3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Capung dan Daun Teratai | Dongeng dari Papua

Teddy Koll by Teddy Koll
January 5, 2025
in Dongeng
Capung dan Daun Teratai | Dongeng dari Papua

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

ADA satu danau  berbentuk hati. Danau itu punya air biru jernih. Di sekitar danau tinggallah seekor capung bersama keluarga serangga: Belalang dan Kupu-kupu dan Kunang-kunang dan Laron. Mereka hidup bahagia. Mereka cari makan bersama. Mereka bermain bersama.

Hingga pada suatu hari, mereka mendengar deru bunyi, dan tiupan angin  kencang; suara itu  buat Rusa yang sedang minum air danau lari terbirit-birit, angin kencang bikin  sayap Capung hampir patah.

Dari perut air, yang serupa cermin, mereka  lihat sesuatu, sesuatu terbang di bawah awan, sesuatu yang mirip bentuk tubuh capung. Mereka penasaran, Capung bertanya di dalam hati: bagaimana ia bisa terbang? Terbuat dari apakah tubuh dan sayapnya?

Sepanjang hidup capung dan kawan-kawan belum pernah bertemu, atau dengar cerita tentang sesuatu yang baru mereka lihat itu.

Capung segera terbang meninggalkan danau, terbang ke arah timur, hendak bertemu Elang. Elang punya cakar tajam dan paruhnya merah hitam seperti buah matoa matang, sayapnya kuat seperti dahan kayu besi, bulunya berwarna putih berbintik hitam.

Capung tiba di sana, ia hinggap pada ranting bese nale.

 “Kek, apakah Kakek tahu tentang sesuatu yang baru terbang?“ Capung bertanya kepada Elang yang dipanggil dengan sebutan Kakek.  Capung bertanya dengan  suara gemetar.

Kakek Elang sedang lahap menikmati daging kuskus. Elang melepas cakar dari cengkraman tubuh kuskus putih, ia menatap Capung.

Capung menggigil, seluruh tubuhnya dingin, kaki-kakinya serasa lepas dari tubuhnya.

Kakek Elang menggoyang-goyangkan  tubuhnya—darah kuskus, lepas dari bulu dan paruhnya.

 Ia maju selangkah dari tubuh kuskus yang sebagian sudah tinggal tulang. Ia kasih kode kepada Capung dengan paruhnya agar ia datang dan hinggap di sampingnya.

Capung buka sayap dan terbang, mendekat dan hinggap dan ia  dengar Kakek Elang bilang: “Itu burung buatan manusia!”

Burung buatan manusia itu, tentu sangat mengganggu elang. Kakek Elang sudah beberapa kali melihatnya, dan ia tak suka dengan bising suaranya, ia juga tak suka kecepatan miliknya.

Setelah pertemuan itu, Capung meninggalkan Elang. Ia berniat terbang seperti burung buatan manusia.  Ia bilang kepada dirinya: saya mau belajar terbang.

 Setiap hari ia belajar terbang. Terbang dari satu daun ke daun lain. Ia menambah tinggi jangkauan terbangnya juga, tak seperti teman-teman Capung yang hanya bermain di atas perut air.

Sambil bermain, mereka mengamati Capung. Mereka bilang kepadanya: biar Elang dan burung buatan manusia saja yang terbang tinggi, kita cukup begini saja.

Tapi Capung tetap berlatih.

Teman-teman tidak percaya ia bisa terbang lebih tinggi dari tinggi pohon ketapang.

Ia cepeh berlatih dan capung duduk di daun teratai yang mengapung di atas perut air, yang sebagian daunnya tenggelam di air, yang tangkai besar menjulang tinggi ke awan, yang kelopak bunga besar berwarna putih kemerahan dan mekarnya  menyerupai payung. Teratai hidup bahagia bersama air.

Tapi banyak serangga yang yang tak suka padanya. Hanya Capung yang suka duduk dan merenungi impiannya di atas sehelai daun teratai, bernaung di bawah payung teratai, capung suka mengamati warna bunga teratai dan sering bertanya-tanya juga: bagaimana ia memiliki warna seindah ini?

Teratai senang bersama capung, dan ia mekar dan mengeluarkan aroma untuknya, dan kapanpun capung datng ia selalu menyiapkan tempat buatnya duduk dan bermenung. Teratai juga mendengar setiap keluh kesah Capung. Hingga suatu hari Teratai berkata: “Aku akan menghadiahkan engkau daun milikku, ia akan menerbangkanmu setinggi-tingginya”

Teratai memberi satu daun miliknya kepada Capung. Tetapi dengan  syarat: Capung tak boleh terbang tinggi dan jauh mendekat di tempat tinggal Elang.

Capung terbang gunakan daun teratai, awalnya ia terbang rendah dan hinggap di atas daun ilalang, lalu terbang agak tinggi dan hinggap di atas daun sagu, lalu terbang tinggi dan hinggap di atas daun ketapang; setiap hari ia terbang makin tinggi bahkan lebih tinggi dari bese nale—tempat Elang tinggal.

Elang melihat Capung terbang, beberapa kali Capung terbang tinggi di sekitar wilayah Elang; Elang bertanya dalam hati: bagaimana bisa Capung  terbang setinggi itu? Elang pun terbang mendekat dan melihat, oh, ternyata Capung terbang menggunakan daun teratai; Elang merampas, membawa pergi daun teratai lalu menyobek dan menghamburkan ke tanah.

 Capung terbawa angin kencang, seperti daun ketapang kering, Capung terbawa jauh tak tentu arah.

Capung jatuh di semak-semak yang buat perutnya berdarah; sayap kirinya sobek ditusuk ranting kayu kering. Ia menjerit kesakitan.

Beberapa hari ia tak sadarkan diri. Tak ada yang tahu keberadaannya, kecuali seekor semut. Semut datang, ia membangunkan capung, dan ia menggotongnya ke tepi danau, seekor katak membawa dan menidurkan tubuhnya di atas daun teratai.

 Teratai dan teman-temannya datang menghiburnya, Teratai mengobati luka, dengan ramuan, seketika luka di perut sembuh, sayapnya yang sobek pulih.

Capung menceritakan kejadian itu, ia memohon maaf kepada Teratai dan ia berjanji:  tidak akan lagi terbang dekat Elang tinggal. Teratai beri lagi daunnya. Capung terbang menggunakannya lagi tapi ia terbang rendah. Ia terbang jauh dan menaburkan benih teratai dari satu danau ke danau lain. Capung dan Kupu-kupu dan Belalang dan Laron sering menggunakan daun teratai juga—mereka terbang bersama mencari makanan di tempat jauh, mereka terbang dari satu pohon ke pohon lain, terbang dan hinggap dari satu bunga ke bunga yang lain. Di tepi danau itu kini, mereka hidup bahagia, bersama Teratai. [T]

(Ubrub-Semografi, 2024-2025)

  • KLIK untuk BACA dongeng lainnya
Rum dan Tongkat Ratu Semut | Dongeng dari Papua
Lukas dan Tuk Kecil yang Baik Hati | Dongeng dari Papua
Dongeng | Anak Kecil dan Pohon Pemali
Dongeng | Si Jangkrik Kalung yang Terlalu Percaya Diri
Aya, Seekor Anak Buaya Tak Lagi Makan Daging
Tags: dongengdongeng dari papua
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perempuan Sumur | Cerpen IBW Widiasa Keniten

Next Post

Puisi-puisi Muhammad Rifan Prianto | Setelah Membaca 100 Soneta Cinta Pablo Neruda

Teddy Koll

Teddy Koll

Lahir di Semografi 22 November 1997. Ia sebagai guru di SD YPPK AKARINDA Semografi. Kini, ia sedang belajar menulis puisi dan dongeng.

Related Posts

Takut Galungan

by Dede Putra Wiguna
June 27, 2026
0
Takut Galungan

DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan...

Read moreDetails

Radio Tua Kakek Panjul

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Radio Tua Kakek Panjul

PAGI di Desa Muncuk Sari selalu datang dengan cara yang sama. Perlahan, lembut, seperti tangan yang membelai tanpa suara. Kabut...

Read moreDetails

Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
February 27, 2026
0
Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

DI langit biru yang luas, hiduplah kawanan awan yang lembut dan setia. Pemimpin mereka bernama Rinai, awan tua berwarna kelabu...

Read moreDetails

Sekar dan Tujuh Cahaya | Cerita Anak

by Jaswanto
February 8, 2026
0
Sekar dan Tujuh Cahaya | Cerita Anak

SEKAR masih menangis ketakutan dengan badan kuyup. Badai telah reda. Tapi Kakek dan orang-orang desa tak kunjung kelihatan. Di ujung...

Read moreDetails

Adik dan Katak | Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
January 18, 2026
0
Adik dan Katak | Dongeng Lingkungan

DI sebuah desa kecil yang dikelilingi sawah hijau dan sungai yang jernih, hiduplah seorang anak lelaki bernama Adik. Ia dikenal...

Read moreDetails

Jalak Bali dan Beringin Tua | Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
October 12, 2025
0
Jalak Bali dan Beringin Tua | Dongeng Lingkungan

DI sebuah desa kecil bernama Desa Kerta Harum, berdiri sebuah beringin raksasa berusia ratusan tahun di pinggir jalan dekat Pura...

Read moreDetails

Bob & Ciko | Dongeng Masa Kini

by Pitrus Puspito
May 11, 2025
0
Bob & Ciko | Dongeng Masa Kini

MENJELANG sore, seekor beruang madu ditangkap oleh para pemburu dan dibawa ke kebun binatang Zoole. Kebun binatang Zoole merupakan tempat...

Read moreDetails

Gery dan Sangkarnya  |  Dongeng dari Papua

by Teddy Koll
January 26, 2025
0
Gery dan Sangkarnya  |  Dongeng dari Papua

DI satu gedung Gereja hiduplah seekor burung yang bahagia. Ia tidur di tempat yang nyaman dan sering keluar bermain dan...

Read moreDetails

Ulat Mengkhianati Pohon Apel  |  Dongeng Pendidikan

by Wayan Purne
January 25, 2025
0
Ulat Mengkhianati Pohon Apel  |  Dongeng Pendidikan

“Tolong-tolong!!! Aku diburu! Diburu! Tolong aku!” teriakan seekor ulat ketakutan. Terlihat seekor ulat menggeliat merayap di antara dedaunan mati yang...

Read moreDetails

Toweli dan Tongkat Saktinya | Dongeng dari Papua

by Teddy Koll
January 12, 2025
0
Toweli dan Tongkat Saktinya | Dongeng dari Papua

DI satu kampung yang dikelilingi gunung batu: Gunung Batu Kulbi di timur dan Gunung Batu Wandel di barat dan Gunung...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Muhammad Rifan Prianto | Setelah Membaca 100 Soneta Cinta Pablo Neruda

Puisi-puisi Muhammad Rifan Prianto | Setelah Membaca 100 Soneta Cinta Pablo Neruda

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co