14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sekar dan Tujuh Cahaya | Cerita Anak

Jaswanto by Jaswanto
February 8, 2026
in Dongeng
Sekar dan Tujuh Cahaya | Cerita Anak

Ilustrasi tatkala.co | Canva

SEKAR masih menangis ketakutan dengan badan kuyup. Badai telah reda. Tapi Kakek dan orang-orang desa tak kunjung kelihatan. Di ujung sore, seekor Cucak Ijo hinggap di ranting pohon srikaya yang tumbuh di dekat jendela kamar Sekar. Awalnya burung itu hanya mematuk-matuk buah srikaya matang. Tapi lama-lama, Cucak Ijo menatap Sekar yang sedang memeluk lututnya sambil terus terisak.

“Kamu kenapa?” tanya Cucak Ijo.

Sekar kaget. Ia mencari sumber suara. Itu jelas bukan suara kakeknya. Sekar memandang sekeliling. “Aku di sini,” kata Cucak Ijo sambil mengepakkan sayapnya. Sekar berhenti menangis. Ia terpaku dan tak percaya.

“Kamu bisa bicara?” tanya Sekar tergagap.

“Iya. Aku bisa bicara,” jawab Cucak Ijo.

Sekar menghampiri burung berkicau itu. Dari jendela ia berkata: “Kakek dan orang-orang desa tiba-tiba menghilang saat terjadi badai siang tadi. Hanya aku yang tidak menghilang. Sekarang aku sendirian,” Sekar bercerita sembari sesegukan.

Cucak Ijo hinggap di telapak tangan Sekar sambil berkata, “Aku bisa membantu menemukan kakekmu dan orang-orang desa.”

Mata Sekar berbinar-binar. Senyumnya mengembang. “Benarkah?” tanya Sekar meyakinkan. Cucak Ijo mengangguk.

“Apa yang harus aku lakukan, Cucak Ijo?”

“Kamu harus mengumpulkan tujuh cahaya Blambangan!”

“Apa itu?” Sekar bingung.

“Tujuh cahaya itu yang akan mengembalikan kakekmu dan orang-orang desa. Cahaya pertama muncul dari fajar yang dikejar. Cahaya kedua didapat setelah doa dipanjatkan. Cahaya ketiga diraih karena kebugaran tubuh. Cahaya keempat didapat dari jamuan dari alam. Cahaya kelima berada di balik pelita rumah pengetahuan. Cahaya keenam berasal dari suara di tengah desa. Dan cahaya ke tujuh muncul dalam tidur istirahat,” Cucak Ijo memperjelas.

“Baiklah. Aku akan melakukannya.”

Bersama Cucak Ijo Sekar memutuskan berangkat pagi-pagi sekali ke arah yang ditunjukkan Cucak Ijo, arah Timur. Sekar biasanya bangun siang dan malas-malasan, tapi kali ini ia memaksa diri. Saat sinar matahari pertama muncul, ia berlari. Udara pagi begitu segar, membuatnya bersemangat. Di balik padang rumput ia menemukan batu kecil berkilau kuning.

“Inilah cahaya pertama—kebiasaan bangun pagi,” kata Cucak Ijo. Batu itu menyala indah sekali. “Cepat masukkan ke kantong!” sambung Cucak Ijo. Dengan masih terkesima Sekar cepat-cepat memasukkan batu bercahaya kuning itu. Dalam hati ia berkata, “Ternyata bangun pagi itu menyenangkan.” Sekar dan Cucak Ijo melanjutkan perjalanan.

Di tengah perjalanan, Sekar merasa haus dan lapar. Tapi perbekalannya tinggal sedikit. Ia duduk di bawah pohon beringin dengan sulur-sulur yang panjang. Cucak Ijo entah ke mana. “Kakek…” Sekar mengingat kakeknya. Ia baru saja meneguk air dan menelan Sego Cawuk terakhir yang ia bawa. Nasi khas Bayuwangi itu dimasak kakek Sekar sebelum menghilang. Sekar menghangatkannya berkali-kali.

“Sekar! Sekar! Bangun!” Cucak Ijo sudah kembali.

Sekar bangun dari tidurnya yang sebentar. Ia terlihat putus asa.

“Jangan menyerah, Sekar. Berdoalah, Sekar! Berdoalah!” seru Cucak Ijo. Angin berembus lembut. Suara gamelan Gandrung terdengar lamat-lamat. Sekar merapikan selendang batik Gajah Oling pemberian kakeknya. Ia duduk bersimpuh, berdoa kepada Tuhan yang Maha Esa. Ia berdoa untuk dirinya, keselamatan kakeknya, dan orang-orang desanya. Sesaat setelah berdoa, tiba-tiba jatuh sebuah pohon beringin di hadapan Sekar. Buah itu bersinar putih, indah sekali.

“Cahaya kedua, cahaya kedua. Itu cahaya kedua Sekar,” ujar Cucak Ijo. “Cahaya kedua didapat dari beribadah,” Cucak Ijo melanjutkan. Dengan bahagia Sekar segera memungut buah bercahaya itu dan memasukkannya ke dalam kantong. Ia sudah menemukan dua cahaya. “Masih lima lagi,” ujarnya dalam hati. Sekar kembali semangat. Ia mengingat nasihat kakeknya bahwa saat sedang merasa kesusahan atau rindu kepada ayah ibunya yang sedang bekerja jauh dari Banyuwangi, Sekar harus berdoa—mendoakan kedua orang tuanya dan berdoa supaya diberi jalan keluar atas kesusahannya.

Sebelum melanjutkan perjalanan, teman-teman Cucak Ijo memberi Sekar banyak buah-buahan. Burung kutilang memberinya srikaya dan pisang. Sedangkan Cucak Gunung membawakannya jambu air. Burung-burung lain tak mau ketinggalan.

“Bermain-main di hutan jati… Main sebentar tiba-tiba hujan… Janganlah kau berduka hati… Mintalah pertolongan kepada Tuhan,” Cucak Gunung berpantun sembari menyerahkan setangkai jambu air segar.

Mendengar pantun itu Sekar bertambah semangat. Ia dan Cucak Ijo melanjutkan perjalanan. Mereka menuju ke sebuah lembah. Sekar harus menyeberangi sungai deras. Ia hampir terjatuh, tapi tubuhnya kuat karena sering membantu kakeknya berkebun. Ia begerak lincah seperti penari Gandrung. Ia sadar bahwa aktivitas di kebun—yang selama ini ia benci—tanpa ia sadari sangat berguna dalam situasi seperti ini. Pantas saja Kakek sangat kuat, gumamnya dalam hati. Setelah berhasil menyeberang, batu di bawah kakinya berpendar merah jingga.

“Cahaya ketiga. Cahaya ketiga. Segera ambil, Sekar!” desak Cucak Ijo. Sekar mengambilnya dengan cepat. Sekali lagi ia mengingat nasihat kakeknya. Kata kakeknya, di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Ia baru sadar pentingnya bergerak. Seandainya ia enggan membantu berkebun, ia pasti tidak mampu menyeberangi sungai dan mendapatkan cahaya ketiga. Kunci cahaya ketiga ialah berolahraga.

Sekar dan Cucak Ijo sampai di tengah hujan. Sekar kembali lapar. Ia mengambil buah-buahan pemberian para burung dari tasnya. Ia memakan sebuah jambu dan membaginya dengan Cucak Ijo. Dan di antara jambu-jambu itu, Sekar melihat sebuah jambu bersinar kehijauan. “Cahaya keempat. Cahaya keempat didapat dari makanan sehat,” kata Cucak Ijo. Sekar memungut buah itu dan memasukkannya ke dalam kantong bersama cahaya yang lain. Ia kembali mengingat nasihat kakeknya kenapa ia harus menghindari makanan yang tidak sehat.

Setelah merasa kenyang, Sekar dan Cucak Ijo berjalan melewati hutan, dan mereka sampai di sebuah desa yang sunyi. Di sana ada perpustakaan bambu yang penuh dengan naskah kuno. Sekar membuka sebuah naskah tentang Sri Tanjung dan Sidapaksa—tentang kesetian dan kejujuran. Dari dalam buku tua itu keluar cahaya biru terang.

“Itu cahaya kelima, Sekar! Cahaya kelima,” ucap Cucak Ijo gembira. Naskah itu kemudian berubah menjadi bola kristal berwarna biru. Sekar tersenyum dan kembali mengingat nasihat kakeknya bahwa ia harus rajin belajar dan membaca buku.

“Minum madu di bawah pilar… Pilar empat berlampu pija… Rajin-rajinlah kau belajar… Supaya jadi anak pintar,” celetuk Burung Hantu si penjaga perpustakaan bambu. Sekar dan Cucak Ijo mengangguk dan berpamitan. Mereka meninggalkan Burung Hantu dan melanjutkan perjalanan.

Saat malam tiba, Sekar melewati desa nelayan yang rusak akibat badai. Ia melihat para nelayan sedang mengangkat perahu yang terbalik. Sekar begegas membantu. Setelah itu, ia juga membantu para istri nelayan memperbaiki jaring. Orang-orang di desa itu berterima kasih kepada Sekar. Ketika mereka menyalakan api unggun bersama, nyala api berubah menjadi cahaya oranye keemasan.

“Cahaya keenam, Sekar! Ambil! Ambil!” seru Cucak Ijo. “Cahaya itu muncul saat kamu bermasyarakat dan menebar kebaikan,” jelas burung itu kemudian. Sekar kembali mengingat kakeknya. Lelaki tua itu pernah berkata bahwa Sekar tidak hidup sendiri. Ia harus membantu orang yang membutuhkan pertolongan.

Sekar beranjak dari desa itu. Ia ingin terus berjalan sampai fajar, tapi tubuhnya lelah. Cucak Ijo berkata, “Cahaya terakhir hanya muncul jika kau tahu kapan harus beristirahat, Sekar.” Lalu Sekar berbaring di bawah pohon waru dan memejamkan mata. Malam begitu tenang. Dan Sekar pun demikian. Ia terlelap. Saat ia tertidur, tujuh cahaya dari langit turun perlahan. Menyatu di dadanya. Ia bermimpi melihat kawah Ijen, Pulau Merah, Tari Gandrung, kebuh buah naga, Teluk Ijo, merak, banteng—di Alas Purwo—yang masih lestari, sawah yang diselimuti cahaya biru keemasan. Lalu Sekar mendengar suara kakeknya.

“Sekar. Sekar. Bangun, Sekar! Bangun! Hari sudah pagi,” suara Kakek sambil menggoyang-goyangkan tubuh Sekar. Sekar terbangun dan ia terkejut telah berada di kamarnya. Samar-samar ia melihat kakeknya duduk di pinggir ranjang. Saat merasa jelas dengan cepat ia memeluk kakeknya sambil terisak.

“Kakekkk… Akhirnya kakek kembali.” Ia menangis haru, bahagia.

Kakeknya bingung. “Memangnya Kakek dari mana? Kakek tidak ke mana-mana.” Sekar tidak menjawab. Ia hanya memeluk kakeknya erat-erat, seakan tak mau kakeknya dan orang-orang desa menghilang lagi. Ia tahu itu hanya mimpi, tapi ia tak mau mimpi itu menjadi kenyataan. Ia berjanji kepada Kakeknya akan bangun pagi, rajin beribadah, berolahraga, makan makanan bergizi, gemar belajar, bersosial, dan tidur yang cukup.

Di pagi yang membahagiakan itu, di balik jendela kamar Sekar, di sebuah pohon srikaya, seekor burung Cucak Ijo sedang berkicau riang. Ia baru saja menghabiskan setengah srikaya yang matang.[T]

Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: cerita anakdongeng
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

Next Post

Kata-Kata Penenang Pak Wayan Westa

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
February 27, 2026
0
Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

DI langit biru yang luas, hiduplah kawanan awan yang lembut dan setia. Pemimpin mereka bernama Rinai, awan tua berwarna kelabu...

Read moreDetails

Adik dan Katak | Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
January 18, 2026
0
Adik dan Katak | Dongeng Lingkungan

DI sebuah desa kecil yang dikelilingi sawah hijau dan sungai yang jernih, hiduplah seorang anak lelaki bernama Adik. Ia dikenal...

Read moreDetails

Jalak Bali dan Beringin Tua | Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
October 12, 2025
0
Jalak Bali dan Beringin Tua | Dongeng Lingkungan

DI sebuah desa kecil bernama Desa Kerta Harum, berdiri sebuah beringin raksasa berusia ratusan tahun di pinggir jalan dekat Pura...

Read moreDetails

Bob & Ciko | Dongeng Masa Kini

by Pitrus Puspito
May 11, 2025
0
Bob & Ciko | Dongeng Masa Kini

MENJELANG sore, seekor beruang madu ditangkap oleh para pemburu dan dibawa ke kebun binatang Zoole. Kebun binatang Zoole merupakan tempat...

Read moreDetails

Gery dan Sangkarnya  |  Dongeng dari Papua

by Teddy Koll
January 26, 2025
0
Gery dan Sangkarnya  |  Dongeng dari Papua

DI satu gedung Gereja hiduplah seekor burung yang bahagia. Ia tidur di tempat yang nyaman dan sering keluar bermain dan...

Read moreDetails

Ulat Mengkhianati Pohon Apel  |  Dongeng Pendidikan

by Wayan Purne
January 25, 2025
0
Ulat Mengkhianati Pohon Apel  |  Dongeng Pendidikan

“Tolong-tolong!!! Aku diburu! Diburu! Tolong aku!” teriakan seekor ulat ketakutan. Terlihat seekor ulat menggeliat merayap di antara dedaunan mati yang...

Read moreDetails

Toweli dan Tongkat Saktinya | Dongeng dari Papua

by Teddy Koll
January 12, 2025
0
Toweli dan Tongkat Saktinya | Dongeng dari Papua

DI satu kampung yang dikelilingi gunung batu: Gunung Batu Kulbi di timur dan Gunung Batu Wandel di barat dan Gunung...

Read moreDetails

Kuda Laut Jatuh Cinta | Dongeng Pendidikan

by Wayan Purne
January 11, 2025
0
Kuda Laut Jatuh Cinta | Dongeng Pendidikan

LAUT menyambut senyum mentari pagi. Taman terumbu karang mengiringi nyanyian riang canda tawa ikan-ikan. Ada ikan warna-warni bermain petak umpet...

Read moreDetails

Capung dan Daun Teratai | Dongeng dari Papua

by Teddy Koll
January 5, 2025
0
Capung dan Daun Teratai | Dongeng dari Papua

ADA satu danau  berbentuk hati. Danau itu punya air biru jernih. Di sekitar danau tinggallah seekor capung bersama keluarga serangga:...

Read moreDetails

Rum dan Tongkat Ratu Semut | Dongeng dari Papua

by Gody Usnaat
December 16, 2024
0
Rum dan Tongkat Ratu Semut | Dongeng dari Papua

DAHULU kala, ada seekor tikus tanah bernama Rum. Ia berbulu halus. Ia berkumis tipis. Giginya tajam—ia biasa memotong ranting dengan...

Read moreDetails
Next Post
Kata-Kata Penenang Pak Wayan Westa

Kata-Kata Penenang Pak Wayan Westa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co