bokongnya penuh jamuran hahaha.

Respon Lelet

Ada satu kejadian menarik sekaligus menggelikan, sebagai pengganti diksi memalukan. Suatu sore, saya berencana akan  merujuk pasien dari praktek pribadi saya di Klinik Sahabat untuk opname di RSUD Buleleng.

Keluarga pasien yang akan saya rujuk berujar begini, “Dok, yang penting tidak dirujuk ke RSUD saja ya. Pelayanannya sangat lelet.”

Saya terperangah, kedua asisten saya menahan tawa. Andai ia tahu, saya adalah direktur RSUD saat ini, hahaha. Namun demikian, tamparan itu adalah berton-ton bahan bakar energi buat memacu peyanan di RSUD agar lebih cepat dan tanggap.

Memang masih saja terdengar keluhan pasien yang merasa lama di IGD atau respon perawat yang lambat jika ada keluhan pasien di ruangan rawat inap. Meskipun ada dari kasus tersebut yang diakibatkan oleh persepsi pasien yang keliru menyangkut prosedur standar yang telah dijalankan oleh nakes, namun keluhan tersebut wajib selalu dianggap penting.

Maka edukasi dan pemberian informasi yang lebih jelas perlu diupayakan. Dengan penerapan pelayanan berbasis digital saat ini, maka kecepatan pelayanan jelas dapat lebih dipacu. Dan sangat nyata kepuasan pasien dapat ditingkatkan dan kinerja staf terus mendapat apresiasi dari masyarakat.

Orang Dalam

Fenomena “orang dalam” ini pun sangat menantang dan merupakan budaya kolot yang sulit dihilangkan. Namun isu ini perlu dilihat dari sisi positif. Jika masih ada kepercayaan masyarakat, perlu orang dalam untuk menjamin pasien mendapatkan pelayanan yang baik, maka bisa jadi mutu pelayanan RS dan prinsip keterbukaannya memang belum meyakinkan.

Jadi ini hal yang obyektif. Bukan karena kata “dalam” yang terasa memiliki nilai magis dan peka seperti tenaga dalam atau pakaian dalam. Hahaha. Namun prinsip pelayanan haruslah setara dan anti diskriminasi.

Menerapkan prinsip ini dan membuat masyarakat yakin memang butuh waktu. Pada saat itu, maka direktur RS tidak perlu setiap saat menerima telepon atau WA dari masyarakat yang menitipkan kerabatnya yang berobat ke RS. Namun mereka akan selalu yakin, siapapun yang perlu pelayanan RS akan dilayani dengan standar terbaik.

Sama seperti jika warga kita berobat ke RS luar negeri, ke RS Mount Elizabeth di Singapura misalnya. Memangnya bisa cari “orang dalam” siapa di sana? Tanpa itu, sudah yakin akan mendapat pelayanan yang paripurna.

***

Kita harus mengakui, masalah pelayanan di RS butuh perhatian mulai dari hal-hal kecil dan sederhana namun pasti berdampak besar.

Ya itu tadi, soal petugas yang judes, lingkungan kumuh dan pelayanan yang lambat serta orang dalam yang bergentayangan.

Gedung RS yang megah dan alat-alat medis yang canggih serta modern, takkan mengobati jika tak dihangati oleh cinta dan panggilan jiwa civitasnya. [T]

  • Klik BACA untuk melihat esai dan cerpen dari penulis DOKTER PUTU ARYA NUGRAHA
Betulkah Dokter Sering Terburu-buru?
Cerita-cerita Ringan Dokter (3): Image Mahasiswa Kedokteran
Cerita-cerita Ringan Dokter (2): Dokter Novelis, Politisi, dan Dokter Cuci Sepatu
Cerita-cerita Ringan Dokter (1): Tarif Praktek
Tags: kesehatanrumah sakit
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tutur Candra Bherawa (2): Ketika Seniman dan Penikmatnya Terhubung Melalui Makna dan Falsafah

Next Post

Dari Iwan Fals  Hingga A.A. Raka Sidan:  Catatan Kegagalan Pendidikan Tinggi

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Dari Iwan Fals  Hingga A.A. Raka Sidan:  Catatan Kegagalan Pendidikan Tinggi

Dari Iwan Fals  Hingga A.A. Raka Sidan:  Catatan Kegagalan Pendidikan Tinggi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co