14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Asal-Asul Nama Desa Adat Lantangidung, Kecamatan Sukawati, Gianyar

I Ketut Suar Adnyana by I Ketut Suar Adnyana
August 13, 2023
in Dongeng
Asal-Asul Nama Desa Adat Lantangidung, Kecamatan Sukawati, Gianyar

Ilustrasi: Dok. Suar Adnyana

PADA ZAMAN dahulu ada sepasang suami istri bermukin di Alas Tapesan. Pasangan suami istri itu bernama  Pan Dalang dan Men Dalang. Pekerjaan Pan Dalag adalah mencari ikan dengan menggunakan sau.

Suatu hari Pan Dalang menangkap ikan di sungai Tukad Yeh Wos. Pan Dalang tidak mendapatkan ikan tetapi ada batu yang terjaring di sau Pan Dalang. Batu tersebut berwarna hitam. Ukurannya sebesar bakal buah kelapa (bungsil). Batu itu dilemparkan ke dalam sungai.

Pan Dalang berpikir, batu hitam tersebut milik makhluk halus  penunggu ikan di sungai Yeh Wos. Penunggu itulah yang menyebabkan semua ikan tidak berani muncul kepermukaan. Itulah penyebabnya ketika Pan Dalang  ingin menjaring, tidak satupun ikan yang muncul ke permukaan.

Pan Dalang berkali-kali menjaring ikan, bukan ikan yang ada dalam sau-nya tetapi  yang terjaring adalah batu hitam  itu. Kejadian itu berulang-ulang terjadi. Selanjutnya Pan Dalang mengikatkan batu itu di ujung kainnya (kancut).

Setelah batu itu diikatkan di ujung kain Pan Dalang, Pan Dalang mencoba untuk menjaring ikan. Banyak ikan yang terjaring seperti nyalian, udang, dan boso-boso. Dalam waktu singkat tempat ikan (dungki) Pan Dalang penuh dengan ikan.  

Pan Dalang berisitirahat di batu besar yang dikelilingi air sungai. Pan Dalang beristirahat sambil memakan sirih. Setelah beristirahat Pan Dalang bergegas ke rumahnya. Sampai di rumah Pan Dalang memberitahu Men Dalang bahwa dirinya banyak mendapatkan ikan.

Hati Men Dalang sangat bahagia dan bertanya kepada Pan Dalang, “Kenapa tumben mendapat ikan yang begitu banyak?” 

Pan Dalang memberitahu Men Dalang.  “Tadi ketika menjaring ikan, Bli bertemu dengan penunggu ikan. Penunggu tersebut yang memberikan ikan ini.” Pan Dalang memberitahu istrinya sambil berseloroh. “Inilah penunggu ikan di sungai Yah Wos.”

Pan Dalang membuka ikatan di kancutnya. Men Dalang memperhatikan batu tersebut sambil berkata, “Batu oranga gamang (batu dibilang makhluk halus), buang saja batu itu”

Ilustrasi : Dok. Suar Adnyana

Pan Dalang tertawa terbahak-bahak. Batu itu dibuang ke kolong tempat tidurnya. Ketika tengah malam, cuaca begitu panas sehingga Pan Dalang tidak dapat tidur. Pan Dalang berpikir apakah  cuaca panas disebabkan oleh batu yang dilemparkan ke kolong tempat tidur. Batu itu diambil oleh Pan Dalang dan dilemparkan ke tegalan di sebelah Barat rumahnya.

Setelah beberapa saat, batu itu mengeluarkan api dan asap dan membakar alang-alang yang tumbuh di tegalan tersebut. Seketika hujan lebat disertai  kilatan petir dan suara bergemuruh datang dari langit. Pan Dalang dan Men Dalang ketakutan. Mereka berpikir yang mempunyai batu tersebut datang dan akan mencelakai mereka.

Pan Dalang  ke luar rumah dan mencari batu tersebut. Di depan batu itu Pan Dalang  duduk bersila dan sambil berucap. ”Saya tidak tahu apa-apa. Siapa yang berstana di batu ini. Saya minta maaf  atas kesalahan saya.”

Pan Dalang segera memungut batu tersebut dan di taruh di sanggar tawang. Sejak batu itu distanakan di sanggar tawang  mereka sangat mudah mencari pekerjaan dan hasil pertanian melimpah. Mereka hidup sejahtera tidak kekurangan suatu apapun.

Setelah berpuluh-puluh tahun  mereka tinggal di Alas Tapesan, keturunan Pan Dalang semakin banyak. Ada sepasang suami istri yang datang bermukim di Alas Tapesan keturunan predewa (trah kesatria di Bali). Mereka berpindah ke Alas Tapesan karena wilayahnya dikerubungi oleh semut. Daerahnya bernama Ancut Mawang.

Rumah (puri) yang mereka tempati ketika mereka tinggal di Ancut Mawang, sekarang bernama  Jeron Dewa. Lama kelamaan warga pindahan mencapai dua belas pasang suami-istri. Mereka membangun Pura berbentuk gedong di rumah Pan Dalang. Batu yang sebelumnya distanakan di sanggar tawang dipindahkan dan distanakan di gedong yang telah dibuat.

Batu (pretima) yang distanakan di gedong tersebut lama kelamaan berkepala, bertangan, dan memiliki hidung yang panjang (lantang idung). Batu tersebut lama-kelamaan berupa Gana (Ganesha). Orang yang sujud bakti kepada pretima Gana itu semakin banyak.

Pretima tersebut dipindahkan ke sebelah barat rumah Pan Dalang (tegalan yang merupakan tempat batu itu dibuang oelh Pan Dalang). Di tempat itu dibuatkan pelinggih gedong  dan sekarang gedong itu bernama Pura Buda Kliwon. Wali (upacara) dilakukan setiap enam bulan yaitu pada Buda Kliwon Paang.

Masyarakat mempercayai wujud Dewa Gana dalam pretima tersebut merupakan putra dari Bhatara Lingsir yang berstana di alas Intaran Desa Sanur. Setiap pelaksanaan wali di Pura Buda Kliwon, upacara diawali dengan melakukan persembahhyang di Pura Belanjong  Sanur untuk nunas pekuluh (memohon tirta). Masyarakat juga  melakukan persembahyangan (nangkil) ke Pura Belanjong Sanur pada saat hari Pahing Kuningan.

Masyarakat Desa Adat Lantangidung mempercayai bahwa berdasarkan cerita itulah daerah yang ditempatinya dinamakan Lantangidung. Masyarakat mempercayai ikatan kerohanian antar warga Desa Adat LantangIdung dengan masyarakat Sanu. Hal ini dapat dibuktikan dari perwujudan pretima yang distanakan di Pura Belanjong  berbentuk Dewa Gana. Di Alas Intaran Sanur ada juga alas yang bernama Lantangidung.

Masyarakat Desa Adat Lantangidung sampai saat ini mempercayai apabila ada masyarakat yang sakit, masyarakat memohon obat (tamba) di Pura Buda Kliwon. Banyak pula masyarakat sujud bhakti kehadapan sesuhunan di Pura Buda Kliwon memohon keselamatan.

Apabila ada penduduk  Desa Lantangidung yang akan berangkat/ bekerja ke luar negeri, mereka memohon izin ke hadapan sesuhunan di Pura Buda Kliwon agar mereka sukses dan selamat sampai di tempat tujuan. Disamping itu, banyak pejabat, calon legislatif dan bahkan calon kepala daerah memohon ke hadapan sesuhunan di Pura Buda Kliwon agar dilancarkan karirnya.

  • Dinarasikan ke dalam bahasa Indonesia oleh Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. Dosen pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Dwijendra, berdasarkan narasi berbahasa Bali yang didapat dari Jero Bendesa Adat Lantangidung Bapak I Wayan Sujana, Juli 2023).
  •   Tim Peliput/Pengumpul data : FBI (Federasi Biro Investigasi) FKIP Universitas Dwijendra: Dwicky, Ronny, De Juli, Agus Satria, Dek Tu, dan Bagus.
Si Manusia Kodok
Aya, Seekor Anak Buaya Tak Lagi Makan Daging
Pandan Berduri dan Ketajaman Pikiran
Tags: baliDesa Adat lantangidungdongeng
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Nglawang”: Sumber Sastra dan Realita

Next Post

Betulkah Dokter Sering Terburu-buru?

I Ketut Suar Adnyana

I Ketut Suar Adnyana

Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. adalah Wakil Rektor I Universitas Dwijendra, Denpasar

Related Posts

Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
February 27, 2026
0
Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

DI langit biru yang luas, hiduplah kawanan awan yang lembut dan setia. Pemimpin mereka bernama Rinai, awan tua berwarna kelabu...

Read moreDetails

Sekar dan Tujuh Cahaya | Cerita Anak

by Jaswanto
February 8, 2026
0
Sekar dan Tujuh Cahaya | Cerita Anak

SEKAR masih menangis ketakutan dengan badan kuyup. Badai telah reda. Tapi Kakek dan orang-orang desa tak kunjung kelihatan. Di ujung...

Read moreDetails

Adik dan Katak | Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
January 18, 2026
0
Adik dan Katak | Dongeng Lingkungan

DI sebuah desa kecil yang dikelilingi sawah hijau dan sungai yang jernih, hiduplah seorang anak lelaki bernama Adik. Ia dikenal...

Read moreDetails

Jalak Bali dan Beringin Tua | Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
October 12, 2025
0
Jalak Bali dan Beringin Tua | Dongeng Lingkungan

DI sebuah desa kecil bernama Desa Kerta Harum, berdiri sebuah beringin raksasa berusia ratusan tahun di pinggir jalan dekat Pura...

Read moreDetails

Bob & Ciko | Dongeng Masa Kini

by Pitrus Puspito
May 11, 2025
0
Bob & Ciko | Dongeng Masa Kini

MENJELANG sore, seekor beruang madu ditangkap oleh para pemburu dan dibawa ke kebun binatang Zoole. Kebun binatang Zoole merupakan tempat...

Read moreDetails

Gery dan Sangkarnya  |  Dongeng dari Papua

by Teddy Koll
January 26, 2025
0
Gery dan Sangkarnya  |  Dongeng dari Papua

DI satu gedung Gereja hiduplah seekor burung yang bahagia. Ia tidur di tempat yang nyaman dan sering keluar bermain dan...

Read moreDetails

Ulat Mengkhianati Pohon Apel  |  Dongeng Pendidikan

by Wayan Purne
January 25, 2025
0
Ulat Mengkhianati Pohon Apel  |  Dongeng Pendidikan

“Tolong-tolong!!! Aku diburu! Diburu! Tolong aku!” teriakan seekor ulat ketakutan. Terlihat seekor ulat menggeliat merayap di antara dedaunan mati yang...

Read moreDetails

Toweli dan Tongkat Saktinya | Dongeng dari Papua

by Teddy Koll
January 12, 2025
0
Toweli dan Tongkat Saktinya | Dongeng dari Papua

DI satu kampung yang dikelilingi gunung batu: Gunung Batu Kulbi di timur dan Gunung Batu Wandel di barat dan Gunung...

Read moreDetails

Kuda Laut Jatuh Cinta | Dongeng Pendidikan

by Wayan Purne
January 11, 2025
0
Kuda Laut Jatuh Cinta | Dongeng Pendidikan

LAUT menyambut senyum mentari pagi. Taman terumbu karang mengiringi nyanyian riang canda tawa ikan-ikan. Ada ikan warna-warni bermain petak umpet...

Read moreDetails

Capung dan Daun Teratai | Dongeng dari Papua

by Teddy Koll
January 5, 2025
0
Capung dan Daun Teratai | Dongeng dari Papua

ADA satu danau  berbentuk hati. Danau itu punya air biru jernih. Di sekitar danau tinggallah seekor capung bersama keluarga serangga:...

Read moreDetails
Next Post
Kisah-kisah Unik Pendidikan Dokter | Merayakan HUT ke-4 FK Undiksha

Betulkah Dokter Sering Terburu-buru?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co