2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Betulkah Dokter Sering Terburu-buru?

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
August 13, 2023
in Esai
Kisah-kisah Unik Pendidikan Dokter | Merayakan HUT ke-4 FK Undiksha

“Tak usah buru-buru. Pelan-pelan sajalah. Itu jauh lebih nikmat!”

ISU INI cukup sering terdengar di masyarakat. Sama halnya dengan citra tulisan dokter yang terkenal jelek dan sulit dibaca. Soal tulisan jelek dokter, saya sudah bahas pada artikel sebelumnya. Kali ini saya ingin membahas satu lagi kritik masyarakat yang cukup sering terhadap dokter, yaitu kebiasaan dokter yang sering terburu-buru saat memberi pelayanan.

Betulkah anggapan tersebut? Jika hal ini ditanyakan kepada masayarakat, saya yakin akan cukup banyak yang akan mengiyakan. Sebaliknya, jika kepada para dokter hal ini dikonfirmasi, saya salah satu dokter yang akan mengakui, hahaha. Bukan masalah bagi saya mengakui kekurangan ini, jika dengan membuat artikel ini kemudian saya  dapat pula mengemukakan berbagai alasan yang menyebabkan hal itu terjadi.

Oh ya jangan dikira buat ngeles lho ya, hahaha. Dan sekalian dari sini mengajak kita semua para dokter, kemudian berjanji untuk tidak lagi terburu-buru dalam melayani pasien. Terutama mengupayakan waktu yang cukup untuk memberi penjelasan dan edukasi terkait penyakit dan pengobatannya kepada semua pasien tanpa kecuali.

Sikap dan prilaku terburu-buru dokter di Indonesia, berani saya katakan, bukanlah sebuah sifat atau gaya bawaan. Lebih daripada 90%, fenomena ini terjadi oleh karena rasio dokter dan pasien yang belum cukup berimbang. Artinya jumlah dokter yang masih jauh lebih kecil daripada kebutuhan pasien. Hal ini terkonfirmasi oleh data rasio dokter Indonesia yang masih jauh daripada rasio yang disarankan badan kesehatan dunia (WHO) yaitu 1:1.000 berbanding jumlah penduduk.

Sebagian besar wilayah di Indonesia rasionya masih di atas 1:2.000. Cuma di beberapa wilayah yang sudah sesuai target WHO, yaitu Bali, DKI Jakarta dan DIY Yogyakarta. Namun untuk ketersediaan dokter ahli, Bali pun masih belum optimal. Sebuah rumah sakit (RS) kabupaten, rata-rata memiliki kapasitas tempat tidur di atas 200 bed.

Di samping melayani pasien rawat inap tersebut, seorang dokter juga harus melayani pasien di poliklinik dan menjawab konsultasi dari dokter jaga IGD (instalasi gawat darurat.) Nah, dengan keterbatasan jumlah dokter ahli, maka dapat dibayangkan, seorang dokter spesialis mesti bergerak cepat untuk menutupi semua pelayanan yang menanti seperti situasi di atas.

Keadaan di atas itu pun belum memperhitungkan jika RS tersebuat merupakan jejaring RS pendidikan. Jika demikian, maka dokter spesialis di RS tersebut akan merangkap menjadi seorang dokter pendidik klinis (dokdiknis) alias dosen klinik, yang ditetapkan oleh rektor universitas bersangkutan. Seorang dosen klinik punya tugas membimbing laporan pagi (morning report), bimbingan karya tulis (referat, jurnal, case report), bed site teaching dan tentu saja menguji mahasiswa kedokteran pada tahap profesi (dokter muda/koas.)

Terus terang saja, bagi seorang dokter, punya kapasitas yang begitu banyak seperti ini, baik sebagai klinisi yang sibuk sekaligus sebagai dosen tentu merupakan peluang menambah income maupun prestise. Namun peluang tersebut sekaligus menghadirkan sebuah tantangan yang menghadang, mampukah kita menunaikannya secara berkualitas?

Dan jangan pernah dilupakan, sekali lagi karena jumlahnya yang masih terbatas, seorang dokter saat ini diberikan izin untuk berpraktek maksimal di tiga RS. Artinya, dokter yang sudah sedemikian sibuk di RS pemerintah tersebut, juga harus membagi waktunya untuk melayani pasien-pasien mereka di RS swasta di mana dokter tersebut juga menaruh izin prakteknya.

Tidak sedikit dokter umum maupun dokter ahli, yang jumlah pasien di praktek pribadinya begitu banyak. Bahkan ada dokter yang berpraktek hingga jam 1 atau 2 dini hari dan itu tidak masalah bagi pasien-pasiennya yang setia menunggu. Sulit dibayangkan, bagaimana mungkin kapasitas manusia akan dapat memberi pelayanan dengan standar maksimal pada situasi seperti itu. Apalagi jika itu dijalaninya setiap malam. Hal ini dapat mencerminkan bahwa fenomena pelayanan buru-buru tersebut tidak semata-mata disebabkan karena sisi masalah dokternya semata. Namun, budaya masyarakat pun memberi kontribusi.

Artinya, pasien-pasien di Indonesia atau Bali khusunya, masih mencari dokter sebagai entitas sosok atau figur bukan sebagai seseorang pada sisi profesionalitasnya. Mestinya, semua dokter ya sama. Setiap internis atau ahli bedah tulang, harusnya sama saja.

Budaya lain yang sering menimbulkan masalah komunikasi antara dokter dengan keluarga pasien adalah penunggu pasien di RS yang sering bergonta-ganti. Hal ini dapat memberi risiko, seakan-akan dokter belum memberi penjelasan kepada keluarga pasien.

Di samping itu, sistem yang mengatur pekerjaan dokter juga belum ideal di Indonesia. Di negara-negara maju dengan jumlah dokter memadai, maka pekerjaan dokter dapat terbagi dengan lebih terpola. Apakah akan memilih sebagai klinisi (dokter RS atau dokter keluarga), dosen, peneliti atau pejabat tertentu.

Dengan demikian, tugas yang diembannya diwajibkan akan terlaksana memenuhi standar yang telah ditentukan. Sementara di Indonesia, seperti pemaparan di atas, seorang dokter dapat sekaligus menjadi klinisi, dosen, bahkan direktur RS hahaha.

Dengan bertambahnya jumlah dokter saat ini serta komitmen pemerintah untuk produksi dan distribusi dokter ke seluruh pelosok Nusantara, maka mutu pelayanan diharapkan menjadi lebih baik. Begitu juga, acuan dan regulasi keselamatn pasien pun semakin mengemuka (akreditasi.) Hal ini relevan dengan semakin besarnya risiko tuntutan hukum oleh masyarakat kepada dokter dan RS.

Maka itu, sudah saatnya kita semua dokter untuk tidak lagi terburu-buru dalam memberi pelayanan. Bahkan bentuk edukasi dan konsultasi perlu kita lakukan dalam berbagai metode. Meliputi komunikasi verbal, tertulis dengan bukti tanda tangan dan di era digital saat ini, proses yang telah dilakukan tersebut dapat direkam video sebagai bukti dokter sudah memberi penjelasan kepada pasien maupun keluarganya.

Ini merupakan poin yang sangat mendasar, karena sebagian besar keluhan pasien dan keluarganya kepada dokter dan RS datang dari penjelasan yang dinilai kurang, walaupun pasien telah mendapatkan prosedur pelayanan yang sesuai. Ingat, tugas dokter bukanlah untuk menyembuhkan pasiennya, namun melakukan tugas dengan sebaik-baiknya. [T]

  • Klik BACA untuk melihat esai dan cerpen dari penulis DOKTER PUTU ARYA NUGRAHA
Cerita-cerita Ringan Dokter (3): Image Mahasiswa Kedokteran
Cerita-cerita Ringan Dokter (2): Dokter Novelis, Politisi, dan Dokter Cuci Sepatu
Cerita-cerita Ringan Dokter (1): Tarif Praktek
Tags: dokterDokter Arya Nugrahakesehatanrumah sakit
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Asal-Asul Nama Desa Adat Lantangidung, Kecamatan Sukawati, Gianyar

Next Post

Kepala Kelamin & Pusat Kendali Padmahṛdaya

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Kepala Kelamin & Pusat Kendali Padmahṛdaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co