2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Asal-Asul Nama Desa Adat Lantangidung, Kecamatan Sukawati, Gianyar

I Ketut Suar Adnyana by I Ketut Suar Adnyana
August 13, 2023
in Dongeng
Asal-Asul Nama Desa Adat Lantangidung, Kecamatan Sukawati, Gianyar

Ilustrasi: Dok. Suar Adnyana

PADA ZAMAN dahulu ada sepasang suami istri bermukin di Alas Tapesan. Pasangan suami istri itu bernama  Pan Dalang dan Men Dalang. Pekerjaan Pan Dalag adalah mencari ikan dengan menggunakan sau.

Suatu hari Pan Dalang menangkap ikan di sungai Tukad Yeh Wos. Pan Dalang tidak mendapatkan ikan tetapi ada batu yang terjaring di sau Pan Dalang. Batu tersebut berwarna hitam. Ukurannya sebesar bakal buah kelapa (bungsil). Batu itu dilemparkan ke dalam sungai.

Pan Dalang berpikir, batu hitam tersebut milik makhluk halus  penunggu ikan di sungai Yeh Wos. Penunggu itulah yang menyebabkan semua ikan tidak berani muncul kepermukaan. Itulah penyebabnya ketika Pan Dalang  ingin menjaring, tidak satupun ikan yang muncul ke permukaan.

Pan Dalang berkali-kali menjaring ikan, bukan ikan yang ada dalam sau-nya tetapi  yang terjaring adalah batu hitam  itu. Kejadian itu berulang-ulang terjadi. Selanjutnya Pan Dalang mengikatkan batu itu di ujung kainnya (kancut).

Setelah batu itu diikatkan di ujung kain Pan Dalang, Pan Dalang mencoba untuk menjaring ikan. Banyak ikan yang terjaring seperti nyalian, udang, dan boso-boso. Dalam waktu singkat tempat ikan (dungki) Pan Dalang penuh dengan ikan.  

Pan Dalang berisitirahat di batu besar yang dikelilingi air sungai. Pan Dalang beristirahat sambil memakan sirih. Setelah beristirahat Pan Dalang bergegas ke rumahnya. Sampai di rumah Pan Dalang memberitahu Men Dalang bahwa dirinya banyak mendapatkan ikan.

Hati Men Dalang sangat bahagia dan bertanya kepada Pan Dalang, “Kenapa tumben mendapat ikan yang begitu banyak?” 

Pan Dalang memberitahu Men Dalang.  “Tadi ketika menjaring ikan, Bli bertemu dengan penunggu ikan. Penunggu tersebut yang memberikan ikan ini.” Pan Dalang memberitahu istrinya sambil berseloroh. “Inilah penunggu ikan di sungai Yah Wos.”

Pan Dalang membuka ikatan di kancutnya. Men Dalang memperhatikan batu tersebut sambil berkata, “Batu oranga gamang (batu dibilang makhluk halus), buang saja batu itu”

Ilustrasi : Dok. Suar Adnyana

Pan Dalang tertawa terbahak-bahak. Batu itu dibuang ke kolong tempat tidurnya. Ketika tengah malam, cuaca begitu panas sehingga Pan Dalang tidak dapat tidur. Pan Dalang berpikir apakah  cuaca panas disebabkan oleh batu yang dilemparkan ke kolong tempat tidur. Batu itu diambil oleh Pan Dalang dan dilemparkan ke tegalan di sebelah Barat rumahnya.

Setelah beberapa saat, batu itu mengeluarkan api dan asap dan membakar alang-alang yang tumbuh di tegalan tersebut. Seketika hujan lebat disertai  kilatan petir dan suara bergemuruh datang dari langit. Pan Dalang dan Men Dalang ketakutan. Mereka berpikir yang mempunyai batu tersebut datang dan akan mencelakai mereka.

Pan Dalang  ke luar rumah dan mencari batu tersebut. Di depan batu itu Pan Dalang  duduk bersila dan sambil berucap. ”Saya tidak tahu apa-apa. Siapa yang berstana di batu ini. Saya minta maaf  atas kesalahan saya.”

Pan Dalang segera memungut batu tersebut dan di taruh di sanggar tawang. Sejak batu itu distanakan di sanggar tawang  mereka sangat mudah mencari pekerjaan dan hasil pertanian melimpah. Mereka hidup sejahtera tidak kekurangan suatu apapun.

Setelah berpuluh-puluh tahun  mereka tinggal di Alas Tapesan, keturunan Pan Dalang semakin banyak. Ada sepasang suami istri yang datang bermukim di Alas Tapesan keturunan predewa (trah kesatria di Bali). Mereka berpindah ke Alas Tapesan karena wilayahnya dikerubungi oleh semut. Daerahnya bernama Ancut Mawang.

Rumah (puri) yang mereka tempati ketika mereka tinggal di Ancut Mawang, sekarang bernama  Jeron Dewa. Lama kelamaan warga pindahan mencapai dua belas pasang suami-istri. Mereka membangun Pura berbentuk gedong di rumah Pan Dalang. Batu yang sebelumnya distanakan di sanggar tawang dipindahkan dan distanakan di gedong yang telah dibuat.

Batu (pretima) yang distanakan di gedong tersebut lama kelamaan berkepala, bertangan, dan memiliki hidung yang panjang (lantang idung). Batu tersebut lama-kelamaan berupa Gana (Ganesha). Orang yang sujud bakti kepada pretima Gana itu semakin banyak.

Pretima tersebut dipindahkan ke sebelah barat rumah Pan Dalang (tegalan yang merupakan tempat batu itu dibuang oelh Pan Dalang). Di tempat itu dibuatkan pelinggih gedong  dan sekarang gedong itu bernama Pura Buda Kliwon. Wali (upacara) dilakukan setiap enam bulan yaitu pada Buda Kliwon Paang.

Masyarakat mempercayai wujud Dewa Gana dalam pretima tersebut merupakan putra dari Bhatara Lingsir yang berstana di alas Intaran Desa Sanur. Setiap pelaksanaan wali di Pura Buda Kliwon, upacara diawali dengan melakukan persembahhyang di Pura Belanjong  Sanur untuk nunas pekuluh (memohon tirta). Masyarakat juga  melakukan persembahyangan (nangkil) ke Pura Belanjong Sanur pada saat hari Pahing Kuningan.

Masyarakat Desa Adat Lantangidung mempercayai bahwa berdasarkan cerita itulah daerah yang ditempatinya dinamakan Lantangidung. Masyarakat mempercayai ikatan kerohanian antar warga Desa Adat LantangIdung dengan masyarakat Sanu. Hal ini dapat dibuktikan dari perwujudan pretima yang distanakan di Pura Belanjong  berbentuk Dewa Gana. Di Alas Intaran Sanur ada juga alas yang bernama Lantangidung.

Masyarakat Desa Adat Lantangidung sampai saat ini mempercayai apabila ada masyarakat yang sakit, masyarakat memohon obat (tamba) di Pura Buda Kliwon. Banyak pula masyarakat sujud bhakti kehadapan sesuhunan di Pura Buda Kliwon memohon keselamatan.

Apabila ada penduduk  Desa Lantangidung yang akan berangkat/ bekerja ke luar negeri, mereka memohon izin ke hadapan sesuhunan di Pura Buda Kliwon agar mereka sukses dan selamat sampai di tempat tujuan. Disamping itu, banyak pejabat, calon legislatif dan bahkan calon kepala daerah memohon ke hadapan sesuhunan di Pura Buda Kliwon agar dilancarkan karirnya.

  • Dinarasikan ke dalam bahasa Indonesia oleh Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. Dosen pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Dwijendra, berdasarkan narasi berbahasa Bali yang didapat dari Jero Bendesa Adat Lantangidung Bapak I Wayan Sujana, Juli 2023).
  •   Tim Peliput/Pengumpul data : FBI (Federasi Biro Investigasi) FKIP Universitas Dwijendra: Dwicky, Ronny, De Juli, Agus Satria, Dek Tu, dan Bagus.
Si Manusia Kodok
Aya, Seekor Anak Buaya Tak Lagi Makan Daging
Pandan Berduri dan Ketajaman Pikiran
Tags: baliDesa Adat lantangidungdongeng
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Nglawang”: Sumber Sastra dan Realita

Next Post

Betulkah Dokter Sering Terburu-buru?

I Ketut Suar Adnyana

I Ketut Suar Adnyana

Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. adalah Wakil Rektor I Universitas Dwijendra, Denpasar

Related Posts

Takut Galungan

by Dede Putra Wiguna
June 27, 2026
0
Takut Galungan

DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan...

Read moreDetails

Radio Tua Kakek Panjul

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Radio Tua Kakek Panjul

PAGI di Desa Muncuk Sari selalu datang dengan cara yang sama. Perlahan, lembut, seperti tangan yang membelai tanpa suara. Kabut...

Read moreDetails

Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
February 27, 2026
0
Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

DI langit biru yang luas, hiduplah kawanan awan yang lembut dan setia. Pemimpin mereka bernama Rinai, awan tua berwarna kelabu...

Read moreDetails

Sekar dan Tujuh Cahaya | Cerita Anak

by Jaswanto
February 8, 2026
0
Sekar dan Tujuh Cahaya | Cerita Anak

SEKAR masih menangis ketakutan dengan badan kuyup. Badai telah reda. Tapi Kakek dan orang-orang desa tak kunjung kelihatan. Di ujung...

Read moreDetails

Adik dan Katak | Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
January 18, 2026
0
Adik dan Katak | Dongeng Lingkungan

DI sebuah desa kecil yang dikelilingi sawah hijau dan sungai yang jernih, hiduplah seorang anak lelaki bernama Adik. Ia dikenal...

Read moreDetails

Jalak Bali dan Beringin Tua | Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
October 12, 2025
0
Jalak Bali dan Beringin Tua | Dongeng Lingkungan

DI sebuah desa kecil bernama Desa Kerta Harum, berdiri sebuah beringin raksasa berusia ratusan tahun di pinggir jalan dekat Pura...

Read moreDetails

Bob & Ciko | Dongeng Masa Kini

by Pitrus Puspito
May 11, 2025
0
Bob & Ciko | Dongeng Masa Kini

MENJELANG sore, seekor beruang madu ditangkap oleh para pemburu dan dibawa ke kebun binatang Zoole. Kebun binatang Zoole merupakan tempat...

Read moreDetails

Gery dan Sangkarnya  |  Dongeng dari Papua

by Teddy Koll
January 26, 2025
0
Gery dan Sangkarnya  |  Dongeng dari Papua

DI satu gedung Gereja hiduplah seekor burung yang bahagia. Ia tidur di tempat yang nyaman dan sering keluar bermain dan...

Read moreDetails

Ulat Mengkhianati Pohon Apel  |  Dongeng Pendidikan

by Wayan Purne
January 25, 2025
0
Ulat Mengkhianati Pohon Apel  |  Dongeng Pendidikan

“Tolong-tolong!!! Aku diburu! Diburu! Tolong aku!” teriakan seekor ulat ketakutan. Terlihat seekor ulat menggeliat merayap di antara dedaunan mati yang...

Read moreDetails

Toweli dan Tongkat Saktinya | Dongeng dari Papua

by Teddy Koll
January 12, 2025
0
Toweli dan Tongkat Saktinya | Dongeng dari Papua

DI satu kampung yang dikelilingi gunung batu: Gunung Batu Kulbi di timur dan Gunung Batu Wandel di barat dan Gunung...

Read moreDetails
Next Post
Kisah-kisah Unik Pendidikan Dokter | Merayakan HUT ke-4 FK Undiksha

Betulkah Dokter Sering Terburu-buru?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co