23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Betulkah Dokter Sering Terburu-buru?

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
August 13, 2023
in Esai
Kisah-kisah Unik Pendidikan Dokter | Merayakan HUT ke-4 FK Undiksha

“Tak usah buru-buru. Pelan-pelan sajalah. Itu jauh lebih nikmat!”

ISU INI cukup sering terdengar di masyarakat. Sama halnya dengan citra tulisan dokter yang terkenal jelek dan sulit dibaca. Soal tulisan jelek dokter, saya sudah bahas pada artikel sebelumnya. Kali ini saya ingin membahas satu lagi kritik masyarakat yang cukup sering terhadap dokter, yaitu kebiasaan dokter yang sering terburu-buru saat memberi pelayanan.

Betulkah anggapan tersebut? Jika hal ini ditanyakan kepada masayarakat, saya yakin akan cukup banyak yang akan mengiyakan. Sebaliknya, jika kepada para dokter hal ini dikonfirmasi, saya salah satu dokter yang akan mengakui, hahaha. Bukan masalah bagi saya mengakui kekurangan ini, jika dengan membuat artikel ini kemudian saya  dapat pula mengemukakan berbagai alasan yang menyebabkan hal itu terjadi.

Oh ya jangan dikira buat ngeles lho ya, hahaha. Dan sekalian dari sini mengajak kita semua para dokter, kemudian berjanji untuk tidak lagi terburu-buru dalam melayani pasien. Terutama mengupayakan waktu yang cukup untuk memberi penjelasan dan edukasi terkait penyakit dan pengobatannya kepada semua pasien tanpa kecuali.

Sikap dan prilaku terburu-buru dokter di Indonesia, berani saya katakan, bukanlah sebuah sifat atau gaya bawaan. Lebih daripada 90%, fenomena ini terjadi oleh karena rasio dokter dan pasien yang belum cukup berimbang. Artinya jumlah dokter yang masih jauh lebih kecil daripada kebutuhan pasien. Hal ini terkonfirmasi oleh data rasio dokter Indonesia yang masih jauh daripada rasio yang disarankan badan kesehatan dunia (WHO) yaitu 1:1.000 berbanding jumlah penduduk.

Sebagian besar wilayah di Indonesia rasionya masih di atas 1:2.000. Cuma di beberapa wilayah yang sudah sesuai target WHO, yaitu Bali, DKI Jakarta dan DIY Yogyakarta. Namun untuk ketersediaan dokter ahli, Bali pun masih belum optimal. Sebuah rumah sakit (RS) kabupaten, rata-rata memiliki kapasitas tempat tidur di atas 200 bed.

Di samping melayani pasien rawat inap tersebut, seorang dokter juga harus melayani pasien di poliklinik dan menjawab konsultasi dari dokter jaga IGD (instalasi gawat darurat.) Nah, dengan keterbatasan jumlah dokter ahli, maka dapat dibayangkan, seorang dokter spesialis mesti bergerak cepat untuk menutupi semua pelayanan yang menanti seperti situasi di atas.

Keadaan di atas itu pun belum memperhitungkan jika RS tersebuat merupakan jejaring RS pendidikan. Jika demikian, maka dokter spesialis di RS tersebut akan merangkap menjadi seorang dokter pendidik klinis (dokdiknis) alias dosen klinik, yang ditetapkan oleh rektor universitas bersangkutan. Seorang dosen klinik punya tugas membimbing laporan pagi (morning report), bimbingan karya tulis (referat, jurnal, case report), bed site teaching dan tentu saja menguji mahasiswa kedokteran pada tahap profesi (dokter muda/koas.)

Terus terang saja, bagi seorang dokter, punya kapasitas yang begitu banyak seperti ini, baik sebagai klinisi yang sibuk sekaligus sebagai dosen tentu merupakan peluang menambah income maupun prestise. Namun peluang tersebut sekaligus menghadirkan sebuah tantangan yang menghadang, mampukah kita menunaikannya secara berkualitas?

Dan jangan pernah dilupakan, sekali lagi karena jumlahnya yang masih terbatas, seorang dokter saat ini diberikan izin untuk berpraktek maksimal di tiga RS. Artinya, dokter yang sudah sedemikian sibuk di RS pemerintah tersebut, juga harus membagi waktunya untuk melayani pasien-pasien mereka di RS swasta di mana dokter tersebut juga menaruh izin prakteknya.

Tidak sedikit dokter umum maupun dokter ahli, yang jumlah pasien di praktek pribadinya begitu banyak. Bahkan ada dokter yang berpraktek hingga jam 1 atau 2 dini hari dan itu tidak masalah bagi pasien-pasiennya yang setia menunggu. Sulit dibayangkan, bagaimana mungkin kapasitas manusia akan dapat memberi pelayanan dengan standar maksimal pada situasi seperti itu. Apalagi jika itu dijalaninya setiap malam. Hal ini dapat mencerminkan bahwa fenomena pelayanan buru-buru tersebut tidak semata-mata disebabkan karena sisi masalah dokternya semata. Namun, budaya masyarakat pun memberi kontribusi.

Artinya, pasien-pasien di Indonesia atau Bali khusunya, masih mencari dokter sebagai entitas sosok atau figur bukan sebagai seseorang pada sisi profesionalitasnya. Mestinya, semua dokter ya sama. Setiap internis atau ahli bedah tulang, harusnya sama saja.

Budaya lain yang sering menimbulkan masalah komunikasi antara dokter dengan keluarga pasien adalah penunggu pasien di RS yang sering bergonta-ganti. Hal ini dapat memberi risiko, seakan-akan dokter belum memberi penjelasan kepada keluarga pasien.

Di samping itu, sistem yang mengatur pekerjaan dokter juga belum ideal di Indonesia. Di negara-negara maju dengan jumlah dokter memadai, maka pekerjaan dokter dapat terbagi dengan lebih terpola. Apakah akan memilih sebagai klinisi (dokter RS atau dokter keluarga), dosen, peneliti atau pejabat tertentu.

Dengan demikian, tugas yang diembannya diwajibkan akan terlaksana memenuhi standar yang telah ditentukan. Sementara di Indonesia, seperti pemaparan di atas, seorang dokter dapat sekaligus menjadi klinisi, dosen, bahkan direktur RS hahaha.

Dengan bertambahnya jumlah dokter saat ini serta komitmen pemerintah untuk produksi dan distribusi dokter ke seluruh pelosok Nusantara, maka mutu pelayanan diharapkan menjadi lebih baik. Begitu juga, acuan dan regulasi keselamatn pasien pun semakin mengemuka (akreditasi.) Hal ini relevan dengan semakin besarnya risiko tuntutan hukum oleh masyarakat kepada dokter dan RS.

Maka itu, sudah saatnya kita semua dokter untuk tidak lagi terburu-buru dalam memberi pelayanan. Bahkan bentuk edukasi dan konsultasi perlu kita lakukan dalam berbagai metode. Meliputi komunikasi verbal, tertulis dengan bukti tanda tangan dan di era digital saat ini, proses yang telah dilakukan tersebut dapat direkam video sebagai bukti dokter sudah memberi penjelasan kepada pasien maupun keluarganya.

Ini merupakan poin yang sangat mendasar, karena sebagian besar keluhan pasien dan keluarganya kepada dokter dan RS datang dari penjelasan yang dinilai kurang, walaupun pasien telah mendapatkan prosedur pelayanan yang sesuai. Ingat, tugas dokter bukanlah untuk menyembuhkan pasiennya, namun melakukan tugas dengan sebaik-baiknya. [T]

  • Klik BACA untuk melihat esai dan cerpen dari penulis DOKTER PUTU ARYA NUGRAHA
Cerita-cerita Ringan Dokter (3): Image Mahasiswa Kedokteran
Cerita-cerita Ringan Dokter (2): Dokter Novelis, Politisi, dan Dokter Cuci Sepatu
Cerita-cerita Ringan Dokter (1): Tarif Praktek
Tags: dokterDokter Arya Nugrahakesehatanrumah sakit
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Asal-Asul Nama Desa Adat Lantangidung, Kecamatan Sukawati, Gianyar

Next Post

Kepala Kelamin & Pusat Kendali Padmahṛdaya

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Kepala Kelamin & Pusat Kendali Padmahṛdaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co