13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Betulkah Dokter Sering Terburu-buru?

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
August 13, 2023
in Esai
Kisah-kisah Unik Pendidikan Dokter | Merayakan HUT ke-4 FK Undiksha

“Tak usah buru-buru. Pelan-pelan sajalah. Itu jauh lebih nikmat!”

ISU INI cukup sering terdengar di masyarakat. Sama halnya dengan citra tulisan dokter yang terkenal jelek dan sulit dibaca. Soal tulisan jelek dokter, saya sudah bahas pada artikel sebelumnya. Kali ini saya ingin membahas satu lagi kritik masyarakat yang cukup sering terhadap dokter, yaitu kebiasaan dokter yang sering terburu-buru saat memberi pelayanan.

Betulkah anggapan tersebut? Jika hal ini ditanyakan kepada masayarakat, saya yakin akan cukup banyak yang akan mengiyakan. Sebaliknya, jika kepada para dokter hal ini dikonfirmasi, saya salah satu dokter yang akan mengakui, hahaha. Bukan masalah bagi saya mengakui kekurangan ini, jika dengan membuat artikel ini kemudian saya  dapat pula mengemukakan berbagai alasan yang menyebabkan hal itu terjadi.

Oh ya jangan dikira buat ngeles lho ya, hahaha. Dan sekalian dari sini mengajak kita semua para dokter, kemudian berjanji untuk tidak lagi terburu-buru dalam melayani pasien. Terutama mengupayakan waktu yang cukup untuk memberi penjelasan dan edukasi terkait penyakit dan pengobatannya kepada semua pasien tanpa kecuali.

Sikap dan prilaku terburu-buru dokter di Indonesia, berani saya katakan, bukanlah sebuah sifat atau gaya bawaan. Lebih daripada 90%, fenomena ini terjadi oleh karena rasio dokter dan pasien yang belum cukup berimbang. Artinya jumlah dokter yang masih jauh lebih kecil daripada kebutuhan pasien. Hal ini terkonfirmasi oleh data rasio dokter Indonesia yang masih jauh daripada rasio yang disarankan badan kesehatan dunia (WHO) yaitu 1:1.000 berbanding jumlah penduduk.

Sebagian besar wilayah di Indonesia rasionya masih di atas 1:2.000. Cuma di beberapa wilayah yang sudah sesuai target WHO, yaitu Bali, DKI Jakarta dan DIY Yogyakarta. Namun untuk ketersediaan dokter ahli, Bali pun masih belum optimal. Sebuah rumah sakit (RS) kabupaten, rata-rata memiliki kapasitas tempat tidur di atas 200 bed.

Di samping melayani pasien rawat inap tersebut, seorang dokter juga harus melayani pasien di poliklinik dan menjawab konsultasi dari dokter jaga IGD (instalasi gawat darurat.) Nah, dengan keterbatasan jumlah dokter ahli, maka dapat dibayangkan, seorang dokter spesialis mesti bergerak cepat untuk menutupi semua pelayanan yang menanti seperti situasi di atas.

Keadaan di atas itu pun belum memperhitungkan jika RS tersebuat merupakan jejaring RS pendidikan. Jika demikian, maka dokter spesialis di RS tersebut akan merangkap menjadi seorang dokter pendidik klinis (dokdiknis) alias dosen klinik, yang ditetapkan oleh rektor universitas bersangkutan. Seorang dosen klinik punya tugas membimbing laporan pagi (morning report), bimbingan karya tulis (referat, jurnal, case report), bed site teaching dan tentu saja menguji mahasiswa kedokteran pada tahap profesi (dokter muda/koas.)

Terus terang saja, bagi seorang dokter, punya kapasitas yang begitu banyak seperti ini, baik sebagai klinisi yang sibuk sekaligus sebagai dosen tentu merupakan peluang menambah income maupun prestise. Namun peluang tersebut sekaligus menghadirkan sebuah tantangan yang menghadang, mampukah kita menunaikannya secara berkualitas?

Dan jangan pernah dilupakan, sekali lagi karena jumlahnya yang masih terbatas, seorang dokter saat ini diberikan izin untuk berpraktek maksimal di tiga RS. Artinya, dokter yang sudah sedemikian sibuk di RS pemerintah tersebut, juga harus membagi waktunya untuk melayani pasien-pasien mereka di RS swasta di mana dokter tersebut juga menaruh izin prakteknya.

Tidak sedikit dokter umum maupun dokter ahli, yang jumlah pasien di praktek pribadinya begitu banyak. Bahkan ada dokter yang berpraktek hingga jam 1 atau 2 dini hari dan itu tidak masalah bagi pasien-pasiennya yang setia menunggu. Sulit dibayangkan, bagaimana mungkin kapasitas manusia akan dapat memberi pelayanan dengan standar maksimal pada situasi seperti itu. Apalagi jika itu dijalaninya setiap malam. Hal ini dapat mencerminkan bahwa fenomena pelayanan buru-buru tersebut tidak semata-mata disebabkan karena sisi masalah dokternya semata. Namun, budaya masyarakat pun memberi kontribusi.

Artinya, pasien-pasien di Indonesia atau Bali khusunya, masih mencari dokter sebagai entitas sosok atau figur bukan sebagai seseorang pada sisi profesionalitasnya. Mestinya, semua dokter ya sama. Setiap internis atau ahli bedah tulang, harusnya sama saja.

Budaya lain yang sering menimbulkan masalah komunikasi antara dokter dengan keluarga pasien adalah penunggu pasien di RS yang sering bergonta-ganti. Hal ini dapat memberi risiko, seakan-akan dokter belum memberi penjelasan kepada keluarga pasien.

Di samping itu, sistem yang mengatur pekerjaan dokter juga belum ideal di Indonesia. Di negara-negara maju dengan jumlah dokter memadai, maka pekerjaan dokter dapat terbagi dengan lebih terpola. Apakah akan memilih sebagai klinisi (dokter RS atau dokter keluarga), dosen, peneliti atau pejabat tertentu.

Dengan demikian, tugas yang diembannya diwajibkan akan terlaksana memenuhi standar yang telah ditentukan. Sementara di Indonesia, seperti pemaparan di atas, seorang dokter dapat sekaligus menjadi klinisi, dosen, bahkan direktur RS hahaha.

Dengan bertambahnya jumlah dokter saat ini serta komitmen pemerintah untuk produksi dan distribusi dokter ke seluruh pelosok Nusantara, maka mutu pelayanan diharapkan menjadi lebih baik. Begitu juga, acuan dan regulasi keselamatn pasien pun semakin mengemuka (akreditasi.) Hal ini relevan dengan semakin besarnya risiko tuntutan hukum oleh masyarakat kepada dokter dan RS.

Maka itu, sudah saatnya kita semua dokter untuk tidak lagi terburu-buru dalam memberi pelayanan. Bahkan bentuk edukasi dan konsultasi perlu kita lakukan dalam berbagai metode. Meliputi komunikasi verbal, tertulis dengan bukti tanda tangan dan di era digital saat ini, proses yang telah dilakukan tersebut dapat direkam video sebagai bukti dokter sudah memberi penjelasan kepada pasien maupun keluarganya.

Ini merupakan poin yang sangat mendasar, karena sebagian besar keluhan pasien dan keluarganya kepada dokter dan RS datang dari penjelasan yang dinilai kurang, walaupun pasien telah mendapatkan prosedur pelayanan yang sesuai. Ingat, tugas dokter bukanlah untuk menyembuhkan pasiennya, namun melakukan tugas dengan sebaik-baiknya. [T]

  • Klik BACA untuk melihat esai dan cerpen dari penulis DOKTER PUTU ARYA NUGRAHA
Cerita-cerita Ringan Dokter (3): Image Mahasiswa Kedokteran
Cerita-cerita Ringan Dokter (2): Dokter Novelis, Politisi, dan Dokter Cuci Sepatu
Cerita-cerita Ringan Dokter (1): Tarif Praktek
Tags: dokterDokter Arya Nugrahakesehatanrumah sakit
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Asal-Asul Nama Desa Adat Lantangidung, Kecamatan Sukawati, Gianyar

Next Post

Kepala Kelamin & Pusat Kendali Padmahṛdaya

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Kepala Kelamin & Pusat Kendali Padmahṛdaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co