23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menghapus Citra “Judes, Kumuh dan Lelet” Rumah Sakit Pemerintah

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
August 20, 2023
in Esai
Kisah-kisah Unik Pendidikan Dokter | Merayakan HUT ke-4 FK Undiksha

“Rumah sakit (RS) itu seharusnya adalah hotel yang tamunya adalah orang yang mencari pengobatan (hospital).”

Karena hotel, maka segala halnya harus membuat orang senang dan bahagia. Mulai dari gedungnya yang bersih, petugasnya yang ramah dan hangat serta pelayanannya cepat. Jangan lupa hidangannya juga harus nikmat dan penuh cita rasa.

Namun faktanya, citra RS pemerintah yang judes, kumuh dan lelet berjubel antri lama bukan mudah untuk dihapuskan. Meskipun bisa saja itu sekadar stigma yang kadung begitu kuat melengket, namun harus diakui secara jujur dan berbesar hati, memang masih ada RS yang demikian.

Mungkin bukan hanya RS pemerintah saja, RS swasta pun masih ada yang seperti itu. Nah, apapun dalih kita, citra dan realita tersebut harus secepatnya dihapuskan. Agar nuansa dan citra RS bisa menjelma menjadi sebuah hotel atau resort sehingga para pasien melupakan penderitaannya karena serasa sedang berliburan. 

Sikap Judes

Boleh dibilang, ini merupakan isu paling klasik dan sangat kontradiktif dengan konsep hospitality. Akan menjadi tanda tanya besar, bagaimana mungkin orang yang punya kepribadian judes memilih profesi sebagai pelayan masyarakat? Kenapa tidak menjadi peneliti saja misalnya atau profesi lain yang tidak bersentuhan dengan banyak manusia seperti tukang bangunan, pelukis atau pertapa, hahaha.

Meskipun tetap saja bukan hal baik menjadi peneliti, tukang masak atau pekerja bangunan yang judes, namun setidaknya takkan memakan banyak korban manusia.

Judes sama beton atau terasi apalagi kepada virus dan bakteri yang diteliti kan tak apa-apa. Yang penting masakannya lezat atau bangunannya kokoh, judesnya gak masalah. Namun judes kepada sesama manusia apalagi orang sakit, ini dosanya berlipat pangkat dua.

Pasien yang telah mengalami kelemahan psikologis justru harus dibangun mentalnya agar kuat dan dapat membimbing raganya menjadi pulih lebih cepat. Sikap judes sesungguhnya tak cuma merugikan orang lain. Lebih buruk lagi, hal itu sudah pasti dapat merusak diri  si pelaku. Ini mirip dengan sikap marah, sinis dan sifat temperamental.

Petugas yang judes sebaiknya tidak dihukum, melainkan disarankan untuk liburan dan rekreasi. Misalnya liburan berjalan kaki ke Ubud atau rekreasi berenang ke Lombok, hahaha. Semua gerombolan negatif itu akan memacu adrenalin darah dan meningkatkan hormon stres.

Jika hal ini sering dan terus berlangsung maka kejudesan dapat menyatukan pelakunya dengan pasiennya ke dalam satu ruangan perawatan.

RS Kumuh

Lingkungan RS yang jorok, terutama fasilitas toilet dan kakus merupakan warisan yang mengerikan. Warisan turun temurun ini harus segera dilelang. Namun adakah yang mau membeli? Dijamin pasti tidak.

Maka satu-satunya pilihan untuk budaya kumuh ini adalah dimusnahkan. Apalagi di dalam lingkungan RS yang membawa misi penyembuhan orang sakit. Mana mungkin misinya sukses jika lingkungannya kumuh.

Kesalahan klasik kita adalah, cuma memberi perhatian dan mendandani dengan cantik front office saja. Karena inilah yang kelihatan dan menjadi pandangan pertama.

Namun hakikat sebuah gedung termasuk RS justru adalah ruang-ruang yang tak tampak seperti dapur maupun toilet. Jika ruang-ruang itu, yang tak tampak oleh orang-orang telah  tertata dengan bersih dan rapi, apalagi yang tampak di depan?

Oleh karena itu, harus ada strategi yang kuat dan melekat bagian kesehatan lingkungan (kesling) RS bersama seluruh civitas untuk memastikan toilet dan kakus selalu bersih, kering dan wangi.

Jika tidak demikian, maka keadaan ini dapat diibaratkan tubuh seorang gadis berparas ayu dengan rambut diwarnai, bulu mata eyelash extension, make up tebal dan lehernya dilingkari emas murni, namun tak dinyana bokongnya penuh jamuran hahaha.

Respon Lelet

Ada satu kejadian menarik sekaligus menggelikan, sebagai pengganti diksi memalukan. Suatu sore, saya berencana akan  merujuk pasien dari praktek pribadi saya di Klinik Sahabat untuk opname di RSUD Buleleng.

Keluarga pasien yang akan saya rujuk berujar begini, “Dok, yang penting tidak dirujuk ke RSUD saja ya. Pelayanannya sangat lelet.”

Saya terperangah, kedua asisten saya menahan tawa. Andai ia tahu, saya adalah direktur RSUD saat ini, hahaha. Namun demikian, tamparan itu adalah berton-ton bahan bakar energi buat memacu peyanan di RSUD agar lebih cepat dan tanggap.

Memang masih saja terdengar keluhan pasien yang merasa lama di IGD atau respon perawat yang lambat jika ada keluhan pasien di ruangan rawat inap. Meskipun ada dari kasus tersebut yang diakibatkan oleh persepsi pasien yang keliru menyangkut prosedur standar yang telah dijalankan oleh nakes, namun keluhan tersebut wajib selalu dianggap penting.

Maka edukasi dan pemberian informasi yang lebih jelas perlu diupayakan. Dengan penerapan pelayanan berbasis digital saat ini, maka kecepatan pelayanan jelas dapat lebih dipacu. Dan sangat nyata kepuasan pasien dapat ditingkatkan dan kinerja staf terus mendapat apresiasi dari masyarakat.

Orang Dalam

Fenomena “orang dalam” ini pun sangat menantang dan merupakan budaya kolot yang sulit dihilangkan. Namun isu ini perlu dilihat dari sisi positif. Jika masih ada kepercayaan masyarakat, perlu orang dalam untuk menjamin pasien mendapatkan pelayanan yang baik, maka bisa jadi mutu pelayanan RS dan prinsip keterbukaannya memang belum meyakinkan.

Jadi ini hal yang obyektif. Bukan karena kata “dalam” yang terasa memiliki nilai magis dan peka seperti tenaga dalam atau pakaian dalam. Hahaha. Namun prinsip pelayanan haruslah setara dan anti diskriminasi.

Menerapkan prinsip ini dan membuat masyarakat yakin memang butuh waktu. Pada saat itu, maka direktur RS tidak perlu setiap saat menerima telepon atau WA dari masyarakat yang menitipkan kerabatnya yang berobat ke RS. Namun mereka akan selalu yakin, siapapun yang perlu pelayanan RS akan dilayani dengan standar terbaik.

Sama seperti jika warga kita berobat ke RS luar negeri, ke RS Mount Elizabeth di Singapura misalnya. Memangnya bisa cari “orang dalam” siapa di sana? Tanpa itu, sudah yakin akan mendapat pelayanan yang paripurna.

***

Kita harus mengakui, masalah pelayanan di RS butuh perhatian mulai dari hal-hal kecil dan sederhana namun pasti berdampak besar.

Ya itu tadi, soal petugas yang judes, lingkungan kumuh dan pelayanan yang lambat serta orang dalam yang bergentayangan.

Gedung RS yang megah dan alat-alat medis yang canggih serta modern, takkan mengobati jika tak dihangati oleh cinta dan panggilan jiwa civitasnya. [T]

  • Klik BACA untuk melihat esai dan cerpen dari penulis DOKTER PUTU ARYA NUGRAHA
Betulkah Dokter Sering Terburu-buru?
Cerita-cerita Ringan Dokter (3): Image Mahasiswa Kedokteran
Cerita-cerita Ringan Dokter (2): Dokter Novelis, Politisi, dan Dokter Cuci Sepatu
Cerita-cerita Ringan Dokter (1): Tarif Praktek
Tags: kesehatanrumah sakit
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tutur Candra Bherawa (2): Ketika Seniman dan Penikmatnya Terhubung Melalui Makna dan Falsafah

Next Post

Dari Iwan Fals  Hingga A.A. Raka Sidan:  Catatan Kegagalan Pendidikan Tinggi

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Dari Iwan Fals  Hingga A.A. Raka Sidan:  Catatan Kegagalan Pendidikan Tinggi

Dari Iwan Fals  Hingga A.A. Raka Sidan:  Catatan Kegagalan Pendidikan Tinggi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co